Anda di halaman 1dari 2

Seperti dikisahkan Ikal kepadaku.

Pulau Balitong nun jauh disana, laskar segala laskar yang memesona sampai ke penjuru
dunia. Pulau laskar pelangi, itulah tempatmu bernanung.
Setiap tahun secara rutin perayaan hari kemerdekaan diadakan beberapa hari sebelum
sang saka merah putih dinaikkan yang tersiar di televisi nasional secara langsung ke seluruh
nusantara. Ceritamu mengenai kebudayaan orang Melayu yang sangat menarik hati mengenai
sebuah kompetisi yang lebih seru dari sepak bola itu, mendorongku untuk mengisahkan
keseruannya perayaan kemerdekaan di desaku.Desaku adalah sebuah desa yang kecil, damai, dan
sejahtera yang berada di dekat lubang pantat ayam pulau dewata. Desa yang dikenal dengan
nama Ubud, itulah desaku.
Seperti biasa pagi itu aku habiskan menonton layar di kamarku. Begitu membosankan
hari - hariku tanpa ada yang harus dikerjakan. Tidak sepertimu yang pagi - pagi sudah harus
mendengarkan celoteh pamanmu yang aku pikir penyandang manusia berkepribadian ganda itu.
Aku hanya duduk terdiam, menatap layar kaca dengan tatapan lesu, aku benar - benar bosan. Aku
seketika berkhayal untuk pergi ke kampungmu, meminum kopi di warung pamanmu, melihat
secara langsung kebudayaan yang kau ceritakan kepadaku. Aku ingin masuk dalam jajaran nama
dalam Kamus Besar Peminum Kopi yang kau rancang begitu megah, agar aku tahu orang seperti
apakah aku ini.
Lalu sebuah berita di ponselku menunjukkan sebuah pernyataan dari kepala lurah yang
menyatakan akan diadakan kegiatan lomba agustusan menyambut kemerdekaan Republik
Indonesia yang ke-71. Sontak aku bersemangat dan sangat antusias ingin melihat perlombaan itu,
tapi sayang sekali tidak ada lomba catur.Disini terlihat perbedaan kebudayaan antara daerah kita
ini. Disini peserta lomba dibagi berdasarkan organisasi pemuda - pemudi setiap satuan kecil
masyarakat yang disebut banjar. Mungkin di kampungmu namanya dusun. Setiap organisasi
berlomba secara antusias dan sangat menyenangkan. Kaum berkulit putih berderet memandangi
apa yang kami lakukan di perlombaan itu. Mereka mengambil ponselnya dan mengabadikan
momen yang belum tentu ada di negara mereka. Sungguh menyenangkan hari itu kuhabiskan
hari bersama teman - temanku.

Keesokan harinya diadakan kompetisi yang menurutku paling seru dari perayaan
agustusan ini. Kompetisi sepak bola anak - anak setiap banjar. Aku merasakan atmosfer yang
berbeda terhadap kompetisi sepak bola ini dari kompetisi lainnya. Suasana sakral kemerdekaan
RI dipadukan dengan sebuah kompetisi bergengsi yaitu sepak bola sungguh membakar semangat
setiap organisasi untuk mempersiapkan tunas mudanya untuk bertarung di lapangan hijau.
Pelatihan demi pelatihan dilakukan jauh hari sebelum ajang dimulai. Sang arsitek tidak biasanya
sangat bersemangat melatih tunas muda mereka untuk bertarung. Semuanya untuk merebut
kemerdekaan yang menjadi tujuannya yaitu sebuah kemenangan. Nasionalisme tumbuh secara
perlahan, semangat perjuangan yang tua mulai menurun kepada anak - anak bangsa. Inilah yang
kusebut regenerasi wahai temanku.

Sehat selalu Ikal