Anda di halaman 1dari 5

Tugas Mata Kuliah Filsafat IPA

Oleh:
AGUSTINA MARTHA ERISTYA
13312244027

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam


Universitas Negeri Yogyakarta
2016

A. PERTANYAAN
1. Apakah kebenaran dari IPA bersifat mutlak? Jelaskan!
2. Apakah seluruh permasalahan manusia di dunia dapat dengan tuntas oleh IPA?
Jelaskan!
3. Apakah IPA mempelajari sebab musabab kejadian terciptanya manusia?
Jelaskan!
4. Apakah lingkup/batas penjelajahan IPA? Jelaskan!
5. Dimanakah IPA berhento dan menyerahkan pengkajian selanjutnya pada ilmu
lain? Jelaskan!
6. Apakah yang menjadi karakteristik objek ontologi IPA yang membedakan IPA
dengan ilmu lain? Jelaskan!
B. JAWABAN
1. IPA merupakan

suatu

ilmu

pengetahuan.

Menurut

kompasiana,

dalam

http://www.kompasiana.com/jokowinarto/epistemologi diakses 21 november 2016


pukul 15.11), nilai kebenaran ilmu pengetahuan itu bersifat positif dalam arti sampai
saat sekarang ini dan juga bersifat relatif atau nisbi dalam arti tidaklah mutlak
kebenarannya. Jadi, kebenaran dari IPA tidak bersifat mutlak tetapi merupakan
kebenaran relatif. Ilmu bersifat sementara/ nisbi (relatif) yang dimaksud adalah
penemuan baru dapat mengubah pandangan, pendapat, kesimpulan, atau teori
sebelumnya. Ilmu pengetahuan juga bersifat progresif, yang dimaksud adalah jika
suatu penemuan baru mematahkan/menyempurnakan teori yang sudah ada maka teori
terakhir mengandung teori sebelumnya dalam dirinya. Teori yang sudah
ditinggalkannya, tidak diulanginya kembali karena teori baru sudah membuktikan
teori lama dianggap keliru. Ilmu pengetahuan merupakan hasil penelitian maka
dengan penelitian teori ilmu pengetahuan itu terbukti benar atau salah yang diketahui
dari data-data penelitian. Oleh karena itu ilmu pengetahuan IPA tidak bersifat mutlak.
Contohnya teori Einstein berdasarkan atas studi mengenai percobaan- percobaan
Micchelson dan Morley yang menyisihkan ketentuan fisik dari Newton. Teori
relativitas Einstein terus hidup hingga 30 tahun kemudian akan disisihkan pula.
2. Tidak semua permasalahan yang dipersoalkan manusia dalam hidup dan
kehidupannya dapat dijawab dengan tuntas oleh ilmu pengetahuan khususnya IPA.
Menurut Dr. Frans Dahler dalam teori Marxisme, sesungguhnya ilmu tetap tak dapat
menjawab beberapa pertanyaan yang mendasar dan terpendam dalam sanubari
manusia. Misalnya tentang arti kematian, sukses dan gagalnya cinta, makna sengsara
yang tidak dapat dihindarkan oleh ilmu yang paling maju sekalipun. Dan lebih dari

itu, ilmu tak dapat memenuhi kerinduan, kehausan manusia akan cinta mutlak dan
abadi. Jadi, ilmu pengetahuan IPA saja tidak dapat menyelesaikan permasalahan yang
dihadapi manusia dalam kehidupannya.
3. Dalam perspektif IPA sebagai ilmu pengetahuan mempelajari terciptanya manusia
dengan mempelajari asal usul kehidupan di alam semesta. Asal usul manusia menurut
ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies lain yang telah ada
sebelumnya melalui proses evolusi. Evolusi menurut para ahli paleontology dapat
dibagi menjadi empat kelompok berdasarkan tingkat evolusinya, yaitu :Pertama,
tingkat pra manusia yang fosilnya ditemukan di Johanesburg Afrika Selatan pada
tahun 1942 yang dinamakan fosil Australopithecus. Kedua, tingkat manusia kera yang
fosilnya ditemukan di Solo pada tahun 1891 yang disebut Pithecanthropus erectus.
Ketiga, manusia purba, yaitu tahap yang lebih dekat kepada manusia modern yang
sudah digolongkan genus yang sama, yaitu Homo walaupun spesiesnya dibedakan.
Fosil jenis ini di Neander, karena itu disebut Homo Neanderthalesis dan kerabatnya
ditemukan di Solo (Homo Soloensis). Keempat, manusia modern atau Homo sapiens
yang telah pandai berpikir, menggunakan otak dan nalarnya. Manusia pada
hakekatnya sama saja dengan mahluk hidup lainnya, yaitu memiliki hasrat dan tujuan.
Letak perbedaan yang paling utama antara manusia dengan makhluk lainnya adalah
dalam kemampuannya melahirkan kebudayaan. Kebudayaan hanya manusia saja yang
memlikinya, sedangkan binatang hanya memiliki kebiasaan-kebiasaan yang bersifat
instinct.
4. Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti di batas
pengalaman manusia. Fungsi ilmu yakni sebagai alat pembantu manusia dalam
menanggulangi masalah-masalah yang dihadapinya sehari-hari. Fase permulaan ilmu
alam (natural phylosophy). Ilmu alam mempelajari dunia fisik yang relatif tetap dan
mudah dikontrol. Misal fisika berkembang menjadi mekanika, hidrodinamika, bunyi,
cahaya, panas, kelistrikan; Kimia; Astronomi; Ilmu bumi dan ilmu hayat. Ruang
penjelajahan keilmuan dibagi menjadi cabang-cabang berbagai disiplin ilmu. Pada
mulanya hanya ada dua cabang yaitu : ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan
sosial. Karena pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, saat ini terbentuklah
banyak cabang. Setiap ilmuwan harus benar benar mengenali batas cabang ilmunya.
Ilmu pengetahuan alam berkembang sangat cepat. Ilmu-ilmu murni berkembang
menjadi ilmu-ilmu terapan.

5. Ilmu memulai penjelajahannya pada pengalaman manusia dan berhenti pada batas
pengalaman manusia. Jadi ilmu tidak mempelajari masalah surga dan neraka dan juga
tidak mempelajari sebab musabab kejadian terjadinya manusia, sebab kejadian itu
berada di luar jangkauan pengalaman manusia. Ilmu hanya membatasi daripada halhal yang berbeda dalam pengalaman kita karena terletak pada fungsi ilmu itu sendiri
dalam kehidupan manusia; yakni sebagai

alat

pembantu manusia

dalam

menanggulangi masalah yang dihadapi sehari-hari. Ilmu membatasi lingkup


penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang
dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris.
Sekiranya ilmu memasukkan daerah di luar batas pengalaman empirisnya. Dalam
batas pengalaman manusiapun, ilmu hanya berwenang dalam menentukan benar atau
salahnya suatu pernyataan. Tentang baik dan buruk, semua berpaling kepada sumbersumber moral; tentang indah dan jelek semua berpaling kepada pengkajian estetika.
6. Menganalisis tentang masalah perbedaan ilmu-ilmu alam dengan ilmu-ilmu lain
ditinjau dari segi ontologi. Ilmu merupakan pengetahuan yang diatur secara sistematis
dan langkah-langkah pencapaiannya dipertanggungjawabkan secara teoritis. Ilmu
pengetahuan juga memiliki ciri-ciri yang umum yaitu memiliki objek, metode,
sistematis dan kriteria kebenaran. Kajian ontologi dalam filsafat ilmu berhubungan
dengan telaah terhadap ilmu yang menyelidiki landasan suatu ilmu yang menanyakan
apa asumsi ilmu terhadap objek material dan objek formal, baik bersifat fisik atau
kejiwaan.
Ilmu berkembang dengan pesat sering dengan penambahan jumlah cabangcabangnya. Pada dasarnya cabang-cabang ilmu tersebut berkembang dari dua cabang
utama yakni filsafat alam yang kemudian menjadi rumpun ilmu-ilmu alam atau the
natural sciences dan filsafat moral yang kemudian berkembang ke dalam cabang
ilmu-ilmu sosial atau the social sciences (Jujun S. Suriasumantri, 2005: 93).
Ilmu-ilmu alam membagi diri kepada dua kelompok lagi yakni ilmu alam (the
physical sciences) dan ilmu hayat (the biological sciences). Ilmu alam bertujuan
mempelajari zat yang membentuk alam semesta, sedangkan ilmu alam kemudian
bercabang lagi menjadi fisika (mempelajari massa dan energi), kimia (mempelajari
substansi zat), astronomi (mempelajari benda-benda langit, dan ilmu bumi yang
mempelajari bumi (Jujun S. Suriasumantri, 2005: 93). Tiap-tiap cabang kemudian
membikin ranting-ranting baru seperti fisika berkembang menjadi mekanika,

hidrodinamika, bunyi, cahaya, panas, kelistrikan dan magnetisme, fisika nuklir dan
kimia fisik (ilmu-ilmu murni).
Ilmu murni merupakan kumpulan teori-teori ilmiah yang bersifat dasar dan
teoritis yang belum dikaitkan dengan masalah-masalah kehidupan yang bersifat
praktis. Ilmu terapan merupakan aplikasi ilmu murni kepada masalah-masalah
kehidupan yang mempunyai manfaat praktis (Jujun S. Suriasumantri, 2005: 94).
Ilmu-ilmu sosial berkembang agak lambat dibanding dengan ilmu-ilmu alam.

C. DAFTAR PUSTAKA
Salam, Burhanudin. 1997. Logika Materiil: Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Rineka
Cipta.
Suriasumantyri, Jujun. 1990. Filsafat ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan.
http://www.kompasiana.com/jokowinarto/epistemologi diakses 21 November 2016
pukul 15.11.