Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH INDIVIDU

KONSERVASI DAN REHABILITASI SUMBERDAYA PERIKANAN

KAWASAN LINDUNG DANAU PENGELANG


DESA TELUK AUR
KECAMATAN BUNUT HILIR, KABUPATEN KAPUAS HULU

Dosen Pengampu :
Rudi Alfian, S.Pi.

Oleh :
Robiansyah
Nim : 131110257

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK
PONTIANAK

2016
Daftar Isi

Halaman judul.................................................................................................................i
Daftar Isi........................................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang...........................................................................................................1
Rumusan Masalah.......................................................................................................2
Tujuan penulisan.........................................................................................................3

BAB II. PEMBAHASAN

Letak Geografis...........................................................................................................4
Alasan Ekologi............................................................................................................5
Alasan Ekonomi dan Wisata.......................................................................................9

BAB III PENUTUP


Kesimpulan...............................................................................................................11
Saran ........................................................................................................................11

I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Kawasan konservasi Perairan atau sering disingkat dengan KKP menurut Peraturan
Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Per.30/MEN/2010 adalah kawasan perairan yang
dilindungi, dikelola dengan sistem zonasi, untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan dan
lingkungannya secara berkelanjutan.
Upaya konservasi perairan di Indonesia tumbuh selaras dengan pembangunan nasional di
bidang konservasi sumberdaya ikan, tuntutan masyarakat pesisir serta perkembangan konservasi
dunia yang berwawasan global. Kesadaran konservasi di Indonesia bahkan telah muncul jauh
sebelum masa penjajahan belanda, hal ini ditunjukan, misalnya pada abad ke-13 (zaman
majapahit) telah muncul undang-undang yang mengatur pengelolaan air dan terbitnya ordonansi
tentang pengaturan satwa liar pada zaman penjajahan Belanda.
Perjalanan konservasi di Indonesia terus bergulir pada masa sebelum kemerdekaan, dan
orde-orde pemerintahan pasca kemerdekaan Republik Indonesia. Hingga kini, jejak kearifan lokal
dalam mengelola sumber daya laut masih berjalan di beberapa desa pesisir. Di Sulawesi Utara,
misalnya, masyarakat Sangihe-Talaud memiliki tradisi eha laut sebagai masa jeda panen ikan
selama tiga hingga enam bulan. Maluku dan Irian juga memiliki aturan adat yang dinamakan sasi
yang mengatur tata cara pemanenan ikan dengan sistem buka tutup serta banyak contoh kearifan
tradisional lainnya di berbagai daerah.
Pemerintah Indonesia telah menyadari pentingnya kawasan konservasi perairan dalam
mendukung pelestarian sumberdaya kelautan dan pesisir, hal ini tercermin dalam deklarasi
kawasan konservasi laut pertama tahun 1973 di Pulau Pombo, Maluku. Perjalanan regulasi di
bidang konservasi dan pengelolaannya juga tidak kalah dinamis. Hal ini sudah dimulai pada

zaman kerajaan dengan

kitab-kitab-nya hingga terbit beberapa Undang-undang,

turunan undang-undang serta perubahannya.


Perkembangan pemahaman konservasi saat ini, sangat maju dan telah terjadi pergeseran
paradigma pemahaman konservasi sebelumnya, khususnya yang terkait pengelolaan sumberdaya
ikan yang berkelanjutan, sebagaimana sering menjadi momok, khususnya bagi masyarakat
nelayan. Hal itu berarti konservasi sebagai sebuah kearifan dalam pengelolaan bukanlah hal yang
baru, tetapi merupakan wajah kearifan masyarakat dalam konteks modern yang dibingkai dalam
aturan hukum negara.
Indonesia mencanangkan memiliki kawasan konservasi perairan seluas 20 juta hektar
pada tahun 2020. Sampai saat ini tercatat sudah sekitar 15 juta Ha kawasan konservasi dan terus
dilakukan upaya untuk meningkatkan jumlah luas tersebut. Seiring dengan berjalannya waktu dan
bertambahnya luas wilayah kawasan konservasi perairan secara keseluruhan, pemahaman tentang
pengelolaan kawasan konservasi yang ideal juga semakin berkembang. Hingga saat ini dikenal
adanya beberap kategori yang menandai ideal tidaknya suatu kawasan konservasi baik nasional,
atau daerah.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini
adalah:
1. Bagaimana letak geografis Danau Pengelang yang ada di Desa Teluk aur?
2. Bagaimana alasan pengusulan kawasan konservasi berdasarkan alasan ekologi?
3. Bagaimana alasan pengusulan kawasan konservasi berdasarkan alasan ekonomi dan wisata?

1.3. Tujuan penulisan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini ialah :


1. Mengetahui letak geografis Danau Pengelang yang ada di Desa Teluk aur.
2. Mengetahui alasan pengusulan kawasan konservasi berdasarkan alasan ekologi.
3. Mengetahui alasan pengusulan kawasan konservasi berdasarkan alasan ekonomi dan wisata.

II. PEMBAHASAN

2.1 Letak Geografis dan Masyarakat (Selayang Pandang)


Dusun Puring merupakan kampung yang berada di kawasan desa Teluk Aur. Secara
administratif, desa Teluk Aur terdiri dari tiga dusun, yaitu: dusun Puring, dusun Jaung satu dan
dusun Jaung dua. Secara kultural, dusun Puring dihuni oleh suku Melayu yang mayoritas
beragama Islam. Sedangkan dusun Jaung satu dan Jaung dua dihuni oleh suku Dayak Iban yang
mayoritas beragama Katolik. Karena tinggal di dekat aliran sungai, suku Melayu di dusun Puring
kerap dipanggil sebagai suku laut. Sedangkan, oleh karena suku Dayak Iban tinggal di
pegunungan, maka mereka kerap disebut sebagai suku darat. Meski berbeda, kehidupan antar
dua suku ini sangat harmonis dan menunjung toleransi satu sama lain.
Sementara itu, karena keberadaan pemerintahan dan kantor desa berada di dusun Puring,
masyarakat lokal kerap menyebut dusun Puring sebagai Teluk Aur. Meski ada sedikit kerancuan,
penyebutan ini sudah berkembang di masyarakat disana. Ketika seseorang menyebut kata Teluk
Aur maka masyarakat lokal akan mengasosiasikannya kepada Dusun Puring.
Secara administratif, Teluk Aur berada di Kecamatan Bunut Hilir, Kabupaten Kapuas
Hulu, Propinsi Kalimantan Barat. Lokasi desa ini terletak di 115 km dari ibu kota kabupaten
Putussibau. Putussibau dapat ditempuh dari ibu kota provinsi di Pontianak selama 14 jam dengan
menggunakan transportasi darat (mobil). Untuk melakukan perjalanan dari Putussibau ke Teluk
Aur, masyarakat dapat menggunakan angkutan speedboat sebagai satu-satunya solusi transportasi.
Perjalanan dari Putussibau menuju Teluk Aur dengan mode ini rata-rata memerlukan waktu tiga
jam perjalanan. Pada tahun 2016, tarif speedboat ini berkisar pada 200-250 ribu rupiah perorang
untuk sekali perjalanan.
Letak Desa Teluk Aur berada di sisi kiri hulu sungai Kapuas yang merupakan sungai
terpanjang di Indonesia (1.143 km). Selain itu, desa ini berada di sekitar 25 km dari selatan batas
luar Taman Nasional Danau Sentarum. Karena kondisi ini, maka kehidupan Teluk Aur sangat
berkaitan erat dengan sungai yang menjadi sumber air masyarakat tersebut.
Pada bidang mata pencaharian, rata-rata penduduk desa Teluk Aur bekerja sebagai petani
karet dan nelayan. Pekerjaan ini sangat bergantung pada kondisi alam. Terkadang mereka

melakukan dua jenis pekerjaan ini sekaligus atau bergantian. Ketika fase tertentu dimana
pemasukan ekonomi dari sektor perikanan tidak begitu menjanjikan, masyarakat banyak bekerja
sebagai petani karet. Sebaliknya, ketika terjadi bencana alam seperti banjir menerjang kebun karet
mereka, penduduk beralih menjadi nelayan. Dengan demikian, faktor alam sangat mempengaruhi
pekerjaan yang menggerakkan perekonomian di Teluk Aur.

2.2. ALASAN EKOLOGI


Jika dilihat dari segi ekologi, konservasi merupakan alokasi sumberdaya alam untuk
sekarang dan masa yang akan datang.

Ketua Danau Lindung I mengungkapkan, sebelum

dilindungi, kawasan itu merupakan zona bebas. Dalam arti bebas dipukat, dan dijala. Akibatnya,
mengalami kelangkaan ikan, akibat eksploitasi besar-besaran. Sadar tangkapan ikan semakin
berkurang, sejumlah tokoh masyarakat dan warga dari ketiga dusun memutuskan untuk
melindunginya. Hasil dari musyawarah ketiga dusun, kami sepakat melindungi danau. Kemudian
kami ajukan ke Dinas Perikanan Kapuas Hulu, kata Ibrahim (keyua danau lindung).
Usulan melindungi danau itu disambut baik. Kemudian terbentuklah Danau Lindung
berdasarkan Surat Keputusan Bupati tahun 2007. Bukan saja sepakat melindungi, warga tiga dusun
itu juga membuat aturan adat, untuk
penguatan lindung dan menjaga ikan. Bukan itu saja, dibuat juga kelompok pengawas masyarakat
(Pokwasmas) dan polisi danau. Kelompok inilah, yang setiap harinya menjaga dan melindungi
adat.
Danau sepanjang empat kilometer itu, tidak semuanya dilindungi. Akan tetapi dibagi
menjadi tiga zona: ekonomi, pemanfaatan terbatas dan zona lindung. Zona ekonomi, untuk
keperluan sehari-hari. Zona pemanfaatan terbatas untuk keperluan masyarakat. Sedangkan zona
lindung, wilayah ini dipanen setahun sekali.
*Sampai saat ini ikan yang menjadi komoditi ikan hias dan sekaligus ikan utama adalah
ikan arwana Super Red (Silok merah), yang dilindungi dengan system pengakapan dilakukan pada

musim penetasan. Dalam pengakapan ikan arwana dikenal dengan nama Nyuluh hanya
menggunakan media penarangan dan seser yang berdiameter 30 cm untuk mengakapnya. Naman
keberadaan ikan arwana saat ini masih dipertanyakan masih ada ataukah sudak tiada karena danau
tersebut dapat berhubungan langsung dengan danau disekitarnya seperti danau empangau, sungai
Kapuas, dan daerah perairan asam yang dikanal dengan daerah Keturun.
Ada beberapa masyarakat menyatakan ikan arwana masih ada dengan melihat arwana
melambung ke atas, namun ketika dilakukan penyuluhan secara bersama dilakukan masyarakat
tidak ditemukan indukan maupun anakan arwana tersebut. Mungkin karena waktu penyuluhan
yang terlalu singkat yaitu selama 1 minggu yang dilakukan pada malam hari sehingga
kemungkinan dengan daerah danau yang cukup luas susah untuk ditemukan
*Adapuan komoditi ikan konsumsi ekonomis penting lainnya adalah ikan entukan
(sepupunya ikan bandeng) yang cukup banyak terdapat di danau pengelang tesebut. Kondisi ideal
inilah yang berusaha diwujudkan masyarakat Desa Teluk Aur, Kabupaten Kapuas Hulu,
Kalimantan Barat.

Selain konservasi arwana, masyarakat di Desa tersebut juga menerapkan

praktik penangkapan ikan lestari bagi ikan jenis konsumsi melalui sistem penangkapan komunal
yang diistilahkan jermal.
Semenjak Danau Pengelang ditetapkan sebagai Danau Lindung pada tahun 2007,
masyarakat Desa Teluk Aur yang tergabung dalam 3 dusun yakni Dusun Puring, Dusun Jaung I
dan II bermufakat untuk memutuskan sistem pemanenan yang tepat. Hingga pada tahun 2009,
mereka sepakat untuk menerapkan pemanenan lestari dengan sistem jermal.
Kata jermal sendiri memiliki dua makna. Pertama, ia berarti sistem penangkapan
komunal, yakni penangkapan ikan yang dilakukan bersama-sama. Jermal juga mengacu pada alat
tangkap yang digunakan, semacam jaring penangkap berukuran 25 x 40 m. Dalam kondisi iklim
normal, Danau Pengelang akan mengalami 6 bulan surut pada bulan-bulan kering dan 6 bulan
pasang pada bulan-bulan basah di musim penghujan. Ketika bulan-bulan kering dimana
permukaan air danau berkurang, maka Danau lindung tersebut akan ditutup dari aktivitas nelayan.
Karena pada saat itulah ikan danau berpijah dan anakan ikan mulai tumbuh besar, Sedangkan pada

saat bulan-bulan basah antara Oktober Maret dimana permukaan air danau mencapai ketinggian
10 m, inilah kesempatan bagi masyarakat untuk memanen sebagian ikan yang sudah dewasa.
Proses pertama dilakukan dengan menentukan lokasi kelompok ikan berada. Tahap ini
dilakukan oleh tetua yang memiliki keahlian khusus. Selanjutnya kelompok ikan itu digiring
menuju mulut jermal dengan cara memukul-mukul permukaan air dan tepian perahu penggiring.
Dalam proses ini tidak semua ikan tertangkap, diperkirakan, antara 500 1000 kg ikan lolos dari
penangkapan. Setelah ikan masuk ke dalam jermal, keempat sudutnya pelan-pelan ditarik sehingga
mengerucut dan mengumpulkan ikan di bagian tengah jermal. Sementara 2 buah sampan ukuran
besar siap di tengah-tengah jermal untuk menyerok ikan-ikan yang telah terkumpul.
*-Kendala dalam konservasi arwana di desa teluk aur Danau Pengelang adalah
kurangnya pemantauan masyarakat dan petugas danau (polisi danau)

dalam pemantauan

keberadaan ikan arwana yang dikarenakan sudah dibentuknya danau lindung dan pernah dilakukan
perlepasan induk mereka mengira bahwa ikan arwana pasti ada di tempat tersebut. Namun
kenyataannya dalam beberapa 5 tahun terakhir dilakukan penyuluhan kegiatan nyuluh
masyarakat belum pernah mendapatkan anakan dan jarang sekali menemukan induk arwana
tersebut.
Jika dibandingkan 15 tahun yang lalu bahwa masyarakat yang melakukan penyuluhan
anakan arwana dalam 1 tahun penutupan dan pembukaan Cuma dilakukan hanya 1 bulan yang
dilakukan pada malam hari oleh masyarakat, masyarakat setempat dapat menghasilkan sekitar 1530 anakan arwana. Ini mungkin dikarenakan di area danau lindung sudah banyak ikan predator
seperti ikan toman, ikan tapah, sehingga keberadaan indukan arwana tersebut terancam baik
indukan asal danau tersebut maupun indukan yang di tebar oleh masyarakat dan pemerintah daerah
yang bekerja sama dengan WWF.
*Adapun solusi yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pemantauan secara rutin
dan pemanenan ikan predator sehingga keberadaan ikan arwana tidak terancam dan dapat
berkembang biak sehingga masyarakat setiap tahunnya dapat merasakan buah manis dari
pelindungan danau lindung pengelang tersebut.

*Sedangkan kendala dalam kegiatan konservasi ikan konsumsi sebaiknya ditentukan


jumlah banyaknya pengambilan ikan, jika dilakukan pengambilan terlalu banyak akan
menyebabkan ikan mengalami penurunan jumlah. Solusi dari masalah tersebut adalah dengan
melakukan penagkapan dengan penetapan jumlah ikan tersebut (kg).

2.3. Alasan Ekonomi dan Wisata


Waktu pemanenan Para calon pembeli pun sudah menunggu di tepian danau untuk
membeli langsung ikan segar hasil tangkapan. Pembeli lokal yang sudah melakukan kesepakatan
sebelumnya baik dari segi jumlah maupun harga berasal dari desa sekitar seperti Bunut, Jongkong,
Empangau, dan warga Desa Teluk Aur sendiri.
Sejak tahun 2009, penangkapan jermal sudah dilakukan paling tidak 6 kali, masingmasing 2 kali dalam waktu 6 bulan. Panen pertama di tahun 2011 berhasil mendapat 3.688 kg ikan
dengan total hasil penjualan mencapai lebih dari 18 juta rupiah. Pendapatan meningkat pada panen
kedua pertengahan Desember lalu. Nelayan teluk Aur berhasil mendapat penghasilan lebih ari 20
juta rupiah.
Untuk sistem pembagiannya, 40 % dibagikan kepada warga desa yang ikut memanen,
sementara sisanya, dibagikan ke kas 3 dusun yang umumnya diperuntukkan bagi bagi kebutuhan
masyarakat di desa itu seperti pembangunan, pendidikan, santunan kematian warga, perayaan natal
dan gawai (pesta panen padi), dan lain sebagainya.
Aturan penangkapan pun diberlakukan dengan ketat. Semua alat tangkap tidak
diperbolehkan kecuali jermal. Nelayan pun hanya boleh memanen pada saat musim yang
disepakati bersama untuk penangkapan dengan sistem jermal yang diperbolehkan. Jika ada yang
melanggar aturan ini akan dikenakan sanksi, misalnya jika pelanggaran penangkapan dilakukan
dengan alat pukat, maka pukat akan disita dan didenda sebesar Rp. 500.000,-. Hingga kini sudah
ada 2 kasus dimana pukat disita dan didenda 500 rb diterapkan oleh warga desa ini.

*-Peningkatan dapat dilakukan pembukaan lomba mincing baik untuk masyarakat desa
teluk aur maupun masyarakat luar yang ingin melakukan kegiatan pemancingan dengan system
penetapan harga dan jumlah ikan serta ukuran ikan serta di awasi oleh polisi danau. Sebelum
datang kedanau pastinya
akan singgah diperkampungan yang namanya teluk aur sehingga anda dapat menikmati makanan
khas Kapuas hulu dengan harga yang murah di banding dengan di Pontianak, keramahan
penduduk, ke indahan alam jika melakukan kunjungan pada saat musim kemarau anda akan
melihat keindahan tepian danau yang retak seperti perselen, dan yang lainnya anda juga dapat
melihat bagaimana keadaan masyarakat dalam melakukan penagkapan, suku dayak iban, dan jika
anda ingin melihat kepelosok desa teluk aur yaitu jaung 2 anda akan melihat bagainama kehidupan
bermasyarakat dusun jaung 2 tersebut, dengan rumah betangnya.

III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Desa teluk aur merupakan kawasan pemerintahan daerah Kapuas hulu yang memiliki
banyak potensi alam mapun budaya yang belum dikembangkan dan perlu digali lagi secara
keseluruhan sehingga diperlukan pelatihan dari pemerintah daerah dalam meningkatan kreativitas
masyarakat dalam membangun daerah yang memiliki banyak potensi tersebut.

3.2.Saran
Perlu dibentuknya pemuda pencinta alam dan pelatihan kader-kader pelayanan wisatawan,
sehingga pengunjung merasa nyaman datang ke daerah tersebut yang diharapkan akan membawa
dampak positif baik ekonomi maupun soasial budaya.