Anda di halaman 1dari 3

1.

Contoh Kasus Tanggung Jawab Moral


Contoh kasus enron & KAP Arthur Anderse. Enron, suatu perusahaan yang
menduduki ranking tujuh dari lima ratus perusahaan terkemuka di Amerika Serikat
dan merupakan perusahaan energi terbesar di AS jatuh bangkrut dengan
meninggalkan hutang hampir sebesar US $ 31.2 milyar. Dalam kasus Enron diketahui
terjadinya perilaku moral hazard (perilaku jahat) : diantaranya manipulasi laporan
keuangan dengan mencatat keuntungan 600 juta Dollar AS padahal perusahaan
mengalami kerugian. Manipulasi keuntungan disebabkan keinginan perusahaan agar
saham tetap diminati para investor, kasus memalukan ini konon ikut melibatkan
orang dalam gedung putih, termasuk wakil presiden Amerika Serikat.
2. Contoh Kasus Tanggung Jawab Sosial
Perusahaan harus mematuhi aturan-aturan hukum dan adat yang berlaku
disekitarnya. Kembali lagi seperti yang terjadi di kasus PT Preefort karena kurangnya
tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakat sekitar maka terjadilah
kecemburuan sosial. Masyarakat sekitar beranggapan bahwa PT preefort hanya
mengeruk kekayaan alam di daerah mereka tanpa memperhatikan kesejahteraan
mereka, salah satunya penyebab kecemburuan sosial tersebut adalah karyawan
preefort rata rata di rekrut dari luar Papua yang pada akhirnya mereka
memutuskan melakukan suatu tindakan anarkis dengan membunuh para personil
TNI yang bertugas menjaga keamanan PT Freeport tersebut.
3. Keuntungan apa yang dipetik perusahaan yang melakukan program CSR?
Masih berlangsung perdebatan antara yang menyatakan CSR hanya menambah beban
perusahaan dan yang meyakini kinerja sosial penting dan berhubungan positif dengan
keuntungan finansial. Pendapat tidak menguntungkan biasanya mengikuti pendirian Milton
Friedman atau, baru-baru ini, David Henderson, yang melabel CSR sebagai misguided
virtue atau kebaikan yang salah alamat. Friedman dan Henderson berpendirian bahwa tanggung
jawab berada di pundak individu, bukan perusahaan. Sebaliknya kalangan yang melihat
kekuasaan bisnis kini sudah sangat besar, tidak setuju perusahaan tak dapat dimintai
pertanggungjawaban terhadap tindakan organisasinalnya. Kebijaksanaan universal menyetujui
bahwa tanggung jawab membesar bersamaan dengan kekuasaannya, sebab itu perusahaan
tidak lagi dapat mengelak.
Sejumlah besar penelitian telah membuktikan kinerja sosial dan kinerja finansial
perusahaan sungguh berkorelasi positif. Dan karenanya perdebatan mengenai keuntungan
menjalankan CSR sesungguhnya dapat dianggap sudah berakhir. Penelitian Marc Orlitzky, Frank
Schmidt, dan Sara Rynes pada 2003, menggunakan data 52 penelitian sebelumnya dengan
jumlah kasus 33.878 perusahaan yang merentang selama 30 tahun, merupakan bukti terkuat
hingga saat ini. Kalau pun ada yang membuktikan sebaliknya, bahwa tidak ada kaitan
erat antara kinerja sosial dengan kinerja finansial perusahaan, kesimpulannya hanya didasarkan
pada kasus-kasus anekdotal berskala kecil.
4. Pelaksanaan CSR tidakkah berarti perusahaan justru mengambil alih kewajiban
pihak lain, misalnya yang menjadi tanggung jawab pemerintah?
Kasus-kasus yang ditemukan di Indonesia menunjukkan, curahan investasi sosial perusahaan
dapat menimbulkan moral hazardberupa perilaku korup lembaga-lembaga pemerintah. Misalnya,
ketika diketahui perusahaan tertentu hendak membangun jalan dari titik A hingga B, pemerintah
daerah setempat juga mengajukan anggaran untuk pekerjaan yang sama. Ruas jalan yang
dibangun dengan sumberdaya dari perusahaan, nyatanya diakui sebagai proyek pembangunan
pemerintah
daerah.
Pelaksanaan CSR semesti tidak demikian. Bahkan, CSR seyogyanya mendorong perwujudan
kondisi tanpa korupsi (dan cici-ciri lain good governance, seperti transparansi) di tubuh
perusahaan maupun pemerintahan dan masyarakat.
CSR harus berupaya meminimumkan dampak negatif keberadaan perusahaan. Apabila
perusahaan hendak menjalankan program sosial, itu dilakukan dengan transparansi maksimum.

Dan karena CSR adalah manajemen dampak operasi, batasannya terlebih dulu harus
didefinisikan agar perusahaan tidak memikul beban lebih berat dari yang seharusnya
ditanggung. Yang juga penting adalah membuat kesepakatan dengan seluruh pemangku
kepentingan berkenaan dengan tanggung jawab masing-masing pihak. Termasuk tanggung
jawab pemerintah terhadap masyarakat dan perusahaan.

5. IMPLEMENTASI TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DI INDONESIA


1. PT HM Sampoerna, salah satu perusahaan rokok besar di negeri ini juga
menyediakan beasiswa bagi pelajar SD, SMP, SMA maupun mahasiswa. Selain
kepada anak-anak pekerja PT HM Sampoerna, beasiswa tersebut juga diberikan
kepada masyarakat umum. Selain itu,melalui program bimbingan anak
Sampoerna, perusahaan ini terlibat sebagai sponsor kegiatan-kegiatan konservasi
dan pendidikan lingkungan.
2. PT Coca Cola Bottling Indonesia melalui Coca Cola Foundation melakukan
serangkaian aktivitas yang terfokus pada bidang-bidang: pendidikan, lingkungan,
bantuan infrastruktur masyarakat, kebudayaan, kepemudaan, kesehatan,
pengembangan UKM, juga pemberian bantuan bagi korban bencana alam.
3. PT Bank Central Asia, Tbk berkolaborasi dengan PT Microsoft Indonesia
menyelenggarakan pelatihan IT bagi para guru SMP dan SMA negeri di
Tanggamus, Lampung. Pelatihan ini sebagai pelengkap dari pemberian bantuan
pendirian laboratorium komputer untuk beberapa SMP dan SMA di Gading Rejo,
Tanggamus yang merupakan bagian dari kegiatan dalam program Bakti BCA.
4. Nokia Mobile Phone Indonesia telah memulai program pengembangan
masyarakat yang terfokus pada lingkungan dan pendidikan anak-anak perihal
konservasi alam. Perusahaan ini berupaya meningkatkan kesadaran sekaligus
melibatkan kaum muda dalam proyek perlindungan orangutan, salah satu fauna
asli Indonesia yang dewasa ini terancam punah.
5. PT Timah, dalam rangka melaksanakan tanggung jawab sosialnya menyebutkan
bahwa ia telah menyelenggarakan program-program yang bertujuan
meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Perusahaan ini menyatakan
bahwa banyak dari program tersebut yang terbilang sukses dalam menjawab
aspirasi masyarakat diantaranya berupa pembiakan ikan air tawar, budidaya
rumput laut dan pendampingan bagi produsen garmen.
6. Astra Group, melalui Yayasan Dharma Bhakti Astra menyebutkan bahwa mereka
telah melakukan program pemberdayaan UKM melalui peningkatan kompetensi
dan kapasitas produsen. Termasuk di dalam program ini adalah pelatihan
manajemen, studi banding, magang, dan bantuan teknis. Di luar itu, grup Astra
juga mendirikan Yayasan Toyota dan Astra yang memberikan bantuan pendidikan.
Yayasan ini kemudian mengembangkan beberapa program seperti: pemberian
beasiswa, dana riset, mensponsori kegiatan ilmiah universitas, penerjemahan dan
donasi buku-buku teknik, program magang dan pelatihan kewirausahaan di
bidang otomotif.