Anda di halaman 1dari 23

HOME

UNCATEGORIZED

CONTOH PENGUJIAN VALIDITAS DENGAN KORELASI PEARSON


PRODUCT MOMENT
23:26 ANALISIS DATA 14 comments

Seorang mahasiswa melakukan penelitian dengan menggunakan kuisioner untuk


mengetahui atau mengungkap prestasi belajar seseorang. Terdapat 10 butir pertanyaan
dengan menggunakan skala Likert yaitu
1 = Sangat Tidak Setuju
2 = Tidak Setuju
3 = Setuju
4 = Sangat Setuju
Setelah membagikan skala kepada 15 responden diperoleh tabulasi data-data sebagai
berikut :

Gambar 1. Data Tabulasi 15 Responden

Pengujian validitas tiap butir digunakan analisis item, yaitu mengkorelasikan skor tiap butir
dengan skor total yang merupakan jumlah tiap skor butir.
Pengujian yang biasa digunakan untuk validitas adalah
Korelasi Pearson Product Moment dan Corrected - Item Correlation
Korelasi Pearson Product Moment

Analisis ini dengan cara mengkorelasikan masing-masing skor item dengan skor total
(penjumlahan seluruh skor item). Rumus untuk menghitungnya adalah

Keterangan:

Berikut hasil perhitungan manual :

Gambar 2. Perhitungan 1

Gambar 3. Perhitungan 3

Gambar 4. Perhitungan 4

Gambar 5. Perhitungan 5 - Nilai Korelasi Pearson Product Moment

Pengujian menggunakan uji dua sisi dengan taraf signifikansi 0,05. dan hasil dibandingkan
dengan r-tabel
Product
Moment dengan
N=jumlah responden-2. Kriteria pengujian adalah

Jika r-hitung r-tabel, maka instrument atau item-item pertanyaan berkorelasi


signifikan terhadap skor total (dinyatakan valid).

Jika r-hitung < r-tabel, maka instrument atau item-item pertanyaan tidak
berkorelasi signifikan terhadap skor total (dinyatakan tidak valid).

Dalam hal ini diperoleh r-tabel dengan N=15-2=13 dan signifikansi 5% adalah rtabel=0,553.

Gambar 6. Hasil Validitas Pearson Product Moment

Terdapat tiga item yang tidak valid. yaitu item 1, 9 dan 10. item-item yang tidak valid harus
dibuang. Analisis validitas dapat dilakukan sampai 2 atau 3 kali sampai diperoleh item yang
valid setelah membuang item-item yang tidak valid. Biasanya dilakukan sampai 1 atau 3
kali
saja.
Note
"sqrt(
"^2"
r-ix

)"

=
=

akar
pangkat

= korelasi item-i dengan skor total

Reference:
- Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Bisnis. Alfabeta. Bandung.
- Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & B. Bandung.
- Priyatno, Duwi. 2010. Paham Analisa Statistik Data dengan SPSS. Mediakom. Yogyakarta.
- http://id.wikipedia.org/wiki/Reliabilitas

:
kuadrat
dua

JI VALIDITAS DAN RELIABILITAS


JAN 24

Posted by hendry

Dalam penelitian, data mempunyai kedudukan yang paling tinggi, karena data
merupakan penggambaran variabel yang diteliti dan berfungsi sebagai alat pembuktian
hipotesis. Benar tidaknya data, sangat menentukan bermutu tidaknya hasil penelitian.
Sedang benar tidaknya data, tergantung dari baik tidaknya instrumen pengumpulan
data. Pengujian instumen biasanya terdiri dari uji validitas dan reliabilitas.
A. Definisi Validitas dan Reliabilitas
Validitas adalah tingkat keandalah dan kesahihan alat ukur yang digunakan. Intrumen
dikatakan valid berarti menunjukkan alat ukur yang dipergunakan untuk mendapatkan
data itu valid atau dapat digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya di ukur
(Sugiyono, 2004:137). Dengan demikian, instrumen yang valid merupakan instrumen
yang benar-benar tepat untuk mengukur apa yang hendak di ukur.
Penggaris dinyatakan valid jika digunakan untuk mengukur panjang, namun tidak valid
jika digunakan untuk mengukur berat. Artinya, penggaris memang tepat digunakan
untuk mengukur panjang, namun menjadi tidak valid jika penggaris digunakan untuk
mengukur berat.
Uji reliabilitas berguna untuk menetapkan apakah instrumen yang dalam hal ini
kuesioner dapat digunakan lebih dari satu kali, paling tidak oleh responden yang sama
akan menghasilkan data yang konsisten. Dengan kata lain, reliabilitas instrumen
mencirikan tingkat konsistensi. Banyak rumus yang dapat digunakan untuk mengukur
reliabilitas diantaranya adalah rumus Spearman Brown

Ket :
R 11 adalah nilai reliabilitas
R b adalah nilai koefisien korelasi
Nilai koefisien reliabilitas yang baik adalah diatas 0,7 (cukup baik), di atas 0,8 (baik).

Pengukuran validitas dan reliabilitas mutlak dilakukan, karena jika instrument yang
digunakan sudah tidak valid dan reliable maka dipastikan hasil penelitiannya pun tidak
akan valid dan reliable. Sugiyono (2007: 137) menjelaskan perbedaan antara penelitian
yang valid dan reliable dengan instrument yang valid dan reliable sebagai berikut :
Penelitian yang valid artinya bila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul
dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti. Artinya, jika objek
berwarna merah, sedangkan data yang terkumpul berwarna putih maka hasil penelitian
tidak valid. Sedangkan penelitian yang reliable bila terdapat kesamaan data dalam
waktu yang berbeda. Kalau dalam objek kemarin berwarna merah, maka sekarang dan
besok tetap berwarna merah.
**tulisan ini diedit Tgl 28 November 2012
dirangkum dari :
Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Administrasi. Bandung,Alfabeta.

Category Archives: Reliabilitas dan Validitas

Uji Validitas dan Reliabilitas SPSS 15


DEC 22

Posted by hendry

A. VALIDITAS DAN RELIABILITAS

Reliabilitas adalah ukuran yang menujukkan bahwa alat ukur yang digunakan dalam
penelitian keperilakukan mempunyai keandalan sebagai alat ukur, diantaranya di ukur
melalui konsistensi hasil pengukuran dari waktu ke waktu jika fenomena yang diukur
tidak berubah (Harrison, dalam Zulganef, 2006). Sementara validitas adalah suatu
ukuran yang menunjukkan bahwa variabel yang diukur memang benar-benar variabel
yang hendak diteliti oleh peneliti (Cooper dan Schindler, dalam Zulganef, 2006)
Penelitian memerlukan data yang betul valid dan reliabel. Dalam rangka urgensi ini,
maka kuesioner sebelum digunakan sebagai data penelitian primer, terlebih dahulu
diujicobakan ke sampel uji coba penelitian. Uji coba ini dilakukan untuk memperoleh
bukti sejauh mana ketepatan dan kecermatan alat ukur dalam melakukan fungsi
ukurnya
Definisi validitas dan reliabilitas dapat dilihat di sini
B. CONTOH KASUS
Akan di uji validitas dan reliabilitas variabel kepuasan kerja. Variabel ini berjumlah 5
indikator yang diadaptasi dari Intrinsic factor dari teori dua factor Herzberg meliputi
pekerjaan itu sendiri, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan
dalam karier dan pengakuan orang lain.
Skala yang digunakan adalah skala Likert 1 5 dengan jumlah sampel sebanyak 30.
Setelah angket ditabulasi maka diperoleh data sbb (Data Reliabilitas)
C. PENYELESAIAN
Tahap 1. Analisis Faktor
Klik Analyze Data Reduction Factor
Masukkan seluruh pertanyaan ke box Variables

Klik Desctiptive Aktifkan KMO and Bartletts Test of Specirity dan Anti-Image
Klik Rotation : Aktifkan Varimax
Hasil Analisis Faktor

Nilai KMO sebesar 0.840 menandakan bahwa instumen valid karena sudah memenuhi
batas 0.50 (0.840 > 0.50)
Korelasi anti image menghasilkan korelasi yang cukup tinggi untuk masing-masing item,
yaitu 0.850 (X1), 0.791 (X2), 0.856 (X3), 0.956 (X4) dan 0.804 (X5). Dapat dinyatakan
bahwa 5 item yang digunakan untuk mengukur konstruk kepuasan instrinsik memenuhi
kriteria sebagai pembentuk konstak.

Output ketiga adalah Total variance Explained menunjukkan bahwa dari 5 item yang
digunakan, hasil ekstraksi SPSS menjadi 1 faktor dengan kemampuan menjelaskan
konstak sebesar 72.132% .

Dengan melihat component matrix terlihat bahwa seluruh item meliputi pekerjaan itu
sendiri (x1), keberhasilan yang diraih (x2), kesempatan bertumbuh (x3), kemajuan
dalam karier (x4) dan pengakuan orang lain (x5) memiliki loading faktor yang besar
yaitu di atas 0.50. Dengan demikian dapat dibuktikan bahwa 5 item valid.
Tahap 2
Pilih Analyze > Scale > Reliability Analysis
Masukkan semua variabel (item 1 s/d 5) ke kotak items

Klik Kotak Statistics, lalu tandai ITEM, SCALE, dan SCALE IF ITEM DELETED pada kotak
DESCRIPTIVES FOR > Continue
Klik OK
Maka akan tampil output sebagai berikut :

D. INTERPRETASI
Reliabilitas
Sekaran (dalam Zulganef, 2006) yang menyatakan bahwa suatu instrumen penelitian
mengindikasikan memiliki reliabilitas yang memadai jika koefisien alpha Cronbach lebih
besar atau sama dengan 0,70. Sementara hasil uji menunjukkan koef cronbach alpha
sebesar 0.900, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa variabel ini adalah reliabel.
Analisis Item
Dalam prosedur kontruksi atau penyusunan test, sebelum melakukan estimasi
terhadap reliabilitas dan validitas, dilakukan terlebih dahulu prosedur aitem yaitu
dengan menguji karakteristik masing-masing item yang akan menjadi bagian test yang
bersangkutan. Aitem-aitem yang tidak memenuhi persyaratan tidak boleh diikutkan
sebagai bagian dari test. Pengujian reliabilitas dan validitas hanya layak dilakukan
terhadap kumpulan aitem-aitem yang telah dianalisis dan diuji.
Beberapa teknik seleksi yang biasanya dipertimbangkan dalam prosedur seleksi adalah
koefisien korelasi item-total, indeks reliabilitas item, dan indeks validitas item. Pada tes
yang dirancang untuk mengungkap abilitas kognitif dengan format item pilihan ganda,
masih ada karakteristik item yang seharusnya juga dianalisis seperti tingkat kesukaran
item dan efektivitas distraktor.
Salah satu parameter fungsi pengukuran item yang sangat penting adalah statistic yang
memperlihatkan kesesuaian antara fungsi item dengan fungsi tes secara keseluruhan
yang dikenal dengan istilah konsistensi item-total. Dasar kerja yang digunakan dalam
analisis item dalam hal ini adalah memilih item-item yang fungsi ukurnya sesuai dengan
fungsi ukur test seperti dikehendaki penyusunnya. Dengan kata lain adalah memilih

item yang mengukur hal yang sama dengan apa yang diukur oleh tes secara
keseluruhan.
Pengujian keselarasan fungsi item dengan fungsi ukur tes dilakukan dengan menghitung
koefisien korelasi antara distribusi skor pada setiap item dengan distribusi skor toral tes
itu sendiri. Prosedur ini akan menghasilkan koefisien korelasi item total (r it) yang juga
dikenal dengan sebutan parameter daya beda item.
Read more http://teorionline.net/analisis-item-korelasi-item-total/

Penjelasan Corrected item-total correlation dapat anda baca lebih dalam di Paper :
George W. Bohrnstedt . A Quick Method for Determining the Reliability and Validity of
Multiple-Item Scale. American Sociological Review, Vol. 34, No. 4 (Aug., 1969), pp. 542548
atau dibuku Robert B. Burns, Richard Burns, Robert P Burns. Business Research
Methods and Statistics Using SPSS, p. 430
Tentang Cronbach Alpha
Cronbachs alpha is a measure of internal consistency, that is, how closely related a set
of items are as a group. A high value of alpha is often used (along with substantive
arguments and possibly other statistical measures) as evidence that the items measure
an underlying (or latent) construct. However, a high alpha does not imply that the
measure is unidimensional. If, in addition to measuring internal consistency, you wish to
provide evidence that the scale in question is unidimensional, additional analyses can
be performed. Exploratory factor analysis is one method of checking dimensionality.
Technically speaking, Cronbachs alpha is not a statistical test it is a coefficient of
reliability (or consistency).
Source : http://www.ats.ucla.edu/stat/spss/faq/alpha.html
Didasarkan pada penjelasan di atas, maka penggunaan cronbach alpha bukanlah satusatunya pedoman untuk menyatakan instrumen yang digunakan sudah reliabel. Untuk
mengecek unidimensional pertanyaan diperlukan analisis tambahan yaitu ekplanatory
factor analysis.
Teknik Yang Lebih Akurat Untuk Mengukur Validitas dan Reliabilitas
Untuk teknik yang lebih akurat untuk menguji validitas dan reliabilitas adalah analisis
faktor konfirmatory. Menurut Joreskog dan Sorbom (1993), CFA digunakan untuk menguji

theoritical or hypotesical concepts, or contruct, or variables, which are not directly


measurable or observable.
Penjelasan Hair, dkk (2006) mengenai CFA adalah :
CFA is way of testing how well measured variables represent a smaller number of
contructCFA is used to provide a confirmatory test of our measurement theory. A
Measurement theory specifies how measured variables logically and systematically
represent contruct involved in a theoretical model. In Order words, measurement theory
specifies a series relationships that suggest how variables represent a latent contruct
that is non measured directly (dalam Kusnendi, 2008:97).

Pengujian Validitas dan Reliabilitas


Add Comment
statistik

Suatu test dapat dikatakan mempunyai validitas tinggi apabila test


tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur
sesuai dengan makna dan tujuan diadakan test tersebut. Jika peneliti
menggunakan kuesioner di dalam pengumpulan data penelitian,
maka item-item yang disusun pada kuesioner tersebut merupakan
alat test yang harus mengukur apa yang menjadi tujuan penelitian.
Salah satu cara untuk menghitung validitas suatu alat test yaitu
dengan melihat daya pembeda item (item discriminality). Daya
pembeda item adalah metode yang paling tepat digunakan untuk
setiap jenis test. Daya pembeda item dalam penelitian ini dilakukan
dengan cara korelasi item-total. Korelasi itemtotal yaitu
konsistensi antar skor item dengan skor secara keseluruhan yang

dapat dilihat dari besarnya koefisien korelasi antara setiap item


dengan skor keseluruhan, yang dalam penelitian ini menggunakan
koefisien korelasi pearson dengan rumus perhitungan sebagai berikut
:

Bila koefisien korelasi untuk seluruh item telah dihitung, perlu


ditentukan angka terkecil yang dapat dianggap cukup tinggi sebagai
indikator adanya konsistensi antara skor item dan skor keseluruhan.
Dalam hal ini tidak ada batasan yang tegas. Prinsip utama pemilihan
item dengan melihat koefisien korelasi adalah mencari harga
koefisien korelasi yang setinggi mungkin dan menyingkirkan setiap
item yang mempunyai korelasi negatif (-) atau koefisien yang
mendekati
nol
(0).
Menurut Friedenberg (1995) biasanya dalam pengembangan dan
penyusunan skala-skala psikologi, digunakan harga koefisien korelasi
yang minimal sama dengan 0.3. Dengan demikian semua item yang
memiliki korelasi kurang dari 0.30 dapat disisihkan dan item-item
yang akan dimasukkan dalam alat test adalah item-item yang
memiliki korelasi di atas 0.30 dengan pengertian semakin tinggi
korelasi itu mendekati angka 1 maka semakin baik pula
konsistensinya
(validitasnya).
Analisis Reliabilitas artinya adalah tingkat kepercayaan hasil suatu
pengukuran. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi, yaitu
pengukuran yang mampu memberikan hasil ukur yang terpercaya
(reliable). Reliabilitas merupakan salah satu ciri atau karakter utama
instrumen pengukuran yang baik. Kadang-kadang reliabilitas disebut
juga sebagai keterpercayaan, keterandalan, keajegan, konsistensi,
kestabilan, dan sebagainya. Namun ide pokoknya dalam konsep
reliabilitas adalah sejauh mana suatu pengukuran dapat dipercaya,
artinya sejauh mana skor hasil pengukuran terbebas dari kekeliruan
pengukuran
(measurement
error).
Tinggi rendahnya reliabiltias, secara empiris ditunjukkan oleh suatu
angka yang disebut koefisien reliabilitas. Walaupun secara teoritis,
besarnya koefisien reliabilitas berkisaran 0.0-1.0; akan tetapi pada
kenyataannya koefisien reliabilitas sebesar 1 tidak pernah dicapai
dalam pengukuran karena manusia sebagai subjek pengukuran

psikologis merupakan sumber kekeliruan potensial. Disamping itu


walaupun koefisien korelasi dapat bertanda positif atau negatif, akan
tetapi dalam hal reliabilitas, koefisien reliabilitas yang besar kurang
dari nol (0.0) tidak ada artinya karena intepretasi reliabilitas selalu
mengacu kepada koefisien reliabilitas yang positif. Teknik
perhitungan koefisien reliabiltias yang digunakan disini adalah
dengan menggunakan koefisien reliabilitas alpha yang dihitung
dengan
menggunakan
rumus
:

k
Sj2=
S2

=
Nilai
=

Untuk
Rumus
tersebut:
Banyaknya
Pertanyaan
Varians
Jawaban
Item
ke-j
Nilai
Varians
Skor
Total

Bila koefisien reliabilitas telah dihitung, maka untuk menentukan


keeratan hubungan bisa digunakan kriteria Guilford (1956) yaitu :
1. Kurang dari 0.20 : Hubungan yang sangat kecil
2. 0.20 - < 0.40 : Hubungan yang kecil
3. 0.40 - < 0.70 : Hubungan yang cukup erat
4. 0.70 - < 0.90 : Hubungan yang erat (reliable)
5. 0.90 - < 1.00 : Hubungan yang sangat erat (sangat reliable)
6. 1.00 : Hubungan yang sempurna
Untuk analisis validitas dan reliabilitas dilakukan dua tahap yaitu
melihat apakan item valid dan reliabel terhadap dimensi, kemudian
melihat apakah item-item tersebut valid dan reliabel terhadap
variabel yang akan diukur.

VALIDITAS DAN RELIABILITAS


RELIABILITAS, KEPRAKTISAN, DAN EFEK POTENSIAL
SUATU INSTRUMEN
03 Apr
A.

Pengertian Reliabititas

Kata reliabilitas dalam bahasa Indonesia yang digunakan


saat ini, sebenarnya diambil dari kata reliability dalam bahasa Inggris dan berasal dari kata reliable yang
artinya dapat dipercaya,keajegan, konsisten, keandalan, kestabilan. Suatu tes dapat dikatakan reliabel
jika tes tersebut menunjukkan hasil yang dapat dipercaya dan tidak bertentangan.
Menurut Sugiono (2005) Reliabilitas adalah serangkaian pengukuran atau serangkaian alat ukur yang
memiliki konsistensi bila pengukuran yang dilakukan dengan alat ukur itu dilakukan secara berulang.
Reabilitas tes adalah tingkat keajegan (konsitensi) suatu tes, yakni sejauh mana suatu tes dapat
dipercaya untuk menghasilkan skor yang ajeg, relatif tidak berubah walaupun diteskan pada situasi yang
berbeda-beda. Sedangkan Sukadji (2000) mengatakan bahwa reliabilitas suatu tes adalah seberapa
besar derajat tes mengukur secara konsisten sasaran yang diukur. Reliabilitas dinyatakan dalam bentuk
angka, biasanya sebagai koefisien. Koefisien tinggi berarti reliabilitas tinggi.
Menurut Nursalam (2003) Reliabilitas adalah kesamaan hasil pengukuran atau pengamatan bila fakta
atau kenyataan hidup tadi diukur atau diamati berkalikali dalam waktu yang berlainan. Alat dan cara
mengukur atau mengamati samasama memegang peranan penting dalam waktu yang bersamaan.
Menurut Arifin (1991), suatu tes dapat dikatakan andal (reliable) jika tes tersebut mempunyai hasil yang
taat asas (konsisten). Sedangkan Sudjana (2004) mengatakan bahwa reliabilitas suatu tes adalah
ketepatan atau kejegan tes tersebut dalam menilai apa adanya, artinya kapan pun tes tersebut
digunakanakan memberikan hasil yang sama atau relatif sama.

Berdasarkan beberapa pendapat tentang reliabilitas di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa
reliabilitas adalah suatu pengukuran terhadap suatu tes yang melihat apakah tes tersebut dapat
mengukur apa yang seharusnya di ukur.
B.

Jenis- Jenis Reliabilitas

Salah satu syarat agar hasil suatu tes dapat dipercaya adalah tes tersebut harus mempunyai reliabilitas
yang memadai. Oleh karena itu Jaali dan Pudji (2008) membedakan reliabilitas menjadi 2 macam, yaitu :

Reliabilitas Konsistensi tanggapan, dan


Reliabilitas konsistensi gabungan item
1. Reliabilitas Konsistensi Tanggapan
Reliabilitas ini selalu mempersoalkan mengenai tanggapa responden atau objek terhadap tes tersebut
apakah sudah baik atau konsisten. Dalam artian apabila tes yang telah di cobakan tersebut dilakukan
pengukuran kembali terhadap obyek yang sama, apakah hasilnya masih tetap sama dengan pengukuran
sebelumnya. Jika hasil pengukuran kedua menunjukkan ketidakonsistenan, maka hasil pengukuran
tersebut tidak mengambarkan keadaan obyek yang sesungguhnya. Untuk mengetahui apakah suatu tes
atau instrument tersebut sudah mantap atau konsisten, maka tes/instrument tersebut harus diuji kepada
obyek ukur yang sama secara berulang-ulang.
Ada tiga mekanisme untuk memeriksa reliabilitas tanggapan responden terhadap tes (Jaali ; 2008) yaitu :

Teknik test-retest ialah pengetesan dua kali dengan menggunakan suatu tes yang sama pada
waktu yang berbeda.

Teknik belah dua ialah pengetesan (pengukuran) yang dilakukan dengan dua kelompok item
yang setara pada saat yang sama.

Bentuk ekivalen ialah pengetesan (pengukuran) yang dilakukan dengan menggunakan dua tes
yang dibuat setara kemudian diberikan kepada responden atau obyek tes dalam waktu yang bersamaan.
2. Reliabilitas Konsistensi Gabungan Item
Reabilitas ini terkait dengan konsistensi antara item-item suatu tes atau instrument.. Apabila terhadap
bagian obyek ukur yang sama, hasil pengukuran melalui item yang satu kontradiksi atau tidak konsisten
dengan hasil ukur melalui item yang lain maka pengukuran dengan tes (alat ukur) sebagai suatu
kesatuan itu tidak dapat dipercaya. Untuk itu jika terjadi hal demikian maka kita tidak bisa menyalahkan
obyek ukur, melainkan alat ukur (tes) yang dipersalahkan, dengan mengatakan bahwa tes tersebut tidak
reliable atau memiliki reliabilitas yang rendah.
Koefisien reliabilitas konsistensi gabungan item dapat dihitung dengan menggunakan 3 rumus (Jaali
2008), yakni :

Rumus Kuder-Richardson, yang dikenal dengan nama KR-20 dan KR-21.

Rumus koefisien Alpha atau Alpha Cronbach.

Rumus reliabilitas Hoyt, yang menggunakan analisis varian.


C.
Contoh perhitungan Reliabilitas Instrumen .
1. Bentuk Urayan
Jika skor butir instrumen atau soal tes kontinum (misalnya skala sikap atau soal bentuk uraian dengan
skor butir 1-5 atau skor soal 0-10) dan diberi simbol X i dan skor total instrumen atau tes diberi simbol X t,
maka rumus yang digunakan untuk menghitung koefesien korelasi antara skor butir instrumen atau soal
dengan skor total instrumen atau skor total tes adalah sebagai berikut:
Keterangan:
rit = koefisien korelasi antara skor butir soal dengan skor total.
xi = jumlah kuadrat deviasi skor dari Xi

xt = jumlah kuadrat deviasi skor dari Xt


Data hasil uji coba adalah sebagai berikut:

Nomor Responden

Nomor Butir Pertanyaan


1

Jumlah
7

28

26

24

24

31

17

17

16

11

10

Jumlah

36

31

22

32

26

31

24

202

Penyelesaian:
Untuk n=10 dengan alpha sebesar 0,05 didapat nilai table r=0,631. Karena nilai koefesien korelasi antara
skor butir dengan skor total untuk semua butir lebih besar dari 0,631, maka semua butir mempunyai
korelasi signifikan dengan skor total tes. Dengan demikian maka semua butir tes dianggap valid atau
dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar.
Uji reliabilitas
Dari soal diatas, selanjutnya akan dihitung koefesien reliabilitas dengan menggunakan rumus koefesien
Alpha, yaitu:
Keterangan:
rii = koefisien reliabilitas tes
k = cacah butir
= varian skor butir
= varian skor total
Koefisien reliabilitas dari contoh diatas dapat dihitung dengan cara pertama-tama dihitung varian butir
sebagai berikut:

Nomor butir

Varian Butir

1,24

1,29

0,56

1,16

1,44

1,69

1,24

Jumlah

8,62

Jadi koefesien reliabilitas tes (dengan 7 butir) pada contoh diatas adalah 0,97
2. Bentuk Objektif
Jika skor butir soal diskontinum (misalnya soal bentuk objektif dengan skor butir soal 0 atau 1) maka kita
menggunakan koefesien korelasi biserial dan rumus yang digunakan untuk menghitung koefesien
korelasi biserial antara skor butir soal dengan skor total tes adalah:
Keterangan:
rbis(i)
= koefesien korelasi beserial antara skor butir soal nomor i dengan skor total
X1
= rata-rata skor total responden yang menjawab benar butir soal nomor i
Xt
= rata-rata skor total semua responden
st
= standar deviasi skor total semua responden
pi
= proporsi jawaban yang benar untuk butir soal nomor i
qi
= proporsi jawaban yang salah untuk butir soal nomor i
Contoh hasil uji coba adalah sebagai berikut:

Nomor Responden

Nomor Butir Pertanyaan

Jumlah

10

Jumlah

36

Xt = 3,60
St = 2,107

Nomor Butir

r-butir

r-tabel

Status

0,70

0,63

Valid

0,57

0,63

Tidak valid

0,66

0,63

Valid

0,81

0,63

Valid

0,76

0,63

Valid

0,75

0,63

Valid

0,54

0,63

Tidak valid

Ternyata dari tujuh butir soal tes ada 5 butir yang valid dan dua butir tidak valid. Oleh karena itu perlu
dilakukan perhitungan untuk menghitung koefesien antara skor butir dengan skor total baru (5 butir),
sebagai berikut:
Data hasil uji coba adalah sebagai berikut:

Nomor
Responden

Nomor Butir
Pertanyaan

Jumlah

10

Jumlah

26

Xt = 2,6
St = 1,8
Untuk n = 10 dengan alpha sebesar 0,05 didapat nilai table r = 0,631. Karena niai koefesien korelasi
biserial antara skor butir dengan skor total untuk semua butir lebih besar dari 0,631, maka semua butir
mempunyai korelasi biserial yang signifikan dengan skor total tes. Dengan demikian maka semua butir
tes (5 butir) dianggap valid atau dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar.
Uji Reliabilitas
Selanjutnya akan dihitung koefesien reliabilitas dengan menggunakan rumus KR-20, sebagai berikut:
Keterangan:
rii = koefesien reliabilitas tes
k = cacah butir
piqi = varian skor butir
pi = proporsi jawaban yang benar untuk butir nomor i
qi = proporsi jawaban yang salah untuk butir nomor i
= varian skor total
Koefesien reliabitas dari contoh diatas adalah:
Pertama-tama dihitung varian butir (piqi) sebagai berikut:

Nomor butir

pi

qi

p iq i

0,7

0,3

0,21

0,5

0,5

0,25

0,6

0,4

0,24

0,5

0,5

0,25

0,3

0,7

0,21

Jumlah

1,16

= 1,16
St = 3,24
Jadi koefesien reliabilitas tes (dengan 5 butir) pada contoh diatas adalah 0,80.
D.
Kepraktisan Suatu Instrumen
Dalam kamus besar bahasa Indonesia kepraktisan diartikan sebagai suatu yang bersifat praktis atau
efisien. Arikunto (2010) mengartikan kepraktisan dalam evaluasi pendidikan merupakan kemudahankemudahan yang ada pada instrument evaluasi baik dalam mempersiapkan, menggunakan,
menginterpretasi/ memperoleh hasil, maupun kemudahan dalam menyimpanya.
Kepraktisan juga merupakan salah satu ukuran suatu instrumen evaluasi dikatakan baik atau tidak. Bila
guru menggunakan esay tes untuk mengukur tanggapan siswa terhadap suatu produk pembelajaran, dan
jumlah siswa yang dibimbingnya mencapai dua ratus orang, maka upaya ini cenderung tidak praktis.
Diperlukan cara lain untuk menilai tanggapan siswa tersebut, misalnya dengan tes lisan terhadap hasil
diskusi kelompok. Kepraktisan diartikan pula sebagai kemudahan dalam penyelenggaraan, membuat
instrumen, dan dalam pemeriksaan atau penentuan keputusan yang objektif, sehingga keputusan tidak
menjadi bias dan meragukan. Kepraktisan dihubungkan pula dengan efisien dan efektifitas waktu dan
dana. Sebuah tes dikatakan baik bila tidak memerlukan waktu yang banyak dalam pelaksanaannya, dan
tidak memerlukan dana yang besar atau mahal.

Kepraktisan sebuah alat evaluasi lebih menekankan pada tingkat efisiensi dan efektivitas alat evaluai
tersebut, beberapa kriteria yang dikemukakan oleh Gerson, dkk dalam mengukur tingkat kepraktisan,
diantaranya adalah:

Waktu yang diperlukan untuk menyusun tes tersebut

Biaya yang diperlukan untuk menyelenggarakan tes tersebut

Waktu yang diperlukan untuk melaksanakan tes

Tingkat kesulitas menyusun tes

Tingkat kesulitan dalam proses pemeriksaan tes

Tingkat kesulitan melakukan intrepetasi terhadap hasil tes


Kepraktisan alat evaluasi akan memberikan manfaat yang besar bagi pelaksanaan maupun bagi peserta
didik karena dirancang sedemikian sistematis terutama materi instrumen tersebut.
Berkaitan kepraktisan dalam penelitian pengembangan Van den Akker (1999:10) menyatakan :
Practically refers to the extent that user (or other expert) consider the intervention as appealing and
usable in normal conditions
Artinya, kepraktisan mengacu pada tingkat bahwa pengguna (atau pakar-pakar
mempertimbangkan intervensi dapat digunakan dan disukai dalam kondisi normal.

lainnya)

Untuk mengukur tingkat kepraktisan yang berkaitan dengan pengembangan instrument berupa materi
pembelajaran, Nieveen (1999) berpendapat bahwa untuk mengukur kepraktisannya dengan melihat
apakah guru (dan pakar-pakar lainnya) mempertimbangkan bahwa materi mudah dan dapat digunakan
oleh guru dan siswa. Khusus untuk pengembangan model yang dikembangkan dalam penelitian
pengembangan, model tersebutdikatakan praktis jika para ahli dan praktisi menyatakan bahwa secara
teoritis bahwa model dapat diterapkan di lapangan dan tingkat keterlaksanaannya model tersebut
termasuk kategori baik. Istilah baik ini masih memerlukan indikator-indikator yang diperlukan untuk
menentunkan tingkat kebaikan dari keterlaksanaan model yang di kembangkan.
Berkaitan dengan kepraktisan di tinjau dari apakah guru dapat melaksanakan pembelajaran di kelas.
Biasanya peneliti dan observer mengamati aktivitas yang dilakukan guru dalam pelaksanaan
pembelajaran. Misalnya, melihat kegiatan guru dalam mempersiapkan siswa untuk belajar, memeriksa
pekerjaan siswa, dll.
E.

Efek Potensial (Efektivitas)

Menurut Reigeluth (1999), aspek penting dalam keefektifan (efek potensial) dari suatu instrument, teori,
atau model adalah mengetahui tingkat/derajat dari penerapan teori, atau model dalam suatu situasi
tertentu. Tingkat keefektifan ini menurut Mager, biasanya dinyatakan dengan suatu skala numeric yang
didasarkan pada kriteria tertentu. (Reiguluth, 1999).
Berkaitan dengan keefektifan pengembangan instrument, model, teori dalam dunia pendidikan, Van den
Akker (1999:10) menyatakan :
Effectiveness refer to the extent that the experiences and outcomes with the intervention are consistent
with the intended aims
Artinya, keefektifan mengacu pada tingkatan bahwa pengalaman dan hasil intervensi konsisten dengan
tujuan yang dimaksud.
Keefektifan suatu bahan ajar biasanya dilihat dari poitensial efek berupa kualitas hasil belajar, sikap., dan
motivasi peserta didik. Menurut Akker (1999) (dalam Yazid) ada dua aspek keefektivan yang harus
dipenuhi oleh suatu bahan ajar. Yakni :

1.
Ahli dan praktisi berdasarkan pengalamannya menyatakan bahwa bahan ajar tersebut efektif.
2.
Secara operasional bahan ajar tersebut memberikan hasil sesuai yang diharapkan.
Menurut Suryadi (2005) (dalam Yazid), bahan ajar dapat dikatakan efektif apabila :
1.
Rata-rata siswa aktif dalam aktivitas pembelajaran.
2.
Rata-rata siswa aktif dalam mengerjakan tugas.
3.
Rata-rata siswa efektif dalam keefektifan relatif penguasaan bahan pengajaran.
4.
Respon siswa terhadap pembelajaran yang dilaksaakan baik/positif
5.
Respon guru terhadap pembelajaran yang dilaksanakan baik/positif