Anda di halaman 1dari 18

PERPAJAKAN LANJUTAN

TAX AMNESTY

Disusun Oleh
Afif Luthfiansyah
Arnold Arzelan
M. Indra Munhamir
Muzenah Fadhilah
Rizki

:
8335155611
8335154461
8335155355
8335155319
8335154944

PROGRAM STUDI AKUNTANSI (S1)


JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2015

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pertumbuhan ekonomi nasional dalam beberapa tahun terakhir cenderung
mengalami perlambatan yang berdampak pada turunnya penerimaan pajak dan
juga telah mengurangi ketersediaan likuiditas dalam negeri yang sangat
diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di sisi lain,
banyak Harta warga negara Indonesia yang ditempatkan di luar wilayah
Negara Kesatuan Republik Indonesia, baik dalam bentuk likuid maupun
nonlikuid, yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk menambah likuiditas
dalam negeri yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Permasalahannya adalah bahwa sebagian dari Harta yang berada di luar
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia tersebut belum dilaporkan oleh
pemilik Harta dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilannya
sehingga terdapat konsekuensi perpajakan yang mungkin timbul apabila
dilakukan pembandingan dengan Harta yang telah dilaporkan dalam Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan yang bersangkutan. Hal ini
merupakan salah satu faktor yang menyebabkan para pemilik Harta tersebut
merasa ragu untuk membawa kembali atau mengalihkan Harta mereka dan
untuk menginvestasikannya dalam kegiatan ekonomi di Indonesia.
Selain itu, keberhasilan pembangunan nasional sangat didukung oleh
pembiayaan yang berasal dari masyarakat, yaitu penerimaan pembayaran
pajak. Agar peran serta ini dapat terdistribusikan dengan merata tanpa ada
pembeda, perlu diciptakan sistem perpajakan yang lebih berkeadilan dan
berkepastian hukum. Hal ini didasarkan pada masih maraknya aktivitas
ekonomi di dalam negeri yang belum atau tidak dilaporkan kepada otoritas
pajak. Aktivitas yang tidak dilaporkan tersebut mengusik rasa keadilan bagi
para Wajib Pajak yang telah berkontribusi aktif dalam melaksanakan
kewajiban perpajakan karena para pelakunya tidak berkontribusi dalam

pembiayaan pembangunan nasional. Untuk itu, perlu diterapkan langkah


khusus dan terobosan kebijakan untuk mendorong pengalihan Harta ke dalam
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sekaligus memberikan jaminan
keamanan bagi warga negara Indonesia yang ingin mengalihkan dan
mengungkapkan Harta yang dimilikinya dalam bentuk Pengampunan Pajak.
Kebijakan Pengampunan Pajak dilakukan dalam bentuk pelepasan hak
negara untuk menagih pajak yang seharusnya terutang. Oleh karena itu, sudah
sewajarnya jika Wajib Pajak diwajibkan untuk membayar Uang Tebusan atas
Pengampunan Pajak yang diperolehnya.
Dalam jangka pendek, hal ini akan dapat meningkatkan penerimaan pajak
pada tahun diterimanya Uang Tebusan yang berguna bagi Negara untuk
membiayai berbagai program yang telah direncanakan. Dalam jangka panjang,
Negara akan mendapatkan penerimaan pajak dari tambahan aktivitas ekonomi
yang berasal dari Harta yang telah dialihkan dan diinvestasikan di dalam
wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dari aspek yuridis, pengaturan
kebijakan Pengampunan Pajak melalui Undang-Undang tentang Pengampunan
Pajak sesuai dengan ketentuan Pasal 23A Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 karena berkaitan dengan penghapusan pajak
yang seharusnya terutang, sanksi administrasi perpajakan, dan sanksi pidana
di bidang perpajakan.
Dengan berpegang teguh pada prinsip atau asas kepastian hukum,
keadilan, kemanfaatan, dan kepentingan nasional, tujuan penyusunan UndangUndang tentang Pengampunan Pajak adalah sebagai berikut:
1. Mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi melalui
pengalihan Harta, yang antara lain akan berdampak terhadap
peningkatan likuiditas domestik, perbaikan nilai tukar Rupiah,
penurunan suku bunga, dan peningkatan investasi;

2. Mendorong reformasi perpajakan menuju sistem perpajakan yang lebih


berkeadilan serta perluasan basis data perpajakan yang lebih valid,
komprehensif, dan terintegrasi; dan
3. Meningkatkan penerimaan pajak, yang antara lain akan digunakan
untuk pembiayaan pembangunan

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Pajak
Pajak adalah pungutan wajib yang dibayar rakyat untuk negara dan akan
digunakan untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat umum. Rakyat yang
membayar pajak tidak akan merasakan manfaat dari pajak secara langsung, karena
pajak digunakan untuk kepentingan umum, bukan untuk kepentingan pribadi.
Pajak merupakan salah satu sumber dana pemerintah untuk melakukan
pembangunan, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Pemungutan
pajak dapat dipaksakan karena dilaksanakan berdasarkan undang-undang
B. Fungsi Pajak bagi Negara dan Masyarakat
Pajak memiliki peranan yang signifikan dalam kehidupan bernegara,
khususnya pembangunan. Pajak merupakan sumber pendapatan negara dalam
membiayai seluruh pengeluaran yang dibutuhkan, termasuk pengeluaran untuk
pembangunan. Sehingga pajak mempunyai beberapa fungsi, antara lain:
Fungsi Anggaran (Fungsi Budgeter)
Pajak

merupakan

sumber

pemasukan

keuangan

negara

dengan

cara

mengumpulkan dana atau uang dari wajib pajak ke kas negara untuk membiayai
pembangunan nasional atau pengeluaran negara lainnya. Sehingga fungsi pajak
merupakan sumber pendapatan negara yang memiliki tujuan menyeimbangkan
pengeluaran negara dengan pendapatan negara.
Fungsi Mengatur (Fungsi Regulasi)
Pajak merupakan alat untuk melaksanakan atau mengatur kebijakan negara dalam
lapangan sosial dan ekonomi. Fungsi mengatur tersebut antara lain:
-

Pajak dapat digunakan untuk menghambat laju inflasi.

Pajak dapat digunakan sebagai alat untuk mendorong kegiatan ekspor,


seperti: pajak ekspor barang.

Pajak dapat memberikan proteksi atau perlindungan terhadap barang


produksi dari dalam negeri, contohnya: Pajak Pertambahan Nilai (PPN).

Pajak dapat mengatur dan menarik investasi modal yang membantu


perekonomian agar semakin produktif.

Fungsi Pemerataan (Pajak Distribusi)


Pajak dapat digunakan untuk menyesuaikan dan menyeimbangkan antara
pembagian pendapatan dengan kebahagiaan dan kesejahteraan masyarakat.
Fungsi Stabilisasi
Pajak dapat digunakan untuk menstabilkan kondisi dan keadaan perekonomian,
seperti: untuk mengatasi inflasi, pemerintah menetapkan pajak yang tinggi,
sehingga jumlah uang yang beredar dapat dikurangi. Sedangkan untuk mengatasi
kelesuan ekonomi atau deflasi, pemerintah menurunkan pajak, sehingga jumlah
uang yang beredar dapat ditambah dan deflasi dapat di atasi.
C. Pengertian Tax Amnesty
Tax Amnesty atau Pengampunan Pajak adalah program pengampunan yang
diberikan oleh Pemerintah kepada Wajib Pajak meliputi penghapusan pajak
terutang, penghapusan sanksi administrasi perpajakan, serta penghapusan sanksi
pidana di bidang perpajakan atas harta yang diperoleh pada tahun 2015 dan
sebelumnya yang belum dilaporkan dalam SPT, dengan cara melunasi seluruh
tunggakan pajak yang dimiliki dan membayar uang tebusan.
Subjek Tax Amnesty adalah warga negara Indonesia baik yang ber NPWP
maupun tidak yang memiliki harta lain selain yang telah dilaporkan dalam SPT
Tahunan Pajak (warga negara yang pembayaran pajaknya selama ini masih belum
sesuai dengan kondisi nyata). Objek Tax Amnesty adalah Harta yang dimiliki oleh
Subjek Tax Amnesty, artinya yang menjadi sasaran dari pembayaran uang tebusan
adalah atas Harta baik itu yang berada di dalam negeri maupun diluar negeri.

D. Manfaat Adanya Tax Amnesty


Dengan adanya Tax Amnesty atau amnesti pajak ini dapat memberikan manfaat untuk
beberapa pihak, baik itu untuk pemerintah, pengembang, maupun untuk investor. Berikut
ini manfaat adanya Tax Amnesty untuk beberapa pihak:
1. Untuk pemerintah
Dengan diberlakukannya Tax Amnesty atau pengampunan pajak ini maka akan
menambah penghasilan penerimaan baru dimana penambahannya dirasa cukup efektif
dalam mengurangi penerimaan negara yang semakin berkurang. Dengan diterapkannya
Tax Amnesty atau pengampunan pajak ini maka secara otomatis akan menarik dana yang
terdapat di luar negeri ke Indonesia yang menjadikannya masuk ke dalam pencatatan
untuk sumber pajak baru. Amnesti pajak yang diasumsikan oleh pemerintah sebanyak
Rp.60 triliun yang tercantum pada APBN 2016. Nominal tersebut berasal dari tarif
tebusan sebesar 3% dari dana yang masuk yaitu sekitar Rp.2.000 triliun.
2. Untuk pengembang
Dengan diberlakukannya amnesti pajak atau pengampunan pajak ini maka akan
membuat sektor properti mengalami pertumbuhan untuk tahun berikutnya. Kebijakan ini
berhubungan dengan pajak yang menjadikan indikator untuk kebangkitan sebuah bisnis
properti yang ada di Indonesia. Tax amnesty ini sangat dipercaya untuk memberikan
sebuah pengaruh terhadap pengembang untuk dapat terus berhubungan dengan para
investor. Para investor selama ini merasa tidak mau untuk menanamkan modalnya di
Indonesia karena negara Indonesia mempunyai pajak properti yang tergolong sangat
tinggi.
3. Untuk investor
Bukan hanya dari pemerintah dan pengembang saja yang merasa senang dengan
kabar ini, hadirnya Tax Amnesty atau pengampunan pajak ini juga sangat disambut baik
oleh para investor. Dengan adanya Tax Amnesty atau pengampunan pajak ini akan
memberikan keuntungan terhadap kegiatan bisnis. Amnesti pajak ini dapat membuat para
konsumen serta investor untuk lebih berani lagi melakukan pembelian terhadap properti.

Dengan demikian, para investor tidak merasa lagi takut untuk melakukan pembelian
properti.

BAB III
PEMBAHASAN
A. Dasar Hukum
Dasar hukum dari kebijakan pengampunan pajak adalah UndangUndang No. 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak. Sedangkan tata
cara pelaksanaannya diatur melalui Peraturan Menteri Keuangan PMK
118/PMK.03/2016 tentang Pelaksanaan Pengampunan Pajak, PMK
119/PMK.03/2016 tentang Tata Cara Pengalihan Harta Wajib Pajak ke
Dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Penempatan
Pada Instrumen Investasi di Pasar Keuangan Dalam Rangka Pengampunan
Pajak, PMK 122/PMK.08/2016 tentang Tata Cara Pengalihan Harta Wajib
Pajak ke Dalam Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan
Penempatan Pada Investasi di Luar Pasar Keuangan dalam Rangka
Pengampunan Pajak, PMK 123/PMK.08/2016 tentang Perubahan atas
PMK

119/PMK.08/2016,

dan

PMK

127/PMK.010/2016

tentang

Pengampunan Pajak Bagi Wajib Pajak yang Memiliki Harta Tidak


Langsung Melalui Special Purpose Vehicle. Untuk penetapan Bank
Persepsi

diputuskan

dalam

Keputusan

Menteri

Keuangan

KMK

600/KMK.03/2016 tentang Penetapan Bank Persepsi yang Bertindak


Sebagai

Penerima

Uang

Tebusan

Dalam

Rangka

Pelaksanaan

Pengampunan Pajak, sedangkan untuk Tempat Penyampaian Surat


Pernyataan Harta diputuskan dalam KMK 658/KMK.03/2016 tentang
Penetapan Kantor Pusat dan Kantor Wilayah Dirjen Pajak Sebagai Tempat
Tertentu Untuk Tempat Penyampaian Surat Pernyataan Harta Dalam
Rangka Pengampunan Pajak. Mengenai dokumen dan pedoman teknis
pengisian dokumen diatur melalui Peraturan Dirjen Pajak Per-07/PJ/2016
tentang Dokumen dan Pedoman Teknis Pengisian Dokumen Dalam
Rangka Pelaksanaan Pengampunan Pajak. Sedangkan ketentuan lebih

lanjut diatur melalui Peraturan Dirjen Pajak Per-11/PJ/2016 tentang


Pengaturan Lebih Lanjut Mengenai Pelaksanaan Undang-Undang No. 11
Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak.
B. Pengampunan Pajak
Definisi dari pengampunan pajak menurut Undang-undang No. 11
Tahun 2016 adalah penghapusan pajak yang seharusnya terutang, tidak
dikenai sanksi administrasi perpajakan dan sanksi pidana di bidang
perpajakan, dengan cara mengungkap harta dan membayar uang tebusan
sebagaimana diatur dalam undang-undang pengampunan pajak.
Maksud dan tujuan dari dilakukannya kebijakan pengampunan
pajak yaitu untuk mempercepat pertumbuhan dan restrukturisasi ekonomi
melalui pengalihan harta, yang antara lain akan berdampak terhadap
peningkatan likuiditas domestik, perbaikan nilai tukar rupiah, penurunan
suku bunga dan peningkatan investasi dalam negeri. Mendorong reformasi
perpajakan menuju sistem perpajakan yang lebih berkeadilan serta
perluasan basis data perpajakan yang lebih valid, komprehensif dan
terintegrasi serta bertujuan untuk meningkatkan penerimaan pajak, yang
antara lain akan digunakan untuk pembiayaan pembangunan.
Setiap wajib pajak berhak mendapatkan pengampunan pajak
dengan cara mengungkapkan harta yang dimilikinya dalam Surat
Pernyataan. Wajib pajak yang dikecualikan untuk mengikuti program
pengampunan pajak yaitu Wajib Pajak yang sedang:
a. Dilakukan penyidikan dan berkas penyidikannya telah dinyatakan
lengkap oleh kejaksaan;
b. Dalam proses peradilan; atau
c. Menjalani hukuman pidana,
Atas tindak pidana di bidang perpajakan, Pengampunan pajak
meliputi pengampunan atas kewajiban perpajakan sampai dengan akhir
tahun pajak terakhir, yang belum atau belum sepenuhnya diselesaikan oleh
Wajib Pajak. Kewajiban perpajakan sebagaimana dimaksud terdiri atas
kewajiban:
a. Pajak Penghasilan; dan
b. Pajak Pertambahan Nilai atau Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah.

Tarif Uang Tebusan atas harta yang berada di dalam wilayah NKRI
atau harta yang berada diluar wilayah NKRI yang dialihkan ke dalam
Wilayah NKRI dan diinvestasikan di dalam wilayah NKRI dalam jangka
waktu paling singkat 3 (tiga) tahun terhitung sejak dialihkan adalah
sebesar:
a. 2% (dua persen) untuk periode penyampaian Surat Pernyataan pada
bulan pertama sampai dengan akhir bulan ketiga terhitung sejak
undang-undang pengampunan pajak mulai berlaku;
b. 3% (tiga persen) untuk periode penyampaian Surat Pernyataan pada
bulan keempat terhitung sejak undang-undang pengampunan pajak
mulai berlaku sampai dengan 31 Desember 2016; dan
c. 5% (lima persen) untuk periode penyampaian Surat Pernyataan
terhitung sejak tanggal 1 Januari 2017 sampai dengan 31 Maret 2017.
Tarif Uang Tebusan atas harta yang berada di luar wilayah NKRI
dan tidak dialihkan ke dalam Wilayah NKRI adalah sebesar:
a. 4% (empat persen) untuk periode penyampaian Surat Pernyataan pada
bulan pertama sampai dengan akhir bulan ketiga terhitung sejak
undang-undang pengampunan pajak mulai berlaku;
b. 6% (enam persen) untuk periode penyampaian Surat Pernyataan pada
bulan keempat terhitung sejak undang-undang pengampunan pajak
mulai berlaku sampai dengan 31 Desember 2016; dan
c. 10% (sepuluh persen) untuk periode penyampaian Surat Pernyataan
terhitung sejak tanggal 1 Januari 2017 sampai dengan 31 Maret 2017.
Tarif uang tebusan bagi Wajib Pajak yang peredaran usahanya
sampai dengan Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta
rupiah) pada Tahun Pajak Terakhir adalah sebesar:
a. 0,5% (nol koma lima persen) bagi Wajib Pajak yang mengungkapkan
nilai Harta sampai dengan Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar
rupiah) dalam Surat Pernyataan; atau
b. 2% (dua persen) bagi Wajib Pajak yang mengungkapkan nilai Harta
lebih dari Rp10.000.000.000,00 (sepuluh miliar rupiah) dalam Surat
Pernyataan.

Untuk periode penyampaian Surat Pernyataan pada bulan pertama


sejak undang-undang pengampunan pajak mulai berlaku sampai dengan 31
Maret 2017.
Besarnya Uang Tebusan dihitung dengan cara mengalikan tarif
dengan dasar pengenaan Uang Tebusan. Dasar pengenaan Uang Tebusan
dihitung berdasarkan nilai Harta bersih yang belum atau belum seluruhnya
dilaporkan dalam SPT PPh Terakhir. Nilai Harta bersih merupakan selisih
antara nilai Harta dikurangi nilai Utang.
Nilai harta yang diungkapkan dalam Surat Pernyataan meliputi:
a. Nilai harta yang telah dilaporkan dalam SPT PPh Terakhir; dan
b. Nilai harta tambahan yang belum atau belum seluruhnya dilaporkan
dalam SPT PPh Terakhir.
Nilai Harta yang telah dilaporkan ditentukan dalam mata uang
Rupiah berdasarkan nilai yang dilaporkan dalam SPT PPh Terakhir. Dalam
hal Wajib Pajak diwajibkan menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan
Pajak Penghasilan menggunakan satuan mata uang selain Rupiah, nilai
Harta yang telah dilaporkan ditentukan dalam mata uang Rupiah
berdasarkan kurs yang ditetapkan oleh menteri untuk keperluan
penghitungan pajak pada tanggal akhir tahun buku sesuai dengan SPT PPh
Terakhir.
Nilai Harta tambahan yang belum atau belum seluruhnya
dilaporkan ditentukan dalam mata uang Rupiah berdasarkan nilai nominal
untuk Harta berupa kas atau nilai wajar untuk Harta selain kas pada akhir
Tahun Pajak Terakhir. Dalam hal nilai harta tambahan menggunakan
satuan mata uang selain Rupiah, nilai Harta tambahan ditentukan dalam
mata uang Rupiah dengan menggunakan kurs yang ditetapkan oleh
Menteri untuk keperluan penghitungan pajak pada akhir Tahun Pajak
Terakhir.
Nilai Utang yang diungkapkan dalam Surat Penyataan meliputi:
a. Nilai Utang yang telah dilaporkan dalam SPT PPh Terakhir; dan
b. Nilai Utang yang berkaitan dengan harta tambahan.
Untuk perhitungan dasar pengenaan Uang Tebusan, besarnya nilai
Utang yang berkaitan secara langsung dengan perolehan Harta tambahan
yang dapat diperhitungkan sebagai pengurang nilai Harta bagi:

a. Wajib Pajak badan paling banyak sebesar 75% (tujuh puluh lima
persen) dari nilai Harta tambahan; atau
b. Wajib Pajak orang pribadi paling banyak sebesar 50% (lima puluh
persen) dari nilai Harta tambahan.
Nilai Utang yang telah dilaporkan ditentukan dalam mata uang
Rupiah berdasarkan nilai yang dilaporkan dalam SPT PPh Terakhir. Dalam
hal Wajib Pajak diwajibkan menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan
Pajak Penghasilan menggunakan satuan mata uang selain Rupiah, nilai
Utang yang telah dilaporkan ditentukan dalam mata uang Rupiah
berdasarkan kurs yang ditetapkan oleh menteri untuk keperluan
penghitungan pajak pada tanggal akhir tahun buku sesuai dengan SPT PPh
Terakhir.
Nilai Utang yang berkaitan dengan Harta Tambahan ditentukan
dalam mata uang Rupiah berdasarkan nilai yang dilaporkan dalam daftar
Utang pada akhir Tahun Pajak Terakhir. Dalam hal nilai Utang yang
berkaitan dengan Harta Tambahan ditentukan dalam mata uang selain
Rupiah, nilai Utang ditentukan dalam mata uang Rupiah berdasarkan kurs
yang ditetapkan oleh Menteri untuk keperluan penghitungan pajak pada
akhir Tahun Pajak Terakhir.
C. Tata Cara Penyampaian Surat Pernyataan, Penerbitan Surat
Keterangan, dan Pengampunan atas Kewajiban Perpajakan
Untuk memperoleh Pengampunan Pajak, Wajib Pajak harus
menyampaikan Surat Pernyataan kepada Menteri. Surat Penyataan
ditandatangani oleh:
a. Wajib Pajak orang pribadi;
b. Pemimpin tertinggi berdasarkan akta pendirian badan atau dokumen
c.
a.
b.
c.
d.

lain yang dipersamakan, bagi Wajib Pajak Badan; atau


Penerima Kuasa, dalam hal pemimpin tertinggi berhalangan.
Wajib Pajak harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
Memiliki NPWP;
Membayar Uang Tebusan;
Melunasi seluruh Tunggakan Pajak;
Melunasi pajak yang tidak atau kurang dibayar atau melunasi pajak
yang seharusnya tidak dikembalikan bagi Wajib Pajak yang sedang
dilakukan pemeriksaan bukti permulaan dan/atau penyidikan;

e. Menyampaikan SPT PPh Terakhir bagi Wajib Pajak yang telah


memiliki kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan
Pajak Penghasilan; dan
f. Mencabut permohonan:
1. Pengembalian kelebihan pembayaran pajak;
2. Pengurangan atau penghapusan sanksi administrasi perpajakan
dalam Surat Ketetapan Pajak dan/atau Surat Tagihan Pajak yang di
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Dalam

dalamnya terdapat pokok pajak yang terutang;


Pengurangan atau pembatalan ketetapan pajak yang tidak benar;
Keberatan;
Pembetulan atas Surat Ketetapan Pajak dan Surat Keputusan;
Banding;
Gugatan; dan/atau
Peninjauan Kembali,
hal Wajib Pajak sedang mengajukan permohonan dan belum

diterbitkan surat keputusan atau putusan.


Uang Tebusan sebagaimana dimaksud harus dibayar lunas ke kas
Negara melalui Bank Persepsi. Pembayaran Uang tebusan menggunakan
Surat Setoran Pajak yang berfungsi sebagai bukti pembayaran Uang
Tebusan setelah mendapatkan validasi.
Surat Pernyataan memuat paling sedikit informasi mengenai
identitas Wajib Pajak, Harta, Utang, nilai Harta Bersih, dan Penghitungan
Uang Tebusan. Surat Pernyataan harus dilampiri dengan:
a. Bukti pembayaran Uang Tebusan;
b. Bukti pelunasan Tunggakan Pajak bagi Wajib Pajak yang memiliki
Tunggakan Pajak;
c. Daftar rincian Harta beserta informasi kepemilikan harta yang
dilaporkan;
d. Daftar Utang serta dokumen pendukung;
e. Bukti pelunasan pajak yang tidak atau kurang dibayar atau pajak yang
seharusnya tidak dikembalikan bagi Wajib Pajak yang sedang
dilakukan pemeriksaan bukti permulaan atau penyidikan;
f. Fotokopi SPT PPh Terakhir; dan
g. Surat Pernyataan mencabut permohonan.
Bagi Wajib Pajak yang bermaksud mengalihkan harta ke dalam
wilayah NKRI, selain melampirkan dokumen yang dimaksud, juga
melampirkan Surat Pernyataan mengalihkan dan menginvestasikan harta
ke dalam wilayah NKRI paling singkat selama jangka waktu 3 (tiga) tahun

terhitung sejak dialihkan. Dalam hal Wajib Pajak yang mengungkapkan


Harta yang berada dan/atau ditempatkan di dalam wilayah NKRI, selain
melampirkan dokumen yang dimaksud, juga melampirkan Surat
Pernyataan tidak mengalihkan Harta ke luar Wilayah NKRI paling singkat
jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung sejak diterbitkannya surat
keterangan. Bagi Wajib Pajak yang peredaran usahanya sampai dengan
Rp4.800.000.000,00 (empat miliar delapan ratus juta rupiah) pada Tahun
Pajak Terakhir, selain melampirkan dokumen sebagaimana dimaksud,
Wajib Pajak harus melampirkan surat pernyataan mengenai besaran
peredaran usaha.
Surat Pernyataan disampaikan ke kantor Direktorat Jenderal Pajak
tempat Wajib Pajak terdaftar atau tempat lain yang ditentukan oleh
Menteri. Sebelum menyampaikan Surat Pernyataan dan lampirannya,
Wajib Pajak meminta penjelasan mengenai pengisian dan pemenuhan
kelengkapan dokumen yang harus dilampirkan dalam Surat Pernyataan ke
kantor Direktorat Jenderal Pajak atau tempat lain yang ditentukan oleh
Menteri. Selanjutnya Wajib Pajak membayar Uang Tebusan dan
menyampaikan Surat Pernyataan beserta lampirannya. Menteri atau
pejabat yang ditunjuk atas nama Menteri menerbitkan Surat Keterangan
dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh) hari kerja terhitung sejak
tanggal diterima Surat Pernyataan beserta lampirannya dan mengirimkan
Surat Keterangan kepada Wajib Pajak. Dalam hal jangka waktu 10
(sepuluh) hari kerja Menteri atau pejabat yang ditunjuk atas nama Menteri
belum menerbitkan Surat Keterangan, Surat Pernyataan
dianggap diterima sebagai Surat Keterangan. Wajib Pajak yang telah
menyampaikan Surat Pernyataan dan lampirannya, diberi tanda terima
sebagai bukti penerimaan Surat Pernyataan.
D. Kewajiban Investasi Atas Harta yang Diungkapkan dan Pelaporan
Wajib Pajak yang menyatakan mengalihkan dan menginvestasikan
Harta, harus mengalihkan Harta dimaksud melalui Bank Persepsi yang
ditunjuk secara khusus. Jangka waktu investasi paling singkat 3 (tiga)

tahun terhitung sejak tanggal dialihkannya Harta ke dalam wilayah NKRI.


Investasi sebagaimana dimaksud dilakukan dalam bentuk:
a. surat berharga Negara Republik Indonesia;
b. obligasi Badan Usaha Milik Negara;
c. obligasi lembaga pembiayaan yang dimiliki oleh Pemerintah;
d. investasi keuangan pada Bank Persepsi;
e. obligasi perusahaan swasta yang perdagangannya diawasi oleh
Otoritas Jasa Keuangan;
f. investasi infrastruktur melalui kerja sama Pemerintah dengan badan
usaha;
g. investasi sektor riil berdasarkan prioritas yang ditentukan oleh
Pemerintah; dan/atau
h. bentuk investasi lainnya yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
E. Perlakuan atas Harta yang Belum atau Kurang Diungkap
Dalam hal Wajib Pajak telah memperoleh Surat Keterangan
kemudian ditemukan adanya data dan/atau informasi mengenai Harta yang
belum atau kurang diungkapkan dalam Surat Pernyataan, atas Harta
dimaksud dianggap sebagai tambahan penghasilan yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak pada saat ditemukannya data dan/atau informasi
mengenai Harta dimaksud. Dalam hal:
a. Wajib Pajak tidak menyampaikan Surat Pernyataan sampai dengan
periode Pengampunan Pajak berakhir; dan
b. Direktur Jenderal Pajak menemukan data dan/atau informasi mengenai
Harta Wajib Pajak yang diperoleh sejak tanggal 1 Januari 1985 sampai
dengan 31 Desember 2015 dan belum dilaporkan dalam Surat
Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan,
Atas Harta dimaksud dianggap sebagai tambahan penghasilan yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak pada saat ditemukannya data dan/atau
informasi mengenai Harta dimaksud, paling lama 3 (tiga) tahun terhitung
sejak Undang-Undang Pengampunan Pajak berlaku. Atas tambahan
penghasilan dikenai Pajak Penghasilan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan di bidang Pajak Penghasilan dan ditambah dengan
sanksi administrasi perpajakan berupa kenaikan sebesar 200% (dua ratus

persen) dari Pajak Penghasilan yang tidak atau kurang dibayar sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang perpajakan.
F. Kesimpulan
Pengampunan Pajak merupakan fasilitas yang diberikan oleh
pemerintah untuk Wajib Pajak agar melaporkan seluruh hartanya secara
terbuka. Wajib Pajak tidak akan dapat lagi menyembunyikan hartanya baik
di dalam maupun di luar wilayah NKRI dikarenakan pada tahun 2018
negara-negara di dunia, khususnya yang tergabung dalam Negara G-20
sudah memberlakukan Automatic Exchange System of Information (AEoI),
yaitu sistem pertukaran informasi otomatis dan revisi Undang-Undang
perbankan untuk keterbukaan data bagi perpajakan. Khusus untuk
Indonesia, AEoI akan diberlakukan pada bulan September 2017
mendatang bersamaan dengan Amerika Serikat (AS). Oleh sebab itu,
Fasilitas Pengampunan Pajak merupakan kesempatan yang harus
dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh Wajib Pajak untuk menghindari sanksi
administrasi di masa mendatang yang mungkin bisa terjadi.
G. Kasus Pengampunan Pajak
Ini 6 Alasan Fitra Judicial Review UU Tax Amnesty ke MK
Jakarta - Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (Fitra) akan
mengajukan uji materi (judicial review) Undang-undang Nomor 11 tahun
2016 tentang Pengampunan Pajak (Tax Amnesty) ke Mahkamah Konstitusi
(MK). Fitra bakal mengajukan uji materi bersama PP Muhammadiyah dan
masyarakat sipil lainnya.
"Rencananya, pekan depan kita ajukan uji materi UU Tax Amnesty. Kita
nilai banyak masalah dengan UU Tax Amnesty ini," ujar Manager
Advokasi dan Investigasi Fitra Apung Widadi di Jakarta, belum lama ini.
Apung menyebutkan ada enam permasalahan dasar pada UU Tax Amnesty.
Pertama, secara filosofi dasar pembentukan, kebijakan pengampunan
pajak ini cacat konstitusional. Misalnya, dasar argumentasi UU
Pengampunan Pajak salah tafsir dalam Pasal 23 A. Hal tersebut

bertentangan dengan UUD 1945 Pasal 23 dan 23 A tentang pengelolaan


APBN dan Pemungutan Pajak. "UU Tax Amnesty ini juga bertentangan
dengan UU Keuangan Negara No. 17 Tahun 2003," ungkap dia.
Permasalahan kedua, lanjut Apung, pengampunan pajak adalah kebijakan
yang tidak adil untuk usaha kecil menengah (UKM. Menurut dia, Tax
Amnesty tahun ini akan bernasib sama dengan tahun 1984 saat era
Soeharto karena minimnya akses informasi, keterbukaan dan sosialisasi.
"Ketiga, target asumsi khayalan Rp 165 triliun tidak akan tercapai dan
justru akan menambah beban defisit APBN 2017. Dari simulasi Fitra, jika
dana konglomerat di luar negeri mencapai Rp 8.000-10.000 triliun dengan
verifikasi yang benar, maka maksimal dana yang akan masuk ke APBN
hanya Rp 50 triliun," terang dia.
Permasalahan keempat, kebijakan ini akan memberikan karpet merah
untuk konglomerat pengemplang pajak, bukan pelaku UKM. Terbukti kata
Apung, tujuan utama pengampunan pajak bukan untuk menambal defisit,
sebaliknya untuk memutar roda bisnis konglomerat.
Kelima, kebijakan ini kontraproduktif dengan gerakan antikorupsi. Desain
awalnya memang UU pengampunan koruptor. UU pengampunan pajak ini
adalah upaya mendelegitimasi upaya pemberantasan korupsi. Pasalnya,
tidak ada verifikasi asal harta, apakah hasil korupsi, illegal logging, atau
narkoba.
Permasalahan terakhir, Tax Amnesti adalah jalan buntu kreativitas
pemerintah atas upaya mencari alternatif menggenjot pendapatan negara
sekaligus bukti lemahnya peran negara menagih piutang BUMN. Hingga
2015, kata dia, Fitra mencatat, negara masih mempunyai piutang atas
deviden BUMN (laba ditahan) sebesar Rp 656 triliun dari tahun 20102015. Sementara piutang pajak BUMN sebesar Rp 70,5 triliun.
Sumber:

http://www.beritasatu.com/nasional/383474-ini-6-alasan-fitra-

judicial-review-uu-tax-amnesty-ke-mk.html
DAFTAR PUSTAKA
Undang-undang No. 11 Tahun 2016
http://www.lembagapajak.com/2016/07/pengertian-pengampunan-pajak-taxamnesty-adalah.html

http://www.samcopajak.com/tax-amnesty-pengertian-dan-ruang-lingkuppengampunan-pajak.html
www. pajak.go.id
www.kemenkeu.go.id/taxamnesty