Anda di halaman 1dari 25

PELAPORAN KORPORAT

OLEH
Kelompok
II
1. I Gst Ngr Bagus Widana
2. Ni Putu Yuni Widiastuti
3. Ida Ayu Swanita Trinayani

1506325007
1506325008
1506325009

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS UDAYANA
2016
IMBALAN KERJA
1

Pendahuluan
PSAK 24: Imbalan Kerja mengatur akuntansi dan pengungkapan imbalan kerja
dalam laporan keuangan. PSAK yang berlaku mulai 1 Januari 2015 adalah PSAK
24 (revisi 2013) yang menggantikan PSAK 24 (Revisi 2010). Perbedaan antara
PSAK 24 (revisi 2013) dengan PSAK (Revisi 2010) adalah:
1. Perubahan yang signifikan
a. Pengakuan Keuntungan dan Kerugian Aktuaria
b. Perubahan Komponem Imbalan Pasti dan Aset Program
c. Persyaratan Pengungkapan
2. Perubahan Lainnya
a. Imbalan Jangka Pendek
b. Pesangon
c. Perubahan Penting lainnya

Dengan penjelasan sebagai berikut


PSAK 24 (Revisi 2013)
PSAK 24 (Revisi 2010)
Pengakuan Keuntungan dan Kerugian Aktuaria
Keuntungan dan Kerugian Aktuaria Pilihan pengakuan Keuntungan dan
tidak lagi diakui dengan metode koridor Kerugian Aktuarial:
namun langsung diakui melalui
Pendekatan koridor
penghasilan komprehensif lain (OCI)
Pendekatan non koridor
sebagai bagian dari komponem
pengukuran kembalu (remeasurement)
Perubahan Komponem Imbalan Pasti dan Aset Program
Pada Laporan Laba Rugi
Pada Laporan Laba Rugi
Biaya Jasa Kini, Biaya Jasa
Biaya Jasa Lalu
Amortisasi
Keuntungan
&
Lalu
Keuntungan/Kerugian
atas
Kerugian
Aktuarial

Penyelesaian
Pendekatan koridor
Bunga Neto
Biaya Bunga
Imbal hasil yang diharapkan
atas aset program
Kurtailmen dan penyelesaian
Pada Penghasilan Komprehensif Lain Pada Penghasilan Komprehensif Lain
(OCI)
(OCI
Keuntungan
dan
Kerugian
Keuntungan
dan
Kerugian
Aktuarial
Aktuarial-Langsung
melalui
Imbal Hasil Aset Program yang
OCI
belum diakui dalam bungan
2

Neto
Bunga atas Dampak Batas Atas
Aset yang belum diakui dalam
bunga Neto
Pada Laporan Posisi Keuangan
Pada Laporan Posisi Keuangan
nilai Kini Kewajiban Imbalan
Nilai Kini Kewajiban Imbalan
Pasti Aset Program =
Pasti Aset Program#Liabilitas
(-) Biaya Jasa Lalu yang belum
Liabilitas
diakui
(-)
Keuntungan/Kerugian
Aktuarial

PSAK 24 membagi imbalan kerja menjadi beberapa kelompok:


1.
2.
3.
4.

Imbalan kerja jangka pendek


Imbalan pascakerja
Imbalan kerja jangka panjang
Pesangon

7.1 Imbalan Kerja Jangka Pendek


PSAK 24 mendifinisikan imbalan kerja jangka pendek sebagai imbalan kerja
(selain dari pesangon) yang diperkirakan akan diselesaikan seluruhnya dalam
waktu dua belas bulan setelah akhir periode pelaporan saat pekerja memberikan
jasa terkait.
Berdasarkan PSAK 24, imalan kerja jangka pendek meliputi:
1.
2.
3.
4.

Upah, gaji, dan iuran jaminan sosial,


Cuti tahunan berbayar dan cuti sakit berbayar
Program bagi laba dan bonus
Imbalan nonmoneter

Akuntansi untuk imbalan kerja jangka pendek biasanya cukup jelas karena tidak
ada asumsi aktuaria dan perhitungannya tidak dilakukan dengan dasar diskonto.
Imbalan kerja jangka pendek diakui sebagai beban ketika pekerja telah
memberikan jasanya kepada entitas, dan:

Apabila ada bagian yang belum dibayarkan maka akan diakui sebagai
Liabilitas (beban terakru); atau

Apabila jumlah yang dibayar melebihi jumlah imbalan, maka kelebihan


tersebut akan diakui sebagai aset (biaya dibayar dimuka).

7.1.1 Cuti Berbayar


Cuti berbayar adalah kompensasi yang diberikan Entitas kepada karyawan; dan
terbagi menjadi dua kategori:

Cuti berbayar diakumulasi, yaitu apabila hak cuti periode berjalan yang
belum digunakan dapat diakumulasikan dan digunakan di periode

mendatang,
Cuti berbayar tidak akumulasi, yaitu apabila hak cuti periode berjalan akan
hangus apabila tidak digunakan di periode berjalan.

Entitas mengakui biaya ekspektasian atas cuti imbalan jangka pendek sebagai
berikut:

Atas cuti berbayar diakumulasi: beban dan liabilitas diakui pada saat
pekerja memberikan jasa yang menambah hak cuti berbayar di masa yang
akan datang. Entitas mengukur biaya ekspektasian atas cuti berbayar
diakumulasikan sebagai jumlah tambahan yang diperkirakan akan dibayar
oleh entitas akibat hak yang belum dugunakan dan telah terakumulasi pada

akhir periode pelaporan.


Atas cuti berbayar tidak diakumulasikan: beban langsung diakui dan
dibayarkan pada saat terjadinya cuti.

7.1.2

Program Bagi Laba dan Bonus

Entitas mengakui biaya ekspektasian atas pembayaran bagi laba dan bonus jika,
dan hanya jika:

Terdapat kewajiban hukum atau kewajiban konstruktif atas pembayaran

tersebut
Kewajiban tersebut dapat diestimasi secara andal

Terkadang entitas tidak menyatakan dalam kontrak kerja dengan pekerja bahwa
akan dapat pembayaran bonus atau gaji ke-13. Namun setiap tahunnya entitas
selalu membayarkannya. Hal ini menyebabkan timbulnya kewajiban konstruktif

karena tidak ada hal realistis lain yang dapat dilakukan selain membayarkan bonus
atau gaji ke-13 tersebut.
7.2 Imbalan Pascakerja
PSAK 24 mendefinisikan imbalan pascakerja sebagai imbalan kerja (selain
pesangon dan imbalan kerja jangka pendek) yang terhutang setelah pekerja
menyelesaikan masa kerjanya. Contoh imbalan pascakerja adalah tunjangan
purnakarya seperti pensiunan dan imbalan pascakerja lain, seperti asuransi jiwa
dan tunjangan kesehatan pascakerja.
Dari sisi pembayran iuran, imbalan pascakerja dikelompokan menjadi:
1. Program iuran, terjadi saat pemberi kerja dan pekerja sama-sama
memberikan kontribusi iuran kepada dana pensiunan.
2. Program noniuran. Program noniuran terjadi pada saat hanya pemberi
kerja yang memberikan kontribusi iuran kepada dana pensiunan.
Secara umum, berdasarkan manfaat yang akan diterima pekerja, imbalan
pascakerja diklasifikasikan menjadi:
1. Program iuran pasti
2. Program imbalan pasti
Adapun klasifikasi suatu program sebagai iuran pasti atau imbalan pasti
ditentukan dari substansi ekonomi dari syarat dan ketentuan pokok program.
Untuk memudahkan pendefinisian dari program pascakerja, dapat dilihat Gambar
berikut ini:

Definsi Program Pascakerja


Program Imbalan
Pascakerja

Program Iuran Pasti

Program Manfaat Pasti

5 Didanai

Tidak
Didanai

7.2.1 Program Iuran Pasti


Program iuran pasti didefinisikan sebagai imbalan pascakerja dimana pemberi
kerja membayar iuran tetap kepada suatu entitas terpisah dan tidak memiliki
kewajiban hukum atau konstruktif untuk membayar iuran lebih lanjut jika dana
tidak memiliki aset yang cukup untuk membayar seluruh imbalan terkait jasa yang
diberikan pekerja.
Penggunaan program iuran pasti mengakibatkan kewajiban hukum dan konstruktif
yang dimiliki oleh pemberi kerja hanya terbatas pada jumlah iuran yang
disepakati. Pemberi kerja tidak menentukan manfaat pensiun yang akan diterima
oleh pekerja. Sehingga nantinya jumlah imbalan pascakerja yang akan dibayarkan
kepada pekerja adalah jumlah dari akumulasi iuran dan hasil pengembangan iuran.
Hal ini mengakibatkan risiko aktuarial dan resiko investasi ditanggung oleh
pekerja.
Risiko aktuarial didefinisikan sebagai kemungkinan terjadinya imbalan yang akan
diperoleh jumlahnya lebih kecil dari jumlah yang diperkirakan sebelumnya.
Sementara risiko investasi didefinisikan sebagai kemungkinan terjadinya jumlah
aset investasi yang jumlahnya tidak cukup untuk memenuhi imbalan yang
diperkirakan.
Akuntasi untuk program iuran pasti adalah sederhana. Entitas mengakui terjadinya
beban pada saat terjadinya dan mencatatkan adanya liabilitas atau pengeluaran kas
sesuai dengan kejadiannya. Besarnya liabilitas imbalan pascakerja adalah sebesar
iuran yang terutang kepada entitas program dana pensiunan. Jika diperkirakan
iuran kepada program akan diselesaikan lebih dari 12 bulan, maka liabilitas diukur
sebesar nilai kininya.
7.2.2 Program Imbalan/Manfaat Pasti
Program imbalan pasti didefinisikan sebagai program imbalan pascakerja selain
program iuran pasti. Penggunaan program ini memberikan jaminan kepada

pekerja terkait jumlah manfaat yang akan diterima di akhir masa kerja. Biasanya
jumlah manfaat yang nantinya akan diterima oleh pekerja biasanya berkaitan
dengan besaran gaji pekerja dan lamanya masa kerja. Hal ini mengakibatkan
risiko aktuarial dan resiko investasi ditanggung oleh pemberi kerja.
Program imbalan pasti mungkin didanai sepenuhnya atau sebagian, dan mungkin
juga tidak didanai, oleh iuran entitas. Pendanaan adalah penyerahaan aset kepada
entitas yang disebut dana pensiun, yang terpisah dari entitas untuk tujuan
memenuhi kewajiban yang timbul dari program manfaat pensiun.
1. Program didefinisikan sebagai didanai jika entitas menyisikan dana untuk
maanfaat pensiun masa depan dengan melakukan pembayaran kepada
agen pendanaan, seperti wali amanat, bank, atau entitas asuransi. Program
yang didanai akan menciptakan adanya Liabiltias Imbalan Pasti dan Aset
Program.
2. Program didefinisikan sebagai tidak didanai jika entitas mempertahankan
kewajiban pembayaran manfaaat pensiun tangpa membentuk dana
terpisah.
Program Iuran Pasti
Program Imbalan Pasti
Kewajiban
Terbatas pada jumlah yang menyediakan
imbalan
hukum/konstruktif disepakati sebagai iuran kepada yang dijanjikan kepada
Entitas
dana
pekerja ataupun mantan
pekerja.
penanggung Risiko Pekerja
Entitas
Aktual dan Risiko
Investasi

7.2.3 Kondisi di Indonesia


Undang Undang No. 13 Tahun 2013 tentang Ketenagakerjaan mengatur
hubungan antara Pemberi Kerja dan Pekerja yang diantaranya menjadi ruang
lingkup PSAK 24, yaitu:
1. Perlindungan, pengupahan, dan Kesejahteraan tenaga kerja
2. Pemutusan hubungan kerja

UU 13/2003 pasal 156 mengatur besarnya pesangon, penghargaan, dan


penggantian hak yang wajib dibayarkan pemberi kerja kepada pekerja untuk
berbagai jenis pemutusan hubungan kerja (PHK).
Besarnya pesangon, penghargaan, penggantian hak, dan uang pisah untuk
berbagai jenis PHK adalah sebagai berikut:

Besarnya uang pesangon dan penghargaan yang menjadi dasar perhitungan di atas
sesuai dengan pasal 156 ayat 2 dan 3 UU No. 13/2003, adalah sebagai berikut:

Sementara penggantian hak, sesuai dengan pasal 156 ayat 4 UU No.13/2003


meliputi sebagai berikut:
1. Cuti tahunan yang belum diambil dan belum hangus.
2. Biaya atau ongkos pulang untuk pekerja/buruh dan keluarganya ke tempat
di mana pekerja/buruh diterima bekerja.
3. Penggantian perumahan serta pengobatan dan perawatan 15% dari uang
pesangon dan/atau uang penghargaan masa kerja bagi yang memenuhi
syarat.

4. Hal hal yang ditetapkan dalam perjanjian kerja, peraturan entitas, atau
perjanjian kerja bersama.
Dapat disimpulkan bahwa berdasarkan Undang-undang tersebut, Indonesia
memberlakukan Program Imbalan Pasti bagi seluruh tenaga kerja.
7.2.4 Akuntansi Untuk Program Imbalan Pasti
Akuntansi untuk program imbalan pasti memang memiliki kompleksitas yang
jauh lebih tinggi dari pada akuntansi untuk program iuran pasti. Hal ini
disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya:
1. Penghitungan estimasi manfaat yang akan diterima sesuai dengan UU No.
14 Tahun 2003.
2. Penggunaan teknik dan diskonto aktuarial, khususnya metode Projected
Unit Credit (PUC)
3. Penggunaan asumsi demografis, seperti:tingkat mortalitas, perputaran
pekerja, pergantian karyawan, pensiunan dini, klaim kesehatan, dll
4. Penggunaan asumsi keuangan, berdasarkan estimasi pasar, seperti:tingkat
diskonto dan imbal hasil, gaji masa depan dan tingkat manfaat biaya
kesehatan masa depan, dll
Dari sisi pencatatan akuntansinya sendiri, beberapa akun dalam komponem
Laporan Keuangan berikut ini akan terpengaruh dengan transaksi program
imbalan pasti:
1. Laporan Posisi Keuangan

Aset /Liabilitas Imbalan Pasti, yang dihitung

sebagai selisih dari:


a. Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti (Present Value of Defined Benefit
Obligation = PVDBO), dengan
b. Nilai Wajar Aset Program (Fair Value of Plan Asset = FVPA)
Setelah disesuaikan dengan dampak Batas atas Aset.
1. Laporan Laba Rugi dan Penghasilan Komprehensif Lain
a. Diakui dalam Laporan Laba Rugi periode berjalan
i.
Biaya jasa, yaitu Biaya Jasa Kini, Biaya Jasa Lalu, dan
ii.

Keuntungan/Kerugian atas Penyelesaian


Bunga Neto Liabilitas (Aset) Imbalan Pasti

b. Diakui sebagai Penghasilan Komprehensif Lain (OCI) adalah komponem


Pengukuran Kembali Liabilitas (Aset) Imbalan Pasti (Remeasurement
Componem), yang terdiri dari:
i.
Keuntungan dan Kerugian Aktuarial
ii. Imbal Hasil Aset Program yang belum diakui dalam Bunga Neto
iii.
Perubahan atas dampak Batas atas Aset yang belum diakui dalam
Bunga Neto
Laporan Posisi Keuangan
Laporan Posisi Keuangan akan menyajikan nilai Aset Imbalan Pasti atau Liabilitas
Imbalan Pasti, yaitu selisih dari Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti dengan Nilai
Wajar Aset Program, setelah disesuaikan dengan dampak Batas Atas Aset.
Batas Atas Aset
Batas Atas Aset adalah nilai kini manfaat ekonomis dalam bentuk pengembalian
dana, atau pengurangan iuran masa depan.
Batas Atas Aset ini digunakan apabila selisih antara Nilai Kini Kewajiban Imbalan
Pasti dengan Nilai Wajar Aset Program menghasilkan angka surplus atau Aset.
Dalam kondidi surplus, Aset Imbalan Pasti yang diakui adalah mana yang lebih
rendah antara:

Nilai Wajar Aset Program dan


Batas Atas Aset

Perhitungan nilai Aset/Liabilitas Imbalan Pasti yang disajikan di Laporan Posisi


Keuangan secara ringkas ditampilkan dalam gambar berikut ini:

10

Nilai kini Kewajiban Imbalan Pasti (NKKIP)


Nilai Kini Kewajiban Pasti merupakan nilai kini dari estimasi pembayaran masa
depan yang ditujukan untuk menyelesaikan kewajiban atas jasa pekerja di periode
berjalan dan di periode periode yang telah berlalu.
Estimasi atas pembayaran masa depan harus memenuhi aturan yang berlaku di
Indonesia, khususnya UU No. 13 Tahun 2003.
Besaran Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti (t=0) akan muncul pertama kali
dalam laporan keuangan saat entitas pemberi kerja menyatakan berlakunya suatu
program imbalan pasti. Pada saat perhitungan pertama, maka pemberi kerja akan
melakukan estimasi awal sesuai dengan jumlah pekerja, hak pekerja, asumsi
demografi, dan asumsi aktuarial tertentu.
Besaran Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti (t=1 dan seterusnya) akan
dipengaruhi oleh beberapa komponem di bawah ini:
1. Biaya Jasa (BJ), yaitu Jasa Kini dan Biaya Jasa Lalu
2. Biaya Bunga (BB)
3. Keuntungan/Kerugian Aktuarial (KKP)

11

4. Keuntungan dan Kerugian (KKA)


5. Pembayaran Manfaat (hanya jika jenisnya tidak didanai) (Pmu)
NKKIP (t=1) = NKKIP (t=0) + BJ + BB +/-KPP +/- KKA PMu
Nilai Wajar Aset Program
Aset Program terdiri dari:

Aset yang dimiliki oleh dana pensiun jangka panjang


Polis asuransi yang memenuhi syarat

Apabila tidak ada harga pasar untuk aset tersebut, maka nilai wajar aset program
ditentukan, misalnya, dengan mengukur nilai kini dari akspektasi arus kas masa
depan dengan suatu tingkat diskonto yang mereflesikan risiko terkait aset program
tersebut dan jangka waktu jatuh tempo dari aset.
Nilai Wajar Program Aset (t=0) akan muncul pertama kali dalam laporan
keuangan saat entitas pemberi kerja menyatakan berlakunya suatu program
imbalan pasti yang didanai. Pada saat perhitungan pertama, maka pemberi kerja
akan melakukan estimasi awal sesuai dengan jumlah pekerja, hak pekerja, asumsi
demografi, dan asumsi aktuarial tertentu.
Besaran Nilai Wajar Aset Program (t=1) dan seterusnya) akan dipengarugi oleh
beberapa komponem di bawah ini:
1. Imbalan Hasil Aset Program (pada tingkat diskonto) (IHAP)
2. Kontribusi yang dibayarkan (K)
3. Pembayaran Manfaat (pada Program yang didanai) (PMd)

NWAP (t=1) = NWAP (t=0) + IHAP + K PMd

Biaya Jasa
Biaya Jasa Kini (current Service Cost)

12

Biaya Jasa Kini adalah perubahan Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti yang
berasal dari jasa pekerja pada periode berjalan.
Biaya Jasa Lalu (Past Service Cost)
Biaya Jasa Lalu adalah perubahan Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti Akibat
penerapan awal atau membatalkan program imbalan pasti atau mengubah imbalan
terutang dalam suatu program imbalan pasti yang ada saat ini atau karena terjadi
kurtailmen (curtailment).
Kurtailmen didefinisikan sebagai pemenuhan salah satu dari dua kondisi berikut
ini:

Entitas pemberi kerja menunjukan komitmenya untuk mengurangi secara

signifikan junlah pekerja yang ditanggung oleh program, atau


Entitas pemberi kerja mengubah ketentuan dalam program imbalan pasti
yang menyebabkan bagian yang material dari jasa masa depan pekerja
tidak lagi memberikan imbalan atau memberikan imbalan lebih rendah.

Biaya Jasa Lalu diakui sebagai beban pada saat terjadinya, baik yang sudah vested
maupun atas yang belum vested.

Imbalan bersifat vesting jika pekerja berhak menerima pembayaran atas

hak yang digunakan selama masa kerja ketika hubungan kerja putus.
Imbalan bersifat non-vesting jika pekerja tidak berhak menerima
pembayaran atas hak yang tidak digunakan selama masa kerja ketika
berhubungsn kerja putus.

Biaya Jasa Lalu dapat bernilai positif maupun negatif, dengan penjelasan sebagai
berikut:

Bernilai positif jika imbalan diadakan atau jika perubahan yang ada

menyebabkan Nilai jika Kini Kewajiban Imbalan Pasti meningkat.


Bernilai negatif jika perubahan yang ada menyebabkan Nilai Kini
Kewajiban Imbalan Pasti menurun.

Keuntungan/Kerugian atas Penyelesaian (settlement gains/losses)

13

Keuntungan /Kerugian atas Penyelesaian diakui saat penyelesaian terjadi.


Keuntungan/Kerugian tersebut diperoleh dari selisih antara Nilai Kini Kewajiban
Imbalan Pasti yang sedang diselesaikan dan harga penyelesaiannya, termasuk
setiap aset program yang dialihkan dan setiap pembayaran yang dilakukan.

Bunga Neto Liabilitas (ASET) Imbalan Pasti

Tingkat diskonto ditentukan di awal periode dan diambil dari bunga obligasi
berkualitas tinggi (atau obligasi pemerintah) di pasar aktif pada akhir periode
pelaporan sebelumnya. Penggunaan mata uang, periode pelaporan, dan obligasi
yang menjadi rujukan harus dilakukan secara konsisten.
Bunga Neto Liabilitas (Aset) Imbalan Pasti terdiri dari:

Biaya Bunga = tingkat diskonto x Nilai Kewajiban Imbalan Pasti


Prndapatan Bunga = tingkat diskonto x Nilai Wajar Aset Program
Bunga atas dampak Batas Atas Aset = tingkat diskonto x Dampak Batas
Atas Aset

Ilustrasi perhitungan Bunga Neto Liabilitas (Aset) Imbalan Pasti


Asumsi di awal periode:
Nilai Wajar Aset Program
Rp 500.000.000
Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti
Rp 650.000.000
Liabilitas Imbalan Pasti Neto
Rp 150.000.000
Imbal Hasil yang diharapkan atas Aset Program 8%
Tingkat diskonto
5%
Bunga Neto Liabilitas (Aset) Imbalan Pasti = 5% x Rp 150.000.000 = Rp
7.500.000
Nilai Bunga Neto sebesar Rp 7.500.000 dapat juga dihitung dengan :

14

Biaya Bunga 5% x Rp 650.000.000

Rp 32.500.000

Pendapatan Bunga = 5% x Rp 500.000.000

Rp 25.000.000

Bunga atas dampak Batas Atas Aset

Rp -

Bunga Neto Liabilitas (Aset) Imbalan Pasti

Rp 7.500.000

Biaya Bunga sebesar Rp 32.500.000 akan meningkatkan Nilai Kini Kewajiban


Imbalan Pasti, sementara Pendapatan Bunga sebesar Rp 25.000.000 akan
meningkatkan Nilai Wajar Aset Program.
Keuntungan atau Kerugian Aktuarial (Actuarial Gains or Losses)
Keuntungan atau Kerugian aktuarial terdiri atas:
1. Penyesuaian akibat adanya perbedaan antara asumsi aktuarial dengan
kenyataan, dan
2. Pengaruh perubahan asumsi aktuarial
Keuntungan atau Kerugian aktuarial tidak lagi menyertakan perubahan akibat
penerapan awal, perubahan, kurtailmen, atau penyesuaian atas program imbalan
pasti, atau perubahan atas manfaat yang tercangkup dalam program imbalan pasti.
Keuntungan atau kerugian aktuarial dapat timbul dari kenaikan atau penurunan
Nilai Kewajiban Imbalan Pasti atau Nilai Wajar Aset Program. Keuntungan atau
Kerugian Aktuarial merupakan komponem Pengukuran Kembali Liabilitas (Aset)
Imbalan Pasti dan diakui dalam OCI.
Imbal Hasil Aset yang belum diakui dalam Bunga Neto
Imbal Hasil Aset Program yang belum diakui dalam Bunga Neto merupakan
komponem Pengukuran Kembali Liabilitas (Aset) Imbalan Pasti dan di akui
dalam OCI
Imbal Hasil Aset Program yang belum diakui dalam Bunga Neto adalah selisih
antara realisasi imbal hasil aset program dengan Pendapatan Bunga yang telah
diakui dalam Bunga Neto.
Berdasarkan Ilustrasi Bunga Neto di atas, jika diasumsikan realisasi imbal hasil
aset program adalah 8%, maka:

15

Imbal Hasil Program = 8% x Rp 500.000.000


Rp 40.000.000
Pendapatan Bunga yang telah diakui dalam Bunga Neto Rp 25.000.000
Imbal Hasil Aset Program yang belum diakui dalam Rp 15.000.000
Bunga Neto
Perubahan atas Dampak Batas Atas Aset yang belum diakui dalam Bunga
Neto
Perubahan atas Dampak Batas Atas Aset yang belum diakui dalam Bungan Neto
merupakan komponem Pengukuran Kembali Liabilitas (Aset) Imbalan Pasti dan
diakui Dalam OCI.
Perubahan atas Dampak Batas Atas Aset yang belum diakui dalam Bungan Neto
adalah selisih antara total perubahan pada Dampak Batas Atas Aset dengan Bunga
atas Dampak Batas Atas Aset yang telah diakui dalam Bungan Neto.
7.3 Imbalan Kerja Jangka Panjang Lain
Imbalan Kerja Jangka Panjang Lain didefinisikan sebagai seluruh imbalan kerja
selain imbalan kerja jangka pendek, imbalan pascakerja, dan pesangon. Contoh
imbalan kerja yang diklasifikasikan sebagai Imbalan Kerja Jangka Panjang Lain
adalah: Bagi Laba dan Bonus, Imbalan Cacat Permanen, Cuti Besar, Penghargaan
Masa Kerja, dan Renumersasi Tangguhan.
7.4 Pesangon
Pesangon didefinisikan sebagai imbalan yang diberikan dalam pertukaran atas
penghentian perjanjian kerja sebagai akibat pemberhentian pekerja sebelum udia
purna karya normal atau keputusan pekerja menerima tawaran imbalan sebagai
pertukaran penghentian perjanjian kerja.
Pesangon diakui pada tanggal awal antara:

Ketika tidak dapat lagi menarik tawaran tersebut (pekerja telah menerima

tawaran, atau berlaku pembatasan hukum atas penarikan tawaran); atau


Pengakuan biaya restrukturisasi sesuai PSAK 57.

16

Kondisi ketika tidak dapat lagi menarik tawaran penghentian perjanjian Kerja
adalah saat telah dikomunikasikan ke pekerja yang terkena dampak, dan
memenuhi kriteria:
1. Kecil kemungkinanperubahan signifikan atas program tersebut;
2. Program mengidentifikasi jumlah pekerja yang akan dihentikan, klasifikasi
pekerjaan/fungsi, dan lokasinya, serta tanggal penyelesaian; dan
3. Program membuat detail yang memadai sehingga pekerja dapat
menentukan jenis dan jumlah imbalan yang akan diterima.
Pesangon diukur pada nilai nominal jika akan diselesaikan dalam waktu 12 (dua
belas) bulan dan akan diukur pada nilai kini jika akan diselesaikan lebih dari dua
belas bulan.

Contoh Latihan dan Soal Imbalan Kerja


Soal 1
PT. Royal memiliki kebiasaan untuk membagi bonus kepada karyawan tiap tahun.
Bonus tersebut biasanya dihitung sebesar 3% dari laba bersih. Bonus atas suatu
tahun ditetapkan pada RUPS dalam rangka Pengesahan Laporan Keuangan
Tahunan tersebut. RUPS biasanya dilakukan 5 bulan setelah tanggal pelaporan,

17

yaitu bulan Mei tahun berikutnya. Prakiraan laba bersih tahun 2015 adala
Rp200.000.000.000. hitunglah beban dan liabilitas atas bonus yang diakui PT
Royal tahun 2015.
Jawaban
Laba Bersih PT Royal Tahun 2015 Rp 200.000.000.000
Bonus Rp200.000.000.000 x 3% = Rp 6.000.000.000
Jadi jumlah beban dan liabilitas tahun 2015 adalah Rp 6.000.000.000
Karena bonus dibayar bulan Mei 2016, maka jurnalnya
Beban Bonus
Rp 6.000.000.000
Hutang Bonus
Rp 6.000.000.000
Soal 2
PT Lazy memiliki 50 orang karyawan. Pada tahun 2015 mulai memberikan
program cuti berimbalan untuk karyawannya. Setiap karyawan berhak atas 5 hari
cuti berimbalan dalam 1 tahun dan dapat diakumulasikan pada tahun-tahun
berikutnya. Setiap karyawan yang cuti akan mendapatkan imbalan sebesar
Rp800.000.000 perhari. Pada tahun 2015, ada 35 karyawan sudah mengambil
penuh hak cuti berimbalan, sedangkan 15 karyawan sudah mengambil 3 hari.
Hitunglah beban dan liabilitas atas cuti berimbalan yang diakui PT Lazy tahun
2015.
Jawaban
Diketahui
35 karyawan x 5 hari = 175 hari
15 karyawan x 3 hari = 45 hari
Jumlah
= 220 hari
220 hari x Rp 800.000 = Rp 176.000.000
15 karyawan x 2 hari x Rp 800.000 = Rp 24.000.000
(Rp 176.000.000 + Rp 24.000.000 = Rp 200.000.000)
PT Lazy akan mengakui beban dan liabilitas atas cuti sebesar Rp 176.000.000
Jurnal yang akan dicatat PT Lazy tahun 2015 adalah
Beban Imbalan kerja cuti berimbalan Rp 176.000.000
Kas
Rp 176.000.000
Jika cuti berimbalan tersebut dapat diakumulasikan maka pada tahun 2015 PT
Lazy akan mengakui tambahan beban dan liabilitas sebesar Rp 24.000.000
Sehingga beban yang diakui tahun 2015 menjadi Rp 200.000.000.
Soal 3
Pada tahun 2015 PT Pensiun berkomitmen melakukan PKK atas 20 orang
karyawan dengan jumlah pesangon keseluruhan senilai Rp1.500.000.000. selain
itu, PT Pensiun juga menawarkan kepada 15 orang karyawan lainnya untuk
berhenti secara sukarela. Setiap karyawan akan menerima pesangon masingmasing Rp80.000.000 juka menerima tawaran tersebut. PKK direncanakan efektif
dilakukan awal tahun 2016. Dalam kasus ini PT Pensiun sudah memiliki
18

komitmen yang jelas untuk melakukan PKK dan biaya terkait restrukturisasi telah
diakui. Untuk PKK secara sukarela, PT Pensiun mengestimasi 2/3 karyawan akan
menerima tawaran PKK tersebut. Berpakah beban pesangon PKK yang diakui PT
Pensiun tahun 2015.
Jawaban
Jumlah beban yang harus diakui oleh PT Pensiun 2015 adalah
Pesangon PKK (20 Karyawan Rp 1.500.000.000 = Rp 75.000.000/orang)
Penawaran berhenti secara sukarela 15 karyawan x Rp 80.000.000 = Rp
1.200.000.000
Beban yang harus diakui PT Pensiun 2015 adalah
Pesangon 20 karyawan
= Rp 1.500.000.000
Pesangon 2/3 dari penawan berhenti sukarela
10 x Rp 80.000.000
= Rp 800.000.000
Jumlah
= Rp 2.300.000.000
Oleh karena realisasi dari PKK seluruhnya baru terjadi pada tahun 2016
sedangkan keputusan sudah dibuat pada tahun 2015 maka PT Pensiun harus
mengakui seluruh beban tersebut sebagai liabilitas dilaporan Posisi Keuangan
2015 dengan jurnal
Beban Imbalan kerja Pesangon Rp 2.300.000.000
Provisi
Rp 2.300.000.000
Soal 4
Berikut adalah data yang berhubungan dengan program imbalan pasti bagi
karyawan PT Jompo:

Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti


Nilai Wajar Aset Program
Penghasilan Komprehensif Lain (kredit)

1 Januari 2015
3.100.000.000
2.900.000.000
352.000.000

31 Desember 2015
3.400.000.000
3.100.000.000
394.000.000

Berdasarkan kasus pada PT Jompo, berapakah nilai liabilitas yang timbul di


Laporan Posisi Keuangan (Neraca) PT Jompo per 31 Desember 2015?, Berapakah
imbalan pasca kerja yang harus diakui dalam Laporan Laba Rugi PT Jompo tahun
2015, jika iuran yang dibayarkan tahun 2015 sebesar Rp50.000.000? Berapakah
keuntungan

(kerugian) aktuarial yang diakui PT Jompo melalui penghasilan

Komprehensif lain tahun 2015?


Jawaban
Kertas Kerja

19

20

Soal 5

21

PT Purnabakti memiliki program iuran pasti dengan iuran jatuh tempo tiap akhir
bulan sebesar Rp4.000.000. iuran bulan Nopember 2015 telah dibayar seluruhnya
pada awal Januari 2016. Hitung liabilitas yang diakui PT Purnabakti pada 31
Desember 2015 terkait program iuran pasti.
Jawaban

Soal 6
Pada tahun 2015< PT Harituan memiliki saldo terkait program Imbalan Pasti
adalah sebagai berikut
Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti awal tahun 2015
Nilai Wajar Aset Program awal tahun 2015
Penghasilan komprehensif lain (kredit(-awal tahun 2015
Biaya Jasa Kini
Tingkat Diskonto
Iuran yang dibayarkan perusahaan pada Dana Pensiun
Imbalan pension yang dibayarkan oleh Dana Pensiun
Nilai Kini Kewajiban Imbalan Pasti-akhir tahun 2015
Nilai Wajar Aset Program-akhir tahun 2015

225.000.000
175.000.000
10.070.000
18.000.000
10%
25.000.000
12.000.000
260.000.000
205.000.000

Diminta:
1. Hitung beban imbalan pasti paa tahun 2015 dan liabilitas di Laporan Posisi
Keuangan (Neraca) PT Haritua per 31 Desember 2015
2. Buat ayat jurnal yang diperlukan PT Haritua terkait Program Imbalan Pasti
tahun 2015.
Jawaban

22

Kertas Kerja

23

Kesimpulan
Pencatatan beban imbalan kerja pada laporan keuangan harus dilakukan dengan
mengacu kepada prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.Imbalanimbalan di UUK tersebut dapat diatur lebih lanjut di Peraturan Perusahaan (PP)
atau di Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara Perusahaan dan Serikat Pekerja
dan tentu saja merujuk kepada ketentuan di UUK.
Beban imbalan kerja atau beban personil adalah suatu bagian dari beban
perusahaan yang harus diakui pada laporan laba rugi komprehensif. Beban
imbalan kerja baik jangka panjang maupun jangka pendek harus dicadangkan
sebagai suatu kewajiban setiap bulannya sebagai konsekuensi adanya jasa yang
diberikan pekerja kepada perusahaan.Pencadangan dilakukan karena laporan
keuangan disusun dengan basis akrual dan jumlah imbalan kerja biasanya
material.Pencadangan ini dilakukan agar laporan keuangan menyajikan informasi
yang relevan bagi pengambilan keputusan

Referensi

24

Modul Charatered Accountant: Pelaporan Korporat. 2015. Ikatan Akuntan


Indonesia

25