Anda di halaman 1dari 23

Pengertian proxy war adalah perang terselubung di mana salah satu

pihak menggunakan orang lain atau pihak ketiga untuk melawan musuh.
Dengan kata lain, proxy war artinya perang tidak tampak menggunakan
cara-cara halus untuk menghancurkan dan mengalahkan lawan
menggunakan pihak ketiga.
Contohnya begini, Amerika Serikat secara terselubung melalui sebuah
konspirasi dan desain besar menyatakan perang kepada Indonesia. Namun,
hal itu dirahasiakan dan tidak dinyatakan secara terbuka. Mereka memilih
untuk perang dengan cara proxy menggunakan "orang lain".
Orang lain (pihak ketiga) yang dimaksud, bisa berupa negara lainnya, seperti
Singapura, Malaysia, Australia, dan sebagainya. Selain negara, pihak ketiga
bisa jadi sebuah organisasi (NGO), pergerakan, partai dan lain sebagainya.
Contoh dari pihak ketiga selain negara, seperti ISIS, organisasi terorisme atas
Mujahidin dan sebagainya. Mereka kemudian bergerilya atas nama jihad atau
agama, padahal mereka dibiayai Amerika.
Akibatnya, Indonesia dijajah secara tak kasat mata yang berujung pada
kerusuhan, bentrok, ketidakamanan, bahkan sampai pada penjajahan
sumber daya alam (SDA) berupa penguasaan tambang emas, gas, minyak
mentah, kelapa sawit, dan masih banyak lagi lainnya.
Meski tidak dijajah secara fisik-nyata, tetapi Amerika atau Asing berhasil
menjajah bangsa dan negara Indonesia melalui proxy war. Dalam khasanah
kosakata bahasa Jawa, istilah perang proxy artinya "nabok nyilih tangan."
Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, kata nabok nyilih tangan artinya
memukul dengan meminjam tangan (orang lain). Itulah ilustrasi yang bisa
mempermudah Anda untuk memahami arti dan makna kata perang proxy
war yang sesungguhnya.
Contoh proxy war Amerika kepada Indonesia di atas bukanlah sebenarnya,
hanya ilustrasi-penggambaran untuk memudahkan Anda dalam memahami
pengertian kata proxy war. Sehingga, tidak bisa dijadikan sebuah referensi
atau sumber untuk membuat makalah atau artikel ilmiah.
Contoh proxy war nyata
Timor Timur adalah sebuah pulau yang masuk dalam Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI). Australia ingin merebutnya karena menyimpan

sumber daya alam yang melimpah ruah, seperti minyak dan gas bumi.
Namun, Australia memilih untuk mencoba merebut Timor Timur dari
Indonesia melalui proxy war, bukan secara tatap muka menggunakan senjata
dan seruan-seruan perang. Australia kemudian menggunakan pihak ketiga
yang akhirnya muncul gerakan-gerakan separatis di sana.
Pemberontakan terjadi di Timor Timur. Di jalur diplomasi, Australia berusaha
mendekati Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan menggunakan isu hak
asasi manusia (HAM) sebagai dalil atau landasan untuk melepaskan Timor
Timur dari Indonesia. Proxy war yang dilancarkan Australia pun berhasil.
PBB bahkan mengeluarkan sebuah resolusi Dewan Keamanan supaya
memberikan izin pasukan multinasional bisa masuk ke Timor Timur dengan
alasan mengembalikan perdamaian, kemanusiaan, dan menghentikan
kekerasan. Akhirnya, misi Australia berhasil dan Timor Timur saat ini menjadi
negara sendiri bernama Timor Leste.
Itu salah satu contoh nyata proxy war di Indonesia pada zaman Presiden BJ
Habibie yang bisa menjadi sumber referensi membuat makalah. Bagaimana
dengan perang proxy pada zaman Soekarno, Soeharto, KH Abdurrahman
Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarnoputri, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY),
hingga Presiden Joko Widodo (Jokowi)?
Demikian artikel pengertian perang proxy war lengkap dengan contoh
ilustrasi dan contoh nyata yang bisa dijadikan referensi untuk membuat
makalah, skripsi, tesis, disertasi, essai, atau tulisan lainnya yang bertujuan
untuk publikasi ilmiah di bidang politik. (*)

Waspada, Proxy War Menyerang Berbagai Aspek Kehidupan di


Indonesia
[Unpad.ac.id, 7/03/2016] Seiring dengan perkembangan teknologi, sifat dan
karakteristik perang telah bergeser, dimana saat ini kemungkinan terjadinya
perang konvensional antar dua negara semakin kecil. Perang masa kini yang
terjadi dan perlu diwaspadai oleh Indonesia, salah satunya adalah proxy war.
Proxy war tidak melalui kekuatan militer, tetapi perang melalui berbagai
aspek kehidupan berbangsa dan bernegara. Baik melalui politik, melalui
ekonomi, sosial budaya, termasuk hukum, jelas Komandan Sekolah Staf dan
Komando TNI, Agus Sutomo, S.E saat memberikan kuliah umum bertema
Melalui Komsus TNI Kita Jalin Silaturahmi antara TNI dengan Aparat
Pemerintah, Komponen Masyarakat dan/atau Keluarga Besar TNI Dalam
Rangka Mewaspadai Proxy War di Wilayah NKRI di Bale Sawala, Gedung
Rektorat Unpad kampus Jatinangor, Senin (7/03).
Agus menjelaskan, proxy war merupakan sebuah konfrontasi antar dua
kekuatan besar dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari
konfrontasi secara langsung dengan alasan mengurangi risiko konflik
langsung yang berisiko pada kehancuran fatal.
Dalam proxy war, tidak bisa terlihat siapa lawan dan siapa kawan.
Dilakukan non state actor, tetapi dikendalikan pasti oleh sebuah negara,
imbuh Agus.
Indikasi proxy war di Indonesia, antara lain adalah gerakan separatis dan
gerakan radikal kanan/kiri, demonstrasi massa anarkis, sistem regulasi dan
perdagangan yang merugikan, peredaran narkoba, pemberitaan media yang
provokatif, tawuran pelajar, bentrok antar kelompok, serta penyebaran
pornografi, seks bebas, dan gerakan LGBT.
Menurut Agus, ada banyak negara yang ingin menguasai sumber daya alam
Indonesia melalui proxy war. Hal tersebut terjadi karena kesuburan tanah
Indonesia, posisi geografis yang sangat strategis,serta memiliki kekayan
alam hayati dan non hayati yang luar biasa.

Kita harus bijak dan bersatu karena ancaman kedepan semakin kompleks
dan nyata. Kita perlu antisipasi sejak dini, ujar Agus.
Agus pun mengajak mahasiswa untuk siap menghadapi Indonesia Emas
tahun 2045. Persiapan yang dilakukan, diantaranya melalui kebersamaan,
militansi, memiliki kemauan keras, dan sering berkomunikasi.
http://www.unpad.ac.id/2016/03/waspada-proxy-war-menyerang-berbagaiaspek-kehidupan-di-indonesia/

Proxy war atau perang proksi adalah perang yang terjadi ketika lawan
menggunakan pihak ketiga sebagai pengganti berkelahi satu sama lain
secara langsung. Sementara kekuasaan kadang-kadang digunakan
pemerintah sebagai proksi, aktor non-negara kekerasan, dan tentara
bayaran, pihak ketiga lainnya yang lebih sering digunakan.

Diharapkan bahwa kelompok-kelompok ini bisa menyerang lawan tanpa


menyebabkan perang skala penuh. Menurut KASAD Jenderal TNI Gatot
Nurmantyo: "Proxy war adalah sebuah konfrontasi antara dua kekuatan besar
dengan menggunakan pemain pengganti untuk menghindari konfrontasi
secara langsung dengan alasan untuk mengurangi risiko konflik yang
berisiko kehancuran fatal."
KASAD mengatakan, perang proxy biasanya dimanfaatkan oleh pihak ketiga.
Yang bertindak sebagai pemain pengganti adalah negara kecil, namun
kadang pemain itu bisa pula berupa non-state actors, seperti LSM, Ormas,
kelompok masyarakat atau perorangan. "Proxy merupakan kepanjangan
tangan dari suatu negara yang berupaya mendapatkan kepentingan
strategisnya namun menghindari keterlibatan langsung suatu perang yang
mahal dan berdarah," kata KASAD.
Indikasi Perang Proxy di Indonesia

Menurut Jendral TNI Gatot Nurmantyo, indikasi adanya proxy war di


Indonesia diantaranya:

Gerakan separatis

Demonstrasi massa

Sistem regulasi yang merugikan

Peredaran narkoba

Pemberitaan media yang provokatif

Penyebaran *****grafi dan **** bebas

Tawuran pelajar, dan

Bentrok antar kelompok.

Menurut para pengamat politik dan pakar ilmu strategi global negara
adikuasa di dunia ini sebuah fakta nyata atau kah hanya sebuah ilusi dan
paranoid. Terdapat hasil diskusi akademis yang dikeluarkan oleh :

a. Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, 10 Maret 2014. Proxy war


dapat dilakukan pihak asing terhadap Indonesia dalam bentuk:

Menjadikan Indonesia sebagai pasar produk pihak asing.

Menghambat pembangunan dan pengembangan kualitas sumber daya


manusia Indonesia agar kalah bersaing dalam era pasar bebas dunia.

Merekrut generasi muda Indonesia dengan indoktrinasi disertai fasilitas


pendidikan dan materi, agar mau jadi agen negara asing, agar kalau
mereka jadi pemimpin bangsa Indonesia dikemudian hari, akan bisa
dikendalikan oleh pemerintah negara asing tersebut.

Negara asing akan melakukan investasi besar-besaran di bidang


industri strategis, agar menguasai sektor industri strategis di Indonesia
(migas, pertambangan, listrik, komunikasi, satelit, Alat Utama Sistem
Senjata Militer RI, Saham Bluechip, dll).

Pihak asing berusaha menciptakan pakta pasar bebas regional dan


dunia, agar produk lokal Indonesia menjadi tertekan dan hancur.
Melakukan penetrasi, penyusupan, suap, kolusi dengan pihak anggota
legislatif Indonesia, agar produk hukum strategisnya akan
menguntungkan pihak asing.

Menciptakan kelompok teroris di Indonesia, agar dengan dalih untuk


memerangi terorisme dunia, pihak asing dapat leluasa melakukan
intimidasi dan campur tangan masuk ke Indonesia dengan dalih untuk
menghancurkan terorisme dunia.

Membeli dan menguasai media massa, baik cetak maupun elektronik,


untuk membentuk opini publik yang menguntungkan pihak asing.
Menguasai industri teknologi komunikasi tingkat tinggi, seperti satelit
komunikasi dan satelit mata mata, agar dapat menyadap dan
memonitor seluruh percakapan pejabat penting Indonesia, juga lokasi
kekuatan militer Indonesia, serta kekayaan tambang Indonesia.

Memecah belah dan mengahancurkan generasi muda Indonesia


dengan narkoba, pergaulan **** bebas, budaya konsumtif, dan
bermalas malasan.

b. Universitas Brawijaya, memberikan hasil diskusi tentang Proxy war di


Indonesia, hampir sama dengan hasil dari Universitas Indonesia.
c. Hasil diskusi ilmiah Institut Teknologi Bandung, juga hampir sama.
d. Hasil diskusi ilmiah dari Lembaga Ketahanan Nasional Jakarta, 19
Juni 2014, juga hampir sama.
Upaya Mengatasi Proxy War

a. Kepada TNI AD
Dalam Amanat KASAD pada upacara pengibaran bendera yang dilaksanakan
setiap tanggal 17 setiap bulannya yang berlangsung di lapangan Olah Raga
Pusdik Arhanud pada bulan Februari 2015 mengatakan "Ancaman proxy war,
dalam konteks kepentingan nasional bangsa Indonesia, harus terus
diwaspadai dan disikapi secara bersungguh-sungguh. Dalam kaitan itu,
kepada seluruh prajurit TNI AD saya perintahkan agar senantiasa
membentengi diri, keluarga dan satuan masing-masing dari pengaruh dan
ancaman bahaya proxy war dengan :

Perkuat iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

Jaga soliditas satuan, serta

Jadikan selalu Sapta Marga, Sumpah Prajurit dan 8 Wajib TNI sebagai
landasan dalam berpikir, berbuat dan bertindak dalam bentuk
kehidupan para Prajurit.

KASAD menegaskan, agar kita pedomani pesan Panglima Besar Jenderal


Soedirman yang disampaikan puluhan tahun yang lalu, yang masih tetap
sesuai untuk kita terapkan dalam menghadapi bahaya dan ancaman proxy
war
Janganlah mudah tergelincir dalam saat yang akan menentukan nasib
bangsa dan negara kita, seperti yang kita hadapi pada dewasa ini, fitnah
yang besar atau halus, tipu muslihat yang keras atau lemah, provokator
yang tampak atau sembunyi, semua itu insya Allah dapat kita lalui dengan
selamat, kalau saja kita tetap awas dan waspada, memegang teguh
pendirian cita-cita, sebagai patriot Indonesia yang sejati.
b. Kepada Mahasiswa/Pemuda
Menurut KASAD Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dihadapan para mahasiswa
Universitas Sumatera Utara bahwa pemuda sebagai tulang punggung
bangsa harus menyadari bermacam tantangan dan ancaman bangsa
tersebut untuk kemudian bersatu padu dan bersinergi menjaga keselamatan
bangsa dan negara. Sejumlah aksi yang dapat dilakukan oleh mahasiswa
untuk menangkal proxy war diantaranya dengan:

Selalu mengidentifikasi dan mengenali masalah

Ahli dalam bidang disiplin ilmu masing-masing

Melakukan gerakan pemuda berbasis wirausaha, dan

Mengadakan komunitas belajar serta merintis program pembangunan


karakter.

Untuk itu pemuda, dalam hal ini mahasiswa, harus membekali diri dengan
ilmu, keahlian, dan keterampilan sesuai bidangnya. Wawasan luas,
berpengalaman untuk membentuk karakter dan berwawasan kebangsaan
sehingga mampu melawan dan menghancurkan proxy war di Indonesia.
Di masa yang akan datang, dunia, negara, provinsi, kabupaten/kota,
komunitas, dan lembaga akan bersama-sama membentuk "global forum":

Dalam semangat dan komitmen memilih tanpa harus menghakimi

Menentukan tanpa harus menyalahkan

Memutuskan tanpa harus merendahkan

Menonjolkan tanpa harus meniadakan

Bhinneka Tunggal Ika (Unity in diversity), dan

Semangat gotong royong.

Kesimpulan

Menurut KASAD Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, dalam bukunya yang


berjudul: "PERAN PEMUDA DALAM MENGHADAPI PROXY WAR", Proxy War
adalah sebuah konfrontasi antara dua negara yang menggunakan "Peran
Pengganti/boneka/antek antek", dalam berkonfrontasi dan memenangkan
konfrontasi, agar tidak berkonfrontasi secara frontal, terbuka dan berisiko
kehancuran yang fatal.
Biasanya pihak yang dijadikan boneka/antek dalam proxy war, adalah LSM,
Ormas, kelompok masyarakat ataupun tokoh masyarakat perorangan, yang
eksis di negara sasaran, yang memiliki kemampuan dan jaringan luas dan
pengaruh kuat di kalangan masyarakat negara sasaran tapi mereka bisa
dibeli dan mau mengkhianati bangsanya sendiri untuk mendapatkan
kekuasaan, jabatan dan kekayaan dari pihak negara penyerang.
Melalui proxy war ini, tidak dapat dikenal dengan jelas siapa lawan dan siapa
kawan, karena negara penyerang mengendalikan "Boneka/Non State Actors"
ini dari luar negeri. Negara penyerang akan membiayai semua dana operasi
dan imbalan bagi para non-state actors ini, dengan syarat mereka mau
melakukan semua keinginan penyandang dana proxy war ini.

Sumber: Lemjiantek TNI AD


http://www.artileri.org/2015/03/proxy-war.html

KONFRONTASI - Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Tatang


Sulaiman yang diwakili oleh Wakil Kepala Pusat Penerangan (Wakapuspen)
TNI Laksma TNI Petrus Padmarjo, S.E., meresmikan Jejaring Perpustakaan
Digital Puspen TNI dan Gelar Katalog Penerbit untuk Program Pondok Cerdas
Warga yang ditandai dengan penekanan tombol sirine di Aula Gatot Subroto,
Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timut, Kamis (28/4/2016).
Dalam sambutannya Kapuspen TNI menyampaikan bahwa, pada era
globalisasi saat ini dimana karakteristik ancaman terhadap kedaulatan
negara semakin dinamis sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi. Perang konvensional antara dua negara dewasa ini sangat
kecil terjadi, karena disebabkan adanya kepentingan negara tertentu yang
ingin menguasai negara lain melalui perang jenis baru diantaranya perang
asimetris, perang hibrida dan perang proxy (Proxy War).

Proxy War adalah ancaman nyata bangsa Indonesia, merupakan perang yang
tidak nyata namun menggunakan pihak ketiga untuk menghancurkan negara
sasaran. Strategi proxy war tidak dapat dikenal secara jelas siapa kawan dan
siapa lawan, sebagai upaya pihak asing dengan menggunakan kekuatan di
dalam negeri (non state actors) seperti LSM, Ormas, media massa,
kelompok masyarakat atau perorangan dengan tujuan melemahkan dan
menghancurkan segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara secara
masif dan terus menerus guna menciptakan generasi yang tidak berkualitas
(lost generation).
Guna mengatasi ancaman proxy war, ada beberapa yang menjadi kekuatan
untuk dipedomani dan dilaksanakan oleh seluruh masyarakat dan elemen
bangsa Indonesia yaitu mengamalkan Pancasila, revolusi mental, restorasi
sosial serta persatuan dan kesatuan bangsa. Dengan demikian akan
terbentuk jati diri, kepribadian bangsa Indonesia yang kuat dan berwawasan
kebangsaan. Pada akhirnya, dengan karakter individu yang kuat tersebut,
bangsa Indonesia akan mampu mengeliminir ancaman proxy war di
Indonesia.
Puspen TNI melalui TV Berita Mitra Warga (BMW) memiliki program
unggulan yaitu Pondok Cerdas Warga yang bertujuan menghimpun dan
mengkonsolidasikan keterlibatan masyarakat sebagai subject (pelaku) yang
berperan aktif mendukung ketahanan nasional dalam proxy war.
Menindaklanjuti hal tersebut, maka TNI berkolaborasi dengan seluruh
komponen bangsa, salah satunya adalah peran serta penerbit secara
berkelanjutan dalam mendukung tersedianya beragam konten ilmu
pengetahuan yang berkualitas yang sangat dibutuhkan demi suksesnya
kegiatan pondok cerdas warga.
Perpustakaan digital dalam menyediakan informasi sebagai ilmu
pengetahuan yang berkualitas menjadi acuan riset serta sarana belajar bagi
masyarakat. Dengan tersedianya perpustakaan digital tersebut akan
mendorong masyarakat dalam memperoleh informasi melalui Knowledge
Sharing dari aset-aset pengetahuan yang ada. Selain itu, penerbit dapat
mendistribusikan buku-buku ilmu pengetahuan melalui jejaring perpustakaan
digital, sehingga mudah diakses oleh seluruh masyarakat indonesia.
Berbagai fasilitas dan konten yang tersedia di perpustakaan digital
diharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan serta keahlian,
guna memberi daya tangkal dari pengaruh dan dampak yang ditimbukan
oleh proxy war.

TNI dalam melaksanakan tugas menjaga dan mempertahankan kedaulatan


Negara Kesatuan Republik Indonesia harus berkelaborasi dengan banyak
komponen strategis bangsa seperti Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dan
Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi Indonesia (APPTI). Oleh karenanya
kegiatan ini sangat penting dan bernilai strategis yang patut kita sukseskan
bersama.
Kegiatan ini merupakan realisasi implementasi dari tindak lanjut kesepakatan
kerjasama antara TV Berita Mitra Warga (BMW), IKAPI dan APPTI dengan TNI
yang telah disepakati pada penandatanganan Pakta Pertahanan Proxy War
Media pada tanggal 27 Februari 2016 yang lalu.
Hadir dalam acara tersebut adalah Kepala Dinas Penerangan (Kadispen)
Angkatan, Kepala Penerangan Komando Utama (Kapen Kotama) Angkatan,
CEO BMW Media Group, para anggota Pakta Pertahanan Proxy War Media,
serta Ketua Umum dan para Direktur dari Asosiasi Penerbit Perguruan Tinggi
se-Indonesia dan Ikatan Penerbit se-Indonesia.
http://www.konfrontasi.com/content/nasional/proxy-war-ancaman-nyatabangsa-indonesia

Proxy War, Modus Perang Baru dan Konspirasi Jahat memecah


Persatuan Bangsa di Tengah Keragaman
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/odeabdurrachman/proxy-warmodus-perang-baru-dan-konspirasi-jahat-memecah-persatuan-bangsa-ditengah-keragaman_55f6fc030d977305058b4571
Indonesia sebagai satu-satunya negara kepulauan di dunia yang dikenal
dengan nusantara memiliki potensi sumber daya alam baik di darat maupun
di laut yang melimpah dengan letaknya yang strategis sehingga menjadi
incaran negara-negara atau kekuatan pihak ketiga untuk memanfaatkan
potensi tersebut baik secara positif maupun negatif baik dengan jalan
terselubung maupun invasi terang-terangan. Keragaman budaya dan
kekayaan yang melimpah di seantero nusantara adalah sasaran empuk bagi
para penjajah atau kekuatan lain yang datang dari dalam maupun luar
negara dan menjadi ancaman serius bagi keutuhan bangsa, tidak aneh
kemudian berbagai konspirasi terkadang muncul sebagai skenario perang di
era modern ini. Dalam sejarah perjuangan mencapai kemerdekaan bangsa,
sejak orde lama, hingga orde baru kemudian dilanjutkan dengan era
reformasi hingga kini, Indonesia telah mengalami berbagai perang, seiring
berkembangnya proses dinamika politik, sosial, hukum, ekonomi, bahkan
budaya dari masa ke masa. Dalam perkembangan selanjutnya tentu tidak
terlepas dari gencarnya perkembangan ilmu pengetahuan, berbagai temuan
baru, revolusi industri, ekonomi, teknologi yang berdampak global termasuk
juga perang yang terjadi di berbagai belahan dunia dan memiliki efek kuat
menyasar sendi-sendi kehidupan kebangsaan dan peradaban bangsa.
Peranglah yang secara global turun menyumbang revolusi besar-besaran di
berbagai belahan dunia, baik perang fisik maupun non-fisik sedikit banyak
telah merubah cara pandang dan perilaku manusia yang berevolusi
perlahan, kemudian juga merubah cara berfikir perilaku dan karakter budaya
kehidupan berbagai bangsa terutama negara di Indonesia. Jika perang
konvensional mengandalkan kecanggihan mesin dan teknologi perang yang
cenderung membutuhkan biaya yang tidak sedikit maka kemudian lahir
konsep perang baru yang mengandalkan taktik dan strategi perang yang
dikenal dengan perang proxy. Perang proxy atau proxy war adalah sebuah
konfrontasi antardua kekuatan besar dengan menggunakan pemain
pengganti untuk menghindari konfrontasi secara langsung dengan alasan
mengurangi risiko konflik langsung yang berisiko pada kehancuran fatal. Saat
ini di berbagai belahan dunia sedang terjadi berbagai perang atau konflik
yang memanfaatkan pihak ketiga untuk memainkan skenario dengan modus

perang jenis ini. Setidaknya saat ini berbagai perang yang terjadi di berbagai
belahan dunia sedikit banyak telah mengganggu Instabilitas negara-negara
kawasan, Asia, Afrika, Timur tengah, Asia hingga Indonesia. Perang secara
finansial atau ekonomi juga merupakan skenario perang jenis lain dari bagian
perang proxy, yang melibatkan raksasa bisnis dengan komoditas tertentu
atau investasi besar-besar dan melibatkan berbagai lembaga keuangan
global sebagai dontaur yang juga bisa melemahkan dan menaikan
perekonomian suatu bangsa. Jika kita bisa berkaca, bahwa silih bergantinya
orde kepemimpinan di negara kita adalah tidak terlepas dari proxywar yang
sedang berlangsung. Ambil contoh lepasnya Timor-timur dari Indonesia, di
tahun 1999, konflik bersenjata di Aceh, Papua, Ambon, Poso dan berbagai
konflik horisontal lainnya di daerah adalah bagian dari proxywar yang
dijalankan oleh kalangan tertentu yang mengeruk keuntungan dan
kekuasaan. Tentu ke depan masih banyak modus yang seperti ini yang akan
yang terus bergulir dari masa ke masa di berbagai negara bahkan di negara
kita sendiri. Gencarnya perang proxy ini, tidak dapat dikenali dengan jelas
siapa kawan dan siapa lawan karena musuh mengendalikan nonstate actors
dari jauh. Proxy war telah berlangsung di Indonesia dalam bermacam bentuk,
seperti gerakan separatis dan lain-lain dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Olehnya itu diperlukan langkah prefentif atau pencegahan untuk
menangkal modus perang baru ini dengan menginjeksi pengetahuan dan
keterampilan berupa strategi praktis maupun jangka panjang untuk
membekali berbagai elemen bangsa termasuk pemuda sejalan dengan
kompetensinya masing-masing. Pelibatan kaum cerdik pandai sebagai salah
satu elemen bangsa yang menopang dan mengisi kemerdekaan sesuai
dengan kompetensinya yakni salah satunya mahasiswa membutuhkan
pengetahuan dan keterampilan dasar hingga lanjutan untuk bergerak aktif
guna menangkal efek yang ditimbulakan oleh perang proxy ini. Lebih luas
lagi bahwa dengan injeksi keilmuan dan keterampilan sebagaimana
kompetensinya sehingga dampak perang proxy tidak saja bisa menangkal
secara individu tapi lebih luas kepada keutuhan bangsa dan menjamin tetap
berdiri dan tegaknya NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. Resimen
mahasiswa sebagai bagian dari elemen bangsa yang memiliki kompetensi
bela negara yang dibekali pengetahuan dan keterampilan khususnya sebagai
pejuang pemikir dan pemikir pejuang memaksimalkan perannya telah
membagun dan mengembangkan paradigma berfikir global di tengah
ancaman berupa modus perang baru (proxy war) dalam menangkal segala
bentuk ancaman gangguan maupun halangan yang merongrong keutuhan
bangsa dan negara. Untuk menyebar kelimuan ini dibutuhakn sinergitas
seluruh elemen bangsa sesuai kompetensi masing-masing, baik gerakan

pemuda, institusi pendidikan, mahasiswa, pemerintah maupun non


pemerintah (NGO) untuk terlibat dan berperan aktif mengantisipasi dampak
yang akan ditimbulkan oleh proxywar lebih jauh lagi. Olehnya itu berbagai
kajian, seminar, workshop yang digelar merupakan tindaklanjut prefentif
guna menyebar secara luas dampak proxy war di masyarakat i akan terus
digalakkan dari masa ke masa, untuk membangun sensitifvitas kebangsaan
dan nasionalisme di kalangan mahasiswa yang melibatkan berbagai pihak.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/odeabdurrachman/proxy-warmodus-perang-baru-dan-konspirasi-jahat-memecah-persatuan-bangsa-ditengah-keragaman_55f6fc030d977305058b4571

Sun Tzu, ahli perang legendaris, mengatakan untuk memenangkan sebuah


pertempuran maka kita harus mengenal siapa musuh kita dan mengenal diri
kita sendiri. Dewasa ini, proses mengenal musuh kita menjadi sangat sulit.
Apa pasal? Karena dua pihak yang bermusuhan tidak benar-benar saling
berhadapan. Satu pihak bisa memakai pihak ketiga untuk berperang
melawan musuhnya. Perang jenis ini disebut dengan Perang Proxy atau Proxy
War. Dan jenis perang inilah saat ini yang mengancam Indonesia. Ada pihakpihak yang berusaha memerangi Indonesia menggunakan pihak ketiga.
Cara ini beda tipis dengan startegi devide et impera yang dulu digunakan
Belanda saat menjajah Indonesia. Dampaknya hampir sama, Indonesia
menjadi lemah dan akhirnya mudah dikuasai. Motifnya juga hampir sama
seperti di masa kolonial, ya ekonomi (penguasaan sumber daya alam)
Australia lancarkan proxy war terhadap Indonesia Ada banyak contoh bahwa
perang proxy sedang dilancarkan terhadap Indonesia. Beberapa di antaranya
dikemukakan oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Gatot
Nurmantyo. Dalam sebuah acara di Universitas Dipenogoro, Jenderal Gatot
mengkonfirmasi bahwa saat ini Indonesia sedang menghadapi proxy war.
Contoh yang paling jelas dari proxy war adalah lepasnya Timor Timur dari
Indonesia (tahun 1999). Ada apa di balik upaya melepaskan Timor Timur dari
Indonesia? Ternyata ada yang menginginkan ladang minyak Greater Sunrise
di Celah Timur. Sebuah buku tentang isu itu ditulis oleh orang Australia yang
menjadi penasihat (mantan Presiden Timor Leste dan mantan pemimpin
pemberontak Fretilin) Xanana Gusmao, kata Gatot seperti dilansir oleh
thejakartapost.com. Untuk diketahui, kini ladang minyak Greater Sunrise
dikuasai oleh perusahaan migas asal Australia, Woodside Petroleum. Jadi
jelas ya kalau merujuk pada pemaknaan proxy war, musuh kita adalah
Australia dan ia menggunakan pihak ketiga, yaitu Fretilin untuk memerangi

Indonesia. Australia mana berani bertindak sendiri kan, dia pasti menadapat
restu dari Amerika Serikat (AS) dan Inggris. AS dan Inggris sendiri sudah
bukan rahasia umum sering menggunakan PBB sebagai alat pembenaran
melancarkan strategi politik luar negerinya. Seperti kita ketahui PBB
membentuk UNAMET untuk melaksanakan referendum di Timor Timur kala
itu yang berujung pada terusirnya Indonesia dari Timur Timor. Jadi, jelas ya
siapa musuh kita! Proxy war memperebutkan penguasaan bisnis kelapa sawit
Baiklah, Timorleste sudah lepas dari Indonesia, tidak perlu dipermasalahkan
lagi. Namun demikian, sebagai sebuah bangsa yang berdaulat, kita mesti
belajar dari pengalaman agar tidak lagi melakukan kesalahan yang sama.
Menurut Jenderal Gatot indikasi-indikasi lainnya dari proxy war yang mesti
diwaspadai contohnya serangkaian demonstrasi besar yang menentang 20
perusahaan kelapa sawit milik Indonesia di Sumatera pada tahun 2013.
Ujung-ujungnya, banyak perusahaan kelapa sawit lalu ditutup (akibat demo
itu), lalu dijual kepada pihak asing. Anehnya, demonstrasi tiba-tiba saja
berhenti setelah perusahaan-perusahaan itu dikuasai pihak asing, kata
Gatot. Proxy war juga menyasar anak muda Lebih lanjut Jenderal Gatot juga
mencurigai saat ini sedang dilancarkanm proxy war dengan target generasi
muda. Ia menyebutkan sekitar 21 kasus kampus-kampus di berbagai
universitas yang dirusak oleh mahasiswanya sendiri dalam tiga tahun
terakhir. Cara lain menarget generasi muda adalah dengan narkoba. Menurut
Gatot, peredaran narkoba di kalangan generasi muda adalah bentuk proxy
war dengan tujuan melemahkan generasi muda. Waduh, seperti Perang
Candu yang dulu dilancarkan Inggris untuk melemahkan generasi muda
China (HongKong) di jaman kolonial. Melawan proxy war Proxy war harus
dilawan. Tidak ada pilihan lain. Kita tentu tidak mau dibodoh-bodohi dan
ditipu terus sama pihak asing. Tidak bisa tidak, seluruh elemen bangsa,
terutama generasi muda, harus pintar dan selalu berpikir logis, memiliki
kesadaran akan bahaya yang mengancam. Cukup sudah nenek moyang kita
dulu yang diadu domba oleh pihak asing! Pendidikan menjadi kunci.
Kecintaan terhadap bangsa dan negara juga mesti terus dipupuk. Seperti
kata Sun Tzu, kita harus mengenali musuh kita. Terlebih lagi kita juga harus
mengenal diri kita sendiri. Dan itu hanya bisa dilakukan jika kita terdidik.
Musuh memang sulit ditundukkan dengan berbagai strategi konspirasi super
liciknya. Namun, bukan berarti kita tidak mampu melawannya. Pintarlah dan
bersatulah!
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/muhammadaqila/proxy-warmengancam-indonesia_55300c976ea83424138b45a3

PONTIANAK, KOMPAS.com
- Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menyatakan, perang tanpa
bentuk atau "proxy war" saat ini mengancam Indonesia, sehingga semua
pihak harus bersatu dalam mencegah dan melawannya.
"Perang tanpa bentuk mengancam Indonesia, karena negara-negara luar
berlomba-lomba ingin menguasai Indonesia karena kaya akan SDA (sumber
daya alam)," kata Gatot saat menyampaikan orasi ilmiahnya pada Dies
Natalis ke-57 Untan Pontianak, Kamis (19/5/2016), seperti dikutip Antara.
Dia mengatakan, dalam "proxy war" tidak bisa dilihat siapa lawan dan
kawan, tetapi perang tersebut dikendalikan oleh negara lain.
Ia menjelaskan, perang tanpa bentuk tersebut sudah terbukti, dengan kasus
lepasnya Timor-Timur dari NKRI. Timor-Timur diperebutkan oleh negara lain,
karena di sana ada kekayaan SDA berupa "greater sunrise" yang letaknya
antara Indonesia dan Timor-Timur.

Menurut dia, ada beberapa cara dalam mengatasinya, yakni modal NKRI
yang mempunyai geografi daratan dan lautan yang kaya akan SDA agar
dikelola dengan baik dan bermanfaat.
"Kemudian kita punya demografi, yakni kearifan lokal, yang juga harus
dibarengi dengan revolusi mental, Pancasila sebagai pedoman hidup, serta
dibutuhkan peran civitas dan akademika, serta mahasiswa dalam
mencegahnya perang tanpa bentuk tersebut," kata Gatot.
Gatot mengatakan, solusi dalam mencegah perang tanpa bentuk, yakni
Indonesia harus menjadi negara agraris, negara maritim, dan negara
industri.
Harapannya, kekayaan SDA tidak dijual dalam bentuk mentah ke luar, tetapi
sudah dalam bentuk jadinya.
Indonesia juga harus didukung oleh para pemuda yang menjadi agen
perubahan dan pemersatu bangsa.
Menurut Gatot, saat ini sekitar 70 persen konflik yang ada di dunia adalah
latar belakang energi minyak, yang diprediksi juga akan habis.
Selain itu, dengan strategisnya wilayah NKRI juga pemicu rawan konflik,
karena akan diperebutkan oleh negara-negara lain, seperti konflik atau
perang dalam perebutan pangan, air, dan energi yang itu semuanya ada di
Indonesia.
Gatot mengutif pernyataan Soekarno, yakni kekayaan alam Indonesia suatu
hari nanti akan membuat iri negara-negara di dunia.
Selain itu, pernyataan Presiden Joko Widodo, yakni kaya akan sumber daya
alam justru dapat menjadi petaka kita.
"Kalau mulai sekarang kita tidak berhati-hati dan bersatu maka tunggu
ancamannya, sehingga mari kita bersatu dalam mencegah perang agar tidak
lagi mengancam Indonesia," katanya.

Proxy War Jilid 1


Prediksi beberapa pengamat politik yang pesimis, bahwa Pemilu di Indonesia
tahun 2014 akan gagal dan berakhir dengan chaos, desintegrasi NKRI
menjadi beberapa negara kecil pada tahun 2015, sampai sekarang tidak
terbukti, walau iklim politik di Indonesia masih belum kondusif bagi
kelancaran roda pemerintahan Jokowi-JK yang menang Pemilu 2014.
Walau Koalisi Indonesia Hebat pendukung Jokowi-JK sudah berdamai dengan
Koalisi Merah Putih penduklung Prabowo-Hatta Rajasa di DPR RI, tapi iklim
konfrontasi di DPRD Provinsi masih belum selesai. Demikian juga Presiden
Jokowi lewat Sekab Andy Wijayanto telah mengeluarkan perintah kepada

para menteri dan pejabat setingkat menteri, agar menunda rapat kerja
dengan pihak DPR RI sampai kondisi DPR RI solid dan kondusif.
Demikian juga pihak DPR RI sudah melakukan upaya awal untuk mengajukan
interpelasi pada pemerintahan Jokowi- JK atas penaikan BBM, yang banyak
didemo masyarakat luas, juga dikritik secara keras dan tajam oleh Kwik Kian
Gie, tokoh Senior PDIP yang juga tidak setuju kebijakan penaikan harga BBM
sekarang ini, membuat iklim politik menjadi memanas lagi
Para pengamat politik dan pakar strategi Global, mengindikasikan bahwa
semua gonjang ganjing iklim politik di Indonesia adalah akibat dari
SERANGAN PROXY WAR DARI NEGARA ADIKUASA DI DUNIA INI, YANG INGIN
MENGUASAI INDONESIA TANPA MELAKUKAN INVASI ATAU PERANG
KONVENSIONAL SEPERTI INVASI KE IRAK DAN NEGARA TIMUR TENGAH
LAINNYA
Apakah deteksi dari para pengamat politik dan pakar ilmu strategy global
negara adikuasa di dunia ini sebuah fakta nyata ataukah hanya sebuah ilusi
dan paranoid, marilah kita dengar dan kaji dengan cermat hasil diskusi
akademis yang dikeluarkan oleh :
1. Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, 10 Maret 2014:
Proxy War dapat dilakukan pihak asing terhadap Indonesia dalam bentuk:
Menjadikan Indonesia sebagai pasar produk pihak asing. Menghambat
pembangunan dan pengembangan kwalitas Sumber Daya Manusia Indonesia
agar kalah bersaing dalam era Pasar Bebas Dunia. Merekrut generasi muda
Indonesia dengan indoktrinasi disertai fasilitas pendidikan dan materi, agar
mau jadi agen negara asing, agar kalau mereka jadi pemimpin bangsa
Indonesia dikemudian hari, akan bisa dikendalikan oleh pemerintah negara
asing tersebut.
Negara asing akan melakukan investasi besar besaran di bidang industri
strategis, agar menguasai sektor industri strategis di Indonesia (Migas,
Pertambangan, Listrik, Komunikasi, Satelit, Alat Utama Sistem Senjata Militer
RI, Saham Bluechip, dll).
Pihak asing berusaha menciptakan Pakta Pasar Bebas Regional dan Dunia,
agar produk lokal Indonesia menjadi tertekan dan hancur. Melakukan
penetrasi, penyusupan, suap, kolusi dengan pihak anggota legislatif
Indonesia, agar produk hukum strategisnya akan menguntungkan pihak
asing.

Menciptakan kelompok teroris di Indonesia, agar dengan dalih untuk


memerangi Terorisme dunia, pihak asing dapat leluasa melakukan intimidasi
dan campur tangan masuk ke Indonesia dengan dalih untuk menghancurkan
terosrisme dunia.
Membeli dan menguasai media massa, baik cetak maupun elektronik, untuk
membentuk opini publik yang menguntungkan pihak asing. Menguasai
industri teknology komunikasi tingkat tinggi, seperti satelit komunikasi dan
sateli mata mata, agar dapat menyadap dan memonitor seluruh percakapan
pejabat penting Indonesia, juga lokasi kekuatan militer Indonesia, serta
kekayaan tambang Indonesia.
Memecah belah dan mengahancurkan generasi muda Indonesia dengan
Narkoba, pergaulan seks bebas, budaya konsumtif, bermalas malasan..
2. Universitas Brawijaya, memberikan hasil diskusi tentang Proxy
War di Indonesia, hampir sama dengan hasil dari Universitas
Indonesia.
3.Hasil Diskusi ilmiah Institut Teknology Bandung, juga hampir
sama.
4. Hasil diskusi ilmiah dari Lembaga Ketahanan Nasional jakarta, 19
Juni 2014, juga hampir sama.
Kesimpulannya, menurut KASAD Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, dalam
bukunya yang berjudul: PERAN PEMUDA DALAM MENGHADAPI PROXY WAR,
Proxy War adalah sebuah konfrontasi antara dua negara yang menggunakan
Peran Pengganti/boneka/antek antek, dalam berkonfrontasi dan
memenangkan konfrontasi, agar tidak berkonfrontasi secara frontal, terbuka
dan berisiko kehancuran yang fatal,
Biasanya pihak yang dijadikan boneka/antek dalam Proxy War, adalah LSM,
Ormas, Kelompok Masyarakat ataupun tokoh masyarakat perorangan, yang
eksis dinegara sasaran, yang memiliki kemampuan dan jaringan luas dan
pengaruh kuat dikalangan masyarakat negara sasarantapi mereka bisa
dibeli dan mau menghianati bangsanya untuk mendapatkan kekuasaan,
jabatan dan kekayaan dari pihak negara penyerang.
Melalui Proxy War ini, tidak dapat dikenal dengan jelas siapa lawan dan siapa
kawan, karena negara penyerang mengendalikan Boneka/Non State Actors
ini dari luar negeri. Negara penyerang akan membiayai semua dana operasi

dan imbalan bagi para non state actors ini, dengan syarat mereka mau
melakukan semua keinginan penyandang dana Proxy War ini.
Apakah indikasi bahwa Proxy War telah terjadi di Indonesia?tunggu posting
edisi ke2 Serial Proxy War.
NB:buah tangan Tirtaamijaya.
Salaam NKRI
*Dikirim oleh: adinn odzjie
http://jakartagreater.com/proxy-war-jilid-1/

Proxy War Jilid 2

Saya lanjutkan tulisan saya tentang Proxy War yang belakangan ini menjadi
populer di kalangan dunia kampus di Indonesia, setelah Kepala Staf TNI AD,

Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan Kuliah Umum di beberapa kampus


Universitas di Indonesia yang berjudul PERAN PEMUDA DALAM MENGHADAPI
PROXY WARdalam rangka menyelamatkan Pancasila, UUD 1945, Keutuhan
NKRI dan Bhineka Tunggal Ika
Pembaca blog yang tercinta, sebagai purnawirawan TNI AD, yang memiliki
semboyan OLD SOLDIER NEVER DIE, ONLY FADE AWAY, saya terpanggil
untuk ikut menyumbang informasi, pendapat, pikiran dari saya pribadi dan
Keluarga Besar TNI AD, termasuk di dalamnya Organisasi PERSATUAN
PURNAWIRAWAN TNI AD, menulis lewat social media/website milik saya
www.tirtaamijaya.com yang sudah eksis sejak bulan Juli 2007, yang sekarang
ini masih rajin dikunjungi para pecinta website saya, dengan mendapat
kunjungan rata rata 2000 (Dua ribu) view perhari
Saya akan posting tulisan yang bersumber dari Visi dan Misi asli diri pribadi
saya sendiri, berdasarkan pengalaman sebagai seorang prajurit pejuang
yang mengabdi tanpa cacat selama sekitar 33 tahun di lingkungan Corps
Polisi Militer TNI AD ditambah dengan berbagai referensi ilmiah, baik dari
produk pribadi KASAD sekarang, maupun produk Persatuan Purnawirawan
TNI AD, yang sudah sejak tahun 2011 aktif berusaha keras menyelamatkan
keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan Bhineka Tunggal Ika
tapi belum berhasil
Produk tertulis dari PPAD yang berjudul AJAKAN PPAD KONSOLIDASI
KEINDONESIAAN, terdiri dari 3 buah buku, Buku 1, Buku-2 dan Buku-3.
Buku 3 diterbitkan pada April 2014, beredar di kalangan terbatas. Sayang
sekali sulit ditemukan di Gramedia, padahal menurut penilaian saya pribadi,
ketiga buku ini telah ditulis secara ilmiah, obyektif dan sangat penting dibaca
dan dipahami isinya oleh seluruh rakyat Indonesia yang masih mencinai
keutuhan NKRI yang berdasar Pancasila. UUD 1945 dan Bhineka Tunggal
Ika
Dalam buku yang berjudul AJAKAN PPAD KONSOLIDASI KEINDONESIAAN,
dengan sangat ilmiah dan jelas, disampaikan bahwa Proxy War telah
dilakukan oleh negara Adi Kuasa, sponsor Faham Demokrasi Liberal, pada
tahun 1999-2004, melakukan Proxy War dengan versi Legal War, berhasil
melakukan PERUBAHAN UUD 1945, Konstitusi NKRI dengan memperalat
anggota DPR dan MPR RI, merubah beberapa pasal dalam UUD 1945, untuk
membuka peluang Liberalisasi Penguasaan SDA di Indonesia secara masif
dan sistemik oleh negara Adi Kuasa.

Dokumen di BIN, mencatat bahwa pembuatan amandemen UUD 1945, justru


dikerjakan oleg agen negara asing yang secara aktif, menyusup dan bekerja
dikantor DPR RI !
Ini terjadi dimasa Orde Reformasi, tahun 1999-2004!
Oleh: BN:tirtaamijaya
http://jakartagreater.com/proxy-war-di-indonesia-jilid-2/

Anda mungkin juga menyukai