Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1

Latar Belakang
Farmasi

merupakan

ilmu

yang

mempelajari

cara

membuat,

mencampur, meracik, mengformulasi, mengidentifikasi, mengkombinasi,


menganalisis, serta menstandarkan obat dan pengobatan juga sifat-sifat
obat beserta pendistribusian dan penggunaannya secara aman. Sifat-sifat
obat yang perlu diperhatikan salah satunya adalah sefat fisika obat. Sifat
fisika obat ini dikaji dalam bidang farmasi yang dikenal sebagai ilmu
farmasi fisika.
Dalam farmasi fisika menerapakan bagaimana cara membuat suatu
sediaan dari berbagai macam zat atau senyawa yang tentunya memiliki
sifat fisik yang berbeda. Dengan mempelajari farmasi fisika akan
menghasilkan sediaan yang sesuai standar, aman dan stabil yang nantinya
akan diberikan langsung kepada pasien. Untuk membuat suatu sediaan
farmasi, yang paling penting dalam pembuatannya yaitu dengan
memperhatikan bagaimana proses pelepasan obat dalam tubuh. Proses
pelepasan obat dalam tubuh merupakan proses yang disebut dengan
disolusi obat.
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari
bentuk sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarutan suatu zat aktif
sangat penting artinya karena ketersediaan suatu obat sangat tergantung
dari kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum
diserap ke dalam tubuh. Obat yang telah memenuhi persyaratan baik dari
waktu hancur, keregasan, keseragaman bobot, dan penetapan kadar, belum
dapat menjamin bahwa suatu obat memenuhi efek terapi. Karena itu uji
disolusi harus dilakukan pada setiap produksi tablet atau kapsul.
Efektivitas sediaan dalam melepas zat aktifnya ke dalam sistem
absorpsi sangat bergantung pada kecepatan disolusi. Sediaan tablet
termasuk dalam persyaratan uji disolusi yaitu untuk mengetahui seberapa
banyak persentase zat aktif dalam obat yang terlarut dan terabsorbsi ke
1

dalam peredaran darah untuk memberikan efek terapi. Disolusi


menggambarkan efek obat terhadap tubuh, jika disolusi memenuhi syarat
maka diharapkan obat akan memberikan khasiat pada tubuh.
Oleh sebab itu, mengingat pentingnya disolusi obat dalam bidang
farmasi maka pada percobaan kali ini dilakukan uji disolusi menggunakan
metode titrasi dengan zat aktif asam salisilat.
I.2

Maksud dan Tujuan Praktikum

1.2.1 Maksud percobaan


Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami cara-cara penentuan
kecepatan disolusi suatu zat dengan menggunakan metode tertentu
1.2.2 Tujuan percobaan
1. Mahasiswa mampu menentukan kecepatan disolusi suatu zat
2. Mahasiswa mampu menggunakan alat penentu kecepatan disolusi
3. Mahasiswa mampu menerangkan factor-faktor yang mempengaruhi
I.3

kecepatan disolusi suatu zat


Prinsip Percobaan
Penentuan disolusi dari zat aktif asam salisilat pada suhu kamar 37oC
dengan kecepatan pengadukan 50 rpm dan 100 rpm dengan cara penentuan
menggunakan metode titrasi dengan larutan baku NaOH 0,1 N yang
ditandai dengan perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah
muda dengan bantuan indikator fenoftalen.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1

Dasar Teori

II.1.2 Definisi Disolusi Obat


Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk
sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat
penting artinya karena ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari
kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat
aktif sangat penting artinya karena ketersediaan suatu obat sangat
tergantung dari kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut
sebelum diserap ke dalam tubuh. Sediaan obat yang harus diuji disolusinya
adalah bentuk padat atau semi padat yaitu bentuk tablet, kapsul dan salep
(Martin,1993)
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larut dalam
cairan pada tempat absorpsi. Dalam hal ini dimana kelarutan suatu obat
tergantung dari apakah medium asam atau medium basa, obat tersebut
akan dilarutkan berturut-turut dalam lambung dan dalam usus halus.
Proses melarutnya suatu obat disebut disolusi (Ansel, 1989).
Jika proses disolusi untuk suatu partikel obat tertentu adalah cepat
atau jika obat diberikan sebagai suatu larutan dan tetap ada dalam tubuh
seperti itu, laju obat yang terabsorbsi terutama akan tergantung pada
kesanggunpannya menembeus pembatas membrane. Tetapi, jika disolusi
untuk suatu partikel obat lambat, misalnya mungkin karena karakteristik
zat obat atau bentuk dosis yang diberikan, proses disolusinya sendiri akan
merupakan tahap yang menentukan laju dalam proses absorbsi (Ansel,
1989).
Disolusi adalah suatu jenis khusu dari suatu reaksi heterogen yang
menghasilkan transfer massa karena adanya pelepasan dan pemidahan
menyeluruh ke pelarut dari permukaan padat. Di dalam pembahasan untuk
memahami mekanisme disolusi, kadang-kadang digunakan salah satu

model atau gabungan dari beberapa model antara lain (Underwood dan
Day, 1981):
1.

Model Lapisan Difusi (Diffusion Layer Model)


Model ini pertama kali diusulkan oleh Nerst dan Brunner. Pada
permukaan padat terdapat satu lapisan tipis cairan dengan ketebalan ,
merupakan

komponen

kecepatan

negatif

dengan

arah

yang

berlawanan dengan permukaan padat. Reaksi pada permukaan padat


cair berlangsung cepat. Begitu model solut melewati antar
muka liquid film bulk film, pencampuran secara cepat akan terjadi
dan gradien konsentrasi akan hilang. Karena itu kecepatan disolusi
2.

ditentukan oleh difusi gerakan Brown dari molekul dalam liquid film.
Model Barrier Antar Muka (Interfacial Barrier Model)
Model ini menggambarkan reaksi yang terjadi pada permukaan
padat dan dalam hal ini terjadi difusi sepanjang lapisan tipis cairan.
Sebagai hasilnya, tidak dianggap adanya kesetimbangan padatan
larutan, dan hal ini harus dijadikan pegangan dalam membahas model
ini. Proses pada antar muka padat cair sekarang menjadi pembatas
kecepatan ditinjau dari proses transpor. Transpor yang relatif cepat

3.

terjadi secara difusi melewati lapisan tipis statis (stagnant).


Model Dankwert (Dankwert Model)
Model ini beranggapan bahwa transpor solut menjauhi permukaan
padat terjadi melalui cara paket makroskopik pelarut mencapai antar
muka cair karena terjadi pusaran difusi secara acak. Paket pelarut
terlihat pada permukaan padatan. Selama berada pada antar muka,
paket mampu mengabsorpsi solut menurut hukum difusi biasa, dan
kemudian digantikan oleh paket pelarut segar. Jika dianggap reaksi
pada permukaan padat terjadi segera, prosex pembaharuan permukaan
tersebut terkait dengan kecepatan transpor solut ataudengan kata lain
disolusi.

II.2.2 Metode Penentuan Kecepatan Disolusi


Penentuan kecepatan pelarutan suatu zat dapat dilakukan dengan
metode (Effendi, 2005) :
4

1.

Metoda Suspensi
Serbuk zat padat

ditambahkan

ke

dalan

pelarut

tanpa

pengontrolan eksak terhadap luas permukaan partikelnya. Sampel


diambil pada waktu-waktu tertentu dan jumlah zat yang larut
2.

ditentukan dengan cara yang sesuai.


Metoda Permukaan Konstan
Zat ditempatkan dalan suatu wadah yang diketahui luasnya
sehingga variable perbedaan luas permukaan efektif dapat diabaikan.
Penentuan denga metoda suspensi dapat dilakukan dengan alat uji
disolusi tipe dayung seperti yang terccantum di USP. Sedangkan untuk
metoda permukaan tetap digunakan alat seperti diusulkan oleh
Simonelli dkk.

II.2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Disokusi


Menurut Martin (1993), faktor yang mempengaruhi disolusi sebagai
berikut:
1.

Suhu
Suhu akan mempengaruhi kecepatan melarut zat. Perbedaan
sejauh lima persen akan disebabkan oleh adanya perbedaan suhu satu

2.

derajat.
Medium
Medium yang paling aman adalah air, buffer dan 0,1 N HCl.
Dalam beberapa hal zat tidak larut dalam larutan air, maka zat organik
yang dapat merubah sifat ini atau surfaktan digunakan untuk
menambah kelarutan zat di dalam medium bukan merupakan faktor
penentu dalam poses disolusi. Untuk mencapai keadaan sink maka
perbandingan zat aktif dalam volume medium harus dijaga tetap pada
kadar 3-10 kali lebih besar daripada jumlah yang diperlukan bagi
satuan larutan jenuh. Masalah yang mungkin mengganggu adalah
adanya gas dari medium sebelum digunakan gelembung udara yang
terjadi dalam medium karena suhu naik dapat mengganggu zat,

3.

sehingga dapat menaikkan kecepatan melarutnya.


Kecepatan Perputaran
Kenaikan dalam pengadukan akan mempercepat kelarutan.
Umumnya kecepatan pengadukan 50 rpm atau 100 rpm. Perputaran di
5

atas 100 rpm tidak menghasilkan data yang dapat dipakai untuk
membeda- bedakan hasil kecepatan melarut. Bilamana ternyata bahwa
kecepatan pengadukan perlu lebih dari 100 rpm maka lebih baik untuk
mengubah medium daripada menaikkan rpm. Walaupun 4%
4.

penyimpangan masih diperbolehkan, sebaiknya dihindarkan.


Ketepatan Letak Vertikal Poros
Disini termasuk tegak lurusnya poros perputaran dayung atau
wadah, tinggi dan ketepatan posisi dayung atau wadah yang harus
sentris. Letak yang kurang sentral dapat menimbulkan hasil yang
tinggi, karena hal ini akan mengakibatkan pengadukan yang lebih

5.

hebat di dalam wadah.


Goyangnya Poros
Goyangnya poros dapat mengakibatkan hasil yang lebih tinggi
karena dapat menimbulkan pengadukan yang lebih besar di dalam
medium. Sebaiknya digunakan poros dan bagian yang sama dalam
posisi sama bagi setiap percobaan karena masalah yang timbul karena

6.

adanya poros yang goyang akan dapat lebih mudah dideteksi.


Vibrasi
Bilamana vibrasi timbul, hasil yang diperoleh akan lebih tinggi.
Hampir semua masalah vibrasi berasal dari poros motor, pemanas
penangas air atau adanya penyebab dari luar. Alas dari busa mungkin
dapat membantu, tetapi kita harus hati- hati akibatnya yaitu letak dan

7.

keseluruhan harus dicek.


Gangguan Pola Aliran
Setiap hal yang mempengaruhi pola aliran di dalam bejana
disolusi dapat mengakibatkan hasil disolusi yang tinggi. Alat
pengambil aplikan serta adanya filter pada ujung pipet selama

percobaan berlangsung dapat menjadi penyebabnya.


II.2.4 Faktor Lain yang Mempengaruhi
Faktor lain yang mempengaruhi kecepatan disolusi suatu obat dari
sediaan dikelompokkan menjadi (Martin, 1993):
1. Faktor terkait pada sifat fisika kimia obat
a. Factor yang mempengaruhi kelarutan
1) Polimorfisme
2) Keadaan amorf
6

3)
4)
5)
6)

Asam bebas, basa bebas, bentuk garam


Pembentukan kompleks, larutan padat
Ukuran partikel
Surfaktan

b. Faktor yang mempengaruhi luas permukaan (tersedia) untuk


disolusi
1) Ukuran partikel
2) Variabel manufakturing
2. Faktor terkait pada formulasi obat
3. Faktor terkait dengan bentuk sediaan
4. Faktor terkait pada obat uji disolusi
5. Faktor terkait pada parameter pengujian disolusi
II.2.5 Rumus-Rumus Persamaan Kecepatan Disolusi

Gambar Alat Uji Disolusi


Kecepatan disolusi merupakan kecepatan zat aktif larut dari suatu
bentuk sediaan utuh/ pecahan/ partikel yang berasal dari bentuk sediaan itu
sendiri. Kecepatan disolusi zat aktif dari keadaan polar atau dari
sediaannya didefinisikan sebagai jumlah zat aktif yang terdisolusi per unit
waktu di bawah kondisi antar permukaan padat-cair, suhu dan kompisisi
media yang dibakukan. Kecepatan pelarutan memberikan informasi
tentang

profil

proses

pelarutan

persatuan

waktu.

Hukum

yang

mendasarinya telah ditemukan oleh Noyes dan Whitney sejak tahun 1897
dan diformulasikan secara matematik sebagai berikut (Shargel, 1988) :
dc / dt = kecepatan pelarutan ( perubahan konsentrasi per satuan waktu )
Cs
Ct

= kelarutan (konsentrasi jenuh bahan dalam bahan pelarut )


= konsentrasi bahan dalam larutan untuk waktu t
7

= konstanta yang membandingkan koefisien difusi, voume


larutan jenuh dan tebal lapisan difusi
Dari persamaan di atas dinyatakan bahwa tetapnya luas permukaan

dan konstannya suhu, menyebabkan kecepatan pelarutan tergantung dari


gradien konsentasi antara konsentrasi jenuh dengan konsentrasi pada
waktu (Shargel, 1988).
Pada peristiwa melarut sebuah zat padat disekelilingnya terbentuk
lapisan tipis larutan jenuhnya, darinya berlangsung suatu difusi suatu ke
dalam bagian sisa dari larutan di sekelilingnya. Untuk peristiwa melarut di
bawah pengamatan kelambatan difusi ini dapat menjadi persamaan dengan
menggunakan hukum difusi. Dengan mensubtitusikan hukum difusi
pertama Ficks ke dalam persamaan Hernsi Brunner dan Bogoski, dapat
memberikan kemungkinan perbaikan kecepatan pelarutan secara konkret.
Kecepatan pelarutan berbanding lurus dengan luas permukaan bahan
padat, koefisien difusi, serta berbanding lurus dengan turunnya konsentrasi
pada waktu t. Kecepatan pelarutan ini juga berbanding terbalik dengan
tebal lapisan difusi. Pelepasan zat aktif dari suatu produk obat sangat
dipengaruhi oleh sifat fisikokimia zat aktif dan bentuk sediaan.
Ketersediaan zat aktif ditetapkan oleh kecepatan pelepasan zat aktif dari
bentuk sediaan, dimana pelepasan zat aktif ditentukan oleh kecepatan
melarutnya dalam media sekelilingnya (Tjay, 2002).
Lapisan difusi adalah lapisan molekul-molekul air yang tidak bergerak
oleh adanya kekuatan adhesi dengan lapisan padatan. Lapisan ini juga
dikenal sebagai lapisan yang tidak teraduk atau lapisan stagnasi. Tebal
lapisan ini bervariasi dan sulit untuk ditentukan, namun umumnya 0,005
cm (50 mikron) atau kurang (Tjay, 2002).
Hal-hal dalam persamaan Noyes Whitney yang mempengaruhi
kecepatan melarut (Ansel, 1989) :
1)
2)
3)
4)

Kenaikan dalam harga A menyebabkan naiknya kecepatan melarut


Kenaikan dalam harga D menyebabkan naiknya kecepatan melarut
Kenaikan dalam harga Cs menyebabkan naiknya kecepatan melarut
Kenaikan dalam harga Ct menyebabkan naiknya kecepatan melarut
8

5) Kenaikan dalam harga d menyebabkan naiknya kecepatan melarut


Hal-hal lainnya yang juga dapat mempengaruhi kecepatan melarut
adalah (Ansel, 1989) :
a.
b.

Naiknya temperatur menyebabkan naiknya Cs dan D


Ionisasi obat (menjadi spesies yang lebih polar) karena perubahan pH
akan menaikkan nilai Cs
Disolusi dari suatu partikel obat dikontrol oleh beberapa sifat fisika-

kimia, termasuk bentuk kimia, kebiasaan kristal, ukuran partikel,


kelarutan, luas permukaan, dan sifat-sifat pembasahan. Bila data kelarutan
kesetimbangan dirangkaikan, maka eksperimen disolusi dapat membantu
mengidentifikasi daerah masalah bioavailabilitas potensial (Lachman,
1994).
II.2

Uraian Bahan

II.2.1 Alkohol (Dirjen POM, 1979)


Nama resmi

: AETHANOLUM

Nama lain

: Alkohol, Etanol, Etil alkohol

RM/BM

: C2H5OH / 46,07

Rumus Struktur

Pemerian

: Cairan tidak berwarna, jernih, mudah


menguap dan mudah bergerak; bau khas ; rasa .
Mudah terbakar dengan memberikan nyala biru
yang tidak berasap.

Kelarutan

: Sangat mudah larut dalam air, dalam


kloroform P dan eter P

Kegunaan

: Membunuh bakteri pada sampel

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari


cahaya, di tempat sejuk, jauh dari nyala api
9

10

II.2.2 Aquadest (Dirjen POM, 1979)


Nama resmi

: AQUA DESTILATA

Nama lain

: Air suling

RM / BM

: H2O / 18,02

Rumus Struktur

Pemerian

: Cairan jernih, tidak berbau, tidak berasa

H-O-H

dan tidak berwarna.


Kegunaan

: Sebagai pelarut.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik.

II.2.3 Asam Salisilat (Dirjen POM, 1979)


Nama resmi

: ACIDUM SALICYLICUM

Nama lain

: Asam Salisilat

RM / BM

: C7H6O3 / 138,12

Rumus Struktur

Pemerian

: Hablur ringan hingga tidak berwarna atau serbuk


berwarna putih ; hampir tidak berbau ; rasa agak
manis dan tajam.

Kelarutan

: Larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian


etanol (95 %) P ; mudah larut dalam kloroform P
dan dalam eter P ; larut dalam larutan ammonium
asetat P, dinatrium hidrogenfosfat P, kalium sitrat
P dan natrium sitrat P.
10

11

Kegunaan

: Keratolitikum, anti fungi.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik.

II.2.4 Fenolftalein (Dirjen POM, 1979)


Nama resmi

: FENOLFTALEIN

Nama lain

: Fenolftalein, Indikator PP

RM / BM

: C20H14O4 / 318,33

Rumus Struktur

Pemerian

: Serbuk hablur putih atau putih kekuningan lemah,


tidak berbau, stabil diudara.

Kelarutan

: Praktis tidak larut dalam air, larut dalam etanol (95


%) P

Kegunaan

: Zat tambahan, Indikator.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik.

II.2.5 NaOH (Dirjen POM, 1979)


Nama resmi

: NATRII HYDROXYDUM

Nama lain

: Natrium Hidroksida

RM / BM

: NaOH / 40,00

Rumus Struktur

: Na-OH

Pemerian

: Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keeping,


keras, rapuh dan menunjukkan susunan hablur ;
putih, mudah meleleh basah. Sangat alkalis dan
korosif. Segera menyerap karbondioksida. .

Kelarutan

: Sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol


(95%) P.

Kegunaan

: Zat tambahan.

Penyimpanan

: Dalam wadah tertutup baik.


11

12

BAB III
METODE PRAKTIKUM
III.1

Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum Disolusi Obar dilaksanakan pada hari Jumat, 18
November 2016 pukul 13.00 WITA. Bertempat di Laboratorium
Farmasetika, Jurusan Farmasi, Fakultas Olahraga dan kesehatan,
Universitas Negeri Gorontalo.

III.2 Alat dan Bahan


III.2.1 Alat

12

13

Buret

Corong

Gelas kimia

Gelas ukur

Labu erlenmeyer

Motor penggerak

Neraca analitik

Pipet tetes

Sendok tanduk

Statif dan klem

III.2.2 Bahan

13

14

Alkohol 70%

Aquadest

Asam salisilat

Indikator pp

Kertas perkamen

NaOH

Tissue
III.3

Cara Kerja

III.3.1 Pembuatan larutan baku NaOH 1 N


1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Dibersihkan alat dengan alkohol 70%.
3. Ditimbang NaOH padat sebanyak 40 gram.
4. Disiapkan aquadest yang bebas karbonat sebanyak 1000 ml (1 L).
5. Dilarutkan 40 gram NaOH padat kedalam 1000 ml aquadest.
6. Diaduk hingga larut dan homogen sampai didapat konsentrasi 1 N.
III.3.2 Penentuan kecepatan disolusi pada pengadukan 50 rpm
1.
2.

Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan


Dibersihkan setiap alat dengan menggunakan alkohol 70%
14

15

3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Dituangkan 50 ml larutan baku NaOH 0,1 N ke dalam buret


Dijenuhkan kertas saring pada dispo
Diisi labu disolusi dengan 900 ml air suling
Diatur suhu pada water bath 37C
Ditimbang 2 g asam salisilat menggunakan neraca analitik
Dimasukkan 2 g asam salisilat ke dalam 900 ml air suling pada bejana
Dihidupkan digital stirer pada kecepatan 50 rpm
Disampling sebanyak 10 ml larutan asam salisilat menggunakan dispo
setiap selang waktu 5,10,15,20, dan 25 menit setelah pengadukan.

Setiap pengambilan larutan, segera digantikan dengan 10 ml air suling


11. Dimasukkan larutan sampel tadi ke dalam Erlenmeyer
12. Ditambahkan 2-3 tetes indikator fenolftalein
13. Ditentukan kadar larutan asam salisilat dari setiap sampel pada
masing-masing menit dengan cara titrasi asam basa larutan NaOH 1 N
dari buret sampai larutan berubah dari bening menjadi merah muda
14. Dicatat volume NaOH yang terpakai
III.3.3 Penentuan kecepatan disolusi pada pengadukan 100 rpm
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan


Dibersihkan setiap alat dengan menggunakan alkohol 70%
Dituangkan 50 ml larutan baku NaOH 0,1 N ke dalam buret
Dijenuhkan kertas saring pada dispo
Diisi bejana dengan 900 ml air suling
Diatur suhu pada water bath 37C
Ditimbang 2 g asam salisilat menggunakan neraca analitik
Dimasukkan 2 g asam salisilat ke dalam 900 ml air suling pada bejana
Dihidupkan digital stirer pada kecepatan 50 rpm
Diambil sebanyak 10 ml larutan asam salisilat menggunakan dispo
setiap selang waktu 5,10,15,20, dan 25 menit setelah pengadukan.

Setiap pengambilan larutan, segera digantikan dengan 10 ml air suling


11. Dimasukkan larutan sampel tadi ke dalam Erlenmeyer
12. Ditambahkan 2-3 tetes indikator fenolftalein
13. Ditentukan kadar larutan asam salisilat dan setiap sampel pada
masing-masing menit dengan cara titrasi asam basa larutan NaOH 0,1
N dari buret sampai larutan berubah dari bening menjadi merah muda
14. Dicatat volume NaOH yang terpakai

15

16

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV. 1 Tabel Hasil Pengamatan

IV.2

Volume titran (mL)

Waktu
(menit)

Pengadukan 50 rpm

Pengadukan 100 rpm

4,7 mL

0,6 mL

10

4,5 mL

1,4 mL

15

4,5 mL

1,8 mL

20

5 mL

3 mL

5,4 mL

3,1 mL

25
Perhitungan

IV.2.1 Uji Disolusi


a) Penentuan kecepatan disolusi pada pengadukan 50 rpm :
Pada menit kelima :
Ma1
= Kesetaraan x Volume Titran
= 6, 906 x 4,7
= 32, 4582
Mb1

= Ma1 x
= 32, 4582 x 0,011
= 0,3606
16

17

Mt1

= M b1 = 0,3606

Pada menit kesepuluh :


Ma2

= Kesetaraan x Volume Titran


= 6.906 x 4,5
= 31,077

Mb2

= Ma2 x
= 31,077 x 0,011
= 0,3452

Mt2

= Mb2 + (

= 0,3452 + 0,004
= 0,3492
Pada menit kelima belas :
Ma3

= Kesetaraan x Volume Titran


= 6.906 x 4,5
= 31,077

Mb3

= Ma3 x
= 31,077 x 0,011
= 0,3452

Mt3

= Mb3 + (

= 0,3452 + 0,0038
= 0,3490
Pada menit kedua puluh :
Ma4

= Kesetaraan x Volume Titran


= 6.906 x 5
= 34,53

17

18

Mb4

= Ma4 x
= 34,53 x 0,011
= 0,3836

Mt4

= Mb4 + (

= 0,3836 + 0,0038
= 0,3874
Pada menit kedua puluh lima :
Ma5

= Kesetaraan x Volume Titran


= 6.906 x 5,4
= 37,2924

Mb5

= Ma5 x
= 37,2924 x 0,011
= 0,4143

Mt5

= Mb5 + (

= 0,4143 + 0,0042
= 0,4185
b) Penentuan kecepatan disolusi pada pengadukan 100 rpm :
Pada menit kelima :
Ma1

= Kesetaraan x Volume Titran


= 6.906 x 0,6
= 4,1436

Mb1

= Ma1 x
= 4,1436 x 0,011
= 0,0460

Mt1

= Mb1 = 0,0460
18

19

Pada menit kesepuluh :


Ma2

= Kesetaraan x Volume Titran


= 6.906 x 1,4
= 9,6684

Mb2

= Ma2 x
= 9,6684 x 0,011
= 0,1074

Mt2

= Mb2 + (

= 0,1074 + 0,0005
= 0,1079
Pada menit kelima belas :
Ma3

= Kesetaraan x Volume Titran


= 6.906 x 1,8
= 12,4308

Mb3

= Ma3 x
= 12,4308 x 0,011
= 0,1381

Mt3

= Mb3 + (

= 0,1381 + 0,0011
= 0,1392
Pada menit kedua puluh :
Ma4

= Kesetaraan x Volume Titran


= 6.906 x 3
= 20,718

Mb4

= Ma4 x
19

20

= 20,718 x 0,011
= 0,2301
Mt4

= Mb4 + (

= 0,2301 + 0,0015
= 0,0025
Pada menit kedua puluh lima :
Ma5

= Kesetaraan x Volume Titran


= 6.906 x 3,1
= 21,4086

Mb5

= Ma5 x
= 21,4086 x 0,011
= 0,2378

Mt5

= Mb5 + (

= 0,2378 + 0,0025
= 0,2403

IV.2.2 Tabel Konsentrasi


a) Penentuan kecepatan disolusi pada pengadukan 50 rpm
Waktu
(menit)

Volume
titran (mL)

Ma

Mb

Mt

4,7

32,4582

0,3606

0,3606

10

4,5

31,077

0,3452

0,3492

20

21

15

4,5

31,077

0,3452

0,3490

20

34,53

0,3836

0,3874

25
5,4
37,2924
0,4143
0,4185
b) Penentuan kecepatan disolusi pada pengadukan 100 rpm
Waktu
(menit)

Volume
titran (mL)

Ma

Mb

Mt

0,6

4,1436

0,0460

0,0460

10

1,4

9,6684

0,1074

0,1079

15

1,8

12,4308

0,1381

0,1392

20

20,718

0,2301

0,0025

21,4086

0,2378

0,2403

25
3,1
IV.2.3 Tabel Laju Disolusi
a) Pengadukan 50 rpm
Waktu
(menit)

Mt

5
10
15
20
25

0,3606
0,3492
0,3490
0,3874
0,4185
Rata-rata

dm / dt
0,07212
0,03492
0,0698
0,01937
0,01674
0,04259

b) Pengadukan 100 rpm


Waktu
(menit)

Mt

5
10
15
20
25

0,0460
0,1079
0,1392
0,0025
0,2403
Rata-rata

IV.3

dm / dt
0,0092
0,01079
0,00928
0,000125
0,009612
0,0078014

Pembahasan
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk
sediaan padat ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat
21

22

penting artinya karena ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari


kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat
aktif sangat penting artinya karena ketersediaan suatu obat sangat
tergantung dari kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut
sebelum diserap ke dalam tubuh. Sediaan obat yang harus diuji disolusinya
adalah bentuk padat atau semi padat yaitu bentuk tablet, kapsul dan salep
(Martin,1993).
Praktikum ini bertujuan untuk menentukan kecepatan disolusi suatu
zat, menggunakan alat penentu kecepatan disolusi dan menerangkan
factor-faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi suatu zat. Agar suatu
obat dapat masuk dalam sirkulasi darah dan menghasilkan efek teraupetik,
obat terbut tentunya harus memiliki daya hancur yang baik dan laju
disolusi yang relatif cukup cepat. Adapun prinsip dasar dari percobaan ini
yaitu penentuan disolusi dari zat aktif asam salisilat pada suhu kamar 30 oC
dengan kecepatan pengadukan 50 rpm dan 100 rpm dengan cara penentuan
menggunakan metode titrasi dengan larutan baku NaOH 0,1 N yang
ditandai dengan perubahan warna dari tidak berwarna menjadi merah
muda dengan bantuan indikator fenoftalen
Dalam percoban ini, dilakukan uji kecepatan disolusi dari serbuk asam
salisilat dalam air. Dan faktor yang diperhatikan dalam uji kecepatan
disolusi kali ini adalah faktor pengadukan. Faktor ini merupakan salah satu
faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan dislosui dari suatu zat. Karena
kecepatan pengadukan akan mempangruhi tebal lapisan difusi (h), jika
pengadukan berlangsung lebih cepat, maka tebal lapisan difusi akan cepat
berkurang (Martin 1993).
Langkah pertama, menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
dan membersihkan alat dengan alkohol 70% dikarenakan alkohol bersifat
desinfektan atau dapat menghambat pertumbuhan mikroba pada alat yang
akan digunakan serta alkohol 70% juga membuat alat tetap steril (Yunanto
A., dkk. 2005). Kemudian, menimbang asam salisilat sebanyak 2g,
menggukur 900 mL air suling dan melakukan penjenuhan pada kertas
22

23

saring pada dispo yang akan digunakan saat sampling larutan. Penjenuhan
kertas saring dilakukan karena ketika fase gerak mulai naik ke fase diam
diusahakan tidak ada penghalang atau gangguan, bila kertas tidak jenuh
maka di dalam kertas saring masih terdapat udara dengan tekanan yang
berbeda, maka daerah eluen akan tertahan dan mengakibatkan pemisahan
tidak berjalan dengan baik (Iskandar, 2007).
Untuk penentuan kecepatan disolusi kali ini diggunakan metode
suspensi. Metode suspensi adalah serbuk zat pada yang ditambahan ke
dalam pelarut tanpa pengontrolan terhadap luas permukaan partikelnya.
Sampel diambil pada waktu-waktu tertentu dan jumlah zat yang larut
ditentukan dengan cara yang sesuai (Martin,1993). Dan dalam pengujian
ini kami melakukan titrasi dengan larutan baku NaOH 0,1 N dan
fenoftalein sebagai indikator.
Setelah semua siap, air suling 900 mL dimasukkan ke dalam labu
disolusi. Lalu labu tersebut diletakkan di dalam water bath. Dan
tambahkan asam salisilat yang telah ditimbang sebelumnya. Asam salisilat
termasuk zat yang sukar larut dalam air, menurut literatur yang ada rumus
molekul asam salisilat C7H6O3 yang artinya asam salisilat sukar larut pada
air yang merupakan pelarut polar dan benzena yang merupakan pelarut
nonpolar, tetapi mudah larut pada etanol dan eter yang merupakan pelarut
semi polar (Dirjen POM, 1995). Kemudian dilanjutkan dengan mengatur
suhu pada water bath dan mengatur kecepatan pengadukan (rpm) pada
digital stirer sesuai yang dibutuhkan. Pada percobaan ini, Dilakukan
dengan kecepatan pengadukan yang berbeda untuk mengetahui pengaruh
kecepatan pengadukan terhadap kecepatan disolusi Kecepatan pengadukan
yang dilakukan adalah 50 rpm dan 100 rpm dengan suhu 37 oC hal ini
disesuaikan dengan suhu tubuh manusia.
Pertama, dilakukan untuk 50 rpm dengan suhu 37 oC. Larutan di
sampling sebanyak 10 mL menggunakan dispo dalam jangka waktu 5, 10,
15, 20 dan 25 menit. Namun, harus juga diimbangi dengan menambahkan
kembali 10 mL air suling. Tujuannya untuk mengembalikan jumlah pelarut
23

24

seperti semula karena pelarut dianalogikan sebagai cairan tubuh. Setelah


disampling dimasukan ke dalam labu erlemenyer untuk selanjutnya
dilakukan titrasi. Sebelumnya, larutan ditambahkan indikator fenoftalein
sebanyak 3 tetes. Hal ini bertujuan untuk melihat titik akhir titrasi yang
ditandai dengan perbahan warna dari tidak berwarna menjadi merah muda.
Senyawa indikator merupakan senyawa organik berupa asam atau basa
lemah yang berubah warnanya dalam larutan sesuai dengan pH larutan
(Rivai, 1995). Karena sifat ini, senyawa indikator dapat digunakan untuk
menentukan titik ekuivalen dari suatu titrasi asam-basa. Perubahan warna
indikator asam-basa terjadi karena adanya perubahan struktur dalam
suasana asam atau basa. Sebagai contoh adalah indikator fenoftalein,
dimana dalam suasana asam senyawa ini tidak berwarna, sedangkan dalam
suasana basa berwarna merah muda (Ahmad, H. Dkk, 2014).
Larutan tersebut siap untuk dititrasi menggunakan larutan baku NaOH
0,1 N. Caranya dengan memasukkan larutan baku NaOH 0,1 N ke dalam
buret sebanyak 50 mL. Kemudian dilakukan titrasi dengan menetesi
NaOH 0,1 N sebagai titran secara perlahan dengan kecepatan yang konstan
sampai asam salisilat (titrat) berubah warna menjadi merah muda dan
titrasi dihentikan, dicatat volume titran yang keluar atau yang dibutuhkan.
Masing-masing volume titran yang dibutuhkan untuk larutan 5, 10, 15, 20,
25 menit adalah 4,7 mL, 4,5 mL, 4,5 mL, 5 mL, 5,4 mL.
Hal yang disama diulangi untuk pengadukan 100 rpm dalam waktu 5,
10, 15, 20, 25 menit. Dan volume titran yang keluar masing-masing adalah
0,6 mL, 1,4 mL, 1,8 mL, 3 mL, 3,1 mL. Dari data tersebut dapat
disimpulkan bahwa, semakin lama waktu dalam pengadukan makan,
semakin besar volume titran yang keluar. Namun, pengujian disolusi pada
kecapatan 50 rpm terjadi kesalahan saat melakukan titrasi.
Setelah itu, dilakukan perhitungan untuk mendapatkan kecepatan
disolusi dari asam salisilat yang dipengaruhi oleh faktor pengadukan yaitu
50 rpm dan 100 rpm. Dan hasil yang diperoleh pada laju disolusi asam
salisilat dengan kecepatan 50 rpm pada waktu 5, 10, 15, 20, 25 menit
24

25

masing-masing yaitu 0,07212, 0,03492, 0,0698, 0,01937, 0,01674 dan laju


disolusi asam salisilat dengan kecepatan 100 rpm pada waktu 5, 10, 15, 20,
25 menit masing-masing adalah 0,0092, 0,01079, 0,00928, 0,000125,
0,009612. Hasil tersebut menunjukkan bahwa faktor pengadukan sangat
berpengaruh pada berkurangnya tebal difusi, sehingga laju disolusi suatu
zat akan meningkat. Adapun faktor pendukung yaitu waktu, dapat dilihat
bahwa semakin bertambahnya waktu maka zat semakin terdispersi. Hal ini
sesuai dengan teori yang ada bahwa, kecepatan pengadukan merupakan
salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan dislosui dari suatu
zat. Karena kecepatan pengadukan akan mempangruhi tebal lapisan difusi
(h), jika pengadukan berlangsung lebih cepat, maka tebal lapisan difusi
akan cepat berkurang (Martin 1993).

25

26

BAB V
PENUTUP
V.1

Kesimpulan
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan:
1.

Pengadukan dengan kecepatan 50 rpm pada menit ke 5,10,15,20, dan


25 yaitu 0,07212, 0,03492, 0,0698, 0,01937, dan 0,01674. Pada
pengadukan dengan kecepatan 100 rpm pada menit ke 5,10,15,20, dan
25 yaitu 0,0092, 0,01079, 0,00928, 0,000125, dan 0,009612. Dari
hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa kecepatan pengadukan akan
mempengaruhi tebal lapisan difusi, semakin cepat pengadukan maka
tebal lapisan difusi akan cepat berkurang sehingga kecepatan disolusi
meningkat. Selain itu, waktu juga mempengaruhi kecepatan disolusi.
Semakin bertambahnya waktu, semakin banyak zat yang terdispersi
maka tebal lapisan difusi akan cepat berkurang sehingga kecepatan

2.

disolusi meningkat.
Pada percobaan ini, alat yang digunakan untuk menentukan kecepatan

3.

disolusi yaitu digital stiter dan motor penggerak.


Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan disolusi suatu zat yaitu
suhu,

viskositas,

pH

pelarut,

pengadukan,

ukuran

partikel,

polimorfisme, dan sifat permukaan zat.


V.2

Saran
1.

Jurusan
Diharapkan agar jurusan untuk lebih meningkatkan lagi praktikumpraktikum selanjutnya, agar para mahasiswa dapat mengetahui lebih

2.

mendalam mengenai setiap percobaan praktikum yang akan datang.


Laboratorium
Diharapkan pada praktikum-praktikum selanjutnya untuk ketersediaan
alat harus lebih ditingkatkan terutama bahan yang sering digunakan
sebagai

zat

pengkompleks

lainnya,

sehingga

dapat

melihat

perbandingan yang jelas antara zat-zat pengkompleks dengan zat aktif


3.

yang ada.
Asisten

26

27

Diharapkan agar tidak bosan-bosannya dalam memberikan bimbingan


dan arahan kepada praktikan.

27