Anda di halaman 1dari 13

TUGAS MATA KULIAH TERAPI KOMPLEMENTER

oleh
Kelompok 1

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

Jl. Kalimantan No. 37 Kampus Tegal Boto Jember Telp./Fax (0331)


323450

ELECTRICITY
MAKALAH

oleh
Kelompok 1
Raditya Putra Yuana

NIM 132310101067

Dwi Maulidiandari Endri NIM 132310101007


Ahmad Nasrullah
Fikri Nur Latifatul Q
Kurnia Juliarthi

NIM 132310101010
NIM 132310101011
NIM 132310101012

Chairun Nisak

NIM 132310101014

Novaria Dyah Ayu P.

NIM 132310101022

Aulia Bella Marinda

NIM 132310101030

Rizky Bella Mulyaningsasi

NIM 132310101043

Yeni Dwi Aryati

NIM 132310101045

Saltish Aguinaga

NIM 132310101046

Sintya Ayu Puspitasari NIM 132310101049


Devi Maharani Hapsari NIM 132310101056
Bagus Arditya Husadha NIM 132310101060

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Jl. Kalimantan No. 37 Kampus Tegal Boto Jember Telp./Fax (0331)
323450
BAB 1. PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Selama berabad-abad listrik telah banyak digunakan untuk

mengatasi berbagai jenis rasa sakit. Sejarah munculnya Elektro


Stimulator berawal dari laporan Scribonius Largus tentang stimulasi
listrik untuk mengontrol nyeri yang digunakan di Yunanikuno. Pada
abad 16 sampai abad ke 18 berbagai perangkat elektrostatik
digunakan untuk menghilangkan sakit kepala dan nyeri. Benjamin &
Franklin adalah pendukung metode ini untuk menghilangkan rasa
sakit. Pengembangan dari semua stimulasi listrik tersebut
memberi ide dibentuknya Elektro Stimulator yang akhirnya dipakai
dan telah dipatenkan di Amerika Serikat pada tahun 1974.
Terapi elektrik atau disebut juga dengan elektroterapi merupakan
metode terapi suatu penyakit atau gangguan kesehatan dengan
menggunakan sinyal elektrik sebagai sarana pengobatan. Saat ini
elektroterapi sedang berkembang di dalam dunia medis dengan
berkembangnya metode Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation
(TENS),

Microcurrent

iontophoresis,
terapi

(MCS),

electroacupuncture,

elektrik

berlangsung

Stimulation

dalam

lama

dan

pengobatan

tetapi

tidak

Galvanic

stimulation,

sebagainya.

Penggunaan

alternatif

berkembang

sebenarnya
akibat

sudah

kurangnya

penelitian ilmiah. Dalam dunia kedokteran, mayoritas penggunaan


elektroterapi baru sebagai metode terapi pendukung. Pada makalah
akan dijelaskan terkait pengertian hingga cara kerja dan penggunaan
dari terapi electricity.
1.2

Tujuan

a.
b.
c.
d.
e.
f.
1.3
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Untuk
Untuk
Untuk
Untuk
Untuk
Untuk

mengetahui
mengetahui
mengetahui
mengetahui
mengetahui
mengetahui

Manfaat
Mengetahui
Mengetahui
Mengetahui
Mengetahui
Mengetahui
Mengetahui

pengertian dari terapi electricity


sejarah dari terapi electricity
dampak dari terapi electricity
manfaat dari terapi electricity
cara kerja dari terapi electricity
penggunaan dari terapi electricity

pengertian dari terapi electricity


sejarah dari terapi electricity
dampak dari terapi electricity
manfaat dari terapi electricity
cara kerja dari terapi electricity
penggunaan dari terapi electricity

BAB 2. KONSEP DASAR


2.1 Pengertian
Stimulasi

elektrik

merupakan

transfer

energi

dengan

penggunaan arus elektrik dan menempatkan elektroda sehingga arus


elektrik mengalir untuk percepatan penyembuhan. Penggunaan
stimulasi elektrik ini adalah sebagai pengobatan tambahan yang telah
dikemukakan beberapa tahun. Electrical stimulation merupakan
perangkat stimulasi listrik yang langsung merangsang saraf dan otot
atau

neuromuscular.

neuroprosthese.

Pada

Perangkat
penggunaan

tersebut
awal

juga

electrical

dinamakan
stimulation

digunakan dengan memasang elektroda pada bagian permukaan


tubuh. Elektroda yang terpasang kemudian diset melalui alat pacu
untuk mengintegrasikan antara fungsi sensorik, motorik dan otonom.
Pada aplikasi kilnis pada alat ini dapat dimanfaatkan untuk aktivitas
hidup sehari-hari seperti untuk stimulasi otot dan saraf pada otot
tungkai dan saraf sacral untuk pemulihan kandung kemih, fungsi
usus, fungsi saraf frenikus atau diaprgma untuk respon pernapasan
atau batuk.
Electrical stimulation merupakan aplikasi untuk elektrik pada
ektraseluler

yang

kemudian

menimbulkan

kontraksi

otot

dan

dikombinasikan pada kelompok otot yang berbeda dan dikontrol pusat


motorik pergerakan yang berada pada temporal di otak. Aplikasi ini
sangat bermanfaat pada deficit neurologi dengan kelumpuhan seperti
cedera tulang belakang, stroke, trauma kepala, multiple sklerosis dan
cerebral palsy. Teknik system electrical stimulation diklasifikasikan
menjadi beberapa metode yaitu melalui bagian permukaan kulit
tubuh,

pada

transcutaneous

atau

ditanam

pada

otot.

Pada

pemasangan dipermukaan kulit tubuh dan transcutaneus tidak


dilakukan tindakan invasive dan elektroda dipasang pada otot target.
Teknik ini lebih murah dan cocok untuk terapeutik yang lebih singkat
tetapi pada pemasangan di permukaan kulit dapat menyebabkan

iritasi, nyeri, keandalan kontraksi otak sulit untuk melokalisir poin


kontraksi otot. Pemasangan elektroda electrical stimulation dengan
teknik implant ditempatkan pada otot yang didukung dengan baterai
baik permanen atau dapat diisi ulang melalui frekuensi radio (RF).

2.2 Sejarah
Penyembuhan dengan energi listrik sebenarnya bukan hal baru
dalam ilmu kesehatan. Metode ini pertama kali dipernalkan oleh
James Graham pada tahun 1745. Ia tidak lulus sekolah kedokteran,
namun

tetap

menyebut

dirinya

dokter.

Setelah

pindah

ke

Philadelphia, Amerika Serikat, ia bertemu Benjamin Franklin dan


melihat percobaan Franklin tentang listrik. Dari sana ini yakin bahwa
listrik dapat menyembuhkan penyakit.
Mulai 1775, Graham kembali ke London dan mulai membuka
praktik pengobatan dengan listrik. Ia memberi sentakan listrik pada
pasiennya yang duduk di kursi khusus yang disebutnya magnetic
throne. Cara pengobatan ini sempat populer pada 1779 di Eropa.
Tahun 1855 Guillaume Duchenne mengembangkan terapi listrik
pertama, terapi ini menyalurkan listrik

langsung yang prinsip

dasarnya untuk memicu kontraksi otot. Tahun 1899 Van Seynek


melakukan pengamatan tentang terjadinya panas pada jaringan yang
disebabkan oleh aliran listrik berfrekwensi tinggi.
Selain itu ada pula perangkat Heidelberg Electric Belt yakni
sabuk listrik yang diperkenalkan 1902. Saat itu, alat ini disebut-sebut
sebagai cara ampuh menyembuhkan penyakit syaraf parah serta
penyakit lemah syahwat.
Tahun

1928

Schliephake

melaporkan

tentang

pengobatan

pasien dengan menggunakan "short wave diathermy" (diametri


gelombang pendek), termasuk listrik berfrekuensi tinggi.

2.3 Efek Samping


Terapi Listrik yang banyak dilakukan oleh ahli terapi biasanya
akan menimbulkan efek nyaman pada saat setelah terapi. Namun
efek ini tidak dapat berlangsung lebih lama karena tubuh akan terus
memproduksi ion negatif sesuai dengan kondisi tubuh. Berikut efek
samping terapi listrik :
1. Gangguan syaraf tertentu
Terapi listrik dapat menyebabkan gangguan pada titik syaraf
tertentu, terutama syaraf yang menuju otak. Terlalu sering
melakukan

terapi

listrik

dapat

menyebabkan

bingung

atau

gangguan ingatan sementara. Contoh: sering kesemutan dan


sering buang air kecil
2. Mempengaruhi fungsi otot
Terapi arus listrik juga bisa menyebabkan kerusakan otot dan
kehilangan kemampuan fungsi otot. Terjadi ketika ada perbedaan
tegangan yang dihasilkan dari alat terapi ke tubuh atau titik
tertentu yang menerima arus listrik. Bahaya ini mungkin tidak
akan langsung terasa karena biasanya orang yang melakukan
terapi justru merasa lebih sehat. Kerusakan yang paling parah
adalah kerusakan otot yang menyebabkan otot kejang hingga otot
tidak berfungsi.
3. Mempengaruhi organ tubuh
Terapi listrik juga bisa memberikan pengaruh untuk beberapa
bagian organ tubuh. Ketika tubuh menerima terapi pada titik
tertentu maka aliran listrik yang melewati bagian syaraf juga bisa
sampai ke organ daam tubuh. Listrik yang terus menyerang
bagian organ tubuh dapat menyebabkan kerusakan hingga
berbagai jenis penyakit tertentu.
4. Membahayakan Jantung
Ketika tubuh menerima aliran

maka

efek

sengatan

atau

rangsangan khusus, saat itu terjadi perbedaan tegangan maka


bisa menyebabkan detak jantung meningkat dan tekanan darah
menjadi lebih tinggi. Jantung bisa memberikan reaksi yang

berbeda beda tapi sangat berbahaya bagi orang yang sudah


menderita kelainan jantung.
5. Melemahnya Tubuh
Efek samping terapi listrik juga bisa menyebabkan tubuh menjadi
lemah karena ada rangsangan listrik masuk kedalam tubuh.
6. Gangguan Ingatan
Terapi listrik bisa menyebabkan beberapa gangguan ingatan
terutama jika dilakukan pada penderita stroke yang sudah
memiliki riwayat masalah syaraf. Stroke mungkin sulit sembuh
dengan terapi ini karena penyakit ini menyebabkan penurunan
fungsi organ tubuh dan syaraf pusat.
7. Iritasi Kulit
Terapi listrik juga bisa menyebabkan iritasi pada kulit karena
reaksi dari alat yang berhubungan langsung dengan kulit. Bahkan
pada kondisi tertentu bisa menyebabkan sengatan menjadi seperti
luka bakar.

2.4 Manfaat
Beberapa manfaat dari stimulasi elektrik, yaitu:
1. terapi listrik dapat mendorong proses metabolisme berlangsung
lebih cepat sehingga tubuh akan merasa lebih sehat setelah
terapi;
2. terapi listrik dapat mudah mendorong produksi enzim dari
berbagai kelenjar dalam tubuh sehingga dapat membuat proses
kerja organ dalam tubuh menjadi lebih lancar;
3. terapi listrik diperacaya dapat membantu
mengeluarkan semua

racun dalam tubuh.

tubuh

Proses

ini

dalam
akan

membantu ginjal dan sistem sekresi berjalan lebih baik sehingga


racun akan keluar bersama dengan urin, tinja dan keringat;
4. terapi listrik yang diberikan pada syaraf tertentu dapat membuat
syaraf menjadi lebih tenang dan santai sehingga tubuh dan
pikiran juga menjadi lebih nyaman;
5. terapi listrik akan membuat tubuh menjadi lebih bugar dan sehat
sehingga otomatis dapat menambah kekuatan tubuh;

6. terapi listrik juga dipercaya dapat membuat timbunan lemak di


dalam tubuh meluruh bersama dengan kotoran yang keluar dari
tubuh. Selain itu, banyaknya lemak yang mengalir dalam darah
juga akan didorong sebagai sumber energi tubuh sehingga
dipercaya bisa menjadi metode diet alami; dan
7. terapi listrik dipercaya dapat membantu pembakaran kalori
sehingga bermanfaat untuk menurunkan gula dalam darah.
Jadi, terapi listrik memang bisa sangat berbahaya untuk tubuh.
Listrik memang menjadi sangat berbahaya terutama ketika tubuh
manusia memang tidak bisa menangkal aliran listrik. Manfaat terapi
listrik mungkin juga memberikan efek positif setelah terapi namun
berbagai gejala bisa muncul setelah terapi dilakukan secara terus
menerus. (http://halosehat.com)
2.5 Cara Kerja dan Penggunaan
Sebelum

mendapatkan

terapi

Stimulasi

Listrik

sebaiknya

menggunakan baju longgar yang memudahkan untuk proses terapi,


untuk bagian atas dianjurkan untuk menggunakan baju tanpa lengan
atau baju longgar yang nyaman, untuk bagian atas sebaiknya
menggunakan rok longgar yang nyaman atau celana pendek. Bila
tidak mempersiapkan pakaian seperti yang dianjurkan di atas, terapis
atau dokter akan memberikan baju khusus untuk terapi yang
nyaman,seperti kemben atau rok. Sebaiknya juga tidak menggunakan
lotion ataupun obat-obatan gosok yang dapat menghambat transmisi
aliran listrik, bila menggunakan lotion atau obat-obatan yang dioles
sebaiknya beritahukan kepada terapis atau dokter sebelum terapi
dimulai. Cara penggunaan alat Electrical Stimulation (ES) adalah
dengan memasang 6 atau 12 elektroda pada intramuskuler atau kulit
yang kemudian dihubungkan dengan stimulator atau telemeter dan
selanjutnya informasi atau datanya akan dikirim ke eksternal unit
control untuk kemudian dikembalikan berupa respon gerak.

Prosedur terapi Stimulasi Listrik :


1. Menggunakan pakaian yang longgar dan nyaman.
2. Dokter atau terapis akan memeriksa kembali daerah yang akan
diberikan terapi dan melakukan wawancara kembali mengenai
kelainan yang diderita dan kemungkinan kontraindikasi untuk
pemberian terapi dan riwayat alergi terhadap zat-zat tertentu
yang dioleskan. Dokter maupun terapis akan menjelaskan sekali
lagi tujuan terapi Stimulasi Listrik sesuai kondisi dan keadaan
seseorang, tiap individu berbeda.
3. Dokter atau terapis akan membersihkan daerah yang akan
diterapi dari minyak ataupun kotoran yang menempel di kulit
termasuk

dari

lotion

atau

obat-obat

gosok

yang

dipakai

sebelumnya dengan menggunakan kapas alkohol atau kapas yang


diberi air. Bila mempunyai kulit yang sensitive dan kering sekali
sebaiknya diberitahukan kepada dokter atau terapis yang akan
menerapi, sehingga tidak akan digunakan kapas alkohol yang
kadang dapat menyebabkan iritasi kulit.
4. Dokter atau terapis akan memposisikan bagian yang akan diterapi
senyaman mungkin.
5. Dokter atau terapis akan menempatkan elektroda yang berupa
pad dengan lapisan gel di atasnya atau elektroda dengan bahan
tertentu yang akan diikat pada daerah yang akan diterapi.
6. Dokter atau terapis akan melakukan setting dosis alat Stimulasi
Listrik dan memulai terapi dengan menaikkan intensitas alat
secara perlahan-lahan sampai penderita merasakan adanya aliran
listrik atau kontraksi otot sesuai dengan tujuan terapi yang
diinginkan dokter atau terapis. Setiap 5 menit sekali dokter atau
terapis akan menanyakan apakah masih terasa, kemudian akan

menaikkan secara perlahan-lahan intensitasnya sampai mencapai


dosis yang diinginkan.
7. Bila terasa nyeri, panas, perih dan pegal berlebihan saat terapi
berlangsung segera bilang kepada terapis atau dokter yang
menerapi.
8. Setelah selesai terapi, terapis atau dokter akan melepas elektroda
dan membersihkan sisa gel yang menempel pada pad yang masih
tersisa pada daerah yang diterapi.
9. Dokter atau terapis akan kembali melakukan pemeriksaan dan
wawancara mengenai efek yang dirasakan setelah selesai terapi.

BAB 3. PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Stimulasi elektrik merupakan pengobatan tambahan dengan
cara transfer energi menggunakan arus elektrik dan menempatkan
elektroda sehingga arus elektrik mengalir merangsang saraf dan otot
atau

neuromuscular

untuk

percepatan

penyembuhan.

Saat

ini

elektroterapi sedang berkembang di dalam dunia medis dengan


berkembangnya metode Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation
(TENS),

Microcurrent

Stimulation

(MCS),

Galvanic

stimulation,

iontophoresis, electroacupuncture, dan sebagainya. Cara penggunaan


alat Electrical Stimulation (ES) adalah dengan memasang 6 atau 12
elektroda pada intramuskuler atau kulit yang kemudian dihubungkan
dengan stimulator atau telemeter dan selanjutnya informasi atau
datanya akan dikirim ke eksternal unit control untuk kemudian
dikembalikan berupa respon gerak. Aplikasi ini sangat bermanfaat
pada defisit neurologi dengan kelumpuhan seperti cedera tulang
belakang, stroke, trauma kepala, multiple sklerosis dan cerebral palsy.
3.2 Saran
Terapis

disarankan

memperhatikan setiap

prosedur

terapi

stimulasi listrik yang akan dilakukan. Terapis perlu memastikan


kelainan yang diderita pasien dan kemungkinan kontraindikasi untuk
pemberian terapi dan riwayat alergi terhadap zat-zat tertentu yang
dioleskan. Selain itu, terapis juga harus mengevaluasi efek yang
dirasakan setelah selesai terapi. Hal ini disebabkan karena pada
dasarnya ada manfaat dan ada bahaya atau efek samping dari terapi
listrik ini.

DAFTAR PUSTAKA
Ama Fuad, Arifin M. dkk. 2010. Studi Pengaruh Stimulasi Elektrik (Es)
Pada

Proses

Percepatan

Marmut. [serial online]

Penyembuhan

Luka

Kulit

http://digilib.its.ac.id/public/ITS-paper-

20126-Paper.pdf. diakses pada tanggal 25 Oktober 2016.


Anshar.

2009.

Terapi

Listrik.http://anshar.com/2010/07/01/archive.html/

Stimulasi
(diakses

pada tanggal 26 Oktober 2016)


Prajoto, Slamet. 2006. Terapi Listrik untuk Modulasi Nyeri. Ikatan
Fisioterapi Indonesia. Semarang.
http://pkko.fik.ui.ac.id/files/STIMULASI%20ELEKTRIK.pdf diakses pada
26 Oktober 2016.
http://halosehat.com/review/teknologi-kesehatan/bahaya-terapilistrik diakses pada 26 Oktober 2016.