Anda di halaman 1dari 27

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG

DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN


JARINGAN TRANPORTASI
TUGAS MATA KULIAH MORFOLOGI KOTA

LIDYA YOHANA
AUKE HERDYANSAH
JENNIE YUWONO
LAKSMITA DWI HERSAPUTRI
JHON JHOHAN PUTRA K.D.

3613100047
3613100051
3613100062
3613100069
3613100078

JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
2014

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

Kata Pengantar
Assalamualaikum wr.wb.
Puji dan syukur marilah kita ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmatnya
kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah Morfologi Kota ini dengan baik.
Paper ini berjudul Pertumbuhan Kota Yogyakarta yang Dipengaruhi Oleh Perkembangan
Transportasi. Hal-hal yang diulas dalam paper ini adalah gambaran umum sejarah pertumbuhan Kota
Yogyakarta dan pertumbuhan Kota Yogyakarta yang dipengeruhi oleh perkembangan tranportasi udara,
jaringan rel kereta api, dan jalan lingkar. Sebagaimana yang kita ketahui, pertumbuhan suatu kota tidak
lepas dari perkembangan moda penghubung yang memudahkan manusia dalam menjangkau suatu
tempat dengan tempat yang lain.
Akhir kata kami mohon maaf atas kesalahan yang terdapat di makalah ini. Semoga tulisan yang
telah kami susun ini dapat bermanfaat bagi pembaca. Kritik dan saran kami harapkan dari Anda.

Surabaya, November 2014

Penulis

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

Daftar Isi
Kata Pengantar........................................................................................................................................ 0
Daftar Isi .................................................................................................................................................. 2
1. Pendahuluan ....................................................................................................................................... 3
1.1. Latar Belakang.............................................................................................................................. 3
1.2. Tujuan .......................................................................................................................................... 3
1.3. Sistematika Penulisan .................................................................................................................. 3
2. Pembahasan ........................................................................................................................................ 4
2.1. Gambaran Umum Sejarah Pertumbuhan Kota Yogyakarta ......................................................... 4
2.2. Pertumbuhan Kota ....................................................................................................................... 6
2.2.1. Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Transportasi Udara ................ 6
2.2.2. Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Transportasi Darat ................. 8
2.2.3. Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Transportasi Rel ................... 16
3. Kesimpulan........................................................................................................................................ 21
Daftar Pustaka....................................................................................................................................... 22

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

1. Pendahuluan
1.1. Latar Belakang
Sejak zaman prasejarah manusia telah mendirikan kota dengan berbagi kepentingan dan
bentuknya. Proses terbentuknya kota itu sendiri terjadi karena manusia memiliki naluri untuk
tinggal secara berkelompok. Dari peninggalan kota-kota kuno yang masih bertahan hingga masa
kini dapat diidentifikasi bahwa kota-kota tersebut sudah mempunyai bentuk yang teratur untuk
memudahkan pergerakan pasukan militer. Seiring dengan meningkatnya peradaban manusia,
bentuk suatu kota dapat dipengaruhi oleh keberadaan infrastruktur transportasi yang terdapat di
suatu kota. Manusia cenderung membangun permukiman mengikuti perkembangan jaringan
transportasi karena kemudahan akses yang ditawarkan.
Perkembangan Kota Yogyakarta cukup pesat terutama berkaitan dengan fungsinya
sebagai ibukota Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sekaligus sebagai kota budaya telah
meningkatkan pula aktivitas wisata yang dimana berhubungan dengan transportasi. Transportasi
merupakan usaha masyarakat sehingga tranportasi akan berpengaruh kepada penyebaran
fasilitas. Jika suatu kota memiliki aksesbilitas transportasi yang baik ke berbagai kawasan kota,
yang akan terjadi adalah distribusi fasilitas. Dalam praktek pengembangan kota di Indonesia sarana
dan prasarana transportasi sering di jadikan instrumen dalam mengarahkan perkembangan kota.
Salah satu elemen transportasi yang sering di pakai dalam mengarahkan perkembangan kota
adalah pembangunan prasarana transportasi seperti jaringan jalan dan penempatan terminal.

1.2. Tujuan
Tujuan dari penulisan paper ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui sejarah perkembangan Kota Yogyakarta secara umum
2. Untuk mendeskripsikan perkembangan morfologi Kota Yogyakarta yang diakibatkan
oleh faktor transportasi, yaitu karena adanya Bandar Udara Adi Sucipto, Stasiun Tugu,
dan jaringan jalan.

1.3. Sistematika Penulisan


Paper ini ditulis dengan sistematika sebagai berikut:
Bab 1: Pendahuluan
Bagian ini mencakup latar belakang, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab 2: Pembahasan
Bagian ini membahasa mengenai gambaran umum sejarah pertumbuhan Kota
Yogyakarta dan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bentuk kota yang
didorong oleh perkembangan jaringan transportasi.
Bab 3: Kesimpulan
Bagian ini merangkum gabungan dari berbagai faktor yang telah dijelaskan
sebelumnya.

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

2. Pembahasan
2.1. Gambaran Umum Sejarah Pertumbuhan Kota Yogyakarta
Kota Yogyakarta merupakan ibukota dari Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang
memiliki luas 32,5 km2. Secara geografis, kota ini terletak di tengah provinsi DIY dan berbatasan
dengan Kabupaten Sleman di sebelah utara, Kabupaten Sleman dan Bantul di sebelah timur,
Kabupaten Bantul di sebelah selatan, dan Kabupaten Bantul dan Sleman di sebelah barat. Secara
administratif, Yogyakarta terbagi atas 14 kecamatan. Berdasarkan sensus yang dilakukan oleh
Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2012, jumlah penduduk Kota Yogyakarta mencapai
394.012 jiwa. Jumlah ini mencakup 11,21% dari total penduduk DIY.

Gambar 1 Tugu Jogja: Ikon Kota Yogyakarta

Tonggak yang menandai berdirinya Kota Yogyakarta adalah penandatanganan


Perjanjian Giyanti yang bertanggal 13 Februari 1755. Salah satu isi perjanjian tersebut adalah
Mataram dibagi menjadi dua, yaitu Mataram Timur (yang sekarang menjadi Surakarta) dan
Mataram Barat (yang kemudian berganti nama menjadi Yogyakarta). Yogyakarta secara resmi
menjadi pusat pemerintahan politik seiring dengan berakhirnya pemberontakan yang dipimpin
oleh Pangeran Mangkubumi (yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I). Beliau kemudian
diizinkan mendirikan pusat pemerintahan, yaitu Keraton Yogyakarta, yang berdiri di tempat
yang sama hingga kini. Pada tanggal 7 Oktober 1756, seluruh keluarga Sri Sultan
Hamengkubuwono I pindah dari Pesanggrahan Ambarketawan ke keraton yang baru.
Momentum inilah yang kemudian menjadi dasar penetepan hari jadi Yogyakarta yang berlaku
semenjak 7 Oktober 2009.
Pada masa kolonial, pertumbuhan kota yang berorientasi pada Keraton Yogyakarta
berjalan sangat cepat. Wilayah-wilayah di luar keraton menjadi perkampungan yang dinamakan
sesuai dengan kesatuan pasukan keraton. Bangunan bersejarah yang kita kenal pada masa
sekarang sebagi Taman Sari dan Warung Boto berdiri pada masa ini. Akibat gempa yang terjadi
pada tahun 1812 menyebabkan kerusakan pada beberapa bagian keraton. Pasar Beringharjo,
yang berlokasi di Jl. Malioboro, berdiri tidak lama setelah Keraton Yogyakarta selesai dibangun.
Bangunan permanen yang kita kenal sekarang merupakan hasil pembangunan pada tahun
1925.

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

Pada periode pasca kemerdekaan, tepatnya pada bulan Juni 1946, Kota Yogyakarta
mengalami masa dimana terjadi perpindahan massa secara bersar-besaran dari Jakarta karena
perpindahan ibukota yang diakibatkan oleh kondisi politik yang tidak stabil. Pemerintah Kota
Yogyakarta mengalami kesulitan dalam penyediaan perumahan, baik untuk kantor
kementerian maupun jawatan, dan juga sebagai tempat tinggal.

Gambar 2 Perkembangan Kota Yogyakarta dari 1765-1824


Sumber: Sejarah Struktur Ruang Kota Yogyakarta

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

Keberadaan keraton memang memengaruhi pertumbuhan Kota Yogyakarta secara


signifikan. Pola pertumbuhan kota ini dipengaruhi oleh akses menuju keraton, sehingga secara
morfologis pertumbuhan mengarah ke arah utara.
Selain karena keberadaan keraton, faktor lain yang mempengaruhi pesatnya
pertumbuhan Kota Yogyakarta adalah karena keberadaan infrastruktur transportasi skala
wilayah yang jangkauan pelayanannya sampai ke luar Indonesia sehingga membuka pintu bagi
para pendatang. Kota Yogyakarta memiliki bandar udara Adi Sucipto yang sejak tahun 2008
membuka rute penerbangan internasional. Dari segi transportasi darat, keberadaan Stasiun
Tugu Yogyakarta sebagai stasiun terbesar di Kota Yogyakarta merupakan gerbang bagi para
pendatang dari kota-kota lain di pulau Jawa. Selain itu, Yogyakarta juga memiliki Ring Road yang
melingkari tepian Kota Yogyakarta. Selain membuka pintu bagi para pendatang, keberadaan
infrastruktur transportasi ikut mempengaruhi perkembangan bentuk Kota Yogyakarta.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Rika Harini, S.si, MP, staf pengajar Jurusan Geografi
di Universitas Gajah Mada (UGM), perkembangan Kota Yogyakarta cenderung bergeser ke arah
utara dan timur, tepatnya ke arah Kabupaten Sleman. Fenomena in ditengarai sebagai urban
sprawl.

2.2. Pertumbuhan Kota


2.2.1. Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Transportasi Udara
Kota Yogyakarta merupakan salah satu kota yang memiliki bandara bertaraf
internasional, yaitu Bandara Adisucipto (ejaan lama: Adisujipto). Bandara yang berlokasi
di Kabupaten Sleman ini melayani kebutuhan transportasi udara untuk pihak militer dan
warga sipil. Selain itu, bandara juga melayani latihan terbang bagi para kader penerbang.

Gambar 3 Bandara Adisuctjipto

Pada awalnya, Bandara Adisutjipto dibangun pada tahun 1940 dan mulai
digunakan pada 1942 oleh tentara Jepang untuk meningkatkan pertahanan pada masa
penjajahan. Pada tahun 1945, Indonesia berhasil mengambil alih bandara sehingga
digunakan oleh BKR (Sekarang TNI) untuk meningkatkan pertahanan RI. Selama beberapa
tahun lapangan terbang ini digunakan oleh Angkatan Udara Republik Indonesia untuk
kegiatan militer. Hingga pada tahun 1964 sesuai dengan arahan dari Jendral Departemen
Perhubungan, Bandara Adisutjipto digunakan untuk kegiatan militer dan komersil.

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

Gambar 4 Lokasi Bandara Adisucipto


Sumber: Google Maps

Seiring dengan pembangunan Bandara Adisutjipto, kegiatan masyarakat di


sekitar bandara juga mulai berkembang. Berbagai potensi bisnis dapat dikembangkan di
daerah ini, mengingat kota Kota Yogyakarta menjadi salah satu destinasi wisata utama
dan kebutuhan akan turis domestik maupun internasional sangat tinggi di daerah ini.
Adapun potensi bisnis yang dapat dikembangkan di daerah ini adalah:
1. Bisnis Kuliner
Yogyakarta merupakan daerah yang memiliki beragam jenis kuliner seperti Gudeg dan
warung Angkringan yang menjadi ciri khas kota Kota Yogyakarta. Kebutuhan akan kuliner
bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Yogyakarta menjadi kebutuhan utama sehingga
bisnis seperti ini banyak berkembang di daerah ini terutama dekat tempat wisata atau
bandara.
2. Bisnis Penginapan
Wisatawan yang mengunjungi Kota Yogyakarta tidak dapat menikmati budaya yang
disajikan hanya dalam satu hari, sehingga kebutuhan akan penginapan sangat tinggi di
daerah ini.
3. Bisnis Rental Kendaraan
Walaupun sudah tersedia angkutan umum yang memadai, kendaraan pribadi kadang
juga menjadi pilihan yang baik bagi wisatawan yang ingin mengelilingi Kota Kota
Yogyakarta dengan leluasa.
4. Bisnis Toko Oleh-Oleh/Suvenir
Mengunjungi sebuah kota yang kaya akan budaya tidak cukup jika tidak membeli
kerajinan tangan atau camilan khas daerah tersebut.
5. Bisnis Travel Agent
Bagi wisatawan internasional, mungkin pemahaman akan seluk beluk kota ini masih
sedikit sehingga dibutuhkan guide atau pemandu untuk membantu menjelajahi kota
yang memiliki julukan kota pelajar ini.

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

Semua potensi bisnis yang menjanjikan itu semakin berkembang dengan


dibangunnya Bandara Adisutjipto yang menjadi gerbang utama wisatawan domestik
bahkan mancanegara untuk mengunjungi Yogyakarta.
Pola transportasi yang terbentuk juga semakin beragam dengan dibangunnya
Bandara Adisutjipto. Mengingat lokasi dari bandara ini berada diluar Kota Yogyakarta.
Pembangunan jalan antar kota antar provinsi semakin digencarkan. Moda transportasi
penghubung seperti Bus TransKota Yogyakarta, Bus Damri, dan Kereta Api juga semakin
ditingkatkan kualitasnya.
Dengan adanya pembangunan Bandara Adisutjipto, pola pemekaran penduduk
mengarah ke Kabupaten Sleman, lokasi didirikannya Bandara Adisutjipto. Pusat ekonomi
yang sebelumnya berada di Kota Yogyakarta juga mengalami perambatan ke Kabupaten
Sleman. Hal ini terlihat dengan banyaknya pendatang atau masyarakat asli Kabupaten
Sleman yang mencoba berbagai peluang bisnis seperti yang dijelaskan diatas.

2.2.2. Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Transportasi Darat


Perkembangan sebuah kota ditandai dengan semakin berkurangnya lahan
kosong di dalam kota. Hal ini disebabkan oleh pertambahan jumlah penduduk di daerah
kota yang diiringi oleh semakin tingginya kebutuhan akan ruang, terutama untuk
pemukiman.
Kota Yogyakarta sebagai pusat berbagai kegiatan mengalami perkembangan
yang cepat dan dinamis. Perkembangan yang paling mudah ditandai adalah perubahan
wujud fisik kota. Dibangunnya gedung-gedung pencakar langit, pusat perbelanjaan
modern, dan penambahan jaringan jalan sebagai bukti perubahan wujud fisik kota.

Gambar 5 Ring Road Kota Yogyakarta


Sumber: Google Maps

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

Untuk tahun 1999, daerah permukiman tersebar di daerah pinggiranmeliputi


Kecamatan Sleman, Ngaglik, Ngemplak, Sedayu, dan Bantul dan untuk tahun 2006
memperlihatkan perkembangan permukiman yang semakin pesat. Permukiman pada
tahun 2006tidak hanya terletak memusat di sekitar pusat kota, tetapi juga meliputi
daerah pinggiran kota (lihat peta).

Gambar 6 Pertumbuhan Kota Yogyakarta dari tahun ke tahun


Sumber: Skripsi Noni Huriati

Konsep mancapat dalam tata ruang Jawa kuno merupakan konsep yang
mengatur penempatan permukiman dalam tata ruang segi empat berdasarkan pada
empat penjuru (poros) mata angin. Kedudukan wilayah utara sebagai Pintu Gerbang
Utama transportasi yang tentunya mengandung nilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan
dengan wilayah lainnyaBentuk pola permukiman yang berkembang di wilayah DIY secara
regional mengikuti pola radial mengelilingi Gunung Merapi, kemudian berkembang
menjadi linear mengikuti jalan yang menghubungkan antarwilayah dan antarkegiatan
dalam dinamika kehidupan. Terdapat pula bentuk pola permukiman yang terserak atau
tidak teratur sebagai perkembangan akhir dari pertumbuhan permukiman.

Gambar 7 Konsep Macapat


Sumber: Jurnal Konsep Dasar Arsitektur

Sifat perkembangan permukiman ini dipengaruhi poros imajiner utara-selatan.


Selain bersifat memanjang, perkembangan permukiman yang terjadi juga mempunyai
sifat perkembangan konsentris. Dimana secara keseluruhan, perkembangan yang terjadi
di daerah pinggiran kota ini tidak dapat dipisahkan dari fungsi kota Yogyakarta sebagai
pusatnya. Permukiman yang berada di luar kota terlihat menyatu dan kompak dengan
kota pusatnya, bahkan dapat disebut sebagai daerah kekotaan.
9

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

Perkembangan permukiman yang terjadi akan mempengaruhi bentuk kota


yang ada. Berdasarkan sifat dan arah perkembangan permukiman yang terjadi maka
bentuk kota adalah bentuk yang tidak kompak. Bentuk ini merupakan perwujudan fisikal
kota dimana areal fisik kotanya tidak membentuk satuan yang utuh dan diantarai oleh
kenampakkan terbuka yang cukup luas.

Gambar 8 Skema Konseptual Pengembangan Transportasi Jalan


Propinsi DIY
Sumber: Perencanaan Umum Jaringan Transportasi Jalan, Dinas
Perhubungan DIY.

Pusat-pusat kegiatan yang berpusat di Kota Yogyakarta yang pada akhirnya


memberi prioritas berkembangnya daerah-daerah pinggiran karena daerah pinggiran
juga didukung oleh adanya jaringan jalan yang memadai, pusat-pusat kegiatan
masyarakat seperti perguruan tinggi, pusat perniagaan. Keberadaan fasilitas-fasilitas
inilah yang dapat memicu timbulnya aktivitas lain yang pada akhirnya akan menarik
banyak orang ke daerah pinggiran ini. Daerah pinggiran pada Kota Yogyakarta ini terletak
di zona utara, zona timur, zona selatan, dan zona barat.

Gambar 9 Pembagian Zona Pada Perkembangan Kota Yogyakarta

10

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

a. Zona Utara
Perkembangan zona ini sudah dimulai sejak zaman kesultanan Yogyakarta. Zona
utara terdiri dari enam kecamatan, meliputi kecamatan Depok, Mlati, Sleman, Kalasan,
Ngaglik, dan Ngemlak. Pola perkembangan permukiman di zona utara ini bersifat
memanjang jalur transportasi dan mengarah ke utara. Hal ini terlihat dari tingginya
kerapatan permukiman di sepanjang permukiman di sepanjang poros yang
tergambarkan dalam garis lurus berupa jaringan jalan dengan tugu Yogyakarta sebagai
pusatnya, yaitu jalan A.M Sangaji dan jalan Palagan. Di zona utara ini hanya terdapat satu
jalur arah perkembangan, yaitu dari daerah perbatasan dengan pusat kota di bagian
selatan, semua perkembangan bergerak ke arah timur mengikuti jalur yang ada. Pada
Tahun 1992, permukiman mendominasi bagian utara dan selatan zona ini.
Pada tahun 2006, lahan hijau telah berkurang dan didominasi oleh permukiman.
Perkembangan zona utara ini dimulai dari bagian selatan sesuai dengan jalur
transportasi. Di zona ini terdapat 3 jalur primer (jalur selatan menuju Kota Magelang dan
Semarang, jalur Ringroad utara, dan jalur timur menuju Solo) dan jalur sekunder (jalur
menuju Kecamatan Turi, Kaliurang, dan jalur Prambanan). Daerah permukiman dengan
kepadatan paling tinggi terdapat di daerah perbatasan dengan pusatkota. Kini,
permukiman telah mendominasi seluruh zona, terutama di sekitar jalur transportasi.
Perkembangan terjadi di sekitar jalur menuju Kota Magelang karena dipicu oleh
tumbuhnya sentra-sentra yang berbasis kegiatan ekonomi, sedangkan permukiman yang
pesat di sekitar jalur ringroad disebabkan karena tumbuhnya perguruan-perguruan
tinggi.

b. Zona Selatan
Zona selatan terdiri dari empat kecamatan, meliputi Kecamatan Sewon, Bantul,
Pleret dan Jetis. Pola perkembangan jaringan jalan dan jalur transportasi di zona ini
sangat mempengaruhi perkembangan permukiman, sehingga pola besarnya adalah
linear mengikuti jalur transportasi menuju ke selatan.
Pada tahun 1992, permukiman hanya terlihat di bagian tengah zona (Kecamatan
Bantul dan Jetis). Pada tahun 1999, permukiman mendominasi di bagian utara
(perbatasan kota), namun disekitar jalur ringroad selatan masih didominasi oleh
persawahan. Pada tahun 2006, muncul permukiman di sekitar jalur-jalur tranportasi.
Perkembangan zona selatan dikategorikan lambat karena kurangnya daya tarik, seperti
tidak terdapatnya perguruan tinggi maupun pusat-pusat kegiatan perdagangan.

c. Zona Barat
Zona barat dimulai ketika jaringan rel kereta api jalur selatan selesai dibangun.
Zona ini meliputi enam kecamatan yaitu Gamping, Godean, Seyegan, Sedayu, Kasihan
dan Pajangan.

11

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

Perkembangan permukiman terjadi, terutama, di sekitar jaringan jalan yang ada.


Mengingat bahwa zona selatan ini dilewati oleh 3 jalur transportasi utama, yaitu jalur
Ringroad barat di sebelah timur, jalur selatan Jawa menuju kota Wates, dan jalur barat
menuju Godean, dengan adanya aksesibilitas seperti itu tentu saja zona ini menjadi
sangat memudahkan mobilitas para komuter. Permukiman ini tersebar di sekitar jalur
transportasi primer, yaitu jalur selatan dan jalur barat, sedangkan di sepanjang jalur
ringroad barat masih didominasi oleh lahan hijau berupa sawah dan ladang.
Pada tahun 1992, permukiman tersebar di sekitar jalur transportasi primer (jalur
selatan dan jalur barat), di sepanjang jalur ringroad masih didominasi oleh lahan
persawahan. Permukiman di zona ini tergolong rendah dikarenakan letaknya yang jauh
dari pusat kota walaupun terdapat 3 jalur transportasi utama.
Pada tahun 2006, zona barat ini didominasi oleh permukiman dan lahan hijau
hanya terdapat di bagian utara dan selatan saja. Permukiman dengan tingkat kerapatan
tinggi berada di sekitar jalur-jalur utama transportasi terutama di jalur selatan hal ini
dipengaruhi oleh keberadaan Kota Wates yang memiliki fasilitas publik lebih memadai.
Untuk zona barat, permukiman dengan tingkat kerapatan tinggi berada di jalurjalur utama transportasi terutama di jalur selatan yakni adanya Kota Wates.

d. Zona Timur
Perkembangan di zona timur ini lebih mirip dengan zona barat, dimana
perkembangan zona ini dimulai sejak adanya jalur kereta api melintasi daerah ini. Zona
timur terdiri dari 3 kecamatan yaitu Banguntapan, Berbah dan Piyungan.
Perkembangan dimulai dari daerah perbatasan Kecamatan Banguntapan dengan
kota, tepatnya di sekita jalur ringroad timur. Selain di perbatasan Kecamatan
Banguntapan dengan kota, di sekitar perbatasan Kecamatan Berbah dengan Piyungan
bagian tertimur, yaitu disekitar simpul jalur tenggara dengan jalur outer ringroad timur
juga terdapat daerah permukiman yang kemudian berkembang mengikuti daerah
perbatasan, hanya saja arah perkembangannya berbeda. Bila di daerah perbatasan
perkembangan yang terjadi kemudian mengarah ke timur, maka di daerah ini
kebalikannya yaitu perkembangannya mengarah ke barat.
Pada tahun 1992, bagian tengah masih berupa lahan hijau, permukiman
terdapat di bagian timur dan barat zona ini, yang berkembang di sekitar
jalur ringroad timur yaitu perbatasan kota dengan Kecamatan Banguntapan dan juga di
daerah pertemuan jalur tenggara yaitu perbatasan Kecamatan Berbah dan Piyungan.
Pada tahun 1999, perkembangan terjadi di sepanjang jalur tenggara (perbatasan
Kecamatan Berbah dan Piyungan).
Pada tahun 2006, permukiman mendominasi terutama di sekitar jalur-jalur
transportasi dengan simpul yang menguntungkan. Tingkat kerapatan permukiman
tertinggi terdapat di sekitar ringroad timur, daerah perbatasan kota, dan pertemuan
antara jalur tenggara dengan jalan outer ringroad timur. Untuk zona timur,
permukimannya mendominasi di jalur-jalur transportasi dan simpul yang
menguntungkan seperti di daerah perbatasan kota.
12

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

Perkembangan Kota Yogyakarta Menurut Perkembangan Jaringan Jalan Per Periode


Periode sebelum tahun 1756
Pola jaringan jalan sudah terbentuk dan lebih terfokus pusat kraton yang membentuk
sumbu utara selatan dan barat timur. Ciri fisik perkembangan kota Yogyakarta yang
terlihat pada periode sebelum tahun 1756 M adalah keberadaan keraton Yogyakarta.
Keberadaan keraton Yogyakarta ini juga didukung dengan keberadaan 2 alun-alun yang
terletak di sebelah utara dan sebelah selatan.
Periode masa colonial 1756-1876
Pada periode ini perluasan terutama perluasan kota Yogyakarta yang tetap berorientasi
pada keraton Yogyakarta berjalan amat cepat. Wilayah-wilayah di luar tembok keraton
sudah berubah menjadi pusat perkampungan-perkampungan yang dinamakan sesuai
dengan kesatuan pasukan keraton seperti Patangpuluhan, Bugisan, Mantrijeron, dan
sebagainya. Mulai berkembang jaringan jalan yang lebih menjangkau persebaran
permukiman disekitar sumbu kraton. Akan tetapi, kondisinya mengalami kerusakan yang
diakibatkan oleh gempa besar yang terjadi pada tahun 1812. Untuk fasilitas transportasi
pada tahun 1872 sudah mulai berdiri Stasiun Lempuyangan dan diikuti dengan berdirinya
Stasiun Yogyakarta (Tugu) di tahun 1887.

Periode Kemerdekaan 1876-1950

13

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

Pada periode kemerdekaan di Kota Yogyakarta, orientasi bangunan yang ada masih
mengikuti garis kosmik poros Utara-Selatan yang membentang ke Alun-Alun Utara
Keraton Yogyakarta menuju Alun-Alun Selatan. Selanjutnya, garis itu melintas ke Bantul
sebelum akhirnya menuju Laut Selatan. Bagian depan menghadap ke arah bagian depan
menghadap kearah Gunung Merapi di sebelah utara dan bagian belakang menghadap ke
Pantai Selatan. Kota Yogyakarta pada periode kemerdekaan memiliki jaringan jalan yang
berpusat pada keratin, hal ini juga dipengaruhi dari orientasi bangunan yang mengikuti
garis kosmik poros Utara-Selatan yang menjadikan jaringan jalan lebih memusat pada
komplek keratin. Mulai berkembang jaringan rel yang disukung dengan dibangunnya du
stasiun yakni stasiun Lempuyangan dan Stasiun Tugu.

Gambar 10. Perkembangan Kota Yogyakarta Periode Kemerdekaan

Sumber: Sejarah Struktur Ruang Kota Yogyakarta, anonim; 2010

14

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

Periode Pasca Kemerdekaan tahun 1950-1970


Secara umum dari ciri fisik kraton Yogyakarta dan sekitarnya pada periode ini tidak
memiliki perubahan atau perkembangan yang berarti. Pada masa ini perkembangan
dalam keadaan stagnan dan tidak begitu mengalami perubahan karena kondisi
pemerintahan Indonesia pada saat itu yang tidak stabil. Dari ciri fisik Kraton masih
menjadi elemen utama dari perkembangan sekitarnya. Perkembangan ini terlihat dari
mulai munculnya berbagai kegiatan-kegiatan baru seperti munculnya pusat-pusat
pendidikan formal maupun informal disekitar sumbu utama kraton. Disisi lain, kegiatan
di jalan malioboro juga semakin berkembang dengan munculnya hotel-hotel yang
dibangun guna kepentingan para wisatawan colonial pada masa itu. Jaringan jalan
mulai kompleks, berpusat di kraton dengan bentuk lingkaran konsentris. Dengan
sumbu utama menghubungkan Kraton, Krapyak, Pantai Selatan , Tugu dan Arah
Gunung Merapi.

Gambar 11. Kota Yogyakarta tahun 1970

Sumber: Wibawa Bayu Ari, 2002.

Masa Kini (1970-Sekarang)

15

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

Jaringan jalan sudah kompleks, pola utama atau struktur utama terpusat di kraton
dengan bentuk lingkaran konsentris. Dengan sumbu utama menghubungkan Kraton,
Krapyak, Pantai Selatan , Tugu dan Arah Gunung Merapi.

Gambar 12. Jaringan Jalan Lingkar Dalam dan Luar di Kota Yogyakarta

Sumber: Bahan Kajian Jaringan Jalan Yogyakarta

2.2.3. Pertumbuhan yang Didorong oleh Perkembangan Jaringan Transportasi Rel


Salah satu sarana transportasi yang menunjang perekonomian Jawa adalah
kereta api. Kereta api menjadi salah satu moda transportasi yang mampu
menghubungkan sejumlah daerah. Jalur pertama Semarang Kedungjati diresmikan
pada tahun 1871, selanjutnya jalur Batavia Buitenzorg dibuka pada 1873 dan jalur
Surabaya Batavia pada tahun 1878 ( Lombard, 2000 : 139 140). Pembukaan jalur
kereta api ini menandai kian berkembangnya perekonomian di Pulau Jawa.
Pengembangan moda transportasi kereta api pada awalnya dihubungkan
dengan sejumlah daerah yang memiliki potensi. Salah satunya adalah Yogyakarta.
Pembangunan rel kereta api di Yogyakarta berkaitan dengan potensi sumber daya alam
di Yogyakarta, yaitu perkebunan. Potensi yang dimiliki ini tentunya berhubungan dengan
lapisan tanah di daerah ini. Sularto (1976 : 24) menyebutkan jika jenis tanah yang ada di
Yogyakarta terdiri dari 5 jenis, yaitu Regosol, Latertic, Limestone, Gromosol dan Alluvial.
Tanah yang memiliki kualitas baik untuk ditanami adalah tanah Regosol, yaitu
tipe Grey, Young Sandyloan (Y A 3) dan Grey, Young Clay loan (Y A 4). Sularto (1976 : 25)
menegaskan bahwa tanah type Grey, Young Sandyloan (Y A 3) sangat baik untuk tebu
dan padi, serta paling cocok untuk tembakau. Tanah ini terdapat di dataran Merapi di
Sleman dan Bantul.

16

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

Sementara tanah Grey, Young Clay loan (Y A 4) memiliki sedikit perbedaan dalam
tanaman. Tanah ini dapat digolongkan sebagai tanah tanah yang produktivitasnya
sangat tinggi dan cocok sekali untuk tebu dan padi. Tanah ini terdapat di daerah pantai
di Bantul (Sularto, 1976 : 25).

Gambar 13Jembatan Kereta Api di atas Kali Progo Tahun


1896 (Sumber: KITLV)

Potensi ini pula yang membuat pihak NISM memutuskan untuk mengajukan
konsesi guna membangun jalur rel kereta api yang menghubungkan Semarang, Surakarta
dan Yogyakarta. Daerah ini adalah daerah yang kaya akan komoditas ekspor. Mereka
berani mengajukan permohonan konsesi itu atas dasar pertimbangan bahwa wilayah
yang akan dilalui oleh jalan rel itu, yaitu daerah daerah Semarang Selatan, Surakarta
dan Yogyakarta merupakan daerah penghasil barang ekspor yang kaya seperti kayu,
tembakau dan gula. Barang barang ekspor itu perlu diangkut ke pelabuhan Semarang
(Tim Telaga Bakti Nusantara, 1997 : 53).
Potensi agraris ini pula yang mendorong berdirinya sejumlah pabrik gula di
kawasan Bantul. Tercatat ada 4 pabrik gula di Bantul. Kusumaningsih (2006 : 59)
menyatakan bahwa pabrik pabrik gula di Kabupaten Bantul berada di Bantul, Gesikan,
Pundung dan Gondang Lipuro.
Keberadaan pabrik gula tersebut mampu menarik sejumlah pihak pengusaha
swasta untuk mengajukan konsesi pembangunan jalur trem. NIS mengadakan perluasan
jalur yang menghubungkan Yogyakarta dengan Brosot (Tim Telaga Bakti Nusantara,
1997: 71). Jalur ini dimulai dari Stasiun Tugu dan berakhir di Kabupaten Adikarto (Brosot).
Kusumaningsih (2006 : 59) menyebutkan Jalur KA Yogyakarta Brosot merupakan jalur
trem NISM dari jalur utama Semarang Vorstelanden. Lebar rel yang digunakan
berukuran 1.435 mm. Pembangunan jalur itu berdasarkan Gouvernement Besluit No.9
tahun 1893 tanggal 20 April 1893 untuk pengajuan konsesi selama 50 tahun.

17

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

Pembangunan jalur ini berlangsung secara bertahap. Tahap pertama jalur yang
dibangun adalah jalur Kota Yogyakarta Srandakan dan jalur kedua Srandakan Brosot.
Tahap ini diungkapkan dalam Kusumaningsih ( 2006 : 59) Pembangunan jalur trem
Yogya Brosot, terbagi menjadi 2 bagian pembangunan, bagian pertama dibangun dari
Yogyakarta (Tugu) ke Srandakan sepanjang 23 km, mulai beroperasi pada tahun 1895.
Bagian ke 2 dari Srandakan ke Brosot sepanjang 2 km, mulai beroperasi pada tahun
1915. Tahapan pembangunan tersebut dimuat juga dalam peta tahapan pembangunan
rel di Jawa yang terdapat pada lampiran buku Sejarah Perkeretapian Indonesia Jilid 1.
Peta pertama tahun 1899 memuat jalur Kota Yogyakarta Srandakan. Pada peta tahun
1925 memuat jalur Kota Yogyakarta Sewugalur.

Gambar 14Emplasemen kereta dekat Pabrik Gula Bantul


Tahun 1898
(Sumber : KITLV)

Jalur yang cukup panjang ini tentunya membutuhkan sejumlah stasiun. Maka
didirikanlah sejumlah stasiun kecil untuk memperpendek jalur pengangkutan.
Kusumaningsih (2006 : 70) menyebutkan bahwa sepanjang jalur trem Yogyakarta
Brosot dibangun beberapa stasiun kecil untuk memperpendek jalur pengangkutan
kereta api. Stasiun stasiun tersebut adalah stasiun Ngabean, Dongkelan, Winongo,
Cepit, Bantul dan Paalbapang.
Tentang pendirian stasiun stasiun tersebut, belum ditemukan sumber
sumber yang menuliskan tentang rincian dari tahun pendirian. Pembangunan stasiun ini
juga diikuti dengan mendirikan sejumlah rumah dinas yang ditempati para pengelola
stasiun.
Stasiun Tugu adalah stasiun kereta api terbesar di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Stasiun ini mengangkut penumpang dan juga barang-barang untuk kegiatan industri.
Stasiun ini juga merupakan stasiun utama pemberhentian jalur luar kota. Hal ini
tentunya berperngaruh bagi kehidupan masyarakat yang tinggal disekitar stasiun dalam
berbagai bidang. Hal yang paling dominan adalah perkembangan di bidang ekonomi.
Adanya stasiun tentu mendongkrak kehidupan ekonomi masyarakat. Lapangan kerja
18

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

terbuka luas, mulai dari pedagang asongan, penjual jasa (becak, delman, angkutan
umum, dll) hingga ke tempat makan dan tempat penjual cinderamata. Lama-kelamaan
dibangun perumahan bagi para pedagang dan pekerja yang berlapangan kerja disekitar
stasiun. Hal ini tentunya membuat stasiun menjadi pusat kegiatan hingga radius
tertentu sekitar wilayah stasiun. Keberadaan stasiun juga berpengaruh pada sosial dan
budaya masyarkat setempat. Kedatangan wisatawan lokal maupun asing pun tentunya
mempengaruhi aktivitas masyarakat setempat. Perlahan-lahan kualitas sumber daya
manusia setempat meningkat mengikuti perkembangan sosial budaya yang
berkembang. Contohnya saja bahasa Jawa yang digunakan sebagai bahasa sehari-hari
masyarakat Kota Yogyakarta lama-lama berkembang. Masyarakat sedikit demi sedikit
mempelajari bahasa inggris sehingga dapat berkomunikasi dengan wisatawan asing
yang datang.

Gambar 16 Tampak Depan Stasiun Tugu


Aumber: Panoramio.com

Gambar 15 Tampak Depan Stasiun Lempuyangan


Sumber: lajoners.blogspot.com

Begitu pula disekitar Stasiun Lempuyangan, stasiun kedua di Kota Yogyakarta


yang beraktivitas khusus untuk kereta dengan kelas bisnis dan ekonomi. Mayoritas
penumpangnya adalah masyarakat ekonomi rendah ke bawah yang bermata
19

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

pencaharian sebagai pedagang dan juga mahasiswa. Hal ini berpengaruh kepada
wilayah sekitar Stasiun Lempuyangan, sehingga tebentuk pasar lokal Lempuyangan
yang terletak di dekat Stasiun. Hal ini membuktikan bahwa pergerakan penumpang rel
kereta api pada stasiun Lempuyangan berpengaruh aktif pada pergerakan masyarakat
di sekitar stasiun. Lama-kelamaan perkembangan masyarakat asli pun dipengaruhi oleh
masyarakat pendatang yang bekerja sebagai pedagang. Walaupun masyarakat
pendatang tersebut datang dari wilayah sekitar Yogyakarta, hal ini tetap membawa
pengaruh bagi perkembangan sosial-budaya maupun ekonomi masyarakat Kota
Yogyakarta, khususnya mereka yang bermukim disekitar stasiun.

20

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

3. Kesimpulan
Setelah membahas ketiga aspek tranportasi yang mempengaruhi pertumbuhan Kota
Yogyakarta, maka dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan suatu kota tidak luput dari jaringan yang
dibentuk oleh infrastruktur transportasi dan keterjangkauan pelayanan yang mampu diberikan. Kota
Yogyakarta memiliki bandar udara yang melayani rute internasional, sehingga mendorong wisatawan
asing untuk mengunjungi kota ini. Akibat dari keberadaan bandara tersebut adalah munculnya berbagai
fasilitas yang menunjang aktivitas pariwisata di sekitar Bandara Adisucipto, seperti hotel, restoran,
swayalayan, dan lain sebagainya. Di masa depan, seiring dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang
diprediksi masuk melalui Bandara Adisucipto maka dapat diperkirakan pula jumlah investor yang akan
menanamkan modalnya di sekitar kawasan bandara semakin meningkat dan menambah jumlah
kawasan terbangun. Pertumbuhan yang disebabkan oleh adanya infrastruktur tranportasi darat dibagi
atas dua aspek, yaitu: pertumbuhan yang disebabkan oleh perkembangan jalur rel kereta api dan
perkembangan ringroad atau jalan lingkar. Lingkungan di sekitar stasiun didominasi oleh warga yang
berprofesi sebagai pedangang yang sehari-hari menjajakan dagangan di sekitar stasiun maupun warga
yang menawarkan jasa transportasi tradisional yang menjadi ciri khas Yogyakarta. Kenampakan periferi
Kota Yogyakarta yang berada di tepi ringroad mencirikan bahwa keberadaan jalan raya mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan permukiman. Fenomena ini juga menandakan bahwa
urban sprawl yang terjadi di Kota Yogyakarta merembet hingga ke wilayah yang berbatasan langsung,
yaitu Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul.

21

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

Daftar Pustaka

abdurrahman4161120040. (2014, Oktober 30). Perkembangan Kota Yogyakarta. Diambil kembali


dari abdurrahman4161120040:
https://abdurahman4161120040.wordpress.com/2013/01/01/perkembangan-kotayogyakarta/
Admin. (2014, November 2). Provinsi D.I. Yogyakarta. Diambil kembali dari Badan Pusat Statistik
Provinsi D.I. Yogyakarta:
http://yogyakarta.bps.go.id/index.php?r=site/page&view=sosduk.tabel.3-1-3
godam64. (2014, November 2). Daftar Nama Kecamatan di Provinsi D.I. Yogyakarta. Diambil kembali
dari Ilmu: http://www.organisasi.org/1970/01/daftar-nama-kecamatan-kelurahan-desakodepos-di-kota-kabupaten-yogyakarta-di-yogyakarta-Kota Yogyakarta.html
Heryanto, B. (2014, November 3). Komunitas Pintu Gerbang : Pengaruh Tipomorfologi Permukiman
Terhadap Pola Spasial. Diambil kembali dari Interseksi:
http://interseksi.org/archive/publications/essays/articles/komunitas_pintu_gerbang.html
Huriati, N. (2008). Perkembangan Daerah Pinggiran Kota Yogyakarta Departemen Geografi.
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Depok: Universitas Indonesia.
sijunitacahyawati. (2014, November 2). Perkembangan Daerah Pinggiran Kota Yogyakarta : Core
Periphery Theory. Diambil kembali dari Scribd:
https://www.scribd.com/doc/51393689/Perkembangan-Daerah-Pinggiran-Kota-YogyakartaCore-Periphery-Theory
Suharto, T. (2014, November 2). Analisis Pola Permukiman Dalam Pengembangan Wilayah Daerah
Istimewa Yogyakarta. Diambil kembali dari Widyaiswara Daerah Istimewa Yogyakarta:
http://totoksuharto.blogspot.com/2010/02/analisis-pola-permukiman-dalam.html
Unjianto, B. (2014, Oktober 29). Perkembangan Kota Kota Yogyakarta Mengarah Ke Sleman. Diambil
kembali dari Suara Merdeka online:
http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/12/29/139577/Perkembang
an-Kota-Kota Yogyakarta-Mengarah-ke-Sleman

22

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

LAMPIRAN

Tabel Perkembangan Jaringan Transportasi di Kota Yogyakarta

23

TABEL PERKEMBANGAN JARINGAN TRANSPORTASI DI KOTA YOGYAKARTA


Aspek

Jaringan
Transportasi
Udara
(Bandara)

Jaringan Rel
Kereta Api

Sebelum Tahun
1756

Masa Kolonial 17561876

Belum terdapat
bandara

Belum terdapat
bandara

Masa Kolonial (18761945)

Belum terdapat
kereta api

Berkembangnya
transportasi
umber tenaga
mekanik seperti
kapal uap dan
kereta api pada
tahun 18001860.
Jalur pertama
Semarang
Kedungjati
diresmikan
(1871).
Jalur Batavia
Bitenzorg dibuka
(1873).

Pembangunan
bandara pada tahun
1940.
Pada tahun 1942
bandara beroperasi
untuk pertama
kalinya dan
digunakan oleh
tentara Jepang untuk
meningkatkan
pertahanan pada
masa penjajahan
Jepang.
Jalur Surabaya Batavia dibuka
(1878).
Pembangunan jalur
trem Jogja
Srandakan (1895)
dan Srandakan
Brosot (1915) karena
dibangunnya pabrik
gula.
Peta tahapan
pembangunan rel di
Jawa jalur Jogja
Srandakan (1899).
Peta tahapan
pembangunan rel di

Masa Pasca
Kemerdekaan (19451970)
Pada tahun 1945
Indonesia
berhasil
mengambil alih
bandara dan
digunakan oleh
BKR.
1964, digunakan
untuk kegiatan
militer dan
komersil

Pengelolaan KA
dibagi menjadi 2,
daerah yang
dikuasai
Indonesia
dikelola oleh DKA
(Djawatan Kereta
Api) sedangkan
daerah yang
dikuasai Belanda
dikelola oleh VS
(Verenogde
Spoorwegbedrijf)
/ SS (Staats
Spoorwegen).

Tahun 1970-2000

Masa Kini (Tahun 2000sekarang)

Perluasan terminal
bandara pada tahun
1972 dan 1977 untuk
meningkatkan
kapasitas
penumpang dan
pesawat.

Jalur Yogya Brosot


mulai tidak
beroperasi (19761977).
Muncul kendala
seperti penumpang
gelap, kerusakan
lokomotif maupun
rel.
Dibukanya stasiun
pertama di Jogja,
Stasiun
Lempuyangan pada
2 Maret 1872 oleh
Pemerinta Hindia
Belanda, melayani

Jalur Bus Trans Jogja


dibuka di Bandara
Adisutjipto pada tahun
2007 untuk membantu
mobilitas transportasi
penunjang menuju dan
dari bandara.
2008, dideklarasikan
sebagai bandara
internasional.

Stasiun Tugu telah


melayani empat kelas
kereta dan jalur komuter
bagi penumpang.
Stasiun Lempuyangan
melayani semua KA
ekonomi yang melintasi
Yogyakarta.

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

Jaringan Jalan
(Ring Road)

Pola jaringan
jalan sudah
terbentuk dan
lebih terfokus
pusat kraton
yang
membentuk
sumbu utara
selatan dan
barat timur.

Kondisi jaringan
jalan rusak yang
diakibatkan oleh
gempa besar
pada tahun 1812.
Mulai
berkembang
jaringan jalan
yang lebih
menjangkau
persebaran
permukiman
disekitar sumbu
kraton.

Jawa jalur Jogja


Sewugalur (1925).
Penghapusan jalur
dan pembongkaran
rel kereta api jalur
Palbapang
Sewugalur sepanjang
15 km pada
penguasaan Jepang
(1943).

Mulai berkembang
jaringan rel yang
disokong dengan
dibangunnya dua
stasiun yakni stasiun
Lempuyangan dan
Stasiun Tugu.
Jaringan jalan yang
berpusat pada
keraton, hal ini juga
dipengaruhi dari
orientasi bangunan
yang mengikuti garis
kosmik poros UtaraSelatan yang
menjadikan jaringan
jalan lebih memusat

Pengakuan
kedaulatan
memberi dampak
perubahan dalam
pengelolaan
kereta api (27
Desember 1949).
Secara de facto,
semua aset VS
diambil alih oleh
DKA (1950).
Diperkuat
dengan
Peraturan
Pemerintah
Republik
Indonesia Nomor
40 dan 41 tahun
1959.
Jaringan jalan mulai

kompleks, berpusat di
kraton dengan
bentuk lingkaran
konsentris. Dengan
sumbu utama

menghubungkan
Kraton, Krapyak,
Pantai Selatan, Tugu
dan Arah Gunung
Merapi.

rute Jogja
Semarang.
Stasiun Tugu
Yogyakarta dibuka
pada tahun 1887.
Pada awalnya
digunakan untuk
transit kereta
pengangkut hasil
bumi, namun sejak
1905 mulai
digunakan untuk
mengangkut
penumpang.

Permukiman pada
zona utara
didominasi di bagian
selatan dan utara
dari zona utara.
Permukiman pada
zona selatan
didominasi di bagian
utara (perbatasan
kota), namun di
sekitar jalur ringroad
selatan masih
didominasi
persawahan.
Di jalur ringroad
zona barat masih
didominasi oleh

Lahan hijau di zona utara


berkurang dan
didominasi oleh
permukiman.
Perkembangan
permukiman yang pesat
di sekitar jalur ringroad
dikarenakan tumbuhnya
perguruan-perguruan
tinggi.
Jalur-jalur transportasi
menyebabkan
munculnya permukiman
namun tergolong lambat
pada zona selatan.
Zona barat didominasi
oleh permukiman dan

PERTUMBUHAN KOTA YOGYAKARTA YANG DIPENGARUHI OLEH PERKEMBANGAN TRANSPORTASI

pada komplek
keraton.

lahan persawahan,
dan terdapat 3 jalur
transportasi utama.
Yang berkembang di
jalur ringroad timur
di zona timur yaitu
perbatasan kota
dengan Kec.
Banguntapan.

lahan hijau hanya


terdapat di bagian utara
dan selatan saja.
Jalur-jalur transportasi
dan simpul yang
menguntungkan (daerah
perbatasan kota)
merupakan daerah yang
didominasi oleh
permukiman pada zona
timur.