Anda di halaman 1dari 15

Kecelakaan Kerja pada Pekerja Konstruksi Bangunan

Stevany Roselim 102013318


Pamela Vasikha 102013407
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara no. 6 Jakarta Barat
stevanyroselim@rocketmail.com & Pamelavasikha@yahoo.com

Pendahuluan
Pada skenario 10, di suatu perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi, mempunyai
proyek pembangunan mall dimana karyawan yang bekerja ada sekitar 500 orang terdiri dari
berbagai bidang pendidikan dan jabatan. Ada sekitar 200 orang sebagai tenaga pelaksana kasar,
yang pendidikannya hanya SD yang berasal dari desa. Dari laporan tenaga kesehatan di
perusahaan tersebut, telah terjadi beberapa kecelakaan kerja, terutama yang tersering adalah kaki
tertusuk paku; padahal oleh perusahaan sudah di tetapkan setiap pekerja yang masuk ke
kompleks pembangunan diharuskan memakai helm dan memakai sepatu khusus. Selain itu,
sudah ada sekuriti yang mengawasi pekerja tersebut, tetapi sering kali para karyawan tidak
mematuhi aturan untuk memakai alat pelindung diri (APD) tersebut.
Di seluruh dunia, terdapat lebih dari 2,6 milyar pekerja dan tenaga kerja yang terusmenerus berkembang. Sekitar 75% nya merupakan pekerja di negara sedang berkembang yang
risiko di tempat kerjanya jauh lebih parah. Setiap tahun terdapat sekitar 250 juta kasus cedera
akibat kerja yang mengakibatkan 330.000 kematian. Jika kita masukkan juga kasus penyakit
akibat pekerjaan, kira-kira 1,1 juta orang di seluruh dunia meningeal setiap tahunnya. Setiap
tahun sekitar 160 juta kasus baru penyakit terkait pekerjaan terjadi di seluruh dunia. Semua
perkiraan itu tentu saja berada di bawah angka sebenarnya karena laporan dari berabgai wilayah
di dunia tidak dapat reliabel.1
Tenaga manusia sebagai salah satu faktor produksi di perusahaan, merupakan satu kesatuan
biologis yang mempunyai peran sama dengan faktor produksi lainnya (dana permodalan, alat
produksi, dan sebagainya). Karena itu pemeliharaan dan pengembangan tenaga manusia,
memerlukan perhatian khusus di samping perhatian terhadap faktor produksi lainnya. Tanpa
pemeliharaan dan pengembangan tenaga manusia, pemeliharaan dan pengembangan faktor
produksi lainnya, tidak akan punya arti apa-apa ditinjau dari produktivitas kerja di perusahaan.2
1

Kecelakaan kerja pada manusia bukan terjadi, tapi disebabkan oleh kelemahan di sisi
majikan, pekerja, atau keduanya. Akibat yang ditimbulkannya dapat memunculkan trauma bagi
keduanya: bagi pekerja, cedera dapat berpengaruh terhadap pribadi, keluarga, dan kualitas
hidupnya, sedangkan bagi majikan, berupa kerugian produksi, waktu terbuang untuk
penyelidikan, dan yang terburuk biaya untuk proses hukum.3

Definisi Kecelakaan Kerja


Yang dimaksud kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak disengaja seperli kejadiankejadian yang tidak diharapkan dan tidak terkontrol. Kecelakaan tidak selalu berakhir dengan
luka fisik dan kematian. Kecelakaan yang menyebabkan kerusakan peralatan dan material dan
khususnya yang menyebabkan luka perlu mendapat perhatian terbesar. Semua kecelakaan tanpa
melihat apakah itu menyebabkan kerusakan ataupun tidak perlu mendapatkan perhatian.
Kecelakaan yang tidak menyebabkan kerusakan peralatan, material dan kecelakaan fisik dari
personil kerja dapat menyebabkan kecelakaan lebih lanjut.4
Dalam peraturan Menteri Tenaga Kerja No. 3 Tahun 1998 tentang Tata Cara Pelaporan dan
Pemeriksaan Kecelakaan, kecelakaan adalah suatu kejadian yang tidak dikehendaki dan tidak
diduga semula yang dapat menimbulkan korban manusia dan atau harta benda. Dan tempat kerja
merupakan tiap ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga
kerja bekerja, atau yang sering dimasuki tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana
terdapat sumber cahaya.5
Definisi kecelakaan kerja lainnya adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan. Tidak terduga maksudnya tidak dilatar belakangi unsur kesengajaan, dan tidak
direncanakan, karenanya peristiwa sabotase ataupun kriminalitas adalah di luar niang lingkup
keeelakaan. Tidak diharapkan, sebab peristiwa kecelakaan disertai oleh kerugian material
ataupun penderitaan dari yang paling ringan sampai yang paling berat.2
Kecelakaan akibat kerja adalah kecelakaan yang ada hubungannya dengan kerja, dalam
kecelakaan terjadi karena pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan. Dengan demikian
muncul dua permasalahan:2
a. Kecelakaan sebagai akibat langsung dari pekerjaan atau;
b. Kecelakaan terjadi saat mclakukan pekerjaan.
Adakalanya ruang lingkup keeelakaan kerja diperluas, sehingga meliputi kecelakaan tenaga
kerja pada saat perjalanan dari dan ke tempat kerja. Kecelakaan di rumah, atau pada waktu
rekreasi dan cuti berada di luar makna kecelakaan kcrja, sekalipun pencegahannya sering
2

disertakan dalam program keselamatan kerja/kesclamatan perusahaan. Keeelakaan demikian,


termasuk kecelakaan umum yang mcnimpa tenaga kcrja di luar pekerjaannya.2

Teori Kecelakaan Kerja


a. Teori Domino Heinrich
Teori ini diperkenalkan oleh W.H Heinrich, tahun 1931. Menurut Heinrich, 88%
penyebab kecelakaan kerja adalah unsafe act (tindakan tidak aman), 10% disebabkan oleh unsafe
conditions (kondisi tidak aman). Dan 2% adalah unavoidable (hal yang tidak dapat dihindari).6

Gambar 1.1 Heinrichs Domino Theory3

Teori domino terdiri dari 5 elemen yaitu:2,6


Situasi kerja = karakter negatif dari seseorang untuk berperilaku tidak aman, seperti ceroboh.
Selain itu pengaruh lingkungan sosial juga dapat menyebabkan seseorang membuat kesalahan
- pengendalian manajemen yang kurang
- standar kerja yang minim
- tidak memenuhi standar

Kesalahan orang = karakter negatif yang menyebabkan kesalahan pada seseorang merupakan
alasan untuk melakukan tindakan tidak aman.
- keterampilan dan pengetahuan yang minim
- masalah fisik atau mental
- motive yang minim atau salah pencrnpatan
- perhatian yang kurang

Tindakan tidak aman = tindakan tidak aman seseorang seperti berdiri di ketinggian,
menyalakan mesin tanpa prosedur yang benar, bahaya mekanik dan fisik.
3

tidak mengikuti metode kerja yang telah disetujui


mengambil jalan pintas
menyingkirkan atau tidak menggunakan perlengkapan keselamatan kerja.

Kecelakaan
- kejadian yang tidak terduga
- akibat kontak dengan mesin atau listrik yang berbahaya
- terjatuh
- terhantam mesin atau material yang jatuh, dan sebagainya.

Cedera/kerusakan = cedera yang merupakan hasil dari kecelakaan


- terhadap pekerja: sakit dan penderitaan & kehilangan pendapatan kehilangan kualitas hidup
- terhadap majikan: kerusakan pabrik, pembayaran kompensasi kerugian produksi,
kemungkinan proses pengadilan.
Kunci dari pencegahan kecelakaan menurut teori Domino adalah dengan menghilangkan

factor utama penyebab kecelakaan yaitu unsafe act (tindakan tidak aman).6
b. Teori Multiple Causation6
Groos menyatakan bahwa kecelakaan kerja disebabkan oleh banyak factor. Faktor-faktor
yang berkontribusi mencakup 4M, yaitu man, machine, media, dan management. Faktor man
atau man atau manusia meliputi usia, gender, kemampuan, keterampilan, pelatihan yang pernah
diikuti, kekuatan, motivasi, keadaan emosi, dan lain-lain. Faktor machine atau mesin meliputi
ukuran, bobot, bentuk, sumber energi, cara kerja, tipe gerakan, dan bahan mesin itu sendiri.
Sedangkan faktor media meliputi lingkungan kerja misalnya suhu, kebisingan, getaran, gedung,
jalan, ruang kerja, dan sebagainya. Dan faktor management adalah konteks dimana ketiga faktor
berada dan dijalankan, meliputi gaya manajemen, struktur organisasi, komunikasi, kebijakan dan
prosedur-prosedur lain yang dijalankan di organisasi.
c. Teori Gordon7
Menurut Gordon (1949), Kecelakaan terjadi karena adanya kontak diantara 3 (tiga) hal
yaitu korban kecelakaan, perantara terjadinya kecelakaan dan lingkungan yang kompleks. Untuk
itu, untuk lebih memahami mengenai penyebab terjadinya kecelakaan, harus diketahui
karakteristik dari korban kecelakaan, perantara dan lingkungan secara detail.
d. Teori Reason6
Reason menyatakan bahwa kecelakaan terjadi akibat kelalaian atau kesalahan manusia.
Penyebab kelalaian atau kesalahan manusia dibagi menjadi 4 oleh James Reason, yaitu:
Pengaruh organisasi (organizational influences)
4

Pengawasan yang tidak aman (unsafe supervision) yaitu tidak ada tindakan lebih lanjut
dari pihak pengawasan terhadap kondisi yang berpotensi untuk memulai, memperburuk dan
memfasilitasi suatu peristiwa yang tidak diinginkan.
Prakondisi yang dapat menyebabkan tindakan tidak aman (preconditions for unsafe act)
yaitu situasi atau kondisi yang berpotensi untuk memulai, memperburuk, dan memfasilitasi
suatu peristiwa yang tidak diinginkan.
Tindakan tidak aman (unsafe act) yaitu tindakan yang menyimpang atau tidak sesuai
dengan prosedur kerja yang telah ditentukan.
e. Teori Frank E Bird Peterson7
Kecelakaan terjadi karena adanya kontak dengan suatu sumber energy seperti mekanis,
kimia, kinetic, fisis yang dapat mengakibatkan cedera pada manusia, alat maupun lingkungan.
Selanjutnya teori ini dikembangkan oleh Derek Viner (1998) melalui Konsep Energi. Konsep ini
menyebutkan bahwa kecelakaan terjadi akibat energi yang lepas dan mengenai si penerima.
Seperti kita ketahui bersama bahwa energy di ala mini tersaji dalam beberapa bentuk misalnya
mekanis, kimia, kinetic, radiasi, dan lain-lain. Cedera terjadi karena energy yang mengenai
penerima melebihi ambang batas kemampuan penerima.

Penyebab Kecelakaan
Menurut Bennett (1991), di dalam setiap kejadian kecelakaan kerja, empat faktor
bergerak dalam satu kesatuan berantai, yakni a) faktor lingkungan, b) faktor bahaya, c) faktor
peralatan dan perlengkapan, dan d) faktor manusia. Cara penggolongan sebab-sebab kecelakaan
di berbagai Negara tidak sama. Namun ada kesamaan umum, yaitu kecelakaan disebabkan oleh
dua golongan penyebab, antara lain:2,3
a. Penyebab Langsung6
Kondisi tidak aman
Kondisi tidak aman (unsafe condition) adalah kondisi di lingkungan kerja baik
alat, material, atau lingkungan yang tidak aman dan membahayakan. Kondisi tidak aman dapat
disebabkan oleh berbagai hal seperti:
-

peralatan yang sudah tidak layak pakai


ada api di tempat kerja
pengamanan gedung yang kurang standar
terpapar bising
terpapar radiasi
pencahayaan dan ventilasi yang kurang atau berlebihan
5

kondisi suhu yang membahayakan


sifat pekerjaan yang mengandung potensi bahaya

Tindakan tidak aman


Tindakan tidak aman (unsafe act) adalah tindakan yang dapat membahayakan
pekerja itu sendiri maupun orang lain yang dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan. Tindakan
tidak aman dapat disebabkan oleh berbagai hal berikut:
-

Ketidak seimbangan fisik tenaga kerja, seperti:


a. Posisi tubuh yang menyebabkan mudah lelah
b. Cacat fisik
c. Cacat sementara
d. Kepekaan panca indera terhadap sesuatu

Kurang pendidikan
a. Kurang pengalaman
b. Salah pengertian terhadap suatu perintah
c. Kurang terampil
d. Salah mengartikan SOP (standart operational procedure) sehingga
mengakibatkan kesalahan pemakaian alat kerja

Menjalankan pekerjaan tanpa mempunyai kewenangan


Menjalankan pekerjaan yang tidak sesuai dengan keahliannya
Pemakaian alat pelindung diri (APD) tidak benar
Mengangkut beban yang berlebihan
Bekerja berlebihan atau melebihi jam kerja

b. Penyebab tidak langsung4


Fungsi manajemen proyek.
Kondisi pekerja

4 faktor yang bergerak dalam satu kesatuan (menurut Bennett):5


a. Faktor Manusia5
Umur/usia
Usia muda relative lebih mudah terkena kecelakaan kerja dibandingkan dengan
usia lanjut yang mungkin dikarenakan sikap ceroboh dan tergesa-gesa. Pengkajian usia
dan kecelakaan akibat kerja menunjukkan angka kecelakaan pada umumnya lebih rendah
6

dengan bertambahnya usia, tetapi tingkat keparahan cedera dan penyembuhannya lebih
serius.
Jenis Kelamin
Tingkat kecelakaan akibat kerja pada perempuan akan lebih tinggi daripada pada
laki-laki. Perbedaan kekuatan fisik antara perempuan dengan kekuatan fisik laki-laki
adalah 65%. Secara umum, kapasitas kerja perempuan rata-rata sekitar 30% lebih rendah
dari laki-laki. Tugas yang berkaitan dengan gerak berpindah, laki-laki mempunyai waktu
reaksi lebih cepat daripada perempuan.
Koordinasi Otot
Koordinasi otot berpengaruh terhadap keselamatan pekerja. Diperkirakan
kekakuan dan reaksi yang lambat berperan dalam terjadinya kecelakaan kerja.
Kecenderungan Celaka
Konsep popular dalam penyebab kecelakaan adalah accident prone theory.
Teori ini didasarkan pada pengamatan bahwa ada pekerja yang lebih besar mengalami
kecelakaan dibandingkan pekerja lainnya. Hal ini disebabkan karena ciri-ciri yanga ada
dalam pribadi yang bersangkutan (ILO,1979).
Pengalaman Kerja
Semakin banyak pengalaman kerja dari seseorang, maka semakin kecil
kemungkinan terjadinya kecelakaan akibat kerja. Pengalaman untuk kewaspadaan
terhadap kecelakaan kerja bertambah baik sesuai dengan usia, maka kerja atau lamanya
bekerrja di tempat yang bersangkutan.

Tingkat Pendidikan
Pendidikan formal dan pendidikan non-formal akan mempengaruhi peningkatan
pengetahuan pekerja dalam menerima informasi dan perubahan, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Tuntutan pekerjaan atau job requirements pada seorang pekerja
adalah:
1. Pengetahuan (pengetahuan dasar dan spesifik tentang pekerjaan).
2. Fungsional (keterampilan dasar dan spesifik dalam mengerjakan suatu pekerjaan).
7

3. Afektif (kemampuan dasar dan spesifikasi dalam suatu pekerjaan).

Kelelahan
Kelelahan dapat menimbulkan kecelakaan kerja pada suatu industri. Kelelahan
merupakan suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup lagi untuk melakukan
aktivitasnya. Kelelahan ini ditandai dengan adanya penurunan fungsi-fungsi kesadaran
otak dan perubahan pada organ di luar kesadaran. Kelelahan disebabkan oleh berbagai
hal, antara lain kurang istirahat, terlalu lama bekerja, pekerjaan rutin tanpa variasi,
lingkungan kerja yang buruk serta adanya konflik.
b. Faktor lingkungan5
Lokasi/Tempat Kerja
Tempat kerja adalah tempat dilakukannya pekerjaan bagi suatu usaha, dimana
terdapat tenaga kerja yang bekerja, dan kemungkinan adanya bahaya kerja di tempat itu.
Disain di lokasi kerja yang tidak ergonomis dapat menimbulkan kecelakaan kerja. Tempat
kerja yang baikapabila lingkungan kerja aman dan sehat.
Peralatan dan Perlengkapan
Proses produksi adalah bagian dari perencanaan produksi. Langkah penting dalam
perencanaan adalah memilih peralatan dan perlengkapan yang efektif sesuai dengan apa
yang diproduksinya. Pada dasarnya peralatan/perlengkapan mempunyai bagian-bagian
kritis yang dapat menimbulkan keadaan bahaya, yaitu:5
1. Bagian-bagian fungsional
2. Bagian-bagian operasional

Bagian-bagian mesin yang berbahaya harus ditiadakan denga jalan mengubah


konstruksi, member alat perlindungan. Peralatan dan perlengkapan yang dominan
menyebabkan kecelakaan kerja, antara lain:5
1. Peralatan/perlengkapan yang menimbulkan kebisingan.
2. Peralatan/perlengkapan dengan penerangan yang tidak efektif.
8

3. Peralatan/perlengkapan dengan temperature tinggi ataupun terlalu rendah.


4. Peralatan/perlengkapan yang mengandung bahan-bahan kimia berbahaya.
5. Peralatan/perlengkapan dengan efek radiasi yang tinggi.
6. Peralatan/perlengkapan yang tidak dilengkapi dengan pelindung, dll.

Shift Kerja
Menurut National Occupational Health and Safety Committee, shift kerja adalah
bekerja di luar jam kerja normal, dari Senin sampai Jumat termasuk hari libur dan bekerja
mulai dari jam 07.00 sampai dengan jam 19.00 atau lebih. Shift kerja malam biasanya
lebih banyak menimbulkan kecelakaan kerja dibandingkan dengan shift kerja siang,
tetapi shift kerja pagi-pagi tidak menutup kemungkinan dalam menimbulkan kecelakaan
akibat kerja.
Sumber Kecelakaan
Sumber kecelakaan merupakan asal dari timbulnya kecelakaan, bisa berawal dari
jenis perlatan/perlengkapannya, berawal dari faktor human error, dimana sumber dari
jenis kecelakaan merambat ke tempat-tempat lain, sehingga menimbulkan kecelakaan
kerja.

Manajemen Keselamatan Kerja


Sistem Managemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SMK3) harus diperhatikan
terlebih bagi pemrakarsa supaya proses produksi, peningkatan kualitas dan kendali biaya dapat
terus

dioptimalkan.

Fungsi

managemen

mengarah

di

aspek

kualitas,

produksi,

kecelakaan/kerugian dan biaya. Terdapat 4 program K3 di tempat kerja, yaitu:8


(1) Komitmen manajemen dan keterlibatan pekerja.
(2) Analisis risiko di tempat kerja.
(3) Pencegahan dan pengendalian bahaya.

Menetapkan prosedur kerja berdasarkan analisis, pekerja memahami dan


melaksanakannya.

Aturan dan prosedur kerja dipatuhi.

Pemeliharaan sebagai usaha preventif.

Perencanaan untuk keadaan darurat.

Pencatatan dan pelaporan kecelakaan.

Pemeriksaan kondisi lingkungan kerja.

Pemeriksaan tempat kerja secara berkala.

(4) Pelatihan untuk pekerja, penyelia dan manager.


SMK3 memiliki peran yang cukup penting dalam proses kerja dalam suatu perusahaan
(pemrakarsa). Apabila SMK3 yang diberlakukan tidak cukup baik maka akibatnya dapat dilihat
dari banyaknya pekerja yang mengalami kecelakaan kerja dan juga proses produksi mengalami
kemunduran. Tujuan khusus dari SMK3 adalah mencegah atau mengurangi kecelakaan kerja,
kebakaran, peledakaan dan PAK, mengamankan mesin instalasi, pesawat, alat, bahan dan hasil
produksi, menciptakan lingkungan kerja yang aman, nyaman, sehat dan penyesuaian antara
pekerjaan dengan manusia atau antara manusia dengan pekerjaan. Penerapan K3 yang baik dan
dan terarah dalam suatu wadah industri tentunya akan memberikan dampak lain, salah satunya
adalah sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan optimal.
Tujuan dari Sistem Manajemen K3 adalah:
1. Sebagai alat uniuk mencapai derajat kesehatan tenaga kerja yang setinggi-tingginya, baik
buruh, petani, nelayan, pegawai negeri atau pekerja-pekerja bebas.
2. Sebagai upaya untuk mencegah dan memberantas penyakit dan kecelakaan-kecelakaan
akibat kerja, memelihara, dan meningkatkan kesehatan dan gizi para tenaga kerja,
merawat dan meningkatkan efisiensi dan daya produktifitas tenaga manusia,
memberantas kekelahan kerja dan melipatgandakan gairah serta semangat bekerja.

Pencegahan Kecelakaan Kerja


Berdasarkan konsepsi sebab kecelakaan tersebut diatas, maka ditinjau dari sudut
keselamatan kerja unsur-unsur penyebab kecelakaan kerja mencakup 5 M yaitu:9
10

a. Manusia.
b. Manajemen (unsur pengatur)
c. Material (bahan-bahan)
d. Mesin (peralatan)
e. Medan (tempat kerja / lingkungan kerja)
Saat bekerja, terdapat tiga unsur kelompok, yaitu manusia, perangkat keras dan perangkat
lunak. Oleh karena itu dalam melaksanakan pencegahan dan pengendalian kecelakaan adalah
dengan pendekatan kepada ketiga unsur kelompok tersebut, yaitu:9
1. Pendekatan terhadap kelemahan pada unsur manusia, antara lain:
o Pemilihan / penempatan pegawai secara tepat agar diperoleh keserasian antara
bakat dan kemampuan fisik pekerja dengan tugasnya.
o Pembinaan pengetahuan dan keterampilan melalui training yang relevan dengan
pekerjaannya.
o Pembinaan motivasi agar tenaga kerja bersikap dan bertndak sesuai dengan
keperluan perusahaan.
o Pengarahan penyaluran instruksi dan informasi yang lengkap dan jelas.
o Pengawasan dan disiplin yang wajar.
2. Pendekatan terhadap kelemahan pada perangkat keras, antara lain:
o Perancangan, pembangunan, pengendalian, modifikasi, peralatan kilang, mesinmesin harus memperhitungkan keselamatan kerja.
o Pengelolaan penimbunan, pengeluaran, penyaluran, pengangkutan, penyusunan,
penyimpanan dan penggunaan bahan produksi secara tepat sesuai dengan standar
keselamatan kerja yang berlaku.
o Pemeliharaan tempat kerja tetap bersih dan aman untuk pekerja.
o Pembuangan sisa produksi dengan memperhitungkan kelestarian lingkungan.
o Perencanaan lingkungan kerja sesuai dengan kemampuan manusia.

11

3. Pendekatan terhadap kelemahan pada perangkat lunak, harus melibatkan seluruh level
manajemen, antara lain:
o Penyebaran, pelaksanaan dan pengawasan dari safety policy.
o Penentuan struktur pelimpahan wewenang dan pembagian tanggung jawab.
o Penentuan

pelaksanaan

pengawasan,

melaksanakan

dan

mengawasi

sistem/prosedur
o Kerja yang benar.
o Pembuatan sistem pengendalian bahaya.
o Perencanaan sistem pemeliharaan, penempatan dan pembinaan pekerja yang
terpadu.
o Penggunaan standard/code yang dapat diandalkan.
o Pembuatan sistem pemantauan untuk mengetahui ketimpangan yang ada.
Adapun cara pengendalian lingkungan kerja untuk meminimalisir kecelakaan para
pekerja sebagai berikut:9
o Pengendalian teknik
o Pengendalian administratif
o Menggunakan Alat Pelindung Diri
Berbagai cara yang umum digunakan untuk meningkatkan keselamatan kerja dalam
industri dewasa ini diklasifikasikan sebagai berikut:9
a. Peraturan-peraturan, yaitu ketentuan yang harus dipatuhi mengenai hal-halseperti kondisi
kerja umum, perancangan, konstruksi, pemeliharaan, pengawasan, pengujian dan
pengoperasian peralatan industri, kewajiban-kewajiban para pengusaha dan pekerja,
pelatihan, pengawasan kesehatan, pertolongan pertama dan pemeriksaan kesehatan.
b. Standarisasi, yaitu menetapkan standar-standar resmi, setengah resmi, ataupun tidak
resmi.
c. Pengawasan, sebagai contoh adalah usaha-usaha penegakan peraturan yangharus
dipatuhi.

12

d. Riset teknis, termasuk hal-hal seperti penyelidikan peralatan dan ciri-ciri daribahan
berbahaya, penelitian tentang pelindung mesin, pengujian masker pernapasan,
penyelidikan berbagai metode pencegahan ledakan gas dan debu dan pencarian bahanbahan yang paling cocok serta perancangan tali kerekan dan alat kerekan lainya
e. Riset medis, termasuk penelitian dampak fisiologis dan patologis dari faktor-faktor
lingkungan dan teknologi, serta kondisi-kondisi fisik yang amat merangsang terjadinya
kecelakaan.
f. Riset psikologis, sebagai contoh adalah penyelidikan pola-pola psikologis yang dapat
menyebabkan kecelakaan.
g. Riset statistik, untuk mengetahui jenis-jenis kecelakaan yang terjadi, berapabanyak,
kepada tipe orang yang bagaimana yang menjadi korban, dalamkegiatan seperti apa dan
apa saja yang menjadi penyebab.
Cara pengendalian ancaman bahaya kesehatan kerja, antara lain:9
o Pengendalian teknik: mengganti prosedur kerja, menutup mengisolasi bahan
berbahaya, menggunakan otomatisasi pekerjaan, menggunakan cara kerja basah
dan ventilasi pergantian udara.
o Pengendalian administrasi: mengurangi waktu pajanan, menyusun peraturan
keselamatan dan kesehatan, memakai alat pelindung, memasang tanda tanda
peringatan, membuat daftar data bahan-bahan yang aman, melakukan pelatihan
sistem penangganan darurat.
o Pemantauan kesehatan: melakukan pemeriksaan kesehatan.

Alat Pelindung Diri (APD)


Perlindungan keselamatan pekerja melalui upaya teknis pengamanan tempat, mesin,
peralatan dan lingkungan kerja wajib diutamakan, namun kadang-kadang risiko terjadinya
kecelakaan masih belum sepenuhnya dapat dikendalikan, sehingga digunakan alat pelindung diri
(alat proteksi diri) (personal protective device). Jadi, penggunaan APD adalah alternatif terakhir
yaitu perlengkapan dari segenap upaya teknis pencegahan kecelakaan. APD harus memenuhi
persyaratan:10
13

1. Enak (nyaman) dipakai


2. Tidak menggangu pelaksanaan pekerjaan
3. Memberingan perlindungan efektif terhadap macam bahaya yang dihadapi
Pakaian kerja harus dianggap sebagai alat perlindungan terhadap bahaya kecelakaan.
Pakaian kerja pria yang bekerja melayani mesin seharusnya berlangan pendek, pas (tidak
longgar) pada dada atau punggung, tidak ada dasi, tidak ada lipatan atau kerutan yang mungkin
mendatangkan bahaya. Wanita sebaiknya mengenakan celana panjang, jala atau ikat rambut, baju
yang pas dan tidak mengenakan perhiasan. Pakaian kerja sintetis hanya baik terhadap bahan
kimia korosif, tetapi justru bahaya pada lingkunan kerja dengan bahan yang dapat meledak oleh
aliran listrik statis.10
Alat proteksi diri beraneka ragam. Jika digolongkan menurut bagian tubuh yang
dilindunginya, maka jenis alat proteksi diri dapat dilihat pada daftar sebagai berikut:10
1. Kepala: pengikat rambut, penutup rambut, topi dari berbagai jenis yaitu topi pengaman
(safety helmet) topi atau tudung kepala, tutup kepala
2. Mata: kacamata pelindung (protective goggles)
3. Muka: Pelindung muka (face shields)
4. Tangan dan jari: sarung tangan (sarung tangan dengan ibu jari terpisah), sarung tangan
biasa (gloves), pelindung telapak tangan (hand pad), dan sarung tangan yang menutupi
pergelanan tangan sampai lengan (sleeve).
5. Kaki: sepatu pengaman (safety shoes)
6. Alat pernafasan: Respirator, masker alat bantu pernafasan.
7. Telinga: Sumbat telinga (ear plug), tutup telinga (ear muff)
8. Tubuh : pakaian kerja menurut keperluan yaitu pakaian kerja yang tahan panas, tahan
dingin, pakaian kerja lainnya
9. Lainnya: sabuk pengaman

Kesimpulan
Kecelakaan kerja adalah kejadian yang tidak terduga dan tidak diharapkan pada saat kerja
karena dapat mencederai pekerja dan menurunkan kinerja para pekerja. Ada dua faktor yang
14

menyebabkan kecelakaan kerja, yaitu faktor manusia dan faktor lingkungan. Namun, dalam
setiap tempat kerja pasti sudah terdapat Sistem Managemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja
(SMK3) dan juga alat pelindung diri (APD) untuk menghindari atau meminimalisir terjadinya
kecelakaan kerja.

Daftar Pustaka
1. McKenzie, F James. Kesehatan dan keselamatan di tempat kerja dalam Kesehatan
Masyarakat: Suatu Pengantar. Ed.4; Alih bahasa, Atik Utami, et all. Editor bahasa
Indonesia, Palupi Widyastuti. Jakarta: EGC, 2007. h.615
2. Dainur. Higine perusahaan, kesehatan dan keselamatan kerja (hiperkes) dalam
Materi-materi Pokok Ilmu Kesehatan Masyarakat. Editor: Jonathan Oswari. Jakarta:
Widya Medika, 1995. h.71-2, 75-6.
3. Ridley John. Kecelakaan dalam Ikhtisar Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Edisi ke3. Jakarta: Erlangga, 2007. h.113-5.
4. Chundawan E. Kecelakaan Kerja dan Penerapan K-3 Dalam Pengoperasian Tower
Crane pada Proyek Industri. Surabaya: Universitas Kristen Petra.
5. Okti FP. Keselamatan dan Kesehatan Kerja. Jakarta: FKM Universitas Indonesia; 2008
6. Pratiwi AD. Analisis factor factor yang mempengaruhi tindakan tidak aman (unsafe
act) pada pekerja di PT. X tahun 2011 [Skripsi]. 2012. Diunduh dari
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/20288800-S-Ayu%20Diah%20Pratiwi.pdf,

24

Oktober 2016.
7. Teori

Kecelakaan

Kerja.

2011.

Diunduh

dari:

www.dinsosnakertrans.tulungagung.go.id, 24 Oktober 2016.


8. Suardi R. Sistem manajemen K3 dan manfaat penerapannya dalam Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatam Kerja. Jakarta: Penerbit PPM; 2007. h.2830.
9. McKenzie, F James. Kesehatan dan keselamatan di tempat kerja dalam Kesehatan
Masyarakat: Suatu Pengantar. Edisi ke-4. Alih Bahasa: Atik Utami, et all. Jakarta:
EGC; 2007. h.615.
10. Chandra B. Ilmu kedokteran pencegahan & komunitas. Jakarta: EGC;2009.h.213-4.

15