Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULAUN
A. Latar Belakang
Ali Syariati, anak pertama dari Muhammad-Taqi dan Putri Zahra lahir pada 24
Nopember 1933 di sebuah desa kecil di Kahak, yaitu di desa Mazinan, pinggiran kota
Masyhad dan Sabzavar, propinsi Khorasan Iran dengan nama kecil Muhammad Ali Mazinani,
Ali di lahirkan di rumah kakeknya dari pihak ibu. Muhammad Taqi Syariati adalah seorang
ulama yang mempunyai silsilah panjang keluarga ulama dari Masyhad, kota tempat
pemakaman Ali Al-Ridha.
Syari'ati sangat konsen dengan nasib dunia ketiga di mana banyak negara tersebut di
jajah secara ekonomi, politik, cultural olh barat. ide-ide syari'ati pun banyak di pengaruhi
oleh gagasan tokoh lain di belahan dunia ketiga seperti Frantz Fanon dari Aljazair, yang pada
saat itu sedang menghadapi perlawanan sama. Syari'ati menyadari bahwa dunia ketiga yang
mayoritas Muslim harus keluar dari kemelut hegemoni Barat. Oleh karena itu salah satu tema
penting yang di angkat Syari'ati adalah tentang duni ketiga, perlunya bangsa-bangsa Muslim
untuk menoleh kembali kepada akar tradisi mereka sebagai pernyataan melawan tradisi asing
yang di bawa oleh penjajah.
Dalam pandangan Ali Syariati, agama sebagai ideologi di artikan sebagai suatu
keyakinan yang di pilih secara sadar untuk menjawab keperluan-keperluan yang timbul dan
memecahkan masalah dalam masyarakat. Ideologi di butuhkan untuk mengarahkan suatu
masyarakat atu bangsa dalam mencapai cita-cita dan alat perjuangan. Pandangan dunia Ali
Syariati yang paling menonjol adalah menyangkut hubungan antara agama dan politik, yang
dapat dikatakan menjadi dasar dari ideologi pergerakanya. Pertama lahirnya kebudayaan itu
muncul dari sejarah Qobil dan Habil yang Ali Syariati memberi nama Kaum menindas
(Qobil) dan tertindas (Habil).
B.
1.
2.
3.

Rumusan Masalah
Biografi tentang Ali Syariati?
Bagaimana Sosiologi Islam, Struktur dan Culture Masyarakat Muslim
Apa saja sudut pandang pemikiran syariati?

C. Tujuan Masalah
1

1. Ingin mengetahui biografi tentang Ali Syariati.


2. Ingin mengetahui bagaimana Sosiologi Islam, Struktur dan Culture Masyarakat
Muslim.
3. Ingin mengetahui Apa saja sudut pandang pemikiran syariati

BAB II
PEMBAHASAN
A. Biografi Ali Syariati
Ali Syariati, anak pertama dari Muhammad-Taqi dan Putri Zahra lahir pada 24
November 1933 di sebuah desa kecil di Kahak, yaitu di desa Mazinan, pinggiran kota
Masyhad dan Sabzavar, propinsi Khorasan Iran dengan nama kecil Muhammad Ali
Mazinani, Ali di lahirkan di rumah kakeknya. Dia merupakan anak pertama sekaligus
anak laki-laki satu-satunya di dalam keluarga, dengan tiga orang saudara perempuannya,
Tehereh, Tayebeh dan Batul (Afsaneh), Ali Syariati hidup dalam lindungan keluarga
penyayang dari masyarakat urban kelas menengah bawah.
Zahrah yang datang dari sebuah keluarga pemilik tanah pertanian yang sangat
kecil, adalah seorang perempuan yang memiliki dedikasi dan bekerja keras. Sementara
Ayahnya, Muhammad Taqi Syariati adalah seorang ulama yang mempunyai silsilah
panjang keluarga ulama dari Masyhad, kota tempat pemakaman Ali Al-Ridha. Kehidupan
Syariati atau Ali Mazinani berakar di pedesaan dan di sanalah pandangannya pertama
kali dibentuk.
Guru pertama kalinya adalah ayahnya sendiri yang memutuskan mengajar di kota
Masyhad. Pada awal 1940-an, ayah Ali Mazinani mendirikan usaha penerbitan bernama
Pusat Penyebaran Kebenaran Islam (The Center for Propagation of Islamic Truth) yang
bertujuan untuk kebangkitan Islam sebagai agama yang sarat dengan kewajiban dan
komitmen sosial. Sementara dari pihak ibu, kakeknya, Akhun Hakim adalah sosok ulama
yang kisah hidupnya turut menginspirasi Ali Mazinani. Pamannya adalah murid dari
ulama terkemuka Adib Nishapuri, yang setelah belajar filsafat, fiqh, dan sastra,
mengikuti jejak leluhurnya memilih kembali ke Mazinan.
Ali Syariati merupakan anak yang dibesarkan dengan tradisi keislaman yang
kuat, sang ayah Muhammad Taqi Syariati berasal dari keluarga ulama sejak beberapa
generasi walaupun pada akhirnya lebih memilih untuk bergerak dalam bidang akademik
dengan menjadi tenaga pendidik bagi generasi-generasi muda Iran pada waktu itu.
Muhammad Taqi Syariati merupakan ayah sekaligus guru bagi Ali Syariati yang
mengajarkan banyak hal dan mendasar bagi perkembangan Ali Syariati. Ia mengajarkan
bahwa moralitas dan etikalah yang mengangkat status dan kehormatan sosial seseorang

dan bukanlah uang.


Ali Syariati lahir ditengah kondisi dimana degradasi peran agamawan (ulama) yang
hanya menjadikan agama sebagai ritual batin antara hamba dan sang pencipta tanpa peduli
terhadap keterpurukan masyarakatnya. ulama tidak memainkan perannya sebagai pemimpin
yang tercerahkan yang akan memandu masyarakat menggapai kebahagiaan spiritual dan
material. kekeritisannya dalam praktek islam yang seperti itu (islam shiah) banyak didasari
dari ide-ide Ahmad Kasravi seorang ulama tradisional yang awalnya reformer syiah namun
berubah menjadi anti syiah. Gagasan-gagasannya dalam memajukan kebebasan rakyat Iran
bertujuan untuk menangkal segala macam bentuk penindasan dan mengajak kepada kebaikan
harus berbenturan dengan dogma-dogma penguasa dan ulama bahkan kabarnya hal inilah
yang diduga menjadi penyebab kematiannya yang misterius.
Kini, sosok, latar belakang, aktivitas, dan pemikiran Syariati bisa dibaca dan ditelaah
lebih dalam melalui buku karya Ali Rahnema, Ali Syariati: Biografi Politik Intelektual
Revolusioner. Melalui buku itu Syariati semakin mudah dipahami masyarakat Indonesia.
Dalam buku itu Rahnema memaparkan sisi-sisi kehidupan Ali Syariti, mulai dari masa kecil,
pendidikan, politik, hingga kematiannya dalam pengasingan pada umur 44 tahun, usia yang
relatif muda. Rahnema memotret perjalanan kehidupan dan aktivitas politik Syariati sebagai
seorang pemikir religius dan aktivis revolusioner.1
Buku biografi Ali Syariati ini melanjutkan dan memperkukuh tradisi penulisan
riwayat hidup seseorang yang telah berlangsung selama 15 abad lebih. Tradisi penulisan
biografi ini bisa dilacak pada masa-masa awal Islam yang biasa disebut sirah. Setelah
menginjak usia 23 tahun Pada 1956, Syariati masuk Fakultas Sastra Universitas Masyhad
yang baru saja diresmikan.
Selama di universitas, sekalipun menghadapi persoalan administratif akibat pekerjaan
resminya sebagai guru full-time, Syariati paling tinggi rangkingnya di kelas. Bakat,
pengetahuan dan kesukaannya kepada sastra menjadikannya popular di kalangan mahasiswa.
Ketika itu Syariati juga terlibat dalam gerakan politik. Ia pun aktif dalam gerakan rakyat dan
nasionalis untuk nasionalisasi industri minyak Iran.di usianya yang ke 25 tahun, tepatnya
pada tanggal 15 Juli 1958 Syariati pun mengakhiri masa lajangnya dengan menikahi seorang
putri dari Haji Ali Akbar yang bernama Pouran-e Syariati Razavi. Kebahagiaannya bersama
sang istri kemudian semakin bertambah dengan keberhasilan Syariati meraih gelar Sarjana
1Ali Rahmena, Ali Syariati Biografi Politik Revolusioner, (Jakarta: Erlangga,
2002), hal 53.
4

Muda, lima bulan setelah pernikahannya. Karena prestasi akademisnya di Universitas ini, dia
mendapat beasiswa untuk melanjutkan studi keluar negeri yaitu ke Perancis tepatnya di
Universitas Surbonne, Paris. Pada April 1959, Syariati pergi ke Paris sendirian. Istri dan
putranya yang baru lahir, bernama Ehsan bergabung dengannya setahun kemudian.
Selama di Paris, Syariati berkenakan dengan karya-karya dan gagasan-gagasan baru
yang mencerahkan, yang mempengaruhi pandangan hidup dan wawasannya mengenai dunia.
Dia mengikuti kuliah-kuliah para akademisi, filosof, penyair, militan, dan membaca karyakarya mereka, terkadang bertukar pikiran dengan mereka, serta mengamati karya-karya
seniman dan pemahat. Dari masing-masing mereka ia mendapat sesuatu, dan kemudian
mengaku berutang budi kepada mereka. Di sinilah Syariati berkenalan dengan banyak tokoh
intelektual barat antara lain Louis Massignon yang begitu dihormatinya, Frantz Fanon,
Jacques Berque dan lain-lain.
B. Sosiologi Islam, Struktur dan Culture Masyarakat
Menurut Syariati, pada prinsipnya sejarah dialektis kehidupan umat manusia di mulai
dan beranjak dari dua dimensi kontradiktif esensi penciptaan Adam di atas. Roh ilahiah
sebagai simbol spiri kesucian yang selalu menuju ke arah kutub kebaikan dan unsur tanah liat
sebagai simbol kekotoran yang selalu menuju ke kutub keburukan. Pada tataran ini, dialektika
historis sosiologis bersifat subyektif, di mana dalam proses menjadi, manusia hanya
mengalami pertentangan antara dua kutub elementer tadi.
Pertentangan internal antara ilahiah dan sifat kekotoran manusia secara fenomenal
juga dapat menampakkan diri dan di baca dalam segala bentuk realitas keseharian,baik dari
dimensi politik, sosial, budaya, maupun agama. Bagi Syariati cerita pembunuhan yang di
lakukan Qabil terhadap saudaranya Habil pada awalnya adalah refleksi dari pertentangan
internal abadi dalam diri manusia. Dan cerita ini, kemudian, di jadikan dasar utama pemikiran
historis sosiologis untuk menerangkan perjalanan sejarah umat manusia, terutama tentang
bagaimana umat manusia akhirnya harus terpecah menjadi dua kutub yang tidak bisa di
satukan.
Menurut banyak sumber, cerita kasus pembunuhan di atas di mulai dari percekcokan
mulut yang bermula dari ketidak-lapangan dada Qabil menerima keputusan Adam, ayahnya,
tentang masalah petunangan Habil dengan saudara perempuan kembarnya. Sebetulnya,
berdasarkan pada ketetapan Adam, Habil-lah yang berhak menikah dengan wanita tadi.
Namun Qabil tidak menerima keputusan tersebut bahkan ia merasa lebih berhak menikah
5

dengan waniti itumengingat ia adalah saudara kembarnya. Perselisihan tersebut tidak bisa di
selesaikan oleh mereka berdua, dan kemudian, mereka sepakat untuk menghadap Adam guna
meminta fatwa penyelesaian.2
Setelah melalui proses rekronsiliasi dan negoisasi, akhirnya upaya damai
merekamenyepakati tawaran Adam. Dalam kesepakatan bersyrat itu merekamenyetujui
bahwa untuk menentukan siapa di antara mereka yang paling berhak mendapatkan wanita
yang dipertentangkan keduanya diharuskan mempersembahkan pengorbanan masing-masing
kepada Allah. Dalam bahasa kitab tafsir al-futuhat al-ilahiyah, isyarat di terimanya salah satu
persembahan pengorbanan adalah turunnya kemilau api putih {flash} dari langit yang
kemudian melahap suguhan pengorbanan itu. Sebaliknya, jika pengorbanan di tolak, maka
akan turun burung atau binatang buas yang akan memangsanya. Siapa di antara mereka yang
pengorbanannya diterima Allah, maka secara otomatis dialah yang berhak menikah dengan
wanita yang di pertentangkan tadi.3
Syarat dan implikasi pengorbanan yang telah di setujui di sikapi secara berbeda oleh
keduanya. Habil mempersembahkan seekor unta yang terbaik di antara sekian banyak
ternaknya. Sementara Qabil, menyuguhkan seonggok gandum yang layu dan kurang berisi.
Habil, dari sisi ini, tampak berupaya semaksimal mungkin dan tulus dalam hal pengorbanan.
Sedangkan Qabil menampakkan sikap kelicikan. Ia ingin meraup keuntungan yang
maksimaltanpa mengimbanginya dengan pengorbanan. Ringkas cerita ternyata pengorbanan
Habil yang di terima Allah. Walaupun Qabil-Habil sudah menyepakati upaya damai dan
segala konsekuensinya, namun Qabil tetap tidak menerima kekalahan dan kegagalannya
mempersunting wanita yang di inginkan. Kelicikan dan penolakan Qabil berakhir pada sikap
penentangannya yang sangat radikal: membunuh Habil. Dari penjabaran di atas dapat di
strukturkan sebagai berikut.

2Noryamin Aini, Dialektika Cerita Qabil dan Habil: Pergeseran dari Kisah Quran
ke Sosiologi Agama,dalam M. Deden Ridwan, hal 176.
3 M. Deden Ridwan, Melawan Hegemoni Barat,( Jakarta: PT. Lentera Basritama,
1999), hal 179.
6

Kategori perbedaan

stuktur Habil

Stuktur Qobil

Posisi individu

Individu menetukan nasibnya Nasib

individu

sendiri (otonom)

kelompok

oleh

ditentukan
pemilik

modal
Kepentingan

yang

di Kepentingan masyarakat

perjuangkan

Kepentingan

pribadi

pemilik modal

Oleh karena itu masyarakat memiliki dua sturktur tersebut,maka masyarakat terbagi menjadi
dua kutub, yaitu kutub Qobil dan Habil.
Bagi Syariati, masalah yang sangat mendasar dari cerita di atas adalah mencermati
dan mempertanyakan menurut kacamata sosiologi agama. Kenapa salah seorang anak adam
menjadi pembunu? Sementara yang satunya begitu saleh dan rela mati tanpa kebencian demi
pengorbanan dan pengabdian dirinya kepada cinta kasih Allah? Dan pesan-pesan simbolik
apa yang ditangkap dari cerita pembunuhan diatas? Menurut Syariati perbedaan sikap kedua
anak adam dalam menyikapi titah dan keputusan orang tuanya jelas tidak di tentukan oleh
faktor-faktor eksternal, seperti pengaruh lingkungan atau doktrin agama yang di ajarkan
Adam.
Perbedaan itu juga bukan di sebabkan karena Qobil tidak mengetahui dan memahami
doktrin agam tentang pembunuhan. Kesimpulan Syariati di atas tentu bukan tanpa alasan.
Katanya,4 kalau memang Qobil dan Habil di besarkan dalam segala kesamaan susana,agama,
nilai, etika,dan lain-lain maka tentunya mereka akan menampakan corak prilaku yang sama
pula namun pada kenyataanya tiadak. Syariati ingin mempertegas bahwa perbedaan itu lebih
di sebabkan oleh pecahnya (dualitas), yaitu keseimbangan antara dimensi kebaikan dan
keburukan dalam diri manusia, menafsirkan serta menyikapi, Kondisi obyektif yang ada
sesuai dengan cara pandang keduniaanya.
Corak pandang seperti ini terpancar pada ragam pekrjaan yang ditekuni oleh Qobil
dan Habil.bagi syariati potret Qobil maupun Habil secara simbolik lebih dari sekedar
gambaran sosok individual manusia, tetpi ia mengambarkan corak idiologi dan paham
kolektif. Untuk mengelaborasi corak tafsiran di atas, syariati mengritisi latar belakang
pekerjaan Qobil dan Habil, kemudian menganalisisnya dengan pendekatan sosiologis.
Katanya, persembahan Qobil yang berupa gandum menyimbolisasikan prifesinya sebagai
seorang petani sedangkan persembahan Hbil berupa ternak unta menyiratkan bahwa ia
4 Ali syariati, tugas cendikiawan,hal 40
7

atau

seorang pengembala.5
Disini syariati cukup simbolik dalam menerjemakan isyrat esensi persembahan dan
segala konsekuensinya. Menuputnya dengan jenis persembahan tersebut, Habil tampak
mewakili periode sejarah postoral. Yaitu, era sosialisme primitif ketika eksistensi manusia
bergantung pada alam bebas, kehidupan duniawi tanpa pemilikan individual,serta corak gaya
kehidupan seseoarang teropsesi untuk mencapai kesempurnaan tanpa di hadang
monopolisme, ketamakan, pemberontakan dan kekerasan.
Sebaliknya Qobil mewakili tahap sejarah lain dimana hak pemilikan sudah
melembaga dan ketika sumber produksi, terutama alam telah dimiliki dan di eksploitasi,
akibat proses dan upaya pemilikan bukanlah sebuah perjuangan tanpa dialektika pertentangan
kepentingan, dari sisi pertentangan kelas, tidak dapat di hindarkan dan kemudian melahirkan
budaya kekerasan, pemaksaan, perbudakan dan penindasan, kemudian melembaga menjadi
sistem dan kekuatan sosial politik agama Qobilisme. Selain itu, tanpa bisa di hindarkan, ini di
ikuti dengan munculnya idiologi tentang dimiliki dan memiliki.
Idiologi ini tidak hanya semakin melembaga hak pemilikan material, tetapi juga telah
menciptakan implikasi psikologis herarkis dan terus menampakan struktur sosial dan sitem
sub budaya tertentu dalam relasi dan sistem produksi yang tidak seimbang, antara obyek dan
subyek, antar buruh dan majikan,antara bawahan dan atasan, antara budak dan tuan seperti
yang tampak dalam sistem kapitalisme. Dalam sistem budaya yang monopolistik, eksploitatif,
dan represif, walapun Qobil telah menolak titah bapaknya dan menentang tuhan dengan
membunuh saudaranya, apakah agama bagi Qobil dan Qobilisme menjadi tidak penting untuk
melestarikan kesinambungan dominasi? Kedua belah pihak baik aliran Qobilisme dan
Habilismi semuanya mengunakan senjata agama untuk gerakan mereka.6
Bahkan mengingat manusian adalah makhluk religius, akibatnya agama tetap
merupakan kekuatan potensial untuk dijadikan sebagai alat menopang kelangengan hidup
manusia.
Dalam hal ini, walaupun Qobil telah menetang ketentuan tuhan, namun agama tetap saja
dijadikan acuan prinsipil untuk pertimbangan konsep stategi tentang bagaimana
mengamankan dan melestarikan sistem dan idiologi yang sudah ada untuk kepentingan kelas
5 Ibid, hal 98
6 Ibid, hal 38
8

spesifik.
Menurut Syariati, realitas kehidupan beragama dan bermasyarakat yang diwarnai
oleh konflik dan pertengtangan abadi yang menganut faham Qobilisme dan Habilisme.
Namun kelompok yang beraliran Qobilisme cenderung menang dalam pertarungan dan terus
berkuasa atas Habilisme. Sebagai sebuah faham keagamaan yang banyak di warnai oleh cara
pandang keduniaan, potert kelas Qobil sering berwaja multipel, paling tidak tiga kelompok
elite yang terus berkuasa di masyarakat, yaitu kapitalis, penguasa dan agamawan. Ketiga
wajah tersebut secara kolaboratif terus menjalin kerja sama untk melestarikan dominasi
mereka atas kelas pesaingnya, termasuk dalam hal ini kasus penguasan Iran seperti yang
banyak diprofokasikan oleh Syariati.
Menurut Syariati pertarungan antara Qobil dan Habil anak-anak Adam, Qobil
menurutnya mewakili watak syirk sedangkan Habil prototipe seorang penganut tauhid.
Pertarungan tarnshistoris itu menurutnya, mencerminkan pertarungan antara keadilan serta
kesatuan manusia di satu pihak dan diskriminasi sosial serta rasial di lain pihak. 7[10] Atau
yang dikuasai.
Lebih jauh Ali Syariati menambahkan bahwa Habil juga mewakili karakter baik, sedangkan
Qobil berkarakter jahat. Jika kita menggunakan cara berpikir Syariati sendiri maka secara
konsisten harus di katakan bahwa pertarungan antara penguasa dengan yang di kuasai itu juga
harus di tafsirkan sebagai pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Menurut anggapanya
itulah pertarungan abadi yang akan terus berlangsung dalam semua masyarakat manusia.
Tetapi ia yakin sejarah yang pasti akan berkesudahan dengan menangnya keadilan, kesamaan
dan kebenaran. Ali Syariati meramal,
pada Akhir zaman itu pasti akan datang bersama kematian Qobil dan kembalinya
sistem Habil. Revolusi yang pasti akan tejadi itu akan mengakhiri riwayat Qobil. Kesamaan
akan terwujud di seluruh dunia, dan melalui kesamaan serta keadilan akan berlakulah
kesatuan dan persaudaraan umat islam. Bagi Ali Syariati inilah arah pasti sejarah. Suatu
revolusi universal yang akan berlangsung di semua kawasan hidup manusia. Kelas tertindas
akan menuntun balas.

C. Kerangka Teoritik Sosiologi Islam

7[10] ibid, hal 144


9

Untuk mengidentifikasi gagasan syariati tentang landasan Sosialisme Islam,


setidaknya dapat di sandarkan pada beberapa analisisnya yang mendalam tentang
pemahamannya terhadap islam, seperti pandangan terhadap konteks historis turunnya islam.
Secara gamblang pokok-pokok pikiran tersebut di katakan oleh syariati bahwa islam adalah
agama yang di turunkan untuk membela kaum tertindas (mustadafin). Di bawah ini beberapa
sudut pandang pemikiran syariati:
a. Misi Pembebasan Islam
Islam menurut Syariati bukanlah agama yang hanya memperhatikan aspek spiritual
dan moral atau hubungan individual dan penciptanya, tetapi lebih merupakan sebuah ideologi
emansipasi dan pembebasan. Ia berkeyakinan Islam sebagai suatu mazhab sosiologi ilmiah
harus di fungsionalisasikan sebagai kekuatan revolusioner untuk membebaskan rakyat yang
tertindas, baik secara kultural maupun politik. Islam sebagai mazhab sosiologi ilmiah
meyakini bahwa perubahan sosial (termasuk revolusi) dan perkembangan masyarakat tidak
dapat di dasarkan pada kebetulan, karena masyarakat merupakan organisme hidup, memiliki
norma-norma kekal yang tak tergugat dan dapat di peragakan secara ilmiah.
Manusia memiliki kebebasan dan kehendak bebas, sehingga dengan campur
tangannya dalam menjalankan norma masyarakat, setelah mempelajarinya, dan dengan
menggunakannya, dia dapat berencana dan meletakkan dasar-dasar bagi masa depan yang
lebih baik untuk indidu maupun masyarakat. Berkaitan dengan keyakinan terhadap peran
agama sebagai agen revolusi, stariati menyimpulkan bahwa agama islam dapat dan harus di
fungsionalisasikan sebagai kekuatan revolusioner untuk membebaskan rakyat tertindas.
Syariati melontarkan pernyataan yang anti barat dan mengajak seluruh rakyat Iran untuk
kembali kepada tradisi murninya. Dalam konteks ini, Syariati bisa di pandang sebagai
pembela gigih warisan asli kebudayaan dan identitas bangsa dunia ketiga, di mana Islam
merupakan akar eksistensial yang turut menentukan watak kebudayaan masyarakat dunia
tersebut.
b. Islam Tidak Mengenal Kelas
Bagi Syariati, masyarakat Islam sejati tidak mengenal kelas. Ia adalah wadah bagi
orang-orang yang tercerabut haknya, yang tersisa, lapar, tertindas dan terdiskriminasi.
Pesan Islam adalah pesan kerakyatan sebagaimana amanat Quran, Tuhan telah menjanjikan
kepada orang-orang tertindas bahwa mereka akan menjadi pemimpin-pemimpin umat
manusia, Islam menuntut terciptanya sebuah masyarakat berkeadilan, sebuah gerakan
10

kebangkitan yang menentang penindasan, pemerasan, dan diskriminasi sehingga mereka


mendapatkan masyarakat yang sama rata ; masyarakat yang membebaskan dirinya dari
tirani, ketidakadilan dan kebohongan. Karena itu, diskriminasi manusia atas dasar ras, kelas,
darah, kekayaan, kekuatan dan lain lain tidak bisa di biarkan. Kecuali itu, pandangan bahwa
alam semestapenuh dengan perpecahan, pertentangan, kontradiksi dan perbedaan mesti di
nilai sebagai kelalaian (syirk). Dengan itulah Syariati mendasarkan islamnya pada sebuah
kerangka idiologis yang memahami islam sebagai kekuatan revolusioner untuk melawan
segala bentuk tirani penindasa dan ketidakdilan dan menuju persamaan tanpa kelas.8
c. Pemahaman terhadap Quran.
Dalam memahami Quran sebagai kitab suci umat Islam, Syariati menjelaskan bahwa
di dalamnya, Quran telah menyebutkan dua karakteristik kelompok sosial. Dua kelompok
sosial tersebut terbelah menjadi bagian yang saling berlawanan, suatu dialektika yang akan
terus berlangsung selamanya. Secara garis besar Syariati mengidentifikasi dua kelompok
tersebut sebagai kelompok penindas zalimun sebagai representasi kelompok kuat dalam
masyarakat {kelompok Qabil} yang terdiri dari mala yaitu golongan aristokrat dan para
bangsawan yang berkuasa, serta mutraf yaitu kelompok kaya, di sisi yang berlawanan adalah
kelompok terlindas mustadafin sebagai presentasi kaum lemah dan teraniaya (kelompok
habil).

8 Ibid hal 140.


11

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat kami Simpulkan bahwa Ali Syariati adalah anak
pertama dari Muhammad-Taqi dan Putri Zahra lahir pada 24 Nopember 1933 di sebuah desa
kecil di Kahak, yaitu di desa Mazinan, pinggiran kota Masyhad dan Sabzavar, propinsi
Khorasan Iran dengan nama kecil Muhammad Ali Mazinani. Ali Syariati merupakan anak
yang dibesarkan dengan tradisi keislaman yang kuat,
Menurut Syariati, pada prinsipnya sejarah dialektis kehidupan umat manusia di mulai dan
beranjak dari dua dimensi kontradiktif esensi penciptaan Adam. Bagi Syariati cerita
pembunuhan yang di lakukan Qabil terhadap saudaranya Habil pada awalnya adalah refleksi
dari pertentangan internal abadi dalam diri manusia. Dan cerita ini, kemudian, di jadikan
dasar utama pemikiran historis sosiologis untuk menerangkan perjalanan sejarah umat
manusia,
beberapa sudut pandang pemikiran syariati :
a. Misi pmbebasan islam
b. Islam Tidak Mengenal Kelas
c. Pemahaman terhadap Quran.

12

DAFTAR PUSTAKA
Syariati, Ali. 1982. Sosiologi Islam. Yogyakarta: Ananda.
Keddie, R. Nikki. 1981. Roots of Revolution: An Interpretive History of Modern Iran New
Haven.
Rahmena, Ali. 2002. Ali Syariati Biografi Politik Intelektual Revolusioner.Jakarta Erlangga.
Ridwan, M. Deden. 1999. Melawan Hegemoni Barat: Ali Syariati dalam Sorotan
Cendekiawan Indonesia. Jakarta: PT. Lentera Basritama.
Supriyadi, Eko. 2003. Sosialisme Islam Pemikiran Ali Syariati. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

13