Anda di halaman 1dari 3

OJK Terima 47 Laporan Kasus Sengketa Jasa Keuangan

Ilustrasi: (Foto: Okezone)


Selasa, 9 Agustus 2016 - 19:45 wib
Jurnalis - ant
JAKARTA - Kepala Departemen Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa
Keuangan (OJK), Anto Prabowo, menyebutkan pihaknya telah menerima
laporan sebanyak 47 kasus sengketa di sektor jasa keuangan dari enam
lembaga alternatif penyelesaian sengketa (LAPS) hingga Juni 2016.

Anto merinci laporan 47 kasus tersebut terdiri dari Badan Mediasi dan
Arbitrase Asuransi Indonesia (BMAI) 28 kasus, Badan Arbitrase Pasar Modal
Indonesia (BAPMI) 9 kasus, Badan Mediasi Dana Pensiun (BMDP) 1 kasus, dan
Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa Perbankan Indonesia (LAPSPI) 9
kasus.
Laporan kasus di BMAI sebagian besar mengenai klaim. Di sektor pasar
modal, laporan sengketa terutama yang berkaitan dengan transaksi margin
dan transaksi obligasi.

Sedangkan dari LAPSPI, sengketa yang dilaporkan terutama terkait jaminan


kredit, tagihan kartu kredit, dan cara penagihan melalui debt collector.

"Belum tentu semuanya sengketa, karena biasanya mereka datang untuk


berkonsultasi. Ada yang selesai di konsultasi lalu dicabut permohonannya,"
kata Anto ketika ditemui di Gedung OJK, Jakarta, Selasa (9/8/2016).

Sengketa di sektor jasa keuangan dapat disebabkan beberapa faktor, di


antaranya perbedaan pemahaman antara konsumen dan lembaga jasa
keuangan mengenai suatu produk atau layanan jasa keuangan terkait.
Sengketa juga dapat disebabkan kelalaian konsumen atau lembaga jasa
keuangan dalam melaksanakan kewajiban dalam perjanjian terkait produk
atau layanan dimaksud.

Terdapat tiga layanan penyelesaian sengketa di LAPS, yaitu mediasi,


arbitrase, dan ajudikasi. Penyelesaian sengketa harus dilakukan di lembaga
jasa keuangan lebih dahulu.

Dalam Peraturan OJK tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan


diatur bahwa setiap lembaga jasa keuangan wajib memiliki unit kerja dan
atau fungsi serta mekanisme pelayanan dan penyelesaian pengaduan bagi
konsumen.

Jika penyelesaian sengketa di lembaga jasa keuangan tidak mencapai


kesepakatan, konsumen dapat melakukan penyelesaian sengketa di luar
pengadilan atau melalui pengadilan. Penyelesaian sengketa di luar
pengadilan dilakukan melalui LAPS.

"OJK bukan menyelesaikan sengketa, tapi memfasilitasi penanganan


pengaduan. Kalau tetap tidak puas, konsumen bisa ke LAPS untuk arbitrase,
mediasi, dan ajudikasi. LAPS sifatnya final dan mengikat, khususnya kepada
penyedia jasa keuangan," ucap Anto.

Sebelumnya, OJK telah memperbaharui daftar LAPS di sektor jasa keuangan


berdasarkan keputusan Nomor KEP-1/D.07/2016 tanggal 21 Januari 2016.
LAPS tersebut merupakan wadah penyelesaian sengketa antara konsumen
dan lembaga jasa keuangan di sektor pasar modal, perasuransian, dana
pensiun, perbankan, penjaminan, pembiayaan, dan pegadaian yang
memenuhi prinsip aksesibilitas, independensi, keadilan, efisiensi, dan
efektivitas serta diawasi oleh OJK.

Daftar LAPS tersebut antara lain Lembaga Alternatif Penyelesaian Sengketa


Perbankan Indonesia (LAPSPI), Badan Arbitrase dan Mediasi Perusahaan
Penjaminan Indonesia (BAMPPI), Badan Arbitrase Pasar Modal Indonesia
(BAPMI), Badan Mediasi dan Arbitrase Asuransi Indonesia (BMAI), Badan

Mediasi Dana Pensiun (BMDP), dan Badan Mediasi Pembiayaan dan


Pegadaian Indonesia (BMPPI).