Anda di halaman 1dari 20

SEJARAH MUNCUL DAB BERKEMBANGNYA

FEMINISME DAN GENDER


Oleh, Warsito, S.Pd., M.P.I.
1. Pengertian Gender
Gender merupakan istilah baru yang muncul dalam dunia pendidikan
termasuk pendidikan tinggi di Indonesia. Isu ini berkembang cukup cepat,
para akademisi mendiskusikan istilah ini dalam workshop dan seminarseminar. Istilah gender belum lama masuk dalam tatanan bahasa Indonesia,
hal ini terbukti ketika penulis tidak menemukan istilah ini dalam kamus
Besar Bahasa Indonesia yang diterbitkan departemen pendidikan dan
kebudayaan republik Indonesia tahun 1988 atau dalam Kamus Umum
Bahasa Indonesia karya W.J.S. Poerwadarminto yang diterbitkan balai
pustaka edisi ketiga tahun 2006.
Meskipun kata gender belum masuk dalam perbendaraan Kamus
Besar Bahasa Indonesia, tetapi istilah ini lazim digunakan dalam dunia
pendidikan dan pemerintahan khususnya kantor kementerian Negara urusan
peranan wanita dengan ejaan jender. Gender diartikan sebagai interpretasi
mental dan kultural terhadap perbedaan kelamin yakni laki-laki dan
perempuan. Gender biasanya dipergunakan untuk menunjukkan pembagian
kerja yang dianggap tepat bagi laki-laki dan perempuan.[1] Meskipun kantor
kementerian menggunakan ejaan jender, tetapi dalam tesis ini, penulis
menggunakan ejaan gender. Hal ini karena mayoritas buku-buku yang
dijadikan rujukan baik berbahasa Indonesia maupun Inggris menggunakan
ejaan gender.
Istilah ini memiliki kandungan yang sangat besar, karena isu ini
memaksa suatu komunitas untuk mengganti tradisi yang sudah berjalan

berabad-abad bahkan para pejuang gender tidak segan-segan untuk


memaksa suatu agama mengubah ajarannya yang tidak sesuai dengan
tuntutan gender. Para penganut paham ini meletakkan gender sebagai
standar kebenaran, sebagai contoh para feminis menuduh banyak ajaran
Islam yang memandang perempuan sebagai mahkluk yang harganya
separoh dari laki-laki. Ajaran-ajaran tersebut antara lain, hukum aqiqah
dimana bayi laki-laki disunahkan menyembelih dua ekor kambing sedang
bayi perempuan satu kambing, diyat laki-laki dua kali lipat diyat perempuan,
perempuan disunahkan sholat di rumah sedang laki-laki di masjid.[2]
Menurut para ahli, gender didefinisikan sebagai isu perbedaan kelas
antara laki-laki dan perempuan. Dalam bahasa Inggris istilah ini berkembang
dengan

beberapa

variasi.

Gender

Bender

adalah

seseorang

yang

melakukan sesuatu seperti perbuatan lawan jenis. Tindakan laki-laki yang


menyerupai perempuan atau sebaliknya, perempuan yang melakukan
tindakan seperti tindakan laki-laki.

Gender

Dysphora (dalam dunia

kedokteran) adalah seseorang yang merasa bahwa ketika lahir dia memiliki
organ kemaluan yang salah. Jadi seseorang merasa bahwa dia harusnya lakilaki tetapi memiliki kemaluan perempuan. Istilah lain yang berkembang
adalah Gender Reassignment. Gender Reassignment adalah tindakan
merubah anggota tubuh dengan cara operasi sehingga memiliki anggota
tubuh lawan jenis dan nampak seperti lawan jenis.[3]
Nasaruddin Umar, seorang tokoh yang menulis disertasi doktoral
tentang gender menjelaskan bahwa gender adalah suatu konsep yang
digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat

dari segi sosial-budaya.[4] Hilary M. Lips dalam Sex and Gender an


Introduction menerangkan bahwa gender adalah harapan-harapan budaya
terhadap laki-laki dan perempuan. Linda l. Lindsey menjelaskan bahwa
gender adalah semua ketetapan masyarakat perihal penentuan seseorang
sebagai laki-laki atau perempuan. H.T Wilson dalam Sex and Gender
mengartikan gender sebagai suatu dasar untuk menentukan perbedaan
sumbangan laki-laki dan perempuan pada kebudayaan dan kehidupan
kolektif yang sebagai akibatnya mereka laki-laki dan perempuan.[5]
Julia Cleves Mosse menjelaskan dalam bukunya Half The World, Half
a Change an Introduction to Gender and Development bahwa gender
adalah seperangkat peran, seperti halnya kostum dan topeng teather,
menyampaikan kepada orang lain bahwa kita perempuan atau laki-laki.
Perangkat perilaku khusus ini mencakup penampilan, pakaian, sikap,
kepribadian, bekerja di dalam dan di luar rumah tangga, seksualitas,
tanggung jawab keluarga dan sebagainya secara bersama-sama memoles
peran gender.[6] Definisi lain, gender berkaitan dengan konstruk sosial
yang

diberikan

masyarakat

tentang

peran,

sikap,

aktivitas,

dan

attribut/perlengkapan yang dianggap sesuai bagi laki-laki dan perempuan.[7]


Perbedaan redaksi para ilmuan dan feminis dalam mendefinisikan
gender, menurut penulis tetap mengacu pada persamaan meaning atau
maksud yang mereka kehendaki, yaitu adanya perbedaan tugas, peran dan
hak antara laki-laki dan perempuan dalam kehidupan berkeluarga maupun
bermasyarakat. Perbedaan tugas, peran dan hak ini, kadang merugikan satu
pihak dan menguntungkan pihak yang lain, tetapi secara umum perempuan

sering dirugikan. Sebagai contoh kasus maskawin menjadi permasalahan


keluarga Hindu India. Berdasarkan tradisi mereka, memiliki anak perempuan
membutuhkan modal yang besar, karena mereka harus menyiapkan
maskawin ketika anak perempuan menikah. Kondisi ini yang memunculkan
pepatah di India Membesarkan seorang anak perempuan sama saja seperti
mengairi pohon rindang di halaman rumah orang lain.[8]
Perbedaan antara perempuan dan laki-laki ini ditentang oleh sebagian
kelompok

feminisme

tetapi

sebagian

yang

lain

menganggap

bahwa

perbedaan ini sesuatu yang alami. Hal ini yang menyebabkan timbulnya
perbedaan antara dua kelompok feminisme atau gender yang bertolak
belakang.
a.

Kelompok gender yang berpendapat bahwa perbedaan gender merupakan


konstruk sosial sehingga perbedaan jenis kelamin tidak perlu mengakibatkan
perbedaan peran dan perilaku gender dalam tatanan sosial.

b.

Kelompok gender yang berpendapat bahwa perbedaan jenis kelamin akan


selalu berdampak terhadap konstruksi konsep gender dalam kehidupan
sosial, sehingga akan selalu ada jenis-jenis pekerjaan berstereotrip gender.
[9]

2. Sejarah dan Perkembangan Gender:


Pembahasan tentang sejarah dan perkembangan gender tidak bisa
terlepas dari sejarah pergerakan kaum feminisme di Barat. Maka pada
pembahasan ini, penulis akan memulai dari pergerakan feminisme sampai
akhirnya muncul istilah gender.
a. Sejarah Muncul dan Perkembangan Feminisme

Kata feminis pertama kali ditemukan pada awal ke-19 oleh seorang
sosialis

berkebangsaan

Perancis,

yaitu

Charles

Fourier.[10]

Terdapat

perbedaan pendapat antara ilmuan tentang sejarah munculnya istilah


feminisme.
Pendapat pertama menyatakan bahwa Istilah Feminisme berasal dari
bahasa Latin Femina (perempuan). Hamid Fahmy Zarkasi mengutip pendapat
Ruth Tucker dan Walter l. Liefeld dalam buku mereka yang Daughter of the
Church yang menyatakan bahwa kata istilah feminis berasal dari kata fe atau
fides dan minus yang artinya kurang iman (less in faith).[11]
Pendapat kedua disampaikan Jane Pilcher dan Imelda Whelehan dalam buku
mereka yang berjudul Fifty Key Concepts in Gender Studies. Mereka menyatakan bahwa istilah
feminism berasal dari bahasa Perancis yang muncul pada abad ke Sembilan belas. Feminisme
merupakan istilah kedokteran yang menggambarkan unsur kewanitaan dalam tubuh laki-laki atau
unsur kelaki-lakian dalam tubuh wanita. Setelah istilah ini masuk dalam kebendaharaan bahasa
Amerika pada awal abad keduapuluh, istilah ini hanya mengacu pada nama sebuah kolompok
pergerakan wanita.[12]
Pendapat ketiga juga memiliki kesamaan dengan pendapat kedua
dalam masalah asal kata. Julia T. Wood seorang professor humanity di
Universitas North Carolina mengatakan bahwa kata feminism ditemukan di
Perancis pada akhir tahun 1800. Istilah ini merupakan gabungan antara kata
femme yang berarti perempuan dan suffix ism yang berarti posisi politik.
Untuk itu, makna feminism yang asli adalah sebuah posisi politik tentang
perempuan. Dalam perkembangannya, istilah ini memiliki arti yang lebih

luas, yaitu sebuah gerakan yang menuntut persamaan sosial, politik, dan
ekonomi antara laki-laki dan perempuan.[13]
Istilah feminis sebagai nama suatu pergerakan aktivis perempuan
dalam memperjuangkan hak mereka bukanlah yang pertama dalam tatanan
bahasa. Sebelum istilah ini muncul, kata-kata seperti womanism, the woman
movement, atau woman question telah digunakan terlebih dahulu.[14]
Seiring berkembangnya gerakan kelompok feminisme ini, istilah-istilah di
atas berubah menjadi feminisme hingga sekarang.
Gerakan feminisme berkembang dengan baik tidak hanya di Barat
tetapi juga di Negara-negara timur. Salah satu faktor yang mendorong
cepatnya gerakan femenisme adalah gerakan ini menjadi gelombang
akademik di universitas-universitas, melalui progam women studies. Bahkan
gerakan ini mampu menyentuh bidang politik dimana gerakan perempuan ini
telah

mendapat

restu

dari

perserikatan

Bangsa-bangsa

dengan

dikeluarkannya CEDAW (Convention on the Eliminating of All Farms of


Discriminating Against Women).[15]
Setelah munculnya rekomendasi dari PBB, gerakan ini berkembang
sangat pesat. Perkembangan gerakan ini bisa dilihat dari kebijakkan PBB
yang menunjukkan keberhasilan mereka. Sejak 1990, UNDP (United Nations
Development Program) melalui laporan berkalanya (Human Development
Report) telah menyiapkan indikator untuk mengukur kemajuan suatu negara.
Selain pertumbuhan GDP (Growth Domestic Product) mereka menambah
(Human Development Index) HDI. HDI digunakan untuk mengukur kemajuan

suatu negara dengan melihat usia harapan hidup (life expectancy), angka
kematian bayi (infant mortality rate), dan kecukupan pangan (food security).
Sehingga inti kemajuan suatu negara adalah meningkatnya kualitas sumber
daya manusia. Setelah lima tahun, UNDP menambah konsep HDI dengan
kesetaraan gender (Gender Equality).[16]
Sejak UNDP memasukkan kesetaraan gender dalam HDI, maka faktor
kesetaraan

gender

harus

selalu

diikutsertakan

dalam

mengevaluasi

keberhasilkan pembangunan nasional. Perhitungan yang dipakai adalah GDI


(Gender Development Index) dan GEM (Gender Empowerment Measure).
Perhitungan GDI mencakup kesetaraan antara pria dan wanita dalam usia
harapan hidup, pendidikan, dan jumlah pendapatan. Sedangkan perhitungan
GEM mengukur kesetaraan dalam partisipasi politik dan dalam beberapa
sektor yang lainnya. Ukuran ini bertitik tolak pada konsep kesetaraan sama
rata.[17]
Perkembangan gerakan feminisme juga terasa di Indonesia dengan
diratifikasinya isi CEDAW sehingga keluarlah UU no. 7 tahun 1984. Setelah
itu, Pemerintah Indonesia mengeluarkan undang-undang nomor 23 tahun
2004 tentang PKDRT (Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga) dan
undang-undang perlindungan anak. Selain itu, mereka juga berusaha
melakukan legalisasi aborsi melalui amandemen UU kesehatan. Dalam
bidang politik, feminis berada di belakang keluarnya UU pemilu tahun 2008
tentang kuota caleg perempuan sebanyak 30 persen.[18]

Sejarah muncul dan perkembangannya Feminisme secara umum


dibagi menjadi 3 gelombang yaitu:
1) Gelombang pertama
Gerakan feminisme gelombang pertama secara luas diketahui terjadi
antara tahun 1880 dan 1920. Gerakan ini dipengaruhi oleh pemikiran Mary
Wollstonecraft lewat bukunya yang berjudul Vindication of the Rights of
Women. Buku ini dipublikasikan di Inggris pada tahun 1792.[19] Buku ini
memberi pengaruh sangat besar dalam pergerakan feminisme di dunia,
bahkan Winifred Holtby menganggap buku ini sebagai Bible-nya gerakan
perempuan di Inggris.[20] Wollstonecraft seorang pioner feminisme yang
berusaha

membongkar

batasan-batasan

pandangan

subjektif

tentang

gender yang melebihkan laki-laki dan merendahkan perempuan. Dia pernah


menulis artikel tentang hal itu yang berjudul the Fictionality of Both
Femininity and Masculinity.[21]
Perhatian feminis gelombang pertama adalah memperoleh hak-hak
politik dimana mereka menuntut hak suara dalam pemilihan umum. Selain
itu, mereka juga menuntut akses pendidikan, kesempatan ekonomi yang
setara bagi kaum perempuan, miliki hak pernikahan dan cerai. Feminis
berargumentasi bahwa perempuan memiliki kapasitas rasio yang sama
dengan laki-laki.[22]
Aksi politik feminisme yang dimotori oleh kaum feminis liberal telah
membawa perubahan pada kondisi perempuan saat itu. Mereka berhasil
mendapat hak pilihnya dalam pemilu pada tahun 1920, dan mereka juga
berhasil

memenangkan

hak

kepemilikan

bagi

perempuan,

kebebasan

reproduksi dan akses yang lebih dalam bidang pendidikan dan profesionalan.
[23]
2) Femenisme Gelombang Kedua.
Gerakan feminisme sempat melemah ketika terjadi perang dunia
pertama dan kedua. Gerakan ini menguat kembali pada akhir tahun 1960an
dan awal tahun 1970an.[24] Meskipun menguat kembali pada akhir tahun
1960an, gelombang kedua sudah muncul pada tahun 1949, hal ini ditandai
dengan munculnya publikasi Simone de Beauvoir yang berjudul Second
Sex. Buku ini dipublikasikan lima tahun setelah wanita Perancis mendapat
hak kebebasan mereka yang pertama kalinya. Buku ini merupakan dokumen
yang penting bagi feminis modern sebagimana buku Betty Friedan yang
berjudul

The

Feminine

Mistique.[25]

Beauvoir

berargumen

bahwa

perbedaan antara laki-laki dan perempuan bukan berakar dari faktor


biologis, tetapi sengaja diciptakan untuk memperkuat penindasan terhadap
kaum perempuan.[26]
Pada gelombang kedua, tuntutan kaum feminis tidak hanya pada
bidang politik dan hukum, tetapi mereka menuntut hak mereka yang lebih
luas. Pada gelombang kedua, para feminis mengangkat isu liberation atau
kebebasan ditengah-tengah tekanan masyarakat patriakhy. Para feminis
menilai isu (equality) persamaan tidak dapat dicapai dengan pemberian hak
memilih sehingga mereka merasa gelombang kedua sebagai waktu yang
tepat untuk muncul di ranah publik.[27] Mereka menuntut persamaan dalam
lapangan pekerjaan, baik dalam mendapatkan upah maupun mendapatkan
kedudukan dalam tempat kerja, tuntutan dalam pendidikan, dan masalah
pekerjaan rumah tangga.[28]

3) Feminisme Gelombang Ketiga,


Gerakan feminisme berlanjut sampai muncul gelombang ketiga pada
awal tahun 1990an. Pada gelombang ketiga, gerakan ini memfokuskan
sesuatu yang tidak terdapat pada tuntutan gelombang kedua. Gerakan ini
masih melihat adanya perbedaan laki-laki dan perempuan dalam ras, etnik
atau

bangsa

tertentu.[29]

Mereka

menuntut

keseragaman

dalam

mendapatkan hak antara orang kulit putih dan hitam, karena dalam sejarah,
perempuan kulit hitam lebih menderita daripada perempuan kulit putih.[30]
Aktivis feminis pada gelombang ketiga sering mengkritik feminis pada
gelombang kedua yang kurang memperhatikan perbedaan antara laki-laki
dan perempuan dari segi ras, eknik atau bangsa.[31] Kritik feminis
gelombang

ketiga

kepada

feminis

gelombang

kedua

secara

jelas

disampaikan Lesley Heywood dan Jennifer Drake yang mendeklarasikan diri


sebagai post-feminist dan menyatakan bahwa mereka bersebrangan dan
mengkritik feminis gelombang kedua.[32]
b. Sejarah Munculnya Gerakan Gender:
Gerakan gender adalah salah satu hasil kreasi gerakan feminisme.
Feminisme sebagaimana telah dibahas pada pembahasan sebelumnya
adalah sebuah kelompok gerakan wanita yang protes terhadap pandangan
dan

sikap

Barat

terhadap

perempuan.

Pandangan

Barat

terhadap

perempuan yang dipengaruhi oleh ajaran gereja menganggap perempuan


sebagai penyebab Adam keluar dari surga, dan wanita sebagai sumber dosa.
[33] Ajaran-ajaran gereja inilah yang mendorong laki-laki berlaku semenamena, baik dalam aspek ekonomi, pendidikan, sosial, maupun politik,

sehingga wanita selalu tertindas. Tidak hanya itu, ketika gereja mendirikan
institusi Inquisisi untuk menghukum umat kristiani yang menyeleweng dari
ajaran gereja, perempuan menjadi korban paling banyak.[34]
Gender

merupakan

sebuah

istilah

yang

digunakan

untuk

menggambarkan perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi biologis dan


perbedaan dari segi peran serta sikap. Gerakan ini muncul pada awal
1970an.[35] Dalam hal ini, Hamid berpendapat bahwa kondisi perempuan
dalam tradisi Barat kuno merupakan faktor penting dalam melahirkan
wacana dan bahkan teori feminisme dan gender. Untuk itu, ia menyimpulkan
bahwa kedua gerakan itu (feminisme dan gender) merupakan konstruk sosial
masyarakat Barat post-modern yang misi utamanya adalah mengembangkan
kesetaraan (equality).[36]
c.

Kenapa Gender dan Bukan Perempuan


Masalah gender adalah masalah pemberdayaan perempuan sehingga
mereka bisa bersaing dengan laki-laki di ranah publik. Para feminis
menginginkan

perempuan

bisa

menjabat

posisi

strategis

dalam

pemerintahan, organisasi, maupun perusahaan meskipun harus keluar


rumah. Yang menjadi pertanyaan, kenapa mereka menggunakan istilah
gender dan bukan perempuan?
Penggunaan istilah perempuan sebagai jargon pergerakan akan
menghambat pergerakan itu sendiri. Kata perempuan telah menempati
posisi tertentu dalam masyarakat secara global. Sebagai contoh adalah
perempuan berposisi sebagai ibu dalam keluarga. Padahal gerakan ini ingin

membangun sebuah gambaran baru bahwa perempuan itu seorang yang


mandiri, pemimpin dan gambaran lain yang jauh dari tugas tradisionalnya.
Istilah gender adalah istilah yang menggambarkan peran laki-laki dan
perempuan. Dengan menggunakan istilah ini, mereka ingin membangun
gambaran baru tentang pembagian tugas yang seimbang (menurut feminis)
antara laki-laki dan perempuan. Dengan nama baru ini, mereka ingin
masyarakat bisa menerima peran baru yang usung aktivis feminis.[37]
d. Landasan Teoritis dan Ideologis Kesetaraan Gender
Teori-teori dan ideologis kesetaraan gender semua bermuara pada
teori sosial besar yaitu:
1) Teori Struktural-Fungsional.
Pendekatan teori ini adalah pendekatan teori sosiologi yang diterapkan
dalam

institusi

keluarga.

Keluarga

sebagai

sebuah

institusi

dalam

masyarakat mempunyai prinsip-prinsip yang serupa dengan prinsip-prinsip


yang ada dalam masyarakat. William F. Ogburn dan Talcott Parsons adalah
para

sosiolog ternama

yang mengembangkan pendekatan struktural-

fungsional dalam kehidupan keluarga pada abad ke-20. Pendekatan ini


mengakui adanya segala keragaman dalam kehidupan sosial. Pengakuan
keragaman ini merupakan sumber utama adanya struktur masyarakat dan
pengakuan akan adanya perbedaan fungsi sesuai dengan posisi seseorang
dalam struktur sebuah sistem.[38]
2) Teori Konflik

Teori Konflik adalah teori yang memandang bahwa perubahan sosial


tidak

terjadi

perubahan,

melalui
tetapi

proses

terjadi

penyesuaian

akibat

adanya

nilai-nilai
konflik

yang

yang

membawa

menghasilkan

kompromi-kompromi yang berbeda dengan kondisi semula. Teori Konflik


menfokuskan pada perubahan sosial dan situasi konflik. Hal ini disebabkan
terbatasnya

sumber

daya

sedang

setiap

individu

atau

kelompok

membutuhkannya.[39]
Secara teoritis, teori ini merupakan pengembangan dari paham
materialisme yang memiliki pengaruh kuat pada abad ke-17. Thomas Hobbes
(1588-1679) adalah orang yang paling berpengaruh dalam mengembangkan
paham materialisme. Menurut Hobbes, manusia memiliki sifat dasar, yaitu
sifat rakus yang tidak pernah terpuaskan, penipu, dan tidak ada rasa belas
kasih. Sifat-sifat ini yang akan membuat kondisi masyarakat penuh dengan
konflik.[40]
Pendapat Karl Marx yang kemudian dilengkapi oleh Friedrich Engels
mengemukakan suatu gagasan menarik bahwa perbedaan dan ketimpangan
gender antara laki-laki dan perempuan tidak disebabkan oleh perbedaan
biologis, tetapi merupakan bagian dari penindasan dari kelas yang berkuasa
dalam relasi produksi yang diterapkan dalam konsep keluarga.[41]
3) Teori Psikoanalisa/Identitas
Teori ini pertama kali dikenalkan oleh Sigmund Freud (1856-1939).
Teori ini mengungkapkan bahwa perilaku dan kepribadian laki-laki dan
perempuan sejak awal ditentukan oleh seksualitas. Freud menjelaskan

bahwa kepribadian seseorang tersusun di atas tiga struktur, yaitu id, ego,
dan superego.
Pertama

id,

id

merupakan

pembawaan

sifat-sifat

fisik-biologis

seseorang sejak lahir, termasuk nafsu seksual dan insting yang cenderung
selalu agresif. Ia mendorong seseorang untuk mencari kesenangan dan
kepuasan. Yang kedua ego, ego bekerja dalam lingkup rasional dan berupaya
menjinakkan keinginan agresif dari id. Yang ketiga superego, superego
berfungsi sebagai aspek moral dalam kepribadian, berupaya mewujudkan
kesempurnaan hidup, lebih dari sekedar mencari kesenangan dan kepuasan.
[42]
Perkembangan kepribadian seseorang dipengaruhi oleh lima tahapan
psikoseksual. Freud menghubungkan kepuasaan insting seksual dengan
anggota badan tertentu. 5 tahap itu
a) Oral stage, masa ini terjadi pada bayi yang mengisap susu dari mulut (pada
tahun pertama)
b)

Anal stage, masa ini terjadi pada tahun kedua, ketika seorang bayi
mengeluarkan kotoran dari dubur.

c)

Phallic stage, masa phallic terjadi ketika anak mulai mengidentifikasi


kemaluannya, seorang anak laki-laki mendapatkan kesenangan erotis dari
penis sedang perempuan dari clitoris.

d)

Talency stage, Talency stage merupakan kelanjutan tingkat sebelumnya,


pada masa ini, kecenderungan erotis ditekan sampai menjelang masa
pubertas.

e) Genital stage, saat kematangan seksualitas seseorang.[43]


Teori ini menyatakan bahwa pada masa Phallic yaitu sekitar umur 3-6
tahun, seorang anak bisa mendapatkan kesenangan ketika memainkan alat
kelaminnya. Ketika masa ini mereka bisa mengidentifasi diri mereka. Anak
laki-laki merasa mirip ayah dan anak perempuan mirip ibu. Anak laki-laki
merasa superior karena memiliki penis sedang perempuan merasa inferior
karena tidak memiliki penis. Sejak saat itu terjadi sifat cemburu perempuan
kepada laki-laki.[44]
4) Teori Feminism
a) Feminism Liberal
Tokoh aliran ini antara lain Margaret Fuller (1810-1850), Harriet
Martineu (1802-1876), Anglina Grimke (1792-1873), dan Susan Anthony
(1820-1906). Dasar pemikiran kelompok ini adalah semua manusia baik lakilaki maupun perempuan diciptakan seimbang dan serasi. Oleh karena itu,
tidak terjadi penindasan antara satu kelompok dengan kelompok lain.
Meskipun dikatakan sebagai feminis liberal, kelompok ini tetap
menolak persamaan secara menyeluruh antara laki-laki dan perempuan.
Dalam

beberapa

memandang

perlu

hal,

terutama

perbedaan.

fungsi

reproduksi,

Bagaimanapun

juga

aliran

ini

tetap

perbedaan

organ

membawa kosekuensi logis di dalam kehidupan masyarakat. Kelompok ini


menghendaki agar perempuan diintegrasikan secara total dalam semua
peran, termasuk bekerja di luar rumah. Sehingga tidak suatu kelompok yang
lebih dominan.[45]

Untuk merealisasikan tujuan mereka, aktivis feminis liberal melakukan


dua hal penting. Pertama adalah dengan melakukan pendekatan psikologis.
Mereka mengadakan diskusi-diskusi, tanya jawab dan sharing seputar
buruknya kondisi perempuan di masyarakat yang dikuasai laki-laki. Hal ini
bertujuan

untuk

membangkitkan

kesadaran

individu

untuk

melawan

dominasi laki-laki. Kedua adalah dengan menuntut pembaharuan hukum


yang

dianggap

tidak

menguntungkan

perempuan.

Pembaharuan

itu

mencakup penghapusan hukum yang lama dan membuat hukum baru yang
memperlakukan perempuan setara dengan laki-laki.[46]
b) Feminism Marxis-Sosialis
Tokoh aliran ini adalah Clara Zetlin (1857-1933) dan Rosa Luxemburg
(1871-1919). Aliran ini berupaya menghilangkan stuktur kelas dalam
masyarakat yang berdasarkan jenis kelamin dengan melontarkan isu bahwa
ketimpangan peran antara dua jenis kelamin lebih disebabkan oleh faktor
budaya alam. Kelompok ini berpendapat bahwa ketimpangan gender di
dalam

masyarakat

adalah

akibat

penerapan

sistem

kapitalis

yang

mendukung terjadinya tenaga kerja tanpa upah bagi perempuan di dalam


lingkungan rumah tangga.[47]
Menurut

feminisme

Marxis,

sebelum

kapilatisme

berkembang,

kebutuhan keluarga untuk bertahan ditanggung seluruh anggota keluarga


termasuk perempuan. Mereka merupakan kesatuan produksi. Tetapi setelah
kapitalisme berkembang, institusi keluarga bukan lagi sebuah kesatuan
produksi. Semua kebutuhan manusia berpindah dari rumah ke pabrik. Saat

itu terjadi pembagian kerja berdasarkan seksual. Para suami bekerja di


sektor publik dan mendapatkan upah sedang perempuan bekerja mengurus
rumah tanpa mendapat upah. Karena nilai eksistensi manusia dinilai dari
kepemilikan materi maka perempuan dinilai lebih rendah dari laki-laki. Untuk
mengangkat derajat perempuan sejajar dengan laki-laki maka mereka harus
ikut

dalam

kegiatan

produksi

dan

kegiatan

di

sektor

publik

dan

meninggalkan sektor domestik.[48]


c) Femenisme Radikal
Kelompok ini muncul pada permulaan awal abad ke-19. Feminisme
Radikal menuntut persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Selain iu,
kelompok ini menuntut persamaan seks. Menurut mereka, kepuasan seksual
juga bisa diperoleh dari sesama perempuan sehingga mereka mentolerir
lesbian.[49]
Menurut penulis, inti perjuangan semua aliran femisme ialah mereka
berupaya memperjuangkan kemerdekaan dan persamaan status serta peran
sosial antara laki-laki dan perempuan sehingga tidak ada lagi terjadi
ketimpangan gender di dalam masyarakat.
5) Teori Sosio-Biologis.
Teori ini dikembangkan oleh Pierre van den Berghe, Lionel Tiger dan
Robin Fox. Teori ini melibatkan faktor biologis dan sosial dalam menjelaskan
relasi gender. Laki-laki dominan secara politis dalam semua masyarakat
karena predisposisi biologis bawaan mereka. Dalam dunia hewan pun, jenis
jantan memperlihatkan perilaku lebih kasar, mengancam, dan unggul dari

pada betina. Kenyataan lain bahwa laki-laki umumnya lebih besar dan kuat
fisiknya

secara

konstan

dibanding

perempuan

yang

sewaktu-waktu

mengandung dan menjalani menstruasi. Kenyataan ini memainkan peran


penting dalam aspek pembagian kerja menurut jenis kelamin. Masyarakat
akan lebih diuntungkan kalau laki-laki yang bertugas sebagai pemburu dari
pada perempuan, sedang mengandung, melahirkan dan menyusui adalah
tugas perempuan yang tidak mungkin diganti oleh laki-laki. [50]
e.

Konsep Gender: Nature vs Nurture


Teori Nature atau Biological Essensialism adalah sebuah teori umum
yang beranggapan perbedaan fungsi serta peran antara laki-laki dan
perempuan disebabkan karena adanya perbedaan alamiah sebagaimana
tercemin di dalam perbedaan anatomi biologis kedua makhluk tersebut. Teori
ini meyakini ada hubungan yang kuat antara biologis (sex) dengan sifat atau
karakter lekaki dan perempuan.[51]
Teori Nurture adalah sebuah teori yang berpendapat bahwa perbedaan
fungsi dan peran antara laki-laki serta perempuan disebabkan oleh faktor
budaya dalam suatu masyarakat. Teori Nuture menolak teori Biological
Essensialism, mereka meyakini bahwa perbedaan sifat maskulin dan feminim
bukan pengaruh biologi melainkan kulturisasi.[52]

Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan..., hal. 35.


Sri Suhandjati Sukri (edit), Pemahaman Islam, hal 90
A S Horby, Oxford Advanced Leaners Dictionary of Current English, New York:
Oxford University Press, 2005, Edisi ke-7, hal. 644.
[4] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan..., hal. 35.
[5] Ibid, hal. 33-34.
[6] Julia Cleves Mosse, Gender dan Pembanguan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996,
hal. 3.
[1]
[2]
[3]

[7] http://www.who.int/gender/whatisgender/en/index.html. Gender refers to the


socially constructed roles, behaviours, activities, and attributes that a given society
considers appropriate for men and women.

[8] Julia Cleves Mosse,


[9] Ratna Megawangi,

Gender .., hal. 67.


Membiarkan Berbeda, Bandung: Mizan, 1999, Cet pertama, hal.

20.
[10] Ibid
[11] Hamid Fahmy Zarkasyi Problem Kesetaraan Gender dalam Studi Islam,
Islamia, Vol III No.5,2010. Hal 3. Edisi tulisan dalam bahasa Inggris sebagai berikut. The
very word to describe woman, femina, according to the authors (of Witches hammer) is
derived form fe and minus or fides and minus, interpreted as less in faith.
[12] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, Fifty Key Concepts in Gender Studies, London:

Sage Publication, 2004, Hal. 48.


[13] The word feminism was coined in France in the late 1800s. it combined the
French word for woman femme, with the suffix ism, meaning political position. Thus
feminism originally meant a political position about women. ---- feminism is defined as a
movement for social, political, and economic equality of women and men. Julia T. Wood,
Gendered Lives Commonication, Gender, and Culture, Boston: Wadsworth, 2009, edisi ke-18,
hal. 3.
[14] Sheila dalam Dinar Dewi Kania, Isu Gender: Sejarah dan Perkembangannya
Islamia voll No. 5,2010, Hal. 29.
[15] Ibid hal. 26.
[16] Ratna Megawangi, Membiarkan..., Hal. 24.
[17] Ibid
[18] Dinar Dewi Kania, Isu Gender: Sejarah..., hal. 27.
[19] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal. 52.
[20] Gill Plain and Susan Sellers, A HISTORY OF FEMINIST LITERARY CRITICISM,
Cambridge University Press, 2007, hal. 9.
[21] Ibid hal. 8.
[22] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal. 53.
[23]Ann Cudd E dan O Robin Andreasen dalam Dinar Dewi Kania, Isu Gender:

Sejarah...., hal. 31.


[24] Shilpi Gole, Feminist Literary Critism, Language in India. Vol 10, (4 april 2010),
hal. 404.
[25] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal. 145.
[26] Dinar Dewi Kania, Isu Gender: Sejarah...., hal. 32.
[27] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal. 144.
[28] Shilpi Gole, Feminist Literary..., hal. 404.
[29] Ibid
[30] Dinar Dewi Kania, Isu Gender: Sejarah..., hal. 33.
[31] Shilpi Gole, Feminist Literary..., hal. 404.
[32] Jane Pilcher dan Imelda Whelehan, 50 Key Concepts..., hal 170
[33] Alkitab, Kejadian 3:1-7, Jakarta, Lembaga Alkitab Indonesia, 2008, Hal. 3.
[34] Adian Husaini, Wajah Peradaban Barat , Jakarta: Gema Insani, 2005, hal. 16.
[35]
[36]
[37]

Ibid hal. 56.


Hamid Fahmy Zarkasyi, Problem Kesetaraan, hal. 4.
Julia Cleves Mosse, Gender & Pembangunan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996,

[38]
[39]

Ratna Megawangi, Membiarkan, hal. 56.


Bernard Raho, http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_konflik#cite_note-0

Hal. 8.

[40] Ratna Megawangi, Membiarkan..., hal. 76-77.


[41] Nasarrudin, Argumen Kesetaraan., hal. 61.
[42] Ibid hal. 46.
[43] Ibid hal. 47.
[44] Sigmund freud dalam Nasarrudin, Argumen Kesetaraan.,
[45] Ibid hal. 65.
[46] Yunahar Ilyas, Feminisme dalam kajian..., hal. 47.
[47] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan, hal. 66.
[48] Yunahar Ilyas, Feminisme dalam kajian, hal. 49.
[49] Nasaruddin Umar, Argumen Kesetaraan, hal. 67.
[50] Ibid hal. 68.
[51] Ratna Megawangi, Membiarkan..., hal. 94.
[52] Ibid

hal. l 49.