Anda di halaman 1dari 52

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil
4.1.1

Gambaran Lokasi Penelitian


Studi kasus dilakukan pada tanggal 12 April 2016 di RSUD

Pariaman di Ruang Rawatan Inap Paru mulai dari tanggal 12 April


2016 sampai dengan 16 April 2016 dengan mengambil sampel satu
pasien yang akan dilakukan penerapan asuhan keperawatan pada Tn.B
dengan Pneumonia
pengkajian,

dignosa

dengan kegiatan
keperawatan

yang
,

dilakukan meliputi

intervensi

keperawatan,

implementasi keperawatan dan evaluasi keperawatan.


A. Pengkajian
a. Identitas Pasien
Pengkajian dilakukan pada tanggal 12 April 2016, pada
kasus

ini

diperoleh

dengan

cara

auto

anamnesa

dan

alloanamnesa. Tanggal masuk pasien 12 April 2016 dan dirawat


di Ruang Rawatan Inap Paru RSUD Pariaman dan didapatkan
data identitas pasien bernama Tn. B, alamat Jawi-jawi dengan
umur 73 tahun, jenis kelamin laki-laki, pasien bekerja sebagai
wiraswasta , no register pasien 07.00.XX dengan diagnosa medis
Pneumonia. Yang bertanggung jawab kepada Tn.B adalah Tn.A,
umur 38 tahun, pemdidikan terakhir SMA, pekerjaan wiraswasta,
dan hubungan dengan pasien adalah anak.
b. Pengkajian Riwayat Kesehatan
1.
Status Kesehatan sekatang
a) Keluhan Utama
Pasien masuk pada tanggal 12 April 2016 melalui Poli
Paru dengan keluhan sesak nafas serta batuk berdahak, batuk
1

bercampur sputum, batuk pasien semakin parah pada malam


hari, pasien tampak lemas dengan keadaanya.
b) Alasan Masuk Rumah Sakit
Pasien mengatakan alasan masuk rumah sakit karena
sesak nafasnya sudah sangat mengganggu dan pasien sudah
dikontrol ke poli paru, namun karena penyakitnya semakin
parah pasien di instruksikan oleh dokter untuk dirawat di
ruang rawatan inap paru.
c) Upaya Yang Dilakukan Untuk Mengatasi
Pasien mengatakan upaya yang telah dilakukan untuk
mengatasinya adalah

dengan kontol ke poli paru karena

pasien sudah lama menderita sakit ini.


d) Keluhan Saat Dilakukan Pengkajian
Saat dilakukan pengkajian pada tanggal 12 April 2016
pada pukul 14.00 Wib pasien mengatakan sesak nafasnya
didahului oleh batuk berdahak dan pilek selama kurang lebih
satu minggu sebelum masuk rumah sakit, dan klien
mengatakan sesak nafasnya muncul sejak 6 hari yang lalu ,
sesak nafasnya timbul perlahan lahan, sesak nafas terus
menerus dan bertambah saat beraktifitas dan lebih parah pada
malam hari, klien mengatakan saluran pernafasan terasa
sempit saaat sesak dan sangat membuat pasien kelelahan
yang berlebih, saat dilakukan pengkajian pasien mengatakan
sesak nafasnya cendrung bertambah parah sejak 3 hari yang
lalu, pasien mengatakan sesaknya berlangsung sekitar
setengah jam dan klien berusaha untuh istirahat ketika
2.

sesaknya mulai kambuh


Status Kesehatan Masa Lalu

a) Penyakit Yang Pernah Dialami


Pasien mengatakan sudah pernah mengalami penyakit ini
sebelumnya. Pasien mengatakan juga memiliki riwayat
penyakit asma. Pasien mengatakan tidak ada pernah
menderita penyakit hipertensi , Diabetes , maupun penyakit
jantung.
b) Pernah Dirawat
Pasien mengatakan sudah pernah dirawat di rumah RSUD
Pariaman 2 bulan tepatnya pada bulan 2 Februari 2016
selama 6 hari dengan penyakit pneumonia ini dan pada 21
Agustus 2015 klien juga pernah dirawat di Rumah sakit ini
dengan penyakit yang sama.
c) Alergi
Pasien mengatakan tidak ada riwayat alergi terhadap
makanan serta minuman.
d) Kebiasaan ( Merokok / Kopi / Alkohol Dll)
Pasien mengatakan dulu suka merokok dan minum kopi,
pasien mengatakan tidak pernah minum minuman beralkohol
dan obat - obatan terlarang serta tidak pernah mengkonsumsi
narkoba.
e) Obat-Obat Yang Sering Digunakan
Pasien mengatakan hanya minum obat yang diberikan oleh
dokter ketika dikontrol ke poli paru dan pasien mengatakan
3.

tidak mengingat nama-nama obatnya.


Status Kesehatan Keluarga
Pasien mengatakan
anggota
keluarganya tidak ada
menderita penyakit yang sama dengan pasien dan tidak memiliki

riwayat penyakit diabetes , hipertensi maupun penyakit jantung.


c. Data Biologis
a. Pola Nutrisi Metabolik
Di RS
: Berat Badan : 60Kg
Tinggi Badan : 170cm
Di Rumah :Berat Badan : 61Kg
Tinggi Badan : 170cm

o
1

Aktifitas
Makan
Menu
Porsi
Makanan Kesukaan
Pantangan
Cemilan

Minum
Jumlah
Minuman Kesukaan
Pantangan
BAB
Frekuensi
Jumlah
Warna
Bau
Konsistensi
Kesulitan

BAK
Frekuensi
Jumlah
Warna
Bau
Konsistensi
Kesulitan

Tidur
Waktu Tidur
Lama Tidur
Hal yang
mempermudah
Kesulitan

No

Latihan ( Olahraga
Rutin)

Saat Sehat

Saat Sakit
DIIT TKTP
Nasi,
lauk, Nasi, lauk,
sayur
sayur, buah
3x1
hari 3x1 hari
porsi
(Habis)
Tidak ada
Sesuai Diit
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Jarang
1500 cc
Kopi
Tidak ada

1500 cc
Tidak ada
Sesuai diit

1x1 hari
Normal
Coklat Khas
Khas Feses
lembek
Tidak ada

1x2 hari
Sedikit
Coklat khas
Khas feses
Lembek
keras

4-5 x/hari
1000 cc / hari
Kuning jernih
Khas urine
Cair
Tidak ada

6-7 kali / hari


1500 cc/hari
Kuning
jernih
Khas urin
Cair
Tidak ada

10.00-05.00
wib
7-8 jam
Tidak ada

12.00 05.00
Wib
5- 6 jam
Tidak ada

Tidak ada

Batuk dan
sesak nafas

Tidak ada

Tidak ada

Kemampuan Perawatan diri


4

1 Makan dan Minum


2 Mandi
3 Toileting
4 Berpakaian
5 Berpindah
Keterangan:
0 : Mandiri
1 : Alat Bantu
2 : Dibantu Orang Lain
3 : Dibantu Orang Lain dan Alat Bantu
4 :Tergantung Total

d. Data Pengkajian Fisik


a. Keadaan Umum
1. Tingkat Kesadaran :
Composmentiscooperatif
2. GCS
:
15
Verbal
:
5
Motorik
:
6
Eye
:
4
b. Tanda-Tanda Vital
1. Nadi
:
89 X/menit
2. Suhu
:
36,7 0C
3. Tekanan darah
:
130/80 MmHg
4. Pernafasan
:
31 X/menit
c. Keadaan Fisik
1. Kepala
a. Rambut
I :
tampak beruban, sedikit kasar, tidak ada
P :

ketombe
tidak ada nyeri tekan, pembengkakan pada
kepala, serta udema

b. Mata
I :

simetris kiri dan kanan, Konjungtiva tidak


anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor ,

P :
c. Telinga
I :
P :
d. Hidung

tidak ada udema


tidak ada pembengkakan dan udema
Simetris kiri dan kanan, tidak ada serumen,
tidak ada lesi
nyeri tekan tidak ada

I :

simetris kiri dan kanan, polip tidak ada, ada


sekret (sekret kental, warna kuning khas dan

tidak bercampur darah)


P :
tidak ada nyeri tekan dan pembengkakan
e. Mulut dan Gigi
I :
tidak ada kelainan kongingental, mukosa
kering , tidak ada sariawan, rongga mulut
P :
f. Leher
I :
P :

bersih
tidak ada nyeri tekan dan udema
tidak ada pembesaran kelenjar getah bening
dan kelenjar tiroid
tidak ada nyeri tekan, tidak ada lesi dan
udema , JVP (5 -2 cm)

2. Thorax
a. Jantung
I :

Ictus cordis tidak tampak di sekitar ICS ke

P :

V
Ictus cordis teraba di Linea Mid Clavicula

P :

sinistra RIC V
Batas jantung di ICS ke-2 atas dan ICS ke3,4 bawah

A :

pekak, ICS ke-6 sinistra

pekak,dan area dalam redup


BJ 1 (ICS ke-5 sinistra dan ICS ke-3
sinistra), BJ 2 (ICS ke-2 sinistra dan dextra)
suara reguler dan lemah,tidak ada suara

tambahan
b. Paru - Paru
I :
Bentuk Normalcest , Simetris kiri dan kanan,
Tidak ada luka Post Op, tidak ada penyakit
kulit, pengembangan dada sejajar, dipsnea

P :

taktil premitus menurun dan berbeda pada

P :
A :

kiri dan kanan


suara palpasi area paru redup
Rongki (+/+), Whezzing (+/+) , krekel, dan
stidor

3. Abdomen
I
:

tidak ada bekas luka post op dan penyakit


kulit, abdomen kiri dan kanan sama
peristaltik usus 16x/menit
hepar tidak teraba ( tidak ada pembesaran)
bunyi tympani

A
:
P
:
P
:
4. Eksremintas
I
:
terpasang

IVFD

Ringer

Laktat

drip

Aminopilin 12 Jam/kolf yang pertama,


Ekremitas atas dan bawah lengkap dan
capilari refil < 2 detik, tidak ada sianosis,
P

clubbing finger tidak terlihat


tidak ada pembengkakan dan udema pada
ekremitas serta tidak ada nyeri tekan pada
ekremitas

5. Genitalia
I
:
P

bersih , tidak ada penyakit kelamin dan tidak


ada terpasang kateter.
tidak ada pembengkakan dan tidak ada nyeri
tekan

e. Data Psikologis
a. Komunikasi Klien
Pasien dapat berkomunikasi baik dengan pasien lain , tim
kesehatan di rumah sakit dan orang lain.
b. Orang Yang Paling Dekat Dengan Klien
Orang yang paling dekat dengan pasien adalah anak kedua
klien.
c. Rekreasi

Pasien mengatakan selama di rumah jarang melakukan


rekreasi.
d. Kognitif
Kognitif pasien cukup baik, klien cukup percaya diri dengan
keadaannya yang dialaminya.
e. Persepsi Konsep Diri
Pasien mengatakan sakitnya ini dapat diterimanya walaupun
kadang cemas dan khawatir dengan keadaannya, dan sedikit
minder karena penyakit yang dideritanya ini dan pasien
mengharapkan kesembuhan akan dirinya.
f. Persepsi Terhadap Penyakit
Pasien menganggap penyakit ini adalah ujian dari tuhan dan
kita hanya bisa berusaha untuk sembuh.
g. Dampak Dirawat Dirumah Sakit
Selama dirawat di rumah sakit pasien tampak murung.
h. Hubungan Dengan Orang Lain / Interaksi Sosial
Pasien dapat berinteraksi dengan baik dengan orang lain.
i. Keluarga Yang Dihubungi Bila Diperlukan
Keluarga pasien yang dapat dihubungi adalah anak klien yang
kedua
j. Toleransi Stress Koping
Selama sakit pasien mengatakan tabah terhadap penyakit yang
dideritanya dan bila ada masalah pasien meminta bantuan
kepada keluarga yang menjaga klien atau orang lain.
f. Data Spiritual
a. Ketaatan Beribadah
Pasien mengatakan shaoat tetap dilakukan walaupun sakit,
klien mengatakan solat sambil duduk.
b. Keyakinan Terhadap Sehat dan Sakit
Pasien mengatakan sakit datangnya dari tuhan dan yakin
terhadap penyakitnya akan sembuh karena klien percaya tidak
ada cobaan yang tidak dapat di lewati.
c. Keyakinan Terhadap Penyembuhan

Pasien yakin terhadap proses pengobatan penyakitnya yang


dijalani di rumah sakit ini.
g. Data Penunjang
a. Data Laboratorium (12 April 2016)
Pemeriksaan
Hematologi
Darah lengkap
Hemoglobin
Leukosit
LED
Hitung jenis sel
Eosinofil%
Basofil%
Netrofil batang%
Netrofil segmen%
Limfosit%
Monosit
Ht
Protein Plasma
Trombosit
Eritrosit
MCV
MCH
MCHC
RDW
SGOT
SGPT

Hasil

Satuan

12,9
12.300 H
35 H

g/dl
/ul
/mm

10.9 H
0.2
0L
69.8 L
9.2 L
9.9 H
40.1

%
%
%
%
%
%
%
g/dl
10 3/ul
10 6/ul
F1
Pg
g/dl
%
u/l
u/l

1-3
0-1
1-6
50-70
20-40
2-8
37-47
6-8
150-450
4.2-5.4
80-100
27-32
32-36

Hasil

Satuan

Harga Normal

98,7
36,7
53
7,369
40,8
98,4
24,4

%
C

94-98
36,5-37,5

Mmol
Mmol
Mmol

7,35-7.45
35-45
80-100
24-31

-1,8
23,3
136,7
3,95
0,50

Mmol
Mmol
Mmol
Mmol
Mmol

0-1,25
22-36
135-148
3,5-5,3
1,15-1,27

252 H
4.80
80.8
27.6
34.2
13.2
13
15

Pemeriksaan
BGA Paket elektrolit
02 saturasi (SO2)
Suhu
F102
pH
PCO2
PO2
Total CO2 Plasma
(TCO2)
Base excess (Beb)
HCO3
Natrium
Kalsium
Ca

Harga Normal
12-16
4800-10.000
0-20

<31
<31

b. Data Radiologi ( 12 April 2016)


Pada pemeriksaan thorax didapatkan hasil :
Limphadenopathy hilus sinistra DD: massa paru
Pneumonia sinistra lobus superior apical posterior
h. Therapi
Infus Ringer Laktat Drip Aminophylin 12 jam/kolf
Infus Lovo 1 x 300 ml
Combivent Nebulizer 4 X 1 amp
Injeksi
Cheftamizine
2 X 1 amp
Ranitidine
2 X 1 amp
Methilprenisol 2 X 625
Oral
N. Ace 3 X 1 tablet
Sucrelfat Syrup 3 x 1 sendok teh

DATA FOKUS
DATA OBJEKTIF

10

DATA SUBJEKTIF

1. Pasien mengatakan pasien


sesak nafas
2. Klien mengatakan sesak
nafasnya didahului dengan
batuk dan pilek
3. Klien mengatakan batuknya
berdahak
4. Pasien
mengatakan
badannya terasa lemas
5. Pasien mengatakan hanya
berbaring di tempat tidur
karena badannya terasa
lemas dan takut sesak
semakin
parah
jika
beraktifitas
6. Klien
mengatakanpernafasannya
terasa tesumbat dan sulit
untuk bernafas
7. Klien mengatakan sesak
nafasnya membuat sangat
kelelahan
8. Pasien mengatakan mudah
letih bila melakukan aktifitas
9. Pasien mengatakan nafasnya
terasa
sesak
seperti
tersumbat
10. Pasien mengatakan nafsu
makannya berkurang
11. Pasien mengatakan nasi yang
dimakannya tidak pernah
habis 3 sendok makan
12. Pasien mengatakan sesaknya
bertambah bila melakukan
aktifitas
13. Pasien mengatakan tidak
selera makan
14. Pasien tampak mengeluarkan
sputum
15. Pasien mengatakan batuk
berdahak

11

1. Pasien tampak batuk


2. Terdengar saat auskultasi Ronchi (+/
+)
3. Tampak ada sekret
4. Terpasang nasal kanul O2 3 L/Menit
5. Leukosit = 12.300 /ul
6. Pernafasan Pasien cepat
7. Pengembangan dada ada
8. Penggunaan otot bantu pernafasan
9. Dyspneu
10. Taktil premitus menurun di kedua
lapang paru
11. TD = 130/80 mmHg
12. RR = 31 x/menit
13. Konjungtiva anemis
14. Leukosit = 12.300 /ul
15. Pasien tampak tidak menghabiskan
makanannya
16. Tampak porsi makan pasien hanya
habis porsi
17. Pasien tampak lemas
18. Pasien tampak lemas
19. Pasien hanya berbaring di tempat
tidur
20. Pasien tampak semakin sesak
setelah melakukan aktifitas
21. Pasien
tampak
sulit
untuk
melakukan aktifitas
22. Aktifitas klien dibantu

B. Analisis Data
N
O
1

DATA
DS :
Pasien
mengatakan
nafasnya terasa sesak
seperti
tersumbat
sudah
selama
1
minggu
Pasien
mengatakan
sebelum
sesak
didahului
dengan
batuk dan pilek
Pasien
mengatakan
batuknya berdahak
Pasien
mengatakan
sesak nafas timbul
perlahan dan terus
menerus
Pasien
mengatakan
sesak
nafasnya
bertambah
ketika
malam dan ketika
beraktifitas.
DO:
Pasien tampak batuk
dan sesak
Skala VAS = 7
Terdengar
saat
auskultasi Ronchi (+/+)
Tampak ada sekret
RR : 31 X/menit
Terpasang nasal kanul
O2 3 L/Menit
Leukosit = 12.300 /ul

Pasien
mengatakan
badannya terasa lemas
Klien
mengatakanpernafasa
nnya terasa tesumbat
dan
sulit
untuk

12

ETIOLOGI

MASALA
H

Sekresi Mukosa
Berlebih

Bersih jalan
nafas tidak
efektif

Perubahan
membran alveolar
(efek Inflamasi)

Gangguan
pertukaran
gas

bernafas
Klien
mengatakan
sesak
nafasnya
membuat
sangat
kelelahan
Klien
mengatakan
dulu suka merokok
Klien
mengatakan
saat beraktifitas dan
malam hari sesaknya
yang parah
DO:
Pernafasan
Pasien
cepat
Pengembangan dada
ada
Taktil
premitus
menurun di kedua
lapang paru
Penggunaan
otot
bantu pernafasan
Dyspneu
TTV
TD = 130/80 mmHg
RR = 31 x/menit
Konjungtiva anemis
Leukosit = 12.300 /ul

Pasien
mengatakan Menurunnya nafsu
mekan sekunder
tidak selera makan
Pasien
mengatakan akibat toksi bakteri,
adanya sputum
nasi yang dimakannya
tidak pernah habis 3
sendok makan
Pasien
mengatakan
nafsu
makannya
berkurang
Batuk
pasien
berdahak
Pasien
mengatakan
mengeluarkan sputum
DO:
Pasien tampak tidak

13

Perubahan
nutrisi
kurang dari
kebutuhan

menghabiskan
makanannya
Tampak porsi makan
pasien hanya habis
porsi
Pasien tampak lemas
DS:
Pasien
mengatakan
sesaknya bertambah
bila
melakukan
aktifitas
Pasien
mengatakan
hanya berbaring di
tempat tidur karena
badannya terasa lemas
dan
takut
sesak
semakin parah jika
beraktifitas
Pasien
mengatakan
mudah
letih
bila
melakukan aktifitas
DO:
Pasien tampak lemas
Pasien
hanya
berbaring di tempat
tidur
Pasien
tampak
semakin sesak setelah
melakukan aktifitas
Pasien tampak sulit
untuk
melakukan
aktifitas
Aktifitas klien dibantu

Ketidakseimbanga
n antara suplai dan
kebutuhan oksigen

Intoleransi
aktifitas

C. Diagnosa Keperawatan
No

Tanggal
Ditemukan

Diagnosa Keperawatan

12 April 2016

Bersih jalan nafas tidak efektif berhubungan


dengan Sekresi Mukosa Berlebih

Gangguan pertukaran gas berhubungan

14

12 April 2016

12 April 2016

12 April 2016

dengan Perubahan membran alveolar (efek


Inflamasi)
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan Menurunnya nafsu
mekan sekunder akibat toksi bakteri, adanya
sputum
Intoleransi aktifitas berhubungan dengan
Ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen

15

D.

Intervensi Keperawatan

NO
1

DIAGNOSA
KEPERAWATAN
Bersih jalan nafas
tidak
efektif
berhubungan
dengan
Sekresi
Mukosa Berlebih

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


TUJUAN &
KRITERIA HASIL

INTERVENSI

RASIONAL

Setelah dilakukan a. Bina HAM


a. Menjalin rasa percaya dengan pasien
b.
Kaji
frekuensi/
b. Takipnea, pernapasan dangkal, dan
tindakan
kedalaman pernapasan
gerakan dada tak simetris sering
keperawatan
dan gerakan dada.
terjadi
karena ketidaknyamanan
selama 3 x 24
gerakan dindingdada dan/atau cairan
jam,
diharapkan
paru.
bersihan
jalan
nafas
menjadi c. Auskultasi area paru, c. Penurunan aliran udara terjadi pada
area konsolidasi dengan cairan. Bunyi
catat area penurunan
efektif
dengan
napas bronkial (normal pada bronkus)
/tak ada aliran udara
kriteria hasil :
dan bunyi napas
dapat juga terjadi
pada
area
a. Jalan
nafas
adventisius, mis:
konsolidasi. Krekels,
ronki,
dan
bersih
krekels, mengi.
mengi terdengar
pada
inspirasi
b. Tak ada dispnea
c. Tidak sianosi
dan/atau ekspirasi
pada
respons
terhadap pengumpulan cairan, sekret
kental,
dan
spasme
jalan
napas/obstruksi.
d. Bantu pasien latihan
d. Napas dalam memudahkan ekspansi
napas sering.
maksimum paruparu/jalan napas lebih
Tunjukkan/bantu pasien
kecil. Batuk adalah
mekanisme
mempelajari melakukan
pembersihan jalan napas alami,
batuk, mis: menekan
membantu silia untuk mempertahankan
dada dan batuk efektif
jalan napas
paten.
Penekanan
sementara posisi duduk
16

tinggi.
e. Lakukan penghisapan
sesuai indikasi.

menurunkan ketidaknyamanan dada


dan posisi duduk memungkinkan
upaya napas lebih dalam dan lebih kuat.
e. Merangsang batuk atau pembersihan
jalan napas secara mekanik pada
pasien yang tak mampu melakukan
karena
batuk tak efektif atau
penurunan tingkat kesadaran.
f. Cairan (khususnya yang hangat)
memobilisasi
dan
mengeluarkan
sekret.

f. Berikan cairan
sedikitnya 2500 ml/hari
(kecuali kontraindikasi).
Tawarkan air hangat
daripada dingin.
g. Kolaborasi pemberian
obat sesuai indikasi:
g. Alat untuk menurunkan spasme
mukolitik, ekspektoran,
bronkus dengan mobilisasi sekret.
bronkodilator, analgesik.
Analgesik
diberikan
untuk
memperbaiki
batuk
dengan
menurunkan ketidaknyamanan tetapi
harus digunakan secara hati-hati,
karena
dapat menurunkan
upaya
batuk/menekan pernapasan.
Gangguan
Setelah dilakukan a. Kaji
frekuensi, a. Manifestasi
distres
pernapasan
pertukaran
gas tindakan
kedalaman,
dan
tergantung
pada/indikasi
derajat
berhubungan
keperawatan
kemudahan bernapas.
keterlibatan paru dan status kesehatan
dengan Perubahan selama
3x24jam
umum.
kuku
menunjukkan
membran alveolar diharapkan dapat b. Observasi warna kulit, b. Sianosis
vasokontriksi atau respon tubuh
(efek Inflamasi)
menunjukan
membran
mukosa,
terhadap demam/menggigil. Namun
perbaikan
dankuku, catat adanya
sianosis
daun
telinga, membran
17

ventilasi, dengan
sianosis perifer (kuku)
mukosa, dan kulit sekitar mulut
kriteria hasil:
atau sianosis sentral
menunjukkan hipoksemia sistemik.
a. oksigenasi
(sirkumoral).
c. Demam
tinggi
(umum
pada
jaringan
pneumonia bakterial dan influenza)
dengan
GDA c. Awasi
suhu
tubuh,
sangat
meningkatkan kebutuhan
dalamrentang
sesuai indikasi. Bantu
metabolik dan kebutuhan oksigen dan
normal
tindakan mis: selimut
mengganggu oksigenasi seluler.
b. tak ada gejala
tambahan,
suhu
distres
ruangan
nyaman,
pernapasan.
kompres hangat atau
dingin.
d. Tinggikan kepala dan
dorong
sering d. Tindakan ini meningkatkan inspirasi
maksimal, meningkatkan pengeluaran
mengubah
posisi
sekret untuk memperbaiki ventilasi.
(fowler
atau
semi
fowler), napas dalam
dan batuk efektif.
e. Berikan terapi oksigen
dengan benar, mis: e. Tujuan
terapi
oksigen
adalah
dengan nasal prong,
mempertahankan PaO2 di atas 60
masker, masker Venturi.
mmHg. Oksigen diberikan dengan
f. Awasi
GDA,
nadi
metode yang memberikan pengiriman
oksimetri.
tepat dalam toleransi pasien .
f. Mengevaluasi proses penyakit dan
memudahkan terapi paru.
3.

Perubahan
kurang
kebutuhan

nutrisi Setelah dilakukan a. Atasi


faktor
yang a. Pilihan intervensi pada faktor penyebab
dari tindakan
menimbulkan hilangnya
masalah
keperawatan 3 x 24
nafsu makan. Misalnya
18

berhubungan
dengan
Menurunnya nafsu
mekan
sekunder
akibat toksi bakteri,
adanya sputum

jamkebutuhan
sputum banyak,dipsnea,
nutrisi
pasien
nyeri.
terpenuhi
dengn b. Berikan wadah tertutup
untuk spuntum dan
kriteria hasil:
buang
sesering
1. Pasien
tidak
mungkin.
ada
c.
Jatwalkan pengobatan
mual/muntah
pernafasan sedikitnya 1
2. Mukosa bibir
jam sebelum makan
lembab
3. Nafsu makan d. Auskultasi bunyi usus.
Observasi dan palpasi
meningkat
distensi abdomen
e. Beri makan porsi kecil
tapi sering.
f. Evaluasi status nutisi

b. Menghilangkan tanda bahaya, rasa bau


dari lingkungan , pasien
dapat
menurunkan mual.
c. Menurunkan
efek
mual
yang
berhubungan dengan pengobatan.

d. Bunyi usus mungkin menurun dan


distensi abdomen sebagai akibat dari
menelan udara
e. Tindakan ini meningkatkan nafsu
makan meskipun lambat
f. Adanya status kronis atau kondisi
keuangan menimbulkan malnutrisi
Intoleransi aktifitas Setelah dilakukan a. Evaluasi respons pasien a. Menetapkan kemampuan /kebutuhan
berhubungan
tindakan
terhadap aktivitas. Catat
pasien
dan memudahkan pilihan
dengan
keperawatan
laporan
dispnea,
intervensi.
Ketidakseimbanga selama
3x24jam
peningkatan
n antara suplai dan diharapkan dapat
kelemahan/kelelahan
kebutuhan oksigen menunjukan
dan perubahan tanda
peningkatan
vital selama dan setelah
toleransi terhadap
aktivitas.
lingkungan b. Menurunkan stres dan rangsangan
aktivitas, dengan b. Berikan
tenang
dan
batasi
kriteria hasil :
berlebihan, meningkatkan istirahat.
pengunjung
selama
fase
a. Tak ada dispnea
b. Tak
ada
akut
sesuai indikasi.
kelemahan
Dorong
penggunaan
19

berlebih
manajemen stres dan
c. Tanda
vital
pengalih yang tepat
dalam rentang c. Jelaskan
pentingnya c. Tirah baring dipertahankan selama
normal
istirahat dalam rencana
fase
akut
untuk menurunkan
pengobatan
dan
kebutuhan metabolik,
menghemat
perlunya keseimbangan
energi
untuk
penyembuhan.
aktivitas dan istirahat.
Pembatasan aktivitas
ditentukan
dengan respons individual pasien
terhadap aktivitas dan perbaikan
kegagalan pernapasan.
d. Bantu pasien memilih d. Pasien
mungkin nyaman dengan
posisi nyaman untuk
kepala tinggi, tidur di kursi, atau
istirahat dan/atau tidur.
menunduk ke depan meja atau bantal
e. Bantu
aktivitas e. Meminimalkan
kelelahan
dan
perawatan diri yang
membantu keseimbangan suplai dan
diperlukan.
Berikan
kebutuhan oksigen.
kemajuan peningkatan
aktivitas selama fase
penyembuhan

20

ASUHAN KEPERAWATAN
Nama Klien
No.MR
HARI/
TANGGAL
13 April 2016

:
:

Tn. B
07.00.95
NO
DX
I

JAM

IMPLEMENTASI

08.0
0
08.3
0

1. Membina HAM
2. Melakuakan
pengkajian
frekuensi pernapasan
dan gerakan dada.
3. Melakuakan
Auskultasi area paru
08.4
dan mencatat area
5
penurunan /tak ada
aliran
udara dan
bunyi napas
adventisius,
mis:
krekels, mengi.
4. Mambantu
pasien
latihan napas sering
09.0
dan meunjukkan /
0
membantu
pasien
mempelajari
melakukan
batuk,
mis: menekan dada
dan batuk
efektif
sementara
posisi
duduk tinggi.
5. Melakukan
pemeriksaan tanda09.3
tanda vital
0
6. Memberikan cairan
sedikitnya
2500
ml/hari
(kecuali
11.30
kontraindikasi).
Tawarkan air hangat
daripada dingin.
7. Melanjutkan therapi
pemberian
obat
12.0
sesuai
indikasi:
0
mukolitik,
ekspektoran,
bronkodilator,
21

EVALUASI
S:
pasien mengatakan
mau memberikan
informasi
dan
bersedia
melakukan asuhan
keperawatan yang
akan diberikan
pasien mengatakan
dapat melakukan
teknik nafas dalam
dan batuk efektif
pasien mengatakan
akan mulai banyak
minum dan akan
minum
dengan
minuman
yang
hangat.
Pasien mengatakan
bersedia
melakukan therapi
untuk
dirinya
selama di rumah
sakit
O :
Pasien
mau
menjawab
pertanyaan yang
diajukan
TD
:130/80
mmHg
RR: 30 x/menit
Nadi : 91 x/menit
Suhu:36,7x/menit
Pada
saat
auskultasi
terdengar bunyi
Rongki
(+/+),

TTD

analgesik.

Whezzing (+/+) ,
krekel, dan stidor
Gerakan
dada
simetris
Taktil premitus
menurun
di
kedua
lapang
paru
Gerakan
dada
tidak simetris
Dipsneu
Pasien terpasang
O2 3 L/Menit
Pasien
dapat
melakukan teknik
nafas dalam dan
betuk efektif
Memberikan
therapi
Combivent
Nebu 1 amp
IFVD RL drip
aminophilin
12 jam/kolf
N.Ace
3x1
tablet
Sucralfat Srp
3x1 sdk teh
Inj.
Ceftamizine
2x1 amp
Inj. Ranitidine
2x1amp
Metil. P 2x
625 gram
Infus
levofloxacim
300 mL / hari

A :
Masalah
belum
teratasi
P :
Intervensi
dilanjutkan nomer
22

( 2, 3, 4, 5, 6, 7 )
13 April 2016

II

08.3
0

08.4
5

09.0
0
19.1
0

08.0
0

1. Melakukan tindakan
Pengkajian
untuk
frekuensi, kedalaman
, dan kemudahan
bernapas.
2. Mengobservasi
warna
kulit,
membran mukosa,
dan kuku,
catat
adanya
sianosis
perifer (kuku) atau
sianosis
sentral
(sirkumoral).
3. Mengawasi
tanda
tanda vital ,
4. Mengatur
posisi
dengan meninggikan
kepala dan dorong
sering
mengubah
posisi (fowler atau
semi fowler), napas
dalam dan batuk
efektif.
5. Memberikan terapi
oksigen
dengan
benar
6. Awasi GDA

09.0
0

S:
Pasien mengatakan
nyaman
dengan
posisi kepala lebih
tinggi
(semi
fowler)
Pasien mengatakan
nyaman
dengan
menggunakan
oksigen
karena
sesaknya
berkurang
O :
pada
pengkajian
ditemukan
TD :130/80 mmHg
RR: 30 x/menit
Nadi : 91 x/menit
Suhu
:
36,7
x/menit
Dipsneu
Mukosa
bibir
kering
Warna kulit normal
Capilary refil < 2
detik
Terpasang kanul
O2 3 liter/menit
Pada pemeriksaan
GDA
normal
dimana pH : 7,369
A :
Masalah
sebagian

13 April 2016

III

teratasi

P :
Intervensi
dilanjutkan nomer
( 1, 2, 3,5 )
11.00 1. Mengatasi
faktor S :
yang menimbulkan Pasien mengatakan
23

11.15
2.
12.0
0

12.1
5

13.0
0
13.3
0

3.

4.

5.

6.

hilangnya
nafsu

makan.
Memberikan wadah
tertutup
untuk
spuntum dan buang
sesering mungkin.
Mengatur

pengobatan
pernafasan
sedikitnya 1 jam
sebelum makan
Mengauskultasi
bunyi
usus.
Observasi
dan
palpasi
distensi
abdomen
Memberikan makan
porsi
kecil
tapi
sering.
Evaluasi status nutisi

tidak nafsu makan


Pasien mengatakan
nafsu
makannya
hilang
karena
sesak nafas dan
terasa ada dahak
Pasien mengatakan
untuk melegakan
tenggorokan dan
menghilangkan
rasa tidak enak
dengan minum air
hangat
Pasien mengatakan
setelah dilakukan
nebulizer
sesak
nafasnya
berkurang
dan
membuat
klien
mau untuk makan
walau sedikit
Pasien mengatakan
makan hanya habis
porsi
Pasien mengatakan
membuang
dahaknya
ke
wadah
tertutup
yang
telah
diberikan perawat

O :
Pasien
tampak
tidak mau makan
dan tidak mau
menghabiskan
makanan
Pasien membuang
spuntum di wadah
tertutup
yang
diberikan perawat
Pasien
tampak
berkurang
sesak
dan mulai mau
24

makan
setelah
diberikan therapi
combiven 3x 1 hari
setengah
jam
sebelum makan
TB = 169 cm
BB = 60 kg
Bising usus pasien
16 x/menit
tidak ada distensi
abdomen

A :
Masalah
sebagian

13 April 2016

IV

09.0
0
09.1
5

09.3
0

09.4
5

1. Mengevaluasi
respons
pasien
terhadap aktivitas.
2. Memberikan
lingkungan tenang
dan
batasi
pengunjung selama
fase akut sesuai
indikasi.
Dorong
penggunaan
manajemen
stres
dan pengalih yang
tepat
3. Menjelaskan
pentingnya istirahat
dalam
rencana
pengobatan
dan
perlunya
keseimbangan
aktivitas
dan
istirahat.
4. Membantu
pasien
memilih
posisi
nyaman
untuk
istirahat
dan/atau
25

teratasi

P :
Intervensi
dilanjutkan nomer
( 1, 3, 4, 5 )
S:
Pasien mengatakan
sulit
melakukan
aktifitas
karena
sesak nafas yang
dirasakannya
Pasien mengatakan
jika aktifitas maka
sesak
nafas
semakin parah
Pasien mengatakan
kelelahan
yang
berlebih
jika
melakukan
aktifitas sedikit
Klien mengatakan
aktifitas diabantu
alat dan keluarga
Pasien
serta
keluarga mengerti
pentingnya
menjaga istirahat
dan aktivitas
Keluarga
pasien
mengatakan akan

10.0
0

tidur.
5. Membantu aktivitas
perawatan diri yang
diperlukan. Berikan
kemajuan
peningkatan aktivitas
selama
fase
penyembuhan

menjaga
lingkungan
agar
tetap tenang serta
tidak
terlalu
ramai
,
dan
menjaga
pembicaraan saat
berkomunikasi
dengan klien
Pasien mengatakan
nyaman
jika
kepalanya
lebih
tinggi
Keluarga
mengatakan akan
membatu
pasien
melakukan
aktifitas
seperti
berpindah
serta
lainnya.
Pasien mengatakan
nyaman
dengan
posisi kepala lebih
tinggi
Keluarga
mengatakan akan
membantu aktifitas
perawatan
diri
klien

O :
Pasien
tampak
sesak
nafasnya
bertambah setelah
melakuakan
aktifitas
Pasien
tampak
tenang
setelah
diberikan
penjelasan
dan
keluarga
memberikan
lingkungan yang
tenang
26

Pasien
nyaman
dengan posisi semi
fowler

A :
Masalah
sebagian

14 April 2016

08.3
0

2. Melakuakan
pengkajian
frekuensi pernapasan
dan gerakan dada.
3. Melakuakan
08.4
Auskultasi area paru
5
dan mencatat area
penurunan /tak ada
aliran
udara dan
bunyi
napas
adventisius,
mis:
krekels, mengi
4. Mambantu
pasien
09.0
latihan napas sering
0
dan meunjukkan /
membantu
pasien
mempelajari
melakukan
batuk,
mis: menekan dada
dan batuk
efektif
sementara
posisi
duduk tinggi.
5. Mengontrol
tanda
09.3
tanda vital pasien
0
6. Memberikan cairan
sedikitnya
2500
11.40
ml/hari
(kecuali
kontraindikasi).
Tawarkan air hangat
daripada dingin.
7. Melanjutkan therapi
12.0
pemberian
obat
27

teratasi

P :
Intervensi
dilanjutkan nomer
( 1, 2, 4, 5 )
S:
Pasien mengatakan
dapat melakukan
teknik nafas dalam
dan batuk efektif
da
sudah
melakukan ketika
sesak semakin dan
batuk
Pasien mengatakan
jike sesak mulai
kambuh
melakukan latihan
sering dan untuk
mengeluarkan
dahak
pasien
dengan
batuk
efektif
pasien mengatakan
akan
sudah
banyak minum dan
minum
dengan
minuman
yang
hangat.
O

:
TD:120/80 mmHg
RR: 28 x/menit
Nadi : 88 x/menit
Suhu:
36,5
x/menit
Gerakan
dada

sesuai
indikasi:

mukolitik,
ekspektoran,
bronkodilator,

analgesik.

28

simetris
Taktil
premitus
menurun di kedua
lapang paru
Input : infus 1300
cc + minum 1500
cc
Gerakan
dada
tidak simetris kiri
dan kanan
Dipsneu
sudah
mulai berkurang
berkurang
Pasien terpasang
O2 3 L/Menit
Pada
saat
auskultasi masih
terdengar
bunyi
Rongki
(+/+),
Whezzing (+/+) ,
krekel, dan stidor
Pasien
tampak
melakukan teknik
nafas dalam dan
batuk efektif
Memberikan
therapi
Combivent
Nebu 1 amp
IFVD RL drip
aminophilin 12
jam/kolf ( 3 )
N.Ace
3x1
tablet
Sucralfat Srp
3x1 sdk teh
Inj.
Ceftamizine
2x1 amp
Inj. Ranitidine
2x1amp
Metil. P 2x
625 gram
Infus

levofloxacim
300 mL / hari
A :
Masalah
sebagian

14 April 2016

II

08.3
0

08.4
5

09.0
0
09.1
0

09.1
0

1. Melakukan tindakan
Pengkajian
untuk
frekuensi,kedalaman,
dan
kemudahan
bernapas.
2. Mengobservasi
warna
kulit,
membran mukosa,
dan kuku,
catat
adanya sianosis .
3. Mengawasi
tanda
tanda vital
4. Mengatur
posisi
dengan meninggikan
kepala dan dorong
sering
mengubah
posisi (fowler atau
semi fowler), napas
dalam dan batuk
efektif.
5. Memberikan therapi
oksigen
dengan
benar

29

teratasi

P :
Intervensi
dilanjutkan nomer
( 2, 3,5, 6, 7 )
S:
Pasien mengatakan
nyaman
dengan
posisi kepala lebih
tinggi
(semi
fowler)
Pasien mengatakan
nyaman
dengan
menggunakan
oksigen
karena
sesaknya
berkurang
Pasien mengatakan
nafasnya lega jika
kepala lebih tinggi
dan jika setelah di
nebulizer
O :
pada pemeriksaan
ditemukan
TD :120/80 mmHg
RR: 28 x/menit
Nadi : 88 x/menit
Suhu
:
36,5
x/menit
Dipsneu
sudah
berkurang
Mukosa
bibir
sudah
mulai
lembab
Warna kulit klien
normal
Capilary refil < 2

detik
Pasien
tampak
nyaman
dengan
posisi semi fowler
O2 = 3 liter /menit

A :
Masalah
sebagian

14 April 2016

III

11.00 1. Mengatasi
faktor
yang menimbulkan
hilangnya
nafsu
makan.
12.0
3. Mengatur
0
pengobatan
pernafasan
sedikitnya 1 jam
sebelum makan
4.
Mengauskultasi
12.1
bunyi
usus.
5
Observasi
dan
palpasi
distensi
abdomen
5. Memberikan makan
13.0
porsi
kecil
tapi
0
sering.

teratasi

P :
Intervensi
dilanjutkan nomer
( 1, 2 ,3 ,5)
S:
Pasien mengatakan
nafsu sudah mulai
muncul
setelah
mulai
melatih
minum air hangat
Pasien mengatakan
makannya Cuma
habis sedikit
Pasien mengatakan
makannya sedikit
sedikit
dan
berkala
Klien mengatakan
makan nya hanya
habis 1/2 porsi
walaupun
sudah
diulang ulang
O :
Pasien
tampak
sudah mau makan
walaupun
tidak
habis
pasien
hanya
menghabiskan 1/2
porsi makanan
Pasien
tampak
berkurang
sesak
dan mulai mau
makan
setelah

30

diberikan therapi
combiven 3x 1 hari
setengah
jam
sebelum makan
Bising usus pasien
14 x/menit dan tidak
ada
distensi
abdomen

A :
Masalah
sebagian

14 April 2016

IV

09.0
0
09.1
5

09.4
5

10.0
0

1. Mengevaluasi
respons
pasien
terhadap aktivitas.
2. Memberikan
lingkungan tenang
dan
batasi
pengunjung selama
fase akut sesuai
indikasi.
Dorong
penggunaan
manajemen
stres
dan pengalih yang
tepat
4. Membantu
pasien
memilih
posisi
nyaman
untuk
istirahat
dan/atau
tidur.
5. Membantu aktivitas
perawatan diri yang
diperlukan. Berikan
kemajuan
peningkatan aktivitas
selama
fase
penyembuhan

31

teratasi

P :
Intervensi
dilanjutkan nomer
(1, 3, 4, 5 )
S:
Pasien mengatakan
aktifitasnya masih
sulit karena sesak
nafasnya
Pasien mengatakan
jika aktifitas maka
sesak
nafas
semakin parah
Pasien mengatakan
masih
kelelahan
jika
melakukan
aktifitas sedikit
Pasien
serta
keluarga
mengatakan sudah
menjaga istirahat
dan aktivitas
Keluarga
pasien
mengatakan sudah
menjaga
lingkungan
agar
tetap tenang
Pasien mengatakan
nyaman
jika
kepalanya
lebih
tinggi
Keluarga

mengatakan telah
membantu pasien
melakukan
aktifitas
seperti
berpindah,
membersihkan diri
serta lainnya.
O :
Pasien
tampak
sesak
nafasnya
bertambah setelah
melakuakan
aktifitas
Pasien
tampak
tenang
Pasien
nyaman
dengan posisi semi
fowler
Pasien
tampak
beraktifias
berpindah dibantu
oleh keluarga
Pasien
masih
tampak kelelahan
setelah melakukan
aktifitas
A :
Masalah
sebagian

15 April 2016

08.3
0

08.4
5

2. Melakuakan
pengkajian
frekuensi/ kedalaman
pernapasan
dan
gerakan dada.
3. Melakuakan
Auskultasi area paru
dan mencatat area
penurunan /tak ada
32

teratasi

P :
Intervensi
dilanjutkan nomer
( 1, 2, 5 )
S:
pasien mengatakan
sesak
nafasnya
masih terasa
pasien mengatakan
akan
sudah
banyak minum dan
minum
dengan
minuman
yang

aliran
udara dan
bunyi
napas
adventisius,
mis:
krekels, mengi
5. Mengontrol
tanda
09.3
tanda vital pasien
0
6. Memberikan cairan
sedikitnya
2500
11.40
ml/hari
(kecuali
kontraindikasi).
Tawarkan
air
hangat
daripada
dingin.
7. Melanjutkan therapi
12.0
pemberian
obat
0
sesuai
indikasi:
mukolitik,
ekspektoran,
bronkodilator,
analgesik.

hangat.
O

33

:
TD :130/90 mmHg
RR: 24 x/menit
Nadi : 86 x/menit
Suhu: 36,4 x/menit
Taktil
premitus
menurun di kedua
lapang paru
Tidak premitus kiri
dan kanan
Gerakan
dada
normal
Dipsneu
sudah
tidak ada
Pasien terpasang
O2 3 L/Menit
Input infus 1250 cc
+ minum 1600 cc
Pada
saat
auskultasi masih
terdengar
bunyi
Rongki
sudah
berkurang,
Whezzing sudah
berkurang ,stidor
sudah melemah
Memberikan
therapi
Combivent
Nebu 1 amp
IFVD RL drip
aminophilin
12
jam/kolf
(5)
N.Ace
3x1
tablet
Sucralfat Srp
3x1 sdk teh
Inj.
Ceftamizine
2x1 amp
Inj. Ranitidine

2x1amp
Metil. P 2x
625 gram
Infus
levofloxacim
300 mL / hari

A :
Masalah
sebagian

teratasi

P :
Intervensi
dilanjutkan nomer
( 3, 5, 6, 7 )
15 April 2016

II

08.3
0

08.4
5

09.0
0
19.1
0

1. Melakukan
Pengkajian
frekuensi,
kedalaman,
dan
kemudahan
bernapas.
2. Mengobservasi
warna
kulit,
membran mukosa,
dan kuku,
catat
adanya
sianosis
perifer (kuku) atau
sianosis
sentral
(sirkumoral).
3. Mengawasi
tanda
tanda vital
5. Memberikan terapi
oksigen
dengan
benar

34

S:
Pasien mengatakan
mudah
bernafas
dan tidak sesak
dengan
posisi
kepala lebih tinggi
(semi fowler)
Pasien mengatakan
nyaman
dengan
menggunakan
oksigen
karena
sesaknya
berkurang
O :
pada pemeriksaan
ditemukan
TD :130/90 mmHg
RR: 24 x/menit
Nadi : 86 x/menit
Suhu
:
36,4
x/menit
Dipsneu
sudah
berkurang
Mukosa
bibir
lembab
Warna kulit normal
Tidak
terjadi
sianosis
Capilary refil < 2

detik
O2 = 3 liter/ menit

A :
Masalah
sebagian

15 April 2016

III

11.00 1. Mengatasi
faktor
yang menimbulkan
hilangnya
nafsu
makan.
12.0
3. Mengatur
0
pengobatan
pernafasan
sedikitnya 1 jam
sebelum makan
12.1 4. Mengauskultasi
bunyi
usus.
5
Observasi
dan
palpasi
distensi
abdomen
5. Memberikan makan
13.0
porsi
kecil
tapi
0
sering.

teratasi

P :
Intervensi
dilanjutkan nomer
( 1, 3,4)
S:
Pasien mengatakan
nafsu
sudah
muncul
karena
klien sudah dapat
mengatasi
yang
menyebabkan
nafsu
makan
hilang
Pasien mengatakan
makannya hampir
habis
Pasien mengatakan
makannya sedikit
sedikit
dan
berkala
O :
Pasien
tampak
sudah mau makan
pasien
menghabiskan 3/4
porsi makanan
Pasien
tampak
berkurang
sesak
dan sudah mau
makan
setelah
diberikan therapi
combiven 3x1 hari
setengah
jam
sebelum makan
Bising usus 12
X
/menit dan tidak ada

35

distensi abdomen
A :
Masalah
sebagian

teratasi

P :
Intervensi
dilanjutkan
nomer ( 3, 5 )
15April 2016

IV

09.0
0
09.1
5

10.0
0

1. Mengevaluasi
respons
pasien
terhadap aktivitas.
2. Memberikan
lingkungan tenang
dan
batasi
pengunjung selama
fase akut sesuai
indikasi.
Dorong
penggunaan
manajemen
stres
dan pengalih yang
tepat
5. Membantu aktivitas
perawatan diri yang
diperlukan. Berikan
kemajuan
peningkatan aktivitas
selama
fase
penyembuhan

S:
Pasien mengatakan
aktifitasnya sudah
mulai bisa karena
sesak
nafasnya
sudah
mulai
berkurang
Pasien mengatakan
sudah
mulai
mencoba aktifitas
mandiri
Pasien
serta
keluarga
mengatakan sudah
menjaga istirahat
dan aktivitas
Keluarga
pasien
mengatakan selalu
menjaga
lingkungan
agar
tetap tenang
Keliuarga
mengatakan
membatu
pasien
melakukan
aktifitas
O :
Pasien
tampak
sesak
nafasnya
sudah
mulai
berkurang setelah
melakukan
aktifitas
Pasien
tampak

36

tenang dan nyaman


Pasien
tampak
beraktifias
berpindah sudah
mulai mandiri

A :
Masalah
sebagian

16 April 2016

14.4
5

15.3
0
18.0
0

18.3
0

3. Melakukan
Auskultasi area paru
dan mencatat area
penurunan /tak ada
aliran
udara dan
bunyi
napas
adventisius,
mis:
krekels, mengi
5. Mengontrol
tanda
tanda vital
6. Memberikan cairan
sedikitnya
2500
ml/hari
(kecuali
kontraindikasi).
Tawarkan
air
hangat
daripada
dingin.
7. Melanjutkan therapi
pemberian
obat
sesuai
indikasi:
mukolitik,
ekspektoran,
bronkodilator,
analgesik.

37

teratasi

P :
Intervensi
dilanjutkan nomer
( 1, 5 )
S:
pasien mengatakan
sesak
nafasnya
sudah sudah tidak
terasa terasa
pasien mengatakan
sudah
banyak
minum dan minum
dengan minuman
yang hangat dan
akan
membiasakannya
pasien mengatakan
sudah tidak sesak
tanpa
memakai
oksigen
O :
TD
:120/80
mmHg
RR: 22 x/menit
Nadi : 86x/menit
Suhu
:
36,5
x/menit
Taktil
premitus
sudah terasa di
kedua lapang paru
Input infus 1300cc
+ minum 1500cc
O2 sudah dilepas
sesuai advis dokter
Memberikan

therapi
IVFD RL
drip
aminophili
n sudah di
Aff
Combivent
Nebu
1
amp
N.Ace 3x1
tablet
Sucralfat
Srp
3x1
sdk teh
Inj.
Ceftamizin
e 2x1 amp
di Aff
Inj.
Ranitidine
ora
Metil. P 2x
625 gram
oral
Levofloxac
1x1
hari
oral

16 April 2016

II

14.0
0

14.3
0
14.4

1. Melakukan
Pengkajian
frekuensi,
kedalaman,
kemudahan
bernapas.
2. Mengawasi
tanda vital
3. Memberika
oksigen
38

A :
Masalah teratasi
P :
Intervensi dihentikan (
Pasien pulang)
S:
Pasien mengatakan
sesak
nafasnya
sudah hilang
dan
Pasien mengatakan
sudah tidak sesak
tanda
nafas
tanpa
oksigen
terapi
dengan
O :

benar

Pada pemeriksaan
ditemukan
Td :120/80 mmhg
Rr: 22 x/menit
Nadi : 86x/menit
Suhu
:
36,5
x/menit
Mukosa
bibir
lembab
Capilary refil < 2
detik
Sesak nafas pasien
sudah hilang
Oksigen sudah di
lepas
Pasien
tampak
nyaman
tanpa
menggunakan
oksigen

A :
Masalah teratasi

16 April 2016

III

15.1
5

18.0
0

P :
Intervensi dihentikan
(Pasien pulang)
3. Mengatur
S:

Pasien mengatakan
pengobatan
makannya habis 1
pernafasan
porsi
sedikitnya 1 jam

Pasien mengatakan
sebelum makan
4. Memberikan makan
makannya sudah
porsi
kecil
tapi
habis dalam sekali
sering.
makan
O :
Pasien
tampak
sudah mau makan
pasien
menghabiskan
1
porsi makanan
Pasien
tampak
sudah
sangat
berkurang
sesak
dan makan 1 porsi
39

dalam
sekali
makan
Pasien
tampak
sudah mau makan
diberikan therapi
combiven 3x1 hari
setengah
jam
sebelum makan

A :
Masalah teratasi

16 April 2016

IV

14.0
0
14.3
0

1. Mengevaluasi
respons
pasien
terhadap aktivitas.
5. Membantu aktivitas
perawatan diri yang
diperlukan. Berikan
kemajuan
peningkatan aktivitas
selama
fase
penyembuhan

40

P :
Intervensi
dihentikan (Pasien
pulang)
S:
Pasien mengatakan
aktifitasnya mulai
mandiri
karena
sesak nafas sudah
hilang
Pasien mengatakan
sudah tampak tidak
kelelahan
yang
berlebih
setelah
melakukan
aktifitas
seperti
berpindah
Pasien mengatakan
sudah
menjaga
antara istrahat dan
aktifitas
dengan
baik
Pasien sudah mulai
nyaman
tidur
dengan
posisi
terlentang karena
sesaknya
sudah
mulai hilang
Keliuarga
mengatakan
mengawasi
aktifitas
pasien

seterusnya
O :
Pasien
tampak
sudah tidak sesak
Pasien
tampak
tenang
Pasien
nyaman
dengan posisi semi
fowler
mapun
terlentang
Pasien
tampak
beraktifias
berpindah sudah
mandiri
Pasien sudah tidak
tampak kelelahan
setelah melakukan
aktifitas
A :
Masalah teratasi
P :
Intervensi
dihentikan (Pasien
pulang)

41

4.2 Pembahasan
1. Intervensi Keperawatan pencegahan Pneumonia dengan Airway Management
di ruangan rawat inap paru Rumah Sakit Umum Pariaman tanggal 13 April
2016 15 April 2016
No
Pasien
1
Tn.
B
(L/73
tahun)
1. Sesak
2. Dipsneu
3. Gerakan
dada
cepat
4. Tidak
simetris
kiri dan
kanan
5. Pernafas
an:
31X/men
it
2 1. Ronchi
(+/+)
2. Krekels
(+)
3. Premitus
menurun
di kedua
lapang
paru

Intervensi
Lakukan
pengkajian
frekuensi
pernapasan
dan
gerakan
dada.

Comparasion
Pengkajian
dilakukan
pada tanggal
13 April 2016
jam 18.30 dan
dilanjutkan
pengkajian
pada
hari
kedua
dan
ketiga

Outcome
Ditemuka
n
frekuensi
nafas dan
gerakan
dada
abnormal

Teori
Dipsneu,
pernapasan
dangkal,
dan
gerakan
dada
cepat,
tak
simetris sering
terjadi
karena
ketidaknyamanan
gerakan dinding
dada
dan/atau
ada cairan di
paru. (Marilynn
E.
Doenges,
2008)

Auskultasi
area paru
dan
mencatat
area
penurunan /
tak
ada
aliran
udara dan
bunyi
napas
adventisius,
mis:
krekels,
mengi.

Pemeriksaan
dilakukan
pada tanggal
13 April 2016
dan
dilanjutkan di
hari
kedua
dan ketiga

Ditemukaa
n
bunyi
tambahan
ronchi dan
krekels
serta
hantaran
kiri
dan
kanan
tidak sama

Penurunan aliran
udara
terjadi
pada
area
konsolidasi
dengan cairan.
Bunyi
napas
bronkial (normal
pada
bronkus)
dapat juga terjadi
pada
area
konsolidasi.
Krekels, ronki,
dan
mengi
terdengar pada
inspirasi
dan/atau

42

ekspirasi
pada
respons terhadap
pengumpulan
cairan,
sekret
kental,
dan
spasme
jalan
napas/obstruksi.
(Marilynn
E.
Doenges, 2008)
1. Sesak
Mambantu Latihan
Tidak ada Napas
dalam
nafas
pasien
dilakukan
tanda
memudahkan
2. Batuk
latihan
pada tanggal sesak
ekspansi
berdahak napas
13 April 2016 nafas
maksimum
3. Ada
sering dan dan
paruparu/jalan
sputum
menunjukk dilanjutkan
napas lebih kecil.
4. RR=31
an
/ pada
hari
Batuk
adalah
X/Menit
membantu kedua
dan
mekanisme
pasien
ketiga
pembersihan
mempelajar
jalan
napas
i
alami, membantu
melakukan
silia
untuk
batuk, mis:
mempertahankan
menekan
jalan
napas
dada dan
paten.
batuk
Penekanan
efektif
menurunkan
sementara
ketidaknyamanan
posisi
dada dan posisi
duduk
duduk
tinggi.
memungkinkan
upaya
napas
lebih dalam dan
lebih
kuat.
(Marilynn
E.
Doenges, 2008)
1. batuk
Memberika Pemberian air Sekret
Cairan
disertai
n
cairan hangat
mudah
(khususnya yang
dahak
sedikitnya
dilakukan
dikeluarka hangat)
2. Sekret
2500
pada tanggal n
memobilisasi
sulit
ml/hari
13 April 2016
dan
dikeluar (kecuali
dan
mengeluarkan
kan
kontraindik dilanjutkan
sekret. (Marilynn
asi).
pada
hari
E.
Doenges,
Tawarkan
kedua
dan
2008)
43

air hangat
daripada
dingin.
1. Infus
Melanjutka
Ringer
n
therapi
Laktat
pemberian
Drip
obat sesuai
Aminop indikasi:
hylin 12 mukolitik,
jam/kolf ekspektora
2. Infus
n,
Lovo 1 x bronkodilat
300 ml
or,
3. Combive analgesik.
nt
Nebulize
r4X1
amp
4. Injeksi
5. Cheftam
izine 2 X
1 amp
6. Ranitidi
ne 2 X
1 amp
7. Methilpr
enisol 2
X 625
8. Oral
9. N. Ace 3
X1
tablet
10. Sucrelf
at
Syrup
3x1
sendok
teh

tiga

Pemberian
therapi
dilakukan
pada tanggal
13 April 2016
dan
dilanjutkan di
hari
kedua,
dan ketiga

spasme
bronkus
menurun,
batuk
hilang,
tidak ada
sesak

Alat
untuk
menurunkan
spasme bronkus
dengan
mobilisasi sekret.
Analgesik
diberikan untuk
memperbaiki
batuk
dengan
menurunkan
upaya
batuk/menekan
pernapasan.
ketidaknyamanan
tetapi
harus
digunakan
secara hati-hati,
karena
dapat
menurunkan
upaya
batuk/menekan
pernafasan.
(Marilynn
E.
Doenges, 2008)

2. Intervensi Keperawatan pencegahan Pneumonia dengan Airway Management


di ruangan rawat inap paru Rumah Sakit Umum Pariaman tanggal 13 April
2016 15 April 2016

44

No
Pasien
1 1. Sesak
nafas
2. Ada
pengemba
ngan dada
3. Taktil
premitus
menurun
di kedua
lapang
paru
4. Leukosit:
12.300 /ul
2 1. Mukosa
bibir
kering
2. Tidak
ada
sianosis
3. Capilari
reffil < 2
detik
4. Clubing
finger
tidak ada

Intervensi
Lakukan
tindakan
Pengkajian
untuk
frekuensi,
kedalaman,
dan
kemudahan
bernapas.

Comparasion Outcome
Pengkajian
Tidak ada
dilakukan
distres
pada tanggal pernafasan
13 April 2016
dan pada hari
kedua
dan
ketiga

Observasi
warna
kulit,
membran
mukosa,
dan kuku,
catat
adanya
sianosis
perifer
(kuku) atau
sianosis
sentral
(sirkumoral
).

Observasi
dilakukan
pada tanggal
13 April 2016
dan pada hari
kedua
dan
ketiga

1. TD
: Mengawasi
130/80
tanda tanda
mmHg
vital ,
2. Nadi :
91
x/menit
3. Suhu :
36,7
x/menit

Pengawasan
dilakukan
pada tanggal
13 April dan
pada hari ke
dua dan ke
tiga

45

Teori
Manifestasi
distres
pernapasan
tergantung
pada/indikasi
derajat
keterlibatan paru
dan
status
kesehatan umum.
(Marilynn
E.
Doenges, 2008)

Tidak
g. Sianosis
ditemukan
kuku
tandamenunjukkan
tanda
vasokontriksi
sianosis
atau respon
tubuh
terhadap
demam/meng
gigil. Namun
sianosis daun
telinga,
membran
mukosa, dan
kulit sekitar
mulut
menunjukkan
hipoksemia
sistemik.
(Marilynn E.
Doenges,
2008)
Tidak
Demam
tinggi
ditemukan (umum
pada
peningkata pneumonia
n
suhu bakterial
dan
tubuh
influenza)
sangat
meningkatkan
kebutuhan
metabolik
dan

1. Sesak
nafas
2. RR: 30
X/Menit
3. Sekret
susah
dikeluar
kan

Atur posisi
dengan
meninggika
n
kepala
dan dorong
sering
mengubah
posisi
(fowler
atau semi
fowler),
napas
dalam dan
batuk
efektif.
1. Sesak
Berikan
nafas
terapi
2. RR: 30 oksigen
X/Menit dengan
benar

1. Ph:
7,369
2. pCO2:
40,8
Mmol
3. pO2:
98,4
Mmol

Awasi
GDA

kebutuhan
oksigen
dan
mengganggu
oksigenasi
seluler.
(Marilynn
E.
Doenges, 2008)
Pengaturan
Tidak ada Tindakan
ini
posisi, serta sesaknafas meningkatkan
latihan nafas ,
sekret inspirasi
dalam
dan mudah
maksimal,
batuk efektif dikeluarka meningkatkan
dilakukan
n
pengeluaran
pada tanggal
sekret
untuk
13 April 2016
memperbaiki
dan
ventilasi(Marilyn
dilanjutkan
n E. Doenges,
pada
hari
2008)
kedua
dan
ketiga

Pemberian
Sesak
terapi
nafas
Oksigen
berkurang
3L/menit
dilakukkan
pada tanggal
12 April 2016
dan
dilanjutkan
pada
hari
kedua
dan
ketiga

Tujuan
terapi
oksigen adalah
mempertahankan
PaO2 di atas 60
mmHg. Oksigen
diberikan dengan
metode
yang
memberikan
pengiriman tepat
dalam toleransi
pasien
.
(Marilynn
E.
Doenges, 2008)

Pemeriksaan
dilakukan
pada tanggal
12 April 2016

Mengevaluasi
proses penyakit
dan
memudahkan
terapi
paru.
(Marilynn
E.
Doenges, 2008)

46

Tidak ada
abnormalit
as
pada
gas darah
arteri

3. Intervensi

Keperawatan

pencegahan

Pneumonia

dengan

nutrition

management di ruangan rawat inap paru Rumah Sakit Umum Pariaman


tanggal 13 April 2016 15 April 2016

No
Pasien
1 1. Sesak
nafas
karena
2. Ada
sekret
3. Tidak
nafsu
makan

Intervensi
Atasi
faktor yang
menimbulk
an
hilangnya
nafsu
makan.

Comparasion
Penyelesaian
masalah
faktor
penyebab
hilang nafsu
makan
dilakukan
pada tanggal
12 April 2016
dan
dilanjutkan
pada
hari
kedua
da
ketiga
1. Batuk
Berikan
Pemberian
berdahak wadah
wadah
2. Sputum tertutup
tertutup
(kental,
untuk
diberikan
kuning
spuntum
pada tanggal
khas,
dan buang 13 April 2016
yidak
sesering
bercamp mungkin.
ur darah)
1. Tidak
Atur
Pengobatan
nafsu
pengobatan pernafasan
makan
pernafasan (latihan nafas
2. Sesak
sedikitnya
dalam
dan
nafas
1
jam batuk efektif )
3. Batuk
sebelum
dilakukan
berdahak makan
pada tanggal
4. Ada
13 April 2016
sputum
dan
hari
5. RR=31
kedua
serta
X/Menit
hari ketiga
1. Peristalti Auskultasi Pengkajian
47

Outcome
Faktor
hilang
nafsu
makan
berkurang

Teori
Pilihan intervensi
pada
faktor
penyebab
masalah(Marilyn
n E. Doenges,
2008)

Spuntum
dibuang ke
wadah
tertutup

Menghilangkan
tanda
bahaya,
rasa bau dari
lingkungan
,
pasien
dapat
menurunkan
mual. (Marilynn
E.
Doenges,
2008)
Menurunkan
efek mual yang
berhubungan
dengan
pengobatan.
(Marilynn
E.
Doenges, 2008)

Selera
makan
meningkat

Tidak ada Bunyi

usus

k:
16
X/menit
2. Tidak
ada
distensi
abdomen

bunyi usus.
Observasi
dan palpasi
distensi
abdomen

1. Tidak
nafsu
makan
2. Porsi
makan
habis
porsi

Berikan
makan
porsi kecil
tapi sering.

1.

2.
3.

4.

dilakukan
distensi
pada tangaal abdomen
13 April dan
dilanjutkan
pada
hari
kedua
dan
ketiga

Pemberian
makanan
sedikit
tapi
sering dimulai
pada tanggal
13 April 2016
dan
dilanjutkan
pada
hari
kedua
dan
ketiga
Status
Evaluasi
Pemberian
nutrisi
status nutisi makanan
klien
sedikit
tapi
cukup
sering dimulai
BB : 60
pada tanggal
kg
13 April 2016
Tinggi
badan:
170 cm
Kehidup
an
berkecuk
upan

Nafsu
makan
meningkat
ditandai
dengan
porsi
makan
habis
keseluruha
n

mungkin
menurun
dan
distensi abdomen
sebagai
akibat
dari
menelan
udara(Marilynn
E.
Doenges,
2008)
Tindakan
ini
meningkatkan
nafsu
makan
meskipun
lambat(Marilynn
E.
Doenges,
2008)

Tidak ada Adanya


status
malnutrisi kronis
atau
kondisi keuangan
menimbulkan
malnutrisi(Maril
ynn E. Doenges,
2008)

4. Intervensi Keperawatan pencegahan Pneumonia dengan Activity Therapi &


Energy

Management di ruangan rawat inap paru Rumah Sakit Umum

Pariaman tanggal 13 April 2016 15 April 2016


No
1

Pasien
1. Pasien
lemas
2. Hanya
berbarin

Intervensi
Evaluasi
respons
pasien
terhadap

Compara
sion
Pemantaua
n
dilakukan
pada
48

Outcome

Teori

Ditemuka
n kesulitan
beraktifita
s

Menetapkan
kemampuan
/kebutuhan
pasien
dan

g
di aktivitas.
tempat
tidur
3. Mudah
letih
4. Susah
beraktifit
as
5. Aktifitas
dibantu

1. Pasien
lemas
2. Hanya
berbarin
g
di
tempat
tidur
3. Mudah
letih

tanggal 13
April 2016
dan
dilanjutka
n
pada
hari kedua
dan ketiga

Berikan
lingkungan
tenang dan
batasi
pengunjung
selama fase
akut sesuai
indikasi.
Dorong
penggunaan
manajemen
stres
dan
pengalih
yang tepat
1. Pasien
Menjelaskan
lemas
pentingnya
2. Hanya
istirahat
berbarin dalam
g
di rencana
tempat
pengobatan
tidur
dan perlunya
3. Mudah
keseimbanga
letih
n
aktivitas
4. Susah
dan istirahat.
beraktifit
as
5. Tampak
kelelaha
n yang
berlebih
6. Aktifitas
dibantu

dikarenaka
n
rasa
kelelahan
yang
berlebih
dan
peningkata
n
sesak
karena
aktifitas
yang
dilakukan
Pemberian Istirahat
lingkunga meningkat
n
yang , tidak ada
tenang dan stres
pembatasa
n
pengunjun
g
dilakukan
pada
tangga 13
April 2015
dan hari
kedua
Penjelasan Tidak ada
mengenai kelelahan
istirahat
yang
dan
berlebih
rencana
pengobata
n
dilakukan
pada
tanggal 13
April 2016

49

memudahkan
pilihan
intervensi.
(Marilynn
E.
Doenges, 2008)

Menurunkan
stres
dan
rangsangan
berlebihan,
meningkatkan
istirahat.
(Marilynn
E.
Doenges, 2008)

Tirah
baring
dipertahankan
selama
fase
akut
untuk
menurunkan
kebutuhan
metabolik,
menghemat
energi
untuk
penyembuhan.
Pembatasan
aktivitas
ditentukan
dengan respons
individual
pasien terhadap
aktivitas
dan
perbaikan

1. Sesak
nafas
2. Mudah
letih
3. Tampak
kelelaha
n
4. Sulit
unuk
melakuk
an
aktifitas
5. Aktifitas
banyak
dilakuka
n
di
tempat
tidur
1. Sesak
nafas
2. Letih
3. Tampak
kelelaha
n
4. Sulit
melakua
kan
aktifitas
5. Aktifitas
dibantu

kegagalan
pernapasan.
(Marilynn
E.
Doenges, 2008)
Pengatura Kenyaman Pasien mungkin
n
posisi an dalam nyaman dengan
dilakukan istirahat
kepala
tinggi,
pada
dan/atau
tidur di kursi,
tanggal 13 tidur
atau menunduk
April 2016
ke depan meja
dan
atau
dilakukan
bantal(Marilynn
di
hari
E.
Doenges,
kedua dan
2008)
ketiga

Bantu
pasien
memilih
posisi
nyaman
untuk
istirahat
dan/atau
tidur.

Bantu
aktivitas
perawatan
diri
yang
diperlukan.
Berikan
kemajuan
peningkatan
aktivitas
selama fase
penyembuha
n

Perawatan
diri yang
dibantu
mulai
tanggal 13
April 2016
dan pada
hari kedua
dan ketiga

Tidak ada
kelelahan
yang
berlebih

Meminimalkan
kelelahan
dan
membantu
keseimbangan
suplai
dan
kebutuhan
oksigen(Marilyn
n E. Doenges,
2008)

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1. Hasil pengkajian yang telah dilakukan penulis pada tanggal 12 april 2016
dengan data subyektif pasien mengatakan sesak nafas dan dahak sulit
50

keluar dan data obyektif klien terpasang terapi oksigen 3 liter per menit,
suara nafas ronchi dari hasil auskultasi paru, terdapat retraksi dinding dada
kanan dan dada kiri, dan pernafasan pasien 30 kali per menit klien tidak mau
makan dan sulit beraktifitas
2. Diagnosa keperawatan utama ( Aktual ) pada Tn. B adalah Bersih jalan
nafas tidak efektif berhubungan dengan Sekresi Mukosa Berlebih dan
diagnosa potensial Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan Perubahan
membran alveolar (efek Inflamasi), Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
berhubungan dengan Menurunnya nafsu mekan sekunder akibat toksi bakteri,
adanya sputum, Intoleransi aktifitas berhubungan dengan Gangguan
pertukaran gas sekunder.
3. Intervensi yang ditegakkan penulis pada Tn. B mempunyai tujuan yang
diharapkan yaitu setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 kali 24
jam diharapkan bersihan jalan nafas pada pasien menjadi efektif dan jalan
nafas paten , tidak ada sianosis, kebutuhan nutrisi klien terpenuhu dan tidak
terjadi peningkatan toleransi aktifitas .Dengan kriteria hasil pernafasan
pasien mampu bernafas spontan tanpa bantuan o2 nasal kanul, suara nafas
vesikuler, tidak terdapat retraksi dinding dada kanan dan dada kiri, dan
frekuensi pernafasan 16 sampai 24 kali per

menit, tidak ada distres

pernafasan , nafsu makan meningkat dan tidak ada tanda kelemahan .


Rencana tindakan

keperawatan antara lain observasi pernafasan pasien,

berikan posisi semi fowler, berikan minum air hangat, auskultasi paru,
ajarkan batuk efektif, kolaborasi pemberian terapi oksigen, atasi faktor
penimbul hilang nafsu makan , makan sedikit tapi sering dan batasi aktiftas
dan istrahat serta bantu dalam melakukan aktifitas danmenciptakan
lingkungan yang tenang

51

4. Tindakan keperawatan pada Tn. B tanggal 13 april 2016 sampai tanggal 16


april 2016 dilakukan berdasarkan rencana keperawatan yang telah dibuat .
5. Pada tahap akhir, penulis mengevaluasi keadaan pasien setelah tindakan
keperawatan yang dilakukan selama tiga hari. Hasil evaluasi pada Tn. B
tanggal 16 april 2016 yaitu adalah subyektif pasien mengatakan sesak
nafasnya berkurang . Obyektif pasien

tampak belum mampu bernafas

spontan, alat bantu nafas sudah tidak dipasang, tidak masih terdapat retraksi
dinding dada kanan dan dada kiri, suara nafas ronchi sudah mulai hilang ,
pernafasan 22

kali per

menit, klien sudah mulai mau makan dengn

menghabiskan porsi makannya dan mulai melakukan aktifitas tanpa letih


yang berlebih Assessment masalah sudah teratasi Planning intervensi
dihentikan dan pasien pulang.
5.2 Saran
1. Bagi Rumah Sakit
Diharapkan rumah sakit dapat memberikan pelayanan kesehatan dengan
optimal dan mempertahankan kerjasama yang baik antara tim kesehatan
maupun pasien sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan asuhan
keperawatan

khususnya pada pasien

dengan gangguan

pemenuhan

oksigenasi pada pneumonia.


2. Bagi tenaga kesehatan khususnya perawat
Diharapkan perawat selalu berkomunikasi dengan tim kesehatan yang lain
dalam memberikan asuhan keperawatan
memberikan

pada pasien,

asuhan keperawatan sesuai dengan

serta mampu

Standar Operasional

Prosedur (SOP).
3. Bagi institusi pendidikan
Diharapkan dapat menyediakan fasilitas, sarana, prasarana dalam proses
pendidikan,

melengkapi perpustakaan

dengan buku-buku

keperawatan

khususnya keperawatan pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan


oksigenasi pada Pneumonia

52