Anda di halaman 1dari 4

Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA)

1. Pengertian PLTA
Pengertian pembangkit listrik tenaga air (PLTA) bekerja dengan cara merubah
energi potensial (dari dam atau air terjun) menjadi energi mekanik (dengan
bantuan turbinair) dan dari energi mekanik menjadi energi listrik (dengan bantuan
generator) Pembangkit listrik tenaga air konvensional bekerja dengan cara
mengalirkan air dari dam ke turbin setelah itu air dibuang. Pada saat beban puncak
air dalam lower reservoir akan di pompa ke upper reservoir sehingga cadangan air
pada waduk utama tetap stabil.
Pembangkit listrik tenaga air (PLTA) bekerja dengan cara merubah energi
potensial (dari dam atau air terjun) menjadi energi mekanik (dengan bantuan
turbin air) dan dari energi mekanik menjadi energi listrik (dengan bantuan
generator).
PLTA dapat beroperasi sesuai dengan perancangan sebelumnya, bila
mempunyai Daerah Aliran Sungai (DAS) yang potensial sebagai sumber air untuk
memenuhi kebutuhan dalam pengoperasian PLTA tersebut. Pada operasi PLTA
tersebut, perhitungan keadaan air yang masuk pada waduk/dam tempat
penampungan air, beserta besar air yang tersedia dalam waduk/dam dan
perhitungan besar air yang akan dialirkan melalui pintu saluran air untuk
menggerakkan turbin sebagai penggerak sumber listrik tersebut, merupakan suatu
keharusan untuk dimiliki, dengan demikian kontrol terhadap air yang masuk
maupun yang didistribusikan ke pintu saluran air untuk menggerakkan turbin
harus dilakukan dengan baik, sehingga dalam operasi PLTA tersebut, dapat
dijadikan sebagai dasar tindakan pengaturan efisiensi penggunaan air maupun
pengamanan seluruh sistem, sehingga PLTA tersebut, dapat beroperasi sepanjang
tahun, walaupun pada musim kemarau panjang.
Dalam penentuan pemanfaatan suatu potensi sumber tenaga air bagi
pembangkitan tanaga listrik ditentukan oleh tiga faktor yaitu:
a. Jumlah air yang tersedia, yang merupakan fungsi dari jatuh hujan dan atau
salju.

b. Tinggi terjun yang dapat dimanfaatkan, hal mana tergantung dari topografi
daerah tersebut.
c. Jarak lokasi yang dapat dimanfaatkan terhadap adanya pusat-pusat beban atau
jaringan transmisi.
2. Konsep Kerja PLTA
Baling-baling pada turbin, seperti yang telah dijelaskan di atas adalah elemen
yang nantinya akan berputar dan menghasilkan energi. Energi yang dihasilkan
oleh pergerakan baling-baling turbin berupa energi panas. Energi panas itulah
yang kemudian diproses sehingga menjadi energi listrik. Pergerakan baling-baling
turbin dipengaruhi oleh jumlah air yang ada di waduk atau bendungan. Semakin
banyak jumlah air yang terdapat di waduk atau bendungan tersebut, maka energi
panas yang dihasilkannya pun otomatis akan semakin besar. Sebaliknya, semakin
kecil debit air, maka kekuatan baling-baling berputar pun akan semakin kecil.
3. Cara Kerja Pembangkit Listrik Tenaga Air / PLTA
PLTA merupakan salah satu tipe pembangkit yang ramah lingkungan, karena
menggunakan air sebagai energi primernya. Energi primer air dengan ketinggian
tertentu digunakan untuk menggerakkan turbin yang dikopel dengan generator.
Pembangkit Listrik Tenaga Air merupakan pusat pembangkit tanaga listrik
yang mengubah energi potensial air (energi gravitasi air) menjadi energi listrik.
Mesin penggerak yang digunakan adalah turbin air untuk mengubah energi
potensial air menjadi kerja mekanis poros yang akan memutar rotor pada
generator untuk menghasilkan energi listrik.
Air sebagai bahan baku PLTA dapat diperoleh dengan berbagai cara misalnya,
dari sungai secara langsung disalurkan untuk memutar turbin, atau dengan cara
ditampung dahulu (bersamasama air hujan) dengan menggunakan kolam tando
atau waduk sebelum disalurkan untuk memutar turbin.
Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) bekerja dengan cara merubah energi
potensial (dari dam atau air terjun) menjadi energi mekanik (dengan bantuan
turbin air) dan dari energi mekanik menjadi energi listrik (dengan bantuan
generator). Air dari sungai atau lebih ditampung disuatu tempat untuk mendapat

ketinggian tertentu dengan jalan dibendung. Air dari waduk tersebut dialirkan
melalui saluran terbuka melalui pintu air ke saluran tertutup yang selanjutnya
melalui pipa pesat menggerakan turbin untuk membangkitkan tenaga listrik.
4. Komponen-komponen Dasar PLTA
Komponen komponen dasar PLTA berupa dam, turbin, generator dan
transmisi.
a. Waduk/Bendungan
Bendungan berfungsi untuk menampung air dalam jumlah besar karena
turbin memerlukan pasokan air yang cukup dan stabil. Dengan menaikkan
permukaan air sungai untuk menciptakan tinggi jatuh air. Selain itu bendungan
atau dam juga berfungsi untuk pengendalian banjir. Selain menyimpan air,
bendungan juga dibangun dengan tujuan untuk menyimpan energi.
Bendungan atau dam adalah konstruksi yang dibangun untuk menahan laju
air menjadi waduk, danau, atau tempat rekreasi. Bendungan juga digunakan untuk
mengalirkan air ke sebuah Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA). Kebanyakan dam
juga memiliki bagian yang disebut pintu air untuk membuang air yang tidak
diinginkan secara bertahap atau berkelanjutan. Jenis bendungan antara lain:
1. Bendungan Beton
Bendungan Gravitasi
Bendungan Busur
Bendungan Rongga
2. Bendungan Urugan
Bendungan Urugan Batu
Bendungan Tanah
3. Bendungan Kerangka Baja
4. Bendungan Kayu
b. Turbin
Turbin berfungsi untuk mengubah energi potensial menjadi energi
mekanik. Air akan memukul susu sudu dari turbin sehingga turbin berputar.
Perputaran turbin ini di hubungkan ke generator. Gaya jatuh air yang mendorong
baling-baling menyebabkan turbin berputar. Turbin air kebanyakan seperti kincir

angin, dengan menggantikan fungsi dorong angin untuk memutar baling-baling


digantikan air untuk memutar turbin. Selanjutnya turbin merubah energi kinetik
yang disebabkan gaya jatuh air menjadi energi mekanik.
c. Generator
Generator, dihubungkan dengan turbin melalui gigi-gigi putar sehingga ketika
baling-baling turbin berputar maka generator juga ikut berputar. Generator
selanjutnya merubah energi mekanik dari turbin menjadi energi elektrik.
d. Transmisi
Transmisi berfungsi menyalurkan energi listrik dari PLTA menuju rumahrumah dan pusat industri.