Anda di halaman 1dari 4

Penggunaan Amoksisillin Sebagai Swamedikasi Terhadap Influenza

1.

Pendahuluan
Swamedikasi (pengobatan sendiri) berarti mengobati segala keluhan pada diri sendiri

dengan obat-obat yang dibeli bebas di apotek atau toko obat atas inisiatif sendiri tanpa
nasehat dokter (Tjay dan Rahardja, 1993). Pengobatan sendiri biasanya dilakukan pada
penyakit yang tergolong ringan (Tjay dan Rahardja, 1993).
Pengobatan sendiri memiliki keuntungan aman bila digunakan sesuai aturan, efektif
menghilangkan keluhan dan ikut berperan dalam mengambil keputusan sendiri. Keuntungan
lain yaitu lebih murah, cepat, mudah, tidak membebani sistem pelayanan kesehatan dan dapat
dilakukan sendiri (Anief, 1997). Sedangkan resiko dari swamedikasi adalah tidak mengenali
keseriusan gangguan. Keseriusan gangguan ini dapat dinilai salah atau mungkin tidak
dikenali, sehingga pengobatan sendiri bisa dilakukan terlalu lama (Tjay dan Rahardja, 1993).
Penyakit yang sering diobati sendiri oleh masyarakat antara lain adalah influenza.
Penyakit ini disebabkan oleh virus influenza yang merupakan virus RNA yang dapat hidup
pada manusia, kuda, babi, ayam dan burung (Tjay dan Rahardja, 2002). Infeksi influenza
terjadi melalui inhalasi dari tetesan air liur misalnya pada waktu bersin, batuk dan berbicara
dengan masa inkubasi selama satu sampai tiga hari. Gejala-gejalanya muncul setelah masa
inkubasi dari satu sampai empat hari dan berupa demam sampai 40C, nyeri sendi dan otot di
seluruh tubuh, sakit tenggorokan dan kepala, radang mukosa hidung dan kadang disertai
batuk (Tjay dan Rahardja, 2002). Influenza merupakan penyakit yang paling sering terjadi
dan paling sukar diobati. Meski gangguannya tidak berbahaya dan biasanya sembuh sendiri
dalam waktu lima sampai tujuh hari (Tjay dan Rahardja, 1993).
Pengobatan influenza yang dilakukan oleh masyarakat sebagian besar menggunakan
obat bebas dan obat bebas terbatas. Berdasarkan informasi dari masyarakat terutama ibu-ibu
di jalan Kalimantan X Jember, mereka sering menggunakan amoksisillin untuk penyekit
influensa yang mereka derita. Hal ini mereka lakukan berdasarkan pengalaman dan resep dari
dokter. Obat-obat tersebut diperoleh berdasarkan pengalaman resep dari dokter, informasi
dari petugas di apotek, atau dari iklan di televisi. Salah satu obat yang sering digunakan
masyarakat untuk mengobati influenza adalah amoksisillin. Obat ini merupakan salah satu
antibiotik spektrum luas. Sedangkan Obat-obat antibiotik ditujukan untuk mencegah dan
mengobati penyakit-penyakit infeksi. Pemberian antibiotik pada kondisi yang bukan
disebabkan oleh bakteri banyak ditemukan dalam praktek sehari-hari, baik di puskesmas
(primer), rumah sakit, maupun praktek swasta. Ketidaktepatan diagnosis, pemilihan

antibiotik, indikasi hingga dosis, cara pemberian, frekuensi dan lama pemberian menjadi
penyebab tidak kuatnya pengaruh infeksi dengan antibiotik.
2.

Pengobatan Sendiri yang Dilakukan oleh Masyarakat


Masyarakat sering melakukan pengobatan sendiri pada penyakit ringan seperti

influenza. Pengobatan yang banyak dilakukan adalah menggunakan amoksisillin. Alasan


penggunaan obat ini adalah meniru obat yang pernah diresepkan oleh dokter sehingga tidak
perlu mengeluarkan biaya untuk ke dokter. Alasan lainnya yaitu mengikuti saran yang
diberikan oleh orang lain yang pernah menggunakan amoksisillin. Sehingga masyarakat
melakukan pengobatan sendiri tanpa disertai informasi tentang obat yang digunakan dan cara
menggunakan obat tersebut dengan tepat.
3.

Tinjauan Medis Pengobatan yang Dilakukan


Influenza merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus. Sedangkan antibiotik

digunakan untuk penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Sehingga pengobatan
influenza menggunakan antibiotik adalah tidak tepat. Hal ini dikarenakan jika cara pemberian
antibotik tidak tepat, frekuensi dan lama pemberian yang kurang atau justru berlebihan, dapat
menyebabkan terjadinya resistensi bakteri.
Meskipun penggunaan antibiotik pada penyakit influenza tidak tepat, tetapi sebagian
besar dokter di rumah sakit atau dokter praktek selalu meresepkan amoksisilin pada pasien
dengan gejala seperti penyakit influenza. Bahkan di apotek sekalipun, pasien akan diberi
amoksisillin jika pasien bertanya obat dari influenza yang dideritanya. Sayangnya, pemberian
antibiotik ini, tidak disertai dengan pemberian informasi kepada pasien tentang penggunaan
antibiotik yang tepat seperti antibiotik harus diminum sampai habis. Hal ini menyebabkan
terjadinya resistensi bakteri terhadap amoksisillin. Sehingga jika pasien terinfeksi oleh suatu
bakteri, maka amoksisillin tidak akan mampu membunuh bakteri tersebut.
Antibiotik hanya digunakan pada influenza sebagai upaya pencegahan saja. Antibiotik
ini digunakan pada orang-orang yang beresiko tinggi dengan daya tangkis lemah, seperti pada
penderita bronkitis kronis, jantung atau ginjal (Tjay dan Rahardja, 2002).
Pengobatan yang dilakukan pada influenza tidak perlu menggunakan antibiotik. Obat
yang dapat digunakan untuk mengatasi influenza dengan mengurangi gejala yang diderita
yaitu analgetik non narkotika atau analgetik antipiretik seperti parasetamol. Obat lainnya
yaitu dekongestan yang merupakan golongan simpatomimetika yang bekerja pada reseptor

adrenergik. Contoh dekongestan dalam obat flu antara lain efedrin, pseudoefedrin HCl, dan
fenilefrin HCl (Tjay dan Rahardja, 2002).
Penyakit yang disebabkan oleh virus seperti influenza dapat terjadi dikarenakan daya
tahan tubuh yang lemah. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan daya
tahan tubuh yaitu,

Istirahat dan cukup tidur


Mengkonsumsi banyak sayur dan buah-buahan
Minum cukup cairan (terutama air putih)
Menghindari tempat-tempat umum untuk mencegah penularan
Istirahat selama satu sampai tiga hari sampai tubuh pulih (Tjay dan Rahardja,
1993).

Penggunaan antibiotik seharusnya dapat dikontrol untuk menghindari terjadinya


resistensi. Tetapi dalam prakteknya, antibiotik dapat dibeli dengan mudah di apotek meskipun
tanpa resep dokter. Sehingga penggunaannya di masyarakat juga tidak terkontrol. Hal ini
menyebabkan banyak antibiotik yang telah resisten sehingga diganti dengan antibiotik yang
lebih baru dengan spektrum yang lebih luas tetapi dengan resiko efek samping yang lebih
besar pula.
Sebagian besar masyarakat melakukan pengobatan sendiri dengan meniru resep yang
pernah diberikan oleh dokter. Sehingga dokter harus memberikan resep obat dengan benar
sesuai dengan diagnosa dan dapat digunakan secara tepat oleh pasien. Tidak hanya dokter,
apoteker di apotek juga harus memberikan informasi kepada pasien yang membeli antibiotik
tanpa resep dokter agar tidak terjadi kesalahan dalam penggunaan antibiotik.
4.

Kesimpulan
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa penggunaan antibiotik seperti

amoksisilin pada penyakit influenza adalah tidak tepat. Hal ini dikarenakan influenza
merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus, sedangkan antibiotik digunakan untuk
penyakit yang disebabkan oleh bakteri. Tetapi masyarakat sering melakukan pengobatan
sendiri menggunakan antibiotik tanpa disertai dengan informasi cara penggunaan yang tepat.
Sehingga mengakibatkan terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik tersebut.

5.

Daftar Pustaka
- Masyarakat jalan Kalimantan X, Jember.

Tjay, T. H dan Raharja, K.1993.Swamedikasi, Edisi 1, 42, 43.Jakarta:Departemen

Kesehatan RI.
Tjay, T. H. dan Rahardja.2002.Obat-Obat Penting, Khasiat, Penggunaan, dan EfekEfek Sampingnya, Edisi kelima.Jakarta:Elex Media Komputindo.hal. 308.