Anda di halaman 1dari 23

AKHLAK KEPADA

MASYARAKAT DAN ALAM

Disusun oleh:

ANDI
DEVIYANTI
0098)
TSARWAH AULIA

YEPITA
(141 2015
(141 2015 0099)

KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

TAHUN AJARAN 2016/2017

AKHLAK

KEPADA
MASYARAKAT DAN ALAM

Disusun oleh:

ANDI
DEVIYANTI
0098)
TSARWAH AULIA

YEPITA
(141 2015
(141 2015 0099)

KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
TAHUN AJARAN 2016/2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA
sehingga makalah ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa kami juga

mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi
dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca. Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami. Kami yakin masih
banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu kami sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.
Makassar, 28 Oktober 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ................................................................................

ii

KATA PENGANTAR ...............................................................................

iii

DAFTAR ISI .............................................................................................

iv

BAB I PENDAHULUAN .........................................................................

A.
B.
C.

Latar Belakang ..........................................................................


Rumusan Masalah .....................................................................
Tujuan ........................................................................................

1
2
3

BAB III PEMBAHASAN ........................................................................

A.
B.
C.

Pengertian Akhlak .....................................................................


Penjabaran Akhlak Kepada Masyarakat ....................................
Penjabaran Akhlak Kepada Alam ..............................................

4
4
14

BAB III PENUTUP ..................................................................................

19

A.
B.

Kesimpulan ................................................................................
Saran ..........................................................................................

Daftar Pustaka

.........................................21

19
20

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kata Akhlaq berasal dari bahasa Arab yang berarti watak, budi pekerti,
karakter, keperwiraan, kebiasaan. Kata akhlq ini berakar kata khalaqa yang
berarti

menciptakan,

seakar

dengan

kata Khliq (pencipta), makhlq (yang

diciptakan), dan khalq (penciptaan). Kesamaan akar kata ini mengandung makna
bahwa tata perilaku seseorang terhadap orang lain dan lingkungannya harus
merefleksikan dan berdasarkan nilai-nilai kehendak Khliq(Tuhan). Akhlaq bukan
hanya merupakan tata aturan atau norma perilaku yang mengatur hubungan antar
sesama manusia, tetapi juga norma yang mengatur hubungan antar manusia
dengan Tuhan dan bahkan dengan alam semesta.Yang dimaksud dengan akhlak
terhadap lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia, baik
binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak benyawa.
Akhlak ialah sifat-sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam dalam
jiwanya dan selalu ada padanya. Sifat itu dapat lahir berupa perbuatan baik,
disebut akhlak mulia, atau perbuatan buruk, disebut akhalak yang tercela sesuai
dengan pembinaannya. Jadi akhlak pada hakikatnya khulk (budi pekerti) atau
akhlak ialah suatu kondisi atau sifat yang telah meresap dalam jiwa dan menjadi
kepribadian hingga dari situ timbullah berbagai macam perbuatan dengan cara
spontan dan mudah tanpa dibuat-buat dan tanpa memerlukan pemikiran.
Dalam kehidupan bertetangga, bermasyarakat, berbangsa maupun bernegara
kita sebagai umat yang senantiasa bersosialisasi, berinteraksi dengan yang
lainnya, khususnya umat muslim, sudah sepantasnya kita menmpilkan akhlak
mulia yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para sahabat beliau yang

diridloi oleh Allah swt. Berperilaku/berakhlak mulia di dalam bertetangga sangat


perlu untuk direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari kutipan di atas dapat difinisikan bahwa akhlaq adalah sifat yang
tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara spontan bilamana
diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan teerlebih dahulu,
serta tidak memerlukan dorongan dari luar. Jadi definisi akhlaq kepada masarakat
adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang dilakukan secara spontan
tanpa pertimbangan terlebih dahulu dalam lingkungan atau kehidupaan.
Sebagai makhluk sosial kita adalah makhluk yang tak bisa hidup tanpa orang
lain, maka dari itu Islam datang sebagai ajaran yang universal yang membahas
dan mencangup tentang akhlak dalam hidup bermasyarakat. Juga tidak bisa
dilupakan bahwa manusia juga adalah makhuk yang tidak bisa hidup tanpa
alamnya dan lagi Islam dengan ajarannya yang mencakup semua aspek
memberikan cara atau contoh bagaimana menjaga dan melindungi alam dan
menjaga kelestarian alamnya.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, adapun rumusan masalahnya yaitu :
1. Apa pengertian akhlak?
2. Jelaskan penjabaran akhlak kepada masyarakat!
3. Jelaskan penjabaran akhlak kepada alam!
C. Tujuan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk:
1. Mengetahui pengertian akhlak.
2. Mengetahui penjabaran akhlak kepada masyarakat.
3. Mengetahui penjabaran akhlak kepada alam.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Akhlak
Menurut bahasa (etimologi) perkataan akhlak ialah bentuk jamak darikhuluq
(khuluqun) yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, atau tabiat.1Akhlak
disamakan dengan kesusilaan, sopan santun. Khuluq merupakan gambaran sifat
batin manusia, gambaran bentuk lahiriah manusia, seperti raut wajah, gerak
anggota badan dan seluruh tubuh. Dalam bahasa Yunani kata khuluq ini
disampaikan dengan kata ethicos atau ethos artinya adab kebiasaan, perasaan
batin kecenderungan hati untuk melakukan perbuatan. Ethicos kemudian berubah
menjadi etika.2
B. Penjabaran Akhlak Kepada Masyarakat
Masyarakat di sini bisa juga diartikan yang berada disekitar kita yaitu
tetangga. Tetangga sangat erat hubungannya dengan akhlak dalam kehidupan
sehari-hari. Seringkali kita dapat tahu tentang akhlak diri sendiri malah dari orang
lain (tetangga), atau bisa disebut sebagai tolak ukur akhlak kita.
Sebagian ulama muslim, diantaranya Prof. Manur Rajab, Berpendapat bahwa
norma/ akhlaq berarti sesuatu yang di jadikan tolak ukur untuk memberikan
penilaian saat terjadi pertentanngan antar berbagai pola perilaku bahwa pola ini
lebih baik dari pada pola itu.
Ia mengatakan : Dengan apa kita menilai baik-buruk perilaku perbuatan
manusia. Kemudian prof. Rajab menetapkan sebuah kesimpulan penting bahwa
pendapat para filsuf, tradisi masyarakat setempat.an hukum konvensional tidak
layak di jadikan sebgai norma/ akhlaq sebab etika yang valid harus bersifat baku,
alias tidak berubah-rubah, dan besifat umum higga bisa diterapkan bagi segenap

manusia anpa pandang bulu, tempat, dan waktu. Kemudian, tridisi juga berbedabeda antar masyarakat satu dengan masyarakat lain.
Disamping karena faktor perbedaan waktu, sementara kaum konvensional
merpakan produk manusia yang bisa salah dan bisa benar dan hukum-hukum
konvensional inipun beragam sesuai dengan keragaman visi pembuatannya.
Oleh karena itu , keiganya tidak layak di jadikan sebgai norma akhlaq yang
sahih. Adapun norma yang sahih adalah agama Islam, sebab ia merupakan wahyu
dari Tuhan, dan Dia tentu saja lebih mengetahui perundang-undangan atau aturan
hukum yang tepat dan bermaslahat bagi umat manusia. Serta lebih mengerti soal
aturan-aturan

peribadatan

maupun

perilaku-perilaku

mulia

yang

bisa

menyantunkan diri mereka dan meluruskan akhlaq mereka. Dan semua itu
berlandaskan prinsip iman dan islam.
Akhlak kepada masyarakat mempelajari tentang bagaimana cara kita
bertingkah laku di masyarakat. Akan di lihat dari 3 segi atau sudut, diantaranya,
dari segi agama, etika dan budaya. tapi disini kami memfokuskan pada segi
agama.
Tujuan dari kehidupan bermasyarakat diantaranya ialah menumbuhkan rasa
cinta, perdamaian, tolong-menolong, yang merupakan fondasi dasar dalam
masyarakat Islam. Dalam suatu hadits digambarkan kondisi seseorang yang
beriman dengan berakhlak mulia dalam kehidupan masyarakat.
Selain kita memperlakukan dengan baik diri kita sendiri, kita juga harus
memperhatikan saudaranya (kaum muslim semuanya) dan juga tetangga
kita. Tetangga selalu ada ketika kita membutuhkan bantuan.
Seperti yang diriwayatkan dari Anas ra bahwa Rasulullah SAW bersabda:
Tidaklah beriman seoarang dari kalian hingga ia menyukai saudaranya
sebagaimana ia menyukai dirinya sendiri. (H.R. Bukhari)

Demikianlah masyarakat Islam dibentuk , yakni melandaskan persaudaraan


antar sesamaoarang yang beriman. Agar masyarakat Islam dapat mencapai
tujuannya guna merealisasikan ibadah kepada ALLAH SWT dengan lingkup yang
sangat luas.
Dari hadits shahih bahwasannya Rasulullah SAW bersabda:
Tidak masuk sorga orang yang tetangganya tidak

aman

dari

keburukannya (H.R Muslim).


Bisa disebutkan bahwa apabila salah satu tetangga kita sedang tertimpa suatu
masalah dan sangat membutuhkan bantuan hendaklah membantu jangan hanya
berdiam

diri

padahal

kita

tidak

sadar

sedang

melakukan

kesalahan-

kesalahan. Pastilah Allah SWT sangat tidak suka terhadap orang yang seperti itu,
maka masuklah ke neraka (tidak masuk sorga).
Dari beberapa sumber diatas juga memberikan pengetahuan kita bahwa
pentingnya hubungan baik dengan masyarakat (tetangga).
Apabila seoarang tetangga kita ada yang ingin menjual rumahnya, baik itu
karena desakan ekonomi (terlilit hutang) maka yang paling berhak membeli
rumah adalah tatangga (setelah saudara).
Seperti yang telah tertuang bahwasanya Rasulallah SAW bersabda:
Tetangga adalah orang yang paling berhak membeli

ruamah

tetangganya. (HR. Bukhari dan Muslim) [5]


Kehidupan di masyarakat patilah akan menjumpai kegiatan silaturahim.
Orang yang berakhlak baik baisanya senang dengan bertamu atau silaturahim,
karena ini dapat mengutkan hubungan sesama muslim.
Beberapa hal kegiatan dalam masyarakat antara lain;
Bertamu
Sebelum memasuki rumah, yang bertamu hendaklah meminta izin kepada
penghuni rumah dan setelah itu mengucapkan salam.

Dengan Firman ALLAH SWT:


Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu memasuki rumah yang
bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada
penghuninya. Yang demikian itu lebih baik bagimu , agar kamu (selalu)
ingat. (QS. An-Nur 24: 27)
Allah SWT menjelaskan agar orang mukmin selalu beriman kepada-Nya dan
berakhlaq dalam bertamu dengan cara yang telah ditetapakan. Tamu hendaklah
meminta izin kepada pemilik rumah terlebih dahulu barulah mengucapkan salam.
Ada beberapa ulama yang mayoritas ahli fiqh berselisih pendapat. Mereka
berargumentasi dari beberapa hadits Rasulullah SAW riwayat Bukhari, Ahmad,
Tirmidzi, Ibn Abi Syaibah dan Ibn Abd Al-Bar. [6]
Meskipun dari sumber hadits yang berbeda-beda tetapi mereka menyatakan
hal yang sama yaitu mengucapkan salam terlebih dahulu baru meminta izin (assalam qabl al-kalam).
Dari perbedaan tadi, ada beberapa ulama yang berargumentasi lain. Mereka
menyatakan bahwa, apabila tamu melihat salah seorang penghuni rumah maka dia
(tamu) mengucapkan salam terlebih dahulu. Akan tetapi apabila tamu tidak
melihat pemilik rumah maka hendaklah dia (tamu) meminta izin dulu baru
mengucapkan salam. Pendapat terskhir inilah yang diambil oleh al-Mawardi.[7]
Rasulullah SAW bersabda:
Jika seorang di antara kamu telah meminta izin tiga kali, lalu tidak diizinkan,
maka hendaklan dia kembali. (HR. Bukhari Muslim)

Menurut Rasulullah SAW sendiri, dalam meminta izin boleh dilakukan


maksimal hanya tiga kali. Sudah sewajarnya dan seharusnya apabila seorang tamu
sudah meminta izin tiga kali namun tidak ada jawaban maka tamu tadi kembali
pulang. Jika berani masuk rumah tanpa izin dapat berakibat buruk pada tamu it
sendiri seperti disangka pencuri oleh warga setempat yang melihatnya.
Tamu tidak boleh mendesakan keinginannya untuk bertamu setelah ketukan
ketukan ketiga, dakarenakn dapat mengganggu pemilik rumah. Tuan rumah
sekalipun dianjurkan untuk menerima dan memuliakan tamu, akan tetapi
tetappunya hak untuk menolak kedatangan tamu dikarenakan tidak sedang siap
dikunjungi oleh tamu.[8]

Meminta izin kepada pemilik rumah dilakukan maksimal tiga kali itu
memiliki sebab, diantaranya,
1. Ketukan pertama sebagai isyarat kepada pemilik rumah bahwa telah
kedatangan tamu.
2. Ketukan kedua memberikan waktu untuk membereskan barang-barang
yang mungkin berantakan dan menyiapkan segala sesuatu yang
piperlukan.
3. Ketukan ketiga biasanya pemilik rumah sudah siap membukakan pintu.
Akan tetapi bisa saja pada waktu ketukan kedua pemilik rumah sudah
membukakan pintu, tergantung situasi dan kondisi pemilik rumah. [9]
Namun bila pada ketukan ketingga tetap tidak dibukakan pintu, kemungkinan
pemilik rumah tidak bersedia menerima tamu atau sedang tidak berada di rumah.

Merujuk firman Allah SWT:


Jika kamu tidak menemui seseorang di dalamnya, maka janganlah kamu
masuk sebelum kamu mendapat izin. Dan jika dikatakan kepadamu:
Kembali (saja) lah , maka hendaklah kamu kembali. Itu lebih bersiih
bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. An-Nur
24:28)[10]
Maksud dari ayat ini adalah pada saat bertamu namun tidak ada orang di
dalamnya, bahkan ditolak pemilik rumah janganlah masuk karena akan dinilai
kurang memiliki akhlak. Ini akan akan menjaga nama dan kehormatan tamu itu
sendiri juga berdampak pada nama baiik pemilik rumah.
Menerima Tamu
Salah satu akhlak yang terpuji dalam Islam adalah menerima dan memuliakan
tamu tanpa membedakan status sosial.
Rasulullah SAW bersabda:
Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia
berkata yang baik atau diam. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan
Hari Akhir hendaklah ia memuliakan tetangganya. Dan barang siapa yang
beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan
tamunya. (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadits diatas dapat kita selidiki bahwa apabila seseorang beriman kepada
Allah dan Hari Akhir dalam berbicara katakanlah hal yang baik jangan berkata
yang tercela, bahkan lebih baik lagi diam dari pada tidak dapat berkata
baik. Memuliakan tetangganya disini bisa diartikan menyambut baik tetangganya

jangan malah merasa tidak nyaman apabila tamu datang serta menyambut baik
tamu. Selain dengan tetangga, seorang Muslim harus dapat berhubungan baik
dengan baik di lingkungan pendidikan, lingkungan kerja, sosial dan yang lainnya.
Jika tamu datang dari tempat yang jauh dan ingin menginap, maka pemilikan
rumah atau tuan rumah wajib menerima dan menjamunya dengan batasan
maksimal tiga hari. Apabila tamu mau menginap lebih dari tiga hari, terserah tuan
rumah tetap menjamunya atau tidak.
Rasulullah SAW bersabda;
Menjamu tamu itu hanya tiga hari. Jizahnya sehari semalam. Apa yang
dibelajakan untuk tamu diatas tiga hari adalah sedekah. Dan tidak bolaeh bagi
tamu tetapmenginap (lebih dari tiga hari). Karena hal itu akan memberatkan
tuan rumah. (HR. Tirmidzi)
Menurut Rasulullah SAW, menjamu tamu lebih dari tiga hari nilainya
sedekah, bukan lagi kewajiban.
Menurut Imam Malik yang dimaksud dengan jaizah sehari semalam adalah
memuliakan dan menjamu tamu pada hari pertama dengan hidangan yang
istimewa menjadi hidangan yang biasa dimakan tuan rumah sehari-hari.
Sedangkan menurut Ibn al-Atsir, yang dimaksud denganjaizah adalah memberi
bekal kepada tamu untuk perjalanan sehari-semalam. Ini karena disesuaikan di
daerah padang pasir, diperlukan bekal minimal sehari-semalam sampai bertemu
dengan tempat persinggahan berikutnya. [11]
Kedua pemahaman di atas dapat di kompromikan dengan melakukan keduaduanya apabila memeng tamunya membutuhkan bekal guna melanjutkan
perjalanan. Tapi apa pun bentuknya, tujuannya sama yaitu untuk memuliakan
tamunya dengan sedemikian rupa.
Berhubungan baik dengan tetangga

Sesudah anggota keluarga kita, orang yang paling dekat adalah tetangga.
Begitu pentingnya peran tangga sampai-sampai Rasulullah SAW menganjurkan
kepada siapa saja yang akan membeli rumah atau mebeli tanah selanjutnya
dibangun rumah, hendaklah memperhatikan siapa yang akan menjadi tetangganya.
Beliau bersabda;
Tetangga sebelum rumah, kawan sebelum jalan, dan bekal sebelum
perjalanan. (HR. Khathib)
Dari hadits di atas adalah pentingnya peran tetangga dalam hidup
bermasyakat terutama dalam memilih tempat untuk dijadikan tetangga dalam
hidup bermasyakat terutama dalam memilih tempat untuk dijadikan rumah saja
kita harus memilih dengan beberapa aspek yang harus diperhatikan.
Kita dapat melihat dari sebuah kata tetangga sebelum rumah dalam
kehidupan bermasyarakat, maksudnya kita sebelum membangun sebuah rumah
harus memilih atau mengetaui kondisi tetangga kita.Diharapkan jaangan
sembarang dalam hal ini, karena akan berdampak pada diri kita sendiri.
Baik buruknya sikap tetangga kita tentu tergantung juga bagaimana kita
bersikap kepada mereka. Dalam kesempatan lain Rasulullah SAW juga
mengatakan bahwa tetangga yang baik adalah salah satu dari tiga hal yang
membahagiakan hidup, dengan sabdanya;
Di antara yang membuat bahagia seoarang Muslim adalah tetangga yang
baik, rumah yang lapang, dan kendaraan yang nyaman. (HR. Hakim)
Beberapa hal yang membuat bahagia seorang muslim dalam kehidupan
bermasyarakat yaitu tetangga yang baik, coba kita bayangkan bila tetangga kita
selalu konflik/ tidak akur. Kehidupan kita tidak akan berjalan harmonis.
Allah SWT memerintahkan kepada kita untuk berbut baik dengan
tetangganya, baik tetangga dekat maupun jauh. Pastilah orang akan akan sangat
senang apabila tatangganya baik kepada kita dan kita pun tidak akan segan untuk

10

membalas kebaikan tatangga kita itu. Ini menimbulkan dampak yang positif,
namun bila tetangga kita berselisih dengan kita pastinya akan ragu untuk menyapa
baik tetangga.
Bentuk Hubungan baik dengan tetangga
Bentuk-bentuk hubungan baik dengan tetangga ini Raulullah SAW pernah
berpesan kepada Abu Dzar:
Jika engkau memasak
peerhatikanlah

gulai,

perbanyaklah

tetangga-tetanggamu,

dan

kuahnya,
berilah

kemudian
mereka

sepantasnya. (HR.Muslim)
Salah satu hubungan baik dengan tetangga dapat dilihat dari hadits shahih
diatas, bahwa apabila kita sedang memasak gulai atau memasak yang lainnya
ingatlah kepada tatangga kita. Sehingga walupun bahan gulai yang sedang
dimasak kurang, kita dapat menambah gulainya.Setelah masak, perhatikanlah
tetangga kita. Berilah mereka tetangga kita gulai yang kita masak tadi dengan
sepantasnya.
Dijelaskan

juga

bahwa

seorangyang

hidup

saling

berdampingan

(bermasrakat) harus memperhatikan tetangganya. Mengulurkan tangan untuk


mengatasi kesulitan hidup yang dihadapi oleh teetangga. Jangan sampai seseorang
dapat tidur nyenyak, sementara tetangganya menangis kelaparan. Seperti yang
sabda Rasulullah SAW:
Tidaklah beriman kepada-Ku orang yang dapat tidur dengan perut kenyang
sementara tetangganya kelaparan, padahal dia mengetahui (HR. Bazzar)
Dalam hadits yang lebih panjang, Rasulullah SAW menguraikan bagaimana
berbuat baik dengan tetangganya. Beliau bersabda:
Hak tetangga itu ialah, apabila ia sakit kamu menjenguknya, apabila ia
meninggal kamu mengiringi jenazahnya, apabila ia membutuhkan sesuatu kamu

11

meminjaminya, apabila ia tidak memiliki pakaian kamu memberinya pakaian,


apabila ia mendapatakan kebajikan kamu kmau mengucapkan selamat kepadanya,
apabila ia mendapatkan musibah kamu bertakziah kepadanya, jangan engkau
meninggalkan rumahmu atas rumahnya sehingga angin terhalang masuk
rumahnya, dan janganlah kamu menyakitinya dengan bau periukmu kecuali kamu
memberinya sebagian dari masakan itu. (HR. Tabranni)
C. Penjabaran Akhlak Kepada Alam
Alam ialah segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi beserta isinya,
selain Allah. Allah melalui al quran mewajibkan kepada manusia untuk mengenal
alam semesta beserta isinya.3
Manusia sebagai khalifah diberi kemampuan oleh Allah untuk mengelola
bumi dan mengelola alam semesta ini. Manusia diturunkan ke bumi untuk
membawa rahmat dan cinta kasih kepada alam seisinya. Oleh karena itu, manusia
mempunyai tugas dan kewajiban terhadap alam sekitarnya, yakni melestarikannya
dengan baik.4 Ada kewajiban manusia untuk berakhlak kepada alam sekitarnya.
Ini didasarkan kepada hal-hal sebagi berikut :
1. Bahwa manusia hidup dan mati berada di alam, yaitu bumi;
2. Bahwa alam merupakan salah satu hal pokok yang dibicarakan oleh al
quran;

3. Bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk menjaga pelestarian


alam yang bersifat umum dan yang khusus;
4. Bahwa Allah memerintahkan kepadaa manusia untuk mengambil manfaat
yang sebesar-besarnya dari alam, agar kehidupannya menjadi makmur;

12

5. Manusia berkewajiban mewujudkan mewujudkan kemakmuran dan


kebahagiaan di muka bumi.5
Manusia wajib bertanggung jawab terhadap kelestarian alam atau
kerusaakannya, karena sangat memengaruhi kehidupan manusia. Alam yang
masih lestari pasti dapat memberi hidup dan kemakmuran bagi manusia di bumi.
Tetapi apabila alam sudah rusak maka kehidupan manusia menjadi sulit, rezeki
sempit dan dapat membawa kepada kesengsaraan. Pelestarian alam ini waajib
dilaksanakan oleh semua lapisan masyarakat, bangsa dan negara.6
Manusia hidup bergantung pada alam sekitar. Mula-mula mereka hidup
secara berpindah-pindah (nomaden) mencari tempat-tempat yang menyediakan
hidup dan makan. Mereka lalu berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lain
setelah bahan makanan habis dan tidak didapat. Namun seiring dengan kemajuan
kehidupan manusia, bukan berarti ketergantungan dan kebutuhannya terhadap
alam semakin berkurang. Mereka tetap membutuhkan alam sekitarnya bagi
kemakmuran dan kesejahteraan hidupnya. Untuk itu, manusia harus menjaga
keharmonisan hubungannya dengan alam dan makhluk di sekitarnya, yaitu dengan
cara berakhlak yang baik kepadanya.7 Dalam ajaran Islam, akhlak kepada alam
seisinya dikaitkan dengan tugas manusia sebagi khalifah di muka bumi.8
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya
Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata:
"Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan
membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa

13

bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman:


"Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS. Al
Baqarah[2] : 30).
Akhlak manusia terhadap alam bukan hanya semata-mata untuk kepentingan
alam, tetapi jauh dari itu untuk memelihara, melestarikan dan memakmurkan alam
ini. Dengan memenuhi kebutuhannya sehingga kemakmuran, kesejahteraan, dan
keharmonisan hidup dapat terjaga.9
Berakhlak dengan alam sekitarnya dapat dilakukan manusia dengan cara
melestarikan alam sekitarnya sebagai berikut :
1. Melarang penebangan pohon-pohon secara liar;
2. Melarang perburuan binatang secara liar;
3. Melakukan reboisasi;
4. Membuat cagar alam dan suaka margasatwa;
5. Mengendalikan erosi;
6. Menetapkan tata guna lahan yang lebih sesuai;
7. Memberikan pengertian yang baik tentang lingkungan kepada seluruh
lapisan masyarakat;
8. Memberikan sanksi-sanksi tertentu bagi pelanggar-pelanggarnya.10
Manusia di bumi sebagai khalifah, mempunyai tugas dan kewajiban terhadap
alam sekitarnya, yakni melestarikan dan memeliharanya dengan baik. Allah
berfirman :

14

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu


(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana
Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di
(muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat
kerusakan.(QS. Al Qashash[28] :77)
Adapun akhlak manusia terhadap alam yang wajib dilaksanakan adalah
sebagai berikut.
1. Memerhatikan dan merenungkan penciptaan alam. Allah berfirman :
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya
malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (QS. Ali
Imran[3] : 190)
2. Memanfaatkan alam beserta isinya, karena Allah ciptakan alam dan isinya
ini untuk manusia. Allah berfirman :

Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai
atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan
hujan itu segala buah-buahansebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu
mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.(QS. Al
Baqarah[2] : 22)
15

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan
Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha
Mengetahui segala sesuatu.(QS Al Baqarah[2] : 29)
Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari surga itu dan dikeluarkan dari
keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu! sebagian kamu menjadi
musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan
kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan". (QS. Al Baqarah[2] : 36)
Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat
di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena
sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyatabagimu.(QS. Al Baqarah[2] :
168)11

16

BAB III
PENUTUP
A. Keseimpulan
Dari kutipan di atas dapat difinisikan bahwa akhlaq adalah sifat yang
tertanam dalam jiwa manusia, sehingga dia akan muncul secara spontan
bilamana diperlukan, tanpa memerlukan pemikiran atau pertimbangan
teerlebih dahulu, serta tidak memerlukan dorongan dari luar. Jadi definisi
akhlaq kepada masarakat adalah sifat yang tertanam dalam jiwa manusia yang
dilakukan secara spontan tanpa pertimbangan terlebih dahulu dalam
lingkungan atau kehidupaan.
Sebagai makhluk sosial kita adalah makhluk yang tak bisa hidup tanpa
orang lain, maka dari itu Islam datang sebagai ajaran yang universal yang
membahas dan mencangup tentang akhlak dalam hidup bermasyarakat. Juga
tidak bisa dilupakan bahwa manusia juga adalah makhuk yang tidak bisa
hidup tanpa alamnya dan lagi Islam dengan ajarannya yang mencakup semua
aspek memberikan cara atau contoh bagaimana menjaga dan melindungi alam
dan menjaga kelestarian alamnya.
Akhlak kepada masyarakat mempelajari tentang bagaimana cara kita
bertingkah laku di masyarakat. Akan di lihat dari 3 segi atau sudut,
diantaranya, dari segi agama, etika dan budaya.
Ada kewajiban manusia untuk berakhlak kepada alam sekitarnya. Ini
didasarkan kepada hal-hal sebagi berikut :
1. Bahwa manusia hidup dan mati berada di alam, yaitu bumi;
2. Bahwa alam merupakan salah satu hal pokok yang dibicarakan oleh al
quran;

17

3. Bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk menjaga pelestarian


alam yang bersifat umum dan yang khusus;
4. Bahwa Allah memerintahkan kepadaa manusia untuk mengambil manfaat
yang sebesar-besarnya dari alam, agar kehidupannya menjadi makmur;
5. Manusia berkewajiban mewujudkan mewujudkan kemakmuran dan
kebahagiaan di muka bumi.5

B. Saran
Demikianlah makalah surveilans kesehatan haji ini disusun dengan bentuk
yang sederahana. tentunya dengan harapan mudah dimengerti dan dipahami.
untuk melengkapi kekurangan dalam makalah ini kami menyarankan agar
tetap membaca buku dan mencari sumber lainnya berupa jurnal lainnya
mengenai surveilans kesehatan haji.

DAFTAR PUSTAKA
http://abarokah51.blogspot.co.id/2012/11/akhlak-kepada-masyarakat.html
http://atthamimy.blogspot.co.id/2012/07/makalah-akhlak-kepada-alam.html
A. Mustofa, Akhlak Tasawuf, (Bandung: Pustaka Setia, 1997)
M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al Quran,
(Jakarta: Amzah, 2007)
Syahminan Zaini, Isi Pokok Ajaran Al Quran, (Jakarta: Kalam Mulia, 1996),
Asmaran A. S.,Pengantar studi Akhlak, (Jakarta: Raja Grafindo, 2003)

18

19