Anda di halaman 1dari 30

BAB II

MIKROGRAFI
2.1 PENDAHULUAN
2.1.1

Latar Belakang
Struktur mikro adalah gambaran dari kumpulan fasa-fasa yang dapat diamati

melalui teknik metalografi. Struktur mikro suatu logam dapat dilihat dengan
menggunakan mikroskop. Sebelum dilihat dengan mikroskop, permukaan logam harus
dibersihkan terlebih dahulu, kemudian reaksikan dengan reagen kimia untuk
mempermudah pengamatan. Proses ini dinamakan etching.
Untuk mengetahui sifat dari suatu logam, kita dapat melihat struktur mikronya.
Setiap logam dengan jenis berbeda memiliki struktur mikro yang berbeda. Dengan
melalui diagram fasa, kita dapat meramalkan struktur mikronya dan dapat mengetahui
fasa yang akan diperoleh pada komposisi dan temperatur tertentu. Dari struktur mikro
kita juga dapat memprediksi sifat mekanik dari suatu material sesuai dengan yang kita
inginkan. Kita juga dapat membandingkan struktur mikro logam hasil proses heat
treatment dengan sturktur mikro logam dan keadaan heat treatment.[ ]
Pengujian mikrografi di dunia industri contohnya adalah Analisa Perubahan
Struktur Akibat Heat Treatment pada Logam ST, FC Dan Ni-Hard 4. Untuk
mendapatkan kualitas logam ST, FC dan Ni-Hard 4 yang sesuai dengan konstruksi
mesin yang akan digunakan dapat dilakukan dengan proses heat treatment. Karena
logam tersebut bila dibenahi heat treatment akan mengalami perubahan struktur yang
mempengaruhi sifatnya. Sebelum dan sesudahnya proses heat treatment struktur logam
diamati dengan uji metallografi, silanjutkan dengan uji kekerasan dan uji magnetic.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa logam ST 70 terdiri dari 100% martensit,
kekerasannya 49 HRC dan bersifat ferromagnetik. Logam FC 30 berstruktur lamellar,
susunan A, ukuran 5-6 dan perlit 100%. Sedangkan logam Ni-Hard 4 mengandung
bentuk lamellar, susunan A, ukuran 5-6 dan martensit 100% [ ].

2.1.2 Tujuan Praktikum


Adapun tujuan Praktikum Mikrografi adalah :
1.

Mengetahui struktur mikro logam dan paduan dengan bantuan mikroskop.

2.

Membandingkan struktur mikro logam hasil proses heat treatment dengan


struktur mikro logam dalam keadaan non heat treatment.

3.

Mengetahui sifat dan struktur dari material.

4.

Mengetahui bentuk-bentuk fasa suatu logam.

2.2 DASAR TEORI


2.2.1 Pengertian Mikrografi
Mikrografi adalah gambar yang menunjukan struktur mikro pada hal ini struktur
logam dan paduannya. Ada dua macam pengujian struktur Kristal yang biasa dilakukan
yaitu pengujian makro dan pengujian mikro.
2.2.2 Pengujian Struktur Makro
Salah satu dari pengujian struktur makro dari kristal adalah pengujian penampang
dimana bahan dinilai dari besar butir kristal, warna dan mengkilatnya penampang dari
batang uji atau produk yang dipatahkan. Pengujian yang lain adalah dengan jalan
mengetza dan pembesaran struktur kristal, segregasi dan pemisahan cacat kecil setelah
memoles patahan. Perbedaanya dengan Uji mikro adalah pada perbesaran mikroskop
yaitu hanya sebanyak 100 kali.
2.2.3 Pengujian Strukture Mikro
Pada umumnya kita bekerja dengan reflek pemendaran (sinar), pada polisan
atau etsa, tergantung pada permukaan benda uji dipolis, dan diperiksa langsung di
bawah mikroskop atau dietsa terlebih dahulu dibawah mikroskop. Pengujian stauktur
mikro biasanya menggunakan perbesaran mikroskop sebanyak lebih dari 100 kali.
2.2.3.1 Bagian-bagian Struktur Mikro
Material dengan struktur mikro yang berbeda memiliki sifat fisik dan mekanik
yang berbeda pula. Ada beberapa bagian dari dari struktur mikro :

A.

Atom
Atom adalah suatu satuan dasar materi, yang terdiri atas inti atom serta

awan elektron bermuatan negatif yang mengelilinginya . Atom biasanya terdiri dari
muatan positif (Proton),Negatif (Elektron) dan netral (neutron).

Gambar 2.1 Susunan Atom. [ ]


B.

Sel satuan
Sel satuan merupakan gabungan dari beberapa atom yang tersusun secara

berulang dan teratur. Kristal memiliki tujuh jenis sel satuan, diantaranya kubus,
tetragonal, dan heksagonal. Secara umum logam memiliki sel satuan kubus dan
heksagonal, sedangkan secara khusus besi atau baja memiliki sel satuan kubus.

Gambar 2.2 Sel Satuan. [ ]


C.

Butir
Butir merupakan kumpulan sel satuan yang memiliki arah dan orientasi gerak

yang sama yang dilihat dari arah 2 dimensi. Material yang mempunyai butir yang halus
atau kecil akan lebih kuat dan keras dibandingkan dengan yang mempunyai butir besar
karena butir halus mempunyai total luas batas butir yang lebih besar yang akan
menghambat gerakan dislokasi.

Gambar 2.3 Butir [ ].

D.

Stuktur Kristal

Struktur adalah kumpulan atom-atom yang yang mempunyai geometri tertentu


dan berulang. Terdapat beberapa jenis struktur kristal pada logam antara lain:
1)

Struktur kristal BCC (Body Centered Cubic)


Struktur kristal BCC berbentuk kubus mempunyai atom-atom di kedelapan
sudutnya dan di tengah-tengah kubus. Masing-masing dari atom-atom sudut juga
merupakan atom sudut kubus yang lain sehingga atom-atom sudut dibagi bersama
antar delapan sel satuan. Beberapa material yang memiliki struktur BCC antara lain
litium, natrium, kalium, unsur logam pelapis kran, barium, vanadium, besi alfa dan
tungsten.

Gambar 2.4 Struktur Kristal BCC (Body Centered Cubic) .[ ]


2)

Struktur kristal FCC (Face Centered Cubic)


Struktur kubus pemusatan sisi memiliki atom-atom pada setiap sudut dan di

tengah-tengah pada setiap sisinya. Masing-masing atom sudut adalah atom sudut yang
lain sehingga atom-atom sudut dibagi bersama antar delapan sel satuan. Juga pada
atom pada keenam sisinya dibagi bersama dengan satu atom yang bersebelahan.
Beberapa material yang memiliki struktur FCC antara lain aluminium, tembaga,
iridium, nikel, platina, perak.

Gambar 2.5 Struktur Kristal FCC (Face Centered Cubic) .[ ]

3)

Struktur kristal HCP (Hexagonal Close Packed)

Struktur HCP memiliki tiga lapisan dari atom-atom. Pada setiap atas dan
lapisan paling bawah, ada 6 atom yang tersusun pada 6 sudut pada sisi segienam dan
satu atom yang ke 7 berada di tengah-tengah sisi segienam. Beberapa material
yang termasuk HCP antara lain berilium, cadmium, magnesium, titanium, seng dan
zirconium.

Gambar 2.6 Struktur Kristal HCP (Hexagonal Closed Packed) [ ]


2.2.3.2 Tahap Pengujian Struktur Mikro
Adapun beberapa tahap yang perlu dilakukan sebelum melakukan pengujian
struktur mikro, yaitu :
a.

Sectioning/Pemotongan
Pemotongan ini dipilih sesuai dengan arah yang akan diperiksa dari logam

tersebut sesuai dengan ukuran tertentu. Ada beberapa sistem pemotongan sampel
berdasarkan media pemotong yang digunakan, yaitu meliputi proses pematahan,
pengguntingan, penggergajian, pemotongan abrasi (abrasive cutter), gergaji kawat, dan
EDM (Electric Discharge Machining). Fungsinya adalah untuk mempermudah proses
pengamplasan.
b.

Mounting/Pemegangan
Proses mounting diperlukan jika sampelnya kecil atau mempunyai bentuk yang

tidak beraturan sehingga pada proses penggerindaan material mudah dipegang. Media
yang digunkan adalah resin.
c.

Grinding/ Pengamplasan kasar


Tahapan ini dipakai untuk menghaluskan permukaan, ditujukan untuk

menghilangkan kerak/scaling pada permukaan spesimen, grinding/sand pape ryang


sering digunakan adalah ukuran 400/600, 800, 1000, 1200, 1500, dan 2000.

d.

Polishing
Proses pemolesan menggunakan kain bludru dan autosol. Proses ini bertujuan

untuk menghasilkan permukaan spesimen yang rata dan mengkilap, tidak boleh ada
goresan yang merintangi selama pengujian.
e.

Attack ( etching )
Permukaan logam yang telah dipoles akan didapatkan permukaan yang halus

dan mengkilap seperti cermin. Permukaan logam tersebut kemudian dietsa dengan cara
mencelupkan beberapa detik. Setelah benda uji mengalami proses polishing, maka
dilakukan pengetsaan, permukaan benda uji dicelup dengan waktu 10 detik
menggunakan larutan HNO3 1 ml dan 10 ml methanol/ethanol setelah itu
dibersihkan dengan air kemudian dikeringkan.
Tabel 2.1 Reaktan Untuk Proses Pengetsaan [ ]
Material
Besi,

Baja,

Paduan

Reaktan

Proses

Besi Nital HNO3 1-5 ML, 100 -Dicelup


ML

etanol

(95%)

methanol (95%)

dalam

reaktan

atau selama 1-5 detik, kemudian


dibilas air lalu dikeringkan
-Teknik swabing

Alumunium

Kellers HNO3 2,5 ml, HF 1 -Dicelup kedalam reaktan


ml, HCL 1,5 ml, 95 ml selama 1-15 detik, kemudian
aquades
dibilas dengan air lalu
dikeringkan dan didiamkan
selama 24 jam.

Tembaga, Kuningan Larutan 1


-Dicelup
1-10
detik,
atau Cu Alloy
25 ml NH4OH, 25 ml kemudian dibilas air lalu
aquades, 50 ml H202 (3%)
dikeringkan.
Larutan 2
5 gr FeCl, 50 ml HCL, 100
ml aquades

Stainless steel

Amuntit (Tool steel)

f.

Larutan 1
-Dicelup
atau
diswap
10 ml HNO3, 10 ml acetic beberapa saat(1-10 detik)
acid, 5 ml HCL, 2-5 ml cops
gliserin
Larutan 2
5 ml HCL, 1 gr piric acid,
100 ml ethanol (95%) dan
methanol (95%)

-Dicelup
dalam
larutan
selama 1-5 detik, kemudian
dicelup kedalm cairan H202
(3%) selama 1-2 detik. Lalu
bilas air dan keringan.

Larutan 1
Nital HNO3 1-5 ml, 100 ml
ethanol
(95%)
atau
methanol (95%)
Larutan 2
1 gr picrit acid, 100 ml
ethanol
(95%)
atau
methanol (95%)

-Dicelup dalam reaktan selam


1-5 detik, kemudian dibilas
air dan keringkan.
-Teknik swabing
-Dicelup/diswap 1-10 detik
-Dicelup ke larutan selama 15 detik, lalu dicelup dalam
H202 (3%) selama 1-2 detik,
lalu
dibilas
air
dan
dikeringkan

Foto (pemotretan)
Dilakukan dengan alat yang di gunakan kusus untuk pemotretan yaitu dengan

alat uji mikroskop, untuk mendapatkan gambar dari struktur mikro yang dimaksud.
Perbesaran yan digunakan adalah 100,200 dan 500 kali.
2.2.4 Diagram Fasa Fe-Fe3C
Diagram fasa adalah sejenis grafik yang digunakan untuk menunjukkan kondisi
kesetimbangan antara fase-fase yang berbeda dari suatu zat yang sama. Diagram
fasa Fe-Fe3C adalah diagram yang menampilkan hubungan antara temperatur
dan kandungan karbon (%C) selama pemanasan lambat.

Gambar 2.7 Diagram fase Fe3C [ ]


Fasa-fasa yang terjadi dalam diagram kesetimbangan Fe-C selama pemanasan
yang lambat:
1)

Ferit (),
Yaitu paduan Fe dan C dengan kelarutan C maksimum 0,025% pada

temperature 7230C, struktur kristalnya BCC (Body Centered Cubic). Bersifat lunak
dan mudah berkarat darai austenit.
Ferit (),

Gambar 2.8 Ferrit. [


2)

Austenit ()
Austenite adalah paduan Fe dan C dengan kelarutan C maksimum 2% pada

temperatur 11480C, struktur kristalnya FCC (Face Centered Cubic). Austenit memiliki
sifat ketangguhan yang baik sekali dan ketahanan korosi paling baik.

Austenit
()
Gambar 2.9 Austenite [ ]

3)

Iron ()

Iron adalah padaun Fe dan C dengan kelarutan C maksimum 0.1% pada


temperatur 1493 C, struktur kristal BCC (Body Centred Cubic). Iron biasanya masih
berupa logam yang lunak dan rentan berubah fasa pada suhu kamar.

Iron ()
Gambar 2.10 Struktur Mikro Fasa Iron.[ ]
4)

Cementit (Fe3C)
Cementit dengan kandungan C maksimum 6,67%, bersifat keras dan getas.

Senyawa ini biasanya terjadi di bawah suhu austenit.

Cementit

Gambar 2.11 Cementit.[ ]


5)

Perlite
Baja eutektoid didinginkan pada tempertarur austenite (8500oC 7500oC) setelah

sampai pada temperatur 6500 C perlite akan memulai bentuk pada 1 detik dan sempurna
pada 210 detik. Perlit memiliki sifat ulet.
Cementit
Ferit
Gambar 2.12 Perlite [ ]

6)

Bainite
Bainite menggambarkan struktur mikro pada baja yang dihasilkan dari

dekomposisi austenit ke ferit dan semenit. Bainit terbentuk pada kisaran tempertaur diatas
transformasi dan dibawah pembentukan perlit.

Bainit

Gambar 2.13 Bainite [ ]


Adapun reaksi-reaksi metalurgis yang biasa terjadi berdasarkan pada diagram
Fe- Fe3C yaitu :
a.

Reaksi peritektik, terjadi pada temperatur 1495oC dimana logam cair (liquid)
dengan kandungan 0,53%C bergabung dengan delta () kandungan 0,09%C
bertransformasi menjadi austenit () dengan kandungan 0,17%C. Delta ()
adalah fasa padat pada temperatur tinggi dan kurang berarti untuk proses
perlakuan panas yang berlangsung pada temperatur yang lebih rendah.

b.

Liquid (C = 0,53%) + Delta ()(C = 0,09%)

Austenit () (C = 0,17%).

c.

Reaksi eutektik, reaksi ini terjadi pada temperatur 1148oC, dalam hal ini logam
cair dengan kandungan 4,3%C membentuk austenit () dengan 2%C dan
senyawa semenit (Fe3C) yang mengandung 6,67%C.

d.

Liquid (C=4,3%)

Austenit ()(C=2,11%) + Fe3C(C=6,67%)

Dari diagram fasa tersebut dapat diperoleh informasi-informasi penting yaitu


antara lain:
1. Fasa yang terjadi pada komposisi dan temperatur yang berbeda dengan
kondisi pendinginan lambat.
2. Temperatur pembekuan dan daerah-daerah pembekuan paduan Fe-C bila
dilakukan pendinginan lambat.
3. Temperatur cair dari masing-masing paduan.

4. Batas-batas kelarutan atau batas kesetimbangan dari unsur karbon pada fasa
tertentu.
5.

Reaksi-reaksi

metalurgis

yang

terjadi,

yaitu

reaksi

eutektik,

peritektik dan eutectoid.


2.2.5 Aplikasi pada Struktur Mikro
ANALISA PERUBAHAN STRUKTUR AKIBAT HEAT TREATMENT PADA
LOGAM ST, FC DAN NI-HARD 4
Logam ST, FC dan Ni-Hard 4 merupakan jenis baja dan besi tuang yang sering
dipergunakan untuk membuat konstruksi mesin dan peralatannya. Jenis-jenis baja dan
besi tuang ini mempunyai sifat-sifat dasar yang dikandungnya.
Besi Murni
Besi murni adalah logam dasar untuk logam paduan yang penggunaannya sangat
penting di dalam kalangan industri, sebagai contoh baja dan besi tuang. Besi dengan
harga kemurnian tinggi dapat dihasilkan dari proses elektrolisa atau melalui proses anil
(annealing process) dalam aliran zat air pada suhu 1000 1400 0 C.
Besi Karbon
Zat karbon adalah unsur paduan besi yang sangat penting. Dengan kandungan zat
karbon yang relative masih rendah, karakter dan sifat besi dapat

berubah. Bila suatu

logam besi mengandung 0% - 2% unsur karbon dinamakan baja sedangkan logam besi
yang mengandung lebih dari 2% karbon dinamakan besi tuang.
Ni - Fe
Apabila diperhatikan dalam diagram fasa antara besi dan nikel, maka dapat
disimpulkan bahwa nikel dapat memperluas daerah Fe-, yaitumirip dengan mangan.

Gambar 2.14 Logam ST Sebelum di Heat Treatment [ ]

2.3

METODOLOGI PENGUJIAN

2.3.1

Diagram Alir Pengujian

Mulai

Menyiapkan peralatanan material uji (spesimen)

Mengamplas permukaan spesimen


Permukaan spesimen rata dan goresan
berkurang ?

Tidak

Ya
Polishing permukaan spesimen

Tidak
Tidak ada goresan?
Ya
Etching (pengetsaan)

Pemotretan

Selesai
Gambar 2.15 Diagram Alir Metode Pengujian Mikrografi.[ ]

2.3.2

Alat dan Bahan Pengujian

2.3.2.1 Alat
Berikut adalah alat alat yang digunakan dalam proses pengujan mikrografi :
1.

Grinder
Grinder berfungsi untuk meratakan dan menghaluskan spesimen.

Gambar 2.16 Grinder. [ ]


2.

Amplas
Amplas merupakan kertas kasar yang dari silika yang berfungsi untuk

menghaluskan permukaan spesimen.

Gambar 2.17 Amplas. [ ]


3.

Polisher
Polisher

berfungsi

untuk

mengkilapkan

spesimen

ketika

selesai

diamplas,namun sebelumnya di oleskan autosol. Polisher yang digunakan saat


praktikum mikrografi adalah kain beludru.

Gambar 2.18 Kain Beludru. [ ]

4.

Mikroskop
Mikroskop berfungsi untuk mengamati spesimen secara mikro dengan

perbesaran yang bervariasi.

Gambar 2.19 Mikroskop. [ ]


5.

Pinset
Pinset untuk memegang spesimen karen berbahaya memegan langsung

spesimen saat dilakukan proses etching..

Gambar 2.20 Pinset. [ ]


6.

Gelas Kimia
Gelas kimia sebagai tempat pencampuran reaktan yaitu antara methanol

dengan HNO3 yang digunkan saat etching.

Gambar 2.21 Gelas Kimia. [ ]

7.

Gelas Ukur
Gelas ukur sebagai tempat untuk mengukur banyaknya reaktan yang
diperlukan.

Gambar 2.22 Gelas Ukur. [ ]


8.

Pipet
Pipet adalah alat untuk mengambil HNO3 dan methanol karna berbahaya

mengambil dengan tangan kosong.

Gambar 2.23 Pipet. [ ]


9.

Tisu
Tisu untuk mengeringkan spesimen dari air.

Gambar 2.24 Tisu. [ ]


10.

Kamera
Kamera digunakan untuk mendokumentasikan struktur mikro ketika sudah di

lihat dengan mikroskop.

Gambar 2.25 Kamera. [ ]


2.3.2.2 Bahan
Berikut adalah Bahan-bahan yang digunakan dalam proses pengujan mikrografi:
1.

Material Uji
Material yang digunakan untuk Praktikum Uji Mikrografi kali ini adalah Baja

ST 60 dan Baja ST 40

(a
)

(b)
Gambar 2.26 (a) Baja ST 40 (b) Baja ST 60. [ ]

Baja ST 40 memiliki sifat mekanik antara lain :


a. Kekuatan tarik 42 50 kgf/ mm2
b. Perpanjangan minimal 20 % dari panjang semula
c. Kandungan karbon 0,25 %
d. Yield Strength minimal 23 kgf/ mm2
e. Ultimate Strength 25 %
f. Kekerasan yang diperoleh dengan metode Brinell 129 140 kgf/ mm2
Sedangkan, baja ST 60 memiliki sifat mekanik sebagai berikut:
a. Tegangan Luluh 1100 Mpa
b. Kekuatan Tarik 1174 Mpa
c. Perpanjangan (e). 13 %
d. Area Reduksi (A) 53,8 %
e. Memiliki kekuatan tarik sebesar 60 kgf/mm.

f. Kandungan karbon dalam kategori sedang antara 0,25% < C < 0,55%.
g. Memiliki nilai kekerasan antara 170-195 (kgf / mm).
h. ST-60 memiliki nilai kekerasan yang lebih tinggi daripada ST-40.
2.

Autosol
Autosol berfungsi untuk mengkilapkan permukaan spesimen.

Gambar 2.27 Autosol. [ ]


3.

Reaktan Untuk Etza (HNO3 dan methanol)


Reaktan berfungsi sebagai etza pada proses pengetzaan. Reaktan yang

digunakan saat praktikum mikrografi yaitu HNO3 1 ml dan methanol 10 ml.

(a)

(b)

Gambar 2.28 Reaktan Etza (a) Methanol (b) HNO3 [ ]


2.3.3 Langkah Pengujian
Berikut merupakan langkah-langkah yang dilakukan untuk pengujian mikrografi :
1.

Siapkan material yang akan dilihat struktur mikronya, dan peralatan yang
akan digunakan, material yang digunakan berupa baja ST-60 dan baja ST 40.

2.

Pasang amplas pada mesin pemolis, dimulai dari amplas yang paling
kasar.Pengamplasan dilakukan dalam keadaan basah untuk menghilangkan panas
dan pengotor dari benda uji.

3.

Setelah cukup rata, maka ganti amplas dengan amplas yang agak halus yaitu
amplas nomor 800, kemudian amplas nomor 1200, dan yang terakhir menggunakan

amplas yang paling halus yaitu nomor 2000. Kemudian polis dengan menggunakan
autosol.
4. Sebelum melakukan pengetzaan, permukaan benda uji harus sudah halus dan
datar.Pengetzaan dilakukan dengan mencelupkan material ke dalam reaktan
selama 5 detik. Reaktan terdiri dari methanol sebanyak 10 mL dan dicampur
dengan HNO3 sebanyak 1 ml.
5.

Cuci benda uji yang telah dietsa dengan aquades kemudian keringkan
sebelum diamati pada mikroskop.

6.

Potret

gambar

apabila

gambar

yang

diperoleh

tampak

jelas

sesuai

dengan pembesaran pada mikroskop.


2.4

HASIL DAN PEMBAHASAN

2.4.1

Hasil Pengujian
Pada pengujian kali ini digunakan dua bahan yaitu baja ST 40 dan baja ST 60,

berikut data hasil pengujian :


2.4.1.1 Baja ST 40
Gambar dibawah ini adalah gambar struktur mikro baja ST 40 dengan
perbesaran 100x dan 200x.

(a)

(b)

Gambar 2.29 Struktur Mikro Baja ST 40 (a) Perbesaran 100x (b) Perbesaran 200x [ ]

Pada Gambar 2.29 diatas dapat kita lihat terdapat dua fasa pada struktur mikro

baja ST 40, yaitu fasa ferrit dan fasa perlite. Fasa ferrit ditandai dengan bagian yang
terang atau cerah sedangkan fasa perlite ditandai dengan bagian yang gelap. Ferit yang
ada pada baja ST-40 lebih banyak daripada jumlah perlite baja ST-40.
2.4.1.2 Baja ST 60
Gambar ini adalah gambar struktur mikro baja ST 60 dengan perbesaran 100x
dan 200x.

(a)

(b)

Gambar 2.30 Struktur Mikro Baja ST 60 (a) Perbesaran 100x (b) Perbesaran 200x [ ]
Pada Gambar 2.30 diatas dapat kita lihat terdapat dua fasa pada struktur mikro
baja ST 60, yaitu fasa ferrit dan fasa perlite. Fasa ferrit ditandai dengan bagian yang
terang atau cerah sedangkan fasa perlite ditandai dengan bagian yang gelap. Perlite yang
ada pada baja ST-60 lebih banyak daripada jumlah ferrit baja ST-40
2.4.2 Analisa Hasil Pengujian
2.4.2.1 Baja ST 40
Gambar dibawah ini adalah baja ST 40 dengan perbesaran mikroskop 200x.
Berdasarkan gambar dapat ditarik beberapa analisa yaitu
Ferrit

Gambar 2.31 Struktur


Dengan Perbesaran 200x [ ]

Perlit
Mikro Baja ST 40 Hasil Praktikum

Pada Gambar 2.31 ditunjukkan struktur mikro untuk baja ST 40. Fasa yang
terdapat pada baja ST 40 terdiri dari ferit (berwarna terang) dan pearlit (berwarna
gelap). Pada baja ST 40, fasa ferit lebih banyak dibandingkan fasa perlite. Fasa ferit
mempunyai sifat lunak, ulet, dan cenderung mudah berkarat.
Berdasarkan pengujian mikrografi yang telah dilakukan, maka hasil yang
diperoleh sesuai dengan teori yang ada yaitu banyak jumlah ferrit menunjukkan bahwa
logam ini termasuk baja karbon rendah dengan kandungan karbon yang relatif rendah
yaitu 0,25 %, . Kandungan karbon yang rendah pada baja ST 40 menjadikan sifat
material tersebut lunak karena nilai kekerasan yang diperoleh dengan metode Brinell
hanya 129 140 kgf/mm2.
2.4.2.2 Baja ST 60
Gambar dibawah ini adalah baja ST 60 dengan perbesaran mikroskop 200x.
Berdasarkan gambar dapat ditarik beberapa analisa yaitu

Ferrit
Perlit

Gambar 2.32 Struktur Mikro Baja ST 60 Hasil Praktikum Dengan Perbesaran 200x [
]
Pada Gambar 2.32 ditunjukkan struktur mikro untuk baja ST 60. Fasa yang
terdapat pada baja ST 60 terdiri dari ferit (berwarna terang) dan pearlit (berwarna
gelap). Pada baja ST 60, fasa ferit lebih sedikit dibandingkan fasa perlite. Fasa perlite
mempunyai sifat keras dan tidak mudah berkarat.
Berdasarkan pengujian mikrografi yang telah dilakukan, maka hasil yang
diperoleh sesuai dengan teori yang ada yaitu banyak jumlah perlite menunjukkan bahwa
logam ini termasuk baja karbon sedang dengan kandungan karbon sedang yaitu antara
0,25% < C < 0,55%. Kandungan karbon yang sedang pada baja ST 60 menjadikan sifat
material tersebut keras, dengan nilai kekerasan antara 170-195 (kgf / mm).

2.5

PENUTUP
Dari praktikum Struktur dan Sifat Material di Laboratorium Metalurgi

Fisik Universtas Diponegoro 2016 dapat di ambil kesimpulan dan beberapa saran.
2.5.1 Kesimpulan
1.

Struktur mikro pada spesimen tediri dari perlit (berwarna gelap) dan ferit
(berwarna terang).

2.

Pada

baja

ST

40

fasa

ferrit

lebih

mendominasi

dibanding

fasa

perlitenya.
3.

Pada baja ST 60 fasa perlite lebih mendominasi dibandin fasa ferritnya

4.

Sedikit jumlah pearlite menunjukkan baja ST 40 termasuk baja karbon rendah


dengan kandungan karbon yang relatif rendah yaitu 0,25 %.

Sehingga

menjadikan sifat baja ST 40 tersebut lunak, dengan nilai kekerasan 129 140
kgf/mm2.
5.

Banyaknya fasa perlit menandakan bahwa baja ST 60 termasuk baja karbon


sedang dengan kandungan karbon antara 0,25% < C < 0,55%. Sehingga
menjadikan sifat material tersebut keras, dengan nilai kekerasan antara 170-195
(kgf / mm).

2.5.2 Saran
1.
Pembaharuan pada peralatan praktikum sangat diperlukan, agar peralatan uji
benar-benar memilliki ketelitian yang baik sehingga hasil pengujian akurat.
Lab yang lebih luas akan memberikan kenyamanan dalam melakukan kegiatan

2.

praktikum.
3. Format laporan praktikum yang sama pada setiap pos pengujian sangat di
perlukan, agar tiap pos pengujian tidak memiliki perbedaaan dalam format
laporan praktikum.
4. Kegiatan praktikum yang menyenangkan memudahkan praktikan untuk
memahami materi praktikum yang diujikan.
5.

6. DAFTAR PUSTAKA
7.
8. 1. ASM Metals Handbook Volume 9 - Metallography and Microstructure, 2004
9. 2.

Job

Sheet

Praktikum

Struktur

Dan

Sifat

Material

Laboratorium

metalurgi Fisik,2015.
10. 3.

http://cepiar.wordpress.com/2007/11/14/prosedur-percobaan-praktikum-

metalografi/ (diakses pada tangga 23 November 2015 )


11. 4.

http://mantantukanginsinyur.blogspot.com/2010/07/diagram-

kesetimbangan-fe- fe3c.html (diakses padatanggal 23 November 2015)


12. 5. Parikin,dkk,.Studi Strukturmikro dan Kekerasan Baja Assab
Anealling.Tanggerang.2004.
13.

Corrax

14.
15.
16.
17.
18.

19.
20.

21.
22.

23.

24.

25.
26.

27.
28.
29.

30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.