Anda di halaman 1dari 43

DAFTAR ISI

1. Cover.
1
2. Daftar isi
2
3. Biodata
Soejoedi 3
4. Beraga
Permai.. 5
5. Gedung
MPR/DPR
RI 6
6. Kedutaan
Besar
Prancis 14
7. Duta Merlin.
15
8. Kantor
Pabrik
Farmasi
di
Jakarta
Timur
17
9. Pusat
Grafika
Indonesia...
18
10. KBRI
di
Kuala
Lumpur
19
11. Bank
Ekspor
Impor,
Pematang
Siantar..
21
12. Sekretariat
Asean...
22
13. Gubahan
Massa
di
Sekitar
Perpotongan
Jalan..
23
14. KBRI
di
Beograd....
24
15. Departemen
Perhubungan.
25
16. Bank
Ekspor
Impor,
Balikpapan 26
17. Daftar
Pustaka.... 27

BIODATA SOEJOEDI
Soejoedi lahir di Rembang, Jawa Tengah, tanggal 27 Desember 1928. Pendiam
dan senang menggambar sejak kecil, Soejoedi tidak banyak bergaul dengan
teman sebaya. Kegemarannya hanya memperlihatkan lingkung sekitar, apalagi
manakala diajak jalan-jalan. Obyek pilihannya tidak bayak, hanya bangunan
gedung dan pesawat terbang. Kedua orang tuanya mengenali kegemaran maupun
kebiasaan tersebut dan sudah memperkirakan bahwa Soejoedi kelak akan
menjadi seseorang yang dihormati dalam bidang yang berkaitan dengan gambarmenggmbar.
Seperti remaja seusianya ketika itu dia terpanggil untuk mempertahankan
proklamasi melalu perjuangan bersenjata. Sementara itu masa perjuangan itu
jugalah yang memperkenalkannya kepada Hadimah, yang kelak menjadi istrinya
saat menempuh studi di Berlin Barat. Setelah pengakuan kedaulatan pada tahun
1947, Soejoedi menyelesaikan pendidikan menengah umum lebih dulu kemudian
mendaftarkan diri di Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik
Bandung. Mula-mula di bagian mesin, setelah itu pindah ke bagian Arsitektur
pada tahun 1951.
Pada tahun 1954 Soejoedi menerima beasiswa dari Pemerintah Prancis untuk
meneruskan studi LEcle des Beaux-Arts, Paris. Diawal abad ke-20 kurikulum
jurusan Arsitektur mengalami perubahan karena harus bersaing dengan program
pendidikan dan kurikulum lembaga pendidikan lain yang lebih liberal, seperti
LEcle Polytechnique dan Bauhaus. Soejoedi dengan demikian harus mengikuti
kurikulum LEcle des Beaux-Arts abad ke-20. Tampaknya program yang di
laluinya di Bandung tidak diakui sehingga dia diperlakukan sebagai mahasiswa
baru.
Belum lagi gaya hidup di Prancis yang bertolak-belakang dari sifat Soejoedi
yang pendiam dan santun, iklim empat musim yang berat bagi tubuhnya yag
sudah tidak terlalu sehat. Soejoedi pernah mencoba kemungkinan untuk pindah
ke Inggris, mengikuti beberapa temannya sesama mantan Tentara Pelajar. Negara

itu pun tampaknya kurang cocok bagi pribadinya sehingga urung menjadi pilihan
tempat studi yang baru. Justru berita mengenai para mahasiswa Indonesia di
Belanda lebih menarik perhatiannya. Di Technische Hoogeschool, Delft, terdapat
mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan dalam bidang Arsitektur.
Soejoedi beruntung karena hasil karyanya selama mengikuti pendidikan di Bagian
Arsitektur Technische Hoogeschool Bandung yang kemudian berubah menjadi
Jurusan Arsitektur Fakultas Ilmu Pengetahuan Teknik Universitas Indonesia, diakui.
Soejoedi pernah diangkat menjadi anggota klub De Stilj-muda berkat
kemahirannya mengolah komposisi bidang dalam tugas-tugas perancagan di
Technische Hoogeschool, Delft. Kemahiran itulah yang kelak dipertunjukkan saat
berpraktek di Indonesia.
Setelah itu Soejoedi mendaftarkan diri di Technische Univesitt, Berlin Barat,
pada tahun 1958. Kepindahan dari Belada ke Jerman itu dilakukan juga oleh
beberapa mahasiswa lainnya sebagai dampak dari langkah nasionalisasi yang
diambil Pemerintah Republik Indonesia terhadap perusahaan asing yang
beroperasi di Indonesia.
Soejoedi lulus pada tahun 1960 dengan predikat tertinggi yang untuk pertama
kalinya diberikan oleh Technische Univesitt, Berlin Barat sesudah Perang dunia II.
Ketika itu kesehatan Soejoedi sudah menurun dan tidak pernah kembali
sesudahnya, sementara obsesinya untuk mengubah wacana Arsitektur di
Indonesia ke arah yang lebih modern, yang menampilkan a good design
sebagaimana dipertanyakan ketika menempuh studi di Belanda dan seperti yang
dilakukan oleh para tokoh Arsitek Eropa pasca-Perang Dunia II, semakin kuat.
Soejoedi kembali ke Indonesia pada tahun 1961 untuk menggantikan Profesor
Insyinyur Van Rammondt menjadi ketua Jurusan Arsitektur di Institut Teknologi
Bandung pada tahun 1961.
Selaku ketua Bagian Arsitektur yang baru, Soejoedi harus mengurusi para
mahasiswa abadi, yaitu yang sudah melewati masa studi yang normal namun
belum juga menyelesaikannya. Untuk mereka, Soejoedi menyediakan waktu
asistensi di rumah kediamannya setelah jam kerja, seringkali sampai larut malam.
Banyak yang dilakukan oleh Soejoedi setelah menjadi ketua Bagian arsitek di
Institut Teknologi Bandung terhadap para mahasiswanya, antara lain, mengubah
kurikulum pendidikan di Jurusan Arsitektur. Soejodi juga memperkenalkan jenis
baru pelatihan keterampilan, yaitu yang kemudian disebut hari sketsa. Dalam
pelatihan tersebut para mahasiswa diberi soal perancangan yang harus
diselesaikan dalam waktu beberapa jam saja. Selain itu, Soejoedi juga melakukan
perubahan dalam pola-pikir mahasiswa yang bertitik-tolak dari konstruksi sebagai
kriteria utama perancangan sehingga amat membatasi krativitas menjadi bertitiktolak gubahan ruang. Akhirnya para mahasiswa terbebaskan dari kendala
konstruksi bangunan.
3
Setelah berada di bandung, Soejoedi ditunjuk sebagai ketua tim di berbagai
proyek, antara lain sebagai Ketua Tim Desain Paviliun Indonesia untuk New York
World Fair pada tahun 1962. Namun Soejoedi akhirnya mengundurkan diri tanpa
alasan yang jelas. Selain itu menjadi Ketua Lembaga Campus Planning

Departemen PTIP pada tahun 1963. Jabatan itu dimanfaatkannya dengan optimal
untuk membina pendidikan bidang Arsitektur di Indonesia.
untuk menambah penghasilannya sehari-hari Soejoedi bergabung dengan biro
arsitek Estetika dan mengepalai kantor cabang Bandung yang terletak di garasi
rumah dinas kediamannya. Selain berbagai jabatan di atas Soejoedi juga diangkat
menjadi staf ahli bidang Arsitektur Menteri PUTL, dengan tempat kerja di salah
satu kamar kediaman pribadi Menteri PUTL. Disitulah Soejoedi mengerjakan dan
memenangkan sayembara proyek Canefo yang kemudian mengangkat dirinya
sebagai salah satu eskponen dalam wacana arsitektur Indonesia Modern. Selain
itu Seojoedi juga diangkay sebagai Ketua Nasional Design Centre Paviliun
Indonesia untuk Expo 70 di Osaka, Jepang.
Soejoedi di bandung akhirnya lebih banyak terlibat dalam penanganan proyek
ketimbang program administrasi pendidikan Jurusan Arsitektur Institut Teknologi
Bandung. Dengan intensitas dan volume kegiatan seperti itu kesehatan
jasmaninya semakin terganggu sehingga diet dan periode istirahat di rumah sakit
menjadi bagian dari jadwal kehidupannya sampai saat memasuki peroide istirahat
total di Magelang pada tahun 1981.

Soejoedi di Berlin

Braga Permai
Kafe-Restoran Braga Permai merupakan karya awal Soejoedi semas menjabat
sebagai Ketua Jurusan Arsitektur di ITB. Pada mulanya Braga Permai adalah
sebuahKafe-Restoran yang pada mulanya mula bernama Maison Bogerijen. KafeRestoran ini dibangun pada 1923 yang bergaya vila eropa yang desain
keseluruhannya mengingatkan pada prinsip perancangan urban yang dipelopori
arsitektur Baroque.
Setelah Berganti Pemilik, Maison Bogorijen diubah namanya menjadi Braga
Permai dan pembangunan renovasinya diserahkan pada Soejoedi dan rekanrekannya. Diproyek ini berbagai pengalaman semasa studi soejoedi di eropa
diterapkan. Pertama, posisi massa bangunan diperthanakan karena ruang luar
yang yang dihasilkan cocok dengan prinsip penataan lingkung-urban. Lalu fungsi
ruang luar juga dipertahankan karena cocok dengan fungsi outdor cafe, dan msih
banyak lagi perubahan yang mengacu pada gaya-gaya modern. Teknik
pengolahan tersebut langsung mengingatkan pada berbagai gubahan massa hasil
garapan para arsitek pelopor Arsitektur Modern di Eropa.
Braga Permai ini juga terdiri dari 2 lantai, pada bagian dasar dibagi menjadi 2
fungsi, yaitu kafe dan tempat etalase roti. Untuk pertama kalinya wacana
arsitektur Indonesia berkenalan dengan teknik pengolahan gedung sebagai
volume, bukan tumpukan lantai atau unit-unit massa mewakili fungsi berbeda.
Dengan demikian, diawala kiprahnya di Indonesia, Soejoedi sudah
memperkenalkan isu baru yang kelak menjadi bagian dalam wacana
perkembangan Arsitektur Indonesia. Jadi dengan kata lain, sejak awal kiprahnya di
Indonesia, Soejoedi sudah menerapkan program perancangan Arsitektur
International Style

Gedung MPR/DPR RI
Proyek ini dikerjakan pada tahun 1964-1983, yang awalnya sebuah tempat
penyelenggaraan pertemuan politik (political venues) berskala Internasional bagi
negara-negara yang oleh presiden Soekarno dikategorikan sebagai new emerging
forces. Latar belakang di bangunnya gedung ini karena negara Indonesia belum
memiliki gedung pertemuan (political venues) selain yang terletak di Bandung,
yaitu gedung Societeit namun presiden Soekarno tidak akan memakainya lagi
karena selain tidak terletak di Jakarta, gedung itu dinilai kurang representatif
olehnya. Maka dari itusekitar bulan November 1964 diperintahkan kepada menteri
PUTL untuk menyelenggarakan sayembara perancangan political venues tadi,
yang disebut Conference of the New Emerging Forces(Canefo). Lokasinya
berdampingan dengan Gelanggang Olahraga Senayan, ke arah Barat. Menteri
PUTL memerintahkan Soejoedi selaku staf ahli bidang Arsitektur di Departemen
PUTL untuk mengikutinya juga yang dibantu oleh mahasiswa yang baru saja lulus
dari Jurusan Arsitektur, Institut Teknologi Bandung.
Secara garis besarnya, kerangka acuan kerja sayembara proyrk Canefo
tersebut untuk membuat rancangan sebuah ...political venues di Jakarta yang
sesuai dengan kepribadian Indonesia. Soejoedi mempertimbangkan beberpa
contoh proyek political venues, seperti sayembara league of Nations di kota Swiss
(1927); sayembara Palace of the Soviets di kota Moskow, Uni Soviet (1931) dan
Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa di kota New York, Amerika Serikat
(1950). Le Corbusier memasukkan rancangannya diketiga proyek tersebut yang
pasti memiliki karakteristik. Dalam sayembara perancangan proyek Canefo,
Soejoedi mrngikuti pola pemikiran yang diterapkan oleh Le Corbusier. Dia
mewadahi kegiatan di kompleks political venues tersebut dalam massa bangunan
yang berbeda. Mula-mula formasinya mirip seperti Markas Besar PBB. Massa
bangunan untuk kegiatan sekretariat diletakkan di sampingnya. Dalam diskusi
bersama anggota tim perancangannya terlontar pandangan persidangan, padahal
semua keputusan penting yang diambil bangsa-bangsa di dunia justru dilakukan
di gedung persidangan.setelah itu Soejoedi segera mengubah formasi gubahan
masuk bangunannya. Massa bangunan untuk kegiatan persidangan diletakkan

frontal menghadap ke jalamn masuk sementara kegiatan sekretariat diletakkan di


sampingnya. Adapun massa bangunan untuk perjamuan diletakkan dalam posisi
linier terhadap massa bangunan sekretariat, sedangkan massa bangunan
auditorium diletakkan tegak lurus terhadapnya.
Seiring waktu, batas penyerahan karya sayembara sudah semakin dekat
padahal wujud massa-massa bangunannya masih dalam tahap awal. Massa
bangunan untuk persidangan direncanakan berwujud-dasar lingkaran dan beratap
kubah sempurna, kurang-lebih seperti gedung persidangan di Kompleks Parlemen
Brasilia. Massa-massa bangunan lainnya masih berwujud kotak empat persegi
panjang yang kemudian diletakkan di atas sebuah podium yang menghubungkan
massa-massa itu satu sama lain sehingga komunikasi di antarnya wujud dengan
karakteristik seperti massa bangunan sekolah Bauhaus di Dessau, yaitu asimetrik
ditinjau dari sudut pandang manapun sehingga dengan demikian mencerminkan
haluan modern yang sejak awal dipanuti Soejoedi.
Peserta sayembara telah diperingatkan oleh pihak penyelenggara bahwa
wujud atap kubah akan menimbulkan masalah serius menyangkut perataan
penyaluran beban vertikal ke tiang-tiang penopangnya. Apabila salah satu saja
dari penopang tersebut melorot, maka akan timbul akibat berantai sehingga
seluruh kubah akan mengalami keretakan. Selain itu deretan tiang itu juga akan
mengganggu pemandangan eksterior maupun interior bangunan. Peringatan
tersebut mendorong Soejoedi untuk mencari pilihan lain padahal waktu
penyerahan karya rancangan semakin dekat dan gambar-gambar dan maketnya
sudah hampir selesai. Kecuali atap kubah di massa bangunan persidangan.
Dengan keterbatasan bahan yang tersedia di Indonesia, Soejodi melunakkan
lembaran plastik tebal di antara dua kuali penggorengan serabi yang diisi air
panas, supaya wujudnya mengikuti permukaan kuali yang merepresentasikan
sebuah kubah. Akan tetapi hasilnya selalu gagal karena terjadi keriputan pada
bagian tengah, di tengah keputus-asaan Soejodi, lulusan muda Jurusan Arsitektur
Institut Teknologi Bandung yang membantu Soejodi memotong model kubah
tersebut dibagian tengah menjadi dua sama-sebangun supaya ketika disatukan
kembali menyamarkan keriput pada bagian tengahnya.

Diluar dugaan, dari situlah gagasan Soejodi muncul untuk mengatasi


peringatan dari juri dan mengatasi kesulitan membuat kubah maket dengan
mengubah bentuk atap bangunan gedung persidangan yang sama sekali baru5,
yaitu mengangkat tepian kedua keping itu sehingga sisi terpotongnya bertemu di
satu titik. Soetami berpendapat bahwa penggabungan tersebut pasti bisa
dilaksanakan karena sudah ada contoh nyatanya, yaitu prinsip penggabungan
sayap pesawat terbang ke badannya. Namun struktur busur dengan satu titik
temu seperti itu harus menghujam ke bawah permukaan tanah supaya bebannya
tersalurkan merata. Demikianlah, semua persoalan terselesaikan dan gambargambar rancangan serta maket komplek political venues karya Soejodi diserahkan
tepat waktu kepada panitia penyelenggara

Dlam waktu dua minggu tim juri dibawah pmpinan Presiden Soekarno
memutuskan bahwa pemenang saye,bara political venues ini adalah karya
Soejodi. Tidak ada catatan mengenai hasil sidang tim juri tersebut, sehingga tidak
tahu alasan karya Soejodi menjadi pemenangnya. Diduga karya Soejoedi unggul
di strategi perancangan yang meletakkan fungsi utama dalam massa bangunan
yang berbeda sehingga pelaksanaanya kelak dapat dkerjakan oleh beberapa
kontraktor secara bersamaan, dan Soejodi satu-satunya peserta yang
menyertakan maket karya rancangannya yang memuahkan tim juri dalam
memahami dan memberi nilai. Setelah itu presiden Soekarno memerintahkan
pembentukan komando pembangunan projek Conefo (Koppronef) untuk
mewujudkan karya pemenang sayembara tersebut dan menyelesaikannya dalam
waktu sekitar 17 bulan, sebelum tanggal 17 Agustus 1966,
Soejodi diangkat sebagai Ketua Tim Perencanaan dan Pengawasan Teknik di
dalam organisasi Koppronef dan bekerja sama dengan Tim Keuangan dan
Pembiayaan, Tim Logistik, dan Tim Pelaksanaan. Pemancangan tiang pertama
dilaksanakan pada tanggal 19 April 1965 dan bersamaan dengan itu Soejoedi
menyempurnakan rancangannya menjadi program perancangan arsitektur
Internasional Style sepenuhnya. Tampilan struktur utma gedung persidangan
sudah terlihat menghujam ke bawah permukaan tanah menembusi podium yang
melandasinya. Hubungan serasi antara struktur utama tersebut dan dua keping
kubahnya juga berhasil dicapai sedangkan hubungan dengan tangga monumental

tampak terjalin dengan selaras membentuk poros utama menuju ke jalan raya.
Untuk memperkuat poros tersebut dibuat lubang besar berwujud 4 persegi
panjang yang selaras, ditambah sebuah tugu yang menjulang dari lantai basemen
lubang tadi. Dilantai tersebut, di sekeliling lubangnya, ditempatkan toko-toko dan
berbagai fasilitas penunjang bagi kegiatan pertemuan politik berskala
Internasional. Sementara sebagai pengapit poros tadi diletakkan barisan tiang
untuk mengibarkan bendera negara-negara yang bergabung dalam New
Emerging Forces
7

di satu sisi, sedangkan di sisi lainnya terdapat massa bangunan untuk kegiatan
sekretariat dan perjamuan dalam posisi berbaris-linier, berdiri di atas podium
yang berkesinambungan dengan podium gedung persidangan. Atap bangunanbangunan gedung tersebut berkonstruksi kantilever sejauh 5 sampai 7,5 meter
dari dinding atau tiang-tiangnya sehingga menghasilkan bayangan yang terasa
menyejukkan untuk menyesuaikan iklim di Indonesia.

Soejoedi menjelaskan bahwa gedung perjamuan dibuat memanjang tagaklurus jalan raya sebagai pengarah, sedangkan gedung sekretariat sedikit ditekuk
supaya menghasilkan ruang luar positif bersama dengan tugu yang menjulang
dari lantai basement di lubang memanjang tempat berkumpulnya fasilitas
pendukung komplek Conefo ini. Keberadaan tiga obyek tersebut vital karena
merupakan pengantar bagi siapapun untuk menuju ke gedung persidangan dan
memasuki gedung-gedung lainnya tanpa harus keluar bangunan. Tekukan di
Gedung sekretariat itu mengingatkan pada massa bangunan apartemen karya
Walter Gropius di Interbau, Berlin Barat, karena tujuannya sama, yaitu ingin
membentuk ruang luar positif. Adapun selubung bidang di massa gedung
sekretariat mengingatkan pada keyakinan Soejoedi bahwa sebuah kubus dapat
menjadi sejenis naungan dengan jalan menghilangkan dua sisi permukaan frontal
yang saling berhadapan sedangkan penyayatannya menjadi dua selubung paralel
sudah pasti merupakan penerapan dari pengalamannya semasa bekerja di Biro
Arsitek Heintrich & Petschning, Berlin Barat. Awalnya kedua sisi frontal gedung

Sekretariat itu akan ditutupi unit penangkis sinar matahari yang dipasang dalam
posisi horizontal, seperti biasa dilakukan di bangunan gedung yang
merepresentasikan Internasional Style
pada umumnya, karena tekukan
permukaan kaca di sisi tersebut ternyata menghasilkan efek kedalaman yang
memperkuat peran gedung sekretariat sebagai pembentuk ruang luar positif.
Tugas Soejodi unuk mengkoordinasikan rancangan tiap massa bangunan
kepada tim lain dalam organisasi Koppronef banyak menyita waktu, sehingga
sebagian besar detail perancangan bangunan-bangunan gedung proyek Conefo
diserahkan kepada para wakil dan asisten, demikian pula perancangan lanskap
dan tapaknya. Sebab itu hasil akhir perancangan secara keseluruhan memang
tidak optimal dan beberpa diantaranya merupakan adaptasi dari karya arsitektur
yang sudah terbangun di Indonesia. Contohnya, atap gedung perjamuan
merupakan adaptasi atap gedung masjid Slaman di depan Kampus Institut
Teknologi Bandung karya Ahmad Noeman. Sementara atap gedung auditorium
merupakan hasil pemikiran rekan Tim perencanaan dan Pengawasn Teknik, yang
begitu saja disetujui karena Soejoedi sudah tidak sempat lagi mengerjakannya
sendiri.
Soejoedi percaya bahwa prinsip naungan terjadi di arsitektur vernakular
Indonesia dapat ditafsirkan dalam konteks modern melalui wujud-wujud
geometrik murni yang pilihan nya adalah wujud kubus, wujud cangkang juga
dapat diterapkan untuk penafsiran modern tersebut, sebagaimana diterapkan
dalam perancangan gedung persidangan proyek Conefo yang merupakan solusi
terbaik untuk menampung banyaknya orang di dalam sebuah ruangan bebas
tiang.
Melalui
permukaan
atapnya
yang
cembung
Soejoedi
ingin
merepresentasikan sebuah naungan,
8
sedangkan bidang kacanya merepresentasikan sebuah batas. Selain itu, bidang
kaca yang tembus pandang tersebut juga dimaksudkan untuk merepresentasikan
sesuatu yang tak terbatas. Itulah manifestasi modern atas konsep jagad cilik dan
jagas gede dalam pandangan masyarakat Jawa yang amat dikagminya, itu juga
ditujukan untuk menciptakan ventilasi silang bagi ruangan persidangan di
bangunan gedung tersebut. Di sisi lain, gedung sekretariat merupakan hasil
sebuah proses pengembangan inti program perancangan arsitektur Soejoedi.
Dorongan estetikanya adalah sebuah wujud kubus yang terangkat dari permukaan
podium,
kemudian
dua
sisi
bidang
frontalnya
dihilangkan
untuk
menampilkanekspresi selubung bidang yang analog dengan sebuah naungan
sebagaimana dilakukan oleh Ralph Erskine dalam rancangan rumah tinggal
pribadinya. Selubung tersebut kemudian disayat memanjang, lalu diberi jarak
untuk menghasilkan dua selubung bidang yang lebih tipis, setelah itu digeser dan
dibedakan besarannya untuk menghasilkan sebuah komposisi dua selubung
bidang paralel mengikuti teknik yang diterapkan oleh Biro Arsitek Heintrivh &
Petschning di Berlin Barat. Setelah itu komposisi tadi ditekuk untuk menghasilkan
ruang luaar positif seperti rancangan apartemen karya Walter Gropius di Interbau,
Berlin Barat.

Soejoedi tidak menghadapi kesulitan untuk menggabungkan teknik-teknik


perancangan yang sudah dipraktekkan oleh beberapa arsitek, karena soejoedi
telah mempelajari dan memahaminya dengan benar. Gedung perjamuan
memperlihatkan dorongan estetika Soejoedi yang terarah ke wujud kubus yang
terangkat dari permukaan tanah, sekaligus keterarahannya kepada program
perancangan arsitektur Internasional Style. Lantai atas gedung tersebut menjorok
sejauh dua meter dengan menerapkan konstruksi kantilever sehingga benarbenar terasa seakan melayang di atas permuakaan tanah. Ragam-hiasnya bukan
merupakan bagian dari bangunan gedung, melainkan ditempelkan. Oleh karena
itu Soejoedi mengawasi dengan ketat pemasangannya di komplek Conefo agar
semuanya dilakukan dengan prinsip yang sama, yaitu sebagai benda yang
ditempelkan ke salah satu komponen bangunan gedung.
Ketika terjadi upaya penggantian pemerintahan secara paksa pada tanggal 30
September 1966, proyek Conefo tidak sempat diselesaikan sesuai komando
Presiden Soekarno dan tidak dilanjutkan lagi karena situasi di Indonesia setelah
itu menjadi tidak menentu. Akhirnya, pada tanggal 9 November 1966, Presidium
Kabinet Ampera memutuskan untuk melanjutkan pembangunan proyek Conefo
untuk dipakai sebagai tempat kerja dan persidangan dua lembaga tertinggi
negara waktu itu, yaitu Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia. Organisasi Koppronef dibubarkan,
digantikan oleh organisasi baru yang disebut Proyek Pembangunan Gedung
MPR/DPR. Soejoedi diangkat sebelum Proyek Pembangunan Gedung MPR/DPR itu
rampung seluruhnya. Jadi, saat ini bangunan-bangunan gedung tersebut diberi
nama baru. Gedung persidangan disebut Nusantara, gedung secretariat menjadi
Nusantara III, gedung pusat pers menjadi Nusantara II, gedung perjamuan kini
disebut Nusantara IV sedangkan gedung auditorium sekarang menjadi Nusantara
V. Itulah buah tangan Soejoedi. Yang lainnya bukan.

10

11

12

Tidak sama, tidak pula serupa


Terdapat pandangan yang menilai gedung Paripurna di komplek MPR/DPR RI
karya Soejoedi mirip yang terkesan meniru gedung Congress Hall di Berlin karya
Hugh Stubbins dari Amerika Serikat. Keduanya memang sama-sama menerapkan
pendekatan struktur sebagai medium untuk memenuhi tuntunan fungsional
sekaligus menghasilkan, wujud yang spektakular, bahkan monumental. Keduanya
sama-sama menggunakan busur sebagai unsur utama system strukturnya, akan
tetapi titik tolaknya berbeda.
Kemudian ada juga yang membandingkan gedung paripurna tersebut dengan
terminal TWA (Trans World Airlines) di bandara La Guardia (sekarang menjadi
bandara John F. Kennedy di New York, Amerika Serikat, karya Eeru Saurinen.
Tampilan keduanya memang senada tapi tetapi sasarannya berbeda. Di gedung
paripurna komplek MPR/DPR RI, sasarannya adalah mengubah sebuah bentuk
berstruktur bentang panjang dalam rangka memenuhi tuntutan fungsional untuk
mewadahi sebuah ruangan tempat persidangan yang bebas tiang. Di terminal
TWA, sasarannya adalah mengubah bentuk yang dapat memenuhi slogan
perusahaan penerbangannya, yaitu Come Fly With Me.

13

KEDUTAAN BESAR PERANCIS


Proyek ini dikerjakan dari tahun 1969-1973. Proyek ini terletak di jalan MH
Thamrin, di sebelah kiri gedung sarinah ke arah tugu selamat datang. Gedung ini
berada di sisi terpanjang bangunan gedung tegak lurus tegak lurus terhadap jalan
MH Thamrin sehingga berda dijalur pergerakkan matahari, sekaligus dalam posisi
frontal terhadap sisi terpendek gedung sarinah yang jauh lebih besar, sehingga
mendapat keuntungan berupa pencahayaan alami sepanjang hari dikedua sisi
terpanjangnya. Namun, bersamaan dengan itu, bangunan gedung tersebut harus
berdialog dengan dinding masif yang ditampilkan oleh sisi terpendek gedung
sarinah.
Menghadapi situasi terserbut, soejodi menerapkan sebuah gubahan selubung
bidang yang disayat dan digeser secara sejajar, namun dapat ditekukan.
Selubung bidang tersebut dibiarkan memanjang menghadap ke gedung sarinah
sedangkan sisi masifnya menghadap kejalan thamrin. Ketika itu gedung sarinah
berada disalah satu sudut sebuah bundaran yang mengalirkan kendaraan dari
jalur jalan MH Thamrin ke jalur jalan KH Wahid Hasyim, yang ditanggapi oleh
soejodi dengan membuat lengkungan sisi masif selubung bidang terdepan.
Dengan kosenkuensinya, permukaan atas selubung karena bidang terdepan itu
pun dilekungkan sehingga terbentuklah sudut pertemuan bidang lengkung. Pintu
utama kedubes perancis ini terletak di samping sehingga terlindungi baik dari
pandangan mata diluar bangunan gedungnya maupun kebisingan disekitarnya.
Dengan demikian keamanan dan keselamatan mereka yang memasuki bangunan
gedung ini terjamin.
Kedubes ini didirikan dengan sistem struktur lantai tanpa balok sehingga
proporsi ragawinya amat ideal untuk menjadi pendamping gedung sarinah.
Pengudaraan buatan di dalam bangunan gedung dilakukan dengan teknik
menurunkan ketinggian langit-langit di selasar bagian dalam supaya tersedia
rongga tempat meletakkan yang akan mengalirkan udara dingin keruangan di kirikanannya.
Kemudian terdapat sirip-sirip vertikal yang membagi bidang permukaan
vertikal menjadi sejumlah bukkan berukuran sama dan sebangun. Sirip sirip
tersebut sekaligus melindungi permukaan luar bangunan gedung dari terik
matahari yang datang dari samping, sedangkan perlindungan dari arah frontal
sudah dilakukan oleh teritisan miring berupa bidang-bidang horizontal yang
menandai jumlah lantainya. Kedua elemen tersebut dengan demikian saling
melengkapi, baik fungsi maupun tampilannya.

14

Duta Merlin 1970


Proyek ini dikerjakan pada tahun 1970-an. Seperti proyek Braga Permai yang
tidak lagi menghiraukan keberadaan bangunan gedung Maison Bogerijen di tapak
terkait, di proyek ini pun Soejoedi tidak menghiraukan berdirinya Hotel Des Indes
di lokasi tapak perancangan, hotel yang sekarang dipandang sebagai salah satu
peninggalan karya Arsitek Belanda yang pantas dilestarikan itu oleh Soejoedi
dianggap tidak ada sehingga seluruh perancangan Hotel Duta Merlin ini
diasumsikan berada di tapak yang kosong. Padahal hotel tersebut pernah disebutsebut sebagai hotel terbaik di Asia Timur dan sudah bertara internasional. Bahkan
aktor John Wayne dari Amerika Serikat pernah menginap di situ.
Sikap tersebut memperlihatkan haluan yang diikuti Soejoedi ketika Merancang,
yaitu Arsitektur Modern, yang bertitik-tolak dari masa kini ke masa mendatang.
Dengan sikap tersebut maka yang dihadapinya ketika itu adalah sebuah tapak
kosong di sudut, dengan pemandangan melebar kearah K.H Hasyim Asyari di sisi
Utara dan Jalan Gajah Mada serta Jalan Hayam Wuruk di sisi Timur, ditambah
pemandangan ke arah tapak tetangga di sisi Selatan yang ketika itu masih diisi
bangunan-bangunan gedung lama berkonstruksi sampai dengan dua lantai.
Proyek ini merupakan pengembangan yang dilakukan bertahap dan
pembangunan untuk hotel menjadi tahap pertama pengembangan tersebut.
Merancang denah hotel dengan gubahan massa berwujud huruf Y itu ternyata
bukan perkara mudah karena menghasilkan banyak ruangan dengan sudut-sudut
yang tajam sementara jalur sirkulasinya pun menjadi rumit.
Namun, gubahan massa seperti itu memang memberi pemandangan ke
segala arah bagi kamar-kamarnya sehinga para tamu dapat memilih mana yang
disukainya. Seluruh Proyek ini tidak dilanjutkan ke tahap pelaksanaan
pembangunannya. Kini tapak tersebut diisi berbagai bangunan gedung dengan
kualitas arsitektur yang tak setara dengan yang dihasilkan oleh Soejoedi.

15

16

Kantor Pabrik Farmasi di Jakarta Timur


Proyek

ini

dikerjakan

pada

tahun

1970-an,

berupa

kantor

sebuah

perusahaan farmasi. Lokasinya terletak dikawasan Jakarta Timur. Masa bangunan


sengaja dibuat agar memberi kesempatan daerah entrance disisi samping
bangunan ketimbang dibagian depan. Dalam perancangan proyek ini, Soejoedi
seperti merancang sebuah rumah tinggal. Hal ini dilator-belakangi bangunan
gedungnya

yang

seukuran

rumah

tinggal,

atau

bisa

jadi

beliau

ingin

menghadirkan suasana informal seperti halnya sebuah rumah tinggal. Walaupun


begitu, citra sebuah gedung perkantoran tetap terasa. Meskipun dirancang seperti
halnya rumah tinggal, Soejoedi tidak menerapkan atap miring seperti halnya
kebanyakan rumah tinggal, melainkan atap datar dengan garis horizontal tebal
dengan teritisan yang lebar sehingga kesan sebuah naungan tetap terasa.
Pada bagian badan bangunan, Soejoedi merancang bagian tersebut
dirancang seakan melayang diatas permukaan tanah sehingga keseluruhan
massa bangunan terasa ringan walaupun tersusun atas bidang bidang masif yang
saling bertemu secara tegak lurus. Para tamu menuju ke arah pintu masuk
melalui sebuah tangga dan pelataran yang juga dibuat seakan melayang diatas
permukaan tanah, mengingatkan pada teknik serupa yang dikerjakan oleh Mies
van der Rohe pada sebagian besar proyeknya.
Dalam proyek ini, Soejoedi menerapkan teknik baru berupa bidang
transparan, yaitu dengan melubangi sampai menghasilkan sebuah bingkai yang
kemudian diisi rangka jendela dengan kaca bening. Bidang bidang transparan tadi
diolah semenarik mungkin shingga semua bagian merupakan kelipatan dari
modul yang sama. Dengan teknik seperti itu tiap unit tadi merupakan bagian tadi
merupaka bagian dari keseluruhan sehingga keserasian dan keselarasan fasad
bangunan tetap terjaga.

17

Pusat Grafika Indonesia


Proyek ini dikerjakan pada tahun 1971 sampai tahun 1976. Tapaknya terletak
di perpotongan jalan Jendral Gatot Subroto
dengan jalan H.R. Rasuna Saidsehingga
bangunan tersebut harus mempertimbangkan
situasi perempatan tersebut.
Disini, Soejoedi melakukannya dengan
cara yang berbeda, dengan dua selubung
bidang berbeda ukuran digabungkan menjadi
sebuah selubung bidang berjenjang. Resultan
kedua selubung bidang itu kemudian diisi
massa massa empat persegi panjang
horizontal.
Massa
massa
tersebut
mempresentasikan fungsi kegiatan tertentu
yang mengingatkan pada teknik Arsitektur
Modern Eropa.
Orisinilitas proyek ini memang tiada
duanya. Sampai sekarang tidak ada arsitek
Indnesia yang berani menerapkan gubahan
massa yang ditampilkan oleh Soejoedi ini.

18

KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA DI KUALA LUMPUR


Proyek ini sebuah rancangan yang dapat merepresentasikan Indonesia di
negeri Malaysia, yang dikerjakan pada tahun 1974 1976. Soejoedi melakukan
seleksi wujud ragawi arsitektur vernakular Indonesia yang representatif.
Pendekatan itu barangkali disebabkan dari pengalamannya mengamati karyakarya arsitektur eropa periode pasca Perang Dunia II yang sangat formalistik dan
banyaknya fungsi kegiatan yang harus diakomodasi Kedutaan Besar Republik
Indonesia
sementaradesain
tapaknya
sendiri terbatas sehingga kontruksi
Soejoedi itu,
memasukkan
meru dari
bangunannya
harus
berlantai
banyak
sedangkan prinsip naungan dalam
Bali
karena
merupakan
satu-satunya
khasanah arsitektur
vernakular
Indonesia
hanya terdapat di bangunan gedung
konstruksi
bertingkat
banyak
dalam
satu
atau
dua
lantai.
khasanah arsitektur vernakular Indonesia
meskipun hanya berupa tumpukan atap.
Namun konstruksi tiap atap menjadi unik
karena sudut-sudut atapnya menggelembung
akibat bahan ijuk atau alang-alang sebagai
penutupnya. Soejoedi mewujudkan kembali
keunikan tersebut secara geometris dalam
tumpukan lantai bangunan gedung pada
proyek ini. Jurai atap ditiap lantai tersebut

Dalam
proyek
ini
susunan
denah
ruangan-ruangan terlihat seperti dipaksakan
karena proyek ini bertolak belakang dari
wujud
gedung
sedangkan
akomodasi
fungsionalnya
diselaraskan
kemudian.
Daerah lobby misalnya, berupa ruang
dengan wujud berbentuk huruf L sehingga
lebih menampilkan pertimbangan atas faktor
fungsional;
sebagaimana
terlihat
diperletakan tangga utama, juga ruangan
serba-guna yang sangat informal. Interior
ruangan serba-guna tersebut menampilkan

Diluar itu semua, Soejoedi menggarap


aspek lainnya sebgaimana seorang arsitek
modernis sejati. Misalnya lubang-lubang
bukaan di lantai dua sama sekali tidak
berguna untuk menangkis terik matahari,
melainkan bagian dari komposisi tampak luar
dalam rangka membuat keseimbangan
antara bagian dasar bangunan gedung dan
tumpukan lantai yang merepresentasikan
wujud meru. Demikian pula posisi kanopi
daerah
entrance
yang
sengaja
tidak
diletakkan di tengah badan bangunannya
sehingga
menghasilkan sebuah wajah muka
SDSDSDSDSDSDSDS
bangunan
gedung
dalam
komposisi
asimetrik. Lubang-lubang buakan tersebut
diterapkan
lagi
dalam
proyek-proyek
berikutnya seusai menyelesaikan Kedutaan

19

20
Bank Ekspor Impor, Pematang Siantar
Proyek ini dikerjakan pada tahun 1976-1978 dan terletak di Pematang Siantar,
Sumatra Utara, sebuah kota berjarak cukup jauh dari Medan sebagai ibukota
provinsi terkait. Diproyek ini Soejoedi menampilkan kupulan gubahan massa
berwujud dua selubung bidang yang disegel sejajar, masing masing berada dalm
posisi zig-zag satu terhadap lainnya. Seperti halnya pada proyek-proyek
sebelumnya, bidang terdepan di bagian lantai dasar tiap gugus massa dibuat
mundur sampai terbentuk bayangan sehingga selain menyejukan interior bagian
tersebut dan mengurangi beban energy untuk pengudaraan-buatan di seluruh
interior bangunan gedungnya, menghasilkan kesan bangunan yang melayang di
atas permukaan tanah. Bukaan untuk jendelanya mengingatkan pada proyek
Kedutaan Besar Republik Perancis, namun dibuatlebih bervariasi mengikuti
tuntutan fungsional di masing-masing ruang terkait, sehingga terjadilah kelompok
bukaan yang terasa lebih verikal daripada yang lainnya. Penempatan dalam pola
zig-zag serta variasi bukaan untuk jendela itulah yang membangkitkan dinamika
didalam tampilan bangunan yang bersifat homogeny.

21

SEKRETARIAT ASEAN
Proyek ini dikerjakan antara tahun 1978 dan 1981. Terletak disalah satu
pojokan perempatan jalan si singamangaraja dan jalan jalan kyai maja-trunojoyo,
tapak gedung sekretariat asean ini bersebrangan dengan perumahan dinas perum
arthayasa, gedung kejaksaan tinggi dan kantor PLN kebayoran baru.
Kesan ringan dan melayang dengan megah diatas permukaan tanah di
gedung kejaksaan agung menghilang sejalan dengan perluasaan ruang dalam
bangunan gedung, penutupan tiang pilotis bidang kaca gelap, dan pembangunan
gerbang.
Gubahan massa bangunan gedung berwujud huruf L usulan staf PT.
Gubahlaras langsung disetujui soejodi karena sejalan dengan prinsip
penggubahan massa arsitektur modern untuk tapak yang berada di perpotongan
jalan.
Pemancungan salah satu sisi gubahan massa bangunan gedung juga disetujui
soejodi sebagai respons terhadap arus kendaraan dari arah jalan si singamaharaja
ke blok M
Penambahan massa empat persegi panjang dibagian belakang menghasilkan
komposisi gubahan massa bangunan gedung yang komprehensif terhadap semua
sisi tapak.
Tumpukkan massa yang semakin mundur di atas sebuah podium,
merepresentasikan teras persawahan yang dapat di temukan di semua negara
anggota asean.
Logo asean disatu pihak melambangkan kestabilan, kedamaian persatuan dan
dinamika organisasinya namun dipihak lain dapt juga si asosiasikan dengan ikatan
padi yang baru dipotong dari sawah
Salah satu bidang vertikal massa podium dibuat miring sehingga keseluruhan
gubahan massa bangunan gedungnya terasa lentur
Daerah entrace utama merupakan bagian dari keseluruhan komposisi massa
bangunan gedung dan menghasilkan entrace hall yang informal
Berbagai konfigurasi wujud ruang dilaksanakan di bagian dalam bangunan
gedung berupa pengolahan langit langit yang dapat membangkitkan berbagai
asosiasi
Proporsi tiap lapis massa ditangani dengan intuisi yang tajam
Bidang miring dan tumpukan massa gedung tinggi saling berinteraksi dengan
akrab

22

Gubahan Massa Di sekitar Perpotongan Jalan


Gubahan Massa di sekitar perpotongan jalan seperti perlimaan, perempatan,
dll. sudah mulai dikembangkan sejak zaman renaissance dan menjadi tradisi di
abad-19, yaitu gubahan masssa mengikuti pola jaringan jalan dan tapak yang
terbentuk dari pola tersebut sehingga massa-massa bangunan gedungnya mirip
seperti potongan-potongn kue tart apabila dilihat dari pandangan mata burung.
Contohnya di Indonesia adalah seperti gugusan massa bangunan gedung
kembar di salah satu pepotongan jalan yang membentuk huruf L yang
membentuk poros utama kota malang. Lalu ada gubahan massa di Hotel
Indonesia yang saling bertemu membentuk huruf T sehingga menciptakan ruang
berskala urban di bundaran di depan tapaknya.

23

KEDUTAAN BESAR REPUBLIK INDONESIA DI BEOGRAD


Proyek ini dikerjakan pada tahun 1979-1981, gubahan massa pada proyek ini
mirip dengan rancangannya pada proyek Bank Ekspor Impor di Pematang Siantar
yang diselesaikan 1 tahun sebelumnya, padahal tujuannya berbeda. Meskipun
sama-sama dalam kategori bangunan gedung perkantoran, sebuah bank tentu
sangat berbeda dari kedutaan besar apabila dilihat dari kajian ekspresi visualnya.
Oleh sebab itu sulit memperkirakan alasan Soejoedi merancang gedung Kedutaan
Besar Republik Indonesia di Beograd ini dengan merujuk dari gedung Bank Ekspor
Impor, kecuali gubahan massa gedung Bank Ekspor Impor yang masif itu cocok
untuk diterapkan di negara 4 musim.
Soejodi tidak merujuk seutuhnya dari gubahan massa gedung Bank Ekspor
Impor. Sisi bidang permukaan massa gedung yang menghadap ke jalan dibuat
miring untuk merepresentasikan Indonesia sehingga kisi-kisi vertikalnya menjadi
lebih dramatis sementara kesan masif dilain pihak melunak dengan sendirinya.
Data mengenai proyek ini sangat sedikit. Namun dari foto-foto yang masih
tersimpan di arsip PT Gubahlaras sekilas terlihat bahwa sisi bagian belakang
massa bangunan gedung kedutaan ini dibuat kontras terhadap bagian depan. Sisi
bagian belakang tersebut tampaknya terbentuk dari kumpulan garis-garis
horizontal tebal yang merepresentasikan lantai bangunan gedungnya, dengan
teritisan miring yang cukup lebar sehingga kembali mempresentasikan Indonesia
sebagai sebuah negara tropis.
Selain itu, kisi-kisi vertikalnya juga sedikit berbeda dari gedung Bank Ekspor
Impor karena tidak menyentuh langit-langit teritisannya. Itulah yang
menyebabkan kisi-kisi tersebut tampak lebih dramatis. Selebihnya gedung ini
hampir sama dengan gedung Bank Ekspor Impor, apalagi dinding muka lantai
dasarnya yang sengaja dimundurkan untuk menciptakan kesan bangunan gedung
yang terangkat dari permukaan tanah. Seluruh permukaan bangunan gedung
diberi warna seperti gedung bangunan Bank Ekspor Impor di Pematang Siantar
yaitu warna monokromatik namun bukan putih. Tampaknya pilihan tersebut
dilatar-belakangi situasi atau peraturan setempat karena warna putih akan terlalu
menyilaukan mata pada waktu musim dingin, khususnya setelah hujan salju.

24

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN
Proyek ini dikerjakan pada tahun 1980-1982 dalam periode yang sama
dengan 4 proyek lainnya; yaitu Pusat Kehutanan (1980-1984), KBRI di Kolombo
(1980) dan Bank Ekspor Impor di Balikpapan (1981-1983). Mengingat sikapnya
yang selalu menangani tiap pekerjaan dengan serius maka dapat diperkirakan
betapa beratnya beban mental yang harus dipikul Soejoedi ketika menangani
proyek ini.
Bangunan-bangunan gedung dalam deretan tapak sepanjang Jalan Medan
Merdeka Barat ini semuanya menghadapkan sisi terpanjang ke Lapangan Merdeka
seperti membentuk dinding yang amat panjang di situ sementara sisi-sisi lainnya
saling bertemu tegak lurus. Sebab itu pada dasarnya Soejoedi melakukan
gubahan massa bangunan gedung yang lazim diterapkan olehnya, yaitu selubung
bidang yang kemudian diisi tumpukan lantai dalam ekspresi garis-garis tebal
horizontal. Akan tetapi Soejoedi mengubah posisi gubahan massanya, dari sistem
grid yang sejajar dengan Lapangan Merdeka, menjadi diagonal. Dengan demikian
bidang-bidang masif dari selubung bidang yang sedianya menghadap ke tepi
tapak kini menjadi bagian dari tampak muka, bersama dengan garis-garis tebal
horizontal yang menghubungkan bidang-bidang masif tersebut dengan
permukaan yang lebih luas.
Meskipun demikian gubahan massa bangunan gedung tersebut tidak
memperoleh rekomendasi dari Tim Penasehat Arsitektur Kota (TPAK), sebuah unit
kerja yang terdiri dari pakar dalam bidang Arsitektur Kota. Mereka bertugas
membantu Gubenur DKI Jakarta mengatur keselarasan dan keserasian bangunanbangunan gedung yang didirikan di dalam wilayah kewenangan Pemerintah DkI
Jakarta. Para pakar tersebut tidak menyetujui gagasa grid diagonal yang diajukan
oleh Soejoedi dengan dalih merusak keselarasan bangunan-bangunan gedung di
sepanjang Jalan Medan Merdeka Barat.
Di tengah kesibukannya menangani proyek-proyek lain dalam periode yang
sama, perbaikan tersebut tampaknya tak lagi menarik bagi Soejoedi. Boleh jadi
terselip pula perasaan tersinggung atas penolakan tersebut karena belum pernah
terjadi sebelumnya.

25

BANK EKSPOR IMPOR BALIKPAPAN


Proyek ini dirancang pada tahun 1981-1983. Gubahan massanya merupakan
kombinasi dari proyek bank ekspor impor di pematang siantar dan kedutaan
republik indonesia di beogard. Selubung bidang dalam posisi zig-zag dari proyek
bank ekspor impor, pematang siantar digabungkan dengan bidang diagonal dari
kedubes republik indonesia di beogard sementara warnanya kembali mengikuti
bank ekspor impor pematang siantar yaitu monokromatik putih sehingga terasa
polos, keras serta masif. Akan tetapi pertemuan bidang diagonal di salah satu tepi
dan wujudnya yang seperti ditarik memanjang itu segera melunakkan kesan
keras,masif tadi.te
Bidang terdepan di bagian lantai dasar tampaknya tidak dibuat mundur
melainkan sebaliknya, yaitu gugusan massa nya yang dibuat lebih maju
membentuk tampilan kantiveler di lantai atas bangunan gedungnya. Pola zig-zag
justru dimundurkan dilantai 3 sehingga seluruh komposisi massa terasa seperti
sebuah tumpukan objek yang ditata dengan dinamis mengikuti pola geometrik.

26

RUMAH TINGGAL DI RAWAMANGUN


Lokasi rumah ini terletak di Jalan Balai Pustaka 4, Rawamangun, Jakarta Timur, yang pada saat itu
masih merupakan kawasan pinggiran kota Jakarta. Tapak berwujud tidak beraturan, untuk membangun
dua bangunan pada tapak tersebut, Soejoedi membagi tapak tersebut menjadi dua bagian ditengah,
sehingga menghasilkan dua tapak yang mirip, meskipun luasannya sedikit berbeda.
Denah direncakan dengan mengikuti ketentuan yang berlaku pada sebuah kawasan hunian
perkotaan.,Bagian depan tapak disisakan untuk dijadikan ruang terbuka. Penataan ruangan-ruangannya
mengingatkan pada karya-karya Mies van der Rohe. Ada garis-garis utama yang merepresantisakn
dinding yang disusun sejajar membentuk ruangan-ruangan lepas, yang saling berhubungan dalam
sikuens linier. Sementara itu garis-garis sekunder yang merepresantasikan dinding disusun dalam posisi
tegak lurus untuk menghasilkan pertemuan yang membentuk kamar-kamar. Penataan ruangan-ruangan
tersebut menunjukkan pembagian tiga bagian utama rumah, yaitu bagian umum, semi-privat, dan
privat.
Bagian umum dibagi menjadi dua bagian. Di bagian pertama, jalan masuk kendaraan menuju ke garasi
dibuat menanjak, dan terlihat kontras dengan halaman depan yang dibuat menurun sehingga terlihat
jelas batas-batas alami sebuah ruang luar yang memisahkan seluruh tapak dari lingkungan sekitarnya.
Bagian kedua dimulai dari titik perhentian tanjakan tadi sampai depan ruang keluarga. Di sini, teras dan
kusen pintu-jendela diarahkan oleh pasangan dinding yang sejajar, horizontal, homogen, dan
monokromatik. Rungan untuk menerima tamu diapit dua dinding berpasangan, masing-masing terpisah
dari langit-langit dalam jarak yang amat dekat sehingga berfungsi sebagai dinding pembatas yang freestanding.
Kedua, bagian semi-privat berupa ruang keluarga yang diapit dua ruang luar. Kesan yang muncul
adalah seperti objek yang ditembusi ruang-luar lantaran memiliki dua sisi yang ditutupi kusen pintujendela penuh dari lantai sampai langit-langit. Salah satu sisi lainnya dipasang dinding yang membatasi
ruang ini dengan deratan ruang tidur di sebelahnya.
Ke tiga, bagian privat berupa deretan kamar tidur dan ruang makan yang berdekatan dengan ruanganruangan servis, seperti dapur, ruang tidur pembantu dan kamar mandi. Susunan ruangan-ruangan
tersebut membentuk huruf L, dan menghadap ke halaman belakang. Bagian privat dan servis tersebut
terasa lebih lega, karena pembatasnya berupa susunan bingkai pintu-jendela. Tiap kamar dihadapkan ke
ruang luar, sehingga selain terasa lebih lega, ruangan juga mendapatkan penghawaan dan pencahayaan
alami yang memadai.
Bangunan rumah ini sendiri, dibangun sesuai dengan ciri khas karya Soejoedi, yaitu gabungan atap
dengan kemiringan landai dan bidang-bidang horizontal yang membentuk kesan bangunan gedung
dalam posisi terangkat dari permukaan tanah.

DEPARTEMEN PERTANIAN
Proyek ini dikerjakan pada tahun 1980-1984. Situasi tapak berada di pojokan dengan pemandangan
luas di kedua sisi tapaknya. Keadaan tapak yang demikian, membuat Soejoedi menggubah massa
bangunan dengan bentuk dasar huruf Y supaya setiap bagian dari massa bangunan memperoleh
pemandangan luas di sekitar tapak.
Pada proyek ini, Soejoedi menerapkan konsep kota taman. Ia mengaplikasikan tiga massa bangunan
berbentuk huruf Y, yang digabungkan dengan sebuah massa selubung bidang, sehingga menghasilkan
ruang luar diantara kumpulan massa. Ruang luar berbentuk segi lima, atas formasi gubahan massamassa tersebut.
Entrance utama yang diperuntukkan bagi menteri dan para tamu terhormat, terletak pada massa
bangunan gedung terdepan, namun posisinya tidak simetris dan bukan merupakan pintu masuk satusatunya pada komplek departemen ini. Massa bangunan tersebut berasal dari bentuk huruf Y, namun
ada satu bagian yang dihilangkan, sehingga mirip dengan selubung bidang yang dibuat pada proyek
Conefo. Tujuan massa ini pun untuk membentuk ruang luar yang mengarahkan ke daerah entrance
kedua.
Secara keseluruhan, komplek ini terbangun atas garis-garis horizontal yang menggerakkan pandangan
mata pengamat sepanjang perjalan dalam komplek. Seluruh bidang luar di lantai dasar, dimundurkan
untuk memperoleh tritisan yang menaungi dari sinar matahari dan air hujan. Selain itu, hal ini akan
memberikan kesan gedung yang terangkat dari tanah, sehingga terasa lebih ringan dari seharusnya.
Keadaan komplek Departemen Pertanian saat ini masih tetap sama seperti ketika dirancang Soejoedi.
Hanya saja, di danaunya sekarang berdiri sebuah gedung yang didominasi oleh bentuk piramida, yang
jelas terinspirasi oleh karya Arsitek I.M.Pei di Museum Louvre, Paris. Keberadaan bangunan di depan
komplek Departemen Pertanian ini dengan bentuk yang sama sekali berbeda amat mengganggu, tidak
selaras, serasi, atau seimbang, bahkan tidak pula kontras.

KESIMPULAN
Diihat dari hasil karya-karyanya, terlihat kemahiran Soejoedi terletak pada kepekaannya atas situasi
tapak. Pilihan gubahan massa bangunan dan pengolahan tampilan luar disesuaikan dengan situasi tapak
dan dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar tiap elemen proporsional satu sama lain. Selain itu,
Soejoedi juga terlihat mengambil pelajaran dari pengalaman yang diperolehnya semasa belajar di
Eropa, yang kemudian diterapkan dengan penyesuaian dalam karya-karyanya di Indonesia.
Pada perancangan rumah tinggal, Soejoedi terlihat mengaplikasikan teknik yang sama di setiap karya
yang dikerjakannya. Tampilan massa segi empat persegi panjang yang seakan terangkat dari permukaan
tanah, dinding-dinding polos dipisahkan dari atapnya dengan penempatan ventilasi-ventilasi sehingga
membentuk bidang persegi panjang yang memberi kesan horizontal pada bangunan. Atap dengan sudut
kemiringan yang landai pun diterapkan untuk memperkuat tampilan horizontal pada karya-karyanya.
Dalam penataan denah rumah tinggal, terlihat teknik Soejoedi mengelompokkan ruang-ruang
berdasarkan satuan fungsi sejenis, yang diatur secara linier dari entrance sampai area servis. Tiap ruang
dihadapkan ke halaman samping atau belakang, sehingga menjadi bagian dari ruang luar.
Ciri khas lain pada rumah tinggal 1 lantai karya Soejoedi adalah letak entrance rumah yang selalu
menghadap ke halaman samping ketimbang halaman depan. Entrance yang luas memberikan
kenyamanan sebagai sambutan sekaligus pengalaman memasuki ruangan-ruangan dalam rumah. Untuk
bangunan hunian 2 lantai, Soejoedi menerapkan teknik memundurkan dinding lantai dasar sehingga
seluruh badan bangunan gedung di lantai atas terasa melayang dan ringan meskipun ditampilan dalam
bentuk bidang massif. Sementara atap, ada yang menerapkan atap datar beton, ada pula yang
menggunakan atap miring dengan sudut yang landai.
Bangunan gedung umum karya Soejoedi, memakai gedung sekretariat dan gedung perjamuan sebagai
titik tolak. Gedung perjamuan merupakan formasi sebuah kotak empat persegi panjang yang
menumpang di atas sebuah kotak empat persegi panjang lainnya yang lebih kecil, sehingga terasa
melayang di atas permukaan tanah.
Gedung sekretariat, di lain pihak, menjadi rujukan Soejoedi untuk menggubah massa bangunan gedung
dalam deretan yang terletak di sebuah lintasan jalan, dengan modifikasi berupa perubahan wujudnya
dari sebuah selubung bidang yang sedikit ditekuk menjadi bentuk kotak berselubung bidang lurus.
Teknik ini menghasilkan gedung yang langsing dan terkesan lebih tipis dari sebenarnya, sehingga tidak
mendominasi dalam lingkungan.
Soejoedi juga mengkombinasikan tiga buah gubahan massa selubung bidang menjadi formasi massa
berbentuk huruf Y. Massa seperti ini diterapkan pada tapak luas yang berlokasi di pojokan. Hal ini
memberikan pemandangan yang luas serta lega dari dalam tapak.
Gubahan massa lain yang diperkenalkan Soejoedi adalah gabungan massa-massa bangunan gedung
berwujud kubus yang disusun dalam formasi regresi berpola zig-zag. Gubahan ini terlihat dalam sketsasketsa yang dibuatnya, namun dalam penerapannya digabungkan dengan gubahan massa selubung
bidang atau massa empat persegi panjang yang dibuat seakan melayang di atas permukaan tanah
melalui regresi lantai dasarnya.

Bila dalam proses pembuatan karyanya dihubungkan dengan kualitas gubahan massa bangunan
gedungnya, terlihat bahwa Soejoedi selalu melakukan penyempurnaan dengan cara mengganti bagianbagian sekunder tampak luar bagunan gedungnya dengan tujuan mengubah tampilan maupun untuk
memenuhi fungsinya. Untuk urusan denah, Soejoedi tidak banyak melakukan terobosan, ia tidak
mengutamakan kejutan spasial, hanya memenuhi tuntutan fungsional saja.
Dilihat dari serangkaian hasil karya-karyanya, Soejoedi telah menerapkan metodologi program
perancanagan arsitektur yang termasuk dalam kelompok the perfected, demikian rupa sehingga dalam
masanya ketika itu, tidak ada satupun arsitek Indonesia yang dapat melakukan tindakan serupa tanpa
dikatakan meniru Soejoedi.

DAFTAR PUSTAKA

Sukada, Budi A. 2011. Membuka Selubung Cakrawala Arsitek Soejoedi. Jakarta. PT.
Gramedia Printing