Anda di halaman 1dari 32

METODELOGI PENELITIAN

SAP II
DESAIN PENELITIAN

Kelompok II:
Made Putri Ariasih

1590661027

Ni Wayan Wardani

1590661028

Putu Diah Putri Utami

1590661029

Ayu Larasati

1590661034

PROGRAM MAGISTER MANAJEMEN


UNIVERSITAS UDAYANA
2016

DAFTAR ISI

Pendahuluan 3
2.1 Definisi Desain Penelitian. 4
2.2 Jenis-Jenis Desain Penelitian.... 7
2.3 Orientasi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif..... 11
Kesimpulan.. 31
Daftar Pustaka.. 32

PENDAHULUAN
Penelitian sendiri tidak dapat dipisahkan dari tahap-tahap perkembangan
kehidupan manusia, khususnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pentingnya suatu penelitian dan hubungannya dengan berbagai hal dalam kehidupan
mengakibatkan penelitian harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh dan
berdasarkan etika kebenaran. Sehingga setiap pedoman yang sistematis menjadi
perhatian utama agar penelitian yang mandiri, subjekif, dan kritis dapat dilaksanakan
dengan baik.
Dalam melakukan penelitian salah satu hal yang penting ialah membuat desain
penelitian. Desain penelitian bagaikan sebuah peta jalan bagi peneliti yang menuntun
serta menentukan arah berlangsungnya proses penelitian secara benar dan tepat sesuai
dengan tujuan yang telah ditetapkan. Tanpa desain yang benar seorang peneliti tidak
akan dapat melakukan penelitian dengan baik karena yang bersangkutan tidak
mempunyai pedoman arah yang jelas. Manfaat desain penelitian akan dirasakan oleh
semua pihak yang terlibat dalam proses penelitian, karena dapat digunakan sebagai
pedoman dalam melakukan proses penelitian. Desain penelitian juga sangat
menentukan kualitas proses dan hasil sebuah penelitian. Oleh karena, agar dapat
menghasilkan penelitian yang baik, maka dibutuhkan desain penelitian yang baik.
Selain itu, agar sebuah penelitian memiliki batasan-batasan dan dapat disusun
secara terstruktur dan terkonsep dengan baik, maka diperlukan sebuah metode
penelitian. Mengingat betapa pentingnya desain dan metode penelitian bagi sebuah
penelitian, maka kelompok kami
Akan menguraikan beberapa hal penting terkait dengan desain penelitian, yaitu:
(1)

Pengertian desain penelitian.

(2)

Jenis-jenis desain penelitian.

(3)

Orientasi Penelitian kuantitatif dan kualitatif.

2.1 PENGERTIAN DESAIN PENELITIAN


Menurut Sekaran, Uma (2003:117), setelah mengidentifikasi kerangka teoritis dan
pengembangan hipotesis, maka langkah selanjutnya ke bagian desain penelitian yang
didalamnya menunjukkan persyaratan cara dalam mengumpulkan data dan proses
analisis dengan tujuan menjawab permasalahan pada penelitian. Pada Gambar 1.1
Proses penelitian, yang menunjukan serangkain proses membentuk penelitian yang
sistematis.
Gambar 1.1 Proses Penelitian

Sumber: Sekaran, Uma (2003:117)

Pada Gambar 1.1, menunjukkan beberapa tahapan antara lain melakukan


observasi pada penelitian yang menarik untuk diidentifikasi lebih lanjut, proses
pengumpulan data awal, mendifinisikan masalah penelitian, proses menentukan
kerangka teoritis, pembentukan hipotesis, proses menentukan desain penelitian,
pengambilan data, analisis dan interpretasi, pengambilan kesimpulan, penulisan
laporan, presentasi laporan dan pengambilan keputusan manajerial. Dan fokus
pembahasan pada pertemuan kali ini akan difokuskan pada tahap ke enam yaitu
desain penelitian yang akan digambarkan lebih jelas pada Gambar 1.2 Desain
penelitian.
4

Gambar 1.2 Desain Penelitian

Sumber: Sekaran, Uma (2003:118)

Gambar 1.2 Desain penelitian, mencakup beberapa serangkain pemikiran yang


rasional dalam pengambilan keputusan pada setiap point diatas, awalnya disajikan
pada kotak ke enam dari Gambar 1.1, dan selanjutnya lebih mendalam lagi mengenai
detail pada setiap prosesnya. Gambar 1.2 menunjukkan isu yang berkaitan dengan
keputusan tentang tujuan studi,

jenis investigasi, berkaitan dengan sejauh mana

dimanipulasi dan dikendalikan oleh peneliti, aspek temporal, tingkat dimana data akan
dianalisis, mengenai jenis sampel yang akan digunakan, bagaimana data akan
dikumpulkan, bagaimana variabel akan diukur, dan bagaimana alat analisis akan
digunakan menguji hipotesis.
Menurut Umar, Husein dalam Abdullah (2015:28), Desain penelitian
merupakan rencana kerja yang terstruktur dalam hal hubungan-hubungan antar
variabel secara komperhensif, sedemikian rupa agar hasil penelitian memberikan
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan penelitian. Desain penelitian juga merupakan
sebagai cetak biru dalam hal bagaimana data dikumpulkan, diukur, dan dianalisis,
melalui desain inilah peneliti dapat mengkaji alokasi sumberdaya yang dibutuhkan.

Dari dua rumusan tersebut kita dapat mengambil ini pengertian desain
penelitian sebagai berikut.
i.

Desain penelitian merupakan rencana untuk memilih sumber-sumber daya dan


data yang digunakan untuk diolah guna menjawab pertanyaan-pertanyaan
penelitian.

ii.

Desain penelitian merupakan kerangka kerja untuk merinci hubunganhibingan antara variabel terkait dalam kajian tersebut.

iii.

Desain penelitian juga merupakan sebagai metode, yaitu cetak biru yang
berupa prosedur-prosedur secara garis besar mulai dari hipotesis sampai
kepada analisis data. Metode memberikan jawaban atas pertanyaan seperti.
-

Teknik apa yang akan digunakan untuk mengumpulkan data?

Metode penarikan sampel yang digunakan?

Bagaimana melakukan pengolahan dan analisis data?

Dalam pengertian yang lebih singkat dan jelas desain penelitian mengandung
arti sebagai pedoman kerja agar penelitian dapat berjalan efektif dan efisien. Dalam
menyusun desain penelitian, harus tetap berpedoman kepada rumusan masalah serta
hipotesis yang akan diuji. Mengingat rancangan penelitian harus mencakup: tujuan
penelitian, batasan masalah, obyek penelitian, penetuan jumlah sampel, teknik
pengambilan sampel, analisis data, laporan dan evaluasi keseluruhan, sehingga dapat
digunakan sebagai pedoman dalam proses penelitian secara keseluruhan.

2.2. JENIS-JENIS DESAIN PENELITIAN


Terdapat beberapa dimensi desain, namun tidak ada sistem klasifikasi yang
mendefininisikan semua variasi yang harus diperhatikan. Di bawah ini adalah
jenis-jenis desain penelitian yang dibagi atas 8 deskripsi yang berbeda:
Kategori
Sejauh mana pertanyaan penelitian telah
direalisasikan
Metode pengumpulan data
Kemampuan peneliti untuk menghasilkan
efek dalam variabel yang diteliti
Tujuan penelitian

Dimensi waktu
Lingkup topikal luas dan kedalaman penelitian
Lingkungan penelitian

Persepsi partisipan atas aktivitas

Desain Penelitian
Studi eksploratori
Studi formal

Memonitor
Studi komunikasi
Eksperimental
Ex post facto

Pemberitaan
Deskriptif
Kausal
Eksplanatori
Prediktif
cross-sectional
Longitudinal
Kasus
Penelitian statistik

Lapangan
Penelitian laboratorium
Simulasi
Rutinitas aktual
Rutinitas modifikasi

penelitian
Sumber: Cooper, D & Schlinder, P. (2014:126)

(i)

Sejauh Mana Pertanyaan Penelitian Telah Direalisasikan


Sebuah penelitian dapat dipandang sebagai eksploratori atau formal.
Yang membedakan keduanya adalah tingkat struktur dan objektif langsung
penelitian. Studi eksploratori dilakukan untuk memahami lebih baik sifat
dari masalah karena sangat sedikit penelitian yang dilakukan di area itu.
Beberapa studi kualitatif di mana data dikumpulkan melalui pengamatan
7

dan wawancara, sifatnya adalah eksploratori. Contoh: Henry Mintzberg


mewawancara manajer untuk mengeksplor sifat kerja manajerial.
Berdasarkan analisa dari data wawancaranya, ia memformulasikan teori
peran manajerial, sifat dan tipe aktivitas manajerial, dan lain sebagainya.
Tujuan langsung dari studi eksploratori biasanya adalah untuk membangun
hipotesis atau pertanyaan untuk penelitian selanjutnya.
Studi formal mulai di mana ekplorasi berhenti di mulai dengan
hipotesis atau pertanyaan penelitian dan mencakup prosedur tepat dan
spesifikasi sumber data. Tujuan dari desain penelitian formal adalah untuk
menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan penelitian yang diajukan.
(ii)

Metode Pengumpulan Data


Istilah komunikasi digunakan untuk kontras dengan monitor karena
pengumpulan data dengan tanya-jawab meliputi lebih dari metode survei.
Memonitor meliputi penelitian di mana sang peneliti menginspeksi
aktivitas suatu subyek atau sifat suatu material tanpa berusaha untuk
memperoleh tanggapan dari siapapun. Contoh: menghitung mobil pada
sebuah persimpangan; mencari koleksi perpustakaan; observasi atas
tindakan suatu kelompok pengambil keputusan di mana dalam contoh
tersebut sang peneliti mencatat dan merekam informasi yang tersedia
melalui observasi.
Dalam studi komunikasi, si peneliti bertanya pada subyek dan
mengumpulkan respon mereka dengan cara personal atau impersonal.
Data yang dikumpulkan dapat berasal dari: (1) wawancara atau
percakapan telepon; (2) instrumen yang dikelola sendiri yang dikirimkan
melalui pos, atau ditinggal di lokasi terpilih, atau dikirimkan secara
elektronik atau cara lainnya; (3) instrumen yang diajukan sebelum atau

(iii)

setelah suatu pengobatan atau kondisi stimuli dalam sebuah eksperimen.


Variabel Kontrol Peneliti
Dalam sebuah eksperimen, peneliti berusaha untuk mengontrol
dan/atau memanipulasi variabel dalam penelitian. Desain penelitian
eksperimental cocok dilakukan di mana seseorang ingin mengetahui
apabila suatu variabel akan mempunyai pengaruh pada variabel lainnya.
Eksperimentasi menyediakan dukungan yang terkuat pada hipotesis
kausal.

Dalam desain ex post facto, peneliti tidak mempunyai kontrol atas


variabel-variabel yang berarti variabel dalam penelitian tidak dapat
dimanipulasi. Mereka hanya dapat melaporkan apa yang telah terjadi atau
apa yang terjadi. Penting bagi peneliti untuk tidak mempengaruhi variable
karena dengan melakukan itu akan mengakibatkan bias.
(iv)

Tujuan Penelitian
Perbedaan dari kelompok klasifikasi ini pemberitaan, deskriptif,
kausal-eksplanatori dan kausal-prediktif- adalah tujuan masing-masing.
Pemberitaan menyediakan penggabungan data, seringkali membentuk
kembali data untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam atau
memperoleh statistik untuk perbandingan. Contohnya: sebuah penelitian
pemberitaan membandingkan pencurian pekerja toko yang ada dalam mal
vs. toko lepas.
Studi deskriptif adalah penelitian yang berhubungan dengan siapa,
apa, di mana, kapan atau seberapa banyak. Contohnya studi deskriptif
pencurian pelayan toko akan mengukur jenis pencurian yang dilakukan
(pakaian/elektronik/peralatan rumah tangga); seberapa sering; kapan
(tahun, hari, pukul berapa); di mana (gudang persediaan; area penjualan)
dan oleh siapa (gender, umur, seberapa lama kerja).
Apabila sebuah penelitian bersangkutan dengan

mempelajari

mengapa, maka penelitian itu adalah kausal-eksplanatori. Ini adalah


bagaimana suatu variabel menghasilkan perubahan pada yang lain. Dalam
penelitian ini, kita mencoba untuk menjelaskan hubungan antara satu
dengan yang lain. Misalnya, mengapa pekerja lelaki mencuri lebih banyak
dari pekerja wanita. Dalam studi kausal-prediktif, peneliti ingin
memprediksi pengaruh dari satu variabel dengan memanipulasi variabel
lain, dengan variabel lainnya konstan. Contohnya peneliti ingin
mengetahui apakah menaruh kamera CCTV dalam gudang atau area lain
dalam mal akan mengurangi pencurian pekerja.
(v)

Dimensi Waktu
Studi cross-sectional diselenggarakan sekali dan merepresentasikan
situasi pada satu titik waktu. Sedangkan studi longitudinal dilakukan
berulang kali dalam suatu jangka waktu. Keuntungan dari studi
longitudinal ialah kemampuan untuk melacak perubahan dari waktu ke

waktu. Namun, apabila informasi diperoleh dari sumber yang sama dari
waktu ke waktu, timbul resiko bias. Maka, contohnya, penelitian
kesadaran publik mengenai kampanye iklan dalam masa periode 6 bulan
memerlukan sampel yang berbeda dari masing-masing periode.
(vi)

Lingkup Topikal
Studi statistikal didesain untuk keluasan dibandingkan dengan
kedalaman. Karakteristik suatu populasi diukur dari karakteristik sampel
yang diperoleh. Hipotesis diuji secara kuantitatif, dan generalisasi
mengenai hasil diajukan berdasarkan representatif dari sampel dan
validitas desain.
Studi kasus meletakkan penekanan pada analisa kontekstual yang
lengkap mengenai peristiwa atau kondisi yang lebih sedikit dan keterkaitan
mereka. Meskipun hipotesis digunakan, ketergantungan pada data
kualitatif membuat sulit untuk mendukung/menolak.

(vii)

Lingkungan Penelitian
Desain penelitian berbeda berdasarkan apakah diselenggarakan dalam
kondisi lingkungan aktual (lapangan) atau dalam lingkungan yang
dibuat/manipulasi (laboratorium). Simulasi adalah saat suatu sistem atau
proses direplikasi. Ini makin sering diterapkan dalam penelitian,
khususnya penelitian operasi. Karakteristik utama berbagai kondisi
Bermain peran juga diklasifikasikan sebagai suatu bentuk simulasi.

(viii)

Kesadaran Persepsi Partisipan


Kegunaan suatu desain penelitian dapat berkurang dikarenakan
kesadaran persepsi partisipan saat orang dalam penelitian penyamaran
merasakan bahwa penelitian dilakukan. Kesadaran persepsi partisipan
mempengaruhi hasil penelitian maupun secara sedikit atau dramatis. Saat
partisipan merasa bahwa sesuatu yang tidak biasa terjadi, mereka dapat
berperilaku tidak alami. Ada 3 tingkat persepsi:
1. Partisipan merasa tidak ada penyimpangan dari rutinitas seharihari.
2. Partisipan

memahami

penyimpangan,

namun

tidak

merasa

berkaitan dengan peneliti

10

3. Partisipan menganggap penyimpangan sebagai tindakan dari


peneliti
Peneliti akan menentukan keputusan yang tepat untuk dibuat dalam desain
penelitian berdasarkan definisi masalah, tujuan penelitian, tingkat ketelitian yang
diinginkan, serta pertimbangan biaya. Kadang-kadang karena waktu dan biaya yang
diperlukan, seorang peneliti menjadi terbatasi dan harus memaklumi desain penelitian
yang kurang ideal.
2.2 ORIENTASI PENELITIAN KUALITATIF DAN KUANTITATIF
2.2.1 Definisi penelitian kualitatif
Menurut Flick (2002) penelitian kualitatif adalah keterkaitan spesifik pada
studi hubungan sosial yang berhubungan dengan dengan fakta dari pluralisme
dunia kehidupan. Metode ini diterapkan untuk melihat dan memahami subyek
dan obyek penelitian yang meliputi orang, lembaga berdasarkan fakta yang tampil
secara apa adanya. Peneliti berusaha memahami dan menggambarkan apa yang
dipahami dan digambarkan subyek penelitian.
Menurut Creswell (1995) penelitian yang dibimbing oleh paradigma
kualitatif didefinisikan sebagai suatu proses penelitian untuk memahami masalah
masalah manusia atau sosial dengan menciptakan gambaran menyeluruh dan
kompleks yang disajikan dengan kata kata, melaporkan pandangan secara terinci
yang diperoleh dari para sumber informasi serta dilakukan dalam setting yang
alamiah.
2.2.2

Orientasi Penelitian Kualitatif


Penelitian dengan pendekatan kualitatif menekankan analisis proses
berfikir secara induktif yang berkaitan dengan dinamika hubungan antar
fenomena yang diamati, dan senantiasa menggunakan logika ilmiah. Penelitian
kualitatif bertujuan mengembangkan konsep sensitivitas pada masalah yang
dihadapi, menerangkan realitas yang berkaitan dengan penelusuran teori dari
bawah (grounded theory) dan mengembangkan pemahaman akan satu atau
lebih dari fenomena yang dihadapi.
Faktor yang terkait dengan orientasi dalam penelitian kualitatif yaitu :
a. Orientasi terkait dengan pendekatan yang digunakan terhadap data.
Metode kualitatif memperlakukan data sebagai sesuatu yang bermakna

11

secara intrinsik. Data yang ada dalam penelitian kualitatif bersifat lunak,
tidak sempurna, immaterial, kadangkala kabur, dan seorang peneliti
kualitatif tidak akan pernah mampu mengungkapkan semuanya secara
sempurna. Data yang ada dalam penelitian kualitatif bersifat empiris,
terdiri dari dokumentasi beragam peristiwa, rekaman setiap ucapan, kata
dan gestures dari obyek kajian, tingkah laku yang spesifik, dokumen
dokumen tertulis, serta berbagai imaji visual yang ada dalam sebuah
fenomena sosial (Neuman, 1997:328)
b. Penggunaan perspektif yang non-positivistik. Penelitian kualitatif secara
luas menggunakan pendekatan interpretatif dan kritis pada masalah
masalah sosial. Peneliti kualitatif memfokuskan dirinya pada makna
subjektif, pendefinisian, metafora dan deskripsi pada kasus kasus yang
spesifik (Neuman, 1997:329). Penelitian kualitatif berusaha menjangkau
berbagai aspek dari dunia sosial termasuk atmosfir yang membentuk suatu
obyek pengamatan yang sulit ditangkap melalui pengukuran yang presisif
atau diekspresikan dalam angka. Penelitian kualitatif memperlakukan
obyek kajian tidak sebagai obyek tetapi sebagai proses kreatif dan
mencerna kehidupan sosial sebagai sesuatu yang dalam.
c. Penggunaan logika penelitian yang bersifat logika dalam praktek (logic in
practice). Dalam metode kualitatif, penelitian secara aktual dijalankan
secara tidak teratur, lebih ambigu, dan terikat pada kasus kasus spesifik.
Hal ini tentu mengurangi perangkat aturan dan menggantungkan diri pada
prosedur informal yang dibangun oleh pengalaman pengalamandi
lapangan yang ditemukan oleh peneliti.
d.

Ditempuhnya langkah langkah penelitian yang bersifat non linear. Hal


ini berarti dalam penelitian kualitatif memberikan ruang bagi penelitinya
untuk menempuh langkah non linear dan siklikal, atau melakukan upaya
kembali pada langkah langkah penelitian yang sudah ditempuhnya dalam
menjalani proses penelitian. Hal ini tidak berarti kualitas penelitian
menjadi rendah, namun lebih pada cara untuk dapat menjalankan orientasi
dalam mengkonstruksikan makna.

2.2.3 Ciri ciri penelitian kualitatif :

12

a. Penelitian dengan konteks dan setting apa adanya atau alamiah


(naturalistic)
b. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang
mendalam tentang masalah masalah manusia dan sosial dengan
menginterpretasikan

bagaimana

subyek

memperoleh

makna

dari

lingkungan mereka dan bagaimana makna tersebut mempengaruhi perilaku


mereka.
c. Peneliti melakukan hubungan yang erat dengan subyek yang diteliti
(participant observation)
d. Penelitian kualitatif tidak membuat perlakuan (treatment), memanipulasi
variabel dan menyusun definisi operasional variabel.
e. Penelitian kualitatif menggali nilai yang terkandung dari suatu perilaku.
f. Penelitian kualiatif bersifat fleksibel, tidak terpaku pada konsep, fokus,
teknik pengumpulan data yang direncanakan pada awal penelitian, tetapi
dapat berubah di lapangan mengikuti situasi dan perkembangan penelitian.
g. Penelitian kualitatif mendapatkan akurasi data dengan melakukan
hubungan yang erat dengan subyek yang diteliti dalam konteks dan setting
alamiah (naturalistic).
2.2.4

Prosedur penelitian kualitatif


Ada tiga tahap utama dalam penelitian kualitatif yaitu :
a. Tahap deskripsi atau tahap orientasi
Pada tahap ini peneliti mendeskripsikan apa yang dilihat, didengar, dan
dirasakan. Selanjutnya peneliti mendata sepintas tentang informasi yang
dipeoleh
b. Tahap reduksi
Pada tahap ini peneliti mereduksi segala informasi yang diperoleh pada
tahap pertama untuk memfokuskan pada masalah tertentu
c. Tahap seleksi
d. Pada tahap ini peneliti menguraikan focus yang telah ditetapkan menjadi
lebih rinci keudian melakukan analisis secara mendalam tentang focus
masalah. Hasilnya adalah tema yang dikonstruksi berdasarkan data yang
diperoleh menjadi suatu pengetahuan, hipotesis, bahkan teori baru.

13

2.2.5

Jenis jenis penelitian kualitatif


a. Etnografi
Etnografi atau penelitian lapangan merupakan studi yang sangat mendalam
tentang perilaku yang terjadi secara alami di sebuah budaya atau sebuah
kelompok social tertentu untuk memahami sebuah budaya tertentu dari sisi
pandang pelakunya.
b. Studi kasus
Studi kasus merupakan penelitian yang mendalam tentang individu,
kelompok, organisasi, satu program kegiatan dan sebagainya dalam waktu
tertentu. Tujuannya adalah untuk mendapatkan deskripsi yang utuh dan
mendalam dari sebuah entitas. Studi kasus menghasilkan data dan untuk
selanjutnya dianalisis untuk menghasilkan teori.
c. Studi dokumen
Adalah merupakan kajian yang menitikberatkan pada analisis atau
interpretasi bahan tertulis berdasarkan konteksnya. Bahan bias berupa
catatan yang dipublikasikan, buku teks, surat kabar, majalah, naska,
artikel,dll.

d. Pengamatan alami
Yaitu dengan melakukan observasi menyeluruh pada sebuah latar tertentu
tanpa sedikitpun mengubahnya. Tujuan utamanya adalah untuk mengamati
dan memahami perilaku seseorang atau kelompok orang dalam situasi
tertentu.
e. Fenomenologi
Digolongkan ke dalam penelitian kualitatif murni dimana dalam
pelaksanaannya berlandaskan pada upaya untuk mempelajari dan
melukiskan ciri ciri intrinsik
fenomen fenomen tersebut.
f. Studi sejarah
Penelaahan serta sumber sumber lain yang berisi informasi mengenai
masa lampau dan dilakukan secara sistematis atau dengan kata lain adalah
penelitian yang mendeskripsikan gejala tetapi bukan yang terjadi pada
waktu penelitian dilakukan.
14

g. Grounded theory
Tujuan dari grounded theory adalah untuk menghasilkan atau menemukan
suatu teori yang berhubungan dengan situasi tertentu. Situasi dimana
individu saling berhubungan, bertindak, atau terlibat dalam suatu proses
sebagai respon terhadap suatu peristiwa.
h. Biografi
Adalah studi tentang individu dan pengalamannya yang dituliskan kembali
dengan mengumpulkan dokumen dan arsip arsip. Tujuan penelitian ini
adalah mengungkapkan pengalaman menarik yang sangat mempengaruhi
atau mengubah hidup seseorang.

2.2.6

Penelitian dengan Pendekatan Kuantitatif


Selain pendekatan penelitian secara kualitatif, juga terdapat pendekatan secara

kuantitatif. Pendekatan kuantitatif menurut Creswell (1994):


A quantitative study, consistent with quantitative paradigm, is an inquiry into
a social or human problem, based on testing a theory composed of variables,
measured with numbers, and analyzed with statistical procedures, in order to
determine whether the predictive generalizations of the theory hold true.
Pendekatan secara kuantitatif bersesuaian dengan paradigma (metode)
kuantitatif yaitu sebuah penyelidikan permasalahan yang terjadi pada manusia atau
masyarakat yang didasarkan pada pengujian teori yang tersusun dari beberapa
variabel yang diukur oleh angka-angka dan dianalisa dengan cara statistik, selain itu
untuk menentukan apakah teori yang digunakan untuk memprediksi itu benar atau
tidak.
Pendekatan kuantitatif ditulis oleh orang ketiga. Pandangan yang tidak
mengenai orang tertentu menghilangkan para penulis dari gambar dan membantu
menciptakan arti keobyektifan dan jarak antara peneliti dan yang diteliti. Penelitian
dengan pendekatan kuantitatif lebih cenderung

memusatkan perhatian kepada

15

berbagai macam isu dari bentuk model, ukuran dan contoh populasi yang akan
digunakan. Sejalan dengan itu Neuman (2014) menjelaskan sebagai berikut:
Quantitative researchers are more concerned about issues of design,
measurement, and sampling because their deductive approach emphasized
detailed planning prior to data collection and analysis Quantitative
researchers emphasize precisely measuring variables and testing hypotheses
that are linked to general causal explanation.
Jadi penelitian dengan pendekatan kuantitatif lebih mengenai permasalahan
metode, pengukuran, dan sampel karena pendekatan deduktif menekankan rencana
yang utama secara detail pada pengumpulan data dan analisa, pendekatan kuantitatif
menekankan pada pengukuran beberapa variabel dan pengujian hipotesis tepat yang
dihubungkan ke penjelasan sebab secara umum.

Menurut Neuman (2014), sebuah penelitian dengan pendekatan kuantitatif


memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Peneliti melakukan sebuah pengujian tentang hipotesis yang telah dibuatnya.
b. Pengukurannya secara sistematis telah dibuat sebelum pengumpulan data dan telah
distandarisasi.
c. Konsep diperoleh dalam bentuk variabel yang berbeda.
d. Proses analisis menggunakan statistik, tabel atau diagram dan mempertimbangkan
hubungan dengan hipotesis.
2.2.7

Pengukuran Kuantitatif
Pada setiap penelitian kuantitatif diperlukah langkah-langkah pengukuran

untuk melakukan uji hipotesis, mengevaluasi pernyataan dan menyajikan teori


pendukung secara empiris. Pengukuran kualitatif memiliki langkah-langkah yang
berbeda dalam proses penelitiannya sebelum melakukan pengumpulan data.
Pengukuran kuantitatif memiliki terminologi khusus yang mengatur teknik penelitian
secara tepat sehingga dapat menangkap rincian secara empiris dan mengungkapkan
temuan dalam bentuk angka.
a. Konseptualisasi Kuantitatif dan Operasionalisasi
Menurut Neuman (2014), dalam hasil pengukuran kuantitatif memiliki urutan
langsung yaitu:

16

Konseptualisasi, yaitu proses pengembangan yang jelas pada, sistematis untuk


ide/konsep abstrak.
Operasionalisasi, yaitu proses yang bergerak dari definisi konseptual suatu
konstruksi untuk kegiatan tertentu atau dapat dikatakan sebagai langkahlangkah yang mungkin digunakan peneliti dalam pengamatan empiris atau
kegiatan pengumpulan data.
Penerapan operasional, yaitu penerapan variabel dalam tindakan khusus untuk
mengukur pengamatan empiris.
Untuk menghubungkan ide-ide abstrak digunakan prosedur pengukuran untuk
dapat menghasilkan informasi yang tepat dalam bentuk angka, yaitu dengan:
Aturan standar korespondensi (rules of correspondence), yaitu aturan standar
yang digunakan peneliti untuk menghubungkan konstruksi abstrak dengan
operasi pengukuran dalam realitas sosial empiris.
Konseptual hipotesis, yaitu hipotesis yang
menghubungkan variabel dengan abstrak.
Hipotesis empiris, yaitu hipotesis yang

mengungkapkan

digunakan

peneliti

dan
untuk

mengungkapkan variabel secara spesifik istilah empiris dan menghubungkan


asosiasi antara indikator yang diukur dan diamati.

Proses konseptual dan operasional dengan pengukuran kuantitatif dapat dilihat


pada gambar di atas dengan menghubungkan dua variabel dengan dua teori serta

17

dua hipotesis. Terlihat pada tingkat yang paling abstrak, menarik hubungan kausal
antara dua konstruksi atau hipotesis konseptual. Pada tingkat definisi operasional,
menguji sebuah hipotesis empiris yang menentukan derajat hubungan antar
indikator, dimana mempertimbangkan korelasi, statistik, kuesioner dan sejenisnya.
Tingkat ketiga adalah realitas empiris yang menghubungkan indikator operasional.
b. Reliabilitas dan Validitas Penelitian Kuantitatif
Reliabilitas atau keandalan berarti ketergantungan atau konsistensi. Ini
menunjukkan bahwa hal yang sama diulang atau berulang di bawah kondisi yang
sama. Reliabillitas berlwanan dengan hasil menentu, tidak stabil atau
ketidakkonsistenan

karena pengukuran itu sendiri. Sedangkan validitas

menunjukkan kebenaran.
Pengukuran reliabilitas adalah indikator hasil numerik tidak menghasilkan
variasi karena karakteristik dari proses pengukuran atu instrument itu sendiri.
Sehingga pengukuran reliabilitas juga bisa dikatakan sebagai konsistensi dari
ukuran variabel. Pengukuran reliabilitas sendiri memiliki tiga jenis yaitu:
Keandalan stabilitas (stability reliability), yaitu pengukuran keandalan pada
waktu yang menghasilkan ukuran hasil yang konsisten pada titik-titik waktu
yang berbeda dengan asumsi pengukuran tidak berubah sendiri.
Penggambaran keandalan/reliabilitas (representative reliability),

yaitu

pengukuran reliabilitas untuk seluruh kelompok dimana ukuran yang


menghasilkan hasil yang konsisten.
Kesetaraan keandalan/reliabilitas (equivalence reliability), yaitu pengukuran
reliabilitas menurut indikator, dimana ukuran yang menhasilkan hasil yang
konsisten menggunakan indikator khusus yang berbeda dengan asumsi bahwa
semua pengukuran yang sama terhadap konstruk.
Pengukuran validitas menunjukkan seberapa baik indikator empiris dan
definisi konseptual konstruk menunjukkan pengukuran yang sesuai secara
bersama-sama. Adapun empat jenis pengukuran validitas adalah:
Face validity (validitas wajah) adalah pengukuran validitas dimana merupakan
indikator yang masuk akal sebagai ukuran dari penilaian orang lain.

18

Content validity (validitas isi) adalah jenis pengukuran validitas yang


mensyaratkan bahwa suatu ukuran yang mewakili semua aspek yang
membangun definisi konseptual.

Criterion validity (validitas kriteria) adalah validitas yang menggunakan


beberapa standar atau kriteria yang menunjukkan keakuratan. Indikator validitas
diverifikasi dengan membandingkannya terhadap ukuran lain yang membangun
keyakinan peneliti. Dua subtype dari jenis validitas ini adalah (1) Validitas
konkuren (Concurrent validity) yaitu validitas pengukuran yang bergantung
pada ukuran sebelum dan setelah memverifikasi indikator konstruk, (2)
Validitas prediktif (Predictive validity), yaitu validitas pengukuran yang
bergantung pada terjadinya peistiwa pada masa depan atau perilaku logis
konsisten untuk memverifikasi indikator suatu konstruksi.

19

Construct validity (validitas konstruk), adalah jenis pengukuran validitas yang


menggunakan beberapa indikator dan dua subtipe yaitu: (1) Validitas konvergen
(Convergen validity), yaitu jenis pengukuran validitas untuk beberapa indikator
yang didadarkan pada gagasan bahwa indikator dari satu konstruk akan
bertindak sama atau konvergen, (2) Validitas diskriminan (Discriminant
validity) adalah kebalikan dari validitas konvergen dimana satu indikator samasama membangun atau konvergen, tetapi berhubungan negatif dengan konstruk
yang menentang.

PERBEDAAN PENDEKATAN SECARA KUANTITATIF DAN KUALITATIF

20

Menurut Neuman (2014) secara umum, perbedaan dari penelitian


menggunakan pendekatan kuantitatif dengan kualitatif, yaitu:
Pendekatan Kuantitatif:
a. Measure objective facts (mengukur fakta yang objektif)
b. Focus on variables (terfokus pada variabel-variabel)
c. Reliability is key (reliabilitas merupakan kunci)
d. Value free (bersifat bebas nilai)
e. Independent of context (tidak tergantung pada konteks)
f. Many cases subjects (terdiri atas kasus atau subjek yang banyak)
g. Statistical analysis (menggunakan analisis statistik)
h. Researcher is detached (peneliti tidak terlibat)
Penjelasan dan contoh Model Kuantitatif
a. Mengukur fakta yang objektif
Setiap fakta atau fenomena yang dalam penelitian kuantitatif dijadikan
variabel (hal-hal yang pokok dalam suatu masalah) untuk mendapatkan
objektivitas, variabel tersebut harus diukur. Misalnya untuk mengetahui
kualitas atau kadar atau tinggi rendahnya motivasi kerja karyawan suatu
perusahaan dilakukan tes atau dengan kuesioner yang disusun berdasarkan
komponen-komponen/unsur-unsur/indikator-indikator dari variabel penelitian
yang dalam hal ini motivasi kerja karyawan.
b. Terfokus pada variabel-variabel
Sebelum dilakukan penelitian, terlebih dahulu ditentukan variabelvariabel

atau

hal-hal

pokok

yang

terdapat

dalam

suatu

masalah/gejala/fenomena. Penentuan variabel-variabel tersebut berdasarkan


hukum sebab-akibat, suatu gejala yang terjadi merupakan akibat dari gejala
yang lain atau karena adanya hubungan atau pengaruh gejala lain. Di sini
terjadi cara berpikir nomotetik. Misalnya dalam suatu perusahaan terjadi
gejala penurunan produktivitas kerja karyawan. Selanjutnya dilakukan
pengkajian secara teoritis faktor-faktor apa yang menyebabkan terjadinya
penurunan produktivitas kerja tersebut. Misalnya secara teori ditemukan

21

bahwa produktivitas kerja dipengaruhi oleh faktor-faktor motivasi kerja dan


kepemimpinan manajer. Kemudian pengaruh atau hubungan dari data hasil
pengukuran masing-masing variabel diuji secara statistik apakah benar
variabel motivasi kerja dan kepemimpinan manajer mempunyai pengaruh atau
mempunyai hubungan dengan variabel produktivitas kerja. Dan apakah
pengaruh atau hubungan tersebut signifikan atau dapat dipercaya (mempunyai
tingkat kepercayaan yang tinggi). Apabila hasil analisis statistik menyatakan
variabel-variabel tersebut mempunyai pengaruh atau hubungan secara
signifikan, maka dapat disimpulkan bahwa produktivitas kerja karyawan
dipengaruhi oleh variabel motivasi kerja dan kepemimpinan manajer atau
mempunyai hubungan dengan motivasi kerja dan kepemimpinan manajer.
Catatan: Analisis statistik yang dipergunakan untuk mengukur pengaruh suatu
variabel pada variabel lain berbeda dengan analisis statistik yang dipergunakan
untuk mengukur hubungan suatu variabel dengan suatu variabel yang lain atau
beberapa variabel. Analisis statistik untuk mengukur pengaruh suatu variabel
pada variabel yang lain di antaranya menggunakan analisis statistik multiple
regression (regresi ganda), sedangkan untuk mengukur hubungan suatu
variabel dengan variabel lain di antaranya menggunakan analisis statistik
correlation (korelasi) misalnya correlation product-moment (korelasi productmoment) dari Carl Pearson atau Spearman-Brown.
c. Reliabilitas merupakan kunci
Reliabilitas atau keajegan suatu tes atau kuesioner mempunyai arti
bahwa tes atau kuesioner tersebut menghasilkan skor yang relatif sama
walaupun dilakukan pada waktu yang berbeda. Suatu alat ukur atau instrumen
penelitian (misalnya tes atau kuesioner) apabila memiliki reliabilitas yang
tinggi akan menyebabkan hasil penelitian itu akurat. Oleh karena itu,
reliabilitas merupakan kunci dalam penelitian kuantitatif, karena apabila alat
ukur atau instrumen penelitian reliabel (terpercaya), maka akan berdampak
hasil penelitian akurat. Di samping alat ukur harus reliabel dipersyaratkan pula
harus valid (sahih) atau memiliki validitas (kesahihan). Suatu instrumen
penelitian dikatakan valid atau memiliki validitas apabila dapat mengukur apa
yang seharusnya diukur.

22

Catatan: Uji statistik untuk mengukur reliabilitas diantaranya adalah Analisis


Alpha Cronbach dan KR-20 (Kuder-Richardson 20). Sedangkan uji statistik
untuk mengukur validitas dilakukan di antaranya dengan mengorelasikan skor
setiap item dengan skor total (jumlah seluruh skor item dikurangi skor item
yang dikorelasikan).
d. Bebas nilai
Dalam penelitian kuantitatif pengujian terhadap gejala/fenomena tidak
dikaitkan

dengan

budaya

atau

nilai-nilai

budaya

masyarakat

yang

melatarbelakangi fenomena tersebut. Pengaruh nilai-nilai budaya terhadap


fenomena tidak diperhitungkan atau tidak diperhatikan. Sebagai contoh salah
satu komponen dari konsep diri adalah kelebihan dan kelemahan pada diri
individu. Dalam budaya Barat seorang individu untuk menyatakan kelebihan
dan kelemahan diri sendiri tidak menjadi masalah. Seorang individu untuk
dapat dikatakan memiliki konsep diri yang positif, individu tersebut dapat
menyatakan kelemahan dan kelebihannya di samping memiliki kriteriakriteria konsep diri yang lain. Sedangkan pada budaya Timur perilaku yang
demikian dapat dikategorikan perilaku sombong. Dalam penelitian kuantitatif
pengaruh nilai-nilai budaya tidak diperhitungkan, karena menurut paradigma
yang dipergunakan sebagai landasan berpijak pada penelitian kuantitatif,
kriteria-kriteria konsep diri bersifat universal atau berlaku umum.
e. Tidak tergantung pada konteks
Suatu fenomena terkait dengan konteks artinya terkait dengan situasi
atau lingkungan yang menyertai fenomena tersebut. Fenomena yang sama,
konteksnya dapat berbeda. Misalnya fenomena aktualisasi diri atau kebutuhan
untuk mewujudkan kemampuan dirinya (Teori Motivasi Abraham Maslow)
bagi orang-orang perkotaan akan berbeda dengan orang-orang pedesaan.
Aktualisasi diri orang Jakarta akan berbeda dengan orang pedesaan yang
tinggal di lereng gunung Merapi, di lereng Merbabu, di pedalaman
Kalimantan, atau di pedalaman Irian Barat (Papua). Aktualisasi diri orang
Jakarta dimanifestasikan dalam kemampuan teknologi, teknologi informasi,
bahasa asing, manajemen, dan lain-lain, sedangkan orang-orang pedesaan di
lereng gunung Merapi dan Merbabu atau di pedalaman Kalimantan atau di
pedalaman Papua dimanifestasikan dalam kemampuan bertani atau bercocok
tanam, memelihara binatang, atau memburu binatang buas atau menguasai
23

seni lokal atau seni daerah setempat. Penelitian kuantitatif tidak tergantung
konteks dari fenomena yang diteliti.
f. Terdiri dari kasus-kasus atau subjek-subjek yang banyak
Dalam penelitian kuantitatif diperlukan adanya kasus-kasus atau subjeksubjek yang banyak. Hal ini bertujuan agar dapat digeneralisasikan atau dapat
diberlakukan secara umum. Untuk itu terdapat terminologi populasi, sampel,
dan technique sampling (teknik menentukan sampel). Populasi adalah seluruh
atau jumlah individu dari suatu wilayah atau organisasi atau instansi atau
perusahaan yang memiliki karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti
untuk dipelajari selanjutnya untuk ditarik kesimpulan. Sedang sampel adalah
sebagian dari populasi yang mewakili populasi, oleh karena itu sampel harus
representatif

(harus

dapat

mewakili)

artinya

sampel

harus

dapat

menggambarkan keadaan populasi. Terdapat beberapa teknik sampling (cara


pengambilan sampel), di antaranya: total sampling, yaitu apabila seluruh
individu atau seluruh anggota populasi dijadikan sampel; stratified random
sampling, yaitu apabila setiap strata/tingkat/bagian ada wakil yang dijadikan
sampel dan dilakukan secara acak (random); purposive sampling, yaitu apabila
individu yang dijadikan sampel memiliki persyaratan tertentu sesuai tujuan
penelitian; accidental sampling, yaitu individu yang dijadikan sampel adalah
individu yang dapat ditemui; dan lain-lain. Dengan adanya sampel yang
representatif terhadap populasinya, maka penelitian cukup dilakukan terhadap
sampel, dan hasil penelitian terhadap sampel tersebut dapat digeneralisir
artinya dapat menggambarkan populasi, walaupun penelitian hanya ditujukan
pada sampel, tetapi sudah dapat untuk menggambarkan keadaan populasi.
g. Menggunakan analisis statistik
Dalam penelitian kuantitatif digunakan analisis statistik bertujuan agar
dapat mendeskripsikan secara akurat suatu fenomena (erklaren). Sedangkan
dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan analisis statistik karena
tujuannya tidak akan mendeskripsikan suatu fenomena tetapi mencari makna
guna mendapatkan pemahaman yang mendalam (verstehen). Terdapat
beberapa macam teknik analisis statistik, misalnya sebagaimana telah
diuraikan di depan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel
yang satu dengan variabel yang lain digunakan teknik analisis statistik korelasi

24

product-moment dari Carl Pearson atau dari Spearman-Brown. Untuk


mengetahui ada tidaknya pengaruh antara variabel yang satu pada variabel
yang lain digunakan analisis statistik multiple regression. Untuk mengetahui
ada tidaknya perbedaan antara variabel yang satu dengan variabel yang lain
digunakan rumus t-test. Dalam penelitian kuantitatif digunakan istilah-istilah
yang spesifik dan tidak digunakan dalam penelitian kualitatif, misalnya
variabel, validitas, reliabilitas, hipotesis, signifikan, dan lain-lain. Signifikan
digunakan untuk menggambarkan apabila hubungan, perbedaan, pengaruh
antara suatu variabel dengan variabel yang lain mempunyai makna, untuk itu
kemungkinan salah perhitungannya dibatasi maksimal 5%, atau dengan simbol
statistik p < 0.05. Suatu hubungan atau perbedaan atau pengaruh antara
variabel yang satu dengan variabel yang lain apabila p < 0.05 (tingkat
kesalahan sama atau lebih kecil dari 5%) dinyatakan signifikan atau bermakna.
h. Peneliti tidak memihak
Dalam penelitian kuantitatif peneliti tidak memihak, artinya peneliti
menghindari subjektivitas dari subjek yang diteliti. Dalam penelitian kualitatif
peneliti justru berusaha mengetahui persepsi subjektif dari subjek yang diteliti.
Hasil penelitian kualitatif merupakan hasil analisis persepsi subjektif dari
subjek yang diteliti terhadap suatu fenomena. Sedangkan dalam penelitian
kuantitatif peneliti sejauh mungkin mengeleminir subjektivitas dari subjek
yang diteliti. Oleh karena itu dalam penelitian kuantitatif dikatakan peneliti
tidak memihak.
Pendekatan Kualitatif:
a. Construct social reality, cultural meaning (mengonstruksi realitas sosial,
makna budaya)
b. Focus on interactive processes, events (berfokus pada proses interpretasi dan
peristiwa-peristiwa)
c. Authenticity is key (keaslian merupakan kunci)
d. Values are present and explicit (nilai hadir dan nyata / tidak bebas nilai)
e. Situationally constrained (terikat pada situasi / terikat pada konteks)
f. Few cases subjects (terdiri atas beberapa kasus atau subjek)
g. Thematic analysis (bersifat analisis tematik)
h. Researcher is involved (peneliti terlibat)

25

Penjelasan dan contoh Model Kualitatif


a.

Mengonstruksi realitas sosial, makna budaya.


Apabila penelitian kuantitatif berusaha mengukur fakta yang objektif atau dengan

kata lain mendeskripsikan suatu fenomena atau realitas, maka penelitian kualitatif
ingin mendapatkan pemahaman yang mendalam. Untuk itu harus mencari nomenon
atau makna di balik fenomena. Atau dapat dikatakan penelitian kuantitatif berusaha
mendeskripsikan fenomena secara akurat sedangkan penelitian kualitatif ingin
mendapatkan makna di balik fenomena, untuk itu perlu mendapatkan pemahaman
yang mendalam dari suatu fenomena.
Penelitian kualitatif dinyatakan mengonstruksi realitas sosial, karena penelitian
kualitatif berlandaskan paradigma Konstruktivisme yang berpandangan bahwa
pengetahuan itu bukan hanya merupakan hasil pengalaman terhadap fakta, tetapi juga
merupakan hasil konstruksi rasio subjek yang diteliti. Pengenalan manusia terhadap
realitas sosial berpusat pada subjek dan bukan pada objek, ini berarti ilmu
pengetahuan bukan hasil pengalaman semata, tetapi merupakan juga hasil konstruksi
oleh rasio.

b.

Berfokus pada proses interaksi dan peristiwa-peristiwa


Penelitian kuantitatif berfokus pada variabel-variabel, bahkan sebelum penelitian

dilakukan telah ditentukan terlebih dahulu variabel-variabel yang akan diteliti.


Sedangkan dalam penelitian kualitatif, fokus perhatiannya pada proses interaksi dan
peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadiannya itu sendiri, bukan pada variabelvariabel. Bahkan fokus penelitian dapat berubah pada waktu di lapangan setelah
melihat kenyataan yang ada di lapangan. Dalam penelitian kualitatif di antara teknik
pengumpulan data yang dipergunakan adalah observasi. Observasi tidak cukup
apabila hanya diarahkan pada setting saja, tetapi justru yang pokok adalah proses
terjadinya peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian itu sendiri. Demikian pula
observasi tidak cukup dilakukan bersamaan dengan wawancara, tetapi observasi
sebaiknya dilakukan tidak bersamaan dengan wawancara. Apabila observasi
dilakukan bersamaan dengan wawancara, maka tidak dapat terfokus pada hal-hal yang
akan diobservasi. Walaupun memang ada perilaku yang dapat diobservasi pada waktu
diadakan wawancara, namun mengenai perilaku tersebut belum dapat ditarik
kesimpulan. Agar dapat ditarik kesimpulan maka hasil wawancara harus dilengkapi
26

dan dicek dengan hasil observasi yang dilakukan secara khusus. Dengan observasi
akan dapat diketahui tentang proses interaksi atau kejadian-kejadiannya sendiri. Atau
dengan kata lain, dengan observasi terutama observasi langsung tidak hanya akan
dapat menjawab pertanyaan tentang apa, tetapi juga bagaimana dan mengapa. Dengan
diketahuinya tentang apa, bagaimana, dan mengapa, maka masalah akan dapat
dipahami secara mendalam.
c. Keaslian merupakan kunci
Dalam penelitian kuantitatif, reliabilitas merupakan kunci, jadi analisis statistik
mempunyai fungsi yang sangat strategis. Dalam penelitian kualitatif keaslian
merupakan kunci, sehingga penelitian kualitatif ini juga dikatakan sebagai penelitian
alamiah (naturalist inquiry). Dalam penelitian kualitatif tidak ada usaha untuk
memanipulasi situasi maupun setting. Sebaliknya penelitian kuantitatif justru sering
melakukan manipulasi situasi maupun setting penelitian. Misalnya dalam metoda
eksperimen, situasi dapat dimanipulasi dengan subjek diatur sehingga homogen
dengan dipilih sesuai kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu, dengan
ditiadakannya pengaruh dari variabel kontrol, adanya treatment (perlakuan khusus)
misalnya diberikan terapi khusus atau diberikan pelatihan khusus, dan lain-lain.
Sebaliknya penelitian kualitatif melakukan studi terhadap fenomena dalam situasi dan
setting sebagaimana adanya. Penelitian demikian secara sengaja membiarkan kondisi
yang diteliti berada dalam keadaan sesungguhnya, dan menunggu apa yang akan
muncul atau ditemukan.
d. Nilai hadir dan nyata (tidak bebas nilai)
Dalam penelitian kuantitatif, peneliti berusaha untuk tidak memperhatikan atau
tidak memperhitungkan nilai (bebas nilai), sebaliknya dalam penelitian kualitatif nilai
sangat diperhatikan atau diperhitungkan. Penelitian kuantitatif memegang teguh
prinsip menghindari pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan nilai-nilai dalam
laporan penelitian (juga dalam skripsi, tesis, disertasi) dengan jalan menggunakan
bahasa yang impersonal (misalnya tidak menggunakan kata: kita, kami, saya, kita
semua), membuat laporan penelitian, mengajukan argumentasi berdasarkan faktafakta yang diperoleh dalam penelitian. Sedang penelitian kualitatif menggunakan
bahasa yang personal (dapat menggunakan kata: kita, kami, saya, kita semua).
Menurut Neuman (2014) dalam penelitian kualitatif para peneliti mengetahui adanya

27

sifat value-laden (sarat nilai-nilai subjektif si peneliti) dalam penelitian, dan si peneliti
pun secara aktif melaporkan nilai-nilai dan bias-biasnya, serta nilai-nilai dari
informasi yang dikumpulkan di lapangan.
e. Terikat pada situasi (terikat pada konteks)
Telah dijelaskan bahwa suatu fenomena terikat pada situasi yang mengelilinginya,
atau dengan kata lain selalu terikat pada konteks. Telah dijelaskan pula di depan
bahwa dalam penelitian kuantitatif karena ingin menghasilkan data yang berlaku
umum (universal), maka peneliti harus menjaga jarak dan bebas dari pengaruh yang
diteliti. Peneliti selalu berusaha mengontrol bias, memilih percontohan yang
sistematis dan berusaha objektif dalam meneliti suatu fenomena. Sebaliknya
penelitian kualitatif tidak menjaga jarak dan tidak bebas dari yang diteliti karena ingin
mengetahui persepsinya, atau dengan kata lain ingin mengetahui persepsi subjektif
dari yang diteliti. Persepsi subjektif dari yang diteliti selalu terikat pada situasi atau
terikat pada konteks. Individu yang sedang mengalami kesedihan dapat berubah
menjadi senang atau gembira pada saat memasuki pesta ulang tahun anaknya atau
teman karibnya. Dengan adanya data yang bersifat subjektif, apa ini berarti penelitian
kualitatif tetap bersifat ilmiah? Walaupun datanya bersifat subjektif, penelitian
kualitatif tetap ilmiah, karena apabila data tersebut dimiliki beberapa atau banyak
individu atau dengan kata lain beberapa atau banyak individu memiliki data yang
sama dengan subjek yang diteliti, maka hasil penelitian seperti ini disebut bersifat
intersubjektif. Dalam penelitian kualitatif, pengertian intersubjektif sama dengan
objektif.
f. Terdiri dari beberapa kasus atau subjek
Dalam penelitian kualitatif karena tidak bertujuan menggeneralisasikan hasil
penelitiannya, maka penelitian kualitatif tidak perlu meneliti banyak kasus atau
subjek. Dalam studi kasus subjek yang diteliti dapat satu tetapi dapat juga banyak,
bahkan mungkin penduduk suatu negara. Karena dalam studi kasus yang sangat
penting

adalah

sifatnya

yang

sangat

spesifik.

Contoh

penelitian

tentang

Perkembangan Demokrasi pada Negara-negara Sosialis. Negara-negara yang


menganut

paham

Sosialis

menentang

paham

Demokrasi.

Jadi

penelitian

perkembangan demokrasi di negara-negara sosialis bersifat spesifik. Sebagai contoh


tidak seperti dalam penelitian kuantitatif yang mematok jumlah subjek minimal
28

sebanyak 30 (tiga puluh) individu agar dapat dianalisis dengan statistik parametrik,
maka dalam penelitian kualitatif tidak mematok jumlah subjek yang diteliti.
g. Bersifat analisis tematik
Dalam penelitian kualitatif karena tidak bertujuan menggeneralisasikan hasil
penelitiannya, maka yang diteliti adalah hal-hal yang bersifat khusus atau spesifik,
dan analisisnya bersifat tematik. Misalnya tindak kekerasan terhadap perempuan,
masalah-masalah jender: perjuangan perempuan mendapatkan perlakuan yang adil
dalam lapangan pekerjaan, kasus-kasus perilaku menyimpang, masalah kesulitan
belajar bagi anak-anak yang tidak normal (learning-disabilities), dan lain-lain.
h. Peneliti terlibat
Berbeda dengan penelitian kuantitatif di mana peneliti mengambil jarak dengan
yang diteliti agar dapat menjaga objektivitas atau menghindari subjektivitas dari yang
diteliti, maka sebaliknya penelitian kualitatif peneliti tidak mengambil jarak, agar
peneliti benar-benar memahami persepsi subjek yang diteliti terhadap suatu
fenomena. Untuk itu peneliti dapat melakukan misalnya observasi terlibat
(participant observation). Dengan observasi terlibat pemahaman terhadap subjek
dapat mendalam.
Pada aspek pengukurannya, menurut Neuman (2014) bahwa pengukuran
kuantitatif memiliki tiga fitur berbeda dengan pengukuran kualitatif, yaitu:
1. Perbedaan pada waktu (timing), dalam penelitian kuantitatif diarahkan untuk fokus
pada variabel dan mengkonversikannya ke dalam tindakan tertentu selama tahap
perencanaan yang sebelum dan terpisah dari menganalisis data. Sedangkan
pengukuran kualitatif melakukan pengukuran sementara pada tahap pengumpulan
data.
2. Perbedaan pada data itu sendiri ( data itself), pada penelitian kuantitatif
menggunakan teknik yang akan menghasilkan data dalam bentuk angka. Hal ini
biasanya terjadi dengan memindahkan ide-ide abstrak dari jenis penelitian deduktif
ke data yang spesifik melalui teknik pengumpulan data dan informasi numerik.
Data numerik mewakili ide-ide abstrak secara empiris dalam bentuk seragam.
Sedangkan penelitian kualitatif menggunkan data yang terkadang dalam bentuk
angka, namun lebih sering menggunakan data dalam bentuk data yang tertulis atau
secara lisan kata-kata, tindakan, suara, simbol, benda-benda fisik, atau gambar

29

visual (misalnya peta, foto maupun video). Tidak seperti pengukuran dengan
kuantitatif, pengukuran secara kualitatif tidak mengkonversi semua pengamatan
menjadi satu.
3. Perbedaan dalam menghubungkan konsep dengan data (how connect concepts with
data), dalam penelitian kuantitatif, peneliti disarankan untuk merefleksikan konsep
sebelum melakukan pengumpulan data. Selain itu, peneliti memilih teknik
pengukuran yang akan menjembatani konsep abstrak dengan data empiris.
Sedangkan penelitian kualitatif juga merefleksikan data sebelum melakukan
pengumpulan data. Konsep-konsep yang digunakan dalam penelitian kualitatif
dikembangkan atau disempurnakan selama atau setelah proses pengumpulan data,
sehingga dapat dikatakan pengukuran kualitatif menjembatani ide dengan data
dalam atau sedang berlangsung proses interaktif.

KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan yang telah dikemukakan, maka dapat disimpulkan
desain penelitian merupakan kerangka acuan yang sangat penting bagi peneliti yang
akan menentukan arah dari dan ke mana suatu proses penelitian berjalan dan terkait
mengenai masalah dasar dari desain penelitian yaitu tentang tujuan studi, jenis
investigasi, tingkat gangguan peneliti, pengaturan studi, unit analisis dan horizon
waktu. Peneliti harus tepat dalam menentukan keputusan dalam desain penelitian
berdasarkan definisi masalah, tujuan penelitian, tingkat ketelitian yang diinginkan,
dan pertimbangan biaya. Biasanya, karena keterbatasan waktu dan biaya akan
memberikan pengaruh pada peneliti dalam menentukan desain penelitian. Misalnya,
peneliti harus menggunakan cross-sectional bukan studi longitudinal, seharusnya
melakukan studi lapangan dari pada desain eksperimental, memilih lebih kecil untuk
ukuran sampel dari pada ukuran sampel yang lebih besar, dan sebagainya.

30

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah, Maaruf. 2015.Metodelogi Penelitian Kuantitatif. Cetakan Pertama.
Yogyakarta: Aswaja Pressindo.
Cooper, D, Schnidler, P. 2014. Business Research Methods (12th ed). New York:
McGraw Hill.
Creswell, J. W. (1994). Research Design: Qualitative and Quantitative Approach.
California: Sage Publication.
Gamawan, I, S.Pd.,M.pd. 2013. Metode Penelitian Kualitatif. Penerbit Bumi Aksara.
Neuman, W. L. (2014). Social Research Methods: Qualitative and Quantitative
Approaches (7th ed.). United States of America: Person Education.
Sekaran, U. 2003. Research Methods For Business. Edisi Keempat. America:
Hermitage Publishing Services.

31

32