Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Vitamin adalah suatu zat senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh
tubuh kita yang berfungsi untuk mambantu pengaturan atau proses kegiatan
tubuh.Tanpa vitamin manusia, hewan dan makhluk hidup lainnya tidak akan dapat
melakukan aktifitas hidup dan kekurangan vitamin dapat menyebabkan
memperbesar peluang terkena penyakit pada tubuh kita.Vitamin memiliki peranan
spesifik di dalam tubuh dan dapat pula memberikan manfaat kesehatan. Bila kadar
senyawa ini tidak mencukupi, tubuh dapat mengalami suatu penyakit. Tubuh
hanya memerlukan vitamin dalam jumlah sedikit, tetapi jika kebutuhan ini
diabaikan maka metabolism di dalam tubuh kita akan terganggu karena fungsinya
tidak dapat digantikan oleh senyawa lain.Gangguan kesehatan ini dikenal dengan
istilah avitaminosis. Di samping itu,asupan vitamin juga tidak boleh berlebihan
karena dapat menyebabkan gangguan metabolism pada tubuh.Terdapat 13 jenis
vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang
dengan baik dan salah satunya adalah vitamin E.
Vitamin E adalah golongan vitamin yang larut dalam lemak. Artinya,
vitamin ini terdapat dalam bagian makanan yang berminyak, dan dalam tubuh
hanya dapatdicerna oleh empedu, di hati, karena tidak larut dalam air. Vitamin E
sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Selama ini kita hanya mengenal kegunaan
Vitamin E sebagai anti oksidan,vitamin kecantikan dan kesuburan. Padahal kirakira lima dekade yang lalu, dua dokter dari Kanada telah menemukan bahwa
suplemen Vitamin E alami dapatmembantu mengatasi penyakit jantung. Saat ini,
bahkan ternyata bukan hanya penyakit jantung saja, tapi juga penyakit -penyakit
lain seperti kanker danAlzheimer disarankan untuk mengkonsumsi vitamin E
setiap harinya. Banyak sekali fungsi vitamin E yang masih belum diketahui
banyak orang, melalui makalah inini pembahas akan membahas secara rinci
mengenai vitamin E.

1.2 Rumusan Masalah


Dari latar belakang diatas, dapat dirumuskan beberapa kajian pokok masalah,
yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Bagaimana sejarah dari vitamin E beserta definisinya?


Bagaimana sifat-sifat yang dimiliki vitamin E?
Bagaimana susunan kimia beserta bentuk aktif dan pasif dari vitamin E?
Apa-apa saja fungsi dari vitamin E ?
Apa-apa saja sumber bahan makanan vitamin E?
Berapa jumlah kebutuhan vitamin E?
Apa-apa saja akibat kekurangan dan kelebihan Vitamin E?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui sejarah dan definisi dari vitamin E
2. Untuk mengetahui sifat-sifat vitamin E
3. Untuk mengetahui susunan kimia beserta bentuk aktif dan pasif dari
4.
5.
6.
7.

vitamin E
Untuk mengetahui dan memahami fungsi-fungsi dari Vitamin E
Untuk mengetahui sumber bahan makanan vitamin E
Untuk mengetahui jumlah kebutuhan vitamin E
Untuk mengetahui dampak dari kekurangan dan kelebihan dari vitamin E

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat dari penulisan ini adalah pembaca dapat mengetahui dan
memahami Vitamin E secara detail mulai dari sejarah dan definisinya, susunan
kimia, fungsi vitamin E, sumber bahan makanan yang mengandung vitamin E,
jumlah kebutuhan, dan akibat dari kekurangan dan kelebihan dari vitamin E.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sejarah dan Definisi Vitamin E

Vitamin E ditemukan oleh Dr H.M. Evans dan Dr K.S. Bishop dari


University of California, Berkeley, pada tahun 1922. Nama aslinya adalah
tocopherol, yang diambil oleh kedua doktor tersebut dari bahasa Yunani, yang
artinya kurang lebih membantu mempercepat kelahiran bayi. Vitamin ini
ditemukan ketika mereka sedang mengisolasi suatu senyawa yang dapat
membantu induk tikus dalam memproduksi anak-anak tikus yang sehat. Dari
penemuan ini dengan cepat tocopherol dipromosikan sebagai sex vitamin dan
penambah kesuburan. Vitamin E kemudian diisolasi dari minyak kecambah
gandum dan dinamakan tokoferol pada tahun 1936.Vitamin E (tokoferol) berasal
dari bahasa yunani tokos yang berarti kelainan dan pherin yang berarti yang
menyebabkan.(Prinsip Dasar Ilmu Gizi,Almatsier).
Vitamin E (tokoferol) merupakan suatu komponen lipid yang esensial terdiri
dari selaput-selaput biologi yang saling berhubungan dengan radikal peroxyl yang
berfungsi dalam mencegah perkembangan lipid peroxidan (Jishage, et al., 2005).
vitamin E merupakan vitamin yang larut dalam lemak yang terdiri dari campuran
dan substansi tokoferol (a, b, g, dan d) dan tokotrienol (a, b, g, dan d), pada
manusia a-tokoferol merupakan vitamin E yang paling penting untuk aktifitas
biologi tubuh. Bentuk vitamin E ini dibedakan berdasarkan letak berbagai grup
metil pada cincin fenil rantai cabang molekul dan ketidakjenuhan rantai cabang.
2.2 Sifat-Sifat Vitamin E
Tocopherol tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut lemak seperti
minyak, lemak, alkohol, aseton, eter dan sebagainya. Karena tidak larut dalam air,
vitamin E dalam tubuh hanya dapat dicerna dengan bantuan empedu hati, sebagai
pengelmulsi minyak saat melalui duodenum.
Vitamin E stabil pada pemanasan namun akan rusak bila pemanasan
terlalu tinggi.

Vitamin E bersifat basa jika tidak ada oksigen dan tidak

terpengaruh oleh asam pada suhu 100o C. Bila terkena oksigen di udara, akan
teroksidasi secara perlahan-lahan. Sedangkan bila terkena cahaya warnanya akan
menjadi gelap secara bertahap.
Stabilitas kimia vitamin E mudah berubah akibat pengaruh berbagai zat
alami. Minyak tak jenuh, seperti minyak hati ikan cod, minyak jagung, minyak

kacang kedele, minyak biji bunga matahari, semuanya mempertinggi kebutuhan


vitamin E. Hal ini terjadi jika minyak-minyak tersebut mengalami ketengikan
oksidatif dalam makanan. Bila minyak-minyak tersebut tengik sebelum makanan
dimakan, maka berarti telah terjadi kerusakan vitamin E dalam minyak dan dalam
makanan yang mengandung minyak tersebut. Garam-garam besi, seperti
feriklorida, kalium ferrisianida bersifat mengoksidasi tokoferol. Nitrogen klorida
dan klor dioksida pada konsentrasi yang biasa digunakan untuk memutihkan
tepung akan merusak sebagian besar tokoferol yang terdapat dalam tepung.
Pembuatan tepung menjadi roti akan merusak 47% tokoferol yang terdapat dalam
tepung.
Vitamin E murni tidak berbau dan tidak berwarna, sedangkan Vitamin E
sintetik yang dijual secara komersial biasanya berwarna kuning muda hingga
kecoklatan. Vitamin E larut dalam lemak dan dalam sebagian besar pelarut
organik, tetapi tidak larut dalam air.
Menurut Winarno (2002), vitamin E tahan terhadap suhu tinggi serta asam,
tetapi karena bersifat antioksidan, vitamin E mudah teroksidasi terutama bila ada
lemak yang tengik, timah dan garam besi, serta mudah rusak oleh sinar ultraviolet.
Peran utama vitamin E adalah sebagai antioksidan, dengan menerima oksigen,
vitamin E dapat membantu mencegah oksidasi. Dalam jaringan, vitamin E
menekan terjadinya oksidasi asam lemak tidak jenuh, dengan demikian akan
membantu dan mempertahankan fungsi membran sel.

2.3 Susunan KimiaVitamin E

Gambar 1. Struktur kimia -tokoferol

Ada

jenis

Tokoferol

yang

penting

dalam

makanan

alfa-,beta-,gamma-,delta-toko-ferol dan tokotrienol. Karakteristik kimia utamanya


adalah bertindak sebagai antioksidan. Tokoferol terdiri atas struktur cincin 6kromanol dengan rantai samping jenuh panjang 16 karbon fitol. Perbedaan antar
jenis Tokoferol terletak pada jumlah dan posisi gugus metil pada struktur cincin.
Tokotrienol mempunyai tiga ikatan rangkap pada rantai samping.
Perbedaan struktur ini mempengaruhi tingkat aktivitas Vitamin E secara biologik.
Tokotrienol tidak banyak terdapat di alam dan kurang aktif secara biologik. Alfatokoferol adalah bentuk Vitamin E paling aktif, yang digunakan pula sebagai
standar pengukuran Vitamin E dalam makanan. Jumlah Vitamin E dalam bentuk
lain dinyatakan dalam bentuk tokoferol ekivalen (TE). Bentuk sintetik Vitamin E
mempunyai aktivitas biologik 50% daripada alfa-tokoferol yang terdapat di alam.

Vitamin E mempunyai 2 isomer yaitu tokoferol (Toc) dan tokotrienol (Toc3). Tokoferol mempunyai rantai samping phytil, sedangkan tokotrienol
mempunyai rantai samping yang sama dengan ikatan rangkap pada posisi 3, 7,
11. Baik tokoferol maupun tokotrienol mempunyai 4 isomer yang dinyatakan
sebagai , , dan yang dibedakan berdasarkan jumlah dan posisi gugus metil
pada cincin kroma. -tokoferol merupakan vitamin E utama in vivo dan
menunjukkan aktivitas biologi tertinggi (Tanito et al., 2004). Baik tokoferol
maupun tokotrienol bersifat sangat non polar dan selalu ada pada fase lemak
(Watkins et al., 2004). Gambar vitamin E dan isomernya dapat dilihat pada
Walaupun struktur tokoferol dan tokotrienol mirip, ada tiga ikatan rangkap
pada rantai samping isoprenoid/phytil pada tokotrienol menyebabkan keduanya
mempunyai potensi dan aktivitas biologi yang berbeda. Tokoferol berbentuk
cairan berminyak yang bersifat transparan, kental, sedikit berbau, dan mempunyai
warna berkisar dari kuning muda sampai coklat kemerahan. Tokoferol bersifat
tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik seperti etanol, kloroform,
dan heksana (Musalmah et al., 2005).
a. Tokoferol
Tokoferol merupakan deretan komponen organik yang terdiri fenol
termetil. Berbagai turunan tokoferol juga termasuk vitamin E. Tokoferol
komersial diperoleh dari sumber alami seperti minyak kelapa sawit dan minyak
bekatul (Anonymous, 2007a). Susanto dan Widyaningsih (2004), menambahkan
bahwa tokoferol merupakan antioksidan yang utama dalam lemak dan minyak dan
dapat mencegah ketengikan. Tokoferol juga berperan pada fertilisasi atau tingkat
kesuburan dan pembentukan jaringan tulang.
Tokoferol, terutama -tokoferol telah diketahui sebagai antioksidan yang
mampu mempertahankan integritas membran. Senyawa tersebut dilaporkan
bekerja sebagai scanvengerradikal bebas oksigen, peroksi lipid dan oksigen
singlet. Berdasarkan jumlah gugus metil pada inti aromatik, dikenal 4 tokoferol
yaitu , , , . Diantara ke empat bentuk tokoferol tersebut, yang paling aktif
adalah -tokoferol. Oleh sebab itu, aktivitas vitamin E diukur sebagai -tokoferol
(Winarsi, 2005)

Menurut Meydani (2000) bahwa tokoferol dapat menurunkan penyakit


jantung, mencegah penyakit Alzheimer dan mencegah kanker. Sedangkan tokoferol dapat menurunkan kadar nitrogen dioksida lebih baik dibandingkan
tokoferol yang lain. Nitrogen dioksida berperan dalam penyakit arthritis, penyakit
neurologis dan karsinogenesis (Watkins et al., 1999).
b. Tokotrienol
Tokotrienol merupakan antioksidan yang dapat bekerja cepat, 40-60 kali
lebih efektif dalam mencegah kerusakan akibat radikal bebas daripada -tokoferol
(Perricone, 2008). Ng et al.(2004) menambahkan bahwa tokotrienol merupakan
antioksidan potensial dan lebih efektif dibandingkan tokoferol. Hal ini berkaitan
dengan distribusi yang lebih baik pada lapisan berlemak membran sel.
Tokotrienol

menunjukkan

sifat

antioksidatif

yang

lebih

unggul

dibandingkan dl--tokoferol yang berkaitan dengan distribusi yang lebih baik


pada lapisan berlemak membran sel. Rantai samping tokotrienol yang tidak jenuh
menyebabkan penetrasi pada lapisan lemak jenuh pada otak dan hati lebih baik.
Disamping mempunyai sifat penangkapan radikal bebas, sifat antioksidatif
tokotrienol juga berkaitan dengan kemampuannya menurunkan pembentukan
tumor, kerusakan DNA, dan kerusakan sel (Anonymous, 2007b).
Beberapa hasil penelitian in vivo dan in vitro menunjukkan bahwa
tokotrienol merupakan antioksidan potensial dan secara in vitro tokotrienol
merupakan antikanker yang lebih efektif dibandingkan tokoferol. Sifat tokotrienol
ini berkaitan dengan adanya rantai samping yang tidak jenuh yang mengakibatkan
inkorporasi ke dalam sel lebih tinggi (Ng et al., 2004; Anonymous, 2007b).
Penelitian Nesaretnam et al. (2004) menunjukkan bahwa tokotrienol
mempengaruhi ekspresi gen yang berkaitan dengan induksi ekspresi protein yang
terlibat dalam penghambatan sel kanker. Tokotrienol juga mempunyai efek
antitumor dengan cara menghambat kemampuan sel untuk menyebar. Efek
penghambatan terhadap pertumbuhan sel terlihat nyata untuk dan tokotrienol.
dan -tokotrienol merupakan nutrien yang efektif dalam terapi pada kasus
kolesterol tinggi. -tokotrienol mempengaruhi koenzim bagi enzim 3-hidroksi-3metilglutamat (HMG) dan menekan produksi enzim tersebut, mengakibatkan

lebih sedikit kolesterol yang dihasilkan oleh sel-sel hati (Hasselwander et al.,
2002).
Menurut (Dutta-Roy, 1994) a-tokoferol merupakan bentuk vitamin E yang
paling aktif, berdasarkan penelitian pada rodentia dan anak ayam. Menurut Linder
(1992) bentuk dtokoferol sangat lebih aktif daripada bentuk l. Grup hidroksil
yang aktif pada cincin fenil dapat diesterifikasi untuk aktivitasnya. Dl - a tokoferol asetat dapat digunakan untuk membuat definisi unit-unit internasional
untuk vitamin E, yaitu 1 mg = 1 IU, oleh karena 1 mg dl - a-tokoferol (tidak
diesterifikasi) = 1,36 IU dan 1 mg d - a - tokoferol = 1,49 IU.
Vitamin E adalah istilah kolektif yang mengacu pada semua tocol dan
tocotrienol derivatif yang menunjukkan aktivitas antioksidan -tokoferol ( 2 , 4 ).
Antioksidan ini mencakup empat tokoferol dan empat tocotrienol yang berbagi
struktur cincin chromanol tetapi yang berbeda dengan jumlah metil gugus hadir
pada cincin chromanol . Spesies trimethylated merupakan -tokoferol dan tocotrienol; yang dimethylated, yang - dan -bentuk tochopherol dan tocotrienol;
dan yang monomethylated, -tochopherol dan -tocotrienol . Namun, tidak semua
vitamin bentuk E diproses sama oleh tubuh. Terlepas dari komposisi asupan
vitamin E yang diperoleh dari diet, -tokoferol secara selektif diperkaya dalam
jaringan manusia . Selektivitas ini untuk -tokoferol sebagian besar diberikan oleh
dua kegiatan hati, sebuah protein transport -tokoferol dan sistem P450
catabolyzing sitokrom yang istimewa mendegradasi bentuk diet lainnya dari
vitamin E . Review oleh Traber berjudul "Mekanisme untuk pencegahan Vitamin
E berlebih" akan mempertimbangkan kemajuan terbaru dalam memahami
mekanisme regulasi yang bertanggung jawab untuk modulasi kadar vitamin E
dalam tubuh. Artikel ini akan berfokus terutama pada peristiwa metabolik yang
terjadi di hati, karena ini adalah jaringan yang paling bertanggung jawab untuk
mengatur vitamin E homeostasis dalam tubuh. Pusat ini akan menjadi
pertimbangan tentang bagaimana diet vitamin E diambil ke hati di sisa-sisa
chylomicron dan diproses oleh hati sehingga -tokoferol secara selektif resecreted
ke dalam sirkulasi dalam baru lahir density lipoprotein yang sangat rendah.

2.4 Fungsi Vitamin E


1. Sebagai antioksidan untuk melindungi sel tubuh dari efek radikal bebas
yang bisa mempercepat terjadinya penuaan dini.
2. Melancarkan sirkulasi darah keseluruh tubuh.
3. Meningkatkan daya tahan tubuh dan membantu mengatasi stress dan
kelelahan.
4. Sebagai vasodilator untuk pengelastis dinding pembuluh darah agar tidak
terjadi penyempitan dan pengumpalan darah dalam pembuluh darah.
5. Menjaga kesehatan sistem syaraf, mata, rambut, kulit, otot, tulang
persendian.
6. Membantu mencegah dan terapi penyakit jantung, hipertensi, diabetes,
kanker, anemia, dan varises.
7. Menormalkan kadar kolesterol dan tekanan darah.
8. Membantu meningkatkan kesuburan dan anti Pre Menstrual Sindrom
9. Menjaga, meningkatkan elastisitas dan kelembaban kulit, mencegah
penuaan dini, melindungi kulit dari kerusakan akibat radiasi sinar
ultraviolet, serta mempercepat proses penyembuhan luka.
10. Vitamin E mengurangi penggumpalan darah pada pembuluh darah
11. Pembentukan sel-sel tubuh baru : nukleus (inti sel), dinding sel, RNA dan
DNA. Bersama vitamin C bertindak untuk menjaga kesehatan sel-sel
tubuh.
12. Mencegah Keguguran / Pendarahan pada ibu hamil

2.5 Sumber Bahan Makanan Vitamin E


Tabel Nilai alfa-tokoferol dan Gama-tokoferol dalam bahan makanan
Bahan Makanan

Alfa-tokoferol*(mg)

Gama-tokoferol (mg)

Serelia
0,88
9,77
Kacang-Kacangan
0,72
5,66
Biji-Bijian
9,92
10,97
Sayuran
0,81
0,14
Buah-buahan
0,27
Daging
0,31
0,21
Telur
1,07
0,35
Susu
0,34
Minyak Babi
1,37
0,7
Mentega
1,95
0,14
Margarin
18,92
26,62
Tabel Kandungan tokoferol lemak dan produk lemak
Produk
Minyak biji kapas
Minyak kacang tanah
Mentega coklat
Minyak kelapa
Minyak nutfah jagung
Minayk jagung
Minyak sawit
Minyak zaitun
Minyak lobak
Minyak kedelai
Minyak biji bunga matahari
Lemak sapi
Lemak babi
Minyak haring
Mentega (musim panas)
Mentega (musim dingin)
Keju (lemak 45%)
Margarin
Sumber: Baltes (1967)

Tokoferol Total (mg/100gr)


80-110
20-59
3-13
3-8,5
87-250
40-60
2-50
3-30
50
90-280
70
1
0,2-2,7
1
Sampai 4,2
1,7-3
1
30-100

Tabel. Kandungan Tokoferol Beberapa Produk Makanan hewan dan Sayur


Produk
Hati sapi
Daging anak
berlemak
Haring
Makerel
Kepiting,beku
Susu

Tokofero

sapi,

total

sebagai

a-tokofero

(mg/100 g)
0,9-1,6
tak 0,9
1,8
1,6
5,9
0,02-0,15

10

Keju
Telur
Kuning telur
Kol
Bayam
Kacang
Slada
Polong
Tomat
Wortel
Bawang
Kentang
Jamur
Sumber:Thaler (1967)

0,4
0,5-1,5
3,0
2-3
0,2-6,0
1-4
0,2-0,8 (0,06)
4-6
0,9 (0,4)
0,2 (0,11)
0,3 (0,22)
0,12
0,08

Vitamin E banyak tersedia dalam sayuran dan minyak biji-bijian, yang


dapat ditemukan dalam bentuk margarine, salad dressing, dan shortening. Minyak
kacang dan minyak kulit gandum mempunyai konsentrasi vitamin E yang
tertinggi. Tingkat selanjutnya adalah minyak jagung dan minyak biji bunga
matahari. Satu sendok makan dari sumber tersebut mengandung lebih dari RDA
vitamin E. Sebaliknya, lemak hewani seperti butter dan susu hampir tidak
mengandung vitamin E. Hal ini karena vitamin E mudah rusak oleh pemanasan,
maka akan lebih baik memperolehnya dari makanan segar.
Sumber-sumber yang kaya akan vitamin E antara lain minyak tumbuhtumbuhan, biji-bijian dan telur. Kolustrum manusia dan sapi mengandung vitamin
E sepuluh kali lebih tinggi daripada susunya. Minyak kapas, minyak jagung, dan
minyak lembaga gandum mengandung vitamin E sekitar 0,01 0,05 persen.
Vitamin E dapat pula dibuat secara sintetis. Vitamin E lebih banyak terdapat pada
makanan segar yang belum diolah.
2.6 Jumlah Kebutuhan Vitamin E
Kita membutuhkan vitamin E 25 IU (16,75 mg) per hari sedangkan untuk
terapi membutuhkan 400 IU(268 mg) per hari. Ibu hamil dan menyusui
memerlukan sedikit lebih banyak. Kebutuhan vitamin E juga meningkat pada
orang yang merokok, stres, berpenyakit jantung dan memiliki imunitas lemah.
11

Ketentuan :
1 IU

= 0.67 mg of d-alpha-tocopherol or 0.45 dl-alpha-tocopherol

1 mg = 1.49 IU d-alpha-tocopherol (natural vitamin E; RRR-alpha-tocopherol)


1 mg = 1.10 dl-alpha-tocopherol (synthetic vitamin E; all-rac-alpha-tocopherol)
d-alpha-tocopherol : Sumber vitamin E berasal dari bahan alami
dl-alpha-tocopherol : Sumber Vitamin E merupakan sintesis
Dosis untuk oral vitamin E umumnya berkisar dari 50 - 1.000 IU. Para ahli
merekomendasikan mendapatkan vitamin E kebanyakan dari makanan dan bukan
suplemen.
Berdasarkan uji klinis, dosis sering digunakan untuk pencegahan penyakit
dan pengobatan untuk orang dewasa adalah 400-800 IU per hari. Seperti dengan
semua suplemen, Anda harus memeriksa dengan penyedia layanan kesehatan
sebelum memberikan vitamin E untuk anak.
Asupan harian diet vitamin E tercantum di bawah ini. (Catatan: 1 IU vitamin E
sama dengan 0,67)
Golongan Umur
Pedaitric

IU

Mg

Baru lahir sampai 6 6 IU

4.02
5,025

7,5 IU
bulan
Bayi 7 bulan - 1 9 IU
tahun
10,4 IU
Anak-anak
1-3
16,4 IU
tahun:
Anak-anak 4 - 8

tahun:
Anak-anak

6,03
6,968
10,988

9-13

tahun:
Remaja: 14 - 18 tahun

22,4 IU

15,008

12

Dewasa

Lebih tua dari 18 22,4 IU

15,008

22,4 IU

15,008

tahun
Wanita hamil
Ibu menyusui

28.4 IU

18,76

2.7 Kekurangan dan Kelebihan Vitamin E Vitamin E


2.7.1 kekurangan Vitamin E
Dampak akibat kekurangan Vitamin E antara lain:
1. Gangguan sistem pencernaan, khususnya malabsorption
2. Sering kesemutan atau mati rasa pada bagian tangan dan kaki
3. Perubahan degeneratif pada sistem saraf dan otot
4. Kelemahan dan kesulitan berjalan
5. Nyeri pada otot betis
6. Gangguan penglihatan
7. Anemia
8. Retensi cairan (odem)
9. Masalah dan kelainan pada kulit
10. Kekurangan vitamin E umumnya dapat menimbulkan periferal neuropati, yaitu
kerusakan sistem syaraf tepi.

11. Sedangkan pada bayi prematur, kekurangan vitamin E dapat menyebabkan


iritasi, edema (volum cairan di luar sel meningkat), anemia hemolitk, dan
trombosis yaitu pembekuan darah yang dapat menyebabkan penyumbatan
pembuluh darah.

12. Kemandulan
2.7.2 Kelebihan /Overdosis vitamin E
Sebagai vitamin yang larut dalam lemak, vitamin E dapat terakumulasi
dalam tubuh, sehingga lebih berisiko overdosis daripada vitamin lain yang larut

13

dalam air. Dosis tinggi vitamin E harian (terutama jika diambil dalam jangka
panjang) dapat menyebabkan beberapa masalah, seperti kelelahan, kelemahan,
sakit kepala, mual, diare, sakit perut, kembung, tekanan darah tinggi. dan
peningkatan risiko perdarahan (yang dapat mengakibatkan pendarahan internal
berbahaya).

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Vitamin E adalah vitamin larut dalam lemak, bersifat basa , tahan terhadap
asam, rusak bila pemanasan terlalu tinggi, tidak berbau dan tidak berwarna.
Susuna Vitamin E terdiri dari 2 isomer yaitu tokoferol (alfa, beta,gama, delta) dan
tokotrionol (alfa, beta, gama, delta), dimana alfa tokoferol adalah bentuk yang
paling aktif sebagai antioksidan. Selain sebagai antioksidan vitamin juga
berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh, untuk kesuburan, sebagai vasodilator,
mencegah dan terap penyakit jantung, anemia, kanker, serta menjaga kesehatn
mata, kulit,otot, dan tulang.
Sumber bahan makanan vitamin E dapat berasal dari minyak tumbuhtumbuhan, biji-bijian, sayuran dan buahan. Minyak kacang, gandum, kedelai,
bunga biji matahari memiliki kandungan vitamin E tinggi. Kemudian sayuran
berwarna hijau dan berwarna gelap juga memiliki kandunagn vitamin E tinggi
seperti bayam. Jumlah kebutuhan vitamin E adalah 25 IU (16,75 mg) per hari,
sedangkan untuk terapi dibutukan 400 IU (268 mg) per hari.
Kekurangan vitamin E dapat menyebabkan malasorbsi, gangguan
penglihatan, mandul, gangguan penglihatan,dll. Sedangkan kelebihan Vitamin E

14

dapat menyebabkan seperti kelelahan, kelemahan, sakit kepala, mual, diare, sakit
perut, kembung, tekanan darah tinggi dan peningkatan risiko perdarahan.
3.2 Saran
Melalui makalah ini penulis menyarankan agar masyarakat dapat
mencukupi vitamin E bagi tubuh, kemudian penulis juga menyarankan agar
masyarakat lebih baik mengkonsumsi bahan makanan vitamin E yang mentah,
segar dan belum diolah karena akan memiliki kandungan vitamin E yang tinggi,
kemudian sebaiknya disarankan jangan terlalu lama memasak bahan makanan
vitamin E karena vitamin E mudah rusak oleh panas yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Khomsan, Ali. 2004. Pangan dan Gizi Untuk Kesehatan. Jakarta: PT Raja
Grafindo Persada.
2. DeMan, John M. 1997. Kimia Makanan. Bandung: ITB Bandung.
3. Sediaoetomo, Achmad Djaeni. 2000. Ilmu Gizi Untuk Mahasiswa dan Profesi
di Indonesia. Jakarta : Dian Rakyat.
4. Rini, Benedicta. 2010. A-Z Multivitamin Untuk Anak dan Remaja. Yogjakarta:
CV Andi Offset.
5.University
of
Maryland
Medical
Center.
2013.
Vitamin
E.
http://umm.edu/health/medical/altmed/supplement/vitamin-e (Diakses pada
tanggal 21 Oktober 2014, pukul 20.15).

6. Manor Danny dan Maret G. Traber. 2012. Kemajuan Gizi : An International


Journal Vitamin E. American Society for Nutrition.

15

16

Anda mungkin juga menyukai