Anda di halaman 1dari 2

Sesat Pikir

Coba simak argumentasi (bahasa filsafatnya: silogisme) seperti ini, Semua


manusia perlu makan, Sarlito perlu makan; jadi Sarlito adalah manusia. Benar
atau salah? Salah! Mau buktinya? Mari kita ganti kata manusia misalnya dengan
kata kuda nil.
Jadi argumentasinya berubah menjadi seperti ini, Semua kuda nil perlu makan,
Sarlito perlu makan; jadi Sarlito adalah kuda nil. Salah, kan? Padahaltidakada
yang salah dalam premis (alasan) yang dijadikan dasar argumentasi. Manusia,
kuda nil maupun Sarlito, semua perlu makan. Mengapa dalam argumentasi
pertama kesimpulannya benar, tetapi dalam argumentasi kedua kesimpulannya
bisa salah?
Ini yangdalamfilsafat logikadisebut sesat pikir, yaitu kesalahan dalam membuat
keputusan. Penjelasan dari sesat pikir dalam contoh di atas lumayan rumit dan
membutuhkan satu mata kuliah senilai 3 SKS. Pasalnya sesat pikir yang satu ini
disebabkan pelanggaran salah satu dari delapan hukum silogisme yang memang
tidak mudah untuk dijelaskan sampai orang mengerti. Tapi sesat pikir tidak harus
karena pelanggaran hukum silogisme, melainkan bisa juga karena premis yang
salah.
Contohnya, Semua yang hidup di laut adalah ikan, paus hidup di laut; jadi paus
adalah ikan. Betul? Salah lagi! Tapi kali ini kesalahan terletak pada premisnya,
yaitu bahwa tidak semua yang hidup di laut adalah ikan. Selain ikan yang bernapas
dengan insang, banyak hewan lain yang juga hidup di laut, termasuk mamalia
yang bernapas dengan paru-paru. Paus bernapasdenganparu- paru, jadidia
termasuk mamalia, bukan ikan.
Tapi orang awam tetap menyebutnya ikan paus. Demikian juga dengan ikan
lumbalumba yang sebetulnya mamalia (segolongan dengan Sarlito dan kuda nil),
tetapi tidak ada hubungannya dengan ikan (seperti tuna, bandeng, gurami atau
salmon). Untuk mengatasi sesat pikir karena kesalahan informasi ini, diperlukan
ilmu pengetahuan.
Hanya ilmu pengetahuan yang bisa membedakan antara ikan dan mamalia karena
ilmu pengetahuan tidak berhenti pada apa yang teramati saja, melainkan mencari
tahu sampai tuntas segala hal yang ada di balik yang teramati. Walau begitu
sampai hari ini masih saja lebih banyak yang percaya bahwa paus itu ikan, bukan
mamalia.
Namun lebih dahsyat lagi adalah apa yang disebut teori Dunia Datar (Flat Earth
theory) yang dikemukakan seorang rohaniwan Yunani bernama Cosmas, pada abad
keenam, yang berargumentasi bahwa dunia ini rata seperti nampan yang terbang
di langit yang dikelilingi lautan dan Yerusalem sebagai pusatnya dengan matahari
yang mengelilingi bumi.
Teori ini kemudian dijadikan ajaran dalam agama Kristen dengan sebutan Peta
Dunia Kristen (Christian Topography) dan dipercaya umat selama berabad- abad.
Namun pada abad ke-16 ada seorang rohaniwan bernama Copernicus yang
mengajukan teori Heliosentris, yaitu bumilah yang mengitari matahari, bukan
sebaliknya.

Sayang Copernicus wafat pada waktu bukunya dipublikasikan, tetapi penelitiannya


dilanjutkan oleh rohaniwan abad ke- 16 bernama Galileo Galilei yang menyatakan
bumi ini bulat dan mengelilingi matahari. Sebagai dampaknya, Galileo dikucilkan
dari gereja dan baru direhabilitasi namanya setelah (kalau saya tidak salah) 300
tahun. Jadi penguasa pun bisa menjadi sumber sesat pikir, bahkan untuk membela
pikirannya yang sesaat itu, penguasa bisa menggunakan kekuasaannya.
Dalam salah satu salat Jumat, kebetulan saya mendengarkan khatib yang
mengemukakan teori bahwa toilet laki-laki yang biasa ada di toilettoilet umum
(yang digunakan dengan cara berdiri) adalah ciptaan orang Yahudi. Alasannya,
kata beliau, toilet seperti itu pasti menye-babkan pipis kita (semua yang salat
Jumat laki-laki) bisa muncrat ke kanan-kiri dan mengotori celana kita sehingga kita
tidak suci dalam bersalat, akibatnya kita semua tidak ada yang bisa masuk surga.
Itulah memang tujuan Yahudi, yaitu mencegah muslim masuk surga (selanjutnya
dia kutip ayat tentang Yahudi dan Kristen yang senantiasa ingin melihat hancurnya
Islam). Jadi yang benar, kata beliau, adalah kalau kita menggunakan toilet duduk
atau jongkok seperti toilet yang digunakan para perempuan.
Tentusaja khatib yang satuini tidak mewakili khatib-khatib lainpada umumnya. Bisa
juga dia agen toilet yang rangkap pekerjaan sebagai khatib. Tapi yang
berbahayaadalahjikakata-katanya itu dipercaya orang (padahal orang Indonesia
cepat percaya). Padahal kalau kita mau kritis sedikit saja, pendapat khatib itu
gampang untuk dipatahkan.
Misalnya, siapa nama Yahudi pencipta toilet itu? Yang namanya mencipta harus
oleh seorang, tidak bisa oleh seluruh bangsa. Kalaupun sudah diketahui siapa
Yahudi pencipta toilet, tidak otomatis bisa digeneralisasi ke semua Yahudi. Einstein
juga Yahudi, tetapi temuannya di bidang ilmu fisika telah membawa kemaslahatan
buat seluruh umat, termasuk yang muslim. Jadi, yang penting itu adalah berpikir
kritis sehingga kita tidak sesat pikir.
Masalahnya, sekarang ini di media massa maupun media sosial, banyak sekali
orang yang ngomong -nya asal saja, salah, sesat pikir, bahkan sengaja
menyesatkan pikiran orang lain. Termasuk para pakar, profesor, mantanmenteri,
bahkan juga menteri yang masih aktif dan seterusnya. Acaraacara dialog interaktif
di TV dan radio diisi oleh orang-orang awam, yang ikut berpendapat, padahal tidak
punya data sama sekali.
WA dan/atau SMS dipenuhi dengan hoax yang langsung disebarluaskan tanpa
mengecek kesahihannya dulu. Kalau orang Indonesia tidak mau belajar kritis, sesat
pikir akan merajalela dan semua orangkebingungankarenatidak ada lagi yang bisa
dipercaya. Akibatnya adalah masyarakat yang chaos, yang menurut sosiolog
Merton disebut sebagai masyarakat anomie.
SARLITO WIRAWAN SARWONO
Guru Besar Fakultas Psikologi
Universitas Indonesia
http://www.koran-sindo.com/news.php?r=0&n=21&date=2016-04-24