Anda di halaman 1dari 18

AVES

Oleh :
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Agista Wilda Avisna Risnanda


: B1J013077
:I
:2
: Dini Prataksita Windriya

LAPORAN PRAKTIKUM SISTEMATIKA HEWAN II

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kata Aves berasal dari kata Latin yang dipakai sebagai nama kelas,
sedangkan Ornis dari bahasa Yunani, dipakai dalam Ornithology berarti ilmu yang
mempelajari burung-burung. Aves adalah hewan yang paling banyak dikenal orang
karena dapat dilihat dimana-mana, aktif pada siang hari dan unik dalam memiliki
bulu sebagai penutup tubuh. Aves juga mampu diternakkan sehingga dapat
meningkatkan peluang usaha bagi masyarakat. Aves merupakan satu-satunya kelas
dalam kelompok Chordata yang cukup unik dengan memiliki bulu dan berbagai
macam tipe kaki. Bulu adalah modifikasi dari sisik yang berkembang secara
evolusioner dari reptilia. Jantung burung terdiri dari empat ruang dan tergolong
hewan berdarah panas. Semua burung menggunakan paruh dan tidak memiliki gigi.
Struktur modifikasi untuk terbang meliputi tulang lengkung, rangka apendikular
depan berubah menjadi sayap, kantung udara, mata yang lebar, dan cerebellum yang
berkembang dengan sangat baik (Djuhanda, 1983).
Kerabat terdekatnya adalah suku Crocodylidae alias keluarga buaya, burung
membentuk kelompok hewan yang disebut Archosauria. Diperkirakan burung
berkembang dari sejenis reptil di masa lalu, yang memendek cakar depannya dan
tumbuh bulu-bulu yang khusus di tubuhnya. Awalnya, sayap primitif yang
merupakan perkembangan dari cakar depan itu belum dapat digunakan untuk
sungguh-sungguh terbang dan hanya membantu untuk dapat melayang dari suatu
ketinggian ke tempat yang lebih rendah. Burung masa kini telah berkembang
sedemikian rupa sehingga terspesialisasi untuk terbang jauh, dengan perkecualian
pada beberapa jenis yang primitif. Bulu-bulunya, terutama di sayap, telah tumbuh
semakin lebar, ringan, kuat dan tersusun rapat. Bulu-bulu ini juga tersusun
sedemikian rupa sehingga mampu menolak air, dan memelihara tubuh burung tetap
hangat di tengah udara dingin. Tulang belulangnya menjadi semakin ringan karena
adanya rongga-rongga udara di dalamnya, namun tetap kuat menopang tubuh. Tulang
dadanya tumbuh membesar dan memipih, sebagai tempat perlekatan otot-otot
terbang yang kuat. Gigi-giginya menghilang, digantikan oleh paruh ringan dari zat
tanduk (Iskandar, 1989).
Kesemuanya itu menjadikan burung menjadi lebih mudah dan lebih pandai
terbang, dan mampu mengunjungi berbagai macam habitat di muka bumi. Ratusan

jenis burung dapat ditemukan di hutan-hutan tropis, mereka menghuni hutan-hutan


ini dari tepi pantai hingga ke puncak-puncak pegunungan. Burung juga ditemukan di
rawa-rawa, padang rumput, pesisir pantai, tengah lautan, gua-gua batu, perkotaan,
dan wilayah kutub. Masing-masing jenis beradaptasi dengan lingkungan hidup dan
makanan utamanya. Maka dikenal berbagai jenis burung yang berbeda-beda warna
dan bentuknya. Ada yang warnanya cerah cemerlang atau hitam legam, yang hijau
daun, coklat gelap atau burik untuk menyamar, dan lain-lain. Ada yang memiliki
paruh kuat untuk menyobek daging, mengerkah biji buah yang keras, runcing untuk
menombak ikan, pipih untuk menyaring lumpur, lebar untuk menangkap serangga
terbang, atau kecil panjang untuk mengisap nektar. Ada yang memiliki cakar tajam
untuk mencengkeram mangsa, cakar pemanjat pohon, cakar penggali tanah dan
serasah, cakar berselaput untuk berenang, cakar kuat untuk berlari dan merobek perut
musuhnya (Kimball, 1999).

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum acara Aves antara lain :
1. Mengenal beberapa anggota Kelas Aves.
2. Mengetahui beberapa karakter penting untuk identifikasi dan klasifikasi anggota
Kelas Aves.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


Burung merupakan tentrapoda yang cepat dikenal, karena anggota kelas ini
karakter- karakternya paling homogenik dibanding kelas- kelas lain. Tak ada satupun
binatang yang memiliki bulu, selain golongan Aves. Oleh sebab itu, tak dapat
dipungkiri dengan adanya tubuh yang ditutupi oleh bulu dan memiliki kemampuan
terbang, burung bisa menempati berbagai habitat bahkan melakukan migrasi dari satu
tempat ke tempat yang sangat jauh. Keindahan bulu burung, suaranya yang merdu,
perilaku- perilaku menarik lainnya, bahkan dagingnya yang banyak di konsumsi
merupakan alasan lain golongan burung mudah dikenal dalam kehidupan manusia.
(Adeng & Madang, 2007).
Burung berkembang biak dengan bertelur. Telur burung mirip telur reptil,
hanya cangkangnya lebih keras karena berkapur. Beberapa jenis burung seperti
burung maleo dan burung gosong, menimbun telurnya di tanah pasir yang bercampur
serasah, tanah pasir pantai yang panas, atau di dekat sumber air panas. Alih-alih
mengerami, burung-burung ini membiarkan panas alami dari daun-daun membusuk,
panas matahari, atau panas bumi menetaskan telur-telur itu; persis seperti yang
dilakukan kebanyakan reptil. Aves mempunyai beberapa karakter yang berbeda dan
lebih maju dari pada Reptil yaitu terdapat bulu sebagai isolasi panas tubuh. Darah
arteri dan darah vena pada burung terpisah sempurna. Ada mekanisme pengaturan
suhu tubuh (endotermis, homoitermis). Suara berkembang dengan baik. Hewan
muda yang menetas dijaga dengan khusus. Sebagian besar anggota Aves mampu
terbang. (Adeng & Madang, 2007).
Akan tetapi kebanyakan burung membuat sarang, dan menetaskan telurnya
dengan mengeraminya di sarangnya itu. Sarang bisa dibuat secara sederhana dari
tumpukan rumput, ranting, atau batu atau sekedar hiasan di tanah berpasir agar
sedikit melekuk, sehingga telur yang diletakkan tidak mudah terguling. Namun, ada
pula jenis-jenis burung yang membuat sarangnya secara rumit dan indah, atau unik,
seperti jenis-jenis manyar alias tempua, rangkong, walet, dan namdur (Mukayat,
1990).
Anak-anak burung yang baru menetas umumnya masih lemah, sehingga
harus dihangatkan dan disuapi makanan oleh induknya. Kecuali pada jenis-jenis
burung gosong, di mana anak-anak burung itu hidup mandiri dalam mencari
makanan dan perlindungan. Anak burung gosong bisa segera berlari beberapa waktu

setelah menetas, bahkan ada pula yang sudah mampu terbang. Jenis-jenis burung
umumnya memiliki ritual berpasangan masing-masing. Ritual ini adalah proses
untuk mencari dan memikat pasangan, biasanya dilakukan oleh burung jantan.
Beberapa jenis tertentu, seperti burung merak dan cenderawasih, jantannya
melakukan semacam tarian untuk memikat si betina. Sementara burung manyar
jantan memikat pasangannya dengan memamerkan sarang setengah jadi yang
dibuatnya. Apabila si betina berkenan, sarang itu akan dilanjutkan pembuatannya
oleh burung jantan hingga sempurna. Akan tetapi, apabila betinanya tidak berkenan,
sarang itu akan dibuang atau ditinggalkannya (Jasin, 1992).
Karakteristik umum Aves diantaranya adalah mempunyai tubuh yang tertutup
dengan bulu, terdapat dua pasang anggota gerak, sepasang anterior umumnya
mengalami modifikasi menjadi sayap untuk terbang, sepasang di posterior
diadaptasikan untuk berjalan, bertengger atau berenang. Kaki berjari empat, tulang
kering dan cakar terbungkus sisik dengan kulit yang menanduk. Rangka ringan, kuat,
osifikasi sempurna, beberapa tulang berfusi menimbulkan kekakuan, mulut dengan
paruh yang menonjol di seliputi zat tanduk, tidak bergigi pada burung yang hidup
sekarang, tengkorak dengan satu occipital condyle yang berartikulasi dengan
vertebra leher, leher umumnya panjang dan fleksibel, pelvis bersatu pada sejumlah
vertebra, tulang dada membesar umumnya dengan bagian tengah membentuk keel
(lunas), vertebra ekor sedikit dan mampat ke arah posterior (Radiopoetro, 1996).
Selain itu, Aves mempunyai jantung dengan empat ruang pompa (dua atrium
dan dua ventrikel yang terpisah), hanya ada lengkungan aorta kanan (sisternik), sel
darah merah berinti, oval dan biconvex. Respirasi dengan paru- paru yang kompak
(tersusun rapat) dan sangat efesien melekat ke tulang rusuk dan berhubungan dengan
kantung- kantung udara yang berdinding tipis tersebar di antara organ-organ internal
dan sebagian di dalam rangka, terdapat kotak suara (syrinx) di dasar trakea. Terdapat
dua belas pasang saraf kranialis, mempunyai ekresi dengan ginjal metanefros,
sampah nitrogen utama berupa asam urat, urin semisolid, tidak ada kantung kemih
(kecuali pada Rhea dan burung unta), terdapat sistem porta renalis. Suhu tubuh pada
dasarnya konstan (endodermis). Fertilisasi internal hewan betina umumnya dengan
hanya ovarium dan oviduk sebelah kiri, telur dengan banyak yolk yang ditutupi oleh
cangkang yang keras, diinkubasi di luar tubuh, segmentasi meroblastik, terdapat
membran ekstraembrio (amnion, khorion, kantung yolk dan allantois) selama

perkembangan di dalam telur, hewan muda yang baru menetas dijaga induknya
(Brotowidjoyo, 1990).
Susunan anatomi bulu dapat dibedakan atas tiga macam yaitu:
a) plumae (contour feathers)
b) plumulae (down feathers)
c) filoplumae (hair feathers)
Susunan plumae terdiri dari :
a) Shaft (tangkai), yaitu poros utama bulu.
b) Calamus, yaitu tangkai pangkal bulu.
c) Rachis, yaitu lanjutan calamus yang merupakan sumbu bulu yang tidak berongga
di dalamnya. Rachis dipenuhi sumsum dan memiliki jaringan.
d) Vexillum, yaitu bendera yang tersusun atas barbae yang merupakan cabangcabang lateral dari rachis.
(Mukayat, 1990).
Berdasarkan letaknya maka bulu dapat dibedakan menjadi, remiges yang
merupakan bulu yang tumbuh pada sayap dan mempunyai vexillum yang asimetris
dan mempunyai fungsi untuk terbang. Rectrices merupakan bulu yang tumbuh di
daerah ekor dan berfungsi sebagai kemudi. Tectrices merupakan bulu yang menutupi
tubuh. Paraptenum merupakan bulu-bulu yang tumbuh di daerah bahu (antara tubuh
dan sayap). Alula sive ala spuria merupakan bulu-bulu kecil yang melekat pada jari
ke dua. Selain itu, warna bulu burung disebabkan oleh kombinasi butir-butir pigmen
yang ada pada rachis, calamus dan vexillum. Fungsi bulu tubuh yaitu untuk
memelihara panas tubuh, untuk terbang, sebagai alat pelindung kulit dari perubahan
yang datang dari luar dan sebagai kamuflase (Buffalo, 1968).
Paruh terbentuk dari zat tanduk, proses penandukannya tumbuh menutupi
secara teratur menggantikan bagian yang hilang karena dipakai. Fungsi paruh antara
lain sebagai mulut, sebagai tangan untuk memperoleh atau memegang makanan,
untuk menelisik bulu agar rapih dan sebagai alat pertahanan. Bentuk paruh selalu
menunjukkan kebiasaan makan dari setiap jenis burung. Berdasarkan hal tersebut,
maka paruh burung ada beberapa tipe yaitu probing merupakan paruh yang
berbentuk silinder berguna untuk menyelidik celah atau sarang serangga kemudian
menagkapnya. Contohnya, Common Snipe (Gallinago gallinago), pada burung
pelatuk (Chrysocolaptes validus) paruh yang silinder ini agak gemuk dan kuat.
Insect-Catching (penangkap serangga) merupakan paruh yang bentuknya jika dilihat

dari atas melebar tapi kecil. Paruh ini berfungsi untuk menangkap serangga terbang,
contohnya adalah burung layang-layang (Gupta, 1995).
Seed-cracking (pemakan atau pemecah biji) yaitu paruh yang berbentuk
kerucut dan kuat. Contohnya, burung-burung yang bersifat graminivora, gebondol,
gereja (Passer domesticus). Tearing (perobek) merupakan paruh yang bagian
ujungnya tajam dan bagian atasnya lebih panjang serta melengkung ke bawah.
Umumnya bersifat karnivora, contohnya adalah elang (Haliastus indus). Sieving
(penyaring) merupakan paruh yang bentuknya melebar dan pipih dengan bagian
tepinya terdapat gigi seperti sisir untuk menyaring makanan dari dasar air, contohnya
adalah bebek dan belibis (Dendrocygna javanica). Spearing (penombak) merupakan
paruh yang berbentuk panjang seperti tombak, contohnya adalah bittern (yellow
bittern atau Ixbrychus sinensis). Penghisap madu merupakan paruh yang panjang dan
melengkung yang berguna untuk menghisap madu pada bunga, contohnya adalah
Antrapsis malacensis. Paruh menyilang merupakan paruh bagian atas dan bagian
bawah saling menyilang (Mackinnon et al., 1998).
Tipe kaki burung disesuaikan dengan kebiasaan hidup dan keadaan habitat
dari burung tersebut yaitu wading (tipe kaki burung-burung rawa), kaki yang
panjang, mempunyai digiti yang panjang pula berguna untuk keseimbangan sewaktu
di air, contohnya adalah sandpiper. Swimming (tipe kaki perenang), kaki diantara
digitinya mempunyai selaput renang atau pada digiti ada pelebaran. Contoh yang
berselaput ini misalnya pada bebek. Sedangkan pada jenis burung lain ada yang
digitinya tidak berselaput tetapi ada pelebaran (lobate), contohnya adalah coot
(Fulica atra), kebiasaan burung ini menyelam dan berenang (Iskandar, 1989).
Perching (tipe kaki penghinggap), semua digiti terletak pada satu bidang
datar dan bisa memegang ranting ketika akan mengambil makanan. Digiti biasanya
berbentuk silindris, contohnya adalah burung finch (jenis-jenis gelatik). Grasping
(tipe kaki pemegang), kaki yang digiti depan bagian luar dapat diputar ke belakang
sewaktu mencengkram atau memegang. Tipe kaki ini umumnya terdapat pada
burung-burung pemangsa, misalnya osprey dan hawk. Climbing (tipe pemanjat), dua
digiti menghadap ke depan dan dua lagi menghadap ke belakang, contohnya adalah
burung pelatuk. Tipe pengais atau penggali, tiga digiti pada satu bidang datar sedang
digiti yang satu lagi ke belakang letaknya agak ke atas, contohnya adalah ayam.
Running (tipe kaki pelari, pejalan cepat), contohnya adalah burung unta (Rasmussen
& Anderson, 2005).

Penelitian mengungkap ada salah satu jenis Aves yaitu Sandhill crane tidak
menunjukkan teritorial intraspesifik yang jelas. Meskipun setiap pasangan spesies
tersebut mempunyai wilayah peternakan individu. Perwakilan dari semua kelompok
sosial, pasangan dengan anak ayam, pasangan tanpa anak ayam dan burung tunggal
bergerak bebas di wilayah yang luas dan bisa bertemu dan berhubungan dalam
kelompok hingga tujuh burung untuk waktu yang singkat. Sebuah ciri khas dari
Sandhill Cranes terjadi dekat Indigirka tundra yaitu gerakan konstan terkait dengan
mengumpulkan jumlah makanan, seperti tunas alang, invertebrata kecil, mamalia
(lemming dan tikus) dan anak ayam, serta burung kecil dari permukaan tanah tidak
pernah menunjukkan pemberian pakan terhubung dengan cara menggali. Sebaliknya,
Sandhill Cranes dekat Kolyma tundra menghabiskan 68% dari waktu makan di
daerah elevasi terendah dengan menggali akar alang menggunakan paruh yang khas
dari Siberia Cranes (Vladimirtseva, 2012).

BAB III. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum acara Aves yaitu bak preparat,
kamera dan alat tulis.
Bahan yang digunakan yaitu Burung Pipit (Lonchura leucogastroides), Ayam
Kampung (Gallus domestica) dan Burung Cekakak Sungai (Halcyon chloris).
B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum antara lain:
1. Spesimen diamati dan dideskripsikan karakternya berdasarkan ciri-ciri morfologi.
2. Diamati pula tipe paruh, tipe bulu dan tipe kaki pada spesimen tertentu, serta
ditunjuk bagian-bagiannya dan dideskripsikan.
3. Dibuat laporan sementara dari hasil praktikum.

B. Pembahasan
Praktikum acara Aves menggunakan preparat Lonchura leucogastroides,
Gallus domestica dan Halcyon chloris. Lonchura leucogastroides mempunyai nama

lokal Burung Pipit. Tubuhnya mempunyai bagian-bagian diantaranya adalah


tubuhnya terbagi menjadi tiga bagian yaitu caput, truncus dan cauda. Selain itu, juga
mempunyai mata, paruh, nostril, porus austicus, bulu auricula, remiges, retriches,
tetriches,

tibia,

tarsometatarsus

dan

uropygium.

Lonchura leucogastroides

mempunyai tipe paruh pemakan biji dan mempunyai tipe kaki petengger.
Gallus domestica mempunyai nama lokal Ayam Kampung. Bergerak dengan
kaki dan ekor sebagai penyeimbang. Gallus domestica mempunyai sistem
pencernaan yang sempurna yaitu mulut, kerongkongan, tembolok, lambung, usus dan
kloaka. Bernafas dengan paru-paru, sistem peredaran darah tertutup berganda, alat
indera berupa lidah, mata, selaput pendengar dan lubang hidung. Sistem saraf pusat
berupa otak dan reproduksinya bersifat ovivar (bertelur). Selain itu, Gallus
domestica mempunyai tipe paruh yang multifungsi atau pemakan segalanya,
mempunyai tipe bulu lengkap, namun hanya terdapat sedikit hamuli sehingga terbang
rendah dan mempunyai tipe kaki penggali.
Halcyon chloris mempunyai nama lokal Burung Cekakak Sungai. Halcyon
chloris mempunyai ukuran tubuh yang sedang sekitar 24 cm, umumnya berwarna
putih dan biru bersih, mahkota, sayap, ounggung dan ekor biru kehijau-hijauan
berkilau terang. Mata burung ini mempunyai garis hitam, terdapat bintik putih di atas
paruh. Iris berwarna cokelat, umumnya paruh atas berwarna abu tua, sedangkan
paruh bawah berwarna lebih pucat dan mempunayai kaki berwarna abu-abu.
Halcyon chloris mempunyai tipe bulu sayap lengkap dan terdapat banyak hamuli
sehingga dapat terbang tinggi dan mempunyai tipe paruh adalah paruh pemakan ikan.
Bulu lengkap dan bulu tidak lengkap dibedakan berdasarkan ada tidaknya
hamuli atau kait pada bulu tersebut. Tipe bulu lengkap mempunyai hamuli yang
berada pada bulu sayap dan bulu ekor. Sedangkan, tipe bulu tidak lengkap adalah tipe
bulu yang tidak mempunyai hamuli dan berada pada bulu tubuh. Selain itu, tioe bulu
lengkap terdiri atas batang bulu (rachis) yang merupakan kelanjutan dari calamus,
dan lembaran bulu (barbae). Tipe bulu tidak lengkap terdiri atas calamus yang
pendek, barbae tidak dalam bentuk lembaran. Tipe bulu lengkap merupakan bulu
utama yang penting untuk terbang, menyusun bagian sayap dan ekor. Tipe bulu tak
lengkap berfungsi untuk insulasi atau merupakan proses untuk mempertahankan
panas tubuh.
Perbedaan bulu cangak abu dengan bulu ayam dapat dibedakan dari
morfologi bulunya. Bulu cangak abu tersusun lebih rapat antara lembaran bulu yang

satu dengan lembaran bulu yang lain. Sehingga spesies cangak abu mampu terbang
tinggi. Hal ini dapat dikarenakan pada bulu cangak abu terdapat hamuli yang cukup
banyak karena semakin banyak hamuli di barbulae maka akan semakin dapat terbang
tinggi burung tertentu. Sedangkan, pada bulu ayam tersusun lebih jarang antara
lembaran bulu yang satu dengan lembaran bulu yang lain. Sehingga spesies dari
ayam hanya mampu terbang rendah. Hal ini dikarenakan pada bulu ayam mempunyai
hamuli yang tidak begitu banyak.

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa:

1. Preparat yang digunakan dalam praktikum kali ini adalah Lonchura


leucogastroides, Gallus domestica dan Halcyon chloris.
2. Beberapa karakter yang dimiliki oleh Lonchura leucogastroides mempunyai tipe
paruh pemakan biji dan tipe kaki petengger. Gallus domestica mempunyai
beberapa karakter yaitu tipe paruhnya adalah pemakan segalanya dan tipe kaki
adalah tipe penggali. Halcyon chloris mempunyai tipe paruh adalah tipe pemakan
ikan dan mempunyai tipe bulu lengkap pada sayap dan dapat terbang tinggi.
B. Saran
Saran untuk praktikum kali ini adalah agar contoh bulu yang digunakan untuk
praktikum dapat lebih beragam agar praktikan dapat lebih memahami dan
mengetahui contoh dari bulu lainnya.

DAFTAR REFERENSI
Adeng, S. & Madang, K. 2007. Zoologi Vertebrata. Bandung: Indralaya.
Brotowidjoyo, D.M. 1990. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga.
Buffalo, N.P.1968. Animal and Plant Diversity. New Jersey: Prentice-Hall.

Djuhanda, T. 1983. Analisa Struktur Vertebrata Jilid I. Bandung: Armico.


Gupta, KK (1995). "Sebuah catatan pada Baya, Ploceus philippinus bersarang pada
Krishnachuda (Delonix regia) pohon". J. Bombay Nat. Hist 92(1): 120-125.
Iskandar, J. 1989. Jenis Burung yang Umum di Indonesia. Jakarta: Djambatan.
Jasin, M. 1992. Zoologi Vertebrata Untuk Perguruan Tinggi. Surabaya: Sinar Jaya.
Kimball, J, W. 1999. Biologi Edisi Kelima Jilid 3. Jakarta: Erlangga.
Mackinnon, J.K, Philips and B.V. Balkh. 1998. Burung-Burung di Sumatra, Jawa,
Bali dan Kalimantan (termasuk Sabah, Serawak dan Brunei Darussalam).
Seri Panduan Lapangan. Jakarta: Puslitbang Biologi-LIPI.
Mukayat, D. 1990. Zoologi Vertebrata. Jakarta: Erlangga.
Radiopoetro. 1996. Zoologi. Jakarta: Erlangga.
Rasmussen PC & JC Anderton. 2005. Burung Selatan. The Ripley Guide. Panduan
Ripley. Volume 2. Smithsonian Institution and Lynx Edicions. Lembaga
Smithsonian dan Edicions Lynx. 395.
Vladimirtseva, M. 2012. Ecological features of Tundra Cranes in North-Eastern
Siberia (Aves, Gruide). Biodiversity Journal 3(1): 49-54.

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Tabel 4.1.1 Hasil Gambar dan Keterangan

Keterangan:
1. Caput
2. Truncus
3. Cauda
4. Mata
5. Paruh
6. Nostril
7. Porus austicus
8. Bulu auricula
9. Remiges
10. Rectriches
11. Tectriches
12. Tibia
13. Tarsometatarsus
14. Uropygium
Nama ilmiah: Lonchura
leucogastroides
Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum

: Chordata

Kelas

: Aves

Ordo

: Passeriformes

Famili

: Estrildidae

Genus

: Lonchura

Spesies

: Lonchura leucogastroides

Deskripsi
Lonchura leucogastroides mempunyai nama lokal Burung Pipit. Tubuhnya
mempunyai bagian-bagian diantaranya adalah tubuhnya terbagi menjadi tiga bagian
yaitu caput, truncus dan cauda. Selain itu, juga mempunyai mata, paruh, nostril,
porus austicus, bulu auricula, remiges, retriches, tetriches, tibia, tarsometatarsus dan
uropygium. Lonchura leucogastroides mempunyai tipe paruh pemakan biji dan
mempunyai tipe kaki petengger.

Keterangan:
1.
2.
3.
4.

Paruh
Kaki
Sayap
Mata

Nama ilmiah: Halcyon chloris


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum

: Chordata

Kelas

: Aves

Ordo

: Coraciiformes

Famili

: Alcedinidae

Genus

: Halcyon

Spesies

: Halcyon chloris

Deskripsi
Halcyon chloris mempunyai nama lokal Burung Cekakak Sungai. Halcyon chloris
mempunyai ukuran tubuh yang sedang sekitar 24 cm, umumnya berwarna putih dan
biru bersih, mahkota, sayap, ounggung dan ekor biru kehijau-hijauan berkilau terang.
Mata burung ini mempunyai garis hitam, terdapat bintik putih di atas paruh. Iris
berwarna cokelat, umumnya paruh atas berwarna abu tua, sedangkan paruh bawah
berwarna lebih pucat dan mempunayai kaki berwarna abu-abu. Halcyon chloris
mempunyai tipe bulu sayap lengkap dan terdapat banyak hamuli sehingga dapat
terbang tinggi dan mempunyai tipe paruh adalah paruh pemakan ikan.

Keterangan:
1.
2.
3.
4.

Paruh
Kaki
Sayap
Mata

Nama ilmiah: Gallus domestica


Klasifikasi
Kingdom : Animalia
Filum

: Chordata

Kelas

: Aves

Ordo

: Galliformes

Famili

: Phasianidae

Genus

: Gallus

Spesies

: Gallus domestica

Deskripsi
Gallus domestica mempunyai nama lokal Ayam Kampung. Bergerak dengan kaki dan
ekor sebagai penyeimbang. Gallus domestica mempunyai sistem pencernaan yang
sempurna yaitu mulut, kerongkongan, tembolok, lambung, usus dan kloaka. Bernafas
dengan paru-paru, sistem peredaran darah tertutup berganda, alat indera berupa lidah,
mata, selaput pendengar dan lubang hidung. Sistem saraf pusat berupa otak dan
reproduksinya bersifat ovivar (bertelur). Selain itu, Gallus domestica mempunyai
tipe paruh yang multifungsi atau pemakan segalanya, mempunyai tipe bulu lengkap,
namun hanya terdapat sedikit hamuli sehingga terbang rendah dan mempunyai tipe
kaki penggali.
Keterangan:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Calamus
Rachis
Barbae
Barbulae
Hamuli
Sulcus

Deskripsi
Bulu ayam tersusun lebih jarang antara lembaran bulu yang satu dengan lembaran
bulu yang lain. Sehingga spesies dari ayam hanya mampu terbang rendah. Hal ini
dikarenakan pada bulu ayam mempunyai hamuli yang tidak begitu banyak.

Keterangan :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Calamus
Rachis
Barbae
Barbulae
Hamuli
Sulcus

Deskripsi
Bulu cangak abu tersusun lebih rapat antara lembaran bulu yang satu dengan
lembaran bulu yang lain. Sehingga spesies cangak abu mampu terbang tinggi. Hal ini
dapat dikarenakan pada bulu cangak abu terdapat hamuli yang cukup banyak karena
semakin banyak hamuli di barbulae maka akan semakin dapat terbang tinggi burung
tertentu.