Anda di halaman 1dari 21

JULY 1, 2015

PEDOMAN ORGANISASI
KOMITE MEDIS

RUMAH SAKIT WAVA HUSADA


JL. PANGLIMA SUDIRMAN NO. 99A, KEPANJEN, MALANG65163
TEL. 0341 393000 ; FAX. 0341 398398
email : info@wavahusada.com

BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Rumah sakit diakui merupakan institusi yang sangat kompleks dan berisiko
tinggi (high risk), terlebih dalam kondisi lingkungan regional dan global yang
sangat dinamis perubahannya. Salah satu pilar pelayanan medis adalah clinical
governance, dengan unsur staf medis yang dominan. Direktur rumah sakit
bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di rumah sakit
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit.
Keberadaan staf medis dalam rumah sakit merupakan suatu keniscayaan karena
kualitas pelayanan rumah sakit sangat ditentukan oleh kinerja para staf medis
dirumah sakit tersebut. Yang lebih penting lagi kinerja staf medis akan sangat
mempengaruhi keselamatan pasien di rumah sakit. Untuk itu rumah sakit perlu
menyelenggarakan tata kelola klinis (clinical governance) yang baik untuk
melindungi pasien. Hal ini sejalan dengan amanat peraturan perundangundangan yang terkait dengan kesehatan danp erumahsakitan. Peraturan
Menteri Kesehatan ini dimaksudkan untuk memperbaiki dan meningkatkan
kinerja komite medis dirumah sakit.
Peraturan Menteri Kesehatan ini diharapkan akan meluruskan persepsi keliru
yang menganggap Komite Medis adalah wadah untuk memperjuangkan
kesejahteraan para staf medis. Sejalan dengan semangat profesionalisme
seharusnya Komite Medis melakukan pengendalian kompetensi dan perilaku
para
staf
medis
agar
keselamatan
pasien
terjamin.
Pemahaman
selfgovernance seperti yang diatur dalam Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia nomor 631/MENKES/SK/IV/2005 tentang Pedoman Peraturan
Internal Staf Medis (Medical Staff Bylaws) di Rumah Sakit dapat disalahartikan
sebagai tindakan pengelolaan (manajemen) rumah sakit. Apalagi bila struktur
Komite Medis diletakkan sejajar dengan direktur rumah sakit, maka dengan
kekeliruan pemahaman self governance di atas dapat terjadi kesimpangsiuran
dalam pengelolaan pelayanan medis. Kondisi semacam itu tentu tidak dapat
dibiarkan dan harus diperbaiki.
Peraturan Menteri Kesehatan ini menata kembali professional selfgovernance
dengan meletakkan struktur komite medis di bawah kepala/direktur rumah sakit
karena di Indonesia direktur rumah sakit sampai pada tingkat tertentu berperan
sebagai governing board. Dengan penataan tersebut maka dapatlah dikatakan
bahwa semua isu keprofesian (kredensial, penjagaan mutu profesi, dan
penegakan disiplin profesi) berada dalam pengendalian governing board.
Sejalan dengan hal itu kepala/direktur rumah sakit berkewajiban menyediakan
segala sumber daya antara lain meliputi : waktu, tenaga, biaya, sarana, dan
prasarana agar tata kelola klinis dapat terselenggara dengan baik. Direktur
rumah sakit harus menjamin agar semua informasi keprofesian setiap staf medis
terselenggara dan terdokumentasi dengan baik sehingga dapat diakses oleh
komite medis. Agar tata kelola klinis (clinical governance) terlaksana dengan
baik di seluruh wilayah Republik Indonesia, seluruh rumah sakit bekerja sama
dalam hal akses informasi keprofesian ini melalui organisasi profesi
perumahsakitan.
Lebih jauh lagi, bila komite medis menangani berbagai hal yang bersifat
pengelolaan, seperti misalnya : Tim Rekam Medis, Tim Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi, dan Tim Farmasi dan Terapi, hal ini akan merancukan
fungsi keprofesian dengan fungsi pengelolaan rumah sakit. Oleh karenanya
dalam Peraturan Menteri Kesehatan ini, Komite Medis ditegaskan hanya
menangani masalah keprofesian saja dan bukan menangani pengelolaan rumah
sakit yang seharusnya dilakukan kepala/direktur rumah sakit. Kepala/direktur
rumah sakit dapat membentuk berbagai panitia/pokja dalam rangka
meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit. Panitia/pokja tersebut bertanggung
jawab langsung kepada kepala/direktur rumah sakit.
Rumah sakit harus menerapkan model Komite Medis yang menjamin tata kelola
klinis (clinical governance) untuk melindungi pasien. Dalam model tersebut
2

setiap staf medis dikendalikan dengan mengatur kewenangan klinisnya (clinical


privilege) untuk melakukan pelayanan medis, hanya staf medis yang memenuhi
syarat-syarat kompetensi dan perilaku tertentu sajalah yangboleh melakukan
pelayanan medis. Pengaturan kewenangan klinis tersebut dilakukan dengan
mekanisme pemberian izin untuk melakukan pelayanan medis (entering to the
profession), kewajiban memenuhi syarat-syaratkompetensi dan perilaku tertentu
untuk
mempertahankan
kewenangan
klinis
tersebut
(maintaining
professionalism), dan pencabutan izin (expelling from the profession). Untuk
melindungi keselamatan pasien, Komite Medis dirumah sakit harus memiliki
ketiga mekanisme diatas. Fungsi lain di luar ketiga fungsi di atas dilaksanakan
oleh kepala/direktur rumah sakit.
Untuk menjamin agar Komite Medis berfungsi dengan baik, organisasi dan tata
laksana Komite Medis dituangkan dalam peraturan internal staf medis (medical
staff bylaws) yang disusun dengan Keputusan Karumkit. Pada prinsipnya
peraturan internal stafmedis (medical staff bylaws) merupakan dasar normatif
bagi setiap stafmedis agar tercipta budaya profesi yang baik dan akuntabel.

B. MAKSUD DAN TUJUAN


1. Maksud :
Pedoman kerja ini disusun dengan tujuan agar dapat digunakan sebagai dasar
pelaksanaan kerja fungsional Komite Medis di Rumah Sakit Wava Husada.
2. Tujuan khusus
a. Sebagai pedoman kerja fungsional Komite Medis di rumah sakit
b. Untuk meningkatkan mutu pengorganisasian fungsional Komite Medis di
rumah sakit
c. Untuk menerapkan konsep pelayanan medis
d. Untuk memperluas fungsi dan peran staf medis rumah sakit
e. Untuk melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak profesional

C. DASAR KEBIJAKAN :
1. Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 tentang Rumah Sakit
2. Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 755/Menkes/Per/III/2011 tentang
Komite Medis
3. Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 631/Menkes/SK/IV/2005 tanggal 25
April 2005 tentang Pedoman Peraturan Internal Staf Medis (Medical Staff
Bylaws) di Rumah Sakit
4. Hospital By Law Rumah Sakit Wava Husada

D. SISTEMATIKA
BAB I

BAB II
BAB III
BAB IV
BAB V

BAB VI

Pendahuluan
A. Latar Belakang
B. Tujuan Umum
C. Tujuan Khusus
Gambaran Umum Rumah Sakit
A. Sejarah
B. Tugas Pokok dan Fungsi Rumah Sakit Wava Husada
Visi, Misi, Falsafah, Nilai dan Tujuan RS
A. Visi, Misi, Falsafah, Nilai dan Tujuan
B. Pengertian, Falsafah, Tugas, Fungsi, Dan Tujuan Komite Medis
Struktur Organisasi RS
Struktur Organisasi Komite Medis
A. Sub Komite Kredensial
B. Sub Komite Mutu Profesi
C. Sub Komite Etika dan Disiplin Profesi
Uraian Jabatan
3

BAB
BAB
BAB
BAB

VII
VIII
IX
X

Tata Hubungan Kerja


Pola Ketenagaan dan Kualifikasi Personil
Kegiatan Orientasi
Pertemuan/rapat
A. Rapat Rutin
B. Rapat Khusus
C. Rapat Pleno

BAB II GAMBARAN UMUM RS


A. SEJARAH
Rumah Sakit Wava Husada dibangun dari ide yang penuh dengan semangat
idealisme yang ingin memberikan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi seluruh
lapisan masyarakat. Rumah Sakit Wava Husada merupakan Rumah Sakit Swasta
penuh setingkat Rumah Sakit Umum Tipe C, milik PT. Abna Samanhudisautika
Husada yang berdiri dan beroperasional sejak bulan Januari tahun 2006,
berdasarkan
Surat Keputusan Kepala Dinas Propinsi Jawa Timur Nomer :
HK.07.06/III/
/1279/07
tentang
Ijin
penyelenggaraan
kepada
PT
Abnasamhudisautika Husada untuk menyelenggarakan rumah sakit. Rumah
Sakit Wava
Husada di buka secara resmi dan mulai memberikan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat pada tanggal 18 Januari 2006 dan pada tahun
2012 RS Wava Husada telah mendapatkan sertifikat lulus Akreditasi 5 Pelayanan
Dasar dari Komite Akreditasi RS.
Rumah Sakit Wava Husada berlokasi di Jalan Panglima Sudirman No. 99A, Desa
Dilem, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang yang berdiri diatas lahan seluas
14.876 m2 dengan luas bangunan 6.644 m2. Letak Rumah Sakit Wava Husada
ini sangat strategis karena berada di jalur utama MalangBlitar sehingga mudah
dijangkau oleh kendaraan umum. Gedung Rumah Sakit yang megah dan kokoh
di sesuaikan dengan lay out idealisasi alur penanganan pasien yang berdiri tepat
di pintu gerbang Kota Kepanjen.
Pada awal dibukanya pada tahun 2006 Rumah Sakit Wava Husada mempunyai
45 tempat tidur dan melayani beberapa poliklinik spesialis dasar yaitu poliklinik
umum, poliklinik gigi, poliklinik spesialis penyakit dalam, poliklinik spesialis
bedah, poliklinik spesialis anak, poliklinik spesialis penyakit paru, poliklinik
spesialis tht, poliklinik spesialis syaraf, poliklinik spesialis kebidanan (obsgyn),
poliklinik kesehatan ibu dan anak, pelayanan keluarga berencana (KB), poliklinik
spesialis mata, poliklinik spesialis kulit dan kelamin.
Selama 9 tahun berdiri sampai pada tahun 2015 ini Rumah Sakit Wava Husada
berkembang cukup pesat dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat
dalam menyediakan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Pada pelayanan
rawat inap, jumlah tempat tidur bertambah menjadi 150 (termasuk Perinatologi)
dengan adanya tambahan di ruang perawatan khusus pasien nifas. Tempat tidur
terdiri dari berbagai jenjang kelas perawatan dari kelas III sampai dengan VVIP.
Pada perencanaan pembangunan gedung tahap 3 yang dimulai akhir tahun
2014 akan menambah ruang pelayanan Poliklinik dan menambah kamar untuk
pelayanan rawat inap karena mulai tahun 2014 ini RS Wava Husada melayani
pasien BPJS. Daftar ruang rawat inap terlampir. Pada pelayanan Poliklinik rawat
jalan juga terdapat pengembangan pelayanan di Klinik Bedah Plastik dengan
membuka pelayanan untuk Rekonstruksi dan Kecantikan.
Dari semua peningkatan pelayanan tersebut diharapkan bisa lebih
mengoptimalkan pelayanan rumah sakit kepada masyarakat sehingga bisa
membantu pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan yang lebih
memadai serta mengacu kepada wacana pemerintah dalam pencanangan
program MDGs (Millennium Development Goals) tahun 2015.

B. TUJUAN
1. Menciptakan sistem pelayanan yang mudah dan sistem manajemen yang
dinamis dan bertanggung jawab.
2. Meningkatkan pelayanan dalam rangka mencapai kepuasan terhadap semua
pelanggan.
3. Mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
4. Memberikan pelayanan paripurna kepada pelanggan.
5. Menciptakan produk unggulan Rumah Sakit.
6. Menjangkau pelanggan dari segi wilayah, ekonomi dan kondisi kesehatan.
5

7. Menjalin kerjasama dengan mitra kerja.


8. Menyediakan prasarana dan sarana sesuai dengan standar.

BAB III VISI MISI


A. VISI, MISI, DAN MOTTO
1. Visi
Menjadi rumah sakit unggulan dalam pelayanan untuk mencapai kepuasan
pelanggan.
2. Misi
a. Menjangkau dan melayani pelanggan secara profesional dan sepenuh hati
(khidmah).
b. Menyediakan prasarana dan sarana yang berkualitas.
3. Motto
Peduli Pelayanan Kesehatan Berkualitas
Variabel
Visi
RS Unggulan
pelayanan

Kepuasan
pelanggan

Definisi
1
2
3
4
1
2
3
4
5

Misi
Menjangkau

Melayani

Pelanggan
Profesional

Sepenuh hati
(Khidmah)
Prasarana dan
sarana
Berkualitas

Kualitas pelayanan yang unggul


Mempunyai produk unggulan
Alur pelayanan yang mudah
Proses pelayanan yang cepat dan tepat
Pelanggan puas dengan pelayanan yang
diberikan
Survey kepuasan pelanggan
Penanganan komplain
Tindak lanjut komplain langsung pada hari yang
sama
Menjalin hubungan baik dengan pelanggan

1 Menjangkau pelanggan sekitar area malang


selatan sampai dengan perbatasan kabupaten
malang (Biltar dan Lumajang)
2 Menjangkau semua kalangan ekonomi bawah
hingga atas
3 Menjangkau orang sakit maupun sehat
4 Menjangkau mitra kerja RS
1 Melayani pelanggan paripurna mulai awal
sampai akhir
2 Pelayanan preventif, promotif, kuratif dan
rehabilitatif
3 Penjemputan dan pengantaran pasien
1 Semua yang terlibat dalam pelayanan RS
2 (ekstenal, Internal, rekanan)
1 Sumber Daya Manusia yang mempunyai
standar kompetensi dan menjalankan etika
profesi
2 Memberikan pelayanan sesuai SPO
3 Manajemen yang bertanggung jawab
1 Memberikan pelayanan kepada pasien dengan
sungguh-sungguh (service excellent) dan
melebihi harapan pelanggan.
Menyediakan
prasarana
dan
sarana
yang
berkualitas seusai dengan standart RS
1 Perawatan berkala
2 Menggunakan alat standar ISO
7

3 Standar bangunan yang kokoh, bersih, nyaman


dan aman
4 Akurasi alat medis terstandar
5 Sesuai standar pemerintah

B. PENGERTIAN, FALSAFAH, TUGAS, DAN TUJUAN KOMITE


MEDIS
1. PENGERTIAN
a. Komite Medis adalah wadah profesional medis yang keanggotaanya
berasal dari Ketua Kelompok Staf Medis dan atau yang mewakili.
b. Sub Komite adalah kelompok kerja di bawah Komite medik yang
dibentuk untuk mengatasi masalah khusus. Anggota Sub Komite
terdiri dari staf medis dan tenaga profesi lainnya secara ex-officio.
c. Staf Medis adalah dokter, dokter gigi, dokter spesialis dan dokter gigi
spesialis yang bekerja purna waktu maupun paruh waktu di unit
pelayanan rumah sakit.
d. Unit pelayanan antara lain adalah rawat jalan, rawat inap, gawat
darurat/ rawat darurat, rawat intensif, kamar operasi, kamar bersalin,
radiologi, laboratorium, rehabilitasi medis.
e. Pelayanan medis spesialistik dasar adalah pelayanan medis
spesialistik penyakit dalam, kebidanan dan penyakit kandungan, bedah
dan kesehatan anak.
f. Pelayanan medis spesialistik luas adalah pelayanan medis spesialis
dasar ditambah dengan pelayanan spesialistik telinga, hidung dan
tenggorokan, mata, syaraf, jiwa, kulit dan kelamin, jantung, paru,
radiologi, anestesi, rehabilitasi medis, patologi klinis, patologi anatomi
dan pelayanan spesialis lain sesuai dengan kebutuhan.
g. Pelayanan medis subspesialistik luas adalah pelayanan sub
spesialisasi yang ada.
h. Unit kerja merupakan unit pelayanan.
i. Tenaga administrasi adalah orang atau sekumpulan orang yang
bertugas melaksanakan administrasi perkantoran guna menunjang
pelaksanaan tugas-tugas staf medis, komite medik, dan sub komite
khususnya yang terkait dengan etik dan mutu medis.
2. FALSAFAH
Fokus terhadap kebutuhan pasien sehingga menghasilkan pelayanan medis
yang berkualitas dan bertanggung jawab.
3. TUGAS
Tugas dari komite medis, meliputi :
a. Membantu Direktur rumah sakit menyusun standar pelayanan medis
dan memantau pelaksanaannya.
b. Melaksanakan pembinaan etika profesi, disiplin profesi dan mutu profesi.
c. Mengatur kewenangan profesi antar kelompok staf medis.
d. Membantu Direktur rumah sakit menyusun medical staff bylaws dan
memantau pelaksanaannya.
e. Membantu Direktur rumah sakit menyusun kebijakan dan prosedur yang
terkait dengan mediko-legal.
f. Membantu Direktur rumah sakit menyusun kebijakan dan prosedur yang
terkait dengan etiko-legal.
g. Melakukan koordinasi dengan Direktur Medis dalam melaksanakan
pemantauan dan pembinaan pelaksanaan tugas kelompok staf medis.
h. Meningkatkan program pelayanan, pendidikan dan pelatihan serta
penelitian dan pengembangan dalam bidang medis.
i. Melakukan monitoring dan evaluasi mutu pelayanan medis antara lain :
melalui monitoring dan evaluasi kasus bedah, penggunaan obat
(drug usage), farmasi dan terapi, ketepatan, kelengkapan dan
keakuratan rekam medis, tissue review, mortalitas dan morbiditas,
8

j.

medical care review/peer review/audit medis melalui pembentukan sub


komite-sub komite
Memberikan laporan kegiatan kepada Direktur rumah sakit dan atau
pemilik rumah sakit.

4. TUJUAN
a. Melaksanakan kegiatan profesi yang meliputi prosedur diagnosis,
pengobatan, pencegahan, pencegahan akibat penyakit peningkatan
dan pemulihan
b. Meningkatkan
kemampuan
profesinya,
melalui
program
pendidikan/pelatihan berkelanjutan.
c. Menjaga agar kualitas pelayanan sesuai dengan standar profesi,
standar pelayanan medis dan etika kedokteran yang sudah ditetapkan
d. Menyusun, mengumpulkan, menganalisa dan membuat laporan
pemantauan indikator mutu klinik.

BAB IV STRUKTUR ORGANISASI RS

10

BAB V
STRUKTUR ORGANISASI KOMITE MEDIS

DIREKTUR

KETUA KOMITE
MEDIS
Dr. Arief Sinda W.,
Sp.B

Ketua Sub Komite


Etika dan Disiplin
Profesi
Dr. Wisnu Wijanarko,
Sp.An

Ketua Sub Komite


Mutu Profesi Medis
dr. Johan Bastian, Sp.OT

SEKRETARIS KOMITE
MEDIS
Dr. Dyah Ratnawati, Sp.PD

Ketua Sub Komite


Kredensial
dr. Retno Harjanti H.,
Sp.OG

SUSUNAN KEANGGOTAAN KOMITE MEDIS


Ketua
Sekretaris

: Dr. Arief Sinda W., Sp.B


: Dr. Dyah Ratnawati, Sp.PD

Sub Komite Mutu Profesi Medis


Ketua

: dr. Johan Bastian, Sp.OT

Anggota

: dr. R. Satriyo Aji, Sp.OT


Dr. Ganda Vimbiar Diansyah

Sub Komite Etika dan Disiplin Profesi


Ketua

: dr. Wisnu Wijanarko, Sp.An

Anggota

: dr. Murtadho Sani, Sp.JP-FIHA


Dr. M. Fachruddin Mulyono, Sp.THT-KL

Sub Komite Kredensial


Ketua

: dr. Retno Harjanti H., Sp.OG

Anggota

: dr. Joni Budhi S, Sp. An. Mkes


Dr. Ariani Ratri Dewi, Sp.M

Komite Medis menjalankan fungsi untuk menegakkan profesionalisme dengan


mengendalikan staf medis yang melakukan pelayanan medis dirumah sakit.
Pengendalian tersebut dilakukan dengan mengatur secara rinci kewenangan
melakukan pelayanan medis (delineation of clinical privileges).
11

Pengendalian ini dilakukan secara bersama oleh kepala/direktur rumah sakit dan
Komite Medis. Komite Medis melakukan kredensial, meningkatkan mutu profesi, dan
menegakkan disiplin profesi serta merekomendasikan tindak lanjutnya kepada
kepala/direktur rumah sakit sedangkan kepala/direktur rumah sakit menindaklanjuti
rekomendasi Komite Medis dengan mengerahkan semua sumber daya agar
profesionalisme para staf medis dapat diterapkan dirumah sakit. Komite Medis
ditegaskan hanya menangani masalah keprofesian saja dan bukan menangani
pengelolaan rumah sakit yang seharusnya dilakukan kepala/direktur rumah sakit.

A. SUB-KOMITE KREDENSIAL
Salah satu upaya rumah sakit dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya
untuk menjaga keselamatan pasiennya adalah dengan menjaga standar dan
kompetensi para staf medis yang akan berhadapan langsung dengan para
pasien di rumah sakit. Upaya ini dilakukan dengan cara mengatur agar setiap
pelayanan medis yang dilakukan terhadap pasien hanya dilakukan oleh staf
medis yang benar-benar kompeten. Kompetensi ini meliputi dua aspek,
kompetensi profesi medis yang terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan
perilaku profesional, serta kompetensi fisik dan mental. Walaupun seorang staf
medis telah mendapatkan brevet spesialisasi dari kolegium ilmu kedokteran
yang bersangkutan, namun rumah sakit wajib melakukan verifikasi kembali
keabsahan bukti kompetensi seseorang danmenetapkan kewenangan klinis
untuk melakukan pelayanan medis dalam lingkup spesialisasi tersebut, hal ini
dikenal dengan istilah credentialing.

B. SUB-KOMITE MUTU PROFESI


Kualitas pelayanan medis yang diberikan oleh staf medis sangat ditentukan oleh
semua aspek kompetensi staf medis dalam melakukan penatalaksanaan asuhan
medis (medical care management). Mutu suatu penatalaksanaan asuhan medis
tergantung pada upaya staf medis memelihara kompetensi seoptimal mungkin.
Untuk mempertahankan mutu dilakukan upaya pemantauan dan pengendalian
mutu profesi melalui :
1. memantau kualitas, misalnya morning report, kasus sulit, ronde ruangan,
kasus kematian (death case), audit medis, journal reading;
2. tindak lanjut terhadap temuan kualitas, misalnya pelatihan singkat (short
course), aktivitas pendidikan berkelanjutan, pendidikan kewenangan
tambahan.

C. SUB-KOMITE ETIKA DAN DISIPLIN PROFESI


Setiap staf medis dalam melaksanakan asuhan medis di rumah sakit harus
menerapkan prinsip-prinsip profesionalisme kedokteran kinerja profesional yang
baik sehingga dapat memperlihatkan kinerja profesi yang baik. Dengan kinerja
profesional yang baik tersebut pasien akan memperoleh asuhan medis yang aman
dan efektif.
Upaya peningkatan profesionalisme staf medis dilakukan dengan melaksanakan
program pembinaan profesionalisme kedokteran dan upaya pendisiplinan
berperilaku profesional staf medis di lingkungan rumah sakit.
Dalam penanganan asuhan medis tidak jarang dijumpai kesulitan dalam
pengambilan keputusan etis sehingga diperlukan adanya suatu unit kerja yang
dapat membantu memberikan pertimbangan dalam pengambilan keputusan etis
tersebut.
Pelaksanaan keputusan subkomite etika dan disiplin profesi di rumah sakit
merupakan upaya pendisiplinan oleh Komite Medis terhadap staf medis di rumah
sakit yang bersangkutan sehingga pelaksanaan dan keputusan ini tidak terkait atau
tidak ada hubungannya dengan proses penegakan disiplin profesi kedokteran di
lembaga pemerintah, penegakan etika medis di organisasi profesi, maupun
penegakanhukum.
12

Pengaturan dan penerapan penegakan disiplin profesi bukanlah sebuahpenegakan


disiplin kepegawaian yang diatur dalam tata tertib kepegawaian pada umumnya.

13

BAB VI
URAIAN JABATAN
Komite Medis dibentuk dengan tujuan untuk menyelenggarakan tata kelola klinis
(clinical governance) yang baik agar mutu pelayanan medis dan keselamatan pasien
lebih terjamin dan terlindungi
a. Menyelenggarakan komunikasi yang efektif dan mewakili pendapat, kebijakan,
laporan, kebutuhan dan keluhan staf medis yang berkaitan dengan tugas
pelayanan rumah sakit.
b. Menyelenggarakan dan bertanggung jawab atas semua risalah rapat yang
diselenggarakan Komite Medis.
c. Menunjuk petugas yang mewakili Komite Medis dalam setiap kepanitiaan di
Rumah Sakit yang memerlukan perwakilan dari staf medis.
d. Menghadiri rapat / pertemuan- pertemuan dengan Kepala rumah sakit lain
apabila diundang.
e. Menunjuk sekretaris Komite Medis dan ketua ketua sub komite atau panitia
dalam Komite Medis rumah sakit untuk mendapat penetapan dari Kepala rumah
sakit.
f. Menentukan agenda setiap rapat Komite Medis
1. Sub-komite kredensial bertujuan
a. Untuk melindungi keselamatan pasien dengan memastikan bahwa stafmedis
yang akan melakukan pelayanan medis dirumah sakit kredibel
b. Mendapatkan dan memastikan staf medis yang profesional dan akuntabel
bagi pelayanan di rumah sakit
c. Tersusunnya jenis-jenis kewenangan klinis (clinical privilege) bagi setiapstaf
medis yang melakukan pelayanan medis di rumah sakit sesuaidengan cabang
ilmu
kedokteran/kedokteran
gigi
yang
ditetapkan
olehkolegium
kedokteran/kedokteran gigi indonesia
d. Dasar bagi kepala/direktur rumah sakit untuk menerbitkan penugasanklinis
(clinical appointment) bagi setiap staf medis untuk melakukanpelayanan
medis di rumah sakit
e. Terjaganya reputasi dan kredibilitas para staf medis dan institusi rumah sakit
di hadapan pasien, penyandang dana, dan pemangku kepentingan
(stakeholders) rumah sakit lainnya
2. Sub-komite Mutu Profesi bertujuan
a. Memberikan perlindungan terhadap pasien agar senantiasa ditanganioleh staf
medis yang bermutu, kompeten, etis, dan profesional
b. Memberikan asas keadilan bagi staf medis untuk memperoleh kesempatan
memelihara kompetensi (maintaining competence) dan kewenangan klinis
(clinical privilege)
c. Mencegah terjadinya kejadian yang tak diharapkan (medical mishaps)
d. Memastikan kualitas asuhan medis yang diberikan oleh staf medis melalui
upaya pemberdayaan, evaluasi kinerja profesi yang berkesinambungan (ongoing professional practice evaluation), maupun evaluasi kinerja profesi yang
terfokus (focused professional practice evaluation).
3. Sub-komite Etika dan Disiplin Profesi bertujuan
a. Melindungi pasien dari pelayanan staf medis yang tidak memenuhisyarat
(unqualified) dan tidak layak (unfit/unproper) untuk melakukanasuhan klinis
(clinical care).
b. Memelihara dan meningkatkan mutu profesionalisme staf medis di rumah
sakit.

14

BAB VII
TATA HUBUNGAN KERJA
Dalam melaksanakan tugasnya Komite Medis berhubungan, berkoordinasi, dan terkait dengan unit -unit lain di Rumah Sakit Wava Husada
antara lain : Bagian Diklat, Komite Keperawatan, Kelompok Staf Medis, Tim Farmasi & terapi, Tim Mutu RS, Tim Etik RS, Tim KPRS, Bagian
Minpers, Bagian Minmed, dan Bagian Perbekalan.

A. TATA HUBUNGAN KOMITE MEDIS DENGAN UNIT LAIN

Tim KPRS

Bagian
Umum dan
PSDM

Tim Farmasi &


Terapi

Bagian
Perbekalan

Tim Mutu
RS

KomiteMedik
Unit
Rekam

Komite
Keperawatan

Bagian
Diklat

Kelompok
Staf
Medis

Tim Etik
RS

15

Ket :
1. Komite Medis berhungan dengan Bagian Umum dan PSDM
a. Penyiapan dokumendokumen yang diperlukan dalam melaksanakan
credentialy
b. Penerapan sanksi sanksi atas pelanggaran disiplin profesi
2. Komite Medis berhubungan dengan Unit Rekam Medis
a. Pemanfaatan rekam medik untuk kepentingan audit medis
b. Penelusuran rekam medik dalam pemeriksaan pelanggaran Etika dan
Disiplin Profesi
3. Komite Medis berhubungan dengan Bagian Diklat
a. Melaksanakan program pendidikan berkelanjutan bagi Staf Medis
4. Komite Medis berhubungan langsung dengan Tim Farmasi & Terapi
a. Pelaksanaan Pedoman Praktek Klinik (SPM)
b. Pemeriksaan kasuskasus yang berhubungan dengan kepentingan Etika &
Disiplin Profesi
5. Komite Medis berhubungan dengan Tim Mutu RS
a. Pelaksanaan proses peningkatan mutu staf medis
6. Komite Medis berhubungan dengan Tim Etik RS
a. Penulusuran kasus- kasus yang didapat pelanggaran Etika Profesi
7. Komite Medis berhubungan dengan Bagian Perbekalan
a. Perencanaan dan pengadaan peralatan, ATK dan Logistik yang dibutuhkan
dalam kegiatan Komite Medis
8. Komite Medis berhubungan langsung dengan Tim KPRS
a. Penerapan program- program keselamatan pasien RS
b. Penelitian kasuskasus yang berhubungan dengan keselamatan pasien
yang terkait dengan staf medis
9. Komite Medis berhubungan dengan KSM (Kelompok Staf Medis)
a. Pemilihan topik -topik yang akan dilaksanakan audit medis
b. Melaksanakan pendidikan berkelanjutan bagi staf medis
c. Melaksanakan proses pendampingan (proctoring) bagi staf medis yang
membutuhkan pembinaan profesionalisme kedokteran
10.Komite Medis berhubungan dengan Komite Keperawatan
a. Pelaksanaan pembinaan peningkatan mutu pelayanan profesi kedokteran
b. Bantuan/masukan dalam pemeriksaan kasuskasus pelanggaran Etika &
Disiplin Profesi staf medis

B. TATA HUBUNGAN KERJA KOMITE MEDIS RUMAH SAKIT


WAVA HUSADA DENGAN DIREKTUR RUMAH SAKIT WAVA
HUSADA
Ketua Komite Medis bertanggung jawab kepada Direktur Rumah Sakit Wava
Husada. Di satu pihak, Rumah Sakit Wava Husada berkewajiban untuk
menyediakan segala sumber daya agar Komite Medis dapat berfungsi dengan
baik untuk menyelenggarakan profesionalisme staf medis sesuai dengan
ketentuan dalam Peraturan Menteri Kesehatan ini. Di lain pihak, Komite Medis
memberikan laporan tahunan dan laporan berkala tentang kegiatan keprofesian
yang dilakukannya kepada Direktur. Dengan demikian lingkup hubungan antara
Direktur dengan Komite Medis adalah dalam hal-hal yang menyangkut
profesionalisme staf medis saja. Hal-hal yang terkait dengan pengelolaan rumah
sakit dan sumber dayanya dilakukan sepenuhnya oleh direktur rumah sakit.
Untuk mewujudkan tata kelola klinis (clinical governance) yang baik Direktur
bekerjasama dalam hal pengaturan kewenangan melakukan tindakan medik di
rumah sakit. Kerjasama tersebut dalam bentuk rekomendasi pemberian
kewenangan klinis untuk melakukan pelayanan medis dan rekomendasi
pencabutannya oleh Komite Medis. Untuk mewujudkan pelayanan klinis yang
baik, efektif, professional, dan aman bagi pasien, sering terdapat kegiatan
pelayanan yang terkait erat dengan masalah keprofesian. Direktur bekerjasama
dengan Komite Medis untuk menyusun pengaturan layanan medis (medical staff
rules and regulations) agar pelayanan yang profesional terjamin mulai saat
pasien masuk rumah sakit hingga keluar dari rumah sakit.

16

BAB VIII
POLA KETENAGAAN DAN KUALIFIKASI PERSONIL
Komite Medis Rumah Sakit Wava Husada dibentuk dan ditetapkan oleh Direktur
sebagai organisasi non struktural yang bertanggung jawab kepada
Direktur.Komite Medis berfungsi menegakkan professional dan mengendalikan
staf medis dalam menjalankan pelayanan medis di Rumah Sakit Wava Husada.
Susunan kepengurusan Komite Medis Rumah Sakit Wava Husada terdiri ketua,
sekretaris dan anggota.
Di dalam Komite Medis dibentuk 3 (tiga) subkomite yang terdiri dari :
a. Subkomite Kredensial
Subkomite kredensial terdiri atas sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang staf
medis yang memiliki surat penugasan klinis (clinical appointment) di Rumah
Sakit Wava Husada dan berasal dari disiplin ilmu yang berbeda.
Pengorganisasian subkomite kredensial sekurang-kurangnya terdiri dari
ketua, sekretaris dan anggota yang ditetapkan oleh dan bertanggungjawab
kepada ketua Komite Medis. Tujuan Kredensial untuk melindungi keselamatan
pasien dengan memastikan bahwa staf medis yang akan melakukan
pelayanan medis di Rumah Sakit Wava Husada adalah kredibel.
b. Subkomite Mutu Profesi
Subkomite mutu profesi di Rumah Sakit Wava Husada terdiri atas sekurangkurangnya 3 (tiga) orang staf medis yang memiliki surat penugasan klinis
(clinical appointment) dan berasal dari disiplin ilmu yang berbeda.
Pengorganisasian subkomite mutu profesi sekurang-kurangnya terdiri dari
ketua, sekretaris, dan anggota, yang ditetapkan oleh dan bertanggung jawab
kepada ketua Komite Medis.
c. Subkomite Etika dan Disiplin Profesi
Subkomite etika dan disiplin profesi di Rumah Sakit Wava Husada terdiri atas
sekurang-kurangnya 3 (tiga) orang staf medis
yang memiliki surat
penugasan klinis (clinical appointment) di rumah sakit tersebut dan berasal
dari disiplin ilmu yang berbeda. Pengorganisasian subkomite etika dan
displin profesi sekurang-kurangnya terdiri dari ketua, sekretaris, dan
anggota, yang ditetapkan oleh dan bertanggung jawab kepada ketua Komite
Medis.

17

BAB IX
KEGIATAN ORIENTASI
N
O

KEGIATAN

PEMATERI

Session 1

Senam Pagi dan Pembentukan Kelompok

Sarapan

Break

Session 2

Pre test

Pembukaan
Sambutan Ketua Panitia

Ketua Panitia

Sambutan Direktur & Pembukaan

Direktur Rumah Sakit Wava


Husada

Doa
Visi,Misi,Motto dan Yel-yel
HYMNE WAVA

Tim Paduan Suara

Materi 1 : Sejarah Rumah Sakit Wava Husada

Direktur PT ASSH

Materi 2 : Visi, Misi, Motto & Perumahsakitan

Direktur Rumah Sakit Wava


Husada

Materi 3 : Struktur Organisasi & Lay Out RSWH

Kanit PSDM dan


Kesekretariatan

Materi 4 : SUPERTEAM

ISHOMA (Dzuhur)

Session 3

Permainan A

Materi 5 : Produk Pelayanan RSWH & Case


Manager

Materi 6 : SIM RS

ISHOMA

Materi 7 : Program Pengendalian Infeksi

Kepala Analis SIM

18

Katim IPCN

BAB X
PERTEMUAN/RAPAT
Rapat Komite Medis terdiri atas Rapat Rutin, Rapat khusus, dan Rapat Pleno.

A. RAPAT RUTIN
1. Komite menyelenggarakan rapat rutin tiga bulan sekali pada waktu dan
tempat yang ditentukan oleh Komite Medis.
2. Sekretaris Komite Medis menyampaikan undangan rapat rutin beserta
agenda rapat dan risalah rapat yang lalu kepada anggota yang berhak
hadir paling lambat 5 (lima) hari kerja sebelum rapat dilaksanakan.
3. Rapat rutin dihadiri pengurus Komite Medis.
4. Ketua Komite Medis dapat mengundang pihak lain bila dianggap perlu.

B. RAPAT KHUSUS
1. Rapat khusus Komite Medis diselenggarakan dalam hal :
a. Diperintahkan oleh ketua atau,
b. Permintaan yang diajukan secara tertulis oleh paling sedikit 3 (tiga)
pengurus Komite Medis dalam waktu empat puluh delapan jam
sebelumnya atau,
c. Permintaan ketua Komite Medis untuk hal hal yang memerlukan
penetapan kebijakan Komite Medis dengan segera.
2. Rapat khusus harus dilakukan empat puluh delapan jam sejak diterimanya
permintaan tertulis yang ditanda tangani oleh seperempat dari jumlah
Komite Medis yang berhak untuk hadir dan memberikan suara dalam rapat
tersebut.
3. Sekretaris Komite Medis menyampaikan pemberitahuan rapat khusus
beserta agenda rapat kepada pengurus yang berhak hadir dua puluh
empat jam sebelum rapat tersebut dilaksanakan.
4. Pemberitahuan rapat khusus harus menyebutkan secara spesifik hal-hal
yang akan dibicarakan dalam rapat tersebut dan rapat hanya akan
membicarakan hal-hal yang tercantum dalam pemberitahuan tersebut.

C. RAPAT PLENO
1. Rapat pleno Komite Medis diadakan satu kali dalam satu tahun.
2. Rapat pleno dihadiri oleh seluruh staf medis Rumah Sakit Wava Husada.
3. Agenda rapat pleno paling tidak memuat laporan kegiatan yang telah
dilakukan Komite Medis, rencana kegiatan yang akan dilaksanakan dan
agenda lain ditetapkan oleh Komite Medis.
4. Sekretaris Komite Medis menyampaikan pemberitahuan kepada para
anggota yang berhak hadir empat belas hari sebelum rapat tersebut
dilaksanakan.

19

BAB XI
PELAPORAN
A. LAPORAN PER 3 BULAN
1. Sub Komite Kredensial
Melaporkan hasil kredensial dokter baru maupun dokter Antap setiap 3
bulan sekali ke Rumah Sakit Wava Husada melalui Komite Medis dan juga
menyampaikan rekomendasi Kewenangan Klinis.
2. Sub Komite Mutu Profesi
Melaporkan hasil rekapan morning report, temu ilmiah dan rapat audit
medis seperti kasus sulit, kasus kematian dan kasus langka.
3. Sub Komite Etika dan Disiplin Profesi
Melaporkan hasil diskusi pembinaan Etika dan Disiplin Profesi Kedokteran,
pemeriksaan staf medis yang diduga melakukan pelanggaran displin
maupun etika profesi.

B. LAPORAN PER TAHUN


1. Sub Komite Kredensial
Melaporkan Re-Kredensial setiap 1 tahun sekali, ke Rumah Sakit Wava
Husada melalui Komite Medik di karenakan berakhirnya masa berlaku
surat penugasan klinis
2. Sub Komite Mutu Profesi
Melaporkan hasil audit medis dan analisisnya secara berkala kepada
Komite Medis untuk ditindak lanjuti.
3. Sub Komite Etika dan Disiplin Profesi
Melaporkan survey kepuasan pelanggan/pasien kepada Komite Medis
untuk ditindak lanjuti.

20

BAB IV
PENUTUP
Pedoman Organisasi Komite Medis ini disusun agar dapat dipakai sebagai
pegangan dan acuan oleh setiap staf medis dalam melaksanakan kegiatan
pelayanan medis kepada pasien, serta sebagai dasar pedoman bagi Komite
Medis dan subkomite di bawah ruang lingkupnya dalam melaksanakan
kegiatannya. Pedoman Organisasi Komite Medis berlaku sejak tanggal
ditetapkan.

21