Anda di halaman 1dari 21

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2016/2017

MODUL

: PENGOLAHAN AIR LIMBAH SECARA ANAEROBIK

PEMBIMBING : Ir. Dwi Nirwantoro, MT.


Tanggal Praktikum : 06 Oktober 2016
Tanggal Penyerahan : 13 Oktober 2016

Oleh :
Kelompok : VIII (Delapan)
Nama

: Eri Ismail

(141411038)

Ufia Farhah
Winardi Ginanjar
Kelas

(141411060)
(141411061)

:3-B

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Metode pengolahan air limbah secara anaerobik merupakan metode pengolahan
untuk air limbah yang memiliki kandungan organik tinggi, yaitu sekitar 2000 miligram
per liter. Hal tersebut menyebabkan pengolahan limbah secara aerobik tidak dapat
berlangsung secara efisien karena waktu yang dibutuhkan untuk mendekomposisi bahan bahan organik yang memerlukan waktu lama serta ukuran reaktor yang diperlukan terlalu
besar.
Pengolahan anaerobik memiliki keunggulan karena mampu menghasilkan biogas
sebagai hasil sampingnya. Biogas tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi.
Pengolahan anaerobik membutuhkan bakteri anaerobik yang pertumbuhannya sangat
lambat dan penjagaan kondisi kedap oksigen bebas yang ketat. Pada pengaplikasian di
Industri, pengolahan anaerobik biasanya dikombinasikan dengan pengolahan aerobik.

1.2.

Tujuan Percobaan
Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa mampu:
1. Menentukan konsentrasi awal dan akhir dari kandungan organik (COD) baik dalam
umpan maupun efluen.
2. Menyiapkan dan memberikan nutrisi pada umpan untuk mikroorganisme
pendegradasi air limbah.
3. Menghitung efisiensi pengolahan pada kandungan bahan organik yang
terdekomposisi.
4. Menghitung total gas yang dihasilkan setelah praktikum sehingga mengetahui
efisiensi pembentukan gas.
5. Menghitung nilai Mixed-liqour volatile suspended solids (MLVSS).

BAB II
LANDASAN TEORI
Pengolahan air limbah secara anaerobik merupakan pengolahan air limbah
menggunakan mikroorganisme tanpa adanya injeksi udara atau oksigen kedalam proses
pengolahannya. Pengolahan secara anaerobik ini bertujuan untuk merombak bahan organik
dalam limbah menjadi bahan yang lebih sederhana dan tidak berbahaya. Selain itu, pada
proses pegolahan secara anaerobik akan dihasilkan gas gas, seperti metana (CH4) dan
karbon dioksida (CO2). Proses ini dapat diaplikasikan untuk limbah organik dengan beban
bahan organik (COD) yang tinggi. Pada proses pengolahan air limbah secara anaerobik
terjadi empat (4) tahapan proses, yaitu:
1) Pada tahap 1, hidrolisis, merupakan suatu proses yang memecah molekul organik
kompleks menjadi molekul-molekul organik yang sederhana.
2) Pada tahap 2, proses acidogenesis, merupakan proses yang merubah molekul
molekul organik sederhana menjadi asam lemak.
3) Pada tahap 3, proses acetogenesis, merupakan proses yang mengubah asam lemak
menjadi asam asetat dan terbentuknya gas gas seperti hidrogen (H 2), karbon
dioksida (CO2), ammonium (NH4), dan sulfur (S).
4) Pada tahap 4, methanogenesis, merupakan proses yang mengubah asam asetat dan gas
gas yang dihasilkan menjadi gas metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2).

Gambar 1. Skema tahapan pada proses secara anaerobik

Berdasarkan pertumbuhan mikroba dalam peralatan pengolahan air limbah, terdapat


dua (2) macam pertembuhan, yakni pertumbuhan secara tersuspensi dan pertumbuhan secara
terlekat.
1. Model pertumbuhan mikroorganisme tersuspensi
Model pertumbuhan mikroorganisme tersuspensi, yaitu suatu model pertumbuhan
mikroorganisme yang tersuspensi (tercampur merata) didalam air limbah. Model
pertumbuhan mikroorganisme tersuspensi pada pengolahan air limbah secara biologi anaerob
seperti gambar berikut :

Gambar 2. Tangki Digester


Pada tangki digester (anaerobic reactor) dilengkapi dengan pengaduk yang bertujuan
untuk mensuspensikan mikroorganisme dalam digester. Pada bagian atas tangki terdapat
lubang (man hole) agar manusia bisa masuk kedalam tangki digester untuk maintenance
(pemeliharaan) dan juga lubang kecil untuk pengukuran tekanan didalam tangki digester.
Operasional pengolahan air limbah secara biologi anaerob seperti terlihat dalam gambar
berikut

Gambar 3. Operasional pengolahan air limbah secara anaerob

Operasional instalasi pengolahan air limbah secara biologi anaerob dengan model
pertumbuhan mikroorganisme tersuspensi seperti berikut :
1) Pembiakan mikroorganisme dalam tangki digester, dan lakukan pengadukan agar
mikroorganisme tersuspensi
2) Alirkan air limbah kedalam tangki digester, besarnya aliran air limbah diatur sesuai
dengan waktu tiinggal dalam tangki digester
3) Pada proses pengolahan secara biologi anaerob akan dihasilkan gas-gas seperti CH4,
CO2 dan NH3, gas-gas ini akan memberikan tekanan pada tangki yang dapat
mengakibatkan pecahnya tangki digester akibat tekanan gas. Dalam rangka mengatasi
tekanan gas-gas tersebut, maka dibutuhkan pengeluaran gas-gas tersebut secara
kontinyu
4) Air limbah yang telah diolah, dialirkan kedalam tangki clarifier yang bertujuan untuk
memisahkan antara air limbah hasil pengolahan dengan mikroorganismenya, air
limbah hasil pengolahan mengalir secara over flow dari bagian atas tangki clarifier
sedangkan mikroorganisme yang mengendap pada tangki clarifier dipompa dan
dialirkan kembali kedalam tangki digester.
Proses pengolahan dengan metode Anaerobic digestion dapat dioperasikan dengan
multi-stage process yaitu dua (2) atau empat (4) tahapan tergantung pada hasil pengolahan
yang akan dicapai dan besarnya bahan organic dalam air limbah.
2. Model pertumbuhan mikroorganisme melekat
Model pertumbuhan mikroorganisme melekat, yaitu suatu model pertumbuhan
mikroorganisme

yang

melekat

pada

suatu

media

porous.

Model

pertumbuhan

mikroorganisme melekat pada pengolahan air limbah secara biologi anaerob seperti gambar
berikut :

Gambar 4. Reaktor pertumbuhan mikroba melekat

Operasional instalasi pengolahan air limbah secara biologi anaerob dengan model
pertumbuhan mikroorganisme melekat seperti berikut :
1) Pembiakan mikroorganisme dalam media trickling fliter, pembiakan mikroorganisme
dilakukan dengan mengalirkan mikroorganisme kedalam trickiling filter melalui
distributor, mikroorganisme akan mengalir dari bagian atas kebawah dan menempel
pada media porous, setelah mencapai ketebalan tertentu dan merata pada media
porous aliran mikroorganisme dihentikan.
2) Alirkan air limbah kedalam trickling filter melalui distributor, pastikan aliran air
limbah mengenai media porous secara merata agar terjadi kontak antara air limbah
dengan mikroorganismenya.
3) Air limbah yang telah berkontak dengan mikroorganisme akan keluar melalui bagian
bawah trickling filter, aliran air akan mengandung mikroorganisme dalam jumlah
yang kecil, mikroorganisme ini dipisahkan dalam tangki clarifier dan dialirkan
kembali ke dalam trickling filter, sedangkan air limbah hasil pengolahan akan
mengalir secara over flow dari bagian atas tangki clarifier.
4) Pada proses pengolahan secara biologi anaerob akan dihasilkan gas-gas seperti CH4,
CO2, NH3, gas-gas ini dikeluarkan dari bagian atas tangki trickling filter.
5) Gas-gas yang dihasilkan pada pengolahan air limbah secara biologi anaerob seperti
CH4 dan CO2 dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam operasional pengolahan air limbah
secara biologi anaerob ini adalah :
1) Laju alir air limbah masuk, laju alir air limbah yang masuk perlu dilakukan
pengendalian agar waktu kontak antara air limbah dan mikroorganisme terpenuhi,
laju alir air limbah yang terlalu besar dapat mengakibatkan lepasnya mikroorganisme
yang telah melekat pada media porous
2) Bahan media porous, bahan media yang dipergunakan harus porous agar
mikroorganisme dapat melekat dengan kuat dan tidak mudah lepas akibat aliran air
limbah
3) Penyusunan media porous, penyusunan media porous akan mempengaruhi waktu
kontak antara air limbah dan mikroorganisme. Media porous disusun sedemikian rupa
sehingga dapat memberikan waktu kontak yang agak lama.

Perbedaan mendasar pengolahan air limbah secara biologi anaerob dengan aerob
adalah :

Pada pengolahan air limbah secara biologi anaerob, bahan organic (COD) dikonversi
menghasil 90% menjadi gas CH4, dan CO2 dan 10% nya lumpur. Gas-gas yang dihasilkan
dapat dimurnikan dengan proses absorbsi gas CO2, sehingga dihasilkan gas CH4 murni yang
dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.

Gambar 5. COD balance Anaerobic


Pada pengolahan air limbah secara biologi aerob, bahan organic (COD) dikonversi
menghasil 50% panas (gas CO2) dan 50% nya lumpur. Ini menunjukan pada pengolahan air
limbah secara biologi anaerob akan menghasilkan lumpur jauh lebih kecil dibanding
pengolahan secara biologi aerob. Waktu pengolahan air limbah secara biologi anaerob lebih
lama dibandingkan dengan pengolahan air limbah secara biologi aerob.

Gambar 6. COD balance Aerobik

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Proses Anaerobik


Lingkungan besar pengaruhnya pada laju pertumbuhan mikroorganisme baik pada
proses aerobik maupun anaerobik yaitu :
1) Temperatur
Pada proses anaerob, diperlukan temperatur yang lebih tinggi untuk mencapai
laju reaksi yang diperlukan. Bakteri akan menghasilkan enzim yang lebih banyak

pada temperatur optimum. Semakin tinggi temperatur reaksi juga akan semakin cepat
tetapi bakteri akan semakin berkurang.
Proses pembentukan metana bekerja pada rentang temperatur 30-40C, tapi dapat
juga terjadi pada temperatur rendah, 4C. Laju produksi gas akan naik 100-400%
untuk setiap kenaikan temperatur 12C pada rentang temperatur 4-65C.
2) pH (Keasaman) dan Alkalinitas
Proses anaerob yang memanfaatkan bakteri methanogen lebih sensitif pada pH
dan bekerja optimum pada kisaran pH 6,5 7,5. Sekurang-kurangnya, pH harus
dijaga pada nilai 6,2 dan jika konsentrasi sulfat cukup tinggi maka kisaran pH
sebaiknya berada pada pH 7 8 untuk menghindari keracunan H 2S. Alkalinitas
bikarbonat sebaiknya tersedia pada kisaran 2500 hingga 5000 mg/L untuk mengatasi
peningkatan asam-asam volatil dengan menjaga penurunan pH sekecil mungkin.
Biasanya dilakukan penambahan bikarbonat ke dalam reaktor untuk mengontrol pH
dan alkalinitas.
3) Konsentrasi Substrat
Sel mikroorganisme mengandung Carbon, Nitrogen, Posfor dan Sulfur dengan
perbandingan 100 : 10 : 1 : 1. Untuk pertumbuhan mikroorganisme, unsur-unsur di
atas harus ada pada sumber makanannya (substrat). Konsentrasi substrat dapat
mempengaruhi proses kerja mikroorganisme. Kondisi yang optimum dicapai jika
jumlah mikroorganisme sebanding dengan konsentrasi substrat.
Kandungan air dalam substart dan homogenitas sistem juga mempengaruhi proses
kerja mikroorganisme. Karena kandungan air yang tinggi akan memudahkan proses
penguraian, sedangkan homogenitas sistem membuat kontak antar mikroorganisme
dengan substrat menjadi lebih intim.
Dalam pengolahan air limbah secara anaerobik mempunyai kelebihan dan
kekurangan bila dibandingkan dengan proses pengolahan lainnya. Kelebihan
pengolahan anaerob adalah efisiensi yang tinggi, mudah dalam konstruksi dan
pengoperasiannya, membutuhkan lahan/ruang yang tidak luas, membutuhkan energi
yang sidikit, menghasilkan lumpur yang sedikit, membutuhkan nutrien dan kimia
yang sedikit. Sedangkan kekurangan dari pada pengolahan anaerob: penyisihan
kandungan nutrient dan patogen yang rendah, membutuhkan waktu yang lama untuk
start-up, menimbulkan bau (Metcalf and Eddy, 2003).
MLVSS

Mixed-liqour volatile suspended solids (MLVSS). Porsi material organik pada MLSS
diwakili oleh MLVSS, yang berisi material organik bukan mikroba, mikroba hidup dan mati,
dan hancuran sel (Nelson dan Lawrence, 1980). MLVSS diukur dengan memanaskan terus
sampel filter yang telah kering pada 600 - 6500C, dan nilainya mendekati 65-75% dari MLSS.
COD
Chemical oxygen Demand (COD) atau kebutuhan oksigen kimia (KOK) merupakan
jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat- zat organik yang ada dalam sampel
air atau banyaknya oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat- zat organik menjadi
CO2 dan H2O. Pada reaksi ini hampir semua zat yaitu sekitar 85% dapat teroksidasi menjadi
CO2 dan H2O dalam suasana asam, sedangkan penguraian secara biologi (BOD) tidak semua
zat organik dapat diuraikan oleh bakteri. Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air
oleh zat- zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis,
dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut didalam air .
Mencari nilai COD :
COD

BEOksigen pengenceran
( mgL )= ( ab) ml N FAS 1000
mLsampel

BAB III
METODELOGI
3.1 Alat dan Bahan
Tabel 1 Alat yang digunakan

No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Nama
Buret
Cawan Porselin
Corong Poreselim
Desikator
Furnace
Hack COD Digester
Labu Erlenmeyer
Labu Takar
Neraca Analitik
Oven
Penjepit cawan
Pompa
Statif dan Klem
Tabung Hack

Spesifikasi Jumlah
25 mL
1 buah
30 mL
1 buah
2 buah
1 buah
1 buah
1 set
250 mL
2 buah
25 mL
1 buah
1 buah
1 buah
1 buah
1 set
1 set
3 buah

Tabel 2 Bahan yang digunakan


No
1
2
3
4
5

3.1.1

Nama
Asam Sulfat
Kalium Bikromat
Kertas Saring
Larutan FAS
Sampel Air Limbah

Spesifikasi Jumlah
Pekat
Whatman
0,1405 N

2 buah

Gambar Alat alat yang digunakan

Gambar 3.1.1.1 Peralatan


Anaerobik Digester

Gambar 3.1.1.2 Peralatan Anaerobik


Digester diengkapi jaket

Gambar 3.1.1.3 Oven

Gambar 3.1.1.6
Desikator

Gambar 3.1.1.4
Neraca Analitik

Gambar 3.1.1.7
Furnace

Gambar 3.1.1.5
Hach COD Digester

Gambar 3.1.1.8
Tabung Hach

3.2 Prosedur Kerja


3.2.1 Penentuan Kandungan Organik (COD) dari sampel
Masukkan 1 mL sampel
ke dalam labu takar 25
mL, tambahkan aquades
hingga tanda batas.
Homogenkan larutan.

Masukkan 2,5 mL sampel


yang telah diencerkan ke
dalam tabung Hach

Tambahkan 1,5 mL
pereaksi kalium bikromat
dan 3,5 mL pereaksi sulfat
ke dalam tabung Hach

Titrasi dengan larutan


FAS hingga larutan
berubah warna dari hijau
menjadi coklat

Keluarkan tabung Hach,


dinginkan, tambahkan 2-3
tetes indikator ferroin

Masukkan tabung Hach


pada Hach COD Digester
dan panaskan pada suhu
150 selama dua jam

3.2.2 Penentuan Kandungan Mixed Liquor Volatile Susupended Solids (MLVSS)

Panaskan cawan pijar


dalam furnace selama satu
jam dengan suhu 600
Panaskan kertas saring
dalam oven selama satu
jam dengan suhu 105

Timbang berat cawan pijar


(a) dan kertas saring (b)
hingga konstan.

Masukan kertas saring


tersebut ke dalam cawan
pijar, lalu panaskan dalam
oven selama satu jam
dengan suhu 105 ooC

Saring 40 mL air limbah


dengan kertas saring yang
sudah diketahui beratnya

Timbang berat cawan pijar


yang berisi kertas saring
dan endapan hingga
konstan (c)

Panaskan cawan pijar yang


berisi kertas saring dan
endapan tersebut dalam
Furnace selama 2 jam
dengan suhu 600 ooC, lalu
timbang beratnya hingga
konstan (d)

3.3 Rencana kerja


N
o.
1
2
3
4
5

Waktu

Kegiatan

Penanggung Jawab

08.40
08.45
08.45
09.00
09.00
09.10
09.00
09.10
09.10
10.10

Persiapan

Semua anggota

Penjelasan singkat praktikum

Semua anggota

Cek rangkaian alat, dan mengisinya


dengan air
Mengecek peralatan penunjang

Eri
Ufia

Mengoven kertas saring dan


memfurnace cawan pijar

Winardi

09.10
10.10

Menyiapkan sampel, umpan dan


blanko untuk penentuan nilai COD

Eri dan ufia

09.10
10.10

Menyiapkan rangkaian alat titrasi

Winardi

8.

10.10
12.10

Memanaskan sampel, umpan dan


blanko pada COD digester

Eri

09.10
10.10
09.10
10.10
12.10
13.00

Menyaring limbah dengan pompa


vakum
Mengoven hasil saring

Semua anggota

Mendinginkan sampel, umpan dan


blanko dan mempersiapkan untuk
titrasi
Titrasi sampel, umpan dan blanko

Ufia

10
11

12
13
14
15
16

12.10
13.00
13.00
14.20
13.00
14.20
13.00
14.20
13.00
14.20

Eri

Winardi dan Ufia

Mendinginkan cawan pijar

Ufia

Menimbang cawan pijar

Winardi

Memasukan ke Furnace

Eri

Menimbang cawan pijar

Eri

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Percobaan
4.1.1
Data Titrasi Awal
Catatan: sampel, blanko dan umpan diambil 5 ml untuk titrasi
No.
1
2
Rata
rata

ml FAS (Ferro Amonium Suulfat)


Blanko (a)
Sampel (b)
Umpan
2,6
2.6
2.3
3
2.4
2.3
2,8
2.5
2.3
Tabel 4.1 Data titrasi awal

4.1.2
Data Titrasi Akhir
Catatan: sampel, blanko dan umpan diambil 1,5 ml untuk titrasi
No.
1
2
Rata
rata

ml FAS (Ferro Amonium Suulfat)


Blanko (a)
Sampel (b)
Umpan
1,6
1,3
1,2
1,3
1,5
1,1
1,45
1,4
1,15
Tabel 4.2 Data titrasi akhir

4.1.3

Data penentuan MLVSS

No
.
1 Cawan Pijar (a)

Nama

Jumlah

Kertas saring (b)

Cawan pijar + kertas saring + endapan yang


dipanaskan dalam Oven (c)
Cawan pijar + kertas saring + endapan yang
dipanas kan dalam Oven kemudian Furnace (d)
Volume sampel
Tabel 4.3 Data penentuan MLVSS

4
5
4.1.4
No.
1
2

33.631
gr
0,9834
gr
34,869
gr
33,634
gr
40 mL

Hasil Pengolahan Data


Data percobaan
MLVSS
COD umpan

Hasil percobaan
30875
4400

Satuan
mg/L
mg/L

3
4
4
7
8

COD sampel awal


2664
mg/L
COD sampel akhir
1110
mg/L
Efisiensi pengolahan
58,86
%
Total gas yang diproduksi
287
mL
Efisiensi pembentukan gas
89,40
%
Tabel 4.4. Data Hasil Keseluruhan

PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dilakukan pengamatan terhadap nilai Chemical
Oxygen Demand (COD) pada sampel dan efluen serta mengetahui gas
yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah secara anorganik. Nilai
COD dapat diartikan sebagai jumlah kebutuhan oksigen untuk
mendegradasi senyawa-senyawa organik yang terkandung dalam
sejumlah sampel. Untuk proses pengolahan limbah secara anorganik
memiliki keunggulan yaitu mampu menghasilkan produk samping berupa
gas seperti metana dan karbon dioksida.
Selain itu, dilakukan pula pengamatan terhadap nilai Mixed-liqour
volatile suspended solids (MLVSS) yang bertujuan untuk mengetahui massa zat atau senyawa
organik pada sejumlah sampel tanpa adanya kandungan mikroorganisme. Saat proses
penentuan nilai MLVSS digunakan peralatan yang steril (dipanaskan terlebih dahulu)
sehingga mikroba yang mengkontaminasi alat akan mati. Proses penentuan MLVSS ini
menggunakan temperatur tinggi agar yang dihasilkan merupakan zat organiknya saja.
Dari hasil percobaan berdasarkan tabel 4.4 diperoleh nilai COD awal sebesar 2664
mg/L dan COD akhir 1110 mg/L. Efisiensi pengolahan berdasarkan penyisihan kandungan
organik pada umpan dan efluen selama waktu 2 minggu sebesar 58,86 %. Ini menunjukkan
bahwa pengolahan secara anaerobik berjalan dengan cukup baik.
Volume gas metana yang terbentuk dari proses pengolahan limbah secara anaerobik ini
di tamping kedalam penampung gas yang berada pada peralatan Anaerobic Digester seperti
yang ditunjukan pada gambar 3.1.1.1. Namun untuk mengetahui jumlah volume gas metana
yang terbentuk dilihat dari jumlah pengurangan air dalam peralatan Anaerobic Digester. Total
gas yang terbentuk sebesar 281 mL dengan efisiensi pembentukan gas sebesar 89,40 %. Hal
ini sesuai dengan teori dimana penurunan kadar organik berjalan cepat jika produksi gas
metana stabil.
Pengukuran MLVSS dilakukan untuk mengetahui kuantitas mikroba yang
mendekomposisi bahan organik. Nilai MLVSS (Mixed Liquor Volatile Suspended Solid) dari
efluen yang dapat dilihat pada tabel 4.4. Diperoleh nilai MLVSS sebesar 30875 mg/L. Nilai
MLVSS akhir tersebut belum memenuhi baku mutu yaitu 500 mg/L dan tidak dapat
langsung dibuang ke lingkungan. Artinya, proses pengolahan anaerobik belum optimum
untuk menurunkan nilai MLVSS.

BAB V
KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang dihasilkan, dapat disimpulkan :
1. Konsentrasi awal kandungan organik (COD) didalam umpan sebesar
4400 mg/L
2. Konsentrasi kandungan organik (COD) efluen awal sebesar 2664
mg/L
3. Konsentrasi kandungan organik (COD) setelah seminggu sebesar
1110 mg/L.
4. Kandungan Mixed Liquor Volatile Suspended Solid (MLVSS) yang di
dapat sebesar 30875 mg/L
5. Efisiensi pengolahan yang didapat selama 2 minggu sebesar 58,86
% dan efisiensi terbentuknaya gas sebesar 89,40 %.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2013. Pengolahan Air Limbah Secara Anaerobik (online). Tersedia :
http://wiedeva.wordpress.com/seputar-tl/ diakses tanggal 12 Oktober 2016.
Budiastuti, Herawati. 2010. Jobsheet Pengolahan Limbah Industri Modul Pengolahan Air
Limbah secara Anaerobik. Politeknik Negeri Bandung.
JEMAI.1999.Pengetahuan Dasar pada Penanggulangan Pencemaran Lingkungan Air. 2nd
ed., pp 188-206. JETRO.
Kim,M.,Ahn,Y.IL. Speece,R.E,.2002.Comparative Process Stability and Efficiency of
Anaerobic Gigestion.Water Research vol. 36. pp 4369-4385.
Metcalf & Eddy.1991.Waste Engineering. Treatment. Disposal and Reuse.3rd ed.,pp 378429, Mc Graw Hill Book Co.Singapore.
Sumada, Ketut. 2012. Pengolahan Air Limbah secara Biologi Anaerob (online) . Tersedia :
http://ketutsumada.blogspot.com/2012/04/pengolahan-air-limbah-secara-biologi_10.html
diakses tanggal 12 Oktober 2016.

LAMPIRAN
Perhitungan dan Pengolahan Data
1. Data Penentuan COD
1.1 Data Titrasi Awal
Catatan: sampel, blanko dan umpan diambil 7,5 ml untuk titrasi
No.
1
2
Rata
rata

ml FAS (Ferro Amonium Suulfat)


Blanko (a)
Sampel (b)
Umpan
2,6
2.6
2.3
3
2.4
2.3
2,8
2.5
2.3
Tabel 4.2 Data titrasi akhir

1.2 Perhitungan COD Awal


Dari hasil titrasi diatas diperoleh data sebagai berikut:
a = 2.8 ml (FAS untuk blanko)
b = 2.5 ml (FAS untuk sampel)
b= 2,3 ml (FAS untuk umpan)
c = 0,333 N (normalitas FAS setelahstandarisasi)
d = 8 (beratekuivalenOksigen)
p = pengenceran 25 kali

COD sampel (mg O2/liter)

( ab ) xcx 1000 xdxp


ml sampel

( 2,82,5 ) x 0,333 x 1000 x 8 x 25


7,5

= 2664mg O2/liter
COD umpan (mg O2/liter)

( ab ' ) xcx 1000 xdxp


ml sampel

( 2,82.3 ) x 0,33 x 1000 x 8 x 25


7.5

= 4400 mg O2/liter
1.3 Data Titrasi Akhir
Catatan: sampel, blanko dan umpan diambil 5 ml untuk titrasi
No.
1
2
Rata
rata

ml FAS (Ferro Amonium Suulfat)


Blanko (a)
Sampel (b)
Umpan
1,6
1,3
1,2
1,3
1,5
1,1
1,45
1,4
1,15
Tabel 4.1 Data titrasi awal

1.4 Perhitungan COD Akhir


Dari hasil titrasi diatas diperoleh data sebagai berikut:
a = 1,45ml (FAS untuk blanko)
b = 1,4 ml (FAS untuk sampel)
b= 1,15 ml (FAS untuk umpan)
c = 0,333 N (normalitas FAS setelah standarisasi)
d = 8 (berat ekuivalen Oksigen)
p = pengenceran 25 kali

COD sampel (mg O2/liter)

( ab ) xcx 1000 xdxp


ml sampel

( 1,451,4 ) x 0,333 x 1000 x 8 x 25


3

= 1110 mg O2/liter

COD umpan (mg O2/liter)

( ab ' ) . c .1000 .d . p
ml sampel

( 1,451,15 ) x 0,333 x 1000 x 8 x 25


3

= 6660 mg O2/liter
1.5 Perhitungan efisiensi pengolahan
=

COD awalCOD akhir


x 100
COD awal

26641110
x 100
2664

58,86

2. Data penentuan MLVSS


No
.
1 Cawan Pijar (a)

Nama

Jumlah

Kertas saring (b)

Cawan pijar + kertas saring + endapan yang


dipanaskan dalam Oven (c)
Cawan pijar + kertas saring + endapan yang
dipanas kan dalam Oven kemudian Furnace (d)
Volume sampel
Tabel 4.3 Data penentuan MLVSS

4
5

2.1 Menentukan kandungan MLVSS


( ca )
TSS = ml sampel x 106
=

( 34,86933,361 )
40

= 30950 mg/L
VSS (MLVSS) =

( cd )
ml sampel

x 106

x 106

33,631
gr
0,9834
gr
34,869
gr
33,634
gr
40 mL

( 34,86933,634 )
40

x 106

= 30875 mg/L
FSS

= TSS VSS
= 30950 30875
= 75 mg/L

3. Penentuan Total Gas yang Diproduksi


Volume Hach awal
= 321 mL
Volume Hach akhir
= 34 mL
Total gas yang diproduksi
= 321 mL 34 mL
= 287mL
Efisiensi pembentukan gas
=
volume hach awalvolume hach akhir
x 100
volume hach awal

No.
1
2
3
4
4
7
8

32134
x 100
321

= 89,40 %

Data percobaan
Hasilpercobaan
MLVSS
30875
COD umpan
4400
COD sampel awal
2664
COD sampel akhir
1110
Efisiensi pengolahan
58,86
Total gas yang diproduksi
287
Efisiensi pembentukan gas
89,40
Tabel 4.4. Data keseluruhan

Satuan
mg/L
mg/L
mg/L
mg/L
%
mL
%

Anda mungkin juga menyukai