Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

CRONIK KIDNEY DEASES (CKD)

A. PENGERTIAN
CKD adalah suatu sindrom klinis yang di sebabkan
penurunan

fungsi

ginjal

yang

bersifat

menahun,

berlangsung progresif dan cukup lanjut, hal ini terjadi


bila laju filtrasi glomerular kurang dari 50 ml/menit,
(NANDA NIC NOC, 2012).
CKD merupakan gangguan fungsi renal yang progresif
dan

ireversibel

mempertahankan

dimana

metabolisme

kemampuan
dan

tubuh

keseimbangan

gagal

untuk

cairan

dan

elektrolit sehingga terjadi uremia ( retensi urea dan


sampah nitrogen lain dalam darah), (Brunner & Suddarth,
2001)
B. ETIOLOGI
1. Glumerulonefritis kronik
2. Penyakit ginjal obstruksi dan infeksi
3. Glumerulonefritis lupus
4. Nefrosklerosis hipertensi
5. Nefropati diabetik

C. KLASIFIKASI
Klasifikasi CKD berdasarkan tingkat LFG, yaitu :
1. Stadium I

Kelainan

ginjal

yang

ditandai

dengan

albuminuria

persisten dan LFG nya yang masih normal yaitu > 90


ml/menit/1,72 m3
2. Stadium II
Kelainan ginjal dengan albuminuria persisten dan LFG
antara 60-89 ml/menit/1,73 m3
3. Stadium III
Kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59 ml/menit/1,73
m3
4. Stadium IV
Kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29 ml/menit/1,73
m3
5. Stadium V
Kelainan ginjal dengan LFG < 15 ml/menit/1,73 m3
D. TANDA DAN GEJALA
1. Hematologic
Anemia, gangguan

fungsi

trombosit,

trombositopnia,

gangguan leukosit.
2. Gastrointestinal
Anoreksia, nausea, vomiting, gastritis erosiva
3. Syaraf dan otot
Miopati, ensefalopati metabolic, kelemahan otot.
4. Kulit
Berwarna
pucat,
gatal-gatal
dengan
ekssoriasi,
echymosis, urea frost, bekas garukan karena gatal.
5. Kardiovaskuler
Hipertensi, nyeri dada dan sesak nafas, gangguan irama
jantung, edema.
6. Endokrin
Gangguan toleransi glukosa, gangguan metabolism lemak,
fertilisasi

dan

ereksi

menurun

gangguan metabolism vitamin D.

pada

laki-laki,

E. Patofisioligi Nursing Patway


Bagan pathofisiologinya adalah Sbb:
Glumerulo
nefritis
kronik
Fungsi
Glumerulus
menurun

Obstruksi
& infeksi
Iskemi &
nefron
infeksi

Nefrotik
diabetik
Angiopati
jar. O2
kurang

Nefritis
hipertensi
Vasklar.
jar.ginjal
menurun

Nefritik
lupus
Kerusakan
jar.nefron
ginjal

Gagal Ginjal Kronik

Pencernaan

Ggn.meta
bolsme
protein,
ureum

Anoreksia,
mual
muntah,
bau mulut

Kulit

Hematologi

Urokrom
Anemia,tr
gatal
ombositop
meningkat,e
nia
kskariosis,
ureafrost

Pucat,
kuning,
gatal

Syaraf &
otot

Enselopat
i,miopi,k
elemahan
otot

Eritropin
kurang,defst
.besi,hemoli
sis,kelemaha
n otot

Nyeri

Kardiovas
kuler

Hipertensi
, edema

Perrnapa
an

Edema paru

Ekspansi
paru
menurun

Rennin AA
lebih,art
eriskloro
sit,ggn.e
lektrolit

Suplai
O2

Ggn.inte
gritas
kulit
Ggn. Nutrisi kurang
dari kebutuhan
tubuh

Sesak
nafas
Resiko
cedera

Penurun
an
curah
jantung

Pola
nafas
tdk
efektif

F. KOMPLIKASI
1. Hipertensi
2. Infeksi traktus urinarius
3. Obstruksi traktus urinarius
4. Gangguan elektrolit
5. Gangguan perfusi ke ginjal
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Radiologi (foto polos abdomen) :
Besar ginjal, apakah ada batu ginjal atau obstruksi.
2. Pielografi intravena (PIV) :
Menilai sitem pelviokalises
3. Ultrasonografi (USG) : Menilai besar, bentuk ginjal,
kandung kemih, serta prostat.
4. Renogram : Menilai fungsi ginjal kiri dan kanan.
5. Pemeriksaan radiologi jantung
:
Mencari apakah ada kardiomegali, efusi pericardial.
6. Pemeriksaan radiologi tulang
:
Mencari oesteodistrofi, metastasik
7. Pemeriksaan radiologi paru : Mencari uremik lung
8. Pemeriksaan pielografi retergrad :
Bila dicurigai obstruksi yang reversible
9. Elektrokardiograf
:
Untuk melihat hipertrofi ventrikel kiri
10.
Biopsy ginjal
11.
Pemeriksaan lab, LED, anemia, ureum dan
kreatinin

meningkat,

hiperkalemia,
peningkatan

gula

hemoglobin,

hiponatremia,

hipokalsemia,

hiperfosfatemia,

darah,

metabolok,

asidosis

HCo2

menurun, BE menurun, dan PaCo2 menurun.


H. PENATALAKSANAAN MEDIS
1. Penatalaksanaan Medis
Dilakukan tindakan CAPD dengan insersi catheter dengan
peritoneuscope yaitu;
a. Persiapan: dipuasakan

jam,

H-1

operasi

pasien

harus defekasi dan bila obstipasi diberi dulcolax,

pagi hari sebelum operasi dipasang iv, pasien di


cukur

rambutnya

berangkat

ke

mengosongkan

di

kulit

ruangan
kandung

abdomen,

tindakan

kemih

atau

catheter.
b. Prosedur operasi
1) Posisi trendelenberg
2) Buat marker di abdomen,

dan

sebelum

pasien

harus

dipasang

folley

desinfeksi

dinding

abdomen, anetesi daerah insisi dengan lidocaine


1%, kemudian insisi kulit sepanjang 3 cm.
3) Jaringan lemak dibuka tumpul sampai terlihat
fascia

external,

sambil

pasien

menahan

nafas

masukan quill guide assembly posisi 30 derajat


kearah coccyx sampai menembus peritoneum
4) Tarik trocar, masukan air menggunakan syrine,
cek meniscus dan pergerakan air sesuai nafas
5) Hubungkan dengan selang insuflaor, masukan udara
sebanyak 1000-1500 ke dalam abdomen
6) Setelah insuflator dilepas masukan scope lewat
canula, arahkan ke rongga pelvic pastikan ada
space

dan

tidak

ada

adhesi

pada

pelvic,

pertahankan posisi quill dengan clem artei.


7) Canula dilepas dengan gerakan pelan berputar,
masukan

dilator

sebelumnya
Buat

kecil

dilubrikasi

gerakan

dipertahankan

maju
sambil

dan
dengan

mundur,

besar

setelah

lignocain
dilator

mempersiapkan

gel.
besar

teckoff

catheter dimasukan lewat stylet


8) Catheter dilepas, pasang cuff implanter. Pasien
menahan adinding abdomen dan implanter di dorong

sampai cuff menembus fascia. Stylet dan quill


ditarik.
9) Kateter di
site,

test.

dilakukan

Dibuat

marker

anestesi

tempat

sepanjang

exite
daerah

tunnel, tunneler dimasukan dan exite site menuju


daerah insisi lalu kateter disambungkan menuju
tunneler. Kateter dan tunneler ditarik melewati
exite

site

dan

disambung

dengan

extension

catheter, posisi exite site 2 cm dari kulit


10)
Luka insisi di jahit
11)
Operasi selesai
2. Penatalaksanaan keperawatan
a Tentukan tatalaksana terhadap penyebab CKD
b Optimalisasi
dan
pertahankan
keseimbangan
c
d
e
f

cairan dan garam


Diet tinggi kalori rendah protein
Kendalikan hipertensi
Jaga keseimbangan elektrolit
Mencega dan tatalaksana penyakit tulang akibat

g
h

CKD
Deteksi dini terhadap komplikasi
Kolaborasi dalam tindakan CAPD

I. ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Identitas
b. Riwayat kesehatan
c. Pola aktifitas
d. Pemeriksaan fisik
1) Kesadaran :
disorientasi,
2)
3)
4)
5)
6)

gelisah,

letargi,

samnolen sampai koma


Kepala : edema muka (orbita),mulut bau khas ureum
Dada : pernafasan cepat dan dalam, nyeri daad
Perut : adanya edema (asites)
Ekstrimitas : edema tungkai, spastisitas otot
Kulit :sianosis, akral dingin, turgor kulit
menurun

7) Tanda vital
cepat

dan

lemah,

peningkatan

suhu

hipertensi,

tubuh,

nafas

cepat

nadi
dan

dalam, dyspnea.
2. DIAGNOSA dan INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Pola nafas tidak efektif b/d berkurangnya suplai O2
a Tujuan
: pola nafas efektif
b Criteria hasil : pola nafas efektif, tidak ada
ronchi
c

&

weezhing,

RR:

18

20

kali/menit,

syanosis tidak ada


Intervesi
1) Auskultasi suara jantung,paru
Rasional;
adanya
edema
paru,
vaskuler,

keluhan

dyspneu

renal failure.
2) Monitor tanda-tanda

kongesti

menunjukan

vital,

catat

adanya

bila

ada

perubahan tekanan
Rasional; hipertensi yang signifikan merupakan
akibat

dari

gangguan

rennin

angiotensin

dan

aldeosteron.
3) Nilai tingkat kemampuan klien beraktifitas
Kelemahan dapat terjadi akibat dari tidak
lancarnya peredaran darah.
4) Kolaborasi dalam pemeriksaan

lab,

pemberian

obat.
2. Nyeri akut b/d gangguan system syaraf akibat dari
proses penyakit CKD
Tujuan: nyeri berkurang
Kriteria hasil : tekanan darah dalam batas normal
(120/80
normal

mmHg-140/90
60-120

mmHg),

nadi

kali/menit,

capillary refill time yang baik.


Intervensi :

1.

Kaji tingkat nyeri (perubahan, kualitas,


lama)
Rasional : perubahan intensitas tidak umum tetapi
dapat menunjukan adanya komplikasi

2.

Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam


Rasional : relaksasi nafas dalam memberikan
istiirahat pada otot-otot sehingga mengurangi
nyeri

3.

Beri lingkungan yang nyaman & tenang


Rasional : klien dapaat istirahat yang banyak

4.

Observasi nadi & tekanan darah


Rasional : nyeri yang hebat ditandai dengan
peningkatan tekanan darah & nadi

5.

Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian


analgesik
Raisonal : analgesik dapat menekan ambang nyeri
sehingga nyeri tidak dirasakan karena tidak
dipersepsikan ke otak

3. Risiko

tinggi

terhadap

perubahan

nutrisi

kurang

dari kebutuhan tubuh b/d gangguan metabolisme


Tujuan : nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil : mempertahankan/meningkatkan BB
Intervensi
1)
Kaji/catat pemasukan diet
Rasional:
membantu
dan
mengidentifikasi
2)

defisiensi dan kebutuhan diet.


Berikan makan sedikit dan sering

Rasional:

meminimalkan

sehubungan

dengan

anoreksia

status

dan

mual

uremik/menurunnya

peristaltic.
3) Berikan pasien atau keluarga makanan/cairan yang
di izinkan dan dorong terlibat dalam pemilihan
menu
Rasional:

memberikan

pasien

tindakan

control

dalam pembatasan diet, makanan dari rumah dapat


meningkatkan nafsu makan.
4) Tawarkan
perawatan
mulut

sering/cuci

dengan

larutan (25%) cairan asam asetat. Berikan permen


karet dan penyegar mulut.
Rassional: membrane mukosa

menjadi

kering

dan

pecah. Perawtan mulut menyegarka, meminyaki dam


5)

membantu menyegarkan rasa mulut.


Timbang berat badan tiap hari
Rasional:
perubahan
BB
dapat

menunjukkan

perpindahan keseimbangan cairan.


6) Awasi pemeriksaan laboratorium
Rasional:
indicator
kebutuhan

nutrisi,

pembatasan dan kebutuhan/efektivitas terapi.


4. Resiko
terjadinya
kerusakan
integritas
kulit
berhubungan dengan penurunan turgor kulit akumulasi
ureum pada kulit.
Tujuan;
tidak

terjadi

kerusakan

integritas

kulit
Kulit tidak lecet, klien mampu mendemonstrasikan
cara

untuk

mencegah

integritas kulit.
Intervensi:
1) Kaji keadaan kuliit
adanya excoriasi

terjadinya

terhadap

kerusakan

kemerahan

dan

Rasional;

sirkulasi

darah

yang

kurang

menyebabkan kulit mudah rusak dan memudahkan


timbulnya dekubitus/ infeksi
2) Ganti posisi tiap 2 jam sekali
Rasional; mengurangi tekanan pada daerah yang
edema.
3) Anjurkan klien untuk menggunakan pakaian yang
tipis dan menyerap keringat
Rasional; mencegah iritasi kulit, meningkatkan
evaporasi.
4) Jaga kelembapan kulit
Rasional; kulit basah

terus

menerus

memicu

terjadinya iritasi/dekubitus.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner

&

Suddarth,

2001.

Buku

Ajar

Keperawatan

Bedah, Volume 2,Edisi 8. EGC : Jakarta.

Medikal

Hardhi,

Kusuma.

2012.

Berdasarkan

Aplikasi

NANDA

NIC

Asuhan
NOC,

Media

Yogyakarta.

LAPORAN PENDAHULUAN
CRONIK KIDNEY DEASES (CKD)

Keperawatan
Hardhy

OLEH :

IRVAN SURYAWIRAWAN
07.01.0635

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS-VIII C


SEKOLAH TINGGI KESEHATAN (STIKES) MATARAM
MATARAM
2012