Anda di halaman 1dari 7

Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia

Page 1

PENGARUH PENAMBAHAN MgSO4 dan pH TERHADAP PEMBENTUKAN


ASAM SITRAT DARI SARI BUAH BELIMBING DENGAN Aspergillus niger
Anisa Nurul L, Dila Firizqina, M Sugiarto, Sigit Firman*)
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,
Jl. Prof. Soedarto, SH, Kampus Undip Tembalang, Semarang, Indonesia 50275

Abstrak
Asam sitrat adalah asam organik lemah yang terdapat dalam daun dan tumbuhan bergenus citrus. Tujuan
dari percobaan ini adalah untuk membuat asam sitrat menggunakan Aspergillus niger dengan berbagai
variabel. Bahan yang digunakan yaitu sari buah belimbing, sekam padi bekatul, urea, KH 2PO4
,Aspergillus niger Ca(OH)2, H2SO4, NaOH, dan aquadest. Pada percobaan asam sitrat ini tetapan yang
digunakan meliputi suhu operasi (28oC), waktu fermentasi (7hari). Dari percobaan didapat bahwa
Semakin lama fermentasi maka volume NaOH yang dibutuhkan semakin banyak, hal ini disebabkan
adanya proses fermentasi yang menyebabkan kandungan asam sitrat yang meningkat. Tingkat Keasaman
yang meningkat mengakibatkan kebutuhan titran yang lebih banyak. Semakin banyaknya asam sitrat yang
dihasilkan dalam sampel, semakin lama proses fermentasi, keasaman larutan semakin besar, sehingga pH
larutan akan semakin turun. Magnesium Sulfat sendiri digunakan untuk dapat mengubah glukosa menjadi
asam piruvat yang menyebabkan pembentukan asam sitrat menjadi lebih cepat.
Kata kunci : Asam sitrat; Aspergillus niger; Fermentasi.

Abstract
[Affect Of Adding MgSO4, KH2PO4, Urea, Rice Husk Bran To Form (Make) Citric Acid From The
Dregs Of Star Fruit With Aspergillus niget ] Citric acid is a weak organic acid found in leaves and herbs
in the genus citrus. The purpose of these experiment is to make citric acid using Aspergillus niger with
different variables. Materials used: dregs of star fruit, the dregs of rice husk bran, urea, KH 2PO4,
Aspergillus niger Ca(OH)2, H2SO4, NaOH, and aquadest. The experiment of theese citric acid used
temperatur (28oC), fermentation time (7 days). From the experiment, can be obtained that there is an
increase in the volume of titran at each variable due to the fermentation process which causes the citric
acid content increased. Nutrient addition of Magnesium sulfate on each variable itself is used to be able to
change glucose into pyruvic acid which causes the formation of citric acid to be faster.
Key word : Citric acid; Aspergillus niger; Fermentation
1. Pendahuluan
Asam sitrat merupakan senyawa asam
organik lemah yang ditemukan pada daun dan tumbuhan
bergenus citrus. Asam sitrat mudah larut dalam air,
alkohol dan ethanol. Asam sitrat tidak berbau dan terasa
-----------------------------------------------------------------*)

Penulis Korespondensi.
E-mail: msugiarto11@gmail.com

asam. Penggunaan dari asam sitrat ini cukup luas di


dunia industri, misalnya digunakan sebagai bahan
tambahan dalam industri makanan, juga digunakan
sebagai pelarut aspirin dan bahan pengisi multi vitamin
dalam industri farmasi. Asam sitrat ini juga dapat
digunakan sebagai bahan pengawet alami pada keju dan
sirup.
Asam sitrat dapat dibuat melalui fermentasi
dengan menggunakan Aspergillus niger, Aspergillus

Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia

Variabel

Parameter yang di Ukur

pH
Volume Titran
pH
Variabel 2
Volume Titran
pH
Variabel 3
Volume Titran
niger mampu mensintesa asam sitrat dalam media yang
kadar garamnya rendah dan mengandung gula sebagai
sumber karbon
Variael 1

2. Bahan dan Metode


Bahan Penelitian :Bahan yang digunakan untuk
variabel 1,2, dan 3 adalah 20 ml sari buah belimbing,
Sekam (5 gr,5 gr,5 gr), Bekatul (5 gr, 5 gr, 5 gr), MgSO 4
(2 gr, 2 gr, 2 gr) , KH2PO4 (2 gr, 3 gr, 3 gr), Urea (1 gr, 1
gr, 1 gr), Aspergillus niger (1 ml diencerkan 3 ml),
H2SO4, aquadest, NaOH (0,1N),dan Ca(OH)2.
Metode Percobaan : Pembuatan biakan
kapang/ starter/ suspense spora Siapkan media untuk
pembiakan kapang (mold). Buat biakan Aspergillus
niger pada media tersebut. Inkubasikan pada 28oC atau
30oC selama 2-4 hari. Larutkan spora hasil pembiakan di
atas dengan air steril. Agar selalu dapat dipertahankan
percobaan
dalam
keadaan
aseptic, lakukanlah
pembuatan suspense spora diatas dalam keadaan aseptic.
Penyiapan media : Pada percobaan ini
dilakukan fermentasi pada media cair : Siapkan sumber
karbohidrat yang akan digunakan, timbang sumber
karbohidrat sesuai variabel lalu tambahkan nutrient
nutrient dan aqudest hingga volume menjadi 100 mL
dalam erlenmeyer lalu ditutup dengan alumunium foil
dan dibungkus koran. Sterilkan pada selama 15 menit
lalu didinginkan. Tanami dengan suspensi spora
sebanyak 5 cc secara aseptik. Inkubasikan selama 7 hari
sesuai variabel pada 28-30oC (dalam inkubator goyang).
Setelah selesai inkubasi, saring dengan kertas saring
atau pompa vakum dan filtratnya ditest untuk asam
sitratnya.
Analisa hasil: Panaskan filtrate yang diperoleh
dari percobaan di atas sampai 70 oC. Tambahkan larutan
Ca(OH)2 sebanyak 10 mL.
3. Hasil dan Pembahasan.

Page 2

Hari 1

Hari 2

Hari 3

Hari 4

3
4,7
3
4
4
1,8

3
2,4
3
2,5
4
0,5

3
3,8
3
4,1
5
1,1

3
5,6
3
7
5
5

Buat larutan Ca(OH)2 dengan melarutkan 5gr Ca(OH)2


dengan aquadest sampai 50mL (jaga temperature
konstan). Endapan yang timbul cepat-cepat disaring
(dalam keadaan panas 70oC), kemudian dicuci dengan
air panas 70oC. Endapan tersebut adalah kalsium sitrat.
Keringkan endapan di oven kemudian timbang beratnya.
Catat beratnya. Endapan tersebut dilarutkan dengan
H2SO4 encer, sesuai perhitungan, saring dengan kertas
saring. Filtratnya merupakan asam
sitrat
dan
endapannya adalah kalsium sitrat. Untuk mengetahui
berat asam sitrat yang diperoleh pada percobaan, titrasi
filtrate tersebut dengan NaOH 0,1 N. Catat kebutuhan
titran. Menghitung kebutuhan H2SO4 encer
Ca3(C6H3O7)2(s)+ 3H2SO4(l) 3CaSO4(s) + 2C6H8O7(s)
Amol
3A mol
= A mol
Buat larutan H2SO4 dengan melarutkan 5 mL H2SO4
pekat menjadi 100 mL.
grH2SO4
= vol H2SO4. H2SO4 . kadar H2SO4
3
= 5 mL. 1,84gr/cm . 100/98
= 9,39 gr
Molar H2SO4

= mol/v =
=

Molar H2SO4
0.958 M
V

= 0,958 M
= mol/v
= 3A mol / v
=
L=

ml

Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia

Page 3

Variabel

Berat (gram)

Variabel 1

0,72

Variabel 2
Variabel 3

3.1 Pengaruh pH terhadap Waktu


Tabel 3.1 Pengaruh pH terhadap waktu
Hari kepH
Variabel 1
Variabel 2
1
3
3
2
3
3
3
3
3
4
3
3

0,17
2,16

Variabel 3
4
4
5
5

Gambar 3.1 Grafik hubungan antara pH dengan waktu


Berdasarkan grafik diatas dapat dilihat bahwa
pada variabel 1 didapatkan pH yang konstan yaitu 3.
Begitu pula pada variabel 2, pH yang dihasilkan dari
hari ke-1 hingga hari ke 4 konstan, yaitu 3. Namun pada
variabel 3 memiliki pH yang fluktuatif. Pada hari ke-1
dan ke-2 memiliki pH 4, namun pada hari ke-3 dan ke-4
memiliki pH 5.
Secara teoritis, pH optimum yang digunakan
untuk fermentasi asam sitrat yaitu kurang dari 3. Hal ini
bertujuan untuk menekan pembentukan asam oksalat
dan asam glukonat. Semakin banyak asam sitrat yang
dihasilkan maka pH akan turun.
Pada variabel 1 didapatkan pH yang konstan dari
hari ke-1 hingga hari ke-4. Begitu pula pada variabel 2
didapatkan pH yang konstan dari hari ke-1 hingga hari
ke-4. pH yang didapatkan pada variabel 1 dan 2 sama,
yaitu 3. Seharusnya semakin lama waktu fermentasi

Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia

maka semakin rendah pH larutan tersebut karena


semakin banyak asam sitrat yang dihasilkan. Namun
pada variabel 1 dan 2 pH yang didapatkan konstan, hal
ini disebabkan oleh keberadaan nutrient urea. Hal ini
menjadi sumber nitrogen untuk Aspergillus niger.

Aspergillus niger akan mengurai nutrient urea ini


menjadi gas NH3 dan CO2. Gas NH3 ini akan bereaksi
dengan H2O menjadi NH4OH yang bersifat basa,
sehingga walaupun terbentuk asam sitrat yang semakin

banyak dan seharusnya semakin asam, namun pH tetap


konstan. (Sunarya, 2007)
Pada variabel 3 didapatkan pH yang berubah, hari
ke-1 dan ke-2 memiliki pH 4, namun pada hari ke-3 dan
ke-4 memiliki pH 5. Sedangkan pada variabel 2 pH yang
didapatkan dari hari ke-1 hingga ke-4 sebesar 3.
Seharusnya semakin lama waktu fermentasi maka
semakin rendah pH larutan tersebut karena semakin
banyak asam sitrat yang dihasilkan. Besarnya pH
optimum untuk fermentasi asam sitrat yaitu kurang dari
3 (Hidayat, 2008). Pada pH optimum Aspergillus niger
akan menghasilkan asam sitrat yang lebih cepat.
Sedangkan apabila pH yang digunakan tidak optimum,
akan menghambat Aspergillus niger untuk membentuk
asam sitrat. Karena jika pH kurang dari pH optimum,
maka produksi asam sitrat berkurang yang disebabkan
oleh adanya ion ferosinida yang lebih toksik bagi
pertumbuhan miselium. Dan jika pH yang digunakan
lebih tinggi maka akan terjadi akumulasi asam oksalat
(Hidayat, 2008).Pada variabel 2 pH yang dihasilkan
konstan karena adanya nutrient urea yang diuraikan oleh
Aspergillus niger menjadi NH3 dan CO2. Gas NH3 ini
akan bereaksi dengan H2O menjadi NH4OH yang
bersifat basa, sehingga walaupun terbentuk asam sitrat

Page 4

yang semakin banyak dan seharusnya semakin asam,


namun pH menjadi tetap konstan.Sedangkan pada
variabel 3, pH awalnya yaitu 5, lalu pada hari ke-1
mengalami penurunan pH, karena asam sitrat mulai
diproduksi. Namun pada hari ke-3 terjadi kenaikan pH,
hal ini disebabkan Aspergillus niger menguraikan
nutrient urea menjadi gas NH3 dan CO2. Gas NH3 ini
akan bereaksi dengan H2O menjadi NH4OH yang
bersifat basa, walaupun terbentuk asam sitrat, namun
NH4OH yang terbentuk juga semakin banyak. Lebih
banyaknya NH4OH yang terbentuk dibandingkan asam
sitrat yang terbentuk mengakibatkan pH yang dihasilkan
menjadi basa. (Sunarya, 2007)

3.2 Pengaruh Volume Titran terhadap Waktu


Tabel 3.2 Pengaruh volume titran terhadap waktu
Hari
Volume titran (mL)
keVaria
Varia
Varia
bel 1
bel 2
bel 3
1
4,7
4
1,8
2
2,4
2,5
0,5
3
3,8
4,1
1,1
4
5,6
7
2,1
Gambar 3.2 Hubungan antara volume titran terhadap
waktu
Berdasarkanhasil percobaan, terjadi fenomena
kenaikan dan penurunan volume titran yang dibutuhkan
pada tiap variabelnya. Setiap variabel mengalami
penurunan pada hari ke-2, lalu pada hari ke-3 hingga ke4 terjadi kenaikan volume titran.
Pada variabel 1 membutuhkan volume titran NaOH
sebesar 4,7 ml untuk hari ke-1, 2,4 ml titran dibutuhkan
untuk hari ke-2 dan pada hari ke-3 dibutuhkan 3,8 ml.
Sedangkan pada hari ke-4 volume titran yang
dibutuhkan bertambah menjadi 5,6 ml. Pada variabel 2
membutuhkan 4 ml titran pada hari ke-1 dan 2,5 ml pada
hari ke-2. Untuk hari ke-3 dan ke-4 volume titran
meningkat menjadi 4,1 ml dan 7 ml. Sedangkan
kebutuhan titran pada variabel 3 sebesar 1,8 ml untuk
hari ke-1, 0,5 ml untuk hari ke-2, 1,1 ml untuk hari ke-3
dan 2,1 ml untuk hari ke-4.
Secara teoritis, semakin lama fermentasi dilakukan,
maka volume NaOH yang diperlukan juga semakin
banyak. Hal ini disebabkan adanya proses fermentasi

Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia

yang menyebabkan kandungan asam sitrat yang


meningkat. Tingkat keasaman yang meningkat
mengakibatkan kebutuhan titran yang lebih banyak
(Kristinah Haryani, 2011).
Untuk variabel 1 diketahui berdasarkan grafik
bahwa volume titran yang dibutuhkan pada hari ke-2
hingga hari ke-4 lebih sedikit dibandingkan pada
variabel 2. Kadar optimum dari MgSO4 sebesar 0,2-0,5
gram/L (Madona, 2009). Hal ini berarti bahwa
kandungan MgSO4 pada variabel 1 lebih optimum
dibandingkan dengan variabel 2. Dimana MgSO4 yang
terkandung pada variabel 1 sebesar 2 gram dan variabel
2 sebesar 4 gram.Secara teoritis, asam sitrat yang
terbentuk pada variabel 1 lebih tinggi dari variabel 2.
Sehingga volume NaOH pada variabel 1 lebih tinggi
juga. Namun pada hasil percobaan yang didapatkan,
asam sitrat yang terbentuk pada variabel 1 diubah
menjadi asam isositrat, sesuai dengan siklus krebs.
Sehingga pada hari ke-2 hingga ke-4 jumlah asam sitrat
untuk variabel 1 berkurang, dan asam sitrat yang ada
semakin sedikit. Hal ini mengakibatkan volume NaOH
yang dibutuhkan semakin kecil pula. Senyawa MgSO 4
merupakan makronutrien yang dibutuhkan oleh
Aspergillus niger.Namun apabila MgSO4 yang
ditambahkan berlebih maka asam sitrat yang terbentuk
akan diubah menjadi asam oksalat. Pada variabel 2
terjadi penambahan MgSO4 yang lebih banyak, sehingga
pembentukan asam oksalat juga semakin banyak.
Semakin banyak asam oksalat yang terbentuk, maka
tingkat keasaman juga bertambah. Sehingga volume
NaOH yang diperlukan untuk menetralkannya semakin
besar. (Achmad Ali, dkk, 2006)
Untuk variabel 3 didapatkan volume titran NaOH
yang lebih sedikit dibandingkan dengan variabel 2.
Dimana pH awal dari variabel 2 yaitu 3, sedangkan
variabel 3 sebesar 5. Untuk fermentasi asam sitrat, pH
optimum yang digunakan yaitu 3 (Rahmat, 2014). Pada
variabel 2 pH awal yang digunakan untuk fermentasi
asam sitrat sesuai dengan kadar optimum, sehingga
asam sitrat yang terbentuk lebih banyak. Karena
Aspergillus niger dapat mengkonversi menjadi asam
sitrat dengan cepat jika kondisinya optimum. Akibat
lebih banyaknya asam sitrat yang terbentuk pada
variabel 2 maka tingkat keasaman juga semakin
meningkat. Hal ini mengakibatkan volume NaOH yang
diperlukan untuk menetralkan pHnya lebih banyak.
Sedangkan pada variabel 3 pH awal yang digunakan
yaitu 5. Dimana pH tersebut melebihi kadar optimum,
sehingga Aspergillus niger tidak bisa melakukan
fermentasi asam sitrat secara optimal, dan asam sitrat

Page 5

yang terbentuk tidak sebanyak variabel 2. Dan tingkat


keasamannya lebih rendah dibandingkan variabel 2.
Oleh karena itu, volume NaOH yang diperlukan juga
lebih sedikit.
Dari grafik tersebut dapat dilihat juga bahwa pada
hari ke-2 terjadi penurunan volume titran. Hal ini
dikarenakan asam sitrat yang terbentuk diubah menjadi
asam isositrat, sesuai dengan siklus krebs.Sehingga
asam sitrat yang terbentuk menjadi berkurang dan
volume titran NaOH yang dibutuhkan lebih sedikit
(Papagiani M,2007). Sedangkan pada hari ke-3 dan ke-4
terjadi peningkatan volume titran yang signifikan. Hal
ini karena spora mulai terbentuk untuk memulai
germinasi pada proses fermentasi asam sitrat yang
dibantu oleh Aspergillus niger. (Haryati,2011)

Gambar 4.3 Siklus Krebs


3.3 Pengaruh
Penambahan
dan
Kadar
OptimumMgSO4
Dalam hal ini MgSO4 berperan sebagai nutrient
untuk pertumbuhan Aspergillus niger. Penambahan
nutrient magnesium dari senyawa MgSO 4 yang semakin
banyak maka dihasilkan asam sitrat yang baik. Hal ini
disebabkan magnesium dapat mengubah glukosa
menjadi asam piruvat yang menyebabkan pembentukan
asam sitrat menjadi lebih cepat. Sehingga apabila
MgSO4t yang ditambahkan sedikit mengakibatkan
pembentukan asam sitrat yang terlalu lama. Kadar
optimum dari MgSO4 sendiri yang dibutuhkan oleh
Aspergilus niger sebesar 0,2-0,5 g/L. (Madona,2009)
Semakin banyak MgSO4 yang diberikan maka
asam sitrat akan semakin baik. Sehingga Semakin
banyak asam sitrat yang terbentuk maka volume titran
semakin besar.Penambahan MgSO4 yang berlebih dapat
mengubah asam sitrat menjadi asam oksalat yang dapat

Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia

menganggu proses fermentasi. Kadar optimum dari


MgSO4 yaitu 0,4 g/L. (Achmad Ali, dkk, 2006).
3.4 Pengaruh pH pada Fermentasi Asam Sitrat
Pengaturan pH penting bagi keberhasilan proses
fermentasi. Untuk fermentasi asam sitrat pH
optimumnya adalah kurang dari 3. Penurunan pH
menyebabkan produksi asam sitrat berkurang. Hal ini
disebabkan pada pH rendah ion ferosinida lebih toksik
bagi pertumbuhan miselium. Sedangkan pada pH yang
tinggi akan terjadi akumulasi asam oksalat.
(Hidayat,2008)
Untuk fermentasi asam sitrat, pH optimum yang
digunakan adalah 3. Sedangkan pH optimum untuk
pertumbuhan Aspergillus niger adalah 2,5 3,5.
Penurunan
pH
menyebabkan
produksi
asam
sitratberkurang. Hal ini disebabkan pada pH rendah ion
ferosinida lebih toksik bagi pertumbuhan miselium.
Pada pH yang tinggi terjadi akumulasi asam oksalat.
(Rahmat, 2014)

4. Kesimpulan
Semakin lama fermentasi asam sitrat dilakukan,
maka pH yang dihasilkan semakin turun. Semakin lama
fermentasi asam sitrat dilakukan, maka volume titran
NaOH yang digunakan semakin banyak. Semakin
banyak MgSO4 yang ditambahkan, maka akan
dihasilkan asam sitrat yang baik, dengan kadar optimum
0,2-0,5 g/L.Dan Aspergillus niger akan tumbuh dengan
optimal pada pH rendah yaitu kurang dari 3.
Ucapan Terimaksih
Pertama-tama kami mengucapkan terimaksih kepada
Tuhan YME atas rahmat dan hidayahnya kami dapat
menyelesesaikan
praktikum
mikrobiologi
ini,
selanjutnya terimaksih kepada dosen pengampuh Asam
Sitrat Bapak Ir. Hantoro Satriadi, M.T, terimaksih kami
juga terjutu kepada ibu Jufriyah, S.T selagu pranata
laboratorium mikrobiologi dan Yang terkahir kami
ucapkan terimakasih sedalam-dalamnya kepada Asisten
laboratorium mikrobiologi atas ilmu yang telah di
berikan kepada kami
Daftar Pustaka
Currie. 1917 dalam Rusmana I. 2005. Petunjuk
Praktikum Bioteknologi Mikrobia. FMIPA
IPB. Bogor
Haryani, Kristinah. 2011. Studi Kinetika Pertumbuhan
Aspergillus niger pada Fermentasi Asam

Page 6

Sitrat dalam Reaktor Air-Lift External Loop.


FT UNDIP Semarang.
Madonna, Naomi dan Dias, Rizki Nur. 2009.
Fermentasi Ubi Jalar menjadi Asam Sitrat
dengan menggunakan Metode Surface
Culture. Semarang: Seminar Tugas Akhir S-1
Jurusan Teknik Kimia UNDIP 2009.
Manfaati, Rintis.2011.Pengaruh Komposisi Media
Fermentasi Terhadap Produksi Asam Sitrat
Oleh Aspergillus niger.Bandung: Politeknik
Negeri Bandung.
Onikayanti, Bontor dan Powell, Jonathan. 2010.
Pembuatan Asam Sitrat dengan Menggunakan
Aspergillus niger dengan Cara Fermentasi
dengan Berbagai Variabel. Semarang :
Universitas Diponegoro.
Papagianni, M. 2007. Advances in Citric Acid
Fermentation
by
Aspergillus
niger,
Biochemical Aspects, Membrane Transport
and Modeling. Journal Biotechnology
Advances 25: 244-263. Aristotle University of
Thessaloniki. Greece.
Satrio, Arief dan Bagus, Asep. 2012. Fermentasi Asam
Sitrat oleh Aspergillus niger. Bandung :
Politeknik Negeri Bandung.
Soetrisnanto, Danny dan Nugroho, Amin. 1998.
Pembuatan Asam Sitrat dari Sagu dengan
Cara Fermentasi pada Media Cair.
Semarang : Universitas Diponegoro
Sumo, Sumantri, Subono. 1993. Prinsip Bioteknologi.
PT Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
Sunarya.2007.Mudah dan Aktif Belajar Kimia.
Bandung: Setia Purna Inves.
Wehner. 1893 dalam Rusmana I. 2005. Petunjujk
Praktikum Bioteknologi Mikrobia. FMIPA
IPB. Bogor

Journal Mikrobiologi Industri Teknik Kimia

Page 7