Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENGANTAR TEORI BELAJAR DAN


PEMBELAJARAN

Sumber: goo.gl/w5U3RR.

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau Information and


Communication Technology (ICT) di dunia pendidikan, telah mengakibatkan semakin
menyempitnya dan bahkan meleburnya dimensi ruang dan waktu yang selama ini menjadi
faktor penentu kecepatan dan keberhasilan penguasaan ilmu dan teknologi oleh umat manusia.
Berbagai upaya peningkatan mutu pendidikan senantiasa dilakukan. Boleh dikatakan bahwa
dunia pendidikan dewasa ini hidup dalam dunia media, di mana kegiatan pembelajaran telah
bergerak menuju dikuranginya sistem penyampaian bahan pembelajaran secara konvensional
yang lebih mengedepankan metode ceramah, dan diganti dengan sistem penyampaian bahan
pembelajaran modern yang lebih mengedepankan peran pembelajar dan pemanfaatan
Teknologi Informasi dan Komunikasi. Lebih-lebih pada kegiatan pembelajaran yang
menekankan pada kompetensi-kompetensi yang terkait dengan keterampilan proses, peran
media pembelajaran menjadi semakin penting. Pembelajaran yang dirancang secara baik dan
kreatif dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, dalam batas-batas tertentu
akan dapat memperbesar kemungkinan peserta didik untuk belajar lebih banyak, mencamkan
apa yang dipelajarinya lebih baik, dan meningkatkan kualitas pembelajaran, khususnya dalam
rangka meningkatkan ketercapaian kompetensi..
Implikasi dari prinsip tersebut adalah pergeseran paradigma pendidikan, yaitu dari
paradigma pengajaran ke paradigma pembelajaran. Istilah pembelajaran berarti proses
membuat orang belajar. Sebagai sebuah sistem yang berkelanjutan, pembelajaran harus
direncanakan, dilaksanakan, dinilai, dan dipantau agar terlaksana secara efektif dan efisien.
Pembelajaran harus interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta

didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas,
dan kemandirian, serta menghasilkan insan Indonesia cerdas komprehensif dan berkarakter,
yang disesuaikan dengan kondisi setempat. Dengan pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi diharapkan pesan pembelajaran dapat dikemas lebih sistemik-sistematik sehingga
dapat diterima oleh peserta didik dengan baik dan mudah, serta menciptakan pembelajaran
yang menyenangkan (enjoyment atau joyful learning), fleksibel dalam dimensi waktu, serta
mengembangkan potensi peserta didik secara individual.
Sejalan dengan perubahan itu maka seorang guru harus tetap konsisten pada harapan
bersama yang bermuara pada tujuan pembelajaran. Pencapain tujuan pembelajaran tentunya
tidak terlepas dari konsep teori belajar dan pembelajaran yang dipahami oleh para pendidik.
Maka dengan ini penulis menjadikan pembahasan teori belajar dan pembelajaran menjadi
sangat penting sebagai acuan pengembangan berbagai metode, model, strategi dan berbagai
upaya kreatif pendidik dalam mewujudkan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa sejajalan
dengan perkembagan dunia pendidikan dewasa ini.
A. Teori Belajar dan Pembelajaran Menurut
Belajar adalah segenap rangkaian kegiatan atau aktivitas yang dilakukan secara sadar
oleh seseorang dan mengakibatkan perubahan dalam dirinya berupa penambahan pengetahuan
atau kemahiran berdasarkan alat indera dan pengalamannya. Oleh sebab itu apabila setelah
belajar peserta didik tidak ada perubahan yang positif dalam arti tidak memiliki kecakapan baru
serta wawasan pengetahuan tidak bertambah maka dapat dikatakan bahwa belajarnya belum
sempurna.
Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar
pada lingkungan belajar. Dimana peran pendidik dalam pembelajaran disini untuk memberi
bantuan agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan kepada peserta didik.
Jadi, teori belajar dan pembelajaran adalah upaya untuk mendeskripsikan bagaimana
manusia belajar sehingga menjadi acuan untuk memahami proses inhern yang kompleks dalam
belajar.
Para pakar psikologi saling berbeda dalam menjelaskan mengenai cara atau aktivitas
belajar itu berlangsung. Akan tetapi dari beberapa penyelidikan dapat ditandai, bahwa belajar
yang sukses selalu diikuti oleh kemajuan tertentu yang terbentuk dari pola pikir dan berbuat.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa aktivitas belajar ialah untuk memperoleh kesuksesan
dalam pengembangan potensi-potensi seseorang. Beberapa aspek psikologis aktivitas belajar
itu misalnya: motivasi, penguasaan keterampilan dan ilmu pengetahuan, pengembangan
kejiwaan dan seterusnya.
B. Macam-Macam Teori Belajar dan Pembelajaran
Ada tiga kategori utama atau kerangka filosofis mengenai teori-teori belajar, yaitu: teori
belajar behaviorisme, teori belajar kognitivisme, dan teori belajar konstruktivisme. Teori
belajar behaviorisme hanya berfokus pada aspek objektif diamati pembelajaran. Teori kognitif
melihat melampaui perilaku untuk menjelaskan pembelajaran berbasis otak. Dan pandangan

konstruktivisme belajar sebagai sebuah proses di mana pelajar aktif membangun ide-ide baru
atau konsep.
1.

Teori Belajar Behaviorisme

Pandangan tentang belajar menurut aliran tingkah laku (behavioristik), tidak lain adalah
perubahan tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respon. Dengan kata
lain, belajar adalah perubahan yang dialami oleh seseorang dalam hal kemampuannya untuk
bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan repon. 1
Adapun tokoh dalam aliran ini di antaranya Thorndike, Wathson, Hull dan Skinner.
2.

Teori Belajar Kognitifisme

Psikologi kognitif lebih menekankan pendidikan sebagai proses internal mental manusia
termasuk bagaimana orang berfikir, merasakan, mengingat, dan belajar. 2 Tingkah laku manusia
yang tampak tidak dapat diukur dan diterangkan tanpa melibatkan proses mentalnya, seperti
motivasi, keyakinan, dan sebagainya. Psikolagi kognitif menyebutkan bahwa belajar adalah
peristiwa mental, bukan peristiwa perilaku fisik meskipun hal-hal yang bersifat behavioral
kadang-kadang tampak kesat mata dalam setiap peristiwa belajar manusia. Seseorang yang
sedang belajar membaca dan menulis, tentu menggunakan perangkat jasmaniah yaitu mulut
dan tangan untuk mengucapkan kata dan menggoreskan pena. Akan tetapi, menggerakkan
mulut dan menggoreskan penayang dilakukan bukan sekedar respons atau stimulus yang ada,
melainkan yang terpenting karena dorongan mental yang diatur oleh otaknya. Adapun tokoh
dalam aliran ini di antaranya Piaget, Ausubel dan Bruner.
3.

Teori Belajar Konstruktifisme

Konstruktivistik, constructivism dalam bahasa Inggris berasal dari kata construct yang
berarti membina. Konstruktivisme ialah teori yang bertunjangkan usaha pelajar mengaitkan ide
lama dengan ide baru dalam membina ilmu pengetahuan. Teori ini pertama kali diperkenalkan
dalam konteks pendidikan dan perkembangan anak-anak oleh Piaget dan John Dewey.
Konstruktivistik atau konstruktivisme merupakan suatu filsafat pengetahuan yang
menekankan bahwa pengetahuan kita adalah sebuah konstruksi atau bentukan diri kita sendiri.
Dan menurut Piaget pembentukan atau konstruksi ini tak pernah mencapai suatu titik akhir
namun terus berkembang setiap kali diadakanya reorganisasi karena adanya suatu pemahaman
baru.3
Selain tiga teori di atas berkembang pula berbagai teori lain seperti teori belajar
humanistik dan sibernetik. Teori belajar humanistik menekankan bahwa belajar dianggap
berhasil jika pembelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Peserta didik dalam
proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan

Hamzah, B. Uno. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2005), h. 7
Sudarwan Denim, dkk, Psikologi Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2011), h.38.
3
Mohamad Suard. Belajar dan Pembelajaran. (Yogyakarta: Deepublish, 2015), h. 164-171.
2

sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang
pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. 4
Sedangkan teori belajar/pembelajaran yang dianggap modern New Learning Theories
(Joshua Wallace), seperti: Connectivism, Multimedia Learning, Democratic Learning,
Collaborative Learning, and Competence Learning. Ada juga: E-Learning, Mobile Learning,
dan Blended Learning. Penulis tidak membahas secara menyeluruh tentang teori ini pada
bagian bab pertama. Namun, akan dibahas pada pembahasan selanjutnya.
C. Prinsip Belajar
Prinsip belajar adalah landasan berpikir, landasan berpijak, dan sumber motivasi agar
proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik antara pendidik dengan peserta didik.
Prinsip ini dijadikan sebagai dasar dalam upaya pembelajaran, baik bagi siswa maupaun bagi
guru dalam upaya mencapai hasil yang diinginkan. Prinsip-prinsip itu berkaitan dengan
perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung/ berperpengalaman, pengulangan,
tantangan, balikan dan penguatan, serta perbedaan individual.
1.

Perhatian dan Motivasi


Perhatian mempunyai peranan yang penting dalam kegiatan belajar. Dari kajian teori
kegiatan belajar pengolahan informasi terungkap bahwa tanpa adanya perhatian tak mungkin
terjadinya belajar.5 Perhatian terhadap pembelajaran akan timbul apabila bahan pelajaran
sesuai dengan kebutuhannya.
Disamping perhatian, motivasi mempunyai peranan penting dalam kegiatan belajar.
Motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi
dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil.6 Motivation is the concept we use
when we describe the force action on or within an organism to intiate and direct behavior
demikian menurut H.L. Petri.7 Motivasi dapat merupakan tujuan dan alat dalam pembelajaran.
Sebagai tujuan motivasi merupakan salah satu tujuan dalam mengajar. Sebagai alat motivasi
merupakan salah satu faktor seperti halnya intelegensi dan hasil belajar sebelumnya yang dapat
menentukan keberhasilan belajar siswa dalam bidang pengetahuan, nilai-nilai dan
keterampilan.
Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat. Siswa yang memiliki minat
terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan dengan demikian
timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut. Karenanya ,bahan-bahan
pelajaran yang disajikan hendaknya disesuaikan dengan minat siswa dan tidak bertentangan
dengan nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Sikap siswa, seperti halnya motif menimbulkan dan mengarahkan aktivitasnya. Motivasi
dapat bersifat internal, artinya datang dari dirinya sendiri, dapat juga bersifat eksternal yakni
datang dari orang lain, dari guru, dari orang tua, teman, dan sebagainya. Motivasi Intrinsik
4

Hamzah B. Uno. Orientasi Baru dalam Psikologi Perkembangan. (Jakarta: Bumi Aksara, 2006), h. 13.
N.L. Gage & David C.Berliner. Educational Psychology. (Chicago: Rand Mc Nally Collage Publushing
Company, 1984), h. 335.
6
N.L. Gage & David C.Berliner. Educational Psychology, h. 372.
7
Herbert L Petri. Motivation: Theory and Research. (Belmong, California: Wadsworth Publishing
Company, 1986), h. 3
5

adalah tenaga pendorong yang sesuai dengan perbuatan yang dilakukan. Motivasi ekstrinsik
adalah tenaga pendorong yang ada diluar perbuatan yang dilakukannya tetapi menjadi
penyertanya.
2. Keaktifan
Kecenderungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah makhluk yang
aktif . Anak mempunyai dorongan untuk berbuat sesuatu mempunyai kemauan dan aspirasinya
sendiri. Belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada
orang lain. Jhon Dewey misalnya mengemukakan bahwa belajar adalah menyangkut yang
harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri , maka inisiatif harus datang dari siswa sendiri.
Guru sebagai pembimbing dan pengarah.8
Menurut teori kognitif, belajar menunjukan adanya jiwa yang sangat aktif, jiwa yang
mengolah informasi yang kita terima, tidak sekedar menyimpannya tanpa mengadakan
transformasi.9 Thomdike mengemukakan keaktifan siswa dalam belajar dengan hukum law of
exercise yang menyatakan bahwa belajar memerlukan adanya latihan-latihan. Manusia
belajar yang aktif selalu ingin tahu, sosial. 10
3. Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Dalam belajar melalui pengalaman langsung siswa tidak sekedar mengamati secara
langsung tetapi ia harus menghayati, terlibat langsung dalam perbuatan, dan bertanggunjawab
terhadap hasilnya. Pentingnya keterlibatan langsung dalam dikemukakan oleh Jhon Dewey
dengan learning by doing-nya . Belajar sebaiknya dialami melalui perbuatan langsung.
Keterlibatan siswa dalam belajar jangan diartikan keterlibatan fisik semata, namun lebih
dari itu terutama adalah keterlibatan mental emosional, keterlibatan dengan kognitif dalam
pencapaian dan perolehan pengetahuan ,dalam penghayatan dan internalisasi dalam
pembentukkan sikap dan nilai, dan juga pada saat mengadakan latihan-latihan dalam
pembentukan keterampilan.
4. Pengulangan
Prinsip belajar yang menekankan perlunya pengulangan barangkali yang paling tua
adalah yang dikemukakan oleh teori Psikologi Daya. Menurut teori ini belajar adalah melatih
daya-daya yang ada pada manusia yang terdiri atas daya mengamat, menanggap, mengingat,
mengkhayal, merasakan, berfikir dsb. Teori lain menekankan prinsip pengulangan adalah teori
asosiasi atau koneksionisme dengan tokohnya yang terkenal Thomdike. Berangkat dari salah
satu hukumnya Law of exercise ia mengemukakan bahwa belajar adalah pebentukan
hubungan antara stimulus dan respons dan pengulangan terhadap pengalaman-pengalaman itu
memperbesar peluang timbulnya respons benar.
Kalau pada koneksionisme belajar adalah pembentukan hubungan stimulus dan respons
maka pada psikologi conditioning respons akan timbul bukan karena saja oleh stimulus,tetapi
oleh stimlus yang dikondisikan. Menurut teori ini perilaku individu dapat dikondisikan dan
belajar merupakan upaya untuk mengkondisikan suatu perilaku atau respons terhadap sesuatu.
5. Tantangan
8

Ivor K. Davies (penerjemah: Sudarsono S., dkk.). 1987. Pengelolaan Belajar. (Jakarta : C.V. Rajawali
dan PAUT-UT), h. 31.
9
N.L. Gage & David C.Berliner. Educational Psychology, h. 267.
10
Margaret E. Bell Gredler. (penerjemah Munandir). Belajar dan Membelajarkan. (Jakarta: C.V Rajawali
dan PAU-UT, 1991), h. 105.

Teori Medan (Field Theory) dari Kurt Lewin mengemukakan bahwa siswa dalam situasi
belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar siswa
menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai , tetapi selalu terdapat hambatan yaitu mempelajari
bahan belajar maka timbullah motif untuk mengatsi hambatan itu yaitu dengan mempelajari
bahan belajar tersebut. Agar pada anak timbul motif untuk mengatasi hambatan dengan baik
maka bahan belajar haruslah menantang. Tantangan yang dihadapi dalam bahan belajar
membuat siswa bergairah untuk mengatasinya.
Pelajaran yang memberi kesempatan pada siswa untuk menemukan konsep-konsep
,prinsip-prinsip, dan generalisasi akan menyebabkan siswa berusaha mencari dan menemukan
konsep-konsep, prinsip-prinsip, dan generalisasi tersebut. Penggunaan metode eksperien,
inkuiri, diskoveri, juga memberikan tantangan bagi siswa untuk belajar secara lebih,giat dan
sunguh-sungguh.
6. Balikan dan Penguatan
Prinsip belajar yang berkaitan dengan balikan dan penguatan terutama ditekankan oleh
teori belajar Operant Conditioning dari B.F Skinner, kalau pada teori conditioning yang diberi
kondisi adalah stimulusnya ,maka pada operant conditioning yang diperkuat adalah
responsnya. Siswa akan lebih bersemangat apabila menegetahui dan mendapatkan hasil yang
baik. Hasil apalasi yang baik akan merupakan balikan yang menyenagkan dan berpengaruh
baik bagi usaha belajar selanjutnya. Siswa belajar dengan sungguh-sungguh dan mendapatkan
hal yag baik dalam ulangan. Nilai yang baik itu akan mendorong anak untuk belajar lebih giat
lagi. Nilai yang baik dapat merupakan operant conditioning atau penguatan positif. Forat
berupa sajian tanya jawab, diskusi, eksperimen, metode penemuan, dan sebagainya merupakan
cara belajar-mengajar yang memungkinkan terjadinya balikan dan penguatan.
7. Perbedaan Individual
Siswa merupakan individual yang unik artinya tidak ada dua orang siswa yang sama
persis, tiap siswa memiliki perbedaan satu dengan yang lainnya. Perbedaan itu terdapat pada
karakteristik psikis, kepribadian, dan sifat-sifatnya. Perbedaan individual ini berpengaruh pada
cara dan hasil belajar siswa. Sistem klasikal yang dilakukan di sekolah kita kurang
memperhatikan masalah perbedaan individual, umumnya pelaksanaan pembelajaran di kelas
dengan rata-rata, kebiasaan yang kurang lebih sama, demikian pula dengan pengetahuannya.
Pembelajaran yang klasikal yang mengabaiakan perbedaan individual dapat diperbaiki
dengan beberapa cara. Antara lain penggunaan metode atau strategi belajar-mengajar yang
bervariasi sehingga perbedaan-perbedaan kemampuan siswa dapat terlayani. Juga penggunaan
media intruksional akan membantu melayani perbedaan-perbedaan siswa dalam cara belajar.
Usaha lain untuk memperbaiki pembelajaran klsikal adalah dengan memberikan tambahan
pelajaran atau pengayaan bagi siswa yang pandai, dan memberikan bimbingan bagi anak-anak
yang kurang.
Impikasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tapak daam setiap kegiatan perilaku
mereka selama proses pembelajaran berlangsung. Namun demikian, perilaku disadari bahwa
implementasi prinsip-prinsip belajar bagi siswa dan guru, tidak semuanya terwujud dala setiap
proses pembelajaran.
D. Tujuan Belajar

Tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah
melakukan perbuatan belajar yang menunjukkan bahwa siswa telah melakukan perbuatan
belajar, yang umumnya meliputi pengetahuan, keterampilan dan sikap-sikap yang baru, yang
diharapkan tercapai oleh siswa. Tujuan belajar adalah suatu deskripsi mengenai tingkah laku
yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsungnya proses belajar. Tujuan belajar
merupakan cara yang akurat untuk menentukan hasil pembelajaran.11
Menurut Oemar Hamalik 12 tujuan belajar terdiri dari tiga komponen, yaitu :
1.

Tingkah laku terminal. Tingkah laku terminal adalah komponen tujuan belajar yang
menentukan tingkah laku siswa setelah belajar.
2. Kondisi-kondisi tes. Komponen kondisi tes tujuan belajar menentukan situasi di mana
siswa dituntut untuk mempertunjukkan tingkah laku terminal.
3. Ukuran-ukuran perilaku. Komponen ini merupakan suatu pernyataan tentang ukuran yang
digunakan untuk membuat pertimbangan mengenai perilaku siswa.
E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
Secara global faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat kita bedakan
kepada tiga macam, yaitu: 13
1.
2.
3.

Faktor internal (faktor dari dalam siswa), yaitu keadaan atau kondisi jasmani dan rohani
siswa.
Faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yaitu kondisi lingkungan di sekitar siswa
Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yaitu jenis upaya belajar siswa yang
meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan
pembelajaran materi-materi pembelajaran.

Menurut Sumadi Suryabrata, faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat


diklasifikasikan kepada: 14
1.

Faktor-faktor yang berasal dari luar diri pelajar, dan ini masih dapat digolongkan menjadi
dua golongan, dengan catatan overlapping tetap ada, yaitu:
a. Faktor-faktor non-sosial
b. Faktor-faktor sosial
2. Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri si pelajar, dan inipun dapat lagi digolongkan
menjadi dua golongan, yaitu
a. Faktor-faktor fisiologis
b. Faktor-faktor psikologis
Faktor-faktor di atas dalam banyak hal sering saling berkaitan dan mempengaruhi satu
sama lain. Seorang siswa yang bersikap conserving terhadap ilmu pengetahuan atau bermotif
extrinsic (faktor eksternal) umpamanya, biasanya cenderung mengambil pendekatan belajar
yang sederhana dan tidak mendalam sebaiknya seorang siswa yang berintelegensi tinggi (faktor
11

Oemar Hamalik.. Kurikulum dan Pembelajaran. (Bumi Aksara, Jakarta, 2008), h. 73.
Oemar Hamalik. Kurikulum dan Pembelajaran. h. 73-75.
13
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Logos Wacana Ilmu, 1999), Cet. Ke-1, h. 130
14
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Cet. VIII; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1998), h. 233
12

internal) dan mendapat dorongan positif dan orang tuanya (faktor eksternal), mungkin akan
memilih pendekatan belajar yang lebih mementingkan kualitas pembelajaran. Jadi, karena
pengaruh faktor-faktor tersebut di ataslah, muncul siswa-siswa yang lebih high-achievers
(berprestasi tinggi) dan under-achievers (berprestasi rendah) atau gagal sama sekali. Dalam hal
ini, seorang guru yang kompeten dan berprofesional diharapkan mampu mengantisipasi
kemungkinan-kemungkinan munculnya kelompok siswa yang menunjukkan gejala kegagalan
dengan berusaha mengetahui dan mengatasi faktor yang menghambat prose belajar mereka.15
1.

Faktor internal siswa

Faktor yang berasal dari dalam diri siswa meliputi dua aspek, yaitu aspek fisiologis (yang
bersifat jasmaniah) dan aspek psikologis (yang bersifat rohaniyah).
a. Aspek Fisiologis
Kondisi umum jasmani dan tonus (tegangan otot) yang menandai tingkat kebugaran
organ-organ tubuh dan sendi-sendinya, dapat mempengaruhi semangat dan intensitas siswa
dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi jika disertai pusingpusing kepala misalnya, dapat menurunkan kualitas ranah cipta (kognitif) sehingga materi
yang dipelajarinya pun kurang atau tidak berbekas. Untuk mempertahankan tonus jasmani
agar tetap bugar, siswa sangat dianjurkan mengkonsumsi makanan dan minuman yang
bergizi. Selain itu, siswa sangat dianjurkan memilih pola istirahat dan olahraga ringan yang
sedapat mungkin terjadwal secara tetap dan berkesinambungan. Hal ini penting sebab
perubahan pola makanan dan minuman dan istirahat akan menimbulkan reaksi tonus yang
negatif dan merugikan semangat mental siswa itu sendiri. 16
Keadaan tonus jasmani pada umumnya melatarbelakangi aktivitas belajar, keadaan
jasmani yang lelah lain pengaruhnya dari pada yang tidak lelah. Dalam hubungan dengan hal
ini ada dua hal yang perlu dikemukakan, yaitu:17
1) Nutrisi harus cukup, karena kekurangan kadar makanan ini akan mengakibatkan
kurangnya tonus jasmani, yang pengaruhnya dapat berupa kelesuan, cepat mengantuk,
cepat lelah dan sebagainya.
2) Beberapa penyakit yang kronis sangat mengganggu belajar itu, misalnya pilek, influenza,
sakit gigi, batuk dan sebagainya
b. Aspek psikologis
Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi kuantitas dan
kualitas perolehan pembelajaran siswa. Namun, di antara faktor-faktor rohaniyah siswa yang
pada umumnya dipandang lebih essensial adalah tingkat kecerdasan/intelegensi siswa, sikap
siswa, bakat siswa dan motivasi siswa. 18
1) Intelegensi siswa
Intelegensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan psiko-fisik untuk
mereaksi rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan cara yang tepat. Jadi,
intelegensi sebenarnya bukan persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organorgan tubuh lainnya. Akan tetapi, memang harus diakui bahwa peran otak dalam
15

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, h. 131


Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, h. 131
17
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, h. 235.
18
Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, h. 132.
16

hubungannya dengan intelegensi manusia lebih menonjol dari pada peran organ-organ tubuh
lainnya, lantaran otak merupakan menara pengontrol hampir seluruh tubuh manusia.
Tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa tidak diragukan lagi, sangat menentukan
tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin tinggi kemampuan intelegensi
seorang siswa maka semakin besar peluangnya untuk meraih sukses. Sebaliknya, semakin
rendah kemampuan intelegensi siswa, maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh
sukses.
2) Sikap siswa
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa kecenderungan untuk
mereaksi atau merespons (response tendency) dengan cara relatif tetap terhadap objek orang,
barang dan sebagainya, baik secara positif maupun negatif. Sikap (attitude) siswa yang
positif, terutama kepada guru dan mata pelajaran tertentu merupakan pertanda awal yang baik
bagi proses belajar siswa tersebut. Sebaliknya, sikap negataf siswa terhadap guru dan mata
pelajaran tertentu, apalagi jika diiringi kebencian kepada guru atau kepada mata pelajaran
tertentu, dapat menimbulkan kesulitan belajar siswa tersebut.
3) Bakat siswa
Secara umum, bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang
untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang. Dengan demikian, sebetulnya
setiap orang pasti memiliki bakat dalam arti berpotensi untuk mencapai prestasi sampai ke
tingkat tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jadi, secara global bakat itu mirip
dengan intelegensi. Itulah sebabnya seorang anak yang berintelegensi sangat cerdas
(superior) atau cerdas luar biasa (very superior) disebut talented child, yaitu anak berbakat.
4) Minat siswa
Secara sederhana, minat (interest) berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau
keinginan yang besar terhadap sesuatu. Menurut Rober, minat tidak termasuk istilah populer
dalam psikologi karena ketergantungannya yang banyak pada faktor-faktor internal lainnya
seperti pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi dan kebutuhan.
5) Motivasi siswa
Pengertian dasar motivasi adalah keadaan internal organisme, baik manusia ataupun
hewan, yang mendorongnya untuk berbuat sesuatu. Dalam pengertian ini, motivasi berarti
pemasok saja (energizer) untuk bertingkah laku secara terarah. Motivasi terbagi dua macam,
yaitu motivasi instrinsik dan motivasi ekstrinsik. Perasaan menyenangi materi dan
kebutuhannya terhadap materi tersebut termasuk motivasi instrinsik. Termasuk motivasi
ekstrinsi adalah pujian dan hadiah, peraturan atau tata tertib sekolah, suri teladan orang tua
dan guru.
2. Faktor eksternal siswa
Faktor yang berasal dari luar diri siswa meliputi dua macam, yaitu faktor lingkungan
sosial dan faktor lingkungan non-sosial.
a. Lingkungan sosial
Faktor lingkungan sosial yang mempengaruhi belajar siswa adalah guru, para staf
administrasi, teman-teman sekelas, masyarakat, tetangga, teman-teman sepermainan, orang
tua, dan keluarga. Para guru yang selalu menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik dan
memperlihatkan suri teladan yang baik dan rajin khususnya dalam hal belajar menjadi
pendorong siswa. Begitu juga kondisi masyarakat di lingkungan yang bersih dan rapi, sifat-

sifat orang tua, praktek pengelolaan keluarga, ketenangan keluarga dan demografi keluarga
(letak rumah), semuanya dapat menjadi pendorong dalam kegiatan belajar siswa.
b. Lingkungan non-sosial
Faktor yang termasuk lingkungan non sosial adalah gedung sekolah dan letaknya, rumah
tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar, keadaan cuaca dan waktu belajar
yang digunakan siswa. Faktor-faktor ini dipandang turut menentukan tingkat keberhasilan
belajar siswa. Khusus mengenai waktu yang disenangi untuk belajar seperti pagi atau sore
hari, seorang ahli bernama J. Biggers berpendapat bahwa belajar seperti pagi hari lebih efektif
dari pada belajar pada waktu-waktu lainnya. Menurut penelitian beberapa ahli gaya belajar
(learning style), hasil belajar itu tidak bergantung pada waktu secara mutlak, tetapi
bergantung pada waktu yang cocok dengan kesiapan siswa.
c. Faktor pendekatan belajar
Pendekatan belajar, seperti yang telah diuraikan sebelumnya, dapat dipahami sebagai
segala cara atau strategi yang digunakan siswa untuk menunjang keefektifan dan efisiensi
dalam proses pembelajaran materi tertentu. Strategi dalam hal ini berarti seperangkat langkah
operasional yang direkayasa sedemikian rupa untuk memecahkan masalah atau mencapai
tujuan belajar tertentu. 19

19

Muhibbin Syah, Psikologi Belajar, h. 140.