Anda di halaman 1dari 26

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pada masa sebelum adanya filsafat matematika, untuk mengatasi

terjadinya kontradiksi salah satu caranya adalah dengan melenyapkan subyek


penyebab terjadinya kontradiksi tersebut. Agar filsafat Pythagoras all is number
tetap suci dan terjaga, maka Hippasus, sebagai penemu 2 yang merupakan
bilangan irasional dan potensial untuk merusak filsafat Pythagoras, perlu untuk
dibiarkan menjemput maut di tengah laut. Kontradiksi yang dimuculkan Hippasus
dalam sistem bilangan rasioal yang dibangun Pythagoras, saat ini tidak perlu
diselesaikan secara berdarah. Harus dikedepankan penyelesaian yang beradab.
Oleh karena itu, perlu adanya sebuah sistem, dan itu adalah filsafat matematika,
supaya pengetahuan matematis menempati posisi yang secara sistematis
mempunyai kebenaran yang terjaga dan terbebas dari berbagai kontradiksi.
Filsafat matematika bersifat pragmatik-eklektik, artinya perbedaan aliran
filsafat tidak harus menimbulkan perang senjata seperti yang terjadi pada
perbedaan madzhab politik, tetapi cukup diselesaikan dengan perang pena,
polemik dan berwacana. Dengan bercermin pada filsafat matematika, pekerja
matematika (tidak harus matematikawan) dapat meyakini apakah selama ini dan
saat ini telah bekerja pada arah yang benar. JMP : Volume 1 Nomor 2, Oktober
2009
Artikel ini ditulis dengan tujuan berbagi informasi mengenai topik lama
yang kurang populer dalam matematika, serta tidak terlalu dikembangkan di
Indonesia. Artikel ini disusun untuk menjawab permasalahan seputar upaya-upaya
apa yang perlu dilakukan guna mengatasi terjadinya krisis, kontradiksi dan
paradok dalam matematika serta menjawab pertanyaan landasan filsafat
matematika mana yang saat ini banyak digunakan untuk membelajarkan dan
mengembangkan

matematika.

Berkaitan

dengan

permasalahan

pertama

dipaparkan aliran filsafat matematika platonisme, logisisme, intuisionisme dan


falibilisme. Berkaitan dengan permasalahan kedua, secara khusus artikel ini fokus
pada pembahasan mengenai filsafat matematika formalisme.
Artikel ini dapat dipandang sebagai suatu kontribusi kecil dalam khasanah
matematika dan sebagai artikel yang sangat awal, isi artikel sekedar mengingatkan
dan menyegarkan kepada pembaca lama tetapi juga memperkenalkan aliran-aliran
filsafat dalam matematika kepada pembaca baru, bahwa yang demikian itu
memang ada. Itulah tujuan penulisannya. Pembaca dapat memetik berbagai
pengetahuan berharga dari tulisan ini. Pada bagian akhir diberikan paparan naratif
ketidaktepatan filsafat formalisme sebagai fondasi untuk membangun matematika.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang anda ketahui tentang aliran filsafat matematika
logisisme ?
2. Apa yang anda ketahui tentang aliran filsafat matematika
analog formalisme ?
3. Apa yang anda ketahui tentang aliran filsafat matematika
intuisionisme ?
4. Apa yang anda ketahui tentang aliran filsafat matematika
konstruktivisme ?
1.3 Tujuan Pembahasan
1. Untuk mengetahui tentang aliran filsafat matematika
logisisme.
2. Untuk mengetahui tentang aliran filsafat matematika analog
formalisme.
3. Untuk mengetahui tentang aliran filsafat matematika
intuisionisme.
4. Untuk mengetahui tentang aliran filsafat matematika
konstruktivisme.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Aliran-aliran Filsafat Matematika
Dalam abad 20 ini studi mengenai sifat alami dari
matematik menumbuhkan 3 madzab landasan matematik
yang terkenal dengan nama logisisme, formalisme,dan
intuitionisme.1Menurut Hers (1997), arus utama filsafat
matematika adalah platonisme, logisisme, formalisme, dan
intuitionisme dan konstruktivisme. Dalam tahap ini ada 4
aliran yang akan dijelaskan, yaitu logisisme, formalisme,
intuitionisme, dan konstruktivisme.2
1. Madzab logisisme
Madzab logisisme

dipelopori

oleh

filsuf

Inggris

Bertrand Arthur William Russell.3Russell mengembangkan


kajian yang dilakukan Frege dan juga Dedekind (1831-1916 ) adalah
salah satu matematikawan besar abad 19 yang memberi sumbangan yang
sangat penting dan berguna sepanjang zaman tentang teori bilangan dan
aljabar ( Reck, 2011 ). Frege dipandang sebagai filsof pendiri aliran ini.
Pada tahun 1903 terbitlah buku beliau ( Russell) The
Participles of Mathematics yang berpegang pada
pendapat bahwa matematik murni semata-mata terdiri
atas deduksi-deduksi dengan prinsip-prinsip logika dari
prinsip-prinsip logika. Dengan demikian matematik dan
logika merupakan bidang yang sama karena seluruh
konsep dan dalil matematik dapat diturunkan dari logika.
1The Liang Gie,Filsafat Matematik,Penerbit Supersukses,Yogyakarta,1985,hlm. 35
2Hardi Suyitno,Filsafat Matematika,Universitas Negeri Semarang,2014, hlm. 182
3The Liang Gie,Filsafat Matematik,Penerbit Supersukses,Yogyakarta,1985,hlm. 35

Dalam sebuah karya tulis lainnya Russell menegaskan


hubungan antara matematik dan logika itu sebagai
berikut:
But both have developed in modern times: logic has
becomes mathematical and mathematics has become
more logikal. The consequence is that it has now
become wholly impossible to draw a line besween the
two; in fact, the two are one. The differ as boy and
man:

logic

is

the

youth

of

mahe

matics

and

mathematics is the manhood of logic.


(Tetapi kedua-duanya berkembang dalam zaman
modern : logika telah menjadi lebih bersifat matematis
dan matematik menjadi lebih logis. Akibatnya ialah bahwa
kini menjadi sepenuhnya tak mungkin untuk menarik
suatu garis di antara keduanya; sesungguhnya dua hal itu
merupakan satu. Mereka berbeda seperti anak dan orang
dewasa : logika merupakan masa muda dari matematik
dan matematik merupakan masa dewasa dari logika.)4
Awalnya logika dan matematika lahir dalam konteks yang sangat
berbeda, tetapi perkembangan selanjutnya matematika semakin logis dan
logika matematis dan tidak ada garis pemisah antara logika dengan
matematika (Kattsoff 1949). Menurut Frege, sifat-sifat sistem bilangan
dapat direduksi ke dalam proposisi-proposisi logika. Frege menegaskan
dengan sangat bahwa matematika adalah deskripsi dari suatu dunia ideal.
Menurut Frege, matematika memerlukan suatu landasan dalam suatu
bahasa logis, dalam rangka untuk melindungi intuisi yang tidak perlu,
yang dapat masuk penalaran matematis dan membuat kerancuan dalam
bukti-bukti. Ia menginginkan bukti-bukti yang tersusun dari rangkaian
penalaran yang jelas dan tanpa gap. Hukum dasar Frege untuk
4The Liang Gie,Filsafat Matematik,Penerbit Supersukses,Yogyakarta,1985,hlm. 35-36

melengkapi reduksi dari matematika ke logika. Frege mengatur untuk


menurunkan prinsip-prinsip aritmetika Peano dari hukum dasar-dasar
dari suatu system logika. Hukum dasar Frege, Basic Law V ialah {x|
Fx}={x|Gx}

x(FxGx) yang artinya himpunan Fs identik dengan

himpunan Gs jika dan hanya jika Fs sama dengan Gs. Ia menurunkannya


secara mulus, akan tetapi tak dapat dipertahankan. Frege menyandarkan
diri pada satu prinsip yang tidak menjadi prinsip yang logis. Russell
(1902) menunjukan bahwa Freges Basic Law V mengandung
kontradiksi. Alasan yang dikemukakan oleh Russell kemudian hari
dikenal sebagai Paradoks Russell. Russell (1919) menyatakan bahwa
The comprehensive class we are considering, which is to embrace
everything, must to embrace itself as one of its member. In other
words, if there is such a thing as everything, then everything is
somethin, and is a member of class everything. But a normally a
class is not a member itself. Mankind, for example is not a
man.Form now a assemblage of all clashes which are not members
of themselves. This is a class : is it a member of this itself or not ? If
it is, it is one of those clashes there are not members of themselves,
i.e, it is not a member of itself. If it is not, it is not one of those
classes that are not members of themselves, i.e it is member of
itself. Thus of the two hypotheses that it is, and that it is not, a
member of itself each implies its contradictory.
Menurut Russell, prinsip logika yang digunakan oleh Frege tidak
mencukupi untuk melakukan penalaran deduktif bagi semua hukumhukum dasar aritmetika. Freges Basic Law V memerlukan hubungan
dengan semua hukum yang ada dalam matematika, ada suatu kelas
entitas matematika yang hukum tersebut berlaku. Selanjutnya, hasil kerja
Frege oleh Russell dan Whitehead dikembangkan lebih lanjut dan
hasilnya

dituangkan

dalam

buku

Principia

Mathematica

yang

berkesimpulan bahwa matematika adalah perluasan dari logika dan


5

seluruh aritmetika dapat direduksi ke logika (Russell, 1902). Russell


melalui cara yang berbeda berusaha mereduksi matematika menjadi
logika.
Aliran logisisme memiliki dua dalil, yaitu pertama adalah konsepkonsep matematika dapat diturunkan konsep-konsep logika melalui
definisi yang eksplisit dan yang kedua adalah teorema-teorema dalam
matematika dapat diturunkan dari aksioma-aksioma logika dengan
semata-mata melalui deduksi logis (Carnap, 1964) dan mateematika
adalah sains yang berkaitan dengan konsekuensi deduksi logis dari
premis-premis yang umum dari semua penalaran (Whitehead, 1948).
Keseluruhan matematika dapat direduksi menjadi suatu himpunan relasirelasi yang semata-mata diturunkan dengan aturan-aturan logika tanpa
merujuk kepada konsep matematika secara khusus misalnya konsep
bilangan. Suatu landasan yang memadai untuk logika harus mencukupi
untuk matematika. Pandangan aliran logisisme tercermin dalam
ungkapan Logika adalah masa muda matematika dan matematika adalah
masa dewasa matematika.
Buku The Principles of Mathematics dimulai dengan primitive
ideas dan primitive proportions yang berkaitan dengan undefined
terms dan postulates dari suatu pengembangan sistem formal abstrak
(Eves, 1976). Primitive ideas dan primitive proportions bukan suatu
subjek dari suatu interpretasi, tetapi dipilih secara intuitif untuk suatu
konsep logika. Keduanya digunakan sebagai titik tolak untuk
membangun konsep matematika dan teorema dengan dimulai dengan
suatu kalkulus proposisi dan dilanjutkan dengan melalui theory of classes
dan relasi untuk memantabkan sistem bilangan asli. Selanjutnya semua
matematika dapat diturunkan ke sistem bilangan asli. Proses tersebut
menggunakan metode aksiomatik.
Hilbert, pendiri aliran formalisme, tidak setuju bahwa konsep
matematika

dapat

direduksi

menjadi

konsep

logika.

Menurut

pendapatnya tidak semua logika ada kaitannya dengan matematik. Kritik


terhadap pendapat Russell juga datang dari muridnya sendiri sekaligus

koleganya di Trinity College, yaitu Wittgenstein. Wittgenstein berusaha


membawa konsep matematika dari Frege melalui bahasa alamiah (Hardi
Suyitno,

2008).

Ia

mengkritik

pandangan

Russell

dengan

pernyataan...Russell must be wrong, because he had to mention the


meaning of signs when establishing the rules for them (Wittgenstein,
1951). Menurut Wittgenstein kesalahan Russell adalah menyebutkan
makna tanda ketika menetapkan aturan-aturan. Simbol logis yang
digunakan oleh Russell adalah suatu bahasa yang tidak lepas dari
kesalahan. Dalam rangka untuk menghilangkan kesalahan harus
digunakan dengan suatu simbol dengan tidak menggunakan tanda yang
sama dalam simbol yang berbeda dengan tidak menggunakan tanda
dalam cara yang sama yang maknanya berbeda. Dalam logika dan
matematika

kalimat

jika...,

maka...berbeda

makna

dengan

penggunaannya dalam bahasa sehari-hari. Wittgenstein juga mengkritik


pandangan Russell tentang reduksi. Proposisi-proposisi seperti aksioma
reduksibilitas dari Russell adalah bukan proposisi logis karena
kebenarannya

mungkin

hanya

secara

kebetulan.

Wittgenstein

berpendapat bahwa matematika adalah suatu metode dari logika, logika


dari dunia yang diperlihatkan oleh proposisi logika yang merupakan
tautologi, logika dari dunia oleh matematika diperlihatkan dengan
persamaan, interpretasi dari angka-angka sebagai eksponen dari suatu
variabel merupakan suatu reduksi dari matematika kepada teori operasi di
mana operasi dikonstruksi sebagai suatu operasi logis dan penegasan
kebenaran proposisi matematika dan proposisi logika semata-mata
berdasarkan simbol.5
2. Madzab Formalisme
Aliran formalisme dalam matematika dapat dilacak pada Bishop
Berkeley,tetapi pencetus utamanya adalah David Hilbert (1862-1943),
pada tahun 1925, diteruskan oleh J. Von Neumann tahun1931 dan H.

5Hardi Suyitno,Filsafat Matematika,Universitas Negeri Semarang,2014, hlm 182-188

Curry tahun 1951.

Menurut madzab ini sifat alami dari

matematik ialah sebagai sistem lambang yang formal.


Matematik bersangkutpaut dengan sifat-sifat struktural
dari

simbol-simboldan

proses

pengolahan

terhadap

lambang-lambang itu. Simbol-simbol dianggap mewakili


pelbagai

sasaran

yang

menjadi

obyek

matematik

bilangan-bilangan misalnya dipandang sebagai sifat-sifat


struktural

simbolisme

abstrak

yang

dilepaskan

dari

sesuatu arti tertentu dan hanya menunjukkan bentuknya


saja madzab formalisme berusaha menyelidiki struktur
dari pelbagai sistem. Berdasarkan landasan pemikiran itu
seorang

pendukung

madzab

tersebut

merumuskan

matematik sebagai ilmu tentang sistem-sistem formal


(Matheamtics is the science of formal systems).7
Menurut formalisme, matematika seperti permainan dengan
simbol-simbol yang ditetapkan secara sembarang berdasarkan aturan
yang dapat ditetapkan sekehendak, permainan hanya tunduk kepada
syarat formal konsistensi (Kattsoff, 1949). Matematika adalah suatu
permainan formal dengan simbol dan pemainnya harus menguasai aturan
permainan yang dapat dipakai untuk mengoperasikan simbol (Hilbert,
1927). Simbol dalam matemtika tak bermakna. Simbol hanyalah simbol..
Hilbert menginginkan untuk mengkonstruksi suatu matematika yang teliti
dan tepat secara sempurna. Hilbert dan pengikutnya menghendaki
matematika menjadi murni kalkulus formal hampir serupa dengan
manipulasi secara mekanis dari simbol-simbol yang tidak merujuk pada
suatu entitas khusus yang sebenarnya (Kattsoft, 1949). Logika
merupakan alat yang digunakan untuk meletakkan struktur yang
6Agung Prabowo,Aliran-aliran Filsafat Matematika, Universitas Jenderal
Soedirman,Purwokerto,2009,hlm. 41

7The Liang Gie,Filsafat Matematik,Penerbit Supersukses,Yogyakarta,1985,hlm

sederhana dari aksioma-aksioma matematika. Logika menggunakan


simbol-simbol yang merupakan bahasa formal. Struktur matematika
diformalisasikan dengan simbol-simbol. Jika untuk menganalisis
matematika digunakan bahasa formal, maka akan terkonstruksi suatu
himpunan aksioma. Struktur dan aksioma menggunakan simbol-simbol
yang merupakan bahasa formal. Pada tahun 1899, Hilbert menghasilkan
suatu himpunan aksioma untuk Geometri Euclidean tanpa merujuk
keruangan atau intuisi. Pada tahun 1905 dan juga 1981, ia berusaha
meletakkan suatu landasan untuk matematika dengan pembuktian
konsistensi bahwa langkah-langkah terbatas penalaran dalam logika tidak
akan menghasilkan. Hilbert berpendapat bahwa ada suatu ide (sense)
yang mana bilangan asli merupakan salah satu basis matematika.
Menurut Hilbert, bilangan asli dapat dinyatakan sebagai sebuah simbol.
Simbol adalah suatu (estitas)yang bersifat abstrak, akan tetapi bilangan
asli yang dinyatakan dalam bentuk simbol memiliki peran bagi entitas
yang bersifat fisik.
Hilbert tidak mengambil posisi sebagai orang yang merevisi tubuh
pengetahuan matematika yang sudah ada. Ia sebenarnya malah
mengadopsi suatu alat yang ada melekat pada matematika tingkat tinggi.
Menurutnya, matematika tingkat tinggi tidak lebih dari permainan
formal. Menurut pendapat Hilbert (1925), pernyataan-pernyataan dalam
matematika tingkat tinggi adalah rangkaian yang tidak memiliki
interpretasi dari simbol-simbol. Pembuktian pernyataan-pernyataan tidak
lebih dari suatu permainan yang mana simbol-simbol dimanipulasi
berdasarkan aturan-aturan yang sudah mantab. Inti permainan
matematika tingkat tinggi termuat dalam pembuktian pernyataan dalam
aritmetika elementer. Aritmetika

elementer

memiliki

interpretasi

langsung. Hilbert meyakini bahwa tidak ada keraguan terhadap


kekokohan Aritmetika Peano, paling tidak ada bagian yang dikenal
dengan istilah Primitive Recursive Arithmetic (PRA).
PRA pertama kali dikenalkan olehSkolem (1923). PRA adalah
formalisasi dari konsepsi kefinitan dari landasan aritmetika. Berasarkan
9

pemikiran ini semua pemikiran yang mengacu kepada PRA adalah finit.
Finitisme adalah filsafat matematika yang hanya menerima eksistensi
dari objek-objek matematika yang finitdan menolak objek-objek
matematika yang tidak finit (infinitive) seperti himpunan tak hingga.
Kuantitas yang diperoleh melalui himpunan yang infinitive dianggap tak
bermakna.
Berdasarkan pendapat Hilbert, setiap pernyataan aritmetik dapat
dibuktikan dengan membuat suatu jalan yang memutar melalui
matematika tingkat tinggi dan secara langsung dibuktikan dengan
Aksioma Aritmetika Peano (Tait, 1981). Sudah barang tentu pemecahan
maslaha-masalah dalam aritmetika dalam hal-hal tertentu yang praktis
tidak mungkin diselesaikan dengan Aksioma Peano. Sejarah matematika
menunjukkan bahwa menyusun langkah memutar melalui matematika
tingkat tinggi seringkali dapat memberi inspirasi suatu bukti dari sutu
pernyataan aritmetika yang lebih singkat dan memberi ide sampingan
daripada suatu bukti secara aritmatika untuk pernyataan yang sama.
Menurut pandangan formalisme, syarat minimal dari suatu
sistem formal matematika tinggi adalah konsistensi. Sebaliknya setiap
pernyataan dari aritmetika elementer akan dapat dibuktikan dalam sistem
tersebut. Hilbert menunjukkan bahwa konsistensi dari suatu sistem
matematika tingkat tinggi membutuhkan sistem tersebut paling tidak kuat
secara aritmetika. Hilbert dan murid-muridnya menyusun bukti
konsistensi dari postulat baku dari analisis matematis. Pernyataanpernyataan aritmetika harus dibuktikan dengan cara yang mantab dan
dapat dipertanggungjawabkan dalam matematika, sebaliknya bukti tidak
meningkatkan keyakinan dalam konsistensi analisis matematika. Hilbert
dan timnya yang bernama Hilberts Program, menyusun bukti
konsistensipernyataan-pernyataan

dalam

aritmatika,

seperti

the

axiomsof mathematical analysis dalam Aritmetika Peano. Hasilnya tidak


tuntas dalam membuktikan konsistensi dari aksioma-aksioma Aritmetika
Peano (Zach, 2006).

10

Pandangan Hilbert yang menyatakan bahwa matematika adalah


suatu permainan formal dengan simbol, berimplikasi bahwa orang
yang memahami matematika harus menguasai aturan permainan yang
membolehkan kegiatan operasi dengan simbol tetapimengabaikan intuisi.
Pada tahun 1929, Wittgenstein melakukan diskusi-diskusi dengan
Waissmann

tentang

pemikiran

Hilbert

dan

Brouwer.

Menurut

Wittgenstein, dalam permainan formal dengan menggunakan simbol juga


tetap memerlukan the intuition of symbol (Hardi Suyitno, 2008).
Walaupun dalam pemikirannya banyak ide dari aliran formalisme
digunakan oleh Wittgenstein, tetapi tidak seluruh gagasan formalisme
karena formalisme berusaha mengurangi praktik untuk memanipulasi
simbol tak bermakna dan menolak atau menghilangkan penggunaan
kegiatan manusia (Birch, 1991).
Keberatan Hersh (1997) terhadap formalisme lebih serius
daripada terhadap Platonisme, khususnya pandangan bahwa matematika
adalah permainan matematika tak bermakna yang dimainkan secara
khusus, tetapi dengan sembarang aturan. Ia membantah bahwa aturan
tidak sembarangan, bantahanya adalah bahwa secara historis ditentukan
oleh hasil kerja masyarakat yang dikembangkan di bawah tekanan
pekerjaannya dan interaksi sosial suatu kelompok, dan secara lingkungan
psikhologis dan biologis. Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa itu
bukanlah bagaimana matematika bekerja, dan bahwa gagasan dari
ketatnya mengikuti aturan tanpa kebutuhan untuk menghakimi adalah
suatu

khayalan

dan

bahwa

itu

adalah

menyesatkan

untuk

menggunakannya di dunia nyata. Hersh mengklaim bahwa formalisme


tidak

mendeskripsikan

dari

mana

hasil

matematika

bersal,

ia

menegaskan, matematikawan selalu tahu hasil sebelum mereka


menulisnya dalam bukti formal.
Hasil kerja Godel yang

dikenal

sebagai

Godels

first

incomplementeness theorem, menegaskan bahwa ada pernyataan


aritmetik yang tidak dapat diberi keputusan dalam Aritmetika Peano
(Godel, 1931). Kesimpulan ini melemahkan pandangan aliran formalisme
11

dan menyisakan permasalahan konsistensi matematika tingkat tinggi.


Selanjutnya Godel membuktikan bahwa Aritmetika Peano tidak
konsisten. Godel adalah ahli logika, ahli matematika, filsufyang bersal
dari Austria. Ia mempublikasikan Godel incompleteness Theorems pada
tahun 1931. Teorema ini menyatakan bahwa sistem matematika yang
lengkap tidak mungkin konsisten dan sistem yang konsisten tidak
mungkin lengkap.
Hasil karya Godel tidak berarti formalisme berakhir, tetapi tetap tak
tergoyahkan bahwa matematika adalah ilmu pengetahuan tentang sistem
formal. Matematika tersusun ats suatu koleksi dari sistem formal yang
tidak mempunyai interpretasi atau konten. Ini berarti bahwa dalam suati
sistem formal yang sudah tertentu, suatu pernyataan dikatakan benar jika
dan hanya jika dapat diturunkan dari pernyataan lain dalam sistem
tersebut (Curry, 1958). Isaacson (1987) berpendapat bahwa dalam
beberapa hal Aritmetika Peano adalah lengkap.8
3. Madzab Intuisionisme
Intuisionisme adalah aliran filsafat dalam tradisi Kant bahwa semua
pengetahuan manusia diawali oleh intuisi, menghasilkan konsep-konsep,
dan diakhiri dengan ide-ide. Berlawanan dengan madzab
formalisme berkembanglah madzab landasan matematik
intuitionisme yang dipelopori oleh ahli matematik Belanda
Luitzen Egbertus Jan Brouwer. Beliau berpendirian, bahwa
matematik adalah sama dengan bagian yang eksak dari
pemikiran

manusia.

Ketepatan

dalil-dalil

matematik

terletak dalam akal manusia (human intellect) dan tidak


pada simbol-simbol di atas kertas sebagaimana diyakini
oleh

madzab

formalisme.

Dalam

pemikiran

madzab

intuitionisme matematik berlandasan suatu ilham dasar


(basic

intuition)

mengenai

kemungkinan

untuk

membangun sebuah seri bilangan yang tak terbatas.


8Hardi Suyitno,Filsafat Matematika,Universitas Negeri Semarang,2014, hlm. 188-193

12

Ilham ini pada hakekatnya merupakan suatu aktivitas


berpikir yang tak tergantung pada pengalaman, bebas
dari bahasa dan simbolisme, serta bersifat obyektif. 9
Aliran intuitionisme berpandangan matematika sebagai suatu
aktifitas pemikiran manusia yang terbatas dari bahasa dan basisnya
adalah filsafat tentang fikiran. Matematika yang paling dasar terletak
pada intuisi yang paling dalam (primitive untuition). Tesis aliran ini
menyatakan bahwa matematka semata-mata dibangun dengan metode
kontruktif berhingga (finite constructive methcds) yang secara intuitif
memberikan urutan bilangan asli (Eves, 1976). Implikasi dari pandangan
intutionisme adalah membawa kepada suatu bentuk matematika yang
kontruktif dengan meninggalkan banyak bagian dari matematika klasik.
Implikasi yang lan adalah kepercayaan pada suatu filsafat tentang
pemikiran memasukkan atau memperkenalkan keistimewaan atau cirriciri yang tidak ada dalam matematika klasik dengan bentuk dari
matematika konstruktif. Matematika intutionistik, matematika yang
landasan filosofisnya berdasar pada pandangan Breuwer, tidak tepat
dikatakan

sebagai

bagian

dari

matematika

klasik.

Matematika

intuitionistik dibangun berlandaskan prinsip-prinsip konstruktif dan


berlawanan dengan logika yang dibangun oleh Frege. Brouwer juga tidak
sepakat dengan penggolongan matematika dengan menggunakan logika
formal. Menurut Brouwer, kebenaran matematika selalu berkaitan
dengan pengalaman. Landasan matematika terletak pada intuisi
matematikawan secara individual, dengan demikiran menjadikan
matematika kedalam suatu yang pada hakikatnya merupakan kegiatan
subjektif (Troelstra, 1977). Brouwer dianggap sebagai filosof matematika
yang merevisi tubuh pengetahuan matematika yang sudah ada.
Tesis aliran ini menyatakan bahwa matematika semata-mata
dibangun dengan metode kontruktif berhingga (finite constructive
methcds) yang secara intuitif memberikan urutan bilangan asli (Eves,
9The Liang Gie,Filsafat Matematik,Penerbit Supersukses,Yogyakarta,1985,hlm. 38

13

1976). Implikasi dari pandangan intutionisme adalah membawa kepada


suatu bentuk matematika yang kontruktif dengan meninggalkan banyak
bagian dari matematika klasik. Implikasi yang lan adalah kepercayaan
pada suatu filsafat tentang pemikiran memasukkan atau memperkenalkan
keistimewaan atau cirri-ciri yang tidak ada dalam matematika klasik
dengan bentuk dari matematika konstruktif.10
Menurut aliran ini, pada dasar yang paling dalam terletak intuisi
primitif, bersekutu dan bekerja sama dengan akal duniawi manusia, yang
memungkinkan manusia mengangankan suatu obyek tunggal, kemudian
satu lagi, satu lagi dan seterusnya tak berakhir. Dengan cara ini diperoleh
barisan tak berakhir, yang dikenal dengan barisan bilangan alam. Dengan
menggunakan dasar intuitif bilangan asli ini, sebarang obyek matematika
harus dibangun dengan cara konstruktif murni, dengan menggunakan
operasi dan langkah-langkah yang banyaknya berhingga.11
Pada dekade pertama pada abad 20, sebagian dari komunitas
matematika berimpati terhadap pendapat intuitionisnes. Banyak tokoh
seperti Wittgenstein, Hersh dan Ernest yang memiliki pandangan yang
sejalan dengan pendapat aliran intuitionisme, bahwa matematika
merupakan hasil kegiatan pikiran manusia dan merupakan ciptaan
manusia. Namun demikian, pandangan aliran intuitionisme ini juga tidak
bebas kritk. Wittgenstein menolak pendapat bahwa intuisi diperluan pada
setiap langkah pada urutan bilangan. Menurut Wittgenstein (1953), not
the intuition was neede at every stage, but that a new decision was
needed ad every stage. Setiap langkah yang diperlukan keputusan yang
berasal dari pikiran. Nampaknya Wittgenstein berfikir bahwa intuisi tidak
selalu hadir dalam pikiran manusia walaupun yang bersangkutan
menghendakinya. Intuisi seperti halnya ilham datangnya dapat secara
tiba-tiba dan tak terduka, sebaliknya manusia juga tidak dapat mengatur
10Hardi Suyitno,Filsafat Matematika,Universitas Negeri Semarang,2014, hlm. 19711Agung Prabowo,Aliran-aliran Filsafat Matematika, Universitas Jenderal
Soedirman,Purwokerto,2009,hlm. 36

14

datangnya ilham. Faktanya, tidak ada penjelasan secara intuitif proses


kerja matematika dalam pikiran manusia dari para tokoh intuitionisme.
Dalam kuliahnya di Cambridge tahun 1939 ( catatan kuliahnya
dipublikasikan oleh Cora Diamond), Wittgenstein mengatakan bahwa
semuanya intuitionisme karena intuitionisme menyandarkan pada wujud
dalam mental untuk menegaskan bukti matematik dan tidak memasukkan
intersubjektifitas dan norma-norma umum (Klenk, 1976).
Tokoh lain yang memberi kritik terhadap intuitionisme adalah
Hersh Reuben Hersh, lahir tahun 1927, adalah seorang akademisi dan
matematikawan Amerika, yang dikenal karena karyanya dalam hakikat,
praktik, dan dampak sosial dari matematika. Hasil kerjanya menantang
dan menjadi pelengkap filsafat matematika. Keberatan Hersh terhadap
intuitionisme, ia mengadopsi pandangan antropologis bahwa intuisi dari
bilangan asli adalah sederhana bukan universal (Hersh, 1997). Pandangan
Hersh didukung oleh hasil riset Piaget yang menegaskan bahwa anak
yang mengkonstruksi, dalam pikiran anak, suatu konsepsi dari bilangan
asli didasarkan pada pengalamannya dan beberapa cara berfikir. Bagi
Piaget, berlawanan dengan Kronecker, bilangan asli bukan diberi oleh
Tuhan (paling tidak bukan sebelum umur tujuh tahun untuk kebanyakan
anak budaya Barat) tetapi dikonstruksi dalam pikiran seseorang oleh
koordinasi konsep tentang urutan dan inclusion.
4. Constructivism dan pandangan hidup yang lain
Salah satu aliran filsafat yang dianggap sebagai salah satu arus
utama filsafat ,matematika adalah aliran konstruktivisme (troelstra,
1977a).

Intuitionisme

yang

dibangun

brower

adalah

termasuk

konstruktivisme. Sudut pandang konstruktivisme bentuk lain tidak sama


dengan intuitionisme, tetapi sesuai dengan tujuannya masing-masing
dalam matematika. Konstruktivisme bentuk lain adalah recursive
constructive mathematics, bishops constructive mathematics dan
sebagianya.
Dalam filsafat matematika aliran konstruktivisme berpandangan
bahwa adalah suatu keharusan utuk mencari atau mengkinstruksi objek

15

matematik untuk menunjukan eksistensinya. Apabia sutatu orang


beranggapan bahwa suatu objek tidak eksis dan menurunkan suatu
kontradiksi tentang anggapan tersebut, orang masih tidak menemukan
objeknya,maka tidak membuktkan eksistensinya. Matematika dipandang
sebagai suatu konstruksi pada entitas yang fungsinya sebagi normanorma untuk pendeskribsian. Matematika tidak ditemukan oleh manusia,
tetapi diciptakan manusia dan dalam matematika suatu bentuk baru hars
dikonstruksi. Prinsip yang dipegang oleh aliran konstruktivisme adalah
hanya berkaitan dengan matematikayang dapat dikonstruksi tegas dan
jelas dengan kegiatan mental tertentu. Jadi matematika bukan sebuah
permainan simbol sebagaimana sebagaimana pandangan para formalis.
Tetapi sebuah kegiatan seperti latihan (exercise). Implikasi dalam prinsip
ini ialah bukti dalam matematika harus juga merupakan hasil konstruksi.
Oleh karena itu intuitionisme menolak bukti-bikti dengan kontradiksi.
Secara traditional, jalan yang diambil matematikawan untuk
menganalisis materi matematika yang konstruktif dengan mengikuti
logika klasik. Sebaliknya, para konstruktiv menempuh jalan dengan
mengikuti logika intuitionistik. Logika intuitionistik atau lebih umum
dikenal sebagai logika konstruktif ialah sebuah sistem dan logika
simbolik yang berbeda dengan logika klasikdengan mengganti konsep
traditional dengan konsep probabilitas konstruktif(Anonimous,2014).
Dalam logika klasik, proposisi selalu ditandai dengan nilai benar atau
salah tanpa menuntut bukti. Sebaliknya dalam logika intuitionik, nilai
benar nilai benar diberiakan kepada satu proposisi tidak untuk semua
kondisi tetapi malahan hanya benarjika ada bukti langsung.logika
intuitionik diyakini mencukupi untuk menjaga matematika dalam batas
konstruktif. Para matematikawan memiliki keebebasan untuk bekerja
dengan suatu tipe analisis yang alami. Hasil yang diperoleh dari pandang
konstruktivisme adalah adanya jalinan matematika konstruktif dengan
pemrograman yang sangat menjanjikan bagi implementasi masa depan

16

dan pengembangan matematika abstrak pada komputer (Bridges and


palmgren, 2013).
Tokoh filsafat

yang

memiliki

pandangan

sejalan

dengan

konstruktivisne adalah Wittgenstein. Pemikiran Wittgenstein bahwa


matematika sebagai hasil konstruksi manusia menghasilkan suatu budaya
bahwa setiap individu mengkonstruksi pengetahuan matematikanya
sendiri (Richard, 1991). Karena matematika adalah suatu produk sosial
dari komunitas matematika dan setiap individu mengkonstruksi
pengetahuannya masing-masing, maka perkembangan matematika dapat
terwujud hanya dengan melalui kegiatan manusia. Keterkaitan antara
pemikiran

wittgenstein

dan

konstruktivisne

juga

terletak

pada

penekanannya pada keunggulan membilang (aritmatika) sebagai landasan


matematika (birch, 1991). Pandangan wittgenstein menyatakan bahwa
mathematics is a mothley. A collection of language game dan bahwa
kebenaran, kesalahan dan bukti tergantung pada penerimaan atas aturan
kesepakatan bahasa dalam permainan bahasa (wittgwnstein, 1978, 1953).
Pandangan ini menunjukan bahwa penggunaan berbagai bahasa dalam
berbagai

tata

permainan

bahasa

atau

makna

sesuai

dengan

konteksnyamencakup penerimaan atas aturan-aturan. Aturan aturan dalm


bahsa adlah syarat atau prakonsisi untuk bahsa komunikasi. Ini berarti
bahwa kebenaran pengetahuan matemaika berdasarkan pada kesepakatan
bahsa. Implikasi dari pandangan ini secara khusus adalah kebenaran
logika dan matematika berdasarakan kesepakatan bahasa. Hersh (1997)
menyatakan

bahwa

konvensionalisme

adalah

pandangan

yang

berpendapat bahwa bahasa, aturan kesepakatan memainkan pran kunci


dala

menegakkan

dan

mengesyahkan

kebenaran

matematika

(Ernest,1991). Kesepakatan bahasa memberi dasar kepastian kebenaran


matematika dan logika, selanjutnya bukti secara dedeuktif logis
meneruskan atau membawa kebenran matematika ke dalam batang tubuh
matematika.
Hersh menawarkan humanisme atau pandangan socio historical.
Menurut Hersh (1997), tidak ada kebutuhan untuk melihat pada suatu
17

makna atau definisi tersembunyi dalam makna sosial-sejarah-budayanya.


Dengan perkataan lain, satu jawaban atas prtanyaan besar dengan melihat
pada apa ada disana, sudah dilakukan dalam masyarakat matematikawan,
dan oleh orang berkaitan dengan situasi matematis di dalam kehdupan
sehari-hari. Jadi untuk membakukan jenis-jenis eksistensi didiskusikan
oleh para filsof secara mental dan fisik. Hersh menambahkan yang ketiga
yaitu sosial. Menurutnya, matematika harus dipahami sebagai gejalagejala sosial, bagian dari budaya manusia, secara historis termasuk
bagian dari sejarah dan dapat dipahami manusia. Ia berpendapat bahwa
matematika memiliki suatu front(halaman depan), yang terdiri atau
memuat hasil yang sudah ditata yang ditunjukan ke dunia(termasuk
murid sekolah) dan suatu latar yang memuat suatu latar belakang yang
memuat apa adanya yang akan ditemukan sebagai hasil. Menurut Hers,
aliran utama filsafat hanya terkait dengan latar depan, meskipun
huanisme menunutut fokus pada latar/bagian belakang. Ketika ia melihatlihat ke bagian belakang hers menemukan matematika bukannya tidak
bisa salah karena matematikawan membuat kesalahan. Beberapa bukti
terlalu panjang dan kompleks sehingga seseorang dapat mengatakan
dengann yakin bahwa mereka benar. Humanisme mengatakan bahwa
matematika tidak unik karena dalam beberapa situasi matematis,
matematikawan tidak saling memahami dan itu terjadi bahwa berbeda
matematikawan dapat membangun pendekatan yang berbeda untuk
mengkaji gejala yang sama. Bukti euclid tidak lengkap manusia tidak
mengerti aksiomanya., dan ada alternatif lain. Matematika tidak memuat
kepercayaan tentang yang universal, jelas dan dapat dipastikan.
Hers menjelaskan tentang pandangannya dan membandingkan
dengan aliran lain. Ia memberikan sepasang contih makna dari konsep
dua dan kembali pada eksistensi kubus dimensi 4. Menurut hers, satu
kunci untuk memahami konsep dua itu adalah dengan melihat bahwa
istilah itu sekaligus digunakan sebagai sifat dan kata benda. Sebagai kata
sifat dua mewakili proses membilang. Jika seorang melihat pada apa

18

yang dilakukan orang, hers menegaskan bahwa himpunan dari bilangan


hasil membilang, sesungguhnya finit karena tidak ada seorangpun yang

dapat menghitung sampai misalnya

(10)

, sehingga

(10)

merupakan hasil membilang. Dengan perkataan lain, dua juga kata


benda menurut Hers, eksistensi suatu objek yang merujuk suatu kata
benda berasal dari suatu proses sosial yang memisahkannya dari objek
nyata untuk mengeksiskan sebagai konsep yang disumbangkan ke dalam
otak manusia yang mengetahui aritmatika dasar.
Pandangan hers pada humanisme berfokus pada isu sosial sebagai
lawan dari perjuangan individu untuk membuat gagasan yang di luar
pengalamannya, pandangan hers berlawanan dengan konstruktivisme
atau

pandangan

piaget

yang

mengatakan

bahwa

objek

dua

dikonstruksi, menggunakan mekanisme yang disebut penggunaan


abstraksi reflektif kepada situasi tersebut. dalam kedua kasus tersebut,
ada kegiatan mental individual sebagaimana interaksi sosial dan orang
dapat mengutamakan salah satu hal dari yang lain. Hersh memberi
contoh kubus 4 dimensi yang digunakanuntuk menggambarkan beberapa
perbedaan antara berbagai aliran filsafat . menurutnya, platonis
berpendapat bahwa eksstensi kubus 4 sebagai suatu transendal dan
immaterial dalam abstraksi manusia dan gaagasan tentang itu adalah,
repreentasi dari yang ideal, bagi intuitionisme sebagaimana yang formalis
tidak ada kubus yang 4 yang real tapi hanya representasi tanpa ada
yang diwakili, dan bagi humanis kubus 4 ada pada sosial budaya dan
sejarahnya dalam kesadaran manusia dan sebagai suatu jenis sumbangan
pikiran atau gagasan pandangan. Wittgenstein memandang bahwa
matematika merupakan kumpulan tata permainan bahasa menjadi
landasan pemikiran ernest untuk mengembangkan pemikiran tenteang
hakikat matematika. Wittgenstein berpandangan bahwa matematika

19

memiliki bentuk tertentu yang harus diikuti, yang berwujud aturanaturan,pola-pola

dan

penggunaan

bahasa(Telese,

2000).

Ernest

mengembangkan filsafat konstruktifisme menjadi filsafat matematika


social constructivism. Pengembangan social constructivism memusatkan
perhatiannya

pada

kemungkinan,

syarat-syarat

dan

logika

dari

matematika.
Menurut ernest(1998), pengetahuan matematika merupakan hasil
kreasi dalam pikiran seorang matematikawanmenggunakan bahasa
sekaligus mengkonstruksikan maknaproporsi matematika, teorema,
konsep dan bentuk-bentuk ekspresi merupakan aspek-aspek matematika
yang merupakan kreasi manusia. Martematika menjadi kokoh karena
makna yang diturunkandari konteks yang terkait dengan bahasa dan
praktik sosial. Menurut social constructivisme, kekokohan pengetahuan
matematika berlandaskan pada kepercayaan dan peneriamaan dukungan
manusia. Hakikat pengetahuan matematika adalah suatu usaha keras
manusia, suatu proses yang mana konteks sosial dan latar belakang
sejarah

memiliki

peranan

yang

penting.

Secara

epistemologis,

pengetahuan matematika merupakan hasil kegiatan manusia. Social


constructivism dapat dipandang sebagai perluasan dari constructivisme
dan

fallibilsm(Telese,

2000)

atau

perluasan

dan

sintetis

dari

convensionalism dan quasi-empiriom. Pandangan fallibilsm mengatakan


bahwa matematika tidak memiliki kesahihan mutlak dan tidak memiliki
kebenaran yang mutlak(Ernest, 1991). Matematika bersifat fallibilism
berarti pengetahuan matematika merupakan pengetahuan yang corrigible
(dapat dikoreksi) dan selalu terbuka untuk direvisi. Pengetahuan dalam
matematika dan konsep-konsepnya berkembang dan dapat berubah.
Teorema dan kebenaran matematika serta objek matematika adalah hasil
budaya dan kreasi manusia. Teorema dan kebenaran matematika
mungkin saja salah dan selalu dapat dikoreksi atu direvisi(Ernest, 1991).
Pengertian dapat dikoreksi tidak berarti matematika bernilai salah, tapi
lebih bermakna penyajian matematika lebih akurat dan dapat dipertajam.

20

Pemikiran Ernest bersumber pada pemikiran Wittgenstein dan pemikiran


fallibilism Lakatos. Imre Lakatos(1922-1974) adalah sekaligus filsuf
ynag berasal dari Hongaria. Lakatos (1978) memberi evaluasi terhadap
prinsip

falsifikasi

terhadap

pernaikan

atas

kelemahan

dan

kekurangannya. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada teorema


matematika yang informal dan final atau sempurna. Ini berarti bahwa
suatu teorema matematik tidak akan benar selamanya, kebenaran teorema
hanya belum ditemukan contoh kontranya. Pendapat lakatos kalau dilihat
dengan menggunakan perkembangan geometri memang masuk akal.
Seperti halnya dalam geometri euclids, teorema mengatakan bahwa
jumlah sudut dalam suatu segitiga adalah 180 derajat, ternyata dalam
segitiga bola jumlah sudutnya lebih dari 180 derajat. Sekali sebuah
contoh kontra suatu teorema ditemukan, maka teorema diatur lagi dengan
cara mengatur validtas wilayahnya. Hukum-hukum geometri berlaku
untuk bidang-bidang yang secara sempurna dianggap datar. Menurut
Lakatos pengetahuan matematika yang dibangun berdasarkan pada ide
heuristik, nukti tentang penyangkalan tentang heuristik tidak dibangun
dengan baik, meskipun Lakatos memberi beberapa aturan dasar untuk
menemukan bukti atau contoh kontra untuk suatu dugaan. Menurutnya
berpikir matematis melalui suatu ekspeerimen adalah suatu yang valid
untuk mengungkap dugaan matematik dan bukti. Pandangan Lakatos,
berpikir melalui eksperimen disebut philosophy.
Walaupun aliran-aliran filsafat memiliki pandangan yang berbedabedadan adakalanya sangat tajam, akan tetapi semua memberi
sumbangan bagi pemahaman terhadap matematika dan kegunaannya.
Aliran logisme meletakkan simbol-simbol dan sebagai pemikirannya
digunakan oleh aliran formalisme untuk mengembangkan pemikirannya.
Aliran intuitionisme memasukan unsur-unsur kemanusiaan untuk
memahami matematika dan selanjutnya memberi inspirasi lahirnya aliran
konstruktivisme dan aliran sosial konstruktivisme. Satu kata yang semua

21

ahli filsafat ilmu menyepakati adalah matematika adalah sarana berfikir


deduktif dan statistika adalah sarana berfikir induktif.
Apabila dibuat lintasan utama pemikiran filsafati terhadap
matematika dari jaman kuno sampai abad 20. Maka dapat dibuat alur
utama pemikiran yan dimulai dari plato sampai godel. Plato menyatakan
bahwa matematika ada dalam pikiran dan manusia mengungkapkannya,
aristoteles mengungkapkan bahwa matematika ada di luar pikiran
manusia da manusia mendeskribsikannya melalui pengalaman dengan
rumusan definisi, Euclid menyusun geometri secara aksiomatis dan
melahirkan karyanya yang sangat monumental dan menjadi pedoman di
dunia matematika sampai sampai ribuan tahun yaitu the element,
hillbert menyusun matematika sehingga matematika memiliki hakikat
yang tunggal yaitu matematika formal, Godel membuktikan matematika
tidak mungkin menjadi system tunggal dan tertuang dalam teoremanya
yang sangat terkenal Teorema Ketidaklengkapan Godel (Ernest, 1991)
Ketika para matematikawan memberi perhatian yang lebih kepada
landasan dari subjek yang dikaji, mereka akan mengatakan akan
berkaitan dengan riset fundamental. Ketika seorang filsof akan meneliti
atau

menjawab

pertanyaan

filosofis

yang

berhubungan

dengan

matematika, mereka mengatakan untuk memberi sumbangan bagi filsafat


matematika. Sudah tentu perbedaan antara filsafat matematika dengan
landasan matematika menjadi tidak jelas. Interaksi antara filsof
matematika dengan matematika menjadi tidak jelas. Interaksi antara
filsof

matematika

dengan

matematikawan

akan

menghasilkan

pemahaman tentang hakikat matematika menjadi lebih baik. Jika


matematika diibaratkan sebuah pegunungan yang memiiki sebiah
puncak, maka para matematikawan adalah orang yang mendaki gunung
dan para filsof matematika adalah orang yang naik pesawat untuk
mengamati pegunungan. Matematikawan yang sangat profesional adalah
seperti pendaki gunung yang sudah mencapai puncaknya. Filsof
matematika seperti orang yang naik helikopter yang melihat puncaknya.
Seorang filsof matematika adalah seorang pendaki gunung yang mungkin
22

belum pernah mencapai puncaknya sekalipun, idelanya adalh filsof


matematika yang disamping pendaki yang telah sampai di beberapa
puncak dan terbang ke angkasa melihat pegunungan matematika
seutuhnya.12

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam tahap ini ada 4 aliran yang akan dijelaskan, yaitu
logisisme, formalisme, intuitionisme, dan konstruktivisme. Aliran
12Hardi Suyitno,Filsafat Matematika,Universitas Negeri Semarang,2014, hlm . 199211

23

logisme adalah aliran yang dipelopori oleh filsuf Inggris Bertrand


Arthur William Russell . Pada tahun 1903 terbit buku beliau
( Russell) The Participles of Mathematics yang berpegang
pada pendapat bahwa matematik murni semata-mata terdiri atas
deduksi-deduksi dengan prinsip-prinsip logika dari prinsip-prinsip
logika, Awalnya logika dan matematika lahir dalam konteks yang sangat
berbeda, tetapi perkembangan selanjutnya matematika semakin logis dan logika
matematis dan tidak ada garis pemisah antara logika dengan matematika. Aliran
logisisme memiliki dua dalil, yaitu pertama adalah konsep-konsep matematika
dapat diturunkan konsep-konsep logika melalui definisi yang eksplisit dan yang
kedua adalah teorema-teorema dalam matematika dapat diturunkan dari aksiomaaksioma logika dengan semata-mata melalui deduksi logis
Aliran formalisme dalam matematika dapat dilacak pada Bishop
Berkeley,tetapi pencetus utamanya adalah David Hilbert. Menurut madzab ini
sifat alami dari matematik ialah sebagai sistem lambang yang
formal. Matematik bersangkutpaut dengan sifat-sifat struktural
dari simbol-simbol dan proses pengolahan terhadap lambanglambang itu. Simbol-simbol dianggap mewakili pelbagai sasaran
yang menjadi obyek matematik bilangan-bilangan misalnya
dipandang sebagai sifat-sifat struktural simbolisme abstrak yang
dilepaskan dari sesuatu arti tertentu dan hanya menunjukkan
bentuknya saja madzab formalisme berusaha menyelidiki
struktur dari pelbagai sistem. Logika merupakan alat yang digunakan
untuk meletakkan struktur yang sederhana dari aksioma-aksioma matematika.
Intuisionisme adalah aliran filsafat dalam tradisi Kant bahwa semua
pengetahuan manusia diawali oleh intuisi, menghasilkan konsep-konsep, dan
diakhiri dengan ide-ide. Berlawanan dengan madzab formalisme
berkembanglah madzab landasan matematik intuitionisme yang
dipelopori oleh ahli matematik Belanda Luitzen Egbertus Jan
Brouwer. Beliau berpendirian, bahwa matematik adalah sama
dengan bagian yang eksak dari pemikiran manusia. Ketepatan
dalil-dalil matematik terletak dalam akal manusia (human
intellect) dan tidak pada simbol-simbol di atas kertas
sebagaimana diyakini oleh madzab formalisme. Aliran intuitionisme
berpandangan matematika sebagai suatu aktifitas pemikiran manusia yang terbatas
dari bahasa dan basisnya adalah filsafat tentang fikiran, implikasi dari pandangan
intutionisme adalah membawa kepada suatu bentuk matematika yang kontruktif
dengan meninggalkan banyak bagian dari matematika klasik. Implikasi yang lain
adalah kepercayaan pada suatu filsafat tentang pemikiran memasukkan atau
24

memperkenalkan keistimewaan atau cirri-ciri yang tidak ada dalam matematika


klasik dengan bentuk dari matematika konstruktif.
Salah satu aliran filsafat yang dianggap sebagai salah satu arus utama
filsafat ,matematika adalah aliran konstruktivisme. Sudut pandang
konstruktivisme bentuk lain tidak sama dengan intuitionisme, tetapi sesuai
dengan tujuannya masing-masing dalam matematika. Dalam filsafat matematika
aliran konstruktivisme berpandangan bahwa adalah suatu keharusan utuk mencari
atau mengkinstruksi objek matematik untuk menunjukan eksistensinya.
Matematika tidak ditemukan oleh manusia, tetapi diciptakan manusia dan dalam
matematika suatu bentuk baru hars dikonstruksi. Jadi matematika bukan sebuah
permainan simbol sebagaimana sebagaimana pandangan para formalis. Tetapi
sebuah kegiatan seperti latihan (exercise). Implikasi dalam prinsip ini ialah bukti
dalam matematika harus juga merupakan hasil konstruksi.
B. Saran
Dalam menyelesaikan makalah ini banyak terjadi kekurangan
dan kekhilafan untuk itu kami mohon saran agar dapat memperbaiki
makalah yang selanjutnya.

25

DAFTAR PUSTAKA
The Liang Gie.1985.Filsafat Matematik.Yogyakarta: Penerbit Supersukses
Suyitno,Hardi.2014.Filsafat Matematika.Semarang:Universitas Negeri Semarang
Prabowo,Agung.2009.Aliran-aliran Filsafat Matematika.Semarang:Universitas
Jenderal Soedirman

26