Anda di halaman 1dari 93

retensi dan trauma

sistem urinaria
bambang aryanto

Tinjauan Pustaka Sistem urinaria

Fungsi utama sistem urinaria


1. Membuang produk sisa dari darah
2.Produksi hormon :
*renin-angiotensin mengatur tekanan
darah
*Erythropoietin merangsang
pembentukkan sel darah merah
*Aldosteron meningkatkan reabsorbsi
Natrium dan sekresi Kalium

3. Keseimbangan asam basa

Anatomi
Eksternal Ginjal
Slide Title

Anatomi
Eksternal Ginjal
Slide Title
Sepasang organ berbentuk biji/kacang berwarna
coklat kemerahan
Terletak di dinding posterior (belakang)
abdomen (perut), masing-masing ginjal terletak
di bagian tepi columna vertebralis Thorakal 12
Lumbal 3.
Sebagian ginjal terlindung oleh 2 pasang costa
(tulang rusuk) terakhir dan bagian atasnya
tertutup kelenjar adrenal.
Di bagian medial, terdapat hilus (tempat
pembuluh darah, saraf dan ureter masuk dan
keluar dari ginjal).

Anatomi Internal Ginjal


Potongan sagital dari ginjal menunjukkan 3 bagian
yang berbeda (dari dalam ke luar):
Pelvis
Medula
Korteks

Pelvis
ruangan pengumpulan
yang besar merupakan
perluasan bagian atas
ureter
Bercabang menjadi 2
cavitas (ruangan) 2-3
calyx mayor &
8-18 calyx minor

Medula
Medula :
merupakan bagian tengah ginjal
Terdiri dari 8-18 piramid renalis
Bagian dasar piramid melekat melekat dengan
bagian luar korteks
Apex (puncak) masing-masing piramid berakhir
menjadi papila yang terbuka menuju calyx minor.
Piramid terdiri atas beberapa tubulus dan duktus
kolektivus dari nefron
Tubulus berperan dalam transport dan absorbsi
kembali material yang tersaring di glomerulus

Korteks renalis adalah bagian terluar dari ginjal.


Jaringan korteks yang yang masuk di antara piramid
membentuk columna renalis terdiri atas tubulus
kolektivus

Sirkulasi darah
Darah ke ginjal di
suplai oleh arteri
renalis dan darah ke
luar dari ginjal
melalui vena renalis

a. renalis

v. renalis

Suplai saraf
Suplai saraf oleh
pleksus (anyaman)
renalis dari sistem
saraf otonom.

Nefron
Merupakan unit
fungsional dasar.
Setiap nefron
merupakan unit
penghasil urin
yang mandiri.
Setiap ginjal
memiliki sekitar 1
juta nefron.

Filtrasi di
glomerulus

Re-absorbsi di tubulus

Sekresi di
tubulus

Proses pembentukkan urin


1. Filtrasi darah setiap hari, ginjal menyaring 1700
Liter darah
2. Re-absorbsi tubuler
3. Sekresi tubular
Perbandingan rata-rata dari filtrasi, re-absorbsi, dan
eksresi, akan menyebabkan variasi komposisi urin
yang disebabkan adanya variasi harian dari diet,
intake cairan, cuaca, dan latihan.

Mengeluarkan produk sisa


Fungsi utama ginjal
sebagai tempat
memproduksi urin

Mengatur keseimbangan
cairan tubuh total
Mengontrol kandungan
zat-zat kimia di darah dan
cairan tubuh yang lain

Mengatur keseimbangan
asam basa

Struktur eksresi aksesoria (tambahan)


Urin dibentuk di ginjal,
tetapi struktur tambahan
dibutuhkan untuk
memindahkan, menyimpan,
dan akhirnya mengeluarkan
urin dari tubuh.
Struktur tambahan :
2 ureter
Vesica urinaria (kandung
kemih)
uretra

Ureter
Menempel pada masingmasing ginjal suatu
tabung yang disebut
ureter.
Ureter mentransport urin
dari pelvis renalis ke
kandung kencing.

Lumen (lubang) ureter terdiri


dari 3 lapisan :
1. Bagian dalam Tunica
Mucosa
2. Tengah Tunica
Muscularis (terbentuk
dari otot polos)
3. Bagian luar Tunica
Adventitia

Vesica Urinaria (Kandung kemih)


Kandung kemih adalah suatu
organ berongga & berotot
yang berfungsi menampung
urin dari ureter, dan akhirnya
dikeluarkan ke luar tubuh
Biasanya dapat menampung
urin 300-400 mL, tetapi
kandung kemih
dapat mengembang hingga 2
kali lipat.
Terletak di dasar rongga
pelvis, retro peritoneal (di
belakang peritoneum)

Pada laki-laki : terletak di


depan rektum & di atas
kelenjar prostat

Pada wanita : terletak agak


rendah, di depan uterus
(rahim) dan vagina.

3 lapisan dinding kandung kemih


1) Tunica mucosa : lapisan paling dalam (dengan epitel
transisional)
2) Tunica muscularis : lapisan tengah (3 lapis otot polos
otot deterusor)
3) Tunica serosa (Adventitia) : lapisan paling luar, berasal
dari peritoneum, dan menutupi hanya bagian atas
dan (lateral) samping dari kandung kemih

Lubang ureter dan uretra di rongga kandung kemih


berbentuk triangular (segitiga) disebut trigonum.
Di tempat di mana uretra keluar dari kandung kemih:
otot polos di dinding kandung kemih membentuk
ikatan spiral, longitudinal, & sirkular yang dapat
berkontraksi untuk mencegah upaya pengosongan
kandung kemihsecara prematur.
Ikatan tersebut sebagai sfingter : disebut sfingter
uretra interna (involunter)
Jauh di bawah uretra, di tengah bagian membranosa
dari sfingter sirkuler otot skletal (rangka) membentuk
sfingter uretra eksterna.

Uretra
Merupakan tabung otot polos yang dilapisi lapisan
mukosa.
Uretra bergabung dengan kandung kemih pada
permukaan inferior (bawah) dan mentrasport urin
keluar dari tubuh selama proses miksi
Memiliki panjang 4 cm (wanita) & 12 cm (laki-laki)

Pada wanita, uretra terbuka di antara vagina &


klitoris.
Pada laki-laki, uretra melewati prostat, bagian
membranosa (muskulus diafragma pelvis), bagian
spongiosa (yang melewati corpus spongiosus) dan
terbuka di ujung penis.
Bagian spongiosa bergabung dengan duktus (saluran)
dari kelenjar bulbo-uretral (kelenjar yang mensekresi
mukus)

Urin & berkemih


Komposisi urin bervariasi tergantung pada :
Diet
gerakan badan
konsumsi air
faktor-faktor yang lain
Urin terutama terdiri dari : air, urea, klorida,
kalium/potasium, natrium/sodium, kreatinin, fosfat,
sulfat, dan asam urat.
Protein, glucosa, casts/cetakan/silinder (darah) dan
kalkuli/batu dari mineral adalah sesuatu yang abnormal
jika berada di dalam urin.

PH (keasaman) urin adalah 5.0 - 8.0 (hampir semua


asam) dan memiliki warna translusen/tembus
cahaya (jernih, dan tidak berkabut)
Untuk memelihara konsentrasi osmotik cairan ekstra
seluler yang sesuai, untuk membuang produk sisa
dan memelihara fungsi ginjal yang sesuai tubuh
harus mengeksresikan paling tidak 450 mL urin/hari.
Seseorang yang sehat akan mengekskresikan 10001800 mL urin/hari. Atau 0,5 1 cc/KgBB/Jam

Kontrol volume & konsentrasi urin


Yang mengatur adalah :
Hormon Antidiuretic (mengurangi ekskresi air dari
ginjal)
Aldostrone (meningkatkan reabsorbsi Natrium dan
sekresi kalium)
Mekanisme Renin angiotensin (retensi air dan
garam)

Berkemih
Adalah proses pengosongan kandung kemih
Merupakan proses yang dikontrol saraf secara sadar
dan tidak sadar

Tahapan berkemih
1. Kandung kemih yang terisi penuh menyebabkan
peningkatan tekanan di dinding kandung kemih
2. Kesadaran untuk berkemih (BAK)
3. otot diafragma pelvis berelaksasi
4. leher kandung kemih bergerak ke bawah; saluran
keluar terbuka; dinding meregang; reseptor
terstimulasi
5. otot polos kandung kemih berkontraksi; urin
dikeluarkan.

Prostat
Kelenjar prostat terletak dibawah kandung kemih,
mengelilingi uretra posterior dan disebelah
proksimalnya berhubungan dengan buli-buli,
sedangkan bagian distalnya kelenjar prostat ini
menempel pada diafragma urogenital yang sering
disebut sebagai otot dasar panggul.
Kelenjar ini pada laki-laki dewasa kurang lebih
sebesar buah walnut atau buah kenari besar.
Ukuran, panjangnya sekitar 4 - 6 cm, lebar 3 - 4 cm,
dan tebalnya kurang lebih 2 - 3 cm dengan berat
sekitar 20 gram. Bagian- bagian prostat terdiri dari
50 70 % jaringan kelenjar, 30 50 % adalah
jaringan stroma (penyangga) dan kapsul/muskuler.

Letak anatomi prostat

RETENSI URIN
Retensi Urin adalah
ketidakmampuan seseorang untuk
mengeluarkan urin yang terkumpul
di dalam buli-buli hingga kapasitas
maksimal buli-buli terlampaui.
Defenisi

Defenisi lain yaitu :


Retensio urin adalah kesulitan miksi karena
kegagalan mengeluarkan urine dari vesika
urinaria. (Kapita Selekta Kedokteran).
Retensio urin adalah ketidakmampuan untuk
melakukan urinasi meskipun terdapat
keinginan atau dorongan terhadap hal
tersebut. (Brunner & Suddarth).
Retensio urin adalah sutau keadaan
penumpukan urine di kandung kemih dan
tidak punya kemampuan untuk
mengosongkannya secara sempurna.

EPIDEMIOLOGI
Di klinik 50 % dijumpai pada penderita BPH
berusia 60-69 tahun dengan gejala-gejala
bladder outlet obstruction. Pada
wanita,salah satu komplikasi umum yang
terjadi setelah proses persalinan, baik
persalinan pervaginam atau sectio caesarea
adalah retensi urin postpartum.

ETIOLOGI
Menurut Lokasi penyebab
Supravesikal :
Kerusakan terjadi pada pusat miksi di medula
spinalis S2-S4 setinggi Th12-L1, kerusakan
saraf simpatis dan parasimpatis, baik
sebagian atau seluruhnya.
Vesikal :
Berupa kelemahan otot detrusor karena lama
teregang, atoni pada pasien DM atau penyakit
neurologis, divertikel yang besar.
Infravesikal (distal kandung kemih) :
Berupa pembesaran prostat (kanker,
prostatitis), tumor pada leher vesika, fimosis,
stenosis meatus uretra, tumor penis, striktur
uretra, trauma uretra, batu uretra, sklerosis
leher kandung kemih (bladder neck sclerosis).

Etiologi lainnya,yaitu :
Dapat disebabkan oleh kecemasan
Beberapa obat mencakup preparat
antikolinergik antispasmotik (atropine),
preparat antidepressant antipsikotik
(Fenotiazin), preparat antihistamin
(Pseudoefedrin hidroklorida = Sudafed),
preparat penyekat adrenergic
(Propanolol), preparat antihipertensi
(hidralasin).

KLASIFIKASI
berdasarkan waktu terjadinya:
Retensi urin akut
Retensi urin yang akut adalah ketidakmampuan berkemih yang
tiba-tiba dan disertai rasa sakit meskipun buli-buli terisi
penuh. Kondisi yang terkait adalah tidak dapat berkemih sama
sekali, kandung kemih penuh, terjadi tiba-tiba, disertai rasa
nyeri, dan keadaan ini termasuk kedaruratan dalam urologi.
Retensi urin kronik
Retensi urin kronik adalah retensi urin tanpa rasa nyeri
yang disebabkan oleh peningkatan volume residu urin yang
bertahap. Misalnya lama-lama tidak bisa kencing. Pada
pembesaran prostat, pembesaran sedikit-sedikit, bisa kencing
sedikit tapi bukan karena keinginannya sendiri tapi keluar
sendiri karena tekanan lebih tinggi daripada tekanan
sfingternya. Kondisi yang terkait adalah masih dapat berkemih,
namun tidak lancar, sulit memulai berkemih (hesitancy), tidak
dapat mengosongkan kandung kemih dengan sempurna.
Retensi urin kronik tidak mengancam nyawa, namun dapat
menyebabkan permasalahan medis yang serius di kemudian
hari.

PATOFISIOLOGI
Proses berkemih akan terjadi bila otot destrusor kandung
kemih berkontraksi. Kontraksi ini disebabkan oleh
aktivitas saraf parasimpatis yang dibawa oleh saraf-saraf
motorik pelvis. Sedangkan pada fase pengisian, saraf
simpatis akan menghambat kerja parasimpatis dan
merelaksasi dinding kandung kemih.
Bila terjadi gangguan koordinasi dari sistem saraf
parasimpatis dan saraf simpatis maka proses berkemih
akan terganggu dan dapat menyebabkan urine
terperangkap dalam buli-buli atau retensi urine.
Selain itu proses berkemih juga dipengaruhi oleh otototot detrusor buli dan kelancaran saluran uretra. Bila
terjadi kelemahan otot detrusor buli-buli dan atau
penyumbatan pada uretra maka akan terjadi gangguan
pada proses berkemih. Residu urine setelah berkemih
normalnya kurang atau sama dengan 50 ml, jika residu
urine ini lebih dari 200 ml dikatakan abnormal dan dapat
juga dikatakan retensi urine.

Slide Title

GAMBARAN KLINIS..1
1. Pemeriksaan subyektif
keluhan seperti nyeri suprapubik
mengejan karena rasa ingin kencing
serta kandung kemih berasa penuh.
Tidak bisa kencing atau kencing menetes
/sedikit-sedikit
Nyeri dan benjolan/massa pada perut bagian
bawah
Riwayat trauma: "straddle", perut bagian
bawah/panggul, ruas tulang belakang.
Pada kasus kronis, keluhan uremia

GAMBARAN KLINIS2
2. Pemeriksaan objektif
Inspeksi:
Penderita gelisah
Benjolan/massa perut bagian bawah
Tergantung penyebab : batu di meatus
eksternum, pembengkakan dengan/tanpa
fistulae didaerah penis dan skrotum
akibat striktura uretra, perdarahan per
uretra pada kerobekan akibat trauma.

GAMBARAN KLINIS3
2. Pemeriksaan objektif
Palpasi dan perkusi
Teraba benjolan/massa kistik-kenyal
(undulasi) pada perut bagian bawah.
Bila ditekan menimbulkan perasaan nyeri
pada pangkal penis atau menimbulkan
perasaan ingin kencing yang sangat
mengganggu.
Terdapat keredupan pada perkusi.

GAMBARAN KLINIS4
2. Pemeriksaan objektif
Palpasi dan perkusi
teraba batu di uretra anterior sampai
dengan meatus eksternum.
teraba dengan keras (indurasi) dari uretra
pada striktura yang panjang
teraba pembesaran kelenjar prostat pada
pemeriksaan colok dubur.
teraba kelenjar prostat letaknya tinggi bila
terdapat ruptur total uretra posterior
.

Pemeriksaan penunjang
Yaitu melakukan pemeriksaan-pemeriksaan
laboratorium, radiologi atau imaging
(pencitraan), uroflometri, atau urodinamika,
elektromiografi, endourologi, dan laparoskopi.
Pada pemeriksaan laboratorium paling sering
digunakan kateter dan uroflowmetri, yaitu
untuk mengukur volume dan residu urin pada
kandung kemih. Selain itu juga dapat digunakan
cystourethrografi untuk melihat gambaran
radiografi kandung kemih dan uretra.

Pemeriksaan penunjang
Adapun pemeriksaan diagnostic yang dapat dilakukan
pada retensio urine adalah sebagai berikut: Pemeriksaan
specimen urine, pengambilannya secara steril, random,
midstream. Diperiksa pH, BJ, Kultur, Protein, Glukosa,
Hb, Keton, Nitrit. Sistoskopy, IVP.
Kepastian diagnosis
Foto polos abdomen dan genitalia
o terlihat bayangan buli-buli yang penuh dan
membesar.
o adanya batu (opaque) di uretra atau orifisium
internum.
o Uretrografi untuk melihat adanya striktura, kerobekan
uretra, tumor uretra.
o Ultrasonografi untuk melihat volume buli-buli, adanya
batu, adanya pembesaran kelenjar prostat.

PENANGANAN RETENSI URINE


1.

Kateterisasi uretra
Tujuan diagnosis ataupun terapi
Diagnosis antara lain
o Kateterisasi pada wanita dewasa untuk
memperoleh contoh urin guna pemeriksaan kultur
urin.
o Mengukur residu (sisa) urin yang dikerjakan sesaat
setelah pasien selesai miksi.
o Memasukkan bahan kontras untuk pemeriksaan
radiologi, antara lain : Sistografi atau pemeriksaan
adanya refluks vesiko-ureter melalui pemeriksaan
voiding cysto-urethrography (VCUG).
o Pemeriksaan urodinamik untuk menentukan
tekanan intra vesika.
o Untuk menilai produksi urin pada saat dan setelah
operasi besar.

PENANGANAN RETENSI URINE


1.

Kateterisasi uretra
Indikasi kateterisasi :
o Mengeluarkan urin dari buli-buli pada keadaan obstruksi
infravesikal, baik yang disebabkan oleh hiperplasia prostat
maupun oleh benda asing (bekuan darah) yang
menyumbat uretra.
o Mengeluarkan urin pada disfungsi buli-buli.
o Diversi urin setelah tindakan operasi sistem urinaria bagian
bawah, yaitu pada operasi prostatektomi, vesikolitektomi.
o Sebagai splint setelah operasi rekonstruksi uretra untuk
tujuan stabilisasi uretra.
o Memasukkan obat-obatan intravesika, antara lain
sitostatika atau antiseptik untuk buli-buli.
Kontraindikasi kateterisasi :
o Ruptur uretra, ruptur buli-buli, bekuan darah pada bulibuli.

PENANGANAN RETENSI URINE


2. Kateterisasi suprapubik
Kateterisasi Suprapubik adalah memasukkan
kateter dengan membuat lubang pada bulibuli melalui insisi suprapubik dengan tujuan
mengeluarkan urin.
Kateterisasi suprapubik ini biasanya
dikerjakan pada Kegagalan pada saat
melakukan kateterisasi uretra.
Ada kontraindikasi untuk melakukan tindakan
transuretra, misalkan pada ruptur uretra atau
dugaan adanya ruptur uretra.
Untuk mengukur tekanan intravesikal pada
studi sistotonometri.
Mengurangi penyulit timbulnya sindroma
intoksikasi air pada saat TUR Prostat.

PROGNOSIS
Prognosis pada penderita dengan retensi
urin akut akan bonam jika retensi urin
ditangani secara cepat.

Slide Title

referensi
Ganong. Review of medical Phisiologi. USA.
McGraw-Hill companies. 2003
Guyton & Hall. Textbook of medical Phisiologi.
2003.
Price, Sylvia dkk. Patofisiologi konsep klinis proses
penyakit volume I1 2006.
Retensi Urin Permasalahan dan
Penatalaksanaannya. Widjoseno Gardjito
Lab/UPFIlmu Bedah FK Unair/RSUD Dr.
Soetomo, Surabaya.
Schwartz, Seymour I. 2009. Intisari Prinsip-prinsip
Ilmu Bedah. Ed 6. EGC Jakarta.
Suyono S, 2007, Buku Ajar Ilmur Penyakit Dalam,
Jilid I, Edisi Ketiga, Balai Penerbit FKUI,
Jakarta.

Slide Title

TRAUMA
URINARIA
Trauma urinaria atau trauma pada saluran
perkemihan merupakan adanya benturan
pada saluran perkemihan (ginjal, ureter,
vesika urinaria, uretra). Pada laki-laki dapat
pula mengenai scrotum, testis dan prostat.
Defenisi

Trauma Pada Organ-organ


Sistem Perkemihan
GINJAL
Trauma ginjal adalah cedera
pada ginjal yang disebabkan
oleh berbagai macam
rudapaksa baik tumpul
maupun tajam.
8-10 % trauma st perkemiahan
85-90 akibat trauma tumpul
akibat kecelakaan LL

etiologi
Trauma tumpul ( tersering )Perkelahian, terjatuh,
olah raga dengan kontak, kecelakaan lalu lintas.
Trauma tembus Tembakan, ruda paksa tusukan,
senjata tajam.
Akselerasi / Deselerasi Kecelakaan lalu lintas yang
mengenai pedical ginjal.
Tatrogenik Biopsi ginjal, koliktomi.
Ginjal patologisGinjal patologis lebih mudah terjadi
trauma sehubungan dengan lemahnya pertahanan
ginjal ( seperti : Ginjal polikistik, hidronefrosis, ginjal
ektopik).
Trauma yang akibat ESWL (extracorporeal shock wave
lithotripsy)suatu prosedur rutin untuk
menghancurkan batu ginjal) bisa menyebabkan
ditemukannya darah dalam air kemih yang sifatnya
sementara, tidak terlalu jelas dan akan membaik
dengan sendirinya, tanpa pengobatan khusus.

klasifikasi

Klasifikasi
(Sargeant dan Marquadt yang dimodifikasi oleh Federle )

1. Grade I Lesi meliputi :


Kontusi ginjal
Minor laserasi korteks dan medulla tanpa gangguan
pada sistem pelviocalices
Hematom minor dari subcapsular atau perinefron
(kadang kadang)
75 80 % dari keseluruhan trauma ginjal
2. Grade II Lesi meliputi:
Laserasi parenkim yang berhubungan dengan tubulus
kolektivus sehingga terjadi extravasasi urine
Sering terjadi hematom perinefron
Luka yang terjadi biasanya dalam dan meluas sampai
ke medulla 10 15 % dari keseluruhan trauma ginjal

Klasifikasi
(Sargeant dan Marquadt yang dimodifikasi oleh Federle )

3. Grade III Lesi meliputi:


Ginjal yang hancur
Trauma pada vaskularisasi pedikel ginjal 5
% dari keseluruhan trauma ginjal
4. Grade IV Meliputi lesi yang jarang terjadi
yaitu:
Avulsi pada ureteropelvic junction
Laserasi dari pelvis renal

Manifestasi klinik
Rasa sakit / nyeri daerah trauma ginjal
bahkan sampai syok.
Hematuri.
Hematom pada pinggang.
Teraba masa pada pinggang.
Nyeri tekan pada daerah trauma.

Pemeriksaan penunjang
Hematokrit menurun ( karena perdarahan ).
HB menurun.
Pemeriksaan IVP : Memperlihatkan suatu
daerah berwarna abu-abu didaerah trauma
karena hematom dan ekstravasi urine.
Urogram ekskresi : Memperlihatkan
gangguan fungsi / ekstravasi urine pada sisi
yang terkena.
CT Scan
: Untuk mendeteksi
hematom retroperineal dan konfigurasi
ginjal.

Penatalaksanaan
1. Konservatif
Istirahat total.
Transfusi.
Obat-obat konservatif.
2. Operatif
Operasi untuk penjahitan suatu laserasi
bila fungsi ginjal masih baik.
Nefrotomi.

komplikasi
Awal : Infeksi, perdarahan.
Lanjut : Stenosis upture dari arteri ginjal,
hipertensi, hidronefrosis.

TRAUMA URETER

Defenisi
Sebagian besar trauma ureter (saluran dari
ginjal yang menuju ke kandung kemih)
terjadi selama pembedahan organ panggul
atau perut, seperti histerektomi, reseksi
kolon atau uteroskopi. Seringkali terjadi
kebocoran air kemih dari luka yang
terbentuk atau berkurangnya produksi air
kemih. Trauma ureter jarang sekali terjadi
karena struktunya fleksibel dan terlindung
oleh tulang dan otot.

etiologi
Operasi daerah punggung dan abdomen,
dimana ureter terpotong.
Tindakan kateterisasi : ujung kateter
menembus dinding ureter.
Pemasukan zat alkali terlalu kuat.

Manifestasi klinik
Anuria / oliguria berat setelah pembedahan
didaerah pelvis dan abdomen.
Nyeri daerah panggul.
Ekstravasase urine.
Drainase urine melalui luka operasi.
Ileus terus menerus.

Pemeriksaan penunjang
Tes fungsi ginjal : abnormal bila traumanya
bilateral.
Urografi ekskresi : ekstravasase urine.
Urografi retrogad : menentukan sifat dan
tempat trauma.

Komplikasi

Fistula ureter.
Infeksi retroperitoneal.
Pyelonefritis.
Obstruksi ureter karena stenosis.

penatalaksanaan
Terapi terbaik adalah pencegahan dimana perlunya
pemasangan kateter sebelum dilakukan operasi
pada daerah ginjal dan abdomen untuk identifikasi.
Diusahakan untuk mempertahankan aliran urine
dengan cara :
o Uretro Neosistomi bila ureter masih cukup
panjang, Ureter dapat ditanamkan ke buli-buli.
o Uretro cutanostomi yaitu muara ureter
dipindahkan ke kulit.
o Uretro ileo sistostomi bila ureter pendek
diganti dengan Ileal Lopp.
Terapi konservatif berupa analgetik

TRAUMA VESIKA URINARIA


Trauma bledder atau trauma vesica urinaria
merupakan keadaan darurat bedah yang
memerlukan pelaksanaan segera. Bila tidak
ditanggulangi dengan segera dapat
menimbulkan komplikasi seperti peritoritis dan
sepsis.
Cedera kandung kemih disebabkan oleh trauma
tumpul atau penetrasi. Kemungkinan cedera
kandung kemih bervariasi menurut isi kandung
kemih sehingga bila kandung kemih penuh akan
lebih mungkin untuk menjadi luka daripada saat
kosong (arif muttaqin 2011)

Etiologi
Trauma tumpul pada panggul yang
mengenai buli-buli.
Trauma tembus.
Akibat manipulasi yang salah sewaktu
melakukan operasi Trans uretral Resection
(TUR)

Manifestasi klinik
Nyeri supra pubik baik verbal maupun saat
palpasi.
Hematuria.
Ketidakmampuan untuk buang air kecil.
Regiditas otot.
Ekstravasase urine.
Suhu tubuh meningkat.
Syok.
Tanda-tanda peritonitis.

Pemeriksaan penunjang
Hematokrit menurun.
Cystografi : menunjukkan ekstravasase urine,
vesika urinaria dapat pinddah atau tertekan,
menunjukkan ekstravasase urine vesika urinaria
dapat pindah atau tertekan yaitu suatu
prosedur di mana pewarna radioaktif (senyawa
kontras) yang dapat dilihat dengan X-ray,
disuntikkan ke dalam kandung kemih.
Prosedur selanjutnya adalah dengan melakukan
CT scan atau X-ray untuk melihat kebocoran.
Sementara untuk luka kandung kemih yang
terjadi selama prosedur operasi biasanya
diketahui tepat pada waktunya sehingga
rangkaian tes tersebut tidak perlu dilakukan.

penatalaksanaan
Atasi syok dan perdarahan.
Istirahat baring sampai upture hilang.
Bila ditemukan fraktur tulang punggung
disertai ruftur vesica urinaria intra peritoneal
dilakukan operasi upture alta yang
dilanjutkan dengan laparatomi.

TRAUMA URETRA
Adalah Ruptur uretra bisa sebagian atau
total, biasanya rupture terjadi pada pars
membranesea. Dapat juga uretra pars
pandibulum, trauma lebih sering dialami
pria.
Etiologi
Umumnya disebabkan trauma langsung
didaerah rupture dan pelvis.

Manifestasi klinik
Perdarahan dari uretra.
Hematom perineal, mungkin disebabkan
trauma bulbus cavernosus.
Retensio urine akibat spasme M. Spinkter
uretra eksternum.
Bila buli-buli penuh terjadi ekstravasase
sehingga terjadi nyeri berat dan keadaan
umum memburuk.

Klasifikasi
1. Trauma Grade I ( ringan )
Yang mengalami kerusakan adalah dinding uretra,
adanya perdarahan per uretra ( darah langsung
keluar dari uretra.
2. Trauma Grade II ( sedang )
Yang mengalami kerusakan adalah dinding uretra,
bulbus cavernosus dan kemungkinan ada hematom
tetapi tidak progresif.
3. Trauma Grade III ( berat ).
Pada tingkat ini uretra mengalami rupture, bulbus
cavernosus hancur dan vesika buck robek darah
mengalir keluar, menjalar kebawah kulit, perdarahan
mula-mula pada daerah peritoneum terus ke
scrotum selanjutnya ke daerah unguinal suprapubik.

Pemeriksaan penunjang
Rectal Toucher
Bila upture terjadi di pars membranosa,
maka prostat tidak akan teraba, sebaliknya
akan teraba rupture berupa masa lunak dan
kenyal.
Uretrogram
Untuk mengetahui lokasi rupture.

Trauma organ aksesoris lainnya


1. Trauma Penis

Trauma pada penis yang sedang ereksi disebabkan oleh pembalut


karet atau penyempit lain yang merobek jaringan kavernosa dan dapat
menyebabkan necrosis. Kadang-kadang terjadi kerusakan jaringan
penis pada kecelakaan rupture dalam hal ini mungkin diperlukan skin
graf.
2. Trauma Scrotum

Trauma pada testis jarang terjadi. Nyeri hebat, muntah dan bahkan
syok bila testis mengalami kontosio, laserasi / rupture total, mungkin
diperlukan eksplorasi scrotum. Penyembuhan setelah trauma hebat
biasanya disertai atropi testis.
3. Trauma Testis

Pada luka tembak, cedera ekstensif, luka compang-camping dan


terdapat jaringan nekrosis serta cedera ikutan pada daerah sekitarnya.
Pada rudapaksa tumpul, besarnya pembengkakan skrotum dan
ekimosis bisa berbeda. Cedera akibat rudapaksa tajam segera setelah
trauma biasanya penderita mengeluh sakit, mual, muntah, kadang
sinkop. Terdapat tanda cairan atau darah di dalam skrotum. Ditemukan
testis yang membesar dan nyeri.

DIANOSA KEPERAWATAN

DIANOSA KEPERAWATAN

Acute/chronic pain
Functional urinary incontinence
Reflex urinary incontinence
Impaired urinary elimination
Urinary retention
Risk for bleeding
Risk for infection
Risk for vascular trauma

(lihat nanda Domain 3 elemination and exhange)

Wassalam

Anda mungkin juga menyukai