Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Di Indonesia, singkong telah menjadi bahan makanan pokok setelah beras
dan jagung. Singkong dapat diolah menjadi bahan dasar pada industri makanan
dengan didukung oleh perkembangan teknologi yang makin pesat. Salah satu
provinsi penghasil singkong terbesar adalah Jawa Timur, yang menjadi peringkat
ketiga setelah Lampung dan Jawa Tengah. Jumlah singkong yang dihasilkan per
tahun adalah sebesar 3.474.489 ton (BPS, 2010).
Sidoarjo merupakan salah satu kota di Jawa Timur yang terkenal memiliki
komoditas unggulan yaitu udang, bandeng, dan kerupuk.. Di Sidoarjo banyak
Industri Kecil dan Menengah (IKM) kerupuk dari home made, sampai yang telah
menggunakan mesin. Kerupuk yang diproduksi berbagai macam mulai dari
kerupuk udang, kerupuk ikan, kerupuk sayur dan kerupuk lainnya. Salah satu
yang sedang dikembangkan adalah kerupuk singkong, mengingat mulai
digalakkannya lahan singkong di Wonoayu yang sampai tahun 2012 sudah ada
2000 Ha. Hal ini didukung pula oleh pernyataan Gubernur Jawa Timur, Soekarwo
dalam majalah Tempo tanggal 5 Oktober 2010, yang mengatakan, Singkong
jangan hanya dijadikan tape, tetapi harus bisa di ekspor .
Untuk menunjang pengolahan singkong sebagai kerupuk, ada lima IKM
di Sidoarjo yang mengkhususkan diri dalam pengembangan kerupuk singkong
yang di pasaran lebih dikenal dengan sebutan potato crackers ini dan tiga diantara

mereka berorientasi ekspor ke Malaysia, Taiwan, Thailand, dan Philipina. Karena


orientasi ditujukan untuk ekspor, maka dalam rangkaian proses pembuatannya
selain higienis, produk yang dihasilkan harus sesuai dengan ketentuan buyer.
Beberapa kriteria diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Permukaan kerupuk mentah tidak boleh oily.
2. Diameter hasil gorengan kerupuk harus 1,5 kali diameter kerupuk mentah.
3. Ketebalan hasil gorengan kerupuk lebih tipis dari 2,5 mm.
4. Tenggat waktu pengiriman harus fix.
5. Packaging kerupuk harus food grade.
Untuk dapat bersaing dalam memenuhi permintaan buyer, selain dengan
meningkatkan daya jual, IKM kerupuk singkong juga harus meningkatkan
produktivitas proses produksinya. Salah satu kendala dalam peningkatan
produktivitas proses produksi terdapat pada proses parut dan proses roll press atau
pemipihan adonan. Kendala tersebut berupa waktu yang dibutuhkan untuk kedua
proses cukup lama, sehingga menimbulkan waktu tunggu untuk proses
berikutnya. Waktu yang lama tersebut disebabkan alat parut pada proses parut dan
alat roll press pada proses roll press kurang ergonomis, sehingga sering
menimbulkan keluhan atau kecelakaan kerja kategori kecil pada operator saat
mengoperasikan alat, sebagai contoh : badan pegal semua, lelah, tangan
kesemutan, luka pada jari tangan, tangan operator terkena roll parut, tangan
operator ikut tergilas sedikit dalam alat roll press ketika memasukkan adonan,
selain itu juga disebabkan oleh roller pada alat parut terdapat bagian yang
terdeformasi dan roller pada alat roll press, lengket dengan adonan, sehingga

roller pada kedua alat perlu diganti dengan bahan yang lebih baik agar dapat
menunjang waktu proses yang lebih efisien.
Hal ini yang menyebabkan penulis ingin membahas perbaikan pada dua
proses ini dengan rancang bangun alat parut dan alat roll press secara ergonomis,
agar menghasilkan waktu proses yang lebih efisien serta produk yang dihasilkan
bagus sehingga dapat membantu meningkatkan produktivitas proses produksi
kerupuk singkong.
1.2. Perumusan masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan permasalahan
yang ada sebagai berikut :
1. Bagaimana merancang bangun alat parut dan roll press yang ergonomis
sehingga dapat mengurangi keluhan atau kecelakaan kerja dan
menghasilkan waktu proses yang lebih efisien?
2. Apakah rancang bangun alat parut dan roll press memberikan perbedaan
pada kualitas hasil parut dan hasil kerupuk dibanding dengan alat lama?
3. Apakah rancang bangun alat parut dan roll press layak digunakan dari sisi
pengusaha?
4. Bagaimana kelayakan ekonomi usaha penjualan alat parut dan alat roll
press?

1.3. Batasan permasalahan


Adapun batasan batasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Singkong kupas yang dipergunakan adalah singkong dari Wonoayu, Krian,
Sidoarjo
2. Penelitian dilakukan pada PT.A, salah satu industri kerupuk singkong di
kota Sidoarjo.
3. Rancang bangun alat parut dan roll press yang ditinjau dari sisi ergonomi,
tidak membahas tingkat kebisingan.
4. Pembuatan dan uji coba pengoperasian alat dilakukan di PT.A, Sidoarjo
5. Kualitas hasil produk dari alat hasil rancang bangun dinilai melalui uji
organoleptik menggunakan kuesioner dan diukur dari segi dimensi ukuran
dan berat.
1.4. Tujuan penelitian
Penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut :
1. Menghasilkan alat yang ergonomis dan mengurangi keluhan atau
kecelakaan kerja
2. Menghasilkan waktu proses yang lebih efisien pada proses parut dan roll
press
3. Mengetahui kualitas hasil kerupuk dengan alat hasil rancang bangun
4. Mengetahui kelayakan ekonomi penggunaan alat dalam proses produksi.
5. Mengetahui kelayakan ekonomi usaha penjualan alat parut dan alat roll
press hasil rancang bangun.

1.5. Manfaat penelitian


Manfaat yang diperoleh dalam melakukan penelitian ini adalah sebagai
berikut :
1. Bagi penulis bisa mengembangkan pemikiran dan ide untuk membantu
pemecahan masalah bagi IKM kerupuk singkong.
2. Bagi perusahaan, akan terjadi peningkatan produktivitas proses produksi
kerupuk singkong melalui alat parut dan roll press hasil rancang bangun.
3. Bagi civitas akademika, dapat memberikan masukkan bagaimana cara
meningkatkan produktivitas dari segi ergonomi.
1.6. Keaslian Penelitian
Alat parut telah banyak ada di pasaran, walaupun mayoritas untuk
memarut kelapa, walaupun bisa dipakai untuk singkong. Ada beberapa penelitian
perancangan alat parut akan tetapi, tidak spesifik untuk singkong dan tidak
menggunakan metode ergonomi.
Alat roll press juga telah ada banyak di pasaran, namun belum ada yang
sesuai dengan karakteristik adonan kerupuk singkong, karena pada umumnya
kerupuk singkong dibuat dengan cara dirajang dan digoreng langsung, Ada
beberapa penelitian perancangan alat roll press tetapi tidak spesifik untuk adonan
singkong dan tidak menggunakan metode ergonomi.
Pada penelitian ini, alat parut dan roll press yang dirancang bangun,
adalah khusus untuk singkong dan menggunakan metode ergonomi.