Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN ANESTESI


PADA KLIEN DENGAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Anestesi III
Mahasiswa Semester VII Prodi D-IV Keperawatan

Disusun Oleh:
1; Andri Susilowati
2; Dewi Masithoh
3; Eka Sulistyowati
4; Putri Prastiti

P07120213005
P07120213011
P07120213015
P07120213042

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga makalah Keperawatan Anestesi
III yang berjudul Asuhan Keperawatan Anestesi pada Klien dengan Gangguan
Sistem Pencernaan ini dapat terselesaikan tanpa halangan yang berarti.
Makalah Keperawatan Anestesi III tentang Asuhan Keperawatan Anestesi
pada Klien dengan Gangguan Sistem Pencernaan ini disusun untuk memenuhi
tugas mata kuliah Keperawatan Anestesi III semester II

D-IV Keperawatan

Poltekkes Kemenkes Yogyakarta tahun ajaran 2013/2014.


Dengan disusunnya makalah Keperawatan Anestesi III tentang Asuhan
Keperawatan Anestesi pada Klien dengan Gangguan Sistem Pencernaan ini
pembaca diharapkan dapat mengetahui tentang Asuhan Keperawatan Anestesi
pada Klien dengan Gangguan Sistem Pencernaan serta dapat menggunakan
makalah ini sebagai salah satu media pembelajaran untuk mata kuliah
Keperawatan Anestesi III selanjutnya.
Kami sadar, sebagai pelajar yang masih dalam proses pembelajaran, penulisan
makalah tentang Asuhan Keperawatan Anestesi pada Klien dengan Gangguan
Sistem Pencernaan ini masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat positif, guna penulisan
makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Yogyakarta, September 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

Halaman Judul
Kata Pengantar ..........................................................................................................
2
Daftar Isi ....................................................................................................................
3
Bab I: Pendahuluan
A; Latar

Belakang
........................................................................................................................
4
B; Rumusan
Masalah
........................................................................................................................
6
C; Tujuan
........................................................................................................................
6
Bab II: Pembahasan
A; Sistem

Pencernaan
........................................................................................................................
7
B; Gangguan
Sistem
Pencernaan
........................................................................................................................
17
C; Anestesi
........................................................................................................................
21
D; Asuhan Keperawatan Anestesi pada Klien
dengan
Gangguan
Sistem
Pencernaan
........................................................................................................................
25
Bab III: Penutup
A; Kesimpulan

........................................................................................................................
32

B; Saran

........................................................................................................................
32
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

A; Latar Belakang

Pengertian anestesi di masyarakat sangat sederhana sekali. Namun


menurut Oloan (2009) ilmu anestesi itu mencakup tiga bidang yang cukup
penting di bidang kesehatan yaitu, menghilangkan semua rasa nyeri apapun
penyebabnya, terutama karena trauma atau pembedahan, mengembalikan
fungsi vital tubuh yaitu sirkulasi dan pernapasan yang sempat tidak berfungsi
sama sekali yang disebut resusitasi jantung paru dan otak, mengelola unit
perawatan intensif bagi penderita-penderita yang mengalami gangguan fungsifungsi organ vital akibat penyakit atau pembedahan yang memerlukan
pemantauan khusus dan dukungan pernapasan.

Kata anestesia diperkenalkan oleh Oliver Wendell Holmes yang


menggambarkan keadaan tidak sadar yang bersifat sementara, karena
pemberian obat dengan tujuan untuk menghilangkan nyeri pembedahan.
Anestesiologi ialah ilmu kedokteran yang pada awalnya berprofesi
menghilangkan rasa nyeri dan rumatan pasien sebelum, selama, dan sesudah
pembedahan (Latief dkk, 2001).
Indonesia merupakan negara besar dengan jumlah daya penduduk yang
sangat besar, tetapi sayang bahwa tenaga manusia profesional dalam
penanganan gawat darurat masih sangat sedikit. Filipina dengan penduduk 40
juta, mempunyai dokter anestesi 2000, sedangkan di Indonesia dokter anestesi
tidak lebih dari 500 untuk penduduk 210.000.000.
Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Reanimasi masih
memiliki 12 cabang di seluruh Indonesia. Dokter anestesi Indonesia hanya
bekerja sekitar kamar bedah, ICU, Unit Gawat Darurat, tidak dapat melangkah
lebih jauh karena jumlah sangat terbatas. Kebanyakan masyarakat hanya
mengenal anetesi sebagai tindakan pembiusan, padahal ilmu anestesi juga
mencakup kegawatan medik dan masyarakat awam belum tersentuh
bagaimana cara menangani kegawatan medik, padahal merekalah yang
berhubungan langsung dengan sekelilingnya (Soenarjo, 2004).
Sistem pencernaan merupakan sistem dalam tubuh yang bekerja untuk
memproses dan mengubah makanan serta menyerap sari makanan yang berupa
nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Selain itu sistem pencernaan juga
bekerja untuk memecah molekul makanan yang kompleks menjadi molekulmolekul yang sederhana dengan bantuan enzim sehingga mudah dicerna oleh
tubuh.
Sistem pencernaan terbentuk dari saluran pencernaan yang terdiri dari
organ-organ pencernaan dari Oris (mulut), Faring (tekak), Esofagus
(kerongkongan), Ventrikulus (lambung), usus halus,usus besar, rektum, anus.
Selain itu alat penghasil getah cerna terdiri dari Kelenjar ludah, kelenjar getah
lambung, kelenjar hati, kelenjar pankreas, kelenjar getah usus. Selama dalam
pankreas, pencernaan makanan dihancurkan menjadi zat-zat yang sederhana

yang hanya diserap dan digunakan oleh sel jaringan tubuh. Berbagai
perubahan sifat makanan terjadi karena kerja berbagai enzim yang terkandung
di dalam berbagai cairan pencernaan.
Adapun beberapa gangguan sistem pencernaan yang sering terjadi pada
manusia yang juga terkait dengan masalah kesehatan yaitu gangguan pada
mulut seperti paratis dan xerostomia, gangguan pada lambung seperti gastritis,
ulkus, apendisitis,peritonitis dan gangguang pada usus seperti diare dan
sembelit.

B; Rumusan Masalah
1; Apa yang dimaksud dengan sistem pencernaan?
2; Apa saja gangguan pada sistem pencernaan?
3; Apa yang dimaksud dengan anestesi?
4; Bagaimanakah contoh asuhan keperawatan anestesi pada pasien dengan

gangguan system pencernaan?


C; Tujuan
1; Untuk mengetahui tentang sistem pencernaan.
2; Untuk mengetahui macam-macam gangguan pada sistem pencernaan.
3; Untuk mengetahui tentang anestesi.
4; Untuk mengetahui asuhan keperawatan anestesi pada pasien dengan

gangguan system pencernaan

BAB II
PEMBAHASAN

A; Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan merupakan sistem dalam tubuh yang bekerja untuk


memproses dan mengubah makanan serta menyerap sari makanan yang berupa
nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Selain itu sistem pencernaan juga
bekerja untuk memecah molekul makanan yang kompleks menjadi molekulmolekul yang sederhana dengan bantuan enzim sehingga mudah dicerna oleh
tubuh.
Sistem pencernaan manusia berawal dari mulut dan berakhir di anus, dan
sering disebut sebagai tabung di dalam tabung. Sistem pencernaan juga
disebut perut, saluran alimentari atau jalur gastrointestinal. Sistem pencernaan
terentang dari bagian bawah kepala menelusuri seluruh badan (torso). Pada
dasarnya, sistem ini melakukan lima tugas terpisah yang berurusan dengan
pemprosesan dan penyebaran nutrisi. Pertama, ia mengatur asupan, atau
pengambilan makanan. Kedua, ia mengirim makanan ke organ-organ untuk
penyimpanan sementara. Ketiga, ia mengendalikan mekanisme pemecahan
7

makanan dan pencernaan kimianya. Keempat, ia bertanggung jawab untuk


penyerapan molekul nutrisi. Kelima, ia memberikan penyimpanan sementara
dan penghancuran produk limbah.
Saluran pencernaan dan kelenjar-kelenjar pencernaan dalam tubuh
akan membentuk suatu sistem yang disebut sistem pencernaan. Molekulmolekul zat makanan yang berukuran besar akan diubah menjadi molekulmolekul yang lebih kecil agar dapat diserap oleh dinding usus. Proses
perubahan tersebut disebut sebagai pencernaan.

Secara umum, gambaran sistem pencernaan manusia dapat dilihat


pada gambar di bawah ini.

Alat-alat pencernaan makanan berfungsi mencernakan makanan sehingga


dapat diserap oleh usus halus. Saluran pencernaan makanan meliputi mulut,
kerongkongan, lambung, usus halus, usus besar, dan anus.

1; Mulut

Di dalam mulut terjadi pencernaan secara mekanik dan kimia. Di


dalam mulut terdapat gigi, lidah, kelenjar ludah. Struktur rongga mulut
secara umum

a; Lidah
Berfungsi

sebagai

alat

pengecap,

membantu

mendorong

makanan dalam proses penelanan, membantu membersihkan mulut


dan membantu bersuara.

b; Kelenjar Ludah

Berfungsi untuk melarutkan makanan, memudahkan penelanan,


dan melindungi selaput mulut terhadap panas, dingin, asam, dan
basa. Kelenjar ludah ada 3 bagian, yaitu:
1; Glandula parotis, menghasilkan ludah yang berbentuk air.
2; Glandula submaksilaris, menghasilkan getah yang mengandung

air dan lendir.


3; Glandula sublingualis, menghasilkan getah yang mengandung air
dan lendir.

Terdapat pula tiga buah kelenjar saliva pada mulut, yaitu kelenjar
parotis,

sublingualis,

dan

submandibularis.

Kelenjar

saliva

mengeluarkan air liur yang mengandung enzim ptialin atau amilase,


berguna untuk mengubah amilum menjadi maltosa. Pencernaan yang
dibantu oleh enzim disebut pencernaan kimiawi. Di dalam rongga
mulut, lidah menempatkan makanan di antara gigi sehingga mudah
dikunyah dan bercampur dengan air liur. Makanan ini kemudian
dibentuk menjadi lembek dan bulat yang disebut bolus. Kemudian
bolus dengan bantuan lidah, didorong menuju faring.
c; Gigi

10

Gigi terbentuk dari tulang gigi yang disebut dentin. Struktur gigi
terdiri atas

mahkota gigi yang terletak diatas gusi, leher yang

dikelilingi oleh gusi, dan akar gigi yang tertanam dalam kekuatankekuatan rahang. Mahkota gigi dilapisi email yang berwarna putih.
Kalsium, fluoride, dan fosfat merupakan bagian penyusun email.
Untuk perkembangan dan pemeliharaan gigi yang bai, zat-zat tersebut
harus ada di dalam makanan dalam jumlah yang cukup. Akar dilapisi
semen yang melekatkan akar pada gusi.

Ada tiga macam gigi manusia, yaitu gigi seri (insisor) yang
berguna untuk memotong makanan, gigi taring (caninus) untuk
mengoyak makanan, dan gigi geraham (molar) untuk mengunyah
makanan. Susunan gigi manusia dapat ditulis sebagai berikut:

Keterangan:

11

I = Insisivus

= gigi seri

C = Caninus

= gigi taring

P = Premolar

= geraham depan

M = Molar

= geraham belakang

2; Kerongkongan (Esofagus)
Setelah melalui rongga mulut, makanan yang berbentuk bolus akan
masuk kedalam tekak (faring). Faring adalah saluran yang memanjang
dari bagian belakang rongga mulut sampai ke permukaan kerongkongan
(esophagus). Pada pangkal faring terdapat katup pernapasan yang disebut
epiglottis. Epiglotis berfungsi untuk menutup ujung saluran pernapasan
(laring) agar makanan tidak masuk ke saluran pernapasan. Setelah melalui
faring, bolus menuju ke esophagus; suatu organ berbentuk tabung lurus,
berotot lurik, dan berdidnding tebal. Otot kerongkongan berkontraksi
sehingga menimbulkan gerakan meremas yang mendorong bolus ke dalam
lambung. Gerakan otot kerongkongan ini disebut gerakan peristaltik.

3; Lambung
Lambung tersusun atas 3 bagian, yaitu:
a; Kardiak, terdapat otot sfinkter kardiak yang akan membuka jika ada

makanan masuk.
12

b; Fundus, merupakan bagian tengah lambung dengan bentuk membulat.


c; Pilorus, bagian bawah lambung yang berdekatan dengan usus halus,di

dekat pilorus terdapat sfinkter pilorus yang dapat bergerak secara


peristaltik sama dengan gerak pada esofagus.

Dinding lambung menghasilkan hormon gastrin dan getah lambung


yang berfungsi merangsang dinding lambung agar mensekresikan getah
lambung. Di dalam getah lambung terkandung asam klorida (HCl), enzim
pepsin, lipase, dan renin.
a; Asam klorida (HCl) berfungsi membunuh kuman yang ikut bersama

makanan, mengaktifkan pepsinogen menjadi pepsin, merangsang


membuka dan menutupnya sfinkter pilorus, dan merangsang sekresi
getah usus.
b; Pepsin berfungsi memecah protein menjadi pepton.
c; Lipase berfungsi mencerna lemak.
d; Renin berfungsi menggumpalkan kasein yang terdapat dalam susu.
Otot lambung berkontraksi mengaduk-aduk bolus, memecahnya secara
mekanis, dan mencampurnya dengan getah lambung. Getah lambung
mengandung HCl, enzim pepsin, dan renin. HCl berfungsi untuk
membunuh kuman-kuman yang masuk berasama bolus akan mengaktifkan
enzim pepsin. Pepsin berfungsi untuk mengubah protein menjadi peptone.
13

Renin berfungsi untuk menggumpalkan

protein susu. Setelah melalui

pencernaan kimiawi di dalam lambung, bolus menjadi bahan kekuningan


yang disebut kimus (bubur usus). Kimus akan masuk sedikit demi sedikit
ke dalam usus halus.
4; Usus Halus (Intestinum)
Usus halus terbagi atas 3 bagian, yaitu:
a; Duodenum (usus 12 jari) karena panjangnya sekitar 12 jari orang

dewasa yang disejajarkan.


b; Jejenum (usus kosong) karena pada orang yang telah meninggal bagian
usus tersebut kosong.
c; Ileum (usus penyerapan) karena pada bagian inilah zat-zat makanan
diserap oleh tubuh.
Pencernaan di dalam intestinum juga dibantu oleh pankreas. Organ ini
dapat berperan sebagai kelenjar endokrin dengan menghasilkan hormon
insulin dan sebagai kelenjar eksokrin dengan menghasilkan getah
pencernaan berupa tripsin, amilase, dan lipase.
a; Insulin berfungsi untuk mempertahankan kestabilan kadar gula darah.
b; Tripsin berfungsi memecah protein menjadi pepton.
c; Amilase berfungsi mengubah amilum menjadi maltosa.
d; Lipase berfungsi mengubah lemak menjadi asam lemak dan gliserol.
Suatu lubang pada dinding duodenum menghubungkan usus 12 jari
dengan saluran getah pancreas dan saluran empedu. Pankreas
menghasilkan enzim tripsin, amilase, dan lipase yang disalurkan menuju
duodenum. Tripsin berfungsi merombak protein menjadi asam amino.
Amilase mengubah amilum menjadi maltosa. Lipase mengubah lemak
menjadi asam lemak dan gliserol.
Getah empedu dihasilkan oleh hati dan ditampung dalam kantung
empedu. Getah empedu disalurkan ke duodenum. Getah empedu berfungsi
untuk menguraikan lemak menjadi asam lemak dan gliserol. Selanjutnya
pencernaan makanan dilanjutkan di jejunum. Pada bagian ini terjadi
pencernaan terakhir sebelum zat-zat makanan diserap. Zat-zat makanan
setelah melalui jejunum menjadi bentuk yang siap diserap. Penyerapan
zat-zat makanan terjadi di ileum. Glukosa, vitamin yang larut dalam air,
asam amino, dan mineral setelah diserap oleh vili usus halus; akan dibawa

14

oleh pembuluh darah dan diedarkan ke seluruh tubuh. Asam lemak,


gliserol, dan vitamin yang larut dalam lemak setelah diserap oleh vili usus
halus; akan dibawa oleh pembuluh getah bening dan akhirnya masuk ke
dalam pembuluh darah.

15

5; Usus Besar (Kolon)


Di dalam usus besar sisa makanan akan dibusukkan oleh bakteri
Escherichia coli menjadi feses. Agar sisa makanan yang masuk ke dalam
kolon tidak kembali ke intestinum, di perbatasan kedua usus tersebut
terdapat klep yang bernama klep ileosekum. Di dalam kolon juga terjadi
penyerapan air yang masih tersisa pada makanan sehingga feses menjadi
padat. Feses tersebut melalui gerak peristaltik, kolon akan terdorong
sedikit demi sedikit sehingga mendekati poros usus (rektum). Akibatnya,
timbul rangsangan untuk buang air besar (defekasi). Rangsangan itu
disebut gastrokolik. Feses akhirnya dikeluarkan tubuh melalui anus.
Bahan makanan yang sudah melalui usus halus akhirnya masuk ke
dalam usus besar. Usus besar terdiri atas usus buntu (appendiks), bagian
yang menaik (ascending colon), bagian yang mendatar (transverse colon),
bagian yang menurun (descending colon), dan berakhir pada anus. Bahan
makanan yang sampai pada usus besar dapat dikatakan sebagai bahan sisa.
Sisa tersebut terdiri atas sejumlah besar air dan bahan makanan yang tidak
dapat tercerna, misalnya selulosa.

16

Usus besar berfungsi mengatur kadar air pada sisa makanan. Bila
kadar air pada sisa makanan terlalu banyak, maka dinding usus besar akan
menyerap kelebihan air tersebut. Sebaliknya bila sisa makanan kekurangan
air, maka dinding usus besar akan mengeluarkan air dan mengirimnya ke
sisa makanan. Di dalam usus besar terdapat banyak sekali mikroorganisme
yang membantu membusukkan sisa-sisa makanan tersebut. Sisa makanan
yang tidak terpakai oleh tubuh beserta gas-gas yang berbau disebut tinja
(feses) dan dikeluarkan melalui anus.

B; Gangguan Sistem Pencernaan


1; Apendisitis

Apendisitis adalah peradangan dari apendiks vermivormis, dan


merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering. Penyakit ini dapat
mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi lebih sering
menyerang laki-laki berusia antara 10 sampai 30 tahun (Mansjoer, 2011).
Apendisitis merupakan inflamasi di apendiks yang dapt terjadi tanpa
penyebab yang jelas, setelah obstruksi apendiks oleh feses atau akibat
terpuntirnya apendiks atau pembuluh darahnya (Corwin, 2009).

2; Hemoroid

17

Hemoroid merupakan pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena di


daerah anus yang berasal dari plexus hemorrhoidalis. Di bawah atau diluar
linea dentate pelebaran vena yang berada di bawah kulit (subkutan) disebut
hemoroid eksterna. Sedangkan diatas atau di dalam linea dentate, pelebaran
vena yang berada di bawah mukosa (submukosa) disebut hemoroid interna
(Sudoyo, 2006)
3; Hernia inguinalis

Hernia inguinalis lateralis adalah hernia yang melalui anulus inguinalis


internus atau lateralis menyelusuri kanalis inguinalis dan keluar rongga
perut melalui anulus inguinalis externa atau medialisis (Mansjoer, 2011).
Hernia adalah suatu penonjolan isi suatu rongga melalui pembukaan yang
abnormal atau kelemahannya suatu area dari suatu dinding pada rongga
dimana ia terisi secara normal. (Lewis, 2003)
4; Sirosis Hepatis
Sirosis adalah kondisi fibrosis dan pembentukan jaringan parut yang
difus di hati.Jaringan hati normal digantikan oleh nodus-nodus fibrosa yang
mengerut dan mengelilingi hepatosit. Arsitektur dan fungsi normal hati
terganggu (Corwin, 2001).
Sirosis hepatis adalah penyakit hati kronis yang tidak diketahui
penyebabnya dengan pasti. Telah diketahui bahwa penyakit ini merupakan
stadium akhir dari penyakit hati kronis dan terjadinya pengerasan dari hati
(Sujono, 2002).
5; Gastroenteritis
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan jumlah tinja yang lebih
banyak dari biasanya (normal 100 200 ml per jam tinja), dengan tinja
berbentuk cairan atau setengah cair (setengah padat) dapat pula disertai
frekuensi yang meningkat. Gastroenteritis (diare akut) adalah inflamasi
lambung dan usus yang disebabkan oleh berbagai bakteri, virus, dan
pathogen parasitic. Diare adalah defekasi yang tidak normal baik frekuensi
maupun konsistensinya, frekuensi diare lebih dari 4 kali sehari (Mansjoer,
1999).
6; Konstipasi
Sembelit atau konstipasi merupakan keadaan tertahannya feses (tinja)
dalamusus besar pada waktu cukup lama karena adanya kesulitan dalam

18

pengeluaran. Hal ini terjadi akibat tidak adanya gerakan peristaltik pada
usus besar sehingga memicu tidak teraturnya buang air besar dan timbul
perasaan tidak nyaman pada perut (Akmal, 2010).
7; Batu empedu
Batu empedu atau cholelithiasis adalah timbunan Kristal di dalam
kandung empedu atau di dalam saluran empedu atau kedua-duanya. Batu
kandung empedu merupakan gabungan beberapa unsur dari cairan empedu
yang mengendap dan membentuk suatu material mirip batu di dalam
kandung empedu atau saluran empedu. Komponen utama dari cairan
empedu adalah bilirubin, garam empedu, fosfolipid dan kolesterol. Batu
yang ditemukan di dalam kandung empedu bisa berupa batu kolesterol, batu
pigmen yaitu coklat atau pigmen hitam, atau batu campuran
8; Diare

Diare adalah peningkatan pengeluaran tinja dengan konsistensi lebih


lunak atau lebih cair dari biasanya, dan terjadi paling sedikit 3 kali dalam 24
jam. Sementara untuk bayi dan anak-anak, diare didefinisikan sebagai
pengeluaran tinja >10 g/kg/24 jam, sedangkan rata-rata pengeluaran tinja
normal bayi sebesar 5-10 g/kg/ 24 jam (Juffrie, 2010).
9; Obstruksi usus
Obstruksi usus atau ilieus adalah gangguan aliran normal isi usus
sepanjang saluran usus (Price, 1997 : 502). Obstruksi usus atau illeus adalah
obstruksi saluran cerna tinggi artinya disertai dengan pengeluaran banyak
aliran cairan dan elektrolit baik didalam lumen usus bagian oral dari
obstruksi maupun oleh muntah (Syamsuhidayat, 1997 : 842).

10; Peritonitis
Peritonitis didefinisikan suatu proses inflamasi membran serosa yang
membatasi rongga abdomen dan organ-organ yang terdapat didalamnya.
Peritonitis dapat bersifat lokal maupun generalisata, bacterial ataupun
kimiawi. Peradangan peritoneum dapt disebabkan oleh bakteri, virus,
jamur, bahan kimia iritan, dan benda asing.

19

11; Kolitis Ulseratif


Kolitis ulseratif merupakan penyakit inflamasi kronik pada usus
(inflammatory bowel disease) yang menyebabkan inflamasi yang terusmenerus dan ulkus pada lapisan yang paling dalam pada kolon dan rektum.
Ulkus tersebut akan berdarah dan menghasilkan pus, mukus dan inflamasi
tersebut menyebabkan pengosongan rektum menjadi lebih sering, sehingga
dapat mengakibatkan diare.
12; Hepatitis
Hepatitis adalah suatu proses peradangan difus pada jaringan yang
dapat disebabkan oleh infeksi virus dan oleh reaksi toksik terhadap obatobatan serta bahan-bahan kimia. (Sujono, 1999). Hepatitis virus
merupakan infeksi sistemik oleh virus disertai nekrosis dan klinis,
biokimia serta seluler yang khas (Smeltzer, 2001)
13; Thypoid
Demam Thypoid adalah penyakit sistemik yang disebablan oleh bakteri
thypy (S thypy) atau Salmonella paratyphi (S paratyphi) yang masuk ke
dalam tubuh manusia. Dan merupakan kelompok penyakit yang mudah
menular dan dapat menyerang banyak orang sehingga dapat menimbulkan
wabah (Widodo, 2006).

C; Anestesi
1; Definisi

Anestesi berarti suatu keadaan dengan tidak ada rasa nyeri. Anestesi
umum ialah suatu keadaan yang ditandai dengan hilangnya persepsi
terhadap semua sensasi akibat induksi obat. Dalam hal ini, selain
hilangnya rasa nyeri, kesadaran juga hilang. Obat anestesi umum terdiri

20

atas golongan senyawa kimia yang heterogen, yang mendepresi SSP secara
reversibel dengan spektrum yang hampir sama dan dapat dikontrol. Obat
anastesi umum dapat diberikan secara inhalasi dan secara intravena.
2; Klasifikasi
Dalam tesis Nainggolan (2011), untuk menentukan prognosis ASA
(American Society of Anesthesiologists) membuat klasifikasi berdasarkan
status fisik pasien pra anestesi yang membagi pasien kedalam 5 kelompok
atau kategori sebagai berikut:
a; ASA 1, yaitu pasien dalam keadaan sehat yang memerlukan operasi.
b; ASA 2, yaitu pasien dengan kelainan sistemik ringan sampai sedang

baik karena penyakit bedah maupun penyakit lainnya. Contohnya


pasien batu ureter dengan hipertensi sedang terkontrol, atau pasien
apendisitis akut dengan lekositosis dan febris.
c; ASA 3, yaitu pasien dengan gangguan atau penyakit sistemik berat
yang diaktibatkan karena berbagai penyebab. Contohnya pasien
apendisitis perforasi dengan septi semia, atau pasien ileus obstruksi
dengan iskemia miokardium.
d; ASA 4, yaitu pasien dengan kelainan sistemik berat yang secara
langsung mengancam kehidupannya.
e; ASA 5, yaitu pasien tidak diharapkan hidup setelah 24 jam walaupun
dioperasi atau tidak. Contohnya pasien tua dengan perdarahan basis
krani dan syok hemoragik karena ruptura hepatik. Klasifikasi ASA
juga dipakai pada pembedahan darurat dengan mencantumkan tanda
darurat (E = emergency), misalnya ASA 1 E atau III E.
3; Jenis Anestesi

Berikut adalah jenis-jenis anestesi:


a; Anestesi lokal

Anestesi lokal, seperti namanya, digunakan untuk operasi kecil


pada bagian tertentu tubuh. Suntikan anestesi diberikan di sekitar area
yang akan dioperasi untuk mengurangi rasa sakit. Anestesi juga dapat
diberikan dalam bentuk salep atau semprotan. Sebuah anestesi lokal

21

akan membuat pasien terjaga sepanjang operasi, tapi akan mengalami


mati rasa di sekitar daerah yang diperasi. Anestesi lokal memiliki
pengaruh jangka pendek dan cocok digunakan untuk operasi minor dan
berbagai prosedur yang berkaitan dengan gigi.
b; Anestesi regional

Anestesi regional diberikan pada dan di sekitar saraf utama tubuh


untuk mematikan bagian yang lebih besar. Pada prosedur ini pasien
mungkin tidak sadarkan diri selama periode waktu yang lebih panjang.
Di sini, obat anestesi disuntikkan dekat sekelompok saraf untuk
menghambat rasa sakit selama dan setelah prosedur bedah.
Ada dua jenis utama dari anestesi regional, yang meliputi:
1; Anestesi spinal

Anestesi spinal atau sub-arachnoid blok (SAB) adalah bentuk


anestesi regional yang disuntikkan ke dalam tulang belakang
pasien. Pasien akan mengalami mati rasa pada leher ke bawah.
Tujuan dari anestesi ini adalah untuk memblokir transmisi sinyal
saraf. Setelah sinyal saraf terblokir, pasien tidak lagi merasakan
sakit. Biasanya pasien tetap sadar selama prosedur medis namun
obat penenang diberikan untuk membuat pasien tetap tenang
selama operasi. Jenis anestesi ini umumnya digunakan untuk
prosedur pembedahan di pinggul, perut, dan kaki.
2; Anestesi epidural
Anestesi epidural adalah bentuk anestesi regional dengan cara
kerja mirip anestesi spinal. Perbedaannya anestesi epidural
disuntikkan di ruang epidural dan kurang menyakitkan daripada
anestesi spinal. Epidural paling cocok digunakan untuk prosedur
pembedahan pada panggul, dada, perut dan kaki.
c; Anestesi umum
Anestesi umum ditujukan membuat pasien tidak sadar selama
operasi. Obat bius biasanya disuntikkan ke tubuh pasien atau dalam
bentuk gas yang dilewatkan melalui alat pernafasan. Pasien sama
sekali tidak akan mengingat apapun tentang operasi karena anestesi
umum mempengaruhi otak dan seluruh tubuh. Selama dalam pengaruh

22

anestesi, fungsi tubuh yang penting seperti tekanan darah, pernafasan


dan suhu tubuh dipantau secara ketat.
4; Obat-obat Anestesi
Obat anastesi umum yang diberikan secara inhalasi (gas dan cairan
yang mudah menguap) yang terpenting di antaranya adalah N 2O, halotan,
enfluran, metoksifluran, dan isofluran. Obat anastesi umum yang
digunakan secara intravena, yaitu tiobarbiturat, narkotik-analgesik,
senyawa alkaloid lain dan molekul sejenis, dan beberapa obat khusus
seperti ketamin (Munaf, 2008).
Menurut Keeet al (1996), Anastesi seimbang, suatu kombinasi obatobatan, sering dipakai dalam anastesi umum. Anestesi seimbang terdiri
dari:
a; Hipnotik diberikan semalam sebelumnya
b; Premedikasi, seperti analgesik narkotik atau benzodiazepin (misalnya,

midazolam dan antikolinergik (contoh: atropin) untuk mengurangi


sekresi diberikan kira-kira 1 jam sebelum pembedahan.
c; Barbiturat dengan masa kerja singkat, seperti natrium tiopental
(Pentothal).
d; Gas inhalan, seperti nitrous oksida dan oksigen
e; Pelemas otot jika diperlukan

5; Tahap-tahap Anestesi

Stadium anestesi dibagi dalam 4 yaitu:


a; Stadium I (stadium induksi atau eksitasi volunter), dimulai dari
pemberian agen anestesi sampai menimbulkan hilangnya kesadaran.
Rasa takut dapat meningkatkan frekuensi nafas dan pulsus, dilatasi
pupil, dapat terjadi urinasi dan defekasi.
b; Stadium II (stadium eksitasi involunter), dimulai dari hilangnya
kesadaran sampai permulaan stadium pembedahan. Pada stadium II
terjadi eksitasi dan gerakan yang tidak menurut kehendak, pernafasan

23

tidak teratur, inkontinensia urin, muntah, midriasis, hipertensi, dan


takikardia.
c; Stadium III (pembedahan/operasi), terbagi dalam 3 bagian yaitu:
1; Plane I, yang ditandai dengan pernafasan yang teratur dan
terhentinya anggota gerak. Tipe pernafasan thoraco-abdominal,
refleks pedal masih ada, bola mata bergerak-gerak, palpebra,
konjuctiva dan kornea terdepresi.
2; Plane II, ditandai dengan respirasi thoraco-abdominal dan bola
mata ventro medial semua otot mengalami relaksasi kecuali otot
perut.
3; Plane III, ditandai dengan respirasi regular, abdominal, bola mata
kembali ke tengah dan otot perut relaksasi.
4; Stadium IV (paralisis medulla oblongata atau overdosis),ditandai

dengan paralisis otot dada, pulsus cepat dan pupil dilatasi. Bola
mata menunjukkan gambaran seperti mata ikan karena terhentinya
sekresi lakrimal (Munaf, 2008).

6; Efek Samping Anestesi

Beberapa komplikasi mungkin dirasakan oleh sebagian pasien setelah


mendapatkan anestesi terutama jika prosedur dan dosis tidak dberikan
secara tepat. Komplikasi ini bersifat sementara, namun dapat pula yang
berefek hingga cukup lama. Dibawah ini adalah beberapa efek samping
anestesi:
a; Nyeri di sekitar tempat suntikan
b; Nyeri punggung bagian bawah dalam kasus anestesi spinal
c; Penurunan tekanan darah
d; Kerusakan saraf
e; Karena over dosis anestesi, pernafasan pasien dan system
peredaran darah bisa saja mengalami masalah
24

f;

Mati rasa pada mulut

D; Asuhan Keperawatan Anestesi pada Klien dengan Gangguan Sistem

Pencernaan
KASUS
Seorang Laki-laki, usia 30 tahun. Datang ke ruang operasi dari bangsal
penyakit dalam pada tanggal 22 Desember 2013. Dari hasil pemeriksaan di
bangsal penyakit dalam ditegakkan diagnosis abdominal pain ec. Peritonitis.
Pada saat pemeriksaan didapatkan hasil darah rutin dalam batas normal, kimia
darah dalam batas normal, hasil foto abdomen 2 posisi didapatkan hasil
meteorismus, DD inflamatory bowel disease dan termasuk ASA III
emergency. Setelah pemeriksaan, direncanakan akan dilakukan General
Anesthesi. Operasi dilakukan cito pada tanggal 22 Desember 2013 jam 09.15
WIB dengan operator yaitu ahli bedah dr. Aziz, Sp.B-KBD dan ahli Anastesi
dr. Hj. Ade Susanti, Sp.An.

LAPORAN KASUS
1; Laporan Anestesi
a; Pendahuluan

Tanggal
: 22 September 2013
Nama
: Tn. Hariyono
Umur
: 30 tahun
TB/BB
: 60 Kg
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Diagnosis
: Abdominal Pain ec. Peritonitis
Tindakan
: Laparatomi
Operator
: dr. Aziz, Sp.B-KBD
Ahli Anestesi
: dr. Hj. Ade Susanti, Sp.An
b; Keterangan Pra-Bedah
25

1; Keadaan umum: tampak sakit berat

Kesadaran
: Compos mentis
GCS
: 15 (E4 M6 V5)
Tanda vital
- TD : 110/90 mmHg
- HR : 81x/mnt
- RR : 37x/mnt
- T : afebris
2; Pemeriksaan penunjang
a; EKG
: Normal
b; Foto thorak
: dalam batas normal
c; Foto abdomen
Tampak distensi udara dalam usus besar dan kecil, free air
(-), air fluid level (+), tulang : tak tampak kelainan, kesan :
meteorismus, DD : iritable bowel disease.

d; Laboratorium : Pemeriksaan darah rutin

Pemeriksaan

Hasil

Nilai normal

WBC

9,0 . 10 3/mm3

3,5 10 . 10 3/mm3

RBC

4,81. 106/mm3

3,80 5,80 . 10
3

/mm3

HGB

15,2 gr/dl

11,0 16,5 gr/dl

HCT

44,7 %

35,0 50,0 %

PLT

2053/mm3

100 - .500 3/mm3

PCT

139 %

BT

4,5 menit

CT

2 menit

Bilirubin total

1,6

Bilirubin direk

0,8

26

Bilirubin indirek

0,8

SGOT

44

< 200 mg/dl

SGPT

44

0 42 mg/dl

Ureum

23,7

10 50 mg/dl

Kreatinin

0,8

0,6 1,20

3) Penyakit Penyerta
:4) Status Fisik
: ASA III E
5) Pengobatan pra-bedah : 6) Malam pati
:1
c; Tindakan Anestesi
Metode
2; Premedikasi
1;

: General Anestesi
: Inj. Ranitidine 50 mg, Inj
Ondancentron 4 mg
Inj. Asam Traneksamat 1 gram

3; Anestesi Umum
a; Induksi

: Sempurna
b; Medikasi :
SA 0,5 mg
Fentanil 50 mg
Propofol 120 mg
Roculax 30 mg
Dexamethason 5 mg
c; Jumlah cairan
Input RL IV 4000 cc
Output (-)
Urine 400 cc
Perdarahan 500 cc
IWL = 25 x 60 = 1500 ml/ jam 1,5 jam x 1500 ml = 2250
ml
2; Keadaan Selama Operasi

27

a; Letak penderita
b; Intubasi
c; Penyulit intubasi
d; Penyulit waktu anestesi
e; Lama anestesi
f;

: terlentang
: oral, ETT no. 7,5
::: 1 jam 15 menit

Monitoring Perioperatif
Jam

TD

Nadi

08.15

100/60 mmHg

65 x/i

09.30

82/51 mmHg

63 x/i

09.45

110/83 mmHg

90 x/i

10.00

110/85 mmHg

83 x/i

10.15

110/71 mmHg

79 x/i

10.30

110/63mmHg

73 x/i

3; Ruang Pemulihan

Pasien dipindahkan keruang pemulihan sekitar 30 menit karena


pernapasan pasien baik, tidak sesak, tidak terpasang ETT/simple mask dan
nadi 89 x/i. scoring aldrette 10.
4; Instruksi Anestesi
a; Observasi tanda vital, perdarahan, urine setiap 15 menit
b; Tidur terlentang tanpa memakai bantal selama 1 x 24 jam post operasi
c; Pasien tidak boleh minum dan makan sampai sadar penuh
d; Lanjutkan terapi sesuai dr. Aziz, Sp.B-KBD.

ANALISIS KASUS
Persiapan yang perlu dilakukan untuk kasus-kasus yang akan dilakukan
anestesi meliputi persiapan alat, penilaian dan persiapan pasien, serta
persiapan obat anestesi yang diperlukan. Penilaian dan persiapan penderita
diantaranya meliputi :
1; Penilaian klinis penanggulangan keadaan darurat

28

2; Informasi penyakit

a; anamnesis/alloanamnesis kejadian penyakit


b; riwayat alergi, hipertensi, diabetes mellitus, operasi sebelumnya, asma,
komplikasi transfusi darah (apabila pernah mendapatkan transfusi)
c; riwayat keluarga (penyakit dan komplikasi anestesia)
d; makan minum terakhir (mencegah aspirasi isi lambung karena
regurgitasi atau muntah pada saat anestesi)
Pada kasus ini, pasien digolongkan pada ASA III emergency, karena
Pasien dengan penyakit sistemik berat hingga aktifitas rutin terbatas. Dan bila
dibiarkan dapat menjadi buruk. Sedangkan rencana jenis anestesi yang akan
dilakukan yaitu general anestesia. Pada premedikasi pasien diberikan
ondancentron 4 mg, ranitidin 50 mg, dengan tujuan untuk mengurangi mual
dan muntah pasca bedah. Sebelum pembedahan sebaiknya lambung dalam
keadaan kosong sehingga bila terjadi reflek muntah, tidak terjadi aspirasi asam
lambung. Mual dan regurgitasi dikarenakan terjadinya hipoksia selama
anestesi, anestesi yang terlalu dalam tekanan tinggi karena lambung penuh
atau akibat tekanan dalam rongga yang tinggi. Sedangkan pemberian asam
traneksamat 1 gram bertujuan untuk meminimalisir perdarahan yang terjadi
selama dilakukannya operasi. Pemberian sulfas atropin pada kasus ini
bertujuan untuk mengurangi sekresi jalan nafas, selain itu juga berguna
sebagai efek vagoltik.
Pengobatan medikasi pada kasus ini diberikan propofol 120 mg sebagai
induksi, roculax 30 mg sebagai muscle relaxant, dan dexamethason 5 mg
sebagai anti inflamasi. Untuk pemeliharaan diberikan sevofluran + N 2O (4L) :
O2 (4L) dan dilakukan intubasi dengan menggunakan ETT no.7,5.
Selama operasi berlangsung diberikan cairan kristaloid RL sebagai
pengganti kebutuhan cairan. Dengan perhitungan kebutuhan cairan adalah
sebagai berikut :
a; dilakukan loading dose cairan sebelum operasi yang bertujuan untuk
mengganti kehilangan cairan karena pada kasus-kasus dengan peritonitis
dipekirakan defisit cairan yang timbul sebesar 1500 cc kalau baru terlihat
dengan foto polos abdomen, tetapi bila telah jelas tanda klinisnya diduga
defisit cairan mencapai 2500 3000 cc malah kalau sudah ada gejala
preshock/shock diperkirakan 4000-6000 cc.
29

b; cairan pemeliharaan (maintenance)


1; Maintenance = BB x 2 cc

= 60 kg x 2 cc
= 120 cc
c; stress operasi

SO = BB x 6 cc
= 60 kg x 6 cc
= 360 cc
d; output
1; suction : 500 cc
2; urine

: 400 cc
3; IWL
: 2250 ml
e; kebutuhan cairan selama operasi
1; jam I
: 120 cc + 360 cc = 480 cc
2; jam II
: 120 cc + 360 cc = 480 cc
3; total cairan : 480 cc + 480 cc = 960 cc + output = 960 + 3150 = 4110
cc
KESIMPULAN KASUS
Pasien bernama Tn. H didiagnosis Abdominal Pain ec. Peritonitis,
setelah dilakukan pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang didapatkan
status ASA III Emergency sehingga penyakit yang dideritanya merupakan
penyakit sistemik berat hingga aktifitas rutin terbatas. Dan bila dibiarkan
dapat menjadi buruk.
Selama proses berlangsung tidak ditemukan permasalahan berarti. Pre
anestesi dilakukan tanggal 22 Desember 2013 pukul 09.15 WIB dan berakhir
pada pukul 10.30 WIB diruang operasi OKE RSUD Raden Mattaher jambi
oleh ahli bedah dr. Aziz, Sp.B-KBD dan ahli anestesi dr. Hj. Ade Susanti,
Sp.An.
Selama operasi baik pada saat premedikasi maupun medikasi selama
sampai proses anestesi selesai tidak ditemukan masalah yang berarti. Dosis
yang diberikan pada saat proses anastesi sesuai dosis. Efek samping

30

pemberian obat minimal tanpa ada permasalahan yang berarti. Selama operasi
balans cairan pada pasien ini baik. Tidak terjadi ketidakkeseimbangan cairan
yang dapat mengancam keselamatan pasien.
Setelah selesai proses anestesi pasien langsung pindah ke ruang recovery,
kesadaran pasien compos mentis dan tanda vital baik. Aldrette score 9. Pukul
11.00 WIB pasien dipindahkan ke bangsal bedah ruang Bedah laki-laki I.
Dapat disimpulkan proses anastesi berlangsung baik tanpa ditemukan
komplikasi.

BAB III
PENUTUP

A; Kesimpulan

Sistem pencernaan merupakan sistem dalam tubuh yang bekerja untuk


memproses dan mengubah makanan serta menyerap sari makanan yang
berupa nutrisi-nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh berawal dari mulut dan
berakhir di anus.
Gangguan yang sering terjadi pada sistem pencernaan diantaranya
Apendisitis,Hemoroid,Hernia inguinalis , Sirosis Hepatis, Batu empedu,
Obstruksi usus, Peritonitis, Kolitis Ulseratif
Anestesi berarti suatu keadaan dengan tidak ada rasa nyeri selain
hilangnya rasa nyeri, kesadaran juga hilang. Asuhan keperawatan anestesi
pada saat pengkajian yang harus diperhatikan yaitu identitas pasien, informasi
penyakit, makan minum terakhir, riwayat alergi, kelengkapan rekam medis
serta pemeriksaan penunjang seperti foto abdomen, usg. Diagnosa
keperawatan

yang

sering

muncul

pada

sistem

pencernaan

yaitu

ketidakseimbangan nutrisi kurang maupun lebih dari kebutuhan tubuh,


perencanaan keperawatan yang dilakukan sesuai dengan masalah yang terjadi
pada pasien. Implementasi dilakukan sesuai dengan perencanaan yang telah
31

ditentukan. Evaluasi keperawatan yang fokus dilakukan yaitu kesadaran,


aldret score, tanda-tanda vital, suara peristaltik dan evaluasi selanjutnya input
pasien, kemampuan pasien dalam mencerna makanan.

B; Saran

Mahasiswa : Sebagai mahasiswa lebih aktif dalam belajar asuhan


keperawatan anestesi khususnya pada sistem pencernaan menambah
pengetahuan dan mengerti saat bertemu dengan kasus nyata di lapangan

DAFTAR PUSTAKA
Latief dkk. 2001. Penilaian dan Persiapan Pasien Pra-anestesi. Jakarta: Bagian
Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran UI.
_________. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Edisi ke-2. Jakarta: Bagian
Anestesiologi Dan Terapi Intensif FKUI. 2002.
Mansjoer A, Suphrophaita, Wardani WI,Setiowulan W. 2000. Ilmu anestesi dalam
: Kapita Selekta Kedokteran Jilid ke-2. Edisi ke-3. Jakarta: Media
Aesculapius FKUI..
Muhiman M, Thaib M.R, Sunatrio S, Dahlan R. 1989. Anestesiologi. Jakarta:
Bagian Anestesiologi Dan Terapi Intensif FKUI..
Oloan,

S.M. 2009. Pengantar


UMI/UNPRI.

Anestesi.

Medan:

Fakultas

Kedokteran

Soenarjo. 2004. Pelatihan Kegawat Daruratan Medik dalam Peranan Anestesi


dan Pengelolahan Rawat Intensif dalam Hubungan dengan Kualitas
Hidup. Semarang: FK UNDIP .
Soerasdi Erassmus, Satriyanto Dwi. 2010. Obat-obat Anestesia (Artikel).
Diunduh pada tanggal 8 September 2016 melalui situs
http://medicastore.com.
Akmal, M. Zely, I. 2010. Ensiklopedi kesehatan untuk umum. Jogjakarta: Ar-ruzz
Media
Corwin, E. J. 2001. Patofisiologi. Jakarta: EGC.

32

__________. 2009. Buku Saku Patofisiologi Corwin. Jakarta: Aditya Media


Djoko Widodo. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Edisi IV. Jakarta:
Pusat Penerbitan Departement Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia
Hadi, Sujono. 2002. Gastroenterologi. Bandung : PT Alumni Bandung
Juffrie. 2010. Gastroenterologi-hepatologi, jilid 1. Jakarta: Badan penerbit IDAI
Mansjoer, A, dkk. 2011. Kapita Selekta Kedokteran, edisi III. Jakarta : Media
Aesculapius
R. Syamsuhidayat.1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. EGC: Jakarta.
Smeltzer. Suzanne, C .2001. Keperawatan medikal bedah, edisi 8. Jakarta :EGC
Sudoyo, A. W., Alwin, I, dkk. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 4,
Jilid 1. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI
Sylvia A. Price. 1997. Patofisiolgi Konsep klinis Proses-Proses Penyakit. Jakarta:
EGC.

33