Anda di halaman 1dari 20

Wanita Karir Dalam Perspektif Islam

DISUSUN OLEH :
PRIETA F. MULYONO (16313916)
SMTS07-A

UNIVERSITAS GUNADARMA
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
JURUSAN TEKNIK SIPIL

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wataala, karena berkat rahmat-Nya
saya bisa menyelesaikan makalah ini guna memenuhi tugas mata kuliah Agama.
Dalam makalah ini saya membahas wanita karir dalam perspektif Islam yaitu gambaran
wanita karir pada zaman Rasulullah SAW, problematika wanita karir dan berbagai pendapat
hukum wanita karir.
Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga
makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat saya harapkan demi sempurnanya
makalah ini.
Semoga makalah ini memberikan informasi bagi masyarakat dan bermanfaat untuk
pengembangan wawasan dan peningkatan ilmu pengetahuan bagi kita semua.

Depok,

Mei 2014

Penulis

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI

ii
iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
1.2.Rumusan Masalah
1.3.Batasan Masalah
1.4.Tujuan

1
1
2
2
2

BAB II PEMBAHASAN
2.1.Pengertian Wanita Karir
2.2.Gambaran Wanita Karir Pada zaman Rasulullah SAW
2.3.Problematika Wanita Karir
2.4.Berbagai pendapat Wanita Karir
2.5.Karir Wanita dalam Perspektif Islam
2.6.Syarat-syarat Diperbolehkan Wanita Bekerja Diluar Rumah
2.7.Kendala-kendala Wanita Bekerja Diluar Rumah
2.8.Solusi

3
3
3
4
5
8
10
11
12

BAB III ANALISIS MASALAH

15

BAB IV PENUTUP
3.1.Kesimpulan
3.2.Saran

16
16
16

DAFTAR PUSTAKA

17

iii

BAB I
PENDAHULUAN

I. Latar Belakang
Perkembangan dunia dan pengalaman menyajikan hal yang lain untuk perempuan. Jaminan
untuk sukses secara finansial, diakui eksistensi dan menyandang predikat mandiri mengharuskan
perempuan menjemput impian dengan belajar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi,
mendapatkan pekerjaan yang bagus dan mendapat posisi yang tinggi dalam dunia pekerjaan. Hal
ini selanjutnya memberikan predikat kepada perempuan yang memiliki pekerjaan dengan gelar
wanita karir.
Segala jenis pekerjaan bisa ditempati oleh para kaum hawa dari pekerjaan yang mengerahkan
pemikiran sampai pekerjaan yang mendahulukan otot. Disisi lain ada perempuan yang ingin
menjadi ibu rumah tangga tapi ketika masalah finansial menghadang keberlangsungan hidup
berumah tangga dan mengharuskan perempuan ikut mencari nafkah dengan segala upaya
menjadikan perempuan keluar rumah dan bekerja.
Permasalahan muncul ketika ibu rumah tangga tersebut memiliki waktu yang lebih banyak
untuk pekerjaan sehingga anak tidak dapat diperhatikan atau memiliki penghasilan yang lebih
tinggi yang akhirnya berdampak pada perceraian yang dibenci oleh Allah SWT. Berbicara
tentang karir wanita dan wanita karir dewasa ini semakin hangat, terutama di negeri ini dan
mendapatkan dukungan serta perhatian serius dari berbagai kalangan, khususnya yang
menamakan diri mereka kaum Feminis dan pemerhati wanita.
Mereka selalu mengangkat tema pengungkungan Islam terhadap wanita dan
mempromosikan motto emansipasi dan persamaan hak di segala bidang tanpa kecuali atau yang
belakangan lebih dikenal dengan sebutan kesetaraan gender. Banyak wanita muslimah terkecoh
olehnya, terutama mereka yang tidak memiliki basic keagamaan yang kuat dan memadai.
Pada masa Rasulullah SAW, banyak wanita yang juga dikenal sebagai wanita karir.
Diantaranya yaitu Siti Khadijah ra, istri Nabi. Namun demikian, kita tahu bahwa ekonomi
bukanlah satu-satunya tujuan kita hidup di dunia. Pada kenyataannya ekonomi hanyalah sarana
untuk menopang sisi-sisi kehidupan yang lain.
Penting juga diperhatikan penataan rumah yang baik, bersih dari najis dan terhindar dari
aroma yang kurang sedap. Sehingga hasilnya ciptakan suasana rumah yang menjadikan suami
betah berada di dalamnya. Untuk membuat penampilan lebih menarik tidak harus dengan wajah
yang cantik, demikian juga untuk membuat rumah bersih dan rapi tidak harus dengan harga yang
mahal. Insya Allah semuanya bisa dilaksanakan dengan mudah selama ada keinginan dan
diniatkan ikhlas untuk mencari ridha Allah SWT, karena segala sesuatu yang baik itu akan
bernilai ibadah bila diniatkan hanya untuk Allah SWT.
Melalui makalah ini saya ingin memberikan sedikit gambaran mengenai wanita karir dalam
pandangan Islam dan solusi terhadap masalah tersebut agar ketika seorang wanita memiliki
keputusan akhir untuk tetap menjadi wanita karir maka akan tetap memperdulikan keluarga.

II. Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa definisi wanita karir?
2. Bagaimana gambaran mengenai wanita karier masa Rasulullah SAW ?
3. Apa saja problematika wanita karir ?
4. Bagaimana pendapat hukum Islam mengenai wanita karir ?
5. Bagaimana karir wanita dalam perspektif Islam ?
6. Syarat-syarat apa yang harus dipenuhi agar wanita diperbolehkan berkarir ?
7. Kendala-kendala apa saja yang dihadapai wanita saat berkarir diluar rumah ?
8. Bagaimana solusi dari masalah tersebut ?

III. Batasan Masalah


Adapun batasan masalah dalam penyusunan makalah ini adalah mengenai pendapat wanita karir
menurut ulama dan syariat-syariat yang harus dipenuhi sebagai wanita karir.

IV. Tujuan
Adapun tujuan dalam penyusunan makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Mengetahui definisi wanita karier.
2. Mendapatkan gambaran mengenai wanita karier masa Rasulullah SAW.
3. Mendapatkan gambaran mengenai problematika wanita karir.
4. Mengetahui pendapat hukum Islam mengenai wanita karir.
5. Mengetahui karir wanita dalam perspektif Islam.
6. Mengetahui syarat-syarat yang harus dipenuhi agar wanita diperbolehkan berkarir.
7. Mendapatkan gambaran mengenai kendala-kendala yang dihadapi wanita saat berkarir
diluar rumah.
8. Mendapatkan solusi dari masalah tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Wanita Karir


Berikut adalah beberapa pengertian wanita karir dari berbagai sumber :
a. Wanita karir adalah seorang wanita yang menjadikan karier atau pekerjaannya secara serius.
b. wanita karir adalah perempuan yang memiliki karier atau yang menganggap kehidupan
kerjanya secara serius (mengalahkan sisi kehidupan yang lain).
c. Wanita karir adalah wanita yang berkecimpung dalam kegiatan profesi (usaha, perkantoran,
dsb).
d. Wanita karir adalah wanita yang mampu mengelola hidupnya secara menyenangkan atau
memuaskan, baik di dalam kehidupan profesional (pekerjaan di kantor) maupun di dalam
membina rumah tangganya.

2.2. Gambaran Wanita Karir Pada Masa Rasulullah SAW


Sejarah mencatat, beberapa wanita yang menjadi istri Rasulullah SAW juga menjadi wanita
karir, diantaranya:
a. Siti Khadijah ra.
Rasulullah SAW punya seorang istri yang tidak hanya berdiam diri serta bersembunyi di
dalam kamarnya. Sebaliknya, dia adalah seorang wanita yang aktif dalam dunia bisnis. Bahkan
sebelum beliau menikahinya, beliau pernah menjalin kerjasama bisnis ke negeri Syam. Setelah
menikahinya, tidak berarti istri beliau berhenti dari aktifitasnya.
Bahkan harta hasil bisnis Khadijah ra. tersebut banyak menunjang dakwah di masa awal. Di
masa itu, belum ada sumber-sumber dana penunjang dakwah yang bisa diandalkan. Satu-satunya
adalah hasil bisnis Siti Khadijah ra.
Tentu perkara sulit sebagai pebisnis, jika sosok Khadijah ra. adalah tipe wanita rumahan yang
tidak tahu dunia luar. Sebab bila demikian, bagaimana dia bisa menjalankan bisnisnya itu dengan
baik, sementara dia tidak punya akses informasi sedikit pun di balik tembok rumahnya.
Di sini kita bisa paham bahwa seorang istri nabi sekalipun punya kesempatan untuk keluar
rumah mengurus bisnisnya meski telah memiliki anak sekalipun, sebab sejarah mencatat bahwa
Khadijah
ra.
dikaruniai
beberapa
orang
anak
dari
Rasulullah
SAW.

b. Siti Aisyah ra
Sepeninggal Khadijah ra, Rasulullah SAW beristrikan Aisyah ra, seorang wanita cerdas, muda
dan cantik yang kiprahnya di tengah masyarakat tidak diragukan lagi. Posisinya sebagai seorang
istri tidak menghalanginya dari aktif di tengah masyarakat.
Semasa Rasulullah SAW masih hidup, beliau sering kali keluar Madinah ikut berbagai operasi
peperangan. Dan sepeninggal Rasulullah SAW, Aisyah ra. adalah guru dari para sahabat yang
mampu memberikan penjelasan dan keterangan tentang ajaran Islam.
Bahkan Aisyah ra. pun tidak mau ketinggalan untuk ikut dalam peperangan. Sehingga perang
itu disebut dengan perang unta (jamal), karena saat itu Aisyah ra. naik seekor unta.

2.3. Problematika Wanita Karir


Pada dasarnya ada beberapa penyebab seorang wanita untuk berkarir diantaranya:
a. Untuk mengisi waktu.
Biasanya alasan ini dikemukakan oleh seorang wanita yang suaminya bekerja kantor dan
sudah mampu memenuhi nafkah lahir.
b. Untuk menambah kebutuhan keluarga.
Biasanya dilakukan oleh wanita yang bersuami tetapi kebutuhan belum tercukupi baik
untuk anak maupun kebutuhan sehari-hari.
c. Untuk menafkahi keluarga.
Biasanya dilakukan oleh seorang wanita yang benar-benar tidak bersuami atau memiliki
suami yang sedang sakit dan tidak mampu menafkahi keluarga secara lahir.
d. Perkembangan sektor industri.
Karena kenaikan kegiatan di sektor industri terjadi penyerapan besar-besaran terhadap
tenaga kerja. Karena kekurangan, banyak tenaga kerja diperbantukan, terutama pada
pekerjaan yang tidak membutuhkan dan pikiran terlalu berat.
e. Di dunia maju kondisi kerja yang baik serta waktu kerja yang singkat memungkinkan
para wanita pekerja dapat membagi tanggung jawab pekerjaan dengan baik.
f. Kemajuan wanita di sektor pendidikan yang akibatnya banyak wanita terdidik tidak lagi
merasa puas bila hanya menjalankan peranannya di rumah saja.
Biasanya permasalahan muncul ketika istri memiliki penghasilan lebih besar ada dua
kemungkinan, kemungkinan yang pertama istri takabur dengan apa yang dia dapatkan sehingga
mengakibatkan perceraian ataupun kemungkinan kedua yaitu istri seperti Siti Khadijah ra. yang
menyerahkan harta yang ia miliki kepada Nabi Muhammad SAW untuk perjuangan umat.
Semuanya kembali pada cara mendidik orang tua terhadap seorang anak dan kewibawaan suami
di hadapan istri.

2.4. Berbagai Pendapat Hukum Wanita Karir

Ada berbagai pendapat mengenai wanita karir ini yang semuanya berdasarkan alasan
tersendiri, diantaranya:
1.

melarang wanita menjadi wanita karir


Menurut ulama yang berpendapat seperti ini, pada dasarnya hukum karir wanita di luar
rumah adalah terlarang, karena dengan bekerja diluar rumah maka akan ada banyak kewajiban
dia yang harus ditinggalkan. Misalnya melayani keperluan suami, mengurusi dan mendidik
anak serta hal lainnya yang menjadi tugas dan kewajiban seorang istri dan ibu. Padahal semua
kewajiban ini sangat melelahkan yang membutuhkan perhatian khusus. Semua kewajiban ini
tidak mungkin terpenuhi kecuali kalau seorang wanita tersebut memberi perhatian khusus
padanya.
Larangan ini didasarkan bahwa suami diwajibkan untuk membimbing istrinya pada jalan
kebaikan sedang istri diwajibkan mentaatinya. Begitu pula dengan hal dunia laki-laki dan wanita,
maka islam menjadikan laki-laki diluar rumah untuk mencari nafkah bagi keluarganya,
sebagaimana sabda Rasulullah SAW :

Dan hak para istri atas kalian (suami) agar kalian memberi mereka nafkah dan pakaian
dengan cara yang maruf. (HR. Muslim 1218)
Disisi lainnya, tempat wanita dijadikan di dalam rumah untuk mengurusi anak,
mendidiknya, mempersiapkan keperluan suami serta urusan rumah tangga dan lainnya.
Rasulullah SAW menggambarkan hal ini dalam sabdanya yang mulia :

Dan wanita adalah pemimpin dirumah suaminya dan dia akan dimintai pertanggung jawaban
atas yang dipimpinnya. (HR. Bukhori 1/304 Muslim 3/1459)

Selain itu wanita karier memiliki berbagai efek negatif, diantaranya:


a. Pengaruhnya terhadap harga diri dan kepribadian wanita
Banyak perkerjaan saat ini yang apabila ditekuni oleh kaum wanita akan
mengeluarkanya dari kodrat kewanitaannya, menghilangkan rasa malunya dan
mencabutnya dari kefeminimannnya.
b. Pengaruhnya pada anak
Diantara pengaruh negatif bekerjanya wanita diluar rumah bagi anak adalah :
Anak tidak atau kurang menerima kasih sayang, lembut belaian dari sang ibu, padahal
anak sangat membutuhkannya untuk pengembangan kejiwaannya.
Seringnya wanita karier tidak bisa menyusui anaknya secara sempurna, dan ini juga
berbahaya bagi si anak.
Membiarkan anak dirumah tanpa ada yang mengawasi atau hanya diawasi oleh baby
sister akan berakibat buruk.
5

c. Pengaruhnya ada hak suami


Seorang istri yang pagi pergi kerja lalu sore pulang, maka sampai rumah ia akan tinggal
melepas lelah. Lalu tatkala suaminya pulang dari kerja maka dia tidak akan bisa
memenuhi tugasnya sebagai seorang istri. Jarang atau bahkan tidak ada orang yang
mampu memenuhi tugas tersebut sekaligus.
d. Pengaruhnya pada masyarakat dan perekonomian nasional
Masuknya wanita dalam lapangan pekerjaan banyak mengambil bagian laki-laki yang
seharusnya bisa mendapatkan pekerjaan, namun terpaksa tidak menemukannya karena
sudah diambil alih oleh kaum wanita. Hal ini akan meningkatkan jumlah pengangguran
yang akan berakibat pada tindak kriminalitas.
Disamping itu terdapat sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam :
, :

Dari Abdulloh bin Masud radhiyallahu anhu dari Rosululloh shallallahu alaihi wa
sallam bersabda : Wanita itu aurat, apabila dia keluar maka akan dibanggakan oleh
setan. (HR. Turmudli 1173 berkata Hasan Shohih ghorib, Ibnu Khuzaimah 3/95,
Thobroni dalam Al Kabir 10015)
Mengenai polemik keshahihan hadits ini, dari segi matan memang cukup jelas menyebutkan
tentang keluarnya wanita akan menjadikan para syetan beristisyraf. Sehingga secara sekilas di
dalam kesan bahwa ketika seorang wanita keluar rumah, maka syetan akan menaikinya dan akan
menjadi sumber masalah baik bagi dirinya maupun bagi orang lain.
Nashiruddin Al-Albani jelas menshahihkan hadits ini. Sebab isi hadits ini sejalan dengan
pendapatnya yang ingin mengurung para wanita di dalam rumah.
Namun di sisi lain, tidak sedikit dari para ulama hadits banyak yang mempersoalkan
kedudukan hadits ini. Alasannya ada beberapa hal, antara lain:
a. Sesungguhnya isnad hadits ini tidak tersambung kepada Rasululah SAW, isnadnya
munqathi (terputus). Karena Hubaib bin Abi Tsabit, salah seorang di antara mata rantai
perawinya dikenal sebagai mudallis. Dia tidak mendengar langsung dari Ibnu Umar.
b. Dikatakan hadits ini shahih terdapat dalam Al-Ausath-nya At-Tabrani. Padahal Mujam
At-Thabrani Al-Awsath bukan kitab sunan. At-Thabarani sendiri tidak meniatkannya
sebagai kitab shahih. Beliau justru hanya sekedar mengumpulkan hadits-hadits yang
malul (bermasalah). Agar orang-orang tahu kemunkarannya. Sayangnya, ada orangorang yang datang kemudian, justru menshahihkan hadits-hadits di dalamnya. Imam AtThabarani pada dasarnya juga tidak meriwayatkan hadits tersebut di dalam AlAwsathnya.
c. Dikatakan bahwa Ibnu Khuzaemah juga menshahihkan hadits ini. Padahal perkataan itu
tidak lain adalah tadlis. Ibnu Khuzaemah tidak pernah menshahihkan hadits ini. Bahkan
beliau menjelaskan illatnya. Beliau menuliskan sebuah judul: Babu Ikhtiyari Shalatil
6

d. Mar ah fi Baitiha ala Shalatiha fil Masjid, in tsabatal hadits. Kata penutup in tsabatal
hadits justru menunjukkan bahwa beliau belum memastikan keshahihan hadits itu.
Perdebatan antara para muhaddits tidak ada habisnya tentang keshahihan hadits ini.
Sebagian mengatakan itu hadits shahih tapi yang lain bilang itu hadits yang bermasalah.
Maka ketika ada sebagian kalangan yang ingin mengurung wanita di dalam rumah dengan
berdasarkan haditsi ini, tidak semua sepakat membenarkannya.

2. Memperbolehkan wanita berkarier di luar rumah


Jika memang ada sesuatu yang sangat mendesak untuk berkariernya wanita diluar rumah
maka hal ini diperbolehkan. Namun harus dipahami bahwa sebuah kebutuhan yang mendesak ini
harus ditentukan dengan kadarnya yang sesuai sebagaimana sebuah kaidah fiqhiyah yang
masyhur. Dan kebutuhan yang mendesak ini misalnya :
a. Rumah tangga memerlukan kebutuhan pokok yang mengharuskan wanita bekerja.
Misalnya karena suaminya atau orang tuanya meninggal dunia atau keluarganya sudah tidak
bisa memberi nafkah karena sakit atau lainnya, sedangkan negara tidak memberikan jaminan
pada keluarga semacam mereka. Lihatlah kisah yang difirmankan Allah dalam surat Al-Qasas
ayat 23 dan 24 :
Dan tatkala Musa sampai di sumber air negeri Madyan, ia menjumpai di sana sekumpulan
orang yang sedang meminumkan ternaknya, dan ia menjumpai dibelakang orang yang banyak
itu dua orang wanita yang sedang menambat ternaknya.
Musa berkata : Apa maksud kalian berbuat demikian ?
Kedua wanita itu menjawab : Kami tidak dapat meminumkan ternak kami sebelum
pengembala-pengembala itu memulangkan ternaknya, sedang bapak kami adalah orang tua
yang telah berumur lanjut, Maka Musa memberi minum ternak itu untuk menolong keduanya.
Kemudian ia kembali ketempat yang teduh lalu berdoa : Ya Tuhanku, sesungguhnya aku
sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.
Kemudian datang kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu, berjalan dengan penuh
rasa malu, ia berkata : Sesungguhnya bapakku memanggil kamu untuk memberi balasan
terhadap kebaikanmu memberi minum ternak kami.
Perhatikanlah perkataan kedua wanita tadi : Sedang bapak kami adalah orang tua yang telah
berumur lanjut. Ini menunjukkan bahwa keduanya melakukan perbuatan tersebut karena
terpaksa, disebabkan orang tuanya sudah lanjut dan tidak bisa melaksanakan tugas tersebut.

b. Tenaga wanita tersebut dibutuhkan oleh masyarakat, dan pekerjaan tersebut tidak bisa

dilakukan oleh laki-laki.


Hal ini menunjukkan bahwa di zaman Rasulullah SAW ada para wanita yang bertugas
membantu kelahiran, semacam dukun bayi atau bidan pada saat ini. Juga saat itu ada wanita yang
mengkhitan anak-anak wanita. Dan yang dhohir bahwa perkerjaan ini mereka lakukan diluar
rumah. Pada zaman ini bisa ditambahkan yaitu dokter wanita spesialis kandungan, perawat saat
bersalin, tenaga pengajar yang khusus mengajar wanita dan yang sejenisnya.
Diantara pekerjaan wanita yang ada pada zaman Rasulullah SAW adalah apa yang
diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata : Rasulullah shallallahu alaihi
7

wa sallam berperang bersama Ummu Sulaim dan beberapa wanita anshor, maka mereka
memberi minum dan mengobati orang yang terluka.

2.5. Karir Wanita dalam Perspektif Islam

Sebenarnya, usaha (kiprah) kaum wanita cukup luas meliputi berbagai bidang, terutama yang
berhubungan dengan dirinya sendiri, yang diselaraskan dengan Islam, dalam segi akidah, akhlak
dan masalah yang tidak menyimpang dari apa yang sudah digariskan atau ditetapkan oleh Islam.
Allah Taala menciptakan laki-laki dan wanita dengan karakteristik yang berbeda. Secara
alami (sunnatullah), laki-laki memiliki otot-otot yang kekar, kemampuan untuk melakukan
pekerjaan yang berat, pantang menyerah, sabar dan lain-lain. Cocok dengan pekerjaan yang
melelahkan dan sesuai dengan tugasnya yaitu menghidupi keluarga secara layak.
Sedangkan bentuk kesulitan yang dialami wanita yaitu: Mengandung, melahirkan, menyusui,
mengasuh dan mendidik anak, serta menstruasi yang mengakibatkan kondisinya labil, selera
makan berkurang, pusing, rasa sakit di perut serta melemahnya daya pikir, sebagaimana ditulis di
dalam Al-Quran , Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang
ibu bapaknya; Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan
menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu,
hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS. Luqman: 14)
Ketika dia melahirkan bayinya, dia harus beristirahat, menunggu hingga 40 hari atau 60 hari
dalam kondisi sakit dan merasakan keluhan yang demikian banyak, tetapi harus dia tanggung
juga. Ditambah lagi masa menyusui dan mengasuh yang menghabiskan waktu selama dua tahun.
Selama masa tersebut, si bayi menikmati makanan dan gizi yang dimakan oleh sang ibu,
sehingga mengurangi staminanya.
Oleh karena itu, Dinul Islam menghendaki agar wanita melakukan pekerjaan/karir yang tidak
bertentangan dengan kodrat kewanitaannya dan tidak mengungkung haknya di dalam bekerja,
kecuali pada aspek-aspek yang dapat menjaga kehormatan dirinya, kemuliaannya dan
ketenangannya serta menjaganya dari pelecehan dan pencampakan.
Dinul Islam telah menjamin kehidupan yang bahagia dan damai bagi wanita dan tidak
membuatnya perlu untuk bekerja di luar rumah dalam kondisi normal. Islam membebankan ke
atas pundak laki-laki untuk bekerja dengan giat dan bersusah payah demi menghidupi
keluarganya. Maka, selagi si wanita tidak atau belum bersuami dan tidak di dalam masa
menunggu (iddah) karena diceraikan oleh suami atau ditinggal meninggal, maka nafkahnya
dibebankan ke atas pundak orangtuanya atau anak-anaknya yang lain, berdasarkan perincian
yang disebutkan oleh para ulama fiqih kita.
Bila si wanita ini menikah, maka sang suamilah yang mengambil alih beban dan tanggung
jawab terhadap semua urusannya. Dan bila dia diceraikan, maka selama masa iddah (menunggu)
sang suami masih berkewajiban memberikan nafkah, membayar mahar yang tertunda,
memberikan nafkah anak-anaknya serta membayar biaya pengasuhan dan penyusuan mereka,
sedangkan si wanita tadi tidak sedikit pun dituntut dari hal tersebut. Selain itu, bila si wanita
tidak memiliki orang yang bertanggung jawab terhadap kebutuhannya, maka negara Islam yang
berkewajiban atas nafkahnya dari Baitul Mal kaum Muslimin.
Sebenarnya Islam tidak pernah mensyariatkan untuk mengurung wanita di dalam rumah.
Tidak seperti yang banyak dipahami orang. Lihatlah bagaimana Rasulullah SAW melarang orang
yang melarang wanita mau datang ke masjid. Diriwayatkan dari Ibnu Umar dia berkata,
Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda:
8









Janganlah kamu mencegah perempuan-perempuan untuk pergi ke Masjid, sedangkan rumah
mereka itu lebih baik bagi mereka. (HR Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah dan lafadz ini dari
Abu Dawud).
Dari Abdullah Bin Umar dia berkata, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:






Apabila salah seorang perempuan di antara kamu minta izin (untuk berjamaah di masjid)
maka janganlah mencegahnya. (HR Al-Bukhari dan Muslim, lafadz ini dari Al-Bukhari)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah dia berkata, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi
wa Sallam bersabda:










Janganlah kamu mencegah kaum wanita untuk pergi ke masjid, tetapi hendaklah mereka keluar
tanpa wangi-wangian. (HR Abu Dawud)
Padahal di masjid sudah bisa dipastikan banyak orang laki-laki. Dan perjalanan dari rumah
ke masjid serta begitu juga kembalinya, pasti akan bertemu dengan lawan jenis yang bukan
mahram. Bahkan masjid Nabawi di masa Rasulullah SAW tidak ada hijabnya. Tidak seperti
masjid kita di zaman sekarang ini yang ada tabir penghalangnya. Di masa kenabian, posisi
jamaah laki-laki dan jamaah wanita hanya dipisahkan tempatnya saja. Shaf laki-laki di bagian
depan dan shaf wanita di bagian belakang. Anak kecil yang laki di belakang shaf laki dan anak
kecil perempuan berada di shaf terdepan dari shaf perempuan. Dan tidak ada kain, tembok,
tanaman atau penghalang apapun di antara barisan laki dan perempuan.
Jadi kalau dikatakan bahwa wanita itu haram keluar rumah, harus lebih banyak dikurung di
dalamnya, rasanya tidak sesuai dengan apa yang terjadi di masa Rasulullah SAW dan salafusshalih. Boleh dibilang mengurung wanita di dalam rumah adalah sebuah perkara bidah yang
sesat.
Dalam hal kepemimpinan dan politik, wanita tidak dibenarkan menjadi pemimpin laki-laki.
Para pendukung emansipasi wanita menuduh ketentuan ini sebagai diskriminasi berdasarkan
gender, dan oleh demokrasi barat dianggap sebagai hal yang melanggar hak asasi manusia.
Sekalipun mendapat kritikan serta pelecehan dari kaum anti agama, ketetapan Ilahiyah
seperti ini tidak boleh diamandemen untuk kepentingan apapun juga, kecuali dengan alasan yang
dibenarkan oleh syariah. Hal ini disandarkan pada firman Allah yang artinya:
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan
sebagian mereka (laki-laki)atas bagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah
menafkahkan sebagian harta mereka.(QS.An-Nisa :34)
Kaum laki-laki adalah qauwamuna alan nisa, pemimpin, pemelihara dan pendidik bagi
kaum wanita. Bukan sebaliknya laki-laki dipimpin, dikuasai dan disantuni oleh wanita yang
mempunyai kekurangan akal dan ibadah. Sudah selayaknya yang memiliki kelebihan dan
kesempurnaan menyantuni dan menyayangi yang lemah dan kekurangan. Demikian pula yang
9

kaya harus menolong si miskin dan orang yang mampu membantu yang tidak mampu. Dengan
kelebihan ini tepatlah jika laki-laki sebagai pemimpin.

2.6. Syarat-syarat Diperbolehkan Wanita Bekerja Diluar Rumah


Keterpaksaan (darurat) dilihat dari segi kepentingannya, oleh karena itu seorang wanita
terpaksa harus bekerja diluar rumahnya ,maka dia harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1. Mendapatkan izin dari walinya
Yaitu Ayah atau suaminya untuk suaktu pekerjaan yang halal seperti menjadi tenaga
pendidik para siswi atau menjadi perawat khusus wanita.
2. Tidak bercampur baur dengan kaum laki laki, atau melakukan khalwat dengan laki laki
yang bukan mahramnya.
Rasulullah bersabda :

Janganlah sekali kali seorang laki - laki berkhalwat (berduan )dengan wanita, karena
yang ketiganya adalah syaithan. (HR At Tirmidzi ).
3. Tidak berlaku tabaruj dan menampakan perhiasaan yang dapat mengundang fitnah.
Menurut syeikh Almaududi, kata tabaruj, bila dikaitkan dengan seorang wanita
memiliki tiga pengertian :
Menampakan keelokan wajah dan bagian bagian tubuh yang membangkitkan
birahi,
Memamerkan pakaian dan perhiasaan yang indah dihadapan kaum laki laki yang
bukan mahram.
Memamerkan diri dan berjalan berlenggak lenggok dihadapan kaum laki-laki yang
bukan mahram . (Al Hijab :290).
Menurut Alqur`an dan As Sunnah dan kesepakatan para ulama bahwa hukum tabaruj
adalah haram. (Ensiklopedi Wanita muslimah :153 ).
4. Tidak memakai parfum yang menyengat hidung atau parfum yang membangkitkan birahi
seseorang,dalam sebuah hadist
Rasullah bersabda :

Setiap mata adalah penzina,dan sesungguhnya apabila wanita itu mengenakan


wewangian kemudian dia berlalu melewati majlis, maka dia adalah penzina.
( HR Abu Daud, dan At Tirmidzi ).

10

5. Memakai hijab menurut ketentuan syar`I,


Allah Ta`ala berfirman :


Wahai Nabi katakanlah kepada istri istrimu, anak anak perempuanmu, dan para wanita
mukminin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu
supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu ,dan Allah maha
pengampun lagi maha penyanyang (QS.Al- Ahzab :59 ).
2.7. Kendala-kendala Wanita Bekerja Diluar Rumah
Pekerjaan seorang wanita diluar rumah pada hakikatnya siksaan bagi dirinya, walaupun hal
tersebut nampaknya tidak terasa,karena seorang wanita tidak mampu bekerja atau melakukan
pekerjaan sebagaimana kaum laki laki, dalam banyak hal,karena kondisi fisik wanita yang lemah
yang membuatnya tidak leluasa bergerak, diantaranya:
1. Karena haid.
Pada waktu haid seorang wanita harus beristirahat dan tidak boleh membawa beban
berat agar tidak terjadi hal-hal yang dapat merusak kesehatan dan dirinya serta
mengganggu kelancarannya .
2. Karena hamil.
Dalam kondisi tersebut seorang wanita merasakan lemah sehingga dia tidak mampu
bekerja berat.
3. Karena nifas ( melahirkan ).
Dalam kondisi tersebut seorang wanita juga merasakan berbagai kesulitan dan
tubuhnya merasa lemah, dia kehilangan darahnya, oleh sebab itu,dia tidak boleh dibebani
pekerjaan yang memberatkan.
4. Menyusui dan merawat anak
Selama dua tahun seorang ibu harus merawat bayinya, selalu menyertainya,
mengurusi segala kebutuhanya,dan mendidiknya,disamping itu dia masih lagi menangani
pekerjaan rumah demi berlangsungnya kebahagiaan rumah tangganya,dan jika hal itu dia
tinggalkan,maka ia akan menjadi bencana bagi seluruh keluarganya.
5. Susunan tubuh
Tubuh seorang perempuan yang hamil, melahirkan anak serta menyusuinya, pastilah
sangat berbeda dengan tubuh seorang lelaki yang tidak menanggung beban semua itu.
(Ensiklopedi wanita muslimah:165 )

11

2.8. Solusi
Wanita diperbolehkan keluar dan berkarir di luar rumah. Apabila ada keperluan bagi
seorang wanita untuk bekerja keluar rumah, maka harus memenuhi beberapa ketentuan syari
agar karirnya tidak menjadi perkerjaan yang haram. Syarat-syarat itu adalah :
1. Memenuhi adab keluarnya wanita dari rumahnya baik dalam hal pakaian ataupun
lainnya.
2. Mendapat izin dari suami atau walinya. Wajib hukumnya bagi seorang istri untuk
mentaati suaminya dalam hal kebaikan dan haram baginya mendurhakai suami,
termasuk keluar dari rumah tanpa izinnya.
3. Pekerjaan tersebut tidak ada kholwat dan ikhtilat (Campur baur) antara laki-laki dan
wanita yang bukan mahram. Sebagaimana firman Allah:
Dan apabila kalian meminta pada mereka sebuah keperluan, maka mintalah dari balik
hijab.(QS.Al-Ahzab:53)
Juga sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam yang artinya:
Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama
mahramnya. (HR. Al-Bukhari dan Imam Muslim)
Seorang wanita muslimah agar terlihat istimewa dia harus dapat menjaga kehormatan
dalam pergaulannya. Harus membatasi diri dalam pergaulan. Seorang wanita apalagi
yang sudah mempunyai suami harus hati-hati dengan sesuatu yang dapat mengakibatkan
kemurkaan Allah, salah satunya adalah adanya batasan pergaulan dengan non-muhrim.
4. Tidak menimbulkan fitnah
Wanita yang berkarier di luar rumah tidak menimbulkan fitnah. Hal ini dapat dilakukan
dengan cara menutupi seluruh tubuhnya di hadapan laki-laki asing dan menjauhi semua
hal yang berindikasi fitnah, baik di dalam berpakaian, berhias atau pun berwangiwangian (menggunakan parfum).
5. Tetap bisa mengerjakan kewajibannya sebagai ibu dan istri bagi keluarganya,karena
itulah kewajibannya yang asasi.
6. Hendaknya pekerjaan tersebut sesuai dengan tabiat dan kodratnya seperti dalam bidang
pengajaran, kebidanan, menjahit dan lain-lain.

12

Tips berkarir bagi wanita:


a. Pilihlah karir yang tidak mendekati mudharat, tidak membuat diri tergadai
kesuciannya. Artinya karier yang memungkinkan untuk tidak ber- khalwat dengan
rekan kerja pria, tidak berpakaian kecuali mengindahkan syari'at Islam, tidak harus
pulang larut malam atau dinihari, serta tak sering berdomisili diluar kota, jauh dari
suami dan anak-anaknya.
b. Tentukan alokasi waktu untuk menjalin hubungan baik dengan suami- anak, serta
punya jadwal rutin silaturrahim dengan orangtua, mertua, maupun tetangga dekat.
c. Selalu mendahulukan kepentingan suami dan anak daripada prioritas-prioritas lainnya.
d. Tak terlalu ambisius dalam karier, tapi juga tidak menahan atau mengabaikan potensi
diri yang dimiliki.

13

BAB III
ANALISA MASALAH
Islam sangat memuliakan wanita dan mendudukkan wanita pada tempat yang terhormat.
Dalam Al-quran dan hadits, terdapat penjelasan-penjelasan mengenai masalah wanita dan
kodratnya. Namun perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan menimbulkan pemikiranpemikiran adanya emansipasi wanita dan persamaan gender. Hal ini membuat wanita khususnya
wanita muslimah terkecoh dan melupakan tanggung jawab mereka dalam sebuah rumah tangga,
baik tanggung jawab terhadap suami, tanggung jawab terhadap anak, dan tanggung jawab
terhadap urusan rumah tangga lainnya. Sabgian besar wanita cenderung mengejar pendidikan
yang tinggi, mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan yang tinggi,serta karir yang menanjak.
Dalam Islam, wanita diperbolehkan bekerja di luar rumah untuk membantu perekonomian
keluarga atau disebabkan tidak ada yang menanggung biaya hidupnya kecuali dirinya sendiri.
Hal ini dapat dilihat dari kisah-kisah istri Nabi Muhammad SAW seperti Siti Khadijah ra yang
menjalankan bisnis dan Aisyah ra yang mengajar sahabat-sahabat Nabi.
Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi bagi muslimah yang bekerja diluar adalah sebagai
berikut :
Mendapatkan izin dari walinya
Tidak bercampur baur dengan kaum laki laki, atau melakukan khalwat dengan laki laki
yang bukan mahramnya.
Tidak berlaku tabaruj dan menampakan perhiasaan yang dapat mengundang fitnah.
Tidak memakai parfum yang menyengat hidung atau parfum yang membangkitkan birahi
seseorang,dalam sebuah hadist
Memakai hijab menurut ketentuan syar`I
Memenuhi adab keluarnya wanita dari rumahnya baik dalam hal pakaian ataupun lainnya.
Tetap bisa mengerjakan kewajibannya sebagai ibu dan istri bagi keluarganya,karena
itulah kewajibannya yang asasi.
Hendaknya pekerjaan tersebut sesuai dengan tabiat dan kodratnya seperti dalam bidang
pengajaran, kebidanan, menjahit dan lain-lain.
Pada dasarnya, bagi wanita bekerja diluar rumah tanpa disadari juga menyiksa mereka. Hal
ini karena kondisi fisik wanita yang lemah yang membuatnya tidak leluasa bergerak,
diantaranya:
Karena haid.
Karena hamil.
Karena nifas ( melahirkan ).
Menyusui dan merawat anak
Susunan tubuh

14

Namun pada hakikatnya, faktor finansial bukanlah tujuan utama kehidupan ini. Mempunyai
keluarga yang sakinnah,mawaddah warahmah adalah impian setiap pasangan suami istri. Tidak
salah jika wanita memilih berkarir sebagai ibu rumah tangga, tidak disalahkan juga jika wanita
memilih bekerja diluar rumah asalkan sesuai dengan syariat Islam dan tidak melupakan tanggung
jawabnya sebagai ibu rumah tangga. Bagi wanita muslimah, mengejar pendidikan yang tinggi
adalah suatu kewajiban sebagaimana hadits Rasulullah SAW :





Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat(HR. Ibnu Abdil Bari)
Allah sangat mencintai orang-orang yang berilmu, sehingga orang yang berilmu yang
didasarkan atas iman akan diangkat derajatnya oleh Allah, sebagaimana firman-Nya:


Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (Q.s. al-Mujadalah : 11)
Wanita wajib memiliki ilmu setinggi-tingginya. Hal ini dikarenakan wanita mempunyai
tanggung jawab mendidik anak-anak mereka agar menjadi generasi muda yang sholeh dan
tangguh.

15

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berkarir bagi muslimah diperbolehkan asalkan tidak keluar dari Syariat Islam seperti tersurat
dan tersirat dalam kisah istri-istri Nabi Muhammad SAW. Pertama, memenuhi tata cara
pergaulan yang Islami, yaitu menghindari hal-hal yang bersifat jahiliyyah seperti bercampur-baur
dengan laki-laki asing (ikhtilath), pamer aurat (tabarruj), melembutkan suara dengan maksud
memikat hati laki-laki, dan berdua-duaan (khalwat) dengan non-muhrim yang bisa menimbulkan
fitnah. Dan kedua, mendapat izin orang tua (kalau belum menikah) atau suami, serta menjaga
pandangannya (ghadhdh al-bashar) dan dengan alasan yang tidak bertentangan dengan syariat
islam.

4.2 Saran
Wanita diperbolehkan berkarir selama memperhatikan etika, tidak menimbulkan fitnah serta
tidak mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri dan ibu.
Kita banyak menyaksikan bahwa setiap karir wanita saat ini baik di kantor, pabrik, sales atau
lainnya penuh dengan ikhtilat, pakaian yang tidak syari dan banyak menimbulkan fitnah. Oleh
karena itu, kaum wanita mukminah hendaknya bertaqwa pada Allah, takut pada adzab-Nya yang
pedih, tidak karena hanya faktor ekonomi rela mengerjakan larangan Allah dan Rasul-Nya.
Padahal sebenarnya banyak dari kalangan wanita karir tersebut bukan karena kebutuhan yang
mendesak atau karena sebab syari lainnya namun mungkin hanya karena mengejar ambisi
dunia. Wallahu alam.

16

DAFTAR PUSTAKA
http://jihadsabili.wordpress.com/2010/12/05/dear-wanita-karier/
http://www.rsqim.com/
http://belajarsambilberdakwah.blogspot.com/
http://hbis.wordpress.com/2009/07/16/bagaimana-wanita-karir-menurut-islam/http://m.cybermq.com
http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Fatawa/PerananWanita.html.

http://aifaneducationzone.blogspot.com/p/islamic-zone.html
http://edukasi.kompasiana.com/2012/04/20/hukum-wanita-karir-dalam-tinjauan-syaria-451323.html

17