Anda di halaman 1dari 4

Mokhamad Candra Eka

125030400111126 Lab 3 kls E

Hak Mendahulu Utang Pajak


Untuk Tahun Pajak 2007 dan sebelumnya
Dasar hukum: Pasal 21 ayat (4) dan ayat (5) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana
telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000.
Untuk Tahun Pajak 2008 dan seterusnya
Dasar hukum: Pasal 21 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 sebagaimana telah beberapa kali
diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009
Pasal 21 ayat (1) Undang-Undang KUP menyatakan bahwa Negara mempunyai hak mendahulu
untuk utang pajak atas barang-barang milik Penanggung Pajak. Artinya kedudukan negara sebagai
kreditur preferen yang dinyatakan mempunyai hak mendahulu atas barang milik Penanggung Pajak
yang akan dilelang di muka umum. Pembayaran kepada kreditur lain diselesaikan setelah utang pajak
dilunasi. Hak mendahulu utang pajak meliputi pokok pajak, sanksi administrasi berupa bunga,
denda, kenaikan dan biaya penagihan pajak. Hak mendahulu untuk utang pajak melebihi segala hak
mendahulu lainnya, kecuali terhadap:
1.

biaya perkara yang hanya disebabkan oleh suatu penghukuman untuk melelang suatu barang

bergerak dan/atau barang tidak bergerak;


2.

biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang dimaksud dan/atau

3.

biaya perkara, yang hanya disebabkan oleh pelelangan dan penyelesaiakan suatu warisan.

Dalam hal Wajib Pajak dinyatakan pailit, bubar, atau dilikuidasi maka kurator, likuidator, atau orang
atau badan yang ditugasi untuk melakukan pemberesan dilarang membagikan harta Wajib Pajak
dalam pailit, pembubaran atau likuidasi kepada pemegang saham atau kreditur lainnya sebelum
menggunakan harta tersebut untuk membayar utang pajak Wajib Pajak tersebut.
Hilangnya Hak Mendahulu
Untuk Tahun Pajak 2007 dan sebelumnya
Sesuai dengan Pasal 21 ayat 4 UU KUP Nomor 16 tahun 2000, hak mendahulu hilang setelah lampau
waktu dua tahun sejak tanggal diterbitkan atas:
1.

Surat Tagihan Pajak (STP)

2.

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB)

3.

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan (SKPKBT)

4.

Surat Keputusan Pembetulan

Mokhamad Candra Eka


125030400111126 Lab 3 kls E

5.

Surat Keputusan Keberatan

6.

Putusan Banding

yang menyebabkan jumlah pajak yang masih harus dibayar bertambah, kecuali apabila dalam jangka
waktu dua tahun tersebut:
1.

Surat Paksa untuk membayar itu diberitahukan secara resmi maka jangka waktu dua tahun

dihitung sejak pemberitahuan Surat Paksa; atau


2.

diberikan penundaan pembayaran jangka waktu dua tahun ditambah dengan jangka waktu

penundaan pembayaran.
Untuk Tahun Pajak 2008 dan seterusnya
Berdasarkan Pasal 21 ayat 4 Undang-Undang KUP Nomor 16 Tahun 2009 hak mendahulu hilang
setelah melampaui waktu lima tahun sejak tanggal diterbitkan:
1.

Surat Tagihan Pajak

2.

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar

3.

Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan

4.

Surat Keputusan Pembetulan

5.

Surat Keputusan Keberatan

6.

Putusan Banding, atau

7.

Putusan Peninjauan Kembali yang menyebabkan jumlah pajak yang masih harus dibayar

bertambah, kecuali apabila dalam jangka waktu lima tahun tersebut:


1. Surat Paksa untuk membayar itu diberitahukan secara resmi maka jangka waktu 5 (lima) tahun
dihitung sejak pemberitahuan Surat Paksa; atau
2. Diberikan pembayaran atau persetujuan angsuran pembayaran maka jangka waktu 5 (lima) tahun
dihitung sejak batas akhir penundaan diberikan atau sejak tanggal jatuh tempo angsuran terakhir.
HAK MENDAHULU UTANG PAJAK DALAM KEPAILITAN
Berdasarkan Pasal 19 ayat (6) UU PPSP Jo. Pasal 21 (1) UU KUP Jo. Pasal 1134 KUH Perdata Jo.
Pasal 60 ayat (2) UU Kepailitan, utang pajak merupakan suatu hak istimewa yang dimiliki oleh
Negara, sehingga Negara berkedudukan sebagai kreditur preferen yang mempunyai hak mendahulu
atas barang-barang milik Penanggung Pajak, dengan demikian kedudukan utang pajak berada di atas
utang kreditur separatis dan kreditur konkuren.
Pasal 19 ayat (6) UU PPSP
Hak mendahulu untuk tagihan pajak melebihi segala hak mendahulu lainnya, kecuali terhadap :

Mokhamad Candra Eka


125030400111126 Lab 3 kls E

1) biaya perkara yang semata-mata disebabkan suatu penghukuman untuk melelang suatu barang
bergerak dan atau barang tidak bergerak;
2) biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang dimaksud;
3) biaya perkara yang semata-mata disebabkan pelelangan dan penyelesaian suatu warisan.
Penjelasan Pasal 19 UU PPSP
Ayat ini menetapkan kedudukan Negara sebagai kreditur preferen yang dinyatakan mempunyai hak
mendahulu atas barang-barang milik Penanggung Pajak yang akan dijual kecuali terhadap biaya
perkara yang semata-mata disebabkan oleh suatu penghukuman untuk melelang suatu barang
bergerak dan atau barang tidak bergerak, biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang
dimaksud, atau biaya perkara yang semata-mata disebabkan oleh pelelangan dan penyelesaian suatu
warisan. Hasil penjualan barang-barang milik Penanggung Pajak terlebih dahulu untuk membayar
biaya-biaya tersebut di atas dan sisanya dipergunakan untuk melunasi utang pajak.
Negara mempunyai hak mendahulu untuk utang pajak atas barang-barang milik Penanggung Pajak.
Pasal 21 UU KUP
(1) Negara mempunyai hak mendahulu untuk utang pajak atas barang-barang milik Penanggung
Pajak.
(2) Ketentuan tentang hak mendahulu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi pokok pajak,
sanksi administrasi berupa bunga, denda, kenaikan, dan biaya penagihan pajak.
(3) Hak mendahulu untuk utang pajak melebihi segala hak mendahulu lainnya, kecuali terhadap :
a. biaya perkara yang hanya disebabkan oleh suatu penghukuman untuk melelang suatu
barang bergerak dan/atau barang tidak bergerak;
b. biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkan barang dimaksud; dan/atau
c. biaya perkara, yang hanya disebabkan oleh pelelangan dan penyelesaian suatu warisan.
(3a) Dalam hal Wajib Pajak dinyatakan pailit, bubar, atau dilikuidasi maka kurator, likuidator, atau
orang atau badan yang ditugasi untuk melakukan pemberesan dilarang membagikan harta Wajib
Pajak dalam pailit, pembubaran atau likuidasi kepada pemegang saham atau kreditur lainnya
sebelum menggunakan harta tersebut untuk membayar utang pajak Wajib Pajak tersebut.
Pasal 1134 KUH Perdata
Hak istimewa adalah suatu hak yang diberikan oleh undang-undang kepada seorang kreditur yang
menyebabkan ia berkedudukan lebih tinggi daripada yang lainnya, semata-mata berdasarkan sifat

Mokhamad Candra Eka


125030400111126 Lab 3 kls E

piutang itu. Gadai dan hipotek lebih tinggi daripada hak istimewa, kecuali dalam hal undang-undang
dengan tegas menentukan kebalikannya.
Pasal 60 ayat (2) UU Kepailitan
Atas tuntutan Kurator atau Kreditor yang diistimewakan yang kedudukannya lebih tinggi daripada
Kreditor pemegang hak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) maka Kreditor pemegang hak tersebut
wajib menyerahkan bagian dari hasil penjualan tersebut untuk jumlah yang sama dengan jumlah
tagihan yang diistimewakan.

Anda mungkin juga menyukai