Anda di halaman 1dari 2

Peresmian IFTAA Jawa Timur;

Prodi Perpajakan UB bekerjasama adakan Seminar Nasional Perpajakan


Bekerjasama dengan Indonesian Fiscal and Tax Administration (IFTAA), Program Studi Perpajakan
Universitas Brawijaya (UB) menyelenggarakan Seminar Nasional Perpajakan dengan judul Base
Erosion and Profit Shifting (BEPS) dalam Penerimaan Pajak, Pertumbuhan Ekonomi, dan Kedaulatan
Negara, Rabu (22/4). Bertempat di Aula lantai 4 gedung A Fakultas Ilmu Administrasi UB, seminar
nasional perpajakan ini diselenggarakan sebagai acara pembuka dalam Peresmian IFTAA cabang Jawa
Timur.
Pemilihan tema seminar mengenai isu BEPS bertujuan agar mahasiswa memahami tentang permasalahan
profit shifting maupun penghindaran pajak yang memanfaatkan ketidakterpaduan peraturan negara satu
dengan lainnya, yang nantinya juga diharapkan semua pihak dapat bekerjasama untuk mencari solusi dari
permasalahan BEPS ini. Pemilihan Pembicara yang berasal dari latarbelakang yang berbeda, mulai dari
Akademisi Perpajakan (dosen), Praktisi Perpajakan (konsultan perpajakan), dan pihak Direktorat Jenderal
Perpajakan, bertujuan agar mahasiswa dapat memahami permasalahan perpajakan khususnya mengenai
BEPS secara komprehensif dan menyeluruh.
Seminar nasional perpajakan ini dimoderatori oleh Otto Budihardjo, Ak., MM, BKP, salah satu dosen
pengajar di Prodi Perpajakan FIA UB dan Perpajakan Vokasi UB. Di awal seminar Otto Budiarjo
memberikan gambaran awal seperti apa BEPS itu. BEPS sebenarnya bukan sesuatu yang baru, pada
undang-Undang kita pun ada. Namun dihangatkan kembali saat pertemuan negara-negara G12 di Mexico
tahun 2012 kemarin, ujarnya sesaat sebelum mempersilahkan para pembicara memaparkan materi.
Pembicara pertama oleh Dr. Kadarisman Hidayat, M.Si yang membawakan materi tentang pertumbuhan
Ekonomi Indonesia dalam Konteks Ekonomi Global. Beliau mengalawali pembicaraanya dengan
menjelaskan pertumbuhan ekonomi dunia dan seperti apa pertumbuhan ekonomi di Indonesia.
Perlambatan ekonomi Indonesia di tahun 2014 merupakan titik terendah selama hampir 17 tahun
terakhir, ditambah dengan nilai tukar rupiah yang terus melemah. Hal ini mengakibatkan target
pertumbuhan ekonomi 2015 sekitar 5,7% sulit tercapai. Dia menjelaskan pula bahwa tax ratio Indonesia
masih lebih rendah daripada rasio pajak rata-rata negara berpendapatan rendah, apalagi jika
dibandingkan dengan rasio pajak rata-rata negara berpendapatan menengah dan tinggi. Salah satu faktor
yang mengakibatkan tergerusnya penerimaan pajak (base erosion) di Indonesia menurutnya akibat praktik
penghindaran pajak yaitu profit shifting.
Topik pembicaraan selanjutnya dibawakan oleh Mampe Siagian, SE AK, MInt'l Tax perwakilan
Direktorat Jenderal Perpajakan Pusat. Pria lulusan University of Melbourne ini menyampaikan materi
tentang apa itu Base Erosion and Profit Shifting (BEPS). Mulai dari latar belakang dari BEPS itu sendiri,
seberapa besar permasalahan BEPS, dan aksi apa yang dapat dilakukan untuk mengatasinya. Beliau
menyampaikan bahwa perkembangan dalam bidang ekonomi, seperti berkembangnya model pajak dan
bisnis yang global serta tingkat kompetisi yang semakin tinggi, merupakan faktor yang mem- promote
atau menaikkan BEPS.

Pembicara terakhir merupakan Partner of Transfer Pricing Services Danny Darussalam Tax Center, Romi
Irawan, SE,M.M. Romi menjelaskan tentang Rencana aksi Base Erosion Profit Shifting dan dampak
terhadap peraturan di Indonesia. Terdapat 15 rencana aksi OECD atas BEPS, yang mana action plan
tersebut diharapkan akan merubah standar perpajakan internasional, jelas Romi. Lebih lanjut romi
menjelaskan rencana aksi 8-10 yang berkaitan dengan transfer pricing, bahwa pada aksi ini dilakukan
untuk memperbaiki celah yang terdapat pada sistem transfer pricing saat ini. Terdapat tiga isu substantif
pada area transfer pricing yang ingin diatasi, yaitu masalah asset tidak berwujud, risiko, dan modal. Romi
mengatakan impikasi dari rencana aksi 8-10 adalah perubahan dalam ketentuan transfer pricing di
Indonesia. Dampak pada aturan transfer pricing di Indonesia misalnya pendefinisian asset tak berwujud,
kemungkinan diadopsinya aturan commensurate with income standart, dan lain-lain, pungkasnya.
Setelah ketiga pemateri memaparkan materinya acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab, yang dibagi
menjadi dua sesi, masing-masing sesi tiga penanya. Pada sesi tanya jawab ini terlihat antusiasme yang
cukup tinggi dari para peserta yang hadir. Peserta terlihat aktif dalam sesi tanya jawab dan berdiskusi
bersama pembicara dan moderator. Di akhir sesi ini dipilih 3 penanya terbaik yang berhak mendapatkan
hadiah dari panitia.
Tiga jam lebih seminar nasional perpajakan berlangsung. Pada akhir seminar, Otto Budiharjo selaku
moderator memberikan kesimpulan bahwa di era globalisasi sudah menjadi keniscayaan bagi setia
negara, termasuk Indonesia, untuk terlibat di dalam kancah dunia internasional dan globalisasi. Namun di
dalamnya harus ada beberapa hal yang harus diperhatikan, dalam hal ini adalah aspek perpajakan. Setiap
negara memiliki tax regulation dengan negara-negara lain. Adanya disparitas tax rate memicu adanya
praktek-praktek penghindaran dan penghindaran pajak. Hal ini sebenarnya sudah diantisipasi oleh
pemerintah, dengan aturan-aturan yang selalu diperbaiki dan selalu mendapat perhatian oleh pemerintah
Indonesia untuk mengantisipasi aspek-aspek perpajakan di Indonesia. Namun aspek-aspek tersebut pasti
ada kemungkinan mengandung celah, maka sekarang kewajiban kita bersama untuk menutup celah
tersebut untuk mengurangi adanya praktek penghindaran dan penggelapan pajak. Perlu adanya action plan
yang komprehensif, sehingga bagaimana pemerintah Indonesia yang memiliki political will untuk
mengatur dan mengimplementasikan action plan tersebut ke dalam peraturan perundang-undangan yang
berlaku di Indonesia.
Seusai seminar nasional acara dilanjutkan dengan Peresmian Indonesian Fiscal and Tax Administration
Association (IFTAA) Profinsi Jawa Timur. Tujuan didirikannya IFTAA Profinsi Jawa Timur ini adalah
untuk memperbesar cakupan IFTAA menjadi nasional dan semua jurusan atau program studi perpajakan
dapat mengakomodasi untuk ide-ide, saran, dan permasalahan-permasalan dari para akademisi perpajakan
tersebut.Pada kesempatan ini dilantik 4 pengurus IFTAA Profinsi Jawa Timur, mulai dari Ketua Umum,
Wakil Ketua Umum, Sekertaris Umum, Bendahara Umum. Peresmian IFTAA Profinsi Jawa Timur ini
ditandai dengan Pemukulan gong oleh Dra. Inayati, M.Si selaku Sekretaris Departemen Keilmuan
IFTAA. IFTAA merupakan organisasi keilmuan (dan profesi) yang bersifat independen dan kecendekiaan
serta berfungsi sebagai wadah berhimpun adademisi dan praktisi perpajakan. Organisasi ini memiliki
tujuan untuk ikut memajukan dan mengembangkan ilmu administrasi fiscal dan perpajakan serta
memberikan penguatan learning outcome pendidikan perpajakan di Indonesia.

Anda mungkin juga menyukai