Anda di halaman 1dari 8

CSR atau kepanjangan dari Corporate Social Responsibility sering dianggap perusahan sebagai aktivitas

yang kurang penting dan cenderung menjadi ajang aktivitas untuk "buang-buang duit" karena tidak
menghasilkan profit sama sekali dan kontribusi bagi perusahaan. dan dapat dilihat bagaimana
perkembangan CSR saat ini, akibatnya kegiatan ini sangatlah kurang berkembang. kegiatan masih sebatas
pada pemberian donasi atau sumbangan, tanpa efek yang berlanjut yang nantinya juga akan berdampak
kepada lingkungan ekonomi dan sosial dalam jangka panjang, sebaliknya CSR jika diolah sedemikian
rupa dapat dijadikan strategi bagi perusahaan.
ada beberapa penyebab keengganan perusahaan menerapkan CSR di dalam perusahaannya :
1. tujuan perusahaan adalah untuk menciptakan profit. oleh karenanya, CSR-aktivitas yang secara
gamblang tidak memberikan keuntungan tentu saja tidak akan menarik bagi perusahaan.
2. kurangnya tekanan dari eksternal misalnya dari pasar sendiri maupun dari regulasi yang dibikin
oleh pemerintah sendiri yang kurang memberikan perhatian kepada CSR
CSR seharusnya dianggap bukan sebagai aktivitas untuk buang-buang duit. CSR harus menjadi bagian
dari perusahaan dalam memenuhi tujuannya untuk meningkatkan profit. konsep strategi CSR dapat dilihat
seperti konsep di bawah ini :

Strategi CSR adalah pendekatan yang mensinergikan CSR dengan strategi perusahaan secara
keseluruhan. sinergi ini diperoleh ketika perusahaan memberi kontribusi pada lingkungan sosialnya sesuai
dengan core competency-nya atau kata lainnya adalah CSR harus juga memberikan keuntungan bagi
perusahaan.
michael porter mencatat bahwa strategi CSR memiliki potensi untuk berkontribusi pada lima penggerak
produktivitas, yaitu investasi, inovasi, skill, organisasi dan kompetisi (DTI Economics Paper No. 3).
apa arti bulatan-bulatan diatas. itu menggambarkan bagaimana efek CSR bila dilakukan perusahaan
secara sungguh dan terencana bukan sebagai kegiatan dadakan. Strategi CSR dapat mempengaruhi
lingkungan hidup, ekonomi, dan social, atau lebih komplitnya dapat dilihat pada bagan di bawah ini

dalam lingkungan hidup misalnya perusahaan dapat menerapkan produk yang ramah lingkungan atau
menerapkan pengolahan limbah yang ramah lingkungan atau bisa juga perusahaan memilih penggunaan
energi yang ramah lingkungan untuk mengurangi efek dari global warming yang sekarang efeknya sudah
mendunia, atau perusahaan peduli terhadap lingkungan misalnya peduli terhadap terumbu karang atau
coral reef yang sekarang mulai banyak yang rusak perusahaan misalnya juga dapat berperan aktif di
dalam konservasinya
di dalam bidang sosial misalnya perusahaan dapat memberikan kontribusi terhadap para kaum miskin
lewat pelatihan-pelatihan dan memberikan akses pendidikan kepada mereka sehingga mereka tidak akan
merasa termajinalkan oleh industrialisasi atau perusahaan juga dapat menciptakan sumber daya yang
terjangkau bagi masyarakat lemah. di dalam hal ini bisa juga penerapan CSR secara internal yaitu
keterpedulian terhadap karyawan perusahaan.
di dalam lingkungan ekonomi atau pasar misalnya perusahaan tetap menjaga hubungan yang baik
dengan supplier ataupun distributor tidak malahan mengakali mereka dan mengabuse mereka, tetapi
berikanlah penghargaan kepada mereka atas kontribusi mereka terhadap perkembangan perusahaan.
Intinya CSR adalah strategi yang melibatkan keseluruhan dari stakeholder perusahaan tidak bisa
berjalan sendiri dan terpisah karena ini adalah suatu sistem.
keuntungan dari penerapan strategi CSR ini di dalam perusahaan adalah terciptanya reputasi perusahaan
yang baik yang akan memberikan value added bagi perusahaan dalam jangka waktu yang lama, karena

ini adalah masalah membangun image perusahaan yang peduli dengan keseluruhan stakeholdernya dan
akan mempengaruhi customer dalam membeli produk-produk dari perusahaan tersebut.

Strategi CSR dimulai dengan menetapkan arah dan lingkup jangka panjang berkenaan dengan aktivitas
CSR. Dengan demikian perusahaan berhasil dalam memanfaatkan sumber daya yang dimiliki, berada
dalam lingkungannya yang unik guna memenuhi kebutuhan pasar dan ekspektasi para stakeholder.
Strategi CSR yang baik harus mengidentifikasi arah keseluruhan yang dituju dengan dijalankannya
aktivitas CSR. Kemudian melakukan pendekatan mendasar guna melanjutkan aktivitas.
Selanjutnya menentukan area prioritas yang spesifik. Dan terakhir merumuskan langkah-langkah
selanjutnya yang segera ditempuh. Strategi CSR membantu perusahaan memastikan bahwa perusahaan
secara berkesinambungan membangun, memelihara, dan memperkuat identitas dan pasar yang
dimilikinya.
Berikut ini adalah langkah-langkah dalam mengembangkan strategi CSR:
1. Membangun dukungan dengan manajemen senior dan karyawan
Tanpa adanya dukungan dari pemimpin perusahaan, peluang keberhasilan program CSR akan menipis. Di
samping itu juga penting untuk terus membangun dukungan di antara karyawan, karena merekalah yang
akan memainkan peran kunci dalam implementasi CSR.
2. Pengamatan terhadap pihak lain
Adalah sangat bermanfaat untuk belajar dari pengalaman dan keahlian pihak lain. Tiga sumber informasi
yang berguna adalah perusahaan lain, asosiasi industri, dan organisasi yang khusus bergerak di bidang
CSR. Mengamati visi, nilai-nilai, dan pernyataan kebijakan pesaing, demikian juga dengan produkproduk baru atau pendekatan yang berkaitan dengan CSR, serta insiatif-inisiatif dan program-program
yang mereka ikuti, dapat sangat bermanfaat.
3. Mempersiapkan matriks ktivitas CSR yang diusulkan
Perusahaan dapat merencanakan aktivitas CSR, baik yang sedang dilakukan pada saat ini maupun yang
mungkin akan dilakukan di masa mendatang, berkaitan dengan proses, produk, serta pengaruh yang
mungkin ditimbulkannya.
4. Mengembangkan opsi bagi kelanjutan program CSR
Di sini tersedia dua opsi, yaitu mengambil pendekatan yang sifatnya incremental ataupun memutuskan
perubahan arah yang lebih komprehensif.
5. Membuat keputusan dalam hal arah, pendekatan, dan fokus
Menentukan arah berarti memutuskan area utama di mana perhatian ditujukan. Sebagai contoh, sebuah
perusahaan pertambangan mungkin akan memusatkan perhatian kepada terjalinnya hubungan baik
dengan komunitas sekitar. Pendekatan mengacu kepada bagaimana sebuah perusahaan berencana untuk

bergerak menuju arah yang telah ditentukan. Sedangkan fokus harus diselaraskan dengan tujuan bisnis
perusahaan, dan oleh karenanya harus menjadi prioritas. Dengan adanya fokus, dapat diidentifikasi
kesenjangan dalam proses-proses perusahaan, pemanfaatan peluang-peluang yang muncul, serta perhatian
terhadap kebutuhan-kebutuhan stakeholder-stakeholder kunci tertentu.
llustrasi. Langkah Pengembangan Strategi CSR
1. Membangun dukungan dengan manajemen senior dan karyawan
2. Pengamatan terhadap pihak lain
3. Mempersiapkan matriks aktivitas CSR yang diusulkan
4. Mengembangkan opsi bagi kelanjutan program CSR
5. Membuat keputusan dalam hal arah, pendekatan, dan fokus
Strategi Pengelolaan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Strategi Reaktif

Kegiatan bisnis yang melakukan strategi reaktif dalam tanggung jawab sosial cenderung menolak atau
menghindarkan diri dari tanggung jawab sosial.

Strategi Defensif

Strategi defensif dalam tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh perusahaan terkait dengan
penggunaan pendekatan legal atau jalur hukum untuk menghindarkan diri atau menolak tanggung jawab
sosial.

Strategi Akomodatif

Strategi Akomidatif merupakan tanggung jawab sosial yang dijalankan perusahaan dikarenakan adanya
tuntutan dari masyarakat dan lingkungan sekitar akan hal tersebut

Strategi Proaktif

Perusahaan memandang bahwa tanggung jawab sosial adalah bagian dari tanggung jawab untuk
memuaskan stakeholders. Jika stakeholdersterpuaskan, maka citra positif terhadap perusahaan akan
terbangun.
STRATEGI CSR untuk pacu daya saing bisnis
Ketimpangan sosial dan ekonomi, pemanasan bumi, globalisasi, perkembangan teknologi informasi, dan
maraknya iklim demokrasi yang terlalu pesat, mendorong peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap
CSR.
Pada saat yang sama, untuk tujuan keberlanjutan bisnis, dunia usaha juga menyadari pentingnya CSR
sebagai fondasi dalam membangun kepercayaan dari para pemangku kepentingan. Secara global prinsip-

prinsip CSR pada dasarnya berlaku umum, tetapi penerapan yang sukses sangat dipengaruhi langsung
oleh strategi bisnis perusahaan terhadap kepentingan masyarakat tempat perusahaan itu beroperasi.
Banyak perusahaan yang mengaku telah melaksanakan CSR justru masih menghadapi hubungan yang
tidak saling mendukung dengan para pemangku kepentingannya. Mengapa demikian? Jika kita amati
semua proses kegiatan bisnis suatu perusahaan terdiri dari dua bagian, yakni proses internal dan proses
eksternal.
Kita mahfum bahwa proses internal perusahaan bisa dikatakan nyaris terkendali, apalagi pada perusahaan
yang sudah melaksanakan tata kelola yang baik. Adapun proses eksternal perusahaan, misalnya terkait
hubungan dengan pemerintah, masyarakat, dan atau pihak eksternal lainnya, tidak mudah untuk
dikendalikan. Dengan dalih menggapai keberlanjutan pertumbuhan usaha, mau tidak mau perusahaan
harus memastikan proses eksternalnya berjalan baik melalui penerapan strategi dan program-program
CSR yang terintegrasi dengan strategi bisnis.
Jadi jelas, perusahaan yang melaksanakan program CSR yang belum terintegrasi dengan strategi
bisnisnya, sering kali menghadapi banyak permasalahan dengan masyarakat atau pemangku kepentingan
lainnya.
Adakalanya, strategi CSR sudah dirancang baik tetapi karena hanya menyiapkan prasarananya saja, tidak
disertai dengan penyiapan piranti lunak dan sumber daya manusianya, sering kali program CSR
perusahaan menjadi tidak efektif.
Berbeda dengan situasi di negara maju, di banyak negara berkembang dengan terbatasnya kapasitas
dalam membangun modal sosial, guna mendukung operasional bisnis perusahaan, dimana infrastruktur
dasar masih belum memadai, kebutuhan investasi sosial menjadi lebih dominan.
Pembenaran aspek komersial terhadap investasi sosial terletak pada kontribusi perusahaan di dalam
mewujudkan iklim bisnis yang sehat dan stabil.
Secara fundamental, dunia usaha, atau korporasi selalu menjajakan produk dan jasa kepada kelompok
pelanggan, yang pada kenyataannya merupakan pasar mereka. Jika ingin bertahan, perusahaan harus
dapat menjamin, selalu menawarkan produk dan atau jasa yang inovatif pada saat yang tepat, untuk
memenuhi kebutuhan pasar pada harga terbaik dan dengan dukungan kepastian pasokan.
Hal itu harus menjadi komitmen yang berlangsung terus-menerus untuk mengantisipasi kebutuhankebutuhan terhadap perubahan.
Pertumbuhan volume produk dan atau jasa hanya dapat diperoleh dari peningkatan permintaan konsumen
melalui edukasi dan upaya mengondisikan masyarakat untuk dapat menerima produk dan atau jasa
tersebut.
Dalam hal membuka bisnis di negara-negara berkembang yaitu modal sosial belum tersedia, faktor
penting lainnya yang perlu dipertimbangkan adalah peningkatan daya beli masyarakat melalui penyerapan
tenaga kerja dan atau program penciptaan kesejahteraan.
Peningkatan daya beli menjadi sangat fundamental untuk memastikan keberhasilan dalam memperluas
pasar.
Setiap investasi bisnis di pasar yang sedang berkembang, dalam membangun infrastruktur harus
memberikan prioritas pada penciptaan peluang masyarakat untuk tumbuh dan berkembang secara
bersama. Hal ini bisa dilakukan dari dua arah, melalui CSR internal untuk pegawai dan CSR eksternal

melalui pengembangan rantai pasokan.


Jangka panjang Banyak orang memperdebatkan bahwa membangun rantai pasokan yang efektif tidak ada
kaitannya dengan CSR dan hanya berurusan dengan rantai ekonomi. Meski demikian, jika membangun
rantai pasokan dengan melibatkan pemberdayaan UMKM, yaitu mencakup bukan hanya membangun
rantai ekonomi semata, tetapi juga meningkatkan pengetahuan teknis, praktikpraktik terbaik, kode etik,
pelatihan dan pemberdayaan terus-menerus, hal ini jelas menjadi isu CSR.
Pengembangan rantai nilai jenis ini akan membawa bentuk kerja sama jangka panjang, juga pertumbuhan
yang berkelanjutan untuk semua pihak.
Upaya memperluas pasar di negaranegara berkembang melibatkan pemberdayaan dan edukasi
masyarakat, peningkatan gaya hidup, dan pengenalan produk dan jasa untuk menjawab kebutuhan dari
konsumen.
Jika ingin menumbuhkan pasar secara berkelanjutan, tentu harus dikondisikan upaya memastikan
lingkungan bisnis yang kondusif untuk tujuan mengundang investasi yang lebih besar.
Bisnis akan tumbuh berkesinambungan di dalam suatu lingkungan yang kondusif untuk berkembang.
Pengembangan kebutuhan saat ini harus selalu dilaksanakan tanpa mengorbankan kemampuan generasi
mendatang untuk kualitas hidup yang layak dan pelestarian lingkungan.
Dengan kata lain, ketaatan terhadap regulasi dan prinsip prinsip tata kelola usaha yang baik dan CSR,
menjadi suatu keharusan. Tata kelola usaha yang baik dan CSR merupakan elemen penting didalam
memberikan kontribusi terhadap kesuksesan perusahaan, sama pentingnya namun dengan perspektif yang
berbeda dengan tolok ukur keuangan.
Bisnis tidak akan bertahan dan tidak akan berkesinambungan tanpa mengejar dimensi penciptaan nilai 3P
(Profit, People and Planet).
Keseimbangan 3P menghasilkan kegiatan CSR yang membutuhkan implementasi yang cerdik dan tepat
waktu. CSR harus menjadi bagian dari strategi bisnis guna meningkatkan kemampuan daya saing pada
area keunggulan merek, reputasi perusahaan, dan pelestarian lingkungan.
Perusahaan dan masyarakat menjadi saling bersinergi. Perusahaan tidak dapat tumbuh dengan sendirinya
tanpa dukungan masyarakat. Oleh karena itu, strategi dan program CSR harus terintegrasi ke dalam
strategi bisnis.
Konsekuensinya biaya CSR merupakan bagian dari biaya operasional bisnis. Pertimbangan yang teliti
perlu dilakukan sebelum memutuskan kegiatan CSR apa saja yang akan dipilih.
Secara ideal, perilaku CSR harus menjadi kultur.
CSR harus menjadi komitmen dari atas dan dimulai dari rentang pengaruh yang terdekat.
Strategi dasar CSR harus dirumuskan pada tingkat pimpinan untuk kemudian diadopsi pada tingkat yang
lebih rendah, mengacu pada kepentingan masyarakat. K etika membangun aliansi dengan LSM,
Pemerintah, dan atau lembaga pendidikan, kegiatan CSR harus diarahkan dan dimonitor dengan saksama
oleh pemilik proyek CSR.
Jika kita amati perilaku bisnis di dalam melakukan ekspansi, ternyata ada dua mazhab. Pertama, mazhab
yang meyakini bahwa ekspansi bisnis akan terkendali dengan baik, dengan cara menangani rantai
penciptaan nilai melalui pembentukan anak-anak bahkan cucu-cucu perusahaan, baik ke hilir maupun ke
hulu.

Kedua, mazhab yang meyakini bahwa ekspansi bisnis dapat dilakukan dengan cara, tetap fokus pada
bisnis inti sambil melibatkan rantai pasokan dengan memberdayakan UMKM di daerah-daerah tempat
operasi perusahaan menjangkaunya.
Perusahaan yang menganut mazhab ini, filosifinya adalah melancarkan perputaran ekonomi baik secara
mikro maupun makro.
Pemberdayaan UMKM di daerah-daerah, di satu sisi akan meningkatkan daya beli masyarakat yang pada
giliran berikutnya secara langsung dan tidak langsung akan meningkatkan penjualan produk dan atau jasa
perusahaan.
Dengan pendekatan ini, justru pertumbuhan bisnis perusahaan dan kesejahteraan masyarakat meningkat
secara signifikan. Dari sisi yang lain, organisasi pengelolaan bisnis perusahaan tetap ramping dan efisien
dengan jangkauan kendali bisnis yang semakin meluas.

Anda mungkin juga menyukai