Anda di halaman 1dari 7

TUMOR JINAK DAN GANAS PADA SINUS PARANASAL

Sekitar 80% tumor yang menyerang sinus paranasal dan kavum nasi adalah karsinoma
sel skuamosa dan hampir 80% menyerang sinus maksilaris. Tanda-tanda klasik pada tumor
iniadalah destruksi tulang-tulang yang agresif dan ekspansif. Tumor pada sinus paranasal
sekitar kavum nasi menghasilkan gejala-gejala sesuai dengan lokasi massa tersebut yaitu,
penyumbatan hidung, diplopia, perubahan suara (Rachman, 2008).

Mukokel
Mukokel adalah suatu massa eptelial, berisi mukus yang mengisi ruang sinus
paranasal dan diakibatkan oleh obstruksi ostium sinus atau obstruksi kelenjaryang mensekresi
mukus. Mukokel pada sinus paranasal merupakan satu atau lebih dari berbagai perselubungan
opak yang disebabkan adanya mukus, dan sering berhubungan dengan ekspansi pada tulang.
Cairan mukokel steril dan jika terdapat infeksi disebut mucopyocele. Sifatnya jinak, terletak
dalam kapsul, beris mukus, dan dilapisi oleh epitel kolumnar skuamosa (Goel & Gaillard).
Penyebab pasti mukokel belum jelas. Ada teori yang mengatakan bahwa obstruksi
ostium sinus yang merupakan penyebab utama. Mukokel dapat timbul akibat adhesi (postinflamasi, post-trauma atau post-operasi) yang menyebabkan obstruksi drainase sinus.
Produksi mukus yang terus menerus dalam mukokel, menyebabkan mukokel bertambah
besar, sehingga memberikan tekanan pada dinding sinus. Selanjutnya dapat tejadi
devaskularisasi pada tulang dan penipisan tulang dinding sinus sehingga dapat melibatkan
struktur sekitar sinus seperti orbita (Goel & Gaillard).
Jika mukokel terinfeksi, manifestasi klinisnya mirip dengan sinusitis,dan dapat
menginfeksi jaringan disekitarnya.

intracranial: subdural empyema, meningitis, cerebral abscess

orbit: subperiosteal abscess

Gambaran Radiologi
1. Foto polos
Foto polos tidak memiliki peranan yang penting dalam diagnosis mukokel. Bila ada,
dapat menunjukkan perselubungan opak dan ekspansi ke sinus.
Foto Waters menunjukkan kista yang normalnya sinus maxilla tersebut berisi udara

2.

CT-scan
Adanya gambaran opak, bagian tepi menipis.
Daerah
dari
resorpsi
tulang
akan
mengakibatkan defek pada tulang dan ekstensi massa ke jaringan sekitarnya.
Kadang-kadang terdapat kalsifikasi perifer. Isi dari sinus bervariasi tergantung pada
tingkat hidrasi , mulai dari tingkat densitas air yang lemah menjadi hiperdens.
3. MRI
Sinyal MRI intensitasnya bervariasi dan disesuaikan dengan proporsi air, mukus, dan
protein.

T1
o water rich content: low signal (most common)
o protein rich content: high signal

T2
o water rich content: high signal (most common)
o protein rich content: low signal

T1 C+ (Gd): bila terjadi penambahan, hanya terjadi di bagian perifer

DWI: variable

Tumor Ganas
Keganasan pada sinus paranasal umum terjadi di Asia dan Afrika daripada di
Amerika. Di Asia, keganasan pada sinus paranasal menempati urutan kedua paling
umum pada jenis kanker kepala dan leher. Sekitar 60-70% keganasan terjadi di sinus
maksilaris dan 20-30% pada kavitas nasalis. Sekitar 10-15% terjadi di sinus
eitmodalis..
Delapan puluh persen tumor yang menyerang sinus paranasal dan kavum nasi
adalah karsinoma sel skuamosa. Tanda-tanda klasik tumor ini adalah destruksi tulangtulang yang agresif dan ekspansif meliputi seluruh ruangan sinus. Tumor ini
mengalami enhance yang sangat minim, seperti densitas jaringan lunak hampir sama
dengan otot-otot. Hampir 80% karsinoma sinus maksilaris menyebabkan destruksi
tulang (Rachman, 2008).
Diperkirakan penyebab squamous cell carcinoma dan adenocarcinoma pada
suatu daerah berhubungan paparan debu nikel, gas mustard, isopropil oil, diklorodietil
sulfida. Paparan debu kayu khususnya dapat meningkatkan resiko squamous cell
carcinoma 21 kali dan adenocarcinoma 874 kali. Banyak dari faktor-faktor ini
ditemukan pada industri furnitur, industri pengolahan kulit hewan, dan industri tekstil.
Riwayat sosial dan pekerjaan harus ditanyakan pada pasien-pasien yang mempunyai
gejala yang mengarah ke keganasan pada sinus paranasal.
Infeksi virus dan hubungannya terhadap keganasan merupakan hal yang
menarik tetapi belum cukup diteliti. Studi pendahuluan mempelihatkan bahwa
peningkatan ekspresi dari epidermal growth factor reseptor (EGFR) dan transforming
growth factor-alpha (TGF-alpha) mungkin berhubungan dengan paparan awal
karsinogen yang menyebabkan papilloma inverting. Infeksi Human papilloma virus
(HPV) dan Epstein-Barr virus (EBV) mungkin juga merupakan awal dari proses
panjang yang menyebabkan perubahan papilloma inverting menjadi ganas. Golongan
karsinogen yang merubah fungsi kualitatif dan kuantitatif organ-organ tertentu yang
berakibat sekresi organ-organ tersebut mengandung bahan-bahan karsinogen.
Radiologis
Tanda-tanda radiologis pada foto polos kepala dan CT kepala adalah adanya
massa pada sinus maksilaris disertai destruksi tulang-tulang aktif, hanya pada CT
kepala dapat ditambahkan evaluasi tambahan daerah fossa infratemporalis dan daerah

parafaringeal. Hal ini dapat menentukan apakah tumor menyebar pada daerah tersebut
di atas atau ke atas ke daerah basis kranii.
Ada sekelompok tumor dengan tanda-tanda radiologik yang khas yaitu adanya
ekspansif aktif meliputi seluruh rongga sinus, destruksi tulang dinding pada sinus
yang diserang, tetapi secara garis besar tulang-tulang tersebut mengalami rekalsifikasi
lagi, sehingga sering tumor ini diangap jinak, tetapi secara patologis prognosisnya
jelek.

Foto CT pasien dengan kanker sinus maxilla


menunjukkan penghancuran tulang (anak
panah) yang merupakan tanda utama
keganasan

inverting
papilloma

computed
tomography
Transverse section through the nasal
cavity. A spindle-shaped tumor fills in the
nasal cavity. The tumor extends into the
pterygopalatine fossa (arrow) and the
posterior and medial wall of the maxillary
sinus is destroyed being suspicious for
amalignant component within the polypoid
tumor.

Squamous cell carcinoma - computed tomography Trarnsverse section through the


sphenoid sinus. A tumor fills in the sinus with spread into the middle cranial fossa (black
arrows)
and
the
inferior
orbital
fissure
(open
arrow).

DAFTAR PUSTAKA

Goel, A., & Gaillard, F. (t.thn.). Paranasal sinus mucocoele. Dipetik November 26, 2014,
dari Radiopaedia.org: http://radiopaedia.org/articles/paranasal-sinus-mucocoele
Rachman, M. D. (2008). Sinus Paranasal dan Mastoid. Dalam S. Rasad, RADIOLOGI
DIAGNOSTIK (hal. 431-446). Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Christopher.
Klem,
2009.
http://www.emedicine.medscape.com

Malignant

tumors

of

the

sinuses.

Soepardi EA, Iskandar N, 2001. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung
Tenggorok Kepala Leher Edisi Kelima. Balai Penerbit FKUI: Jakarta.