Anda di halaman 1dari 23

METODE ANALISIS PERENCANAAN

Analisis Penentuan Tingkat Kekotaan di Kabupaten Donggala

Di susun Oleh:
Kelompok 5
Aldira Zada Azarine F 32115007
Radhiatul Mar ah
Dedi Wicaksosno
Ajat Sudrajat

F 23115019
F 2311542
F 23114062

Moh Fikram
Beth Noel Salu

F 231140
F 23115030

PRODI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TADULAKO
2016

METODE ANALISIS PERENCANAAN

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Wilayah merupakan suatu bagian yang meliputi segala sesuatu di permukaan bumi
dihuni manusia yang meliputi segala prasarana dan sarana yang menunjang kehidupan
penduduk yang menjadi satu kesatuan dengan tempat tinggal yang bersangkutan. Definisi
wilayah menurut Murty (2000) yaitu sebagai suatu area geografis, teritorial atau tempat, yang
dapat berwujud sebagai suatu negara, negara bagian, provinsi, distrik (kabupaten), dan
perdesaan. Secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan
di suatu wilayah adalah faktor fisik, sosial, budaya, ekonomi, politik dan lain sebagainya.
Faktor sosial adalah karakter demografinya, struktur dan organisasi sosial, dan relasisosial di
antara penduduk yang menghuni wilayah tersebut tersebut. Faktor budaya

yang

mempengaruhi adalah tradisi setempat, pengetahuan IPTEK. Faktor ekonomi adalah daya
beli masyarakat, mata pencaharian, transportasi dan komunikasi. Faktor politik adalah
pemerintah dan kebijakan setempat (Sumaatmadja dalam Taufiqurrahman, 2010).
Menurut Peraturan Mendagri RI No. 4/ 1980 Kota adalah suatu wilayah yang memiliki
batasan administrasi wilayah seperti kotamadya dan kota administratif. Kota juga berarti
suatu lingkungan kehidupan perkotaan yang mempunyai ciri non agraris, misalnya ibukota
kabupaten, ibukota kecamatan yang berfungsi sebagai pusat pertumbuhan. Pada dasarnya
suatu daerah terdiri dari dua elemen, yaitu Settlement centers dan Production areas.
Settlement centers merupakan tempat yang populasinya adalah di mana orang-orang berada.
Unsurnya adalah wilayah perkotaan yang banyak aktivitas dan infrastuktur juga sarananya.
Sedangkan Production areas merupakan tempat kegiatan ekonomi yang produksi daerahnya
dikonsumsi sendiri oleh daerah tersebut. Unsurnya adalah area pedesaan yang sebagian
besar dijadikan tanah pertanian. Analisis mengenai ruang digunakan untuk menguji kondisi
yang ada, mengenai sruktur ruangnya yang membahas hirarki tempat pusat dan pengaruh
daerahnya.
Analisis hierarki pada suatu kabupaten dapat dilakukan melalui analisis fungsi wilayah.
Analisis fungsi wilayah merupakan analisis terhadap fungsi-fungsi pelayanan yang terdapat
di wilayah yang diamati.Analisis yang dilakukan menggunakan cara analisis fungsi
pemukiman. Analisis yang dilakukan menggunakan instrumen-instrumen fasilitas pelayanan
METODE ANALISIS PERENCANAAN

seperti : pendidikan, kesehataan, dan jasa. Oleh karena itu tulisan ini akan menganalisis pusat
pelayanan yang ada di Kabupaten Donggala untuk mengetahui pusat perkotaannya.
1.2 Rumusan Masalah
Kecamatan manakah yang layak di jadikan sebagai Ibu Kota di Kabupaten Donggala,
Provinsi Sulawesi Tengah?
1.3 Tujuan
Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui Ibu Kota di Kabupaten Donggala dengan
melihat kelengkapan fasilitas pelayanan yang ada di kecamatan-kecamatan yang dianalisis
menggunakan metode skalogram.

1.4 Ruang Lingkup


1.4 .1 Ruang Lingkup Wilayah
Ruang lingkup wilayah dalam laporan ini mencakup

Kabupaten Donggala,

Kabupaten Donggala terletak antara 0,30 Lintang Utara dan 2,20 Lintang Selatan serta
119,45- 121,45 Bujur Timur dengan batas wilayah sebagai berikut :
Sebelah Utara

= berbatasan dengan Kabupaten Toli-toli

Sebelah Timur

= berbatasan dengan Kabupaten Parigi Muotong, Kabupaten Sigi dan Kota


Palu

Sebelah Selatan

= berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Barat, Kabupaten Sigi dan Kota


Palu

Sebelah Barat

= berbatasan dengan Propinsi Sulawesi Barat dan Selat Makassar.

1.4.2 Ruang Lingkup Materi


Ruang lingkup materi dalam laporan ini adalah analisis penentuan pusat kota di
Kabupaten Donggala dengan metode skalogram.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Kota
Kota berasal dari kata urban yang mengandung pengertian kekotaan dan perkotaan.
Kekotaan menyangkut sifat-sifat yang melekat pada kota dalam artian fisikal, social,
ekonomi, budaya. Perkotaan mengacu pada areal yang memiliki suasana penghidupan dan
kehidupan modern dan menjadi wewenang pemerintah kota, dan juga suatu sistem jaringan
kehidupan manusia dengan kepadatan penduduk yang tinggi, strata sosial ekonomi yang
heterogen, dan bercorak.
Peranan Kota
Kota yang telah berkembang memiliki peranan sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Sebagai pusat permukiman penduduk


Sebagai pusat kegiatan Ekonomi
Sebagai pusat kegiatan sosial budaya
Sebagai pusat kegiatan politik dan administrasi pemerintah dan tempat kedudukan
pimpinan pemerintah.
Dalam suatu wilayah, khususnya kabupaten tentunya terdapat Ibu Kota dari

kabupaten tersebut . dalam terbentuknya kota, ada faktor yang ditinjau yang menjadikan
daerah tersebut layak dan di sebut sebagai Ibu Kota Kabupaten.
2.2 Kota Ditinjau Dari Fisik Morfologi
Kota ditinjau dari fisik morfologi merupakan salah satu elemen suatu wilayah dapat
dilihat luas atau sempit wilayah tersebut dengan melihat kondisi alam maupun lingkungannya
dapat dilihat dari bentuk tumbuh dan berkembangnya suatu kota yang mengalami perubahan
sesuai dengan sifat dinamikanya perkembangan dan pertumbuhan kota yang bersangkutan.
2.3 Kota Ditinjau Dari Jumlah Penduduk
Dalam hal ini dimaksudkan adalah daerah tertentu dalam wilayah yang mempunyai
aglomerasi jumlah penduduk minimal yang telah ditentukan dan penduduk mana bertempat
tinggal pada satuan permukiman yang kompak.oleh karena sebaran permukiman dapat terjadi
secara sporadis,dan untuk mengenali aglomersi penduduknya yang memungkinkan

terciptanya sistem kekotaan yang solid maka adanya satuan permukiman yang kompak
adalah suatu persyaratan yang tidak boleh diabaikan. .maka dari itu dengan melihat
konsentrasi maupun tingkat penduduknya yang tinggi, maka daerah tersebut dikatakan
sebagai ibu kota
2.4 Kota Ditinjau Dari Tingkat Pendidikan
Disuatu wilayah khususnya di kecamatan, pendidikan merupakan suatu cara yang
baik untuk mengubah tingkat kehidupan di masa yang akan datang. Dengan melihat kondisi
fasilitas pendidikan di kecamatan terlebih dipelosok yang masih kurang, Maka dari itu
adanya fasilitas yang menunjang pendidikan. Semakin banyak fasilitas tingkat pendidikan
disuatu wilayah, maka daerah tersebut bisa saja termasuk dalam kriteria terbentuknya ibu
kota.
2.5 Kota Ditinjau Dari Tingkat Ekonomi
Dengan melihat perekonomian disuatu wilayah, dapat ditinjau dari aktifitas ekonomi
lewat perdagangan dan bisnis yang berjalan dikehidupan masyarakat, dan juga dilihat dari
tingkat pendapatan dari para pekerjanya. Jika kedua hal tersebut terus menerus berjalan,
pemasukan dan pengeluaran ekonomi yang tinggi, pendapatan yang tinggi, maka daerah
tersebut layak dan termasuk ibu kota.
2.6 Kota Ditinjau Dari Tingkat Transportasi
Transportasi merupakan sarana penunjang masyarakat untuk melakukan aktifitas
maupun kegiatan yang jangkauannya cukup jauh.dengan melihat tingkat atau jumlah
transportasi yang tinggi disuatu daerah, maka daerah tersebut termasuk dalam kriteria ibu
kota.

Perbedaan Ciri-Ciri Kota dan Bukan Kota

No
1
2
3
4

Unsur pembeda
Mata pencaharian
Ruang kerja
Musim / Cuaca
Keahlian /

Desa
Agraris homogin
Terbuka /Lapangan
Penting / Menentukan
Umum / Menyebar

Kota
Non agraris heterogin
Ruang tertutup
Tidak penting
Spesialisasi dan

Keterampilan
Jarak rumah dengan

Dekat (relatif)

mengelompok
Jauh (terpisah) -relatif

6
7
8
9
10
11

tempat kerja
Kepadatan penduduk
Kepadatan rumah
Kontak sosial
Strata sosial
Kelembagaan
Kontrol sosial

Rendah
Rendah
Frekuensi rendah
Sederhana
Terbatas
Adat /tradisi

Tinggi
Tinggi
Frekuensi tinggi
Kompleks
Kompleks
Adat /tradisi tidak

berperanan besar

berperanan besar, tetapi UU/


peraturan tertulis

12
13
14

Sifat masyarakat

Gotong-royong

berperanan besar
Patembayan

Mobilitas penduduk
Status sosial

(paguyuban)
Rendah
Stabil

Tinggi
Tidak stabil

2.7 Analisis Skalogram Guttman


Metode sklagoram ini sering juga disebut sebagai metode analisis skala Guttman.
Menurut Soenjoto yang dikutip dari Dias dan Dippos (1997), metode analisis skala Guttman
merupakan suatu teknik skala, yang memiliki sedikit perbedaan dengan teknik-teknik skala
lainnya. Perbedaan tersebut terletak pada persyaratan-persyaratan yang diajukan Guttman
dalam membentuk skalanya. Persyaratan-persyaratan tersebut merupakan sifat-sifatnya
yaitu :
a) variabel-variabel (pernyataan-pernyataan) dalam suatu set pernyataan harus homogen
(undimensional) atau memiliki ketunggalan dimensi. Artinya skala sebaiknya hanya
mengukur satu dimensi saja dari variabel yang memiliki banyak dimensi. Misalnya,
walaupun variabel nilai anak mempunyai dimensi ekonomi, dimensi psikologi, dan
dimensi sosial, namun suatu skala nilai anak sebaiknya hanya mengukur salah satu
dimensi saja.
b) seperangkat variabel-variabel

dalam

suatu

set

pernyataan

harus

bersifat

kumulatif, yang berarti pernyataan-pernyataan mempunyai bobot yang berbeda, dan

apabila seorang responden menyetujui pernyataan yang lebih berat bobotnya, maka
dia diharapkan akan menyetujui pernyataan-pernyataan yang lebih rendah/ringan.
Untuk lebih memahami tentang persyaratan-persyaratan yang diajukan oleh Guttman
seperti tersebut di atas, berikut ini diberikan suatu contoh. Contoh ini merupakan salah satu
dari tiga perangkat variabel yang digunakan dalam mengukur ketiga fungsi. Variabel-variabel
tersebut ialah sebagai berikut: 1) Jumlah penduduk pusat perkembangan kota (kota
kecamatan); 2) jumlah tenaga kerja di sektor perkotaan, yang mencakup tenaga kerja sektor
perdagangan, industri, jasa dan pegawai negeri; 3) jumlah sekolah lanjutan pertama; 4)
jumlah sekolah lanjutan atas, 5) jumlah akademi dan perguruan tinggi.
Dari variabel-variabel tersebut di atas, jelas bahwa seperangkat variabel tersebut
memiliki sifat-sifat homogen dan kumulatif. Semua variabel berusaha untuk dapat mengukur
objek tunggal guna mengukur tingkatan perkembangan pusat-pusat (ibukota-ibukota
kecamatan), dan variabel-variabel tersebut kemungkinan untuk dipunyai pada pusat
perkembangan, tersusun dari yang mudah didapat sampai ke tingkat yang sulit didapat atau
sebaliknya (sifat kumulatif).
Kemudian dari contoh tadi, diharapkan suatu pusat perkembangan akan cenderung
memiliki variabel 1 daripada 2, atau variabel 3 daripada 4. Hal ini disebabkan menurut logika
atau kebutuhan dan batas ambang penduduknya bahwa suatu pusat terlebih dahulu memiliki
penduduk daripada tenaga kerja di sektor perkotaan, atau akan terlebih dahulu membutuhkan
SLP daripada akademi dan perguruan tinggi. Jadi dengan perangkat variabel-variabel
tersebut, diharapkan setiap pusat perkembangan dapat dinilai. Jika pusat tersebut memiliki
variabel 2 maka akan memiliki variabel 1, atau jika pusat tersebut memiliki variabel 5, maka
akan memiliki variabel 4 dan 3. Akan tetapi jika pusat perkembangan memiliki variabel 1,
maka tak akan selalu memiliki variabel 2, 3, 4, dan 5.
Lebih lanjut dalam perhitungan metode ini dikenal cara penyusunan tabel skala
Guttman dengan tahapan sebagai berikut : 1) menyiapkan matriks data dasar, yang
mengandung jumlah objek penelitian dengan jumlah variabel yang digunakan untuk
mengukur tingkat perekonomian, tingkat pelayanan masyarakat, dan tingkat sumberdaya
manusia; 2) perhitungan dengan menggunakan titik potong (cutting point). Titik potong
adalah suatu nilai tertentu (ditentukan) untuk menetapkan batas antara kelompok-kelompok
objek penelitian yang memperlihatkan tingkatan tiap objek penelitian terhadaap variabelvariabel yang ada. Jadi, tingkat tiap-tiap objek penelitian ditentukan oleh besarnya jumlah
tiap-tiap variabel yang dimiliki pada objek-objek penelitian tersebut. Dalam studi ini

tingkatan tiap-tiap objek penelitian terhadap variabel-variabelnya dibagi menjadi tiga


tingkatan, yaitu tingkat tinggi, tingkat sedang, dan tingkat rendah.
Interval Nilai = Nilai Tertinggi Nilai Terendah
3
Selanjutnya, nilai masing-masing objek dimasukkan ke dalam tabel skala Guttman.
Sebelumnya tabel skala Guttman dibagi atas tiga kolom penilaian, yaitu tinggi-sedangrendah, dengan objek penelitian sebagai barisnya. Tiap tingkatan nilai tinggi-sedang-rendah
memiliki skor tertentu. Susunan variabel dari masing-masing kolom klasifikasi dapat diubah
penempatannya, tergantung hasil yang paling baik. Hasil dikatakan paling baik jika memiliki
coefficient of reproducibility yang mendekati 1 (atau > 0,9).
Pada kenyataannyaa, pola skala Guttman yang sempurna jarang sekali terjadi,
dikarenakan adanya penyimpangan-penyimpangan dan penyimpangan ini disebut error.
Sempurna atau tidaknya skala Guttman dapat ditunjukkan oleh coefficient of reproducibility,
yaitu merupakan suatu koefisien yang menunjukkan seberapa jauh suatu skor yang diperoleh
suatu objek penelitian benar-benar dapat memberikan prediksi terhadap reaksi-reaksi objekobjek penelitian dalam skala yang bersangkutan. Nilai dari koefisien ini bervariasi dari 0
sampai 1. Menurut Soenjoto seperti dikutip Rinaldi (2004:40), nilai koefisien yang makin
mendekati nilai 1, akan menunjukkan skala Guttman yang semakin sempurna, dan biasanya
koefisien yang bernilai lebih besar dari 0,9 dianggap menunjukkan suatu skala yang berlaku.
COR (coefficient of reproducibility) = ( frekuensi kesalahan ) x 100%
Frekuensi
2.8 Analisis Indeks Sentralitas Marshall
Indeks sentralitas digunakan untuk melihat kemampuan pelayanan suatu pusat
ditinjau jumlah unit fasilitas yang terdapat pada pusat pelayanan. Nilai keterpusatan dapat
diperoleh dari jumlah total bobot masing-masing jenis fasilitas dikalikan jumlah fasilitas
tersebut. Prinsip pembobotan suatu fasilitas dilakukan dengan cara membagi nilai sentralitas
gabungan (100) dengan jumlah fasilitas yang terdapat di seluruh pusat pelayanan, jadi
semakin besar jumlah suatu fasilitas maka bobotnya akan semakin kecil, demikian pula
sebaliknya

(Rondinelli,

1985:

125).

Pusat-pusat

pelayanan

tersebut

selanjutnya

dikelompokkan secara interval berdasarkan nilai sentralitas.


Analisis indeks sentralitas Marshall digunakan untuk memberikan bobot pada fasilitas
yang ada. Dengan analisi ini dapat ditentukan hierarki dari masing-masing kota. Untuk
menentukan nilai sentralitas bobot dapat dihitung dari persamaan berikut:

t
C= T
C= Bobot dari atribut suatu fasilitas
t = Nilai sentralitas gabungan
T = Jumlah total atribut fasilitas
Setelah mengetahui nilai sentralitas, kita dapat menentukan indeks sentralitas dengan
mengalikanya dengan jumlah fasilitas yang ada. Berdasarkan range yang kemudian dapat
ditentukan hierarki (tingkatan) masing-masig kota.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pengertian Metode Skalogram

Metode skalogram merupakan salah satu alat untuk mengidentifikasi pusat


pertumbuhan wilayah berdasarkan fasilitas yang dimilikinya, dengan demikian dapat
ditentukan hirarki pusat-pusat pertumbuhan dan aktivitas pelayanan suatu wilayah. Wilayah
dengan fasilitas yang lebih lengkap merupakan pusat pelayanan, sedangkan wilayah dengan
fasilitas yang kurang akan menjadi daerah belakang (hinterland).
Skalogram pada umumnya digunakan untuk menganalisis pusat-pusat permukiman,
khususnya hirarki atau orde pusat-pusat permukiman. Subjek dalam analisis ini merupakan
pusat permukiman (settlement), sedangkan obyek diganti dengan fungsi atau kegiatan.
Dengan beberapa tambahan analisis, misalnya aturan Marshall, atau algoritma Reed-Muench,
table skalogram menjadi indikasi awal analisis jangkauan pelayanan setiap fungsi dan pusat
permukiman yang dihasilkan.
Alat analisis scalogram membahas mengenai fasilitas perkotaan yang dimiliki suatu
daerah sebagai indicator difungsikannya daerah tersebut sebagai salah satu pusat
pertumbuhan. Tujuan digunakannya analisis ini adalah untuk mengidentifikasi kota-kota yang
dapat dikelompokkan menjadi pusat-pusat pertumbuhan berdasarkan pada fasilitas kota yang
tersedia (Blakely, 1994: 94-99).
3.2 Klasifikasi Kota Berdasarkan Metode Skalogram
Analisis scalogram mengelompokkan klasifikasi kota berdasarkan tiga komponen
fasilitas dasar yang dimilikinya yaitu :
A. Differentiation
Adalah fasilitas yang berkaitan dengan aktifitas ekonomi. Fasilitas ini menunjukkan
bahwa adanya struktur kegiatan ekonomi lingkungan yang kompleks, jumlah dan tipe fasilitas
komersial akan menunjukkan derajat ekonomi kawasan/kota dan kemungkinan akan menarik
sebagai tempat tinggal dan bekerja.

B. Solidarity
Adalah fasilitas yang berkaitan dengan aktifitas social. Fasilitas ini menunjukkan
tingkat kegiatan social dari kawasan/kota. Fasilitas tersebut dimungkinkan tidak seratus
persen merupakan kegiatan social namun pengelompokkan tersebut masih dimungkinkan jika

fungsi sosialnya relative lebih besar dibandingkan sebagai kegiatan usaha yang berorientasi
pada keuntungan (benefit oriented).
C. Centrality
Adalah fasilitas
Fasilitas

ini

yang

menunjukkan

berkaitan dengan kegiatan ekonomi politik/pemerintahan.


bagaimana

hubungan

dari

masyarakat

dalam

sistem

kota/komunitas. Sentralitas ini diukur melalui perkembangan hierarki dari insitusi sipil,
misalnya kantorpos, sekolahan, kantor pemerintahan dan sejenisnya

BAB IV
ANALISIS SISTEM PUSAT PELAYANAN DI KABUPATEN DONGGALA
4.1 Analisis Skalogram

Dalam

menentukan hierarki

pelayanan

fasilitas

sarana

dan

prasarana

di

Kabupaten Donggala dapat dilihat berdasarkan orde yang didapat dari analisis Skalogram.
Perhitungan skalogram dijabarkan melalui tabel yang berisi fasilitas sarana dan prasarana per
kecamatan. Adapun penilaiannya adalah sebagai berikut:
Angka 1 menunjukkan keberadaan fasilitas sarana dan prasarana pada setiap
kecamatan
Angka 0 menunjukkan kecamatan yang tidak memiliki fasilitas.
Tabel tersebut kemudian dijumlahkan secara horizontal dan vertikal, lalu diurutkan
dari angka terbesar yang diletakkan paling atas dan paling kiri. Setelah diurutkan maka
nilai kesalahan (error) dan hierarki dapat dicari.
Selanjutnya mencari COR menggunakan rumus COR (Coeffisien of Reproducibility)
yang berfungsi untuk pengujian kelayakan skalogram. Dalam hal ini koefisien dianggap layak
apabila bernilai 0,91. Hirarki yang didapat menggunakan rumus dan perhitungan
menjelaskan banyaknya kelas atau orde fasilitas sarana dan prasarana. Semakin Tinggi nilai
orde (orde I) maka semakin tinggi hirarki. Berikut adalah tahapan dan analisis yang
dilakukan:

Memilih jenis fasilitas yang digunakan sebagai variabel dalam matriks


Skalogram. Dibawah ini adalah tabel jenis fasilitas di Kota Denpasar: (lihat halaman
selanjutnya)
Pada tabel di halaman berikutnya terdapat 3 jenis sarana yang ada di Kabupaten
Donggala, yaitu sarana pendidikan (terdiri dari SD, SMP, SMA), sarana kesehatan
(terdiri dari rumah sakit, puskesmas, dan rumah bersalin), dan sarana peribadatan
(terdiri dari masjid, musholla, gereja protestan, gereja katholik, vihara dan pura).
Dapat dilihat bahwa kecamatan yang memiliki jumlah fasilitas tertinggi adalah
Kecamatan Denpasar Selatan dengan 376 fasilitas, sedangkan kecamatan dengan
jumlah fasilitas terendah adalah Kecamatan Denpasar Timur dengan 268 fasilitas.
Kecamatan Denpasar Selatan memiliki penduduk terbanyak dan Kecamatan Denpasar
Timur memiliki penduduk yang paling sedikit. Jadi, dapat diasumsikan bahwa di Kota

Denpasar antara jumlah fasilitas seimbang dengan jumlah penduduknya.


Analisis skalogram adalah mengkonversi seluruh fasilitas yang ada ke dalam
angka (1) dan fasilitas yang tidak ada ke dalam angka (0). Selanjutnya

seluruh fasilitas dijumlahkan menurut baris dan kolom.


Setelah itu menentukan total kesalahan (error), lalu menghitung nilai
persentasenya.
Perhitungan persentase:

Jumla h fasilitas tiap kecamatan


100
Total keseluru h an fasilitas
Karena semua masing-masing kecamatan memiliki (sekurang-kurangnya satu)
fasilitas, maka jumlah fasilitas di masing-masing kecamatan adalah 12 dan nilai
persentasenya adalah 25%

Menentukan jumlah orde,berdasarkan rumus di bawah ini:

Jumla h orde=1+3,3 log n

Dimana n adalah jumlah kecamatan


Perhitungan jumlah orde:
Jumla h orde=1+3,3 log 4

1+ 3,3 (0.602059991)
= 2.987 dibulatkan menjadi 3

Menentukan range dan orde


Karena jumlah jenis fasilitas yang dimiliki masing-masing kecamatan adalah sama,
yaitu 12, maka tidak ada range. Keempat kecamatan adalah orde I, bernilai 12.
Menghitung tingkat kesalahan dengan rumus COR (Coefficient of Reducibility):

Perhitungan COR dari analisis skalogram Kabupaten Donggala adalah sebagai


berikut:

0
(CR)= 1 12 4
(CR) = 1 - 0
(CR) = 1

4.2 Analisis Indeks Sentralitas Marshall


Tabel yang digunakan berisi sarana yang ada di tiap kecamatan disertai bobot
dari tiap sarana dan nilai hasil perhitungan keseluruhan sarana atau fasilitas. Sarana
yang digunakan adalah sarana atau fasilitas berupa fasilitas utama yang menjadi
indikator kualitas hidup masyarakat. Sarana tersebut adalah sarana pendidikan dan sarana
kesehatan. Sarana Pendidikan yang digunakan dalam analisis adalah ,SD, SMP, dan SMA.
Sedangkan untuk sarana Kesehatan yang digunakan adalah puskesmas, rumah sakit, dan
rumah bersalin. Cara menghitung indeks tersebut adalah sebagai berikut:

Mempersiapkan data awal berupa hasil perhitungan Analisis Skalogram.(tabel

telah tersedia)
Menghitung bobot dari tiap fasilitas. Bobot masing-masing fasilitas ini didapatkan

dari rumus :
dimana

C=

t
T

C:

bobot per fasilitas

t:

nilai sentralitas total, diambil sama dengan 100

T:

jumlah total atribut tiap fasilitas.

Mengkalikan jumlah dengan bobot fasilitas.

4.3 HASIL ANALISIS


4.3.1 Hierarki Dan Jumlah Fasilitas Pelayanan Di Kabupaten Donggala Per
Kecamatan Tahun 2016
Penentuan pusat pelayanan dan pusat-pusat permukiman di Kabupaten Donggala
dapat dilihat dengan menggunakan analisis skalogram guttman. Analisis ini dilakukan dengan

melihat ketersediaan fasilitas yang ada di masing-masing kecamatan berdasarkan data dari
Badan Pusat Statistik. Kabupaten Donggala terdiri atas 16 Kecamatan dengan persebaran tiap
jumlah fasilitasnya berbeda-beda. Dalam analisis ini, fasilitas yang digunakan ada 12 fasilitas
diantaranya adalah fasilitas pendidikan yang terdiri SD, SMP, SMA. Fasilitas Kesehatan
yang terdiri atas Puskesmas, Rumah Sakit dan Rumah bersalin. Serta fasilitas peribadatan
yang terdiri atas Masjid, Musholla, Gereja protestan, gereja khatolik, vihara dan pura.
Setelah menganalisis sistem pusat pelayanan permukiman di Kabupaten Donggala
dengan analisis skalogram dan indeks marshall akan diketahui hierarki pelayanan atau kota
pada suatu permukiman per kecamatan. Hieraki atau tingkatan tersebut diketahui dengan
melihat data sekunder yang berisi informasi pada kecamatan mana sajakah yang memiliki
fasilitas paling lengkap. hingga yang berada dibawah standar. Dengan melihat jumlah fasilitas
pelayanan di Kabupaten Donggala per kecamatan maka Hierarki atau tingkatan akan
diketahui. Kecamatan yang memiliki fasilitas paling lengkap dan banyak maka daerah
tersebut dapat dijadikan daerah pusat permukiman atau kota. Tabel-tabel fasilitas pendidikan,
kesehatan, dan jumlah penduduk per kecamatan membantu dalam menganalisis hirarki
daerah di Kabupaten Donggala. Sehingga dapat ditentukan hirarki wilayah yang memiliki
fasilitas yang lengkap sebagai hierarki paling tinggi yang diindikasikan menjadi pusat
permukiman, dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Tabel IV.1
Jumlah Sarana Pendidikan Kabupaten Donggala 2015
No
1
2

Kecamatan
Rio pakava
Pinembani

Sekolah
23
9

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

37
38
15
17
19
31
19
15
25
35
27
47
39
11
407

Banawa selatan
Banawa
Banawa tengah
Labuan
Tanantovea
Sindue
Sindue tombusabora
Sindue tobata
Sirenja
Balaesang
Balaesang tanjung
Dampelas
Sojol
Sojol utara
Jumlah
Sumber : BPS Kabupaten Donggala 2016

Tabel VI. II
Jumlah Sarana Kesehatan Kabupaten Donggala 2015
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Kecamatan
Rio pakava
Pinembani
Banawa selatan
Banawa
Banawa tengah
Labuan
Tanantovea
Sindue
Sindue tombusabora
Sindue tobata
Sirenja
Balaesang
Balaesang tanjung
Dampelas
Sojol
Sojol utara
Jumlah

Rumah Sakit
1
1

Rumah Bersalin
1
1

Sumber : BPS Kabupaten Donggala 2016

Puskesmas
2
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
1
2
1
16

Tabel IV.III
Jumlah Sarana Peribadatan, Kabupaten Donggala 2015
No

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Kecamatan

Rio pakava
Pinembani
Banawa
selatan
Banawa
Banawa
tengah
Labuan
Tanantovea
Sindue
Sindue
tombusabora
Sindue
tobata
Sirenja
Balaesang
Balaesang
tanjung
Dampelas
Sojol

Masjid

Musholla

Gereja

Gereja

Pura

Vihara

protesta

katholi

33
46

16
11

n
32
29
39

k
1
1

31
3

42
18

6
-

1
-

1
-

16
28
28
16

12

1
-

18

32
41
22

2
-

9
12
9

1
-

44
47

21
10

17
1

2
-

15
4

16

Sojol utara
Jumlah

12
443

2
62

166

53

Sumber: BPS Kabupaten Donggala 2016

4.3.2 Rank of Sub-Disctricts di Kabupaten Donggala Berdasarkan Jumlah Penduduk


Tahun 2015
Tabel IV.IV
Jumlah Penduduk, Kabupaten Donggala 2015
Jenis kelamin
No

Kecamatan

1
2
3
4

Rio Pakava
Pinembani
Banawa
Banawa
Selatan
Banawa
Tengah
Labuan
Tanantovea
Sindue
Sindue
Tombusabora
Sindue
Tobata
Sirenja
Balaesang
Balaesang
Tanjung
Dampelas
Sojol
Sojol Utara
Jumlah

5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16

Laki-laki
12592
3261
17065
12828

Perempuan
11413
3489
16387
12071

Rasio jenis
Jumlah
24005
6750
33452
24899

kelamin
110
93
104
106

5509

5168

10677

107

7265
8141
9794
6166

6895
7829
9535
5952

14160
15970
19329
12118

105
104
103
104

4786

4496

9282

106

10723
12124
5615

10407
11834
5359

21130
23958
10974

103
102
105

15496
13825
5034

14747
13108
4828

30243
26933
9862

105
105
104

150224

143518

293742

104,6

Sumber : Kabupaten Donggala dalam angka 2016

4.4 Analisis Skalogram


Dalam penentuan hierarki pelayanan fasilitas di Kabupaten Donggala dilihat dari orde
yang didapat dari analisis skalogram. Perhitungan skalogram dijabarkan dalam tabel yang
berisi fasilitas sarana kecamatan, utilitas, kepadatan, tenaga kerja, dan Trasportasi. Adanya
fasilitas sarana pada setiap kecamatan ditandai dengan angka 1 sedangkan angka 0
menunjukkan kecamatan yang tidak memiliki fasilitas. Tabel tersebut dijumlahkan secara
horizontal dan vertika, kemudian diurutkan dari angka terbesar yang diletakkan paling atas
dan paling kiri. Setelah diurutkan maka nilai kesalahan (error) dan hierarki dapat dicari.
Kemudian mencari COR menggunakan rumus COR (Coeffisien of Reproducibility) yang
berfungsi untuk pengujian kelayakan skalogram. Dalam hal ini koefisien dianggap layak
apabila bernilai 0,91. Hierarki yang didapat menggunakan rumus dan perhitungan
menjelaskan banyaknya kelas atau orde fasilitas sarana dan prasarana. Semakin Tinggi nilai
orde (orde I) maka semakin tinggi hierarki. Analisis Skalogram pada umunya dipergunakan
untuk menganalisis pusat-pusat permukiman, kususnya hirarki atau orde pusat-pusat
permukiman. Analisis ini untuk memberikan gambaran adanya pengelompokkan permukiman
sebagai pusat pelayanan dengan mendasarkan pada kelengkapan fungsi pelayanannya.
Fasilitas yang digunakan pada penilaian ini adalah fasilitas yang mencirikan fungsi pelayanan
sosial dan ekonomi dengan kriteria obyek tunggal dan terukur serta sedapatnya memiliki
karakteristik hirarkis atau berjengjang. Tahapan pertama dalam analisis ini adalah memilih
jenis fasilitas yang digunakan sebagai variabel dalam matriks skalogram, berikut ini adalah
tabel jenis fasilitas di Kabupaten Donggala:
Tabel Jenis Fasilitas di Kabupaten Donggala
Fasilitas
Kecamatan

SD

SM

SM

Ruma

Rumah

Puskesma

Masji

Musholla

Gereja

Gereja

Pur

h sakit

bersali

protesta

katholi

Vihara

Rio Pakava
Pinembani
Banawa
Banawa Selatan
Banawa Tengah
Labuan
anantovea
Sindue
indueTombusabo
a
Sindue Tobata
Sirenja

16
8
26
29
10
13
14
25
15

6
1
10
9
4
4
4
5
3

1
1
1
1
1
1

1
-

1
-

2
1
1
1
1
1
1
1

33
46
42
18
16
28
28
16

16
11
-

32
29
39
6
12

1
1
1
1
-

31
3
-

1
-

11
25

4
4

18
32

1
1

Balaesang

28

41

12

Balaesang
Tanjung
Dampelas
Sojol
Sojol utara

20

1
1

22

33
28
8

12
10
3

2
1
-

1
2
1

44
47
12

21
10
2

17
1
-

2
-

15
4
-

309

90

13

443

62

166

53

Jumlah

16

Sebagaimana yang diketahui, Analisis Skalogram Guttman digunakan untuk


mengetahui ada atau tidaknya layanan/fasilitas yang ada di suatu daerah,selain itu juga untuk
mengetahui kelengkapan fasilitas suatu wilayah, dalam hal ini yang akan dianalisis adalah
fasilitas pendidikan, fasilitas peribadatan dan fasilitas kesehatan yang ada di Kabupaten
Donggala berikut adalah analisisnya:
Data Awal perhitungan Analisis Skalogram
fasilitas

camatan

o Pakava
nembani
nawa
nawa
latan
nawa
ngah
buan
antovea
ndue
dueTombu
ora

Jum
SD

SM

SM

Ruma

Rumah

Puskesma

Masji

Musholla

Gereja

Gereja

h sakit

bersali

protesta

katholik

Pura

Vihara

1
1
1
1

1
1
1
1

1
0
1
0

0
0
0
1

0
0
0
1

1
1
1
1

1
0
1
1

1
0
1
0

1
1
1
1

1
0
1
1

1
0
1
0

0
0
0
1

9
4
9
9

1
1
1
1

1
1
1
1

0
1
1
1

0
0
0
0

0
0
0
0

1
1
1
1

1
1
1
1

0
0
0
0

0
0
0
1

0
0
1
0

0
0
0
0

0
0
0
0

4
5
6
6

ndue
bata
renja

1
1
1

1
1
1

1
1
0

1
0
0

1
1
0

0
0
0

9
8
5

laesang

laesang
njung
mpelas
jol
jol utara

1
1

1
1
1

1
1
1

1
1
0

0
0
0

0
0
0

1
1
1

Pada tabel di atas, terdapat 12 jenis fasilitas di Kabupaten Donggala yang telah dipilih, seperti
fasilitas pendidikan, fasilitas kesehatan, dan fasilitas peribadatan. Dapat dilihat bahwa
kecamatan yang memiliki jumlah fasilitas tertinggi adalah Kecamatan Banawa dengan 9
fasilitas, dan kecamatan yang memiliki jumlah fasilitas terendah adalah Kecamatan Banawa
Tengah dengan 4 fasilitas. Tahap selanjutnya dari analisis skalogram adalah mengkonversi
seluruh fasilitas yang ada ke dalam angka (1) dan fasilitas yang tidak ada ke dalam angka (0),
kemudian menjumlahkan seluruh fasilitas berdasarkan baris dan kolom,. Setelah itu
menentukan total kesalahan (eror)
Berikut disajikan kembali tabel analisis skalogram dengan lebih terurut:

Fasilitas
Kecamatan

Rio pakava
Banawa
Dampelas
Sirenja
Sindue
Balaesang
Balaesang
tanjung
Sojol
Sindue
tombusabora
Tanantovea
Banawa
selatan
Sojol utara
Labuan
Banawa tengah
Sindue tobata
Pinembani

Jmlh

SM

Masji

Puskesma

SM

Gereja

Gereja

Musholla

Pur

Vihara

pnddk

protesta

katholi

240
05
675
0
334
52
248
99
106
77
141
60
159
70

n
1

k
1

193
29
121
18

928
2
211
30

239
58
109
74
302
43
269
33

986
2

Berdasarkan ketersediaan fasilitas di atas, dapat dilihat bahwa fasilitas yang ada
(sudah tersedia) di seluruh kecamatan di Kabupaten Donggala adalah fasilitas SD, dan
SMP Sedangkan untuk fasilitas lainnya seperti Masjid, Musholla, SMA, Rumah Sakit,
rumah bersalin, posyandu, gereja, pura, vihara dan lainnya hanya terdapat di beberapa
kecamatan. Kecamatan yang memiliki fasilitas terlengkap adalah Kecamatan Banawa
dan Rio Pakava sedangkan ketersediaan fasilitas terminim berada di Kecamatan
Pinembani.
Hasil analisis skalogram di Kabupaten Donggala di atas dapat dilihat jumlah eror
dari 16 kecamatan (N) dan 10 fasilitas (k) adalah 6 kesalahan. Jumlah kesalahan (eror)
ini dilihat dari nilai 0 yang ada di atas tangga dan jumlah nilai 1 yang ada di bawah
anak tangga. Berdasarkan tingkat kesalahan yang ada tersebut, dapat diperhitungkan
nilai coefficient of reproducibility (COR) nya dengan rumus:
Dimana: Total jenis fasilitas
Total kesalahan

= 16 kec. x
=

fasilitas =

kesalahan

buah