Anda di halaman 1dari 24

Asma Persisten Eksaserbasi Akut Serangan Berat

Joana De Chantal Laiyan 102011152


Ratri Puspitaningrum 102011447
Stacia Cicilia 102012132
Arya Darmadi 102012174
Yovita Indriana 102012225
Dian Nurul Hikmah 102012292
Anestesya Monica 102012410
Viqtor Try Junianto 102012414
Ariff Kamal Bin Zulkafli 102012501

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana


Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta, 11510

Pendahuluan
Asma adalah suatu penyakit yang ditandai dengan suatu episode batuk dan
mengakibatkan obstruksi aliran udara dalam derajat yang bervariasi. Insiden penyakit asma lebih
tinggi pada usia prasekolah yang diagnosisnya mungkin dapat sulit ditegakan. Tampaknya kasus
asma menjadi lebih sering dan mungkin juga lebih parah. Asma sangat sering menyebabkan
kesulitan pada orangtua dan anak itu sendiri. Penderita asma mempunyai hiper reaktivitas
bronkus dalam berbagai derajat dan akan mengalami obstruksi jalan napas setelah olahraga,
terpapar udara dingin dan iritan nonspesifik seperti embun, debu atau asap rokok. Asma dapat
bersifat ringan dan tidak mengganggu aktivitas, akan tetapi dapat bersifat menetap dan
mengganggu aktivitas bahkan kegiatan harian. Produktivitas menurun akibat bolos kerja atau
sekolah dan dapat menimbulkan kecacatan sehingga menambah penurunan produktivitas serta
menurunkan kualitas hidup.
Asma merupakan penyakit respiratorik kronis yang paling sering dijumpai pada anak.
Prevalensi asma meningkat dari waktu ke waktu baik di negara maju maupun negara sedang
berkembang. Peningkatan tersebut diduga berkaitan dengan pola hidup yang berubah dan peran
faktor lingkungan terutama polusi baik indoor maupun outdoor. Tatalaksana asma dibagi menjadi
2 kelompok yaitu tatalaksana pada saat serangan asma (eksaserbasi akut) atau aspek akut dan
tatalaksana jangka panjang (aspek kronis). Pada asma episodik sering dan asma persisten, selain
penanganan pada saat serangan, diperlukan obat pengendali (controller) yang diberikan sebagai
pencegahan terhadap serangan asma.

Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk memberikan informasi kepada para pembaca
mengenai etiologi, epidemiologi, working diagnosis, differential diagnosis, manifestasi klinik,
patofisiologi, penatalaksanaan, prognosis dan edukasi mengenai asma eksaserbasi akut berat.

Kasus
Seorang anak laki-laki berusia 10 tahun dibawa ke UGD RS karena sesak nafas sejak 2 jam yang
lalu. Pasien memiliki riwayat asma sejak kecil. Sejak 2 minggu yang lalu, menurut ibunya pasien
memerlukan salbutamol inhalasi setiap hari, terutama saat berolahraga, dam mengalami batuk
2

yang berulang saat sedang tidur sebanyak 2x seminggu, sehingga pasien tidak bisa tidur dengan
nyenyak.

Anamnesis1
Anamnesis adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan wawancara. Anamnesis terbagi
menjadi dua tipe, yang pertama autoanamnesis yaitu wawancara yang ditujukan langsung kepada
pasien, yang kedua alloanamnesis yaitu wawancara yang ditujukan kepada pihak keluarga, orang
tua, atau kerabat selain pasien. Yang termasuk didalam alloanamnesis adalah semua keterangan
dokter yang merujuk, catatan rekam medik, dan semua keterangan yang diperoleh selain dari
pasiennya sendiri.Yang perlu dilakukan pada anamnesis adalah sebagai berikut:
a. Identitas :

Nama lengkap
Umur
Jenis kelamin
Alamat

b. Keluhan Utama :

Keluhan/ gejala yang menyebabkan pasien dibawa berobat


Tidak harus sejalan dengan diagnosis utama

c. Riwayat perjalanan penyakit sekarang :

Cerita kronologis, rinci, jelas tentang keadaan pasien sebelum ada keluhan sampai

dibawa berobat
Pengobatan yang pernah dipakai sebelumnya
Reaksi alergi
Perkembangan penyakit dari awal gejala

d. Hal hal yang perlu ditanyakan tentang keluhan / gejala :

Lama keluhan
Intensitas keluhan
Keluhan lokal: lokasi, menetap, pindah-pindah, menyebar
Bertambah berat/ berkurang
3

Upaya yang dilakukan dan hasilnya

e. Riwayat lainnya

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat Keluarga
Riwayat Sosial

Pemeriksaan Fisik1,2
Inspeksi
Inspeksi dilakukan untuk mengetahui adanya lesi pada dinding dada, kelainan bentuk dada,
menilai frekuensi, sifat dan pola pernafasan.
1. Kelainan dinding dada
Kelainan-kelainan yang bisa didapatkan pada dinding dada yaitu parut bekas operasi,
pelebaran vena-vena superfisial akibat bendungan vena, spider nevi, ginekomastia tumor,
luka operasi, retraksi otot-otot interkostal dan lain-lain.
2. Kelainan bentuk dada.
Dada yang normal mempunyai diameter latero-lateral yang lebih besar dari diameter
anteroposterior. Kelainan bentuk dada yang bisa didapatkan yaitu:
-

Dada paralitikum dengan ciri-ciri dada kecil, diameter sagital pendek; sela iga sempit,

iga lebih miring, angulus costae <900, terdapat pasien dengan malnutrisi.
Dada emfisema (barrel shape) yaitu dada menggembung, diameter anteroposterior
lebih besar dari diameter latero-lateral; tulang punggung melengkung (kifosis),

angulus costae >900, terdapat pada pasien dengan bronkitis kronis, PPOK.
Kifosis dengan ciri-cirinya kurvatura vertebra melengkung secara berlebihan ke arah
anterior. Kelainan ini akan terlihat jelas bila pemeriksaan dilakukan dari arah lateral

pasien.
Skoliosis cirinya kurvatura vertebra melengkung secara berlebihan ke arah lateral.

Kelainan ini terlihat jelas pada pemeriksaan dari posterior.


Pectus excavatum cirinya dada dengan tulang sternum yang mencekung.

Pectus carinatum (pigeon chest atau dada burung) cirinya dada dengan tulang sternum
menonjol ke depan.

3. Frekuensi pernapasan
Frekuensi pernapasan normal pada anak adalah 15-30 kali per menit. Pernapasan kurang
dari 15 kali per menit disebut bradipneu, misalnya akibat pemakaian obat-obat narkotik,
kelainan serebral. Pernapasan lebih dari 30 kali per menit disebut takipneu, misalnya
pada pneumonia, anksietas, asidosis.
4. Jenis pernapasan
-

Torakal misalnya pada pasien sakit tumor abdomen, peritonitis umum.


Abdominal misalnya pasien PPOK lanjut.
Kombinasi (jenis pernapasan ini terbanyak). Pada perempuan sehat umumnya
pernapasan torakal lebih dominan dan disebut torako-abdominal. Sedangkan pada
laki-laki sehat, pernapasan abdominal lebih dominan dan disebut abdomino-torakal.
Keadaan ini disebabkan bentuk anatomi dada dan perut perempuan berbeda dari lakilaki. Perhatikan juga apakah terdapat pemakaian otot-otot bantu pernapasan misalnya
pada pasien tuberkulosis paru lanjut atau PPOK. Di samping itu adakah terlihat
bagian dada yang tertinggal dalam pernapasan dan bila ada, keadaan ini menunjukan

adanya gangguan pada daerah tersebut.


Jenis pernapasan lain yaitu pursed lips breathing (pernapasan seperti menghembus
sesuatu melalui mulut, didapatkan pada pasien PPOK) dan pernapasan cuping hidung,
misalnya pada pasien pneumonia.

5. Pola pernapasan
-

Pernapasan normal: irama pernapasan yang berlangsung secara teratur ditandai

dengan adanya fase-fase inspirasi dan ekspirasi yang silih berganti.


Takipnea: napas cepat dan dangkal.
Hiperpnea/hiperventilasi: napas cepat dan dalam.
Pernapasan cheyne stokes: irama pernapasan yang ditandai dengan adanya periode
apnea (berhentinya gerakan pernapasan) kemudian disusul periode hiperpnea
(pernafasan mula-mula kecil amplitudonya kemudian cepat membesar dan kemudian
mengecil lagi). Siklus ini terjadi berulang-ulang. Terdapat pada pasien dengan
5

kerusakan otak, hipoksia kronik. Hal ini terjadi karena terlambatnya reseptor klinis
-

medula otak terhadap pertukaran gas.


Pernapasan biot (ataxic breathing): jenis pernapasan yang tidak teratur baik dalam hal
frekuensi maupun amplitudonya. Terdapat pada cedera otak. Bentuk kelainan irama
pernapasan tersebut, kadang-kadang dapat ditemukan pada orang normal tapi gemuk
(obesitas) atau pada waktu tidur. Keadaan ini basanya merupakan pertanda yang

kurang baik.
Sighing respiration: pola pernapasan normal yang diselingi oleh tarikan napas yang
dalam.

Palpasi
Palpasi dinding dada dapat dilakukan pada keadaan statis dan dinamis.
1. Palpasi dalam keadaan statis.
Pemeriksaan palpasi yang dilakukan pada keadaan ini adalah:
-

Pemeriksaan kelenjar getah bening. Kelenjar getah bening yang membesar di daerah
supraklavikula dapat memberikan petunjuk adanya proses di daerah paru seperti
kanker paru. Pemeriksaan kelenjar getah bening ini dapat diteruskan ke daerah

submandibula dan kedua aksila.


Pemeriksaan untuk menentukan posisi mediastinum. Posisi mediastinum dapat

ditentukan dengan melakukan pemeriksaan trakea dan apeks jantung.


Pemeriksaan palpasi selanjutnya diteruskan ke daerah dada depan dengan jari tangan
untuk mengetahui adanya kelainan dinding dada misalnya tremor, nyeri tekan pada
dinding dada, krepitasi akibat emfisema subkutis, dan lain-lain.

2. Palpasi dalam keadaan dinamis.


Pada keadaan ini dapat dilakukan pemeriksaan unutk menilai ekspansi paru serta
pemeriksaan vokal fremitus.
-

Pemeriksaan ekspansi paru. Dalam keadaan normal kedua sisi dada harus sama-sama
mengembang

selama

inspirasi

biasa

maupun

dengan

inspirasi

maksimal.

Berkurangnya gerakan pada salah satu sisi menunjukan adanya kelainan pada sisi
tersebut. untuk menilai pengembangan paru bagian bawah dilakukan pemeriksaan
6

dengan meletakkan kedua telapak tangan dan ibu jari secara simetris pada masingmasing tepi iga, sedangkan jari-jari lain menjulur sepanjang sisi lateral lengkung iga.
Kedua ibu jari harus saling berdekatan/hampir bertemu di garis tengah dan sedikit
diangkat ke atas sehingga bergerak bebas saat bernafas. Pada saat pasien menarik
napas dalam keadaan kedua ibu jari menjadi tidak simetris dan ini memberikan
-

petunjuk adanya kelainan pada sisi tersebut.


Pemeriksaan vokal fremitus. Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara meletakkan
kedua telapak tangan pada permukaan dinding dada, kemudian pasien diminta
menyebut angka 77 atau 99, sehingga getaran suara yang ditimbulkan akan lebih
jelas. Pemeriksaan ini disebut tactile fremitus. Bandingkan secara bertahap tactile
fremitus secara bertahap dari atas ke tengah dan seterusnya ke bawah baik pada paru
bagian depan maupun belakang. Pada saat pemeriksaan kedua telapak tangan harus
disilang secara bergantian. Hasil pemeriksaan fremitus ini dilaporkan ebagai normal,
melemah, atau mengeras. Fremitus yang melemah didapatkan pada penyakit
empiema, hidrotoraks, atelektasis. Fremitus yang mengeras terjadi karena adanya
infiltrat pada parenkim paru (misalnya pada pneumonia, tuberkulosis paru aktif).

Perkusi
Berdasarkan patogenesisnya, bunyi ketokan yang terdengar dapat bermacam-macam yaitu:
-

Sonor (resonant): terjadi bila udara dalam paru (alveoli) cukup banyak, terdapat pada

paru yang normal


Hipersonor (hiperresonant): terjadi bila udara dalam paru /dada menjadi jauh lebih
banyak, misalnya pada emfisema paru, kavitas besar yang letaknya superfisial,

pneumotoraks, dan bula yang besar


Redup (dull): bila bagian yang padat lebih banyak daripada udara misalnya adanya
infiltrat/konsolidasi

Dalam keadaan normal didapatkan hasil perkusi yang sonor pada kedua paru.
Auskultasi
Auskultasi merupakan pemeriksaan yang paling penting dalam menilai aliran udara melalui
sitem trakeobronkial. Dalam keadaan normal suara napas vesikular yang berasal dari alveoli
7

dapat didengar pada hampir seluruh lapangan paru. Sebaliknya suara napas bronkial tidak
akan terdengar karena getaran suara yang berasal dari bronkus tersebut tidak dapat
dihantarkan ke dinding dada karena dihambat oleh udara yang terdapat dalam alveoli. Dalam
keadaan abnormal misalnya pneumonia di mana alveoli terisi infiltrat maka udara di
dalamnya akan berkurang atau menghilang. Infiltrat yang merupakan penghantar getaran
suara yang baik akan menghantarkan suara bronkial sampai ke dinding dada sehinggadapat
terdengar sebagai suara napas bronkovesikular (bila hanya sebagian alveoli yang terisi
infiltrat) atau bronkial (bila seluruh alveoli terisi infiltrat).
Suara nafas tambahan terdiri dari:
-

Ronki basah (crakels atau rales): suara nafas yang terputus-putus, bersifat nonmusical,
dan biasanya terdengar pada saat inspirasi akibat udara yang melewati cairan dalam
saluran napas. Ronki basah lebih lanjut dibagi menjadi ronki basah halus dan kasar
tergantung besarnya bronkus yang terkena. Ronki basah halus terjadi karena adanya
cairan pada bronkiolus, sedangkann yang halus lagi berasal dari alveoli yang disebut
krepitasi, akibat terbukanya alveoli pada akhir inspirasi. Krepitasi terutama dapat
didengar fibrosis paru. Sifat ronki basah ini dapat bersifat nyaring (bila ada infiltrat

misalnya pada pneumonia) ataupun tidak nyaring (pada edema paru).


Rongki kering: suara napas kontinyu, yang bersifat musical, dengan frekuensi yang relatif
rendah, terjadi karena udara mengalir melalui saluran napas yang menyempit, misalnya
akibat adanya sekret yang kental. Wheezing adalah ronki kering yang frekuensinya tinggi

dan panjang yang biasanya terdengar pada serangan asma.


Bunyi gesekan pleura (pleural friction rub): terjadi karena pleura parietal dan viseral yang
meradang saling bergesekan satu dengan yang lainnya. Pleura yang meradang akan
menebal atau menjadi kasar. Bunyi gesekan ini terdengar pada akhir inspirasi dan awal

ekspirasi.
Hippocrates succussion: suara cairan pada rongga dada yang terdengar bila pasien

digoyang-goyangkan. Biasanya didaptkan pada pasien dengan hidropneumotoraks.


Pneumothorax click: bunyi yang bersifat ritmik dan sinkron dengan saat kontraksi
jantung, terjadi bila didapatkan adanya udara di antara kedua lapisan pleura yang
menyelimuti jantung.5

Hasil pemeriksaan fisik pada kasus adalah didapati pasien terlihat pucat, berbicara terpatahpatah, keadaan umumnya somnolen, tampak sianosis perioral ringan dan tampak retraksi dinding
dada. Pada TTV didapati TD 120/90, RR 40x/menit, Suhu: 37oC, dan Nadi 120x/menit.

Pemeriksaan Penunjang1-3
1. Pemeriksaan radiologi
Pada Foto Ro Thorax tidak akan ditemukan kelaninan yang khas. Foto thorax dilakukan
hanya untuk menyingkirkan penyebab sesak lainnya dan untuk mendeteksi adanya
komplikasi seperti pneumothorax, dsb.
2. Pemeriksaan fungsi paru
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk menilai asma meliputi diagnosis dan pengelolaannya.
Uji faal paru dikerjakan untuk menentukan derajat obstruksi , menilai hasil provokasi
bronkus, menilai hasil pengobatan dan mengikuti perjalanan penyakit.
Pemeriksaan faal paru yang penting pada asma ialah PEFR, FEVI, PVC, FEVI. Uji faal paru
tidak selalu mudah dilaksanakan , terutama pada anak dibawah umur 5-6 tahun . Sebaiknya
tiap anak dengan asma diuji faal parunya pada tiap kunjungan . Peak Flow Meter adalah yang
paling sederhana , sedangkan dengan spirometer memberikan data yang lebih lengkap.
Kenaikan PEFR atau FEV1, sekurang-kurangnya 10% sesudah terapi aerosol, sangat
memberikan kesan asma. Pada kasus yang agak berat akan tampak kelainan pada kapasitas
total paru, kapasitas sisa fungsional, dan volume sisa bertambah. Kapasitas vital biasanya
menurun. Penurunan aliran ekspirasi puncak meramalkan mulainya eksaserbasi dan
mendorong intervensi dini dengan terpai obat tambahan.
3. Pemeriksaan gas darah
Penentuan gas dan pH darah arterial adalah penting dalam evaluasi penderita selama masa
eksaserbasi yang memerlukan perawatan di rumah sakit. Selama masa pembaikan (remisi),
tekanan parsial oksigen (PO2), tekanan parsial karbondioksida (PCO2) dan pH mungkin normal.
9

Pada periode bergejala, ditemukan PO2 menurun secara teratur dan dapat menetap beberapa
hari atau beberapa minggu sesudah episode akut selesai. Penentuan saturasi oksigen dengan
oksimetri secara teratur membantu dalam menentukan keparahan eksaserbasi akut. P CO2
biasanya rendah selama stadium awal asma akut. Ketika penyumbatan memburuk, P CO2 naik;
ini merupakan tanda buruk. pH darah tetap normal (atau kadang-kadang sedikit alkalosis
karena hiperventilasi) sampai kapasitass penyangga (buffering) darah habis, dan kemudian
terjadi asidosis. Ketika penyumbatan jalan napas dan hipoksia menjadi lebih berat, terjadi
asidosis, baik respiratorik maupun metabolik karena masing-masing adalah asidosis
hiperkabnia dan laktat.

Diagnosis Kerja
Episode batuk berulang dan mengi, terutama jika diperburuk atau dipicu oleh olahraga,
infeksi virus atau alergen hirupan, sangat memberi kesan asma. Namun asma juga menyebabkan
batuk menetap pada anak tanpa riwayat mengi karena kecepatan aliran udara tidak mencukupi
untuk menimbulkan mengi, penyumbatan jalan napas yang relatif ringan, atau pengasuh tidak
mampu mengenali mengi. Gejala-gejala yang buruk tersebut dapat dianggap berasal dari Batuk
alergi, Bronkitis Allergika, Bronkitis mengi atau Bronkitis kronis. Uji fungsi paru
sebelum dan sesudah pemberian metakolin atau bronkodilator atau sebelum dan sesudah
olahraga dapat membantu menegakkan diagnosis asma. Pemeriksaan selama episode gejala yang
berat dapat juga membantu diagnosis jika terjadi perbaikan pasca-terapi bronkodilator. Lagipula,
bila diobati dengnan cara-cara yang spesifik untuk asma, dan anak yang terkena menunjukkan
perbaikan yang mencolok, memberi kesan kuat bahwa batuk tersebut merupakan tanda asma.6
Pada anak dengan gejala dan tanda asma yang jelas, serta respons terhadap pemberian
obat bronkodilator baik sekali, maka tidak perlu pemeriksaan diagnostik lebih lanjut. Bila
respons terhadap obat asma tidak baik, sebelum memikirkan diagnosis lain, maka perlu dinilai
dahulu beberapa hal. Hal yang perlu dievaluasi adalah apakah penghindaran terhadap pencetus
sudah dilakukan, apakah dosis obat sudah adekuat, cara dan waktu pemberiannya sudah benar,
serta ketaatan pasien baik. Bila semua aspek tersebut sudah dilakukan dengan baik dan benar.
Maka perlu dipikirkan kemungkinan diagnosis bukan asma.4

10

Pada pasien dengan batuk produktif, infeksi respiratorik berulang, gejala respiratorik
sejak masa neonatus, muntah dan tersedak, gagal tumbuh, atau kelainan fokal paru dan
diperlukan pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan yang perlu dilakukan adalah foto Rontgen
paru, uji fungsi paru, dan uji provokasi. Selain itu mungkin juga perlu diperiksa foto Rontgen
sinus paranasalis, ujikeringat, uji imunologis, uji defisiensi imun, pemeriksaan refluks, uji
mukosilier, bahkan tindakan bronkoskopi.

Klasifikasi3,4

Tabel 1. Klasifikasi Derajat Asma pada Anak

Tanda/Gejala
Angka aliran

Ringan
Diramalkan 70%-90%

Sedang
Diramalkan 50%-70%

Berat
Diramalkan <50%

ekspirasi puncak

atau garis dasar

atau garis dasar

atau garis dasar

(PEFR)
Frekuensi

(baseline)
Normal sampai 30% 30%-50% naik di atas >50% naik diatas rata-

Pernapasan
Ketajaman

di atas rata-rata
Normal

rata-rata
Normal

rata
Mungkin menurun
11

Perhatian
Dispnea

Tidak ada atau ringan, Sedang,


berbicara

berbicara Berat, berbicara hanya

dengan kata demi kata atau dalam satu kata atau

Penggunaan Otot

kalimat sempurna
sebagian kalimat
kata-kata pendek
Retraksi
interkostal Retraksi
interkostal Retraksi
interkostal

tambahan

tidak ada atau ringan

hiperinflasi dada

sedang,

pelebaran

cuping hidung selama


inspirasi, hiperinflasi
Warna
Auskultasi

Normal
Hanya mengi

Saturasi O2
PCO2

akhir ekspirasi
>95%
<35

dada
Pucat
Dapat sianosis
pada Mengi inspirasi dan Suara napas
ekspirasi
90%-95%
<40

tidak

terdengar
<90%
>40

Tabel 2. Perkiraan Keparahan Eksaserbasi Akut pada Anak

Etiologi5
Ada beberapa hal yang merupakan faktor predisposisi dan presipitasi timbulnya serangan
asma bronkhial.
1. Faktor predisposisi
a. Genetik
Dimana yang diturunkan adalah bakat alerginya, meskipun belum diketahui bagaimana
cara penurunannya yang jelas. Penderita dengan penyakit alerg biasanya mempunyai
keluarga dekat juga menderita penyakit alergi. Karena adanya bakat alergi ini, penderita
sangat mudah terkena penyakit asma bronkhial jika terpapar dengan foktor pencetus.
Selain itu hipersentifisitas saluran pernafasannya juga bisa diturunkan.
2. Faktor presipitasi
a. Alergen
Dimana alergen dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu :

Inhalan, yang masuk melalui saluran pernapasan ex: debu, bulu binatang, serbuk
bunga, spora jamur, bakteri dan polusi
12

Ingestan, yang masuk melalui mulut ex: makanan dan obat-obatan


Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit ex: perhiasan, logam dan jam
tangan

b. Perubahan cuaca
Cuaca lembab dan hawa pegunungan yang dingin sering mempengaruhi asma. Atmosfir
yang mendadak dingin merupakan faktor pemicu terjadinya serangan asma. Kadangkadang serangan berhubungan dengan musim, seperti: musim hujan, musim kemarau,
musim bunga. Hal ini berhubungan dengan arah angin serbuk bunga dan debu.
c. Stress
Stress/ gangguan emosi dapat menjadi pencetus serangan asma, selain itu juga bisa
memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping gejala asma yang timbul harus
segera diobati penderita asma yang mengalami stress/gangguanemosi perlu diberi nasehat
untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Karena jika stressnya belum diatasi maka
gejala asmanya belum bisa diobati.
d. Lingkungan kerja
Mempunyai hubungan langsung dengan sebab terjadinya serangan asma. Hal ini
berkaitan dengan dimana dia bekerja. Misalnya orang yang bekerja di laboratorium
hewan, industri tekstil, pabrik asbes, polisi lalu lintas. Gejala ini membaik pada waktu
libur atau cuti.
e. Olah raga/ aktifitas jasmani yang berat
Sebagian besar penderita asma akan mendapat serangan jika melakukan aktifitas jasmani
atau aloh raga yang berat. Lari cepat paling mudah menimbulkan serangan asma.
Serangan asma karena aktifitas biasanya terjadi segera setelah selesai aktifitas tersebut.

Epidemiologi3,4,6

13

Prevalensi asma pada anak berkisar antara 2-30%. Di Indonesia prevalensi asma pada
anak sekitar 10% pada usia sekolah dasar, dan sekitar 6,5% pada usia sekolah menengah
pertama. Prevalensi total asma di dunia diperkirakan 7,2% (6% pada dewasa dan 10% pada
anak). Prevalensi pada anak menderita asma meningkat 8-10 kali di Negara berkembang
dibanding negara maju. Prevalensi tersebut sangat bervariasi. Di Indonesia, prevalensi asma pada
anak berusia 6-7 tahun sebesar 3% dan untuk usia 13-14 tahun sebesar 5,2%. Berdasarkan
laporan National Center for Health Statistics (NCHS), prevalensi serangan asma pada anak usia
0-17 tahun adalah 57 per 1000 anak (jumlah anak 4,2 juta) dan pada dewasa > 18 tahun adalah
38 per 1000 (jumlah dewasa 7,8 juta). Sebelum masa pubertas, prevalensi asma pada laki-laki 3
kali lebih banyak dibanding perempuan, selama masa remaja prevalensinya hampir sama dan
pada dewasa laki-laki lebih banyak menderita asma dibanding wanita.

Manifestasi Klinis
Batuk kering berulang dan mengi adalah gejala utama asma pada anak. Pada anak yang
lebih besar dan dewasa, gejala juga dapat berupa sesak napas dada terasa berat gejala biasanya
akan memburuk pada malam hari yang dipicu dengan infeksi pernapasan dan inhalasi alergen.
Gejala lainnya dapat tersembunyi dan tidak spesifik seperti keterbatasan aktivitas dan cepat
lelah. Riwayat penggunaan bronkodilator dan atopi pada pasien atau keluarganya dapat
menunjang penegakan diagnosis. GINA, konsensus Internasional dan PNAA menekankan
diagnosis asma didahului batuk dan atau mengi. Gejala awal tersebut ditelusuri dengan algoritme
kemungkinan diagnosis asma. Pada algoritme tampak bahwa batuk dan/atau mengi yang
berulang (episodik), nokturnal, musiman, setelah melakukan aktivitas, dan adanya riwayat atopi
pada penderita maupun keluarganya merupakan gejala atautanda yang patut diduga suatu asma.
Timbulnya eksaserbasi asma dapat secara akut atau diam-diam. Episode akut paling
sering disebabkan oleh pemaparan terhadap iritan seperti udara dingin dan gas beracun (rokok,
cat basah) atau pemaparan terhadap alergen atau bahan kimia sederhana, misalnya aspirin atau
sulfit. Bila penyumbatan napas terjadi secara cepat dalam beberapa menit, sepertinya
kebanyakan disebabkan oleh spasme otot polos pada jalan napas besar. Eksaserbasi dipercepat
oleh infeksi virus pernapasan yang timbulnya lebih lambat, dengan frekuensi dan keparahan
batuk dan mengi yang sedikit demi sedikit bertambah selama beberapa hari. Karena pembukaan
jalan napas berkurang di malam hari, banyak anak menderita asma akut pada saat ini. Tanda14

tanda gejala asma adalah batuk yang kedengarannya lengket dan batuk yang nonproduktif pada
awal perjalanan serangan; mengi, takipnea, dan dispnea dengan ekspirasi panjang serta
menggunakan otot-otot pernapasan tambahan; sianosis; hiperinflasi dada; takikardi dan pulsus
paradoksus; yang mungkin dijumpai pada berbagai tingkat; tergantung pada stadium dan
keparahan serangan. Dapat dijumpai batuk tanpa mengi, atau dijumpai mengi tanpa batuk; juga
dapat dijumpai takipneu tanpa mengi. Manifestasinya akan bervariasi tergantung keparahan
eksaserbasi.6
Anak dengan asma berat menderita mengi harian yang jelas dan kumatnya lebih sering
dan lebih berat; mereka memerlukan rawat inap yang berulang, yang pada asma ringan atau
sedang jarang diperlukan. Anak dengan asma berat dapat kehilangan jumlah hari yang cukup,
tidurnya sering terganggu oleh asma dan mempunyai toleransi terhadap olahraga yang jelek.
Mereka menderita deformitas dada sebagai akibat hiperinflasi kronis yang terbukti pada
roentgenogram. Penggunaan bronkodilator setiap hari mencermikan serangan asma berat terusmenerus.

Patofisiologi
Inflamasi saluran napas yang ditemukan pada pasien asma diyakini merupakan hal yang
mendasari gangguan fungsi. Respon terhadap inflamasi pada mukosa saluran napas pasien asma
ini menyebabkan hiperreaktifitas bronkus yang merupakan tanda utama asma. Pada saat terjadi
hiperreaktivitas saluran napas sejumlah pemicu dapat memulai gejala asma. Pemicu ini meliputi
respon hipersensitivitas tipe 1 (dimedisi 1gE) terhadap alergen debu rumah dan serbuk sari yang
tersensitisasi, iritan seperti udara dingin, polutan atau asap rokok, infeksi virus, dan aktivitas
fisik/olahraga. Hiperreaktivitas saluran napas akan menyebabkan obstruksi saluran napas
menyebabkan hambatan aliran udara yang dapat kembali secara spontan atau setelah pengobatan.
Proses patologis utama yang mendukung obstruksi saluran napas adalah edema mukosa,
kontraksi otot polos dan produksi mukus. Obstruksi terjadi selama ekspirasi ketika saluran napas
mengalami volume penutupan dan menyebabkan gas di saluran napas terperangkap. Bahkan,
pada asma yang berat dapat mengurangi aliran udara selama inspirasi. Sejumlah
karakteristik anatomi dan fisiologi memberi kecenderungan bayi dan anak kecil terhadap
peningkatan risiko obstruksi saluran napas antara lain ukuran saluran napas yang lebih kecil,
recoil elastic paru yang lebih lemah, kurangnya bantuan otot polos saluran napas kecil,
15

hiperplasia kelenjar mukosa relatif dan kurangnya saluran ventilasi kolateral (pori cohn) antar
alveolus.6

Gambar 1. Patofisiologi asma

Penatalaksanaan
Medika Mentosa7
Obat asma dapat dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu obat pereda (reliever) dan obat
pengendali (controller). Obat pereda digunakan untuk meredakan serangan atau gejala asma
jika sedang timbul. Bila serangan sudah teratasi dan sudah tidak ada lagi gejala maka obat ini
tidak lagi digunakan atau diberikan bila perlu. Kelompok kedua adalah obat pengendali yang
disebut juga obat pencegah, atau obat profilaksis. Obat ini digunakan untuk mengatasi masalah
dasar asma, yaitu inflamasi kronik saluran nafas. Dengan demikian pemakaian obat ini terus
menerus diberikan walaupun sudah tidak ada lagi gejalanya kemudian pemberiannya diturunkan
pelan pelan yaitu 25 % setip penurunan setelah tujuan pengobatan asma tercapai 6 8 minggu.
16

Obat Obat Pereda (Reliever)


1

Bronkodilator

Short-acting 2 agonist
Merupakan bronkodilator terbaik dan terpilih untuk terapi asma akut pada anak. Reseptor 2
agonist berada di epitel jalan napas, otot pernapasan, alveolus, sel-sel inflamasi, jantung,
pembuluh darah, otot lurik, hepar, dan pankreas. Obat ini menstimulasi reseptor 2
adrenergik menyebabkan perubahan ATP menjadi cyclic-AMP sehingga timbul relaksasi otot
polos jalan napas yang menyebabkan terjadinya bronkodilatasi. Efek lain seperti peningkatan
klirens mukosilier, penurunan permeabilitas vaskuler, dan berkurangnya pelepasan mediator
sel mast.
Salbutamol
Dosis salbutamol oral

: 0,1 - 0,15 mg/kgBB/kali, setiap 6 jam.

Dosis salbutamol nebulisasi : 0,1 - 0,15 mg/kgBB (dosis maksimum 5mg/kgBB),


interval 20 menit, atau nebulisasi kontinu dengan dosis 0,3 0,5 mg/kgBB/jam (dosis
maksimum 15 mg/jam).
Dosis salbutamol IV

mulai 0,2 mcg/kgBB/menit, dinaikkan 0,1 mcg/kgBB

setiap 15 menit, dosis maksimal 4 mcg/kgBB/menit.


b

Methyl xanthine
Efek bronkodilatasi methyl xantine setara dengan 2 agonist inhalasi, tapi karena efek
sampingnya lebih banyak dan batas keamanannya sempit, obat ini diberikan pada serangan
asma berat dengan kombinasi 2 agonist dan antikolinergik. Efek bronkodilatasi teofilin
disebabkan oleh antagonisme terhadap reseptor adenosine dan inhibisi PDE 4 dan PDE 5.
Methilxanthine cepat diabsorbsi setelah pemberian oral, rectal, atau parenteral. Pemberian
teofilin IM harus dihindarkan karena menimbulkan nyeri setempat yang lama. Umumnya
adanya makanan dalam lambung akan memperlambat kecepatan absorbsi teofilin tapi tidak
mempengaruhi derajat besarnya absorpsi. Metilxanthine didistribusikan keseluruh tubuh,
melewati plasenta dan masuk ke air susu ibu. Eliminasinya terutama melalui metabolism hati,
17

sebagian besar dieksresi bersama urin.8 Dosis aminofilin IV inisial bergantung kepada usia :
(a) 1 6 bulan : 0,5mg/kgBB/Jam, (b) 6 11 bulan : 1 mg/kgBB/Jam, (c) 1 9 tahun : 1,2
1,5 mg/kgBB/Jam, (d) > 10 tahun : 0,9 mg/kgBB/Jam. Efek samping obat ini adalah mual,
muntah, sakit kepala. Pada konsentrasi yang lebih tinggi dapat timbul kejang, takikardi dan
aritmia.
2

Antikolinergik
Obat yang digunakan adalah Ipratropium Bromida. Kombinasi dengan nebulisasi 2 agonist
menghasilkan efek bronkodilatasi yang lebih baik. Dosis anjuran 0, 1 cc/kgBB, nebulisasi
tiap 4 jam.
Obat ini dapat juga diberikan dalam larutan 0,025 % dengan dosis : untuk usia diatas 6 tahun
8 20 tetes; usia kecil 6 tahun 4 10 tetes. Efek sampingnya adalah kekeringan atau rasa
tidak enak dimulut. Antikolinergik inhalasi tidak direkomendasikan pada terapi asma jangka
panjang pada anak.

Kortikosteroid
Kortikosteroid sistemik memerlukan waktu paling sedikit 4 jam untuk mencapai perbaikan
klinis, efek maksimum dicapai dalan waktu 12 24 jam. Preparat oral yang di pakai adalah
prednisone, prednisolon, atau triamsinolon dengan dosis 1 2 mg/kgBB/hari diberikan 2 3
kali sehari selama 3 5 kali sehari. Kortikosteroid tidak secara langsung berefek sebagai
bronkodilator. Obat ini bekerja sekaligus menghambat produksi sitokin dan kemokin,
menghambat sintesis eikosainoid, menghambat peningkatan basofil, eosinofil dan leukosit
lain di jaringan paru dan menurunkan permeabilitas vascular.
Metilprednisolon merupakan pilihan utama karena kemampuan penetrasi kejaringan paru
lebih baik, efek anti inflamasi lebih besar, dan efek mineralokortikoid minimal. Dosis
metilprednisolon IV yang dianjurkan adalah 1 mg/kgBB setiap 4 sampai 6 jam. Dosis
Hidrokortison IV 4 mg/kgBB tiap 4 6 jam. Dosis dexamethasone bolus IV 0,5 1
mg/kgBB dilanjtkan 1 mg/kgBB/hari setiap 6 8 jam.

Obat Obat Pengontrol

18

Inhalasi glukokortikosteroid
Glukokortikosteroid inhalasi merupakan obat pengontrol

yang paling efektif dan

direkomendasikan untuk penderita asma semua umur. Intervensi awal dengan penggunaan
inhalasi budesonide berhubungan dengan perbaikan dalam pengontrolan asma dan
mengurangi penggunaan obat-obat tambahan. Terapi pemeliharaan dengan inhalasi
glukokortikosteroid ini mampu mengontrol gejala-gejala asma, mengurangi frekuensi dari
eksaserbasi akut dan jumlah rawatan di rumah sakit, meningkatkan kualitas hidup, fungsi
paru dan hiperresponsif bronkial, dan mengurangi bronkokonstriksi yang diinduksi latihan.
Glukokortikosteroid dapat mencegah penebalan lamina retikularis, mencegah terjadinya
neoangiogenesis, dan mencegah atau mengurangi terjadinya down regulation receptor 2
agonist. Dosis yang dapat digunakan sampai 400ug/hari (respire anak). Efek samping berupa
gangguan pertumbuhan, katarak, gangguan sistem saraf pusat, dan gangguan pada gigi dan
mulut.
2

Long acting 2 Agonist (LABA)


Preparat inhalasi yang digunakan adalah salmeterol dan formoterol. Pemberian ICS 400ug
dengan tambahan LABA lebih baik dilihat dari frekuensi serangan, FEV 1 pagi dan sore,
penggunaan steroid oral,, menurunnya hiperreaktivitas dan airway remodeling. Kombinasi
ICS dan LABA sudah ada dalam 1 paket, yaitu kombinasi fluticasone propionate dan
salmeterol (Seretide), budesonide dan formoterol (Symbicort). Seretide dalam MDI
sedangkan Symbicort dalam DPI. Kombinasi ini mempermudah penggunaan obat dan
meningkatkan kepatuhan memakai obat.

Terapi Suportif
1

Terapi Oksigen
Oksigen diberikan pada serangan sedang dan berat melalui kanula hidung, masker atau
headbox. Perlu dilakukan pemantauan saturasi oksigen, sebaiknya diukur dengan pulse
oxymetry (nilai normal > 95%).

Terapi Cairan
19

Dehidrasi dapat terjadi pada serangan asma berat karena kurang adekuatnya asupan cairan,
peningkatan insensible water loss, takipnea serta efek diuretic teofilin. Pemberian cairan
harus hati-hati kareana pada asma berat terjadi peningkatan sekresi Antidiuretik Hormone
(ADH) yan memudahkan terjadinya retensi cairan dan tekanan pleura negatif tinggi pada
puncak inspirasi yang memudahkan terjadinya edema paru. Jumlah cairan yang diberikan
adalah 1-1,5 kali kebutuhan rumatan.
Cara Pemberian Obat
UMUR
ALAT INHALASI
< 2 tahun Nebuliser, Aerochamber, babyhaler
2-4
Nebuliser, Aerochamber, babyhaler
tahun
5-8

Alat Hirupan (MDI/ Metered Dose Inhaler) dengan alat perenggang (spacer)
Nebuliser

tahun

MDI dengan spacer


Alat hirupan bubuk (Spinhaler, Diskhaler, Rotahaler, Turbuhaler)

>8 tahun

Nebuliser
MDI (metered dose inhaler)
Alat Hirupan Bubuk
Autohaler

Pemakaian alat perenggang (spacer) mengurangi deposisi obat dalam mulut (orofaring),
jadi mengurangi jumlah obat yang akan tertelan sehingga mengurangi efek sistemik. Sebaliknya,
deposisi dalam paru lebih baik sehingga didapat efek terapeutik yang lebih baik. Obat hirupan
dalam bentuk bubuk kering (Spinhaler, Diskhaler, Rotahaler, Turbuhaler) memerlukan inspirasi
yang kuat. Umumnya bentuk ini dianjurkan untuk anak usia sekolah. Sebagian alat bantu yaitu
Spacer (Volumatic, Nebuhaler, Aerochamber, Babyhaler, Autohaler) dapat dimodifikasi dengan
menggunakan bekas gelas atau botol minuman atau menggunakan botol susu dengan dot susu
yang telah dipotong untuk anak kecil dan bayi.

20

Gambar 2. Alur tatalaksana emergensi serangan asma

Pencegahan7,8
Penanggulangan asma pada anak sekarang yang lebih penting bukan mengatasi serangan ,
melainkan untuk mencegah serangan asma. Anak yang menderita asma harus dapat hidup layak
serta tumbuh dan berkembang sesuai dengan umurnya. Dengan demikian segala upaya
penggunaan obat dan non obat harus dinilai untung ruginya berdasarkan tujuan utama tadi atau
dengan perkataan lain tidak boleh mengganggu tumbuh kembang anak. Tindakan-tindakan kita
harus meningkatkan mutu kehidupan anak asma itu untuk sekarang dan masa depan.
Pencegahan serangan asma terdiri atas :
1. Penghindaran factor pencetus , seperti :
21

Alergen : factor allergen dianggap mempunyai peranan pada sebagian besar anak dengan
asma. Disamping itu hiperreaktivitas saluran nafas juga merupakan factor yang penting.
Bila tingkat hiperreaktivitas bronkus tinggi diperlukan jumlah allergen yang sedikit,
begitu pula sebaliknya.

Infeksi : biasanya infeksi virus pada bayi dan anak disebabkan oleh respiratory syntical
virus dan virus parainfluenza. Kadang bisa disebabkan oleh pertussis dan streptokokus.

Iritan : Hairspray, minyak wangi, asap rokok, bau tajam dari bahan kimia, udara dingin
dan air dingin dapat menyebabkan reflex bronkokontriksi. Udara kering mungkin juga
merupakan pencetus hiperventilasi dan kegiatan jasmani.

Cuaca :perubahan tekanan udara, perubahan suhu, angina dan kelembapan dihubungkan
dengan percepatan terjadinya asma.

Kegiatan jasmani : yang dapat meningkatkan ngengap pada anak harus dihindarkan. Juga
tertawa dan menangis yang berlebihan dapat memicu asma.

Psikik : kadang factor psikis dapat menjadi factor pencetus terjadinya serangan asma
pada anak.

2. Obat-obatan dan terapi imunologi


Penggunaan obat-obatan atau tindakan untuk mencegah dan meredakan atau mengurangi
reaksi yang akan atau sesudah timbul oleh pencetus tadi. Berikut adalah obat-obatan yang
biasa diberikan untuk asma :
-

Kortikosteroid Inhalasi (KSI) : meliputi flutikason, budesonide, beklometason, dan


triamsinolon. KSI umumnya aman dan menjadi terapi yang sangat efektif untuk asma
kronik. Penggunaan yang teratur mengurangi hipereaktivitas saluran napas, mengurangi
kebutuhan terapi bronkodilator , mengurangi resiko rawat inap dan kematian akibat asma.

Agonis Beta Adrenegik : selektif berguna untuk pengobatan asma akut maupun kronik.
Tetapi bila diberikan sendiri tidak mengendalikan serangan dalam jangka panjang karena
agonis beta adrenegik beta tidak memengaruhi inflamasi saluran nafas. Agonis adrenegik
beta merelaksasikan otot polos saluran napas, meningkatkan pembersihan mukosiliar dan
mengurangi pelepasan mediator dari selmast dan basophil. Contohnya adalah albuterol
dan salmeterol.

22

Agen antikolinergik seperti ipratropium bromide tersedia dalam inhaler dosis terukur dan
sebagai larutan nebulasi. Obat ini merupakan bronkodilator potent yang dapat memblok
reflex bronkokontriksi yang disebabkan oleh iritan yang terhirup.

Terapi Anti-IGE monoclonal antibody : baru-baru ini terbukti memperbaiki aliran puncak
dan kualias hidup secara bermakna, mengurangi frekuensi eksasebarsi asma.

Komplikasi
Berbagai komplikasi yang mungkin timbul adalah :

Status asmatikus
Atelektasis
Hipoksemia
Pneumothoraks
Emfisema
Deformitas thoraks
Gagal nafas8

Prognosis
Prognosis untuk anak muda biasanya baik. Sebagian penyembuhan akhir tergantung pada
pertumbuhan diameter pontang mlintang jalan napas. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar
50% dari semua anak asma sebenarnya bebas gejala dalam 10-20 tahun, tetapi yang sering terjadi
kekambuhan pada masa kanak-kanak. Pada anak yang menderita asma ringan yang timbul antara
umur 2 tahun hingga pubertas, angka kesembuhan sekitar 50%, dan hanya 5% yang mngalami
penyakit berat. Sebaliknya anak dengan asma berat, yang ditandai dengan penyakit kronis
tergantung-steroid dengan riwayat inap di rumah sakit yang sering, jarang membaik; dan sekitar
95% menjadi orang dewasa asmatis. Belum diketahui apakah hiperiritabilitas jalan napas mereka
pernah menghilang; respon abnormal terhadap hirupan metakolin pada penderita yang dulunya
sma ditemukan selama 20 tahun sesudah gejala-gejala telah berkurang.6

Penutup

23

Asma dengan periode akut merupakan episode perburukan yang progresif gejala sesak
napas, batuk, bising mengi atau dada terasa tegang atau kombinasi dari gejala-gejala ini.
Klasifikasi asma eksaserbasi akut terbagi menjadi 3, ringan, sedang dan berat. Sedangkan
klasifikasi asma menurut waktu serangan terbagi menjadi 3, asma periodik jarang, asma periodik
sering, dan asma periodik persisten. Pasien dalam kasus menderita asma eksaserbasi akut
persisten yang berat dengan gejala asma didapatai +/- 2 minggu, serta menunjukkan gejala yang
sesuai dengan klasifikasi eksaserbasi berat seperti berbicara terpatah-patah, sianosis perioral dan
tampak retraksi dingding dada. Penatalaksanaan dilakukan sesuai dengan klasifikasi yang telah
ditentukan.

Daftar Pustaka
1. Gleadle J.Pengambilan anamnesis. At a glance Anamnesis dan Pemeriksaan Fisik. Jakarta:
Penerbit Erlangga. 2005. h. 153-9
2. Subekti I, Setiyohadi B. Pemeriksaan fisis umum. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakrta:
Interna Publishing. 2009. h. 172-5
3. Lenfant C, Khaltaev N. Global Initiative for Asthma. NHLBI/ WHO Workshop Report 2005.
4. UKK Pulmonologi PP IDAI. Pedoman Nasional Asma Anak. UKK Pulmonologi 2006.
5. Ward J, Leach R, Wiener C. Asma. Et A Glance system respirasi. ED II. Jakarta: Erlangga.
2008. h. 40-1
6. TePas E, Umetsu D. imunologi dan alergi. Nelson esensi pediatric. Ed 15 . Jakarta: EGC.
2012. h. 775-88
7. Supriyatno B, Makmur MS. Serangan asma akut. Dalam: Rahajoe NN, SupriyatnoB,
Setyanto DB, penyunting. Buku ajar respirologi anak. Edisi 1 cetakan 2. Jakarta: Badan
Penerbit IDAI; 2010.
8. Dacre Jane, Kopelman Peter. Buku saku keterampilan klinis. Jakarta: EGC. 2006. h. 56

24