Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PROYEK ANATOMI DAN FISOLOGI HEWAN (BI2103)

SISTEM REPRODUKSI MENCIT (Mus musculus) DAN MANUSIA


(Homo sapiens)
Tanggal Praktikum : 5 Oktober 2016
Tanggal Pengumpulan : 12 Oktober 2016
disusun oleh :
Alya Fatina Diandari
10615022
Kelompok 5
Asisten :
Muh. Akip Poapa
10614048

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2016

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu ciri dari makhluk hidup adalah dapat menghasilkan
keturunan. Reproduksi merupakan cara dasar dari makhluk hidup untuk
menghasilkan keturunan demi mempertahankan diri menghasilkan suatu
generasi selanjutnya. Pada hewan terdapat dua jenis reproduksi, yaitu
reproduksi asexual dan sexual. Kebanyakan hewan bereproduksi secara
sexual. Pada jenis reproduksi ini, penggabungan sel haploid menjadi sel
diploid disebut dengan zigot. Gamet betina, telur, adalah sel berukuran besar
yang tidak bergerak. Gamet jantan, sperma, adalah sel yang berukuran lebih
kecil yang dapat bergerak. (Reece, et al., 2011).
Dengan mempelajari ilmu reproduksi, kita dapat mengetahui faktorfaktor yang menjadi penyebab suatu organisme tidak dapat menghasilkan
keturunan. Selain itu untuk skala yang lebih besar, ilmu reproduksi dapat
dijadikan

analisis

mengenai

bagaimana

makhluk

hidup

memiliki

keanekaragaman pada tiap spesiesnya.


1.2 Tujuan
Praktikum sistem reproduksi mencit (Mus mulucus) dan manusia (Homo
sapiens) ini betujuan untuk :
1. Mementukan perbedaan sperma mencit (Mus mulucus) dan manusia (Homo
sapiens)
2. Menentukan motalitas sperma manusia (Homo sapiens) pada sampel sperma
segar
3. Menentukan jumlah sperma manusia (Homo sapiens) pada sampel sperma
segar
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Sistem Reproduksi Mencit Jantan dan Betina


Sistem reproduksi jantan terdiri dari sepasang testis (gonad), kelenjar
aksesori, dan sistem duktus termasuk organ kopulasi. Testis berada dalam
skrotum,sebuah kantung yang dilindungi oleh kulit dengan suhu terentu.
Fungsi testis adalah menghasilkan hormon seks jantan dan menghasilkan
gamet jantan (sperma). Kelenjar aksesori pada sistem reproduksi mencit
jantan meliputi vesikula seminalis, kelenjar prostat, kelenjar koagulasi,
kelenjar prepusial, dan kelenjar bulbo-uretra (Nalbandov, 1990).

Gambar 2.1 Sistem reproduksi mencit jantan (Feldhamer, et al., 2007)

Komponen sistem reproduksi utama pada betina adalah ovarium dan sistem
duktus yang terdiri atas oviduk, uterus, dan genitalia eksternal (Nalbandov,
1990). Uterus mencit betina mempunyai struktur yang unik yaitu uterus ganda
dengan masing-masing memiliki bukaan serviks menuju ke vagina disebut
sebagai uterus bipartid. Bentuk rahim tersebut membuat mencit dapat
menghasilkan anak dalam jumlah yang banyak (Feldhamer, et al., 2007).

Gambar 2.2 Sistem reproduksi mencit betina (Feldhamer, et al., 2007)

3.2 Spermatogensis
Spermatogenesis adalah proses diferensiasi spermatogonium diploid
menjadi spermatid. Proses ini meliputi pembelahan mitosis dan meosis.
Spermatogenesis dapat dibagi ke dalam tiga fase : (1) proliferasi dan
diferensiasi spermatogonia, (2) meiosis, dan (3) spermiogenesis, proses rumit
yang mengubah spermatid bundar setelah meiosis menjadi spermatozoa. Pada
manusia, proses dari spermatogenesis dimulai saat pubertas dan akan terus
berlanjut selama hidupnya. Spermatogonia berada di membran dasar, diikuti
dengan spermatosit primer, spermatosit sekunder, dan spermatid yang
berkembang menuju lumen tubulus (Zini & Agarwal, 2011).

Gambar 2.3 Spermatogenis (Zini & Agarwal, 2011)

3.3 Oogenesis
Pada permulaannya, terdapat sel germatik awal yang akan
membelah secara mitosis membentuk oogonium diploid. Kemudian,
oogonium akan membelah secara mitosis membentuk oosit primer
diploid. Setelah itu, dilanjutkan dengan pembelahan oosit primer
secara meiosis yang menghasilkan oosit sekunder dan badan polar
pertama yang masing-masing bersifat haploid. Pada masa subur ini,
apabila terjadi ovulasi sperma akan masuk ke dalam oosit primer.
Setelah sperma masuk, oosit primer akan membelah secara meiosis.
Hasil akhirnya adalah sel telur yang sudah terfertiliasi dan badan polar
kedua.

Gambar 2.4 Oogenesis (Reece, et al., 2011)

3.4 Parameter fertilitas


Parameter untuk menentukan kemampuan fertilitas hewan
jantan adalah morfologi, motilitas, volume semen, dan intesitas sperma
(Coetzee, et al., 1998). Morfologi sperma biasanya ditunjukkan dengan
persentase dari sel normal dan persentase dari sperma abnormal yang
spesifik (oval, tapered, amorphous). Intrepretasi dari parameter
morfologi dilakukan dengan pengujian di laboratorium. Sperma
normal dengan bentuk kepala oval dan ekor lurus panjang
dibandingkan dengan sperma lain untuk menuji keabnormalannya.
(Kandeel, 2007).
Motilitas sperma dihitung dengan dua acara : persentase dari
sel yang motil (bergerak) dan kualitas dari pergerakan sperma, seperti
seberapa cepat dan seberapa lurus pergerakannya. Penilaian dari
motilitas sperma di semen kurang lebih 50%-60% dan kualitasnya
lebih dari skala 2 dari 4 (Kandeel, 2007).
Menurut Kandeel (2007), nilai dari analisis semen ditunjukkan
pada gambar 2.5.

Gambar 2.5. Analisis semen

Intensitas kompetisi sperma ditentukan dengan angka pasti dari


sperma jantan yang berbeda-beda berkompetisi untuk ovarium dari
satu betina. Ketika betina melakukan perkawinan kembali dan sperma
berkompetisi, intensitas dari kompetisi akan meningkat dengan jumlah
dari pasangan kawin meningkat lebih dari dua (Simmons, 2001).
3.5 Abnormalitas pada Sperma
Sperma yang normal memiliki kepala berbentuk oval, bagian
pertengahan yang utuh, dan ekor tunggal lurus. Panjang kepalanya sekitar 4
m dan lebar 2 m. Panjang ekornya sekitar 45 m. Ketidaknormalan
morfologi sperma dapat terlihat pada kepala dan ekornya (Keel & Webster,
1990).

Gambar 2.6 Sperma normal (Keel & Webster, 1990)

Macam-macam sperma dengan kepala abnormal : kepala besar


(macrochepalic) memiliki panjang >5 m dan lebar > 3 m, kepala kecil
(microchepalic) memiliki panjang <3 m dan lebar <2 m, tidak memilki
kepala (pinhead), bentuk seperti tetesan (spyrofoam), sperma yang memilki
dua kepala, sperma tapering dengan kepala yang lonjong (Keel & Webster,
1990)

Gambar 2.7 Sperma microchepalic (Keel & Webster, 1990)

Gambar 2.8 Sperma pinhead (Keel & Webster, 1990)

Gambar 2.9 Sperma tapering (Keel & Webster, 1990)

Macam-macam abnormalitas pada ekor sperma : ekor sperma yang


melingkar dan pembengkokkan 90(hammer head), sperma yang terduplikasi
sehingga memilki dua sampai empat ekor, sperma dengan ekor yang patah
pada setengah panjangnya (Keel & Webster, 1990)

Gambar 2.10 Sperma hammer head (Keel & Webster, 1990)

Gambar 2.11 Sperma ekor dua (Keel & Webster, 1990)

BAB III

METODELOGI

3.1 Alat dan Bahan


Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini terdapat dalam Tabel 3.1.
Tabel 3.1 Alat dan bahan

Alat
Hemacytometer
Mikroskop
Alat bedah
Baki
Pipet tetes
Gelas kimia
Kaca arloji
Kaca objek
Kaca penutup

Bahan
Mencit jantan
Larutan PBS
Sediaan segar sel sperma manusia
Eosin 1%
Nigrosin 10%
Tisu

3.2 Cara Kerja


3.1.1 Pengamatan Morfologi Sperma Mencit
Sperma diisolasi dengan cara mencacah vas deferens, epididimis, dan
testis. Berikutnya sperma tersebut diletakkan dalam larutan PBS dalam
masing-masing wadah. Sperma yang telah diisolasi dipindahkan ke kaca
arloji, lalu dilarutkan dalam larutan PBS sebanyak 10 tetes, hasil campuran
diteteskan padakaca objek. Ujung kaca lainnya ditetesi pewarna nigrosine
eosin. Kaca objek yang berbeda ditempelkan pada tetesan larutan sperma
hingga menyebar dan digeserkan sampai mendekati tetesan pewarna.
Diamkan kaca objek hingga kering, lalu diamati.

3.1.2 Penghitungan Jumlah Sperma


Suspensi spermatozoa dibuat dengan mencampurkan sperma yang
telah diisolasi dengan larutan PBS 10 tetes. Larutan kemudian diteteskan pada
hemacytometer dan dihitung jumlah sperma pada 25 kotak bagian tengah.
Pengenceran dilakukan dengan faktor pengenceran ;
Tabel 3.2 Faktor Pengenceran

Jumlah Sperma
>20
20-100
>100

Faktor Pengenceran
1:10
1:20
1:50

Keterangan
1 tetes sperma + 9 tetes PBS
1 tetes sperma + 19 tetes PBS
1 tetes sperma + 49 tetes PBS

Setelah suspensi sperma diencerkan, teteskan pada hemacytometer dan


hitung kembali jumlah sperma pada 1 kotak di antara 25 kotak tersebut yang
dipilih secara acak. Kemudian dilakukan perhitungan ke 2 dengan cara
menghitung kembali sperma sejumlah kotak yang jumlahnya ditentukan oleh
jumlah sperma pada 1 kotak tersebut.

Tabel 3.3 Jumlah kotak yang perlu dihitung kembali

Jumlah Spermatozoa pada 1 Kotak

Jumlah Kotak yang Perlu Dihitung

Random
<10
10-40
>40

Kembali
25
10
5

Dari faktor pengenceran dan jumlah kotak yang dihitung kembali,


dapat
diperoleh faktor koreksi. Faktor koreksi akan membagi total sperma dari kotak
yang nilai dan jumlahnya ditentukan oleh jumlah sperma pada 1 kotak
sebelumnya. Faktor koreksi tersebut adalah:

Tabel 3.4 Faktor koreksi

Pengenceran
1:10
1:20
1:50

Jumlah Kotak yang Dihitung Kembali


25
10
5
10
4
2
5
2
4
2
0,8
0,4

Faktor
Koreksi

3.1.3 Perhitungan Motilitas


Sperma diisolasi lalu diteteskan pada kaca arloji dan ditambahkan
larutan PBS 9 tetes. Kemudian dibuat suspensinya dengan menggunakan pipet
dan diteteskan pada hemacytometer. Sperma dihitung berdasarkan
motilitasnya pada 25 kotak. Perhitungan motilitas sperma dikelompokan
menjadi 4 kelompok yaitu:
A. Spermatozoa bergerak lurus dan cepat
B. Spermatozoa bergerak tidak lurus dan lambat
C. Spermatozoa bergerak di tempat
D. Spermatozoa tidak bergerak sama sekali

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


4.1.1 Apusan sperma

Perbandingan dari sperma manusia dan sperma mencit dapat diamati dengan
menggunakan metode apusan yang terdapat pada tabel 4.1.
Tabel 4.1 Apusan sperma manusia dan sperma mencit
Apusan sperma manusia

Apusan sperma mencit

Gambar 4.1 Apusan sperma manusia

Gambar 4.2 Apusan sperma mencit

(Dokumentasi Pribadi, 2016)

(Dokumentasi Pribadi, 2016)

Bentuk kepala : oval

Bentuk kepala : kait

Ekor : tidak panjang

Ekor : sangat panjang

4.1.2

Histologi organ reproduksi


Hasil pengamatan histologi organ reproduksi yang dilakukan
dibandingkan dengan literatur terdapat pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Histologi organ reproduksi

Hasil pengamatan

Literatur

Epitel germinal

Corpus luteum
Folikel primer

Folikel tersier

Folikel sekunder

Gambar 4.3 Histologi ovarium

Gambar 4.6 Literatur histologi ovarium


perbesaran
(Parish, 2016)

perbesaran 140x (Dokumentasi


Pribadi, 2016)
Skeletal muscle

Otot sirkular

Otot longitudinal

lumen

Pseudo stratified ephitel


adventitia

Otot longitudinal
vena

Gambar 4.7 Literatur histologi vas deferens

Gambar 4.4 Histologi vas deferens

(Della, 2012)

perbesaran 100x (Dokumentasi


Pribadi, 2016)
Spermatosit

Sel leydig

Sel sertoli
Speramatid

Sel Leydig

Gambar 4.5 Histologi testis


perbesaran 400x (Dokumentasi
Pribadi, 2016)

Gambar 4.8 Literatur histologi testis

(Morgan, 2012)

4.1.3

Perhitungan parameter fertilitas (motilitas sperma dan jumlah sperma)


- Motilitas sperma
A (Spermatozoa bergerak lurus dan cepat) = 0
B (Spermatozoa bergerak tidak lurus dan lambat) = 13
C (Spermatozoa bergerak di tempat) = 6
D (Spermatozoa tidak bergerak sama sekali) = 100
A +B
Motilitas (%) = A+ B+C + D x 100%

0+13
0+13+6+100

x 100 %

= 10,92%
-

Jumlah sperma
Perhitungan pertama = 269 sperma
Faktor pengenceran = 1:50
Perhitungan kedua = 19 sperma
Jumlah kotak perhitungan kedua = 25
Faktor koreksi = 2
19
Jumlah sperma (juta/mL) = 2 = 9,5 juta/mL

4.2 Pembahasan
Reagen yang digunakan pada praktikum kali ini adalah larutan PBS dan
campuran pewarna eosin-nigrosin. PBS atau Phospat Buffered-Saline merupakan
campuran dari larutan NaCl, KCl, Na2HPO4, dan KH2PO4. Larutan PBS digunakan
untuk mempertahankan pH protein yang terdapat di dalam sperma agar tetap pada
kondisi segar dan tidak mati (Biological World, 2006). Pengujian menggunakan
campuran eosin-nigrosin merupakan teknik yang paling sederhana dan terbilang
murah untuk menaksir vitalitas sperma. Sel sperma yang sudah mati menyerap warna
merah dari eoisin. Nigrosin digunakan sebagai zat pewarnaan untuk mempermudah
kenampakan dari sel hidup yang tidak berwarna (Mortimer, 1994).

Perbedaan dari sperma mencit (Mus musculus) dan sperma manusia (Homo
sapiens) terletak pada bentuk kepala dan panjang ekornya. Kepala sperma mencit
berbentuk seperti kail dan bagian ekornya yang sangat panjang (Keel & Webster,
1990). Sedangkan pada manusia kepala spermanya berbentuk oval dengan bagian
ekornya yang tidak terlalu panjang (Montoya, 2006).
Menurut literatur, motilitas sperma manusia kurang lebih sebesar 50%-60%
(Kandeel, 2007). Pada hasil praktikum kali ini, didapatkan motilitas sperma manusia
hanya sebesar 10,92%. Hal ini mungkin disebabkan oleh kondisi tubuh dari pendonor
sperma yang kurang baik dan kemungkinan sperma telah melemah setelah beberapa
jam didiamkan. Jumlah sperma normal pada manusia adalah 20-150 juta/mL. Pada
hasil praktikum didapat jumlah sperma sebesar 9,5 juta/mL (Vorvick, 2012). Hal ini
belum bisa menunjukkan kenormalan jumlah sperma pendonor karena sampel
merupakan pencampuran sperma dari dua orang pendonor.
BAB V
KESIMPULAN

Kesimpulan dari praktikum reproduksi mencit (Mus musculus) dan manusia (Homo
sapiens) adalah sebagai berikut :
1. Perbedaan dari sperma mencit (Mus musculus) dan sperma manusia
(Homo sapiens) terletak pada bentuk kepala dan panjang ekornya. Kepala
sperma mencit berbentuk seperti kail sedangkan sperma manusia
berbentuk oval. Bagian ekor sperma mencit sangat panjang sedangkan
pada sperma manusia tidak terlalu panjang.
2. Berdasarkan hasil perhitungan, motilitas sperma manusia (Homo sapiens)
pada sampel adalah 10,92%.
3. Berdasarkan hasil pengamatan, jumlah sperma manusia (Homo sapiens)
pada sampel adalah 9,5 juta/mL.

DAFTAR PUSTAKA
Biological World, 2006. Biochemistry, Molecular Biology, and Cell Biology
Protocols.
http://biologicalworld.com/pbs.htm
[Accessed 10 October 2016].
Coetzee, K., Kruge, T. F. & Lombard, C. J., 1998. PredictiveValue of Normal Sperm
Morphology: A Structured LiteratureReview. Human Reproduction Update,
4(1), pp. 73-82.
Della,

2012.
HistoQuarterly:
VAS
DEFERENS.
https://micro2tele.com/2012/07/18/histoquarterly-vas-deferens/
[Accessed 11 October 2016].

Feldhamer, G. A. et al., 2007. Mammalogy: Adaptation, Diversity, Ecology. 3rd ed.


Baltimore: John Hopkins University Press.
Kandeel, F. R., 2007. Male Reproductive Dysfunction: Pathophysiology and
Treatment. s.l.:CRC Press.
Keel, B. A. & Webster, B. W., 1990. Handbook of the Laboratory Diagnosis and
Treatment of Infertility. s.l.:CRC Press.
Montoya, A. . V., 2006. Homo Sapiens: Psychology as seen from Evolution. 1st ed.
Spanish: Lang:Science.

Morgan, J. N., 2012. Mrp4 Is a Crucial Regulator of Testosterone Biosynthesis.


http://etd.uthsc.edu/WORLD-ACCESS/Morgan_Jessica/2012-042Morgan.pdf
[Accessed 11 October 2016].
Mortimer, D., 1994. Practical Laboratory Andrology. New York: Oxford University
Press.
Nalbandov, A. V., 1990. Fisiologi reproduksi pada mamalia dan unggas. Jakarta:
Univeritas Indonesia Press.
Parish,

J.
J.,
2016.
Female
Anatomy
and
Histology.
http://www.ansci.wisc.edu/jjp1/ansci_repro/lec/lec1/female_hist.html
[Accessed 11 October 2016].

Reece, J. B. et al., 2011. Biology Campbell. 9 ed. San Fransisco: Pearson Education.
Simmons, L. W., 2001. Sperm Competition and Its Evolutionary Consequences in the
Insects. Princeton: Princeton Univeristy Press.
Vorvick,
L.
J.,
2012.
Semen
Analysis
http://www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/003627.htm
[Accessed 11 October 2016].
Zini, A. & Agarwal, A., 2011. Sperm Chromatin: Biological and Clinical
Applications in Male Infertility and Assisted Reproduction. s.l.:Springer
Science & Business Media.