Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Salah satu isu atau masalah yang paling krusial untuk dipecahkan oleh bangsa dan
pemerintah Indonesia adalah masalah korupsi. Hal ini disebabkan semakin lama tindak
pidana korupsi di Indonesia ini semakin sulit untuk diatasi. Maraknya korupsi di Indonesia
disinyalir terjadi di semua bidang dan sector pembangunan. Apalagi setelah ditetapkannya
pelaksanaan otonomi daerah, berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah yang diperbaharui dengan Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004,
disinyalir korupsi menyebar bukan hanya terjadi pada tingkat pusat tetapi juga meluas ke
tingkat daerah dan bahkan menembus ke tingkat pemerintahan yang paling kecil di daerah.
Pemerintah Indonesia sebenarnya tidak tinggal diam dalam mengatasi praktik-praktik
korupsi. Upaya pemerintah dilaksanakan melalui berbagai kebijakan yang berupa peraturan
perundang-undangan dari yang tertinggi yaitu Undang-Undang Dasar 1945 sampai dengan
Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Selain itu
pemerintah juga membentuk komisi-komisi yang berhubungan langsung dengan pencegahan
dan pemberantasan tindak pidana korupsi seperti Komisi Pemeriksa Kekayaan
Penyelenggara Negara (KPKPN) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Kebijakan Pemerintah Indonesia dalam hal pemberantasan korupsi adalah :
1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, khususnya pasal 21 dan pasal 5
(ayat 1)
2. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana
3. Ketetapan MPR Nomor XI Tahun 1998
4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaran Pemerintahan yang
bersih dan bebas dari praktik KKN
5. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
6. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor
31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi
7. Dibentuknya Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara Negara (KPKPN) tahun 2001
berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 1999
8. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana
Korupsi (KPTPK)
9. Dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) tahun 2003 berdasarkan UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 junto Undang-Undang Nomor 20 tahun 2001 junto
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002
10. Dibentuknya Tim Pemberantas Korupsi dan lain-lainnya.
Upaya pencegahan praktik korupsi juga dilakukan di lingkungan eksekutif atau
penyelenggara negara, dimana masing-masing instansi memiliki Internal Control Unit (unit
pengawas dan pengendali dalam instansi) yang berupa inspektorat. Fungsi dari inspektorat ini
adalah mengawasi dan memeriksa penyelenggaraan kegiatan pembangunan di instansinya
masing-masing, terutama pengelolaan keuangan negara, agar supaya kegiatan pembangunan
1

berjalan secara efektif, efisien dan ekonomis sesuai sasaran. Di samping pengawasan internal
ada juga pengawasan dan pemeriksaan kegiatan pembangunan yang dilakukan oleh instansi
eksternal yaitu Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawas Keuangan
Pembangunan (BPKP).
Selain lembaga internal dan eksternal, lembaga swadaya masyarakat (LSM) juga ikut
berperan dalam melakukan pengawasan kegiatan pembangunan, terutama kasus-kasus
korupsi yang dilakukan oleh penyelenggara negara. Beberapa LSM yang aktif dan gencar
mengawasi dan melaporkan praktik korupsi yang dilakukan penyelenggara negara antara lain
adalah Indonesian Corruption Watch (ICW), Government Watch (GOWA), dan Masyarakat
Tranparansi Indonesia (MTI).
Dilihat dari upaya-upaya pemerintah dalam memberantas praktik korupsi di atas
sepertinya sudah cukup memadai baik dilihat dari segi hukum dan peraturan perundangundangan, komisi-komisi, lembaga pemeriksa baik internal maupun eksternal, bahkan
keterlibatan LSM. Namun pada kenyataannya praktik korupsi bukannya berkurang malah
meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan Indonesia kembali dinilai sebagai negara paling
terkorup di Asia pada awal tahun 2004 dan 2005 berdasarkan hasil survei dikalangan para
pengusaha dan pebisnis oleh lembaga konsultan Political and Economic Risk Consultancy
(PERC). Hasil survey lembaga konsultan PERC yang berbasis di Hong Kong menyatakan
1

bahwa Indonesia merupakan negara yang paling korup di antara 12 negara Asia. Predikat
negara terkorup diberikan karena nilai Indonesia hampir menyentuh angka mutlak 10 dengan
skor 9,25 (nilai 10 merupakan nilai tertinggi atau terkorup). Sedangkan pada tahun 2005
Indonesia masih termasuk dalam tiga teratas negara terkorup di Asia.
Peringkat negara terkorup setelah Indonesia, berdasarkan hasil survey yang dilakukan
PERC, yaitu: India (8,9), Vietnam (8,67), Thailand, Malaysia dan China berada pada posisi
sejajar di peringkat keempat yang terbersih. Sebaliknya negara yang terbersih tingkat
korupsinya adalah Singapura (0,5) disusul Jepang (3,5), Hong Kong, Taiwan dan Korea
Selatan. Untuk tahun 2006 posisi Indonesia naik satu peringkat dibandingkan dengan
Filipina.
Perubahan yang dilakukan China dan Thailand sungguh mengesankan, yaitu mampu
mengubah reputasi negara yang bergelimang korupsi menjadi negara yang rendah
korupsinya. India dan Vietnam juga mulai melakukan perbaikan melalui keinginan politik
tinggi dalam mempersempit ruang korupsi. China selama satu dasawarsa terakhir
melancarkan perang besar dengan korupsi. Para pejabat yang terbukti melakukan tindak
pidana korupsi tidak segan-segan dibawa ke tiang gantungan. Tindakan ini cukup efektif
mengurangi praktik korupsi di kalangan pejabat.
Sementara Thailand juga melakukan kampanye pemberantasan korupsi secara serius.
Sektor perpajakan dan pengadilan yang dianggap rawan korupsi dan kolusi dijadikan
prioritas dalam target kampanye melawan korupsi. Hasilnya mengesankan. Kemajuan dalam
kampanye korupsi membawa dampak positif dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk
kesanggupan membayar hutang luar negeri. Selama lima tahun Thailand mampu mencicil 50
milyar dollar AS utangnya
2

Upaya penanganan korupsi yang sistematis dan berkelanjutan di negara-negara


tersebut tampak begitu kontras dengan realitas yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan studi
yang dilakukan Transparency International, Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia tahun
2006 adalah 2,4 dan menempati urutan ke-130 dari 163 negara. Sebelumnya, pada tahun
3

2005 IPK Indonesia adalah 2,2, tahun 2004 (2,0) serta tahun 2003 (1,9). Hal ini
menunjukkan bahwa penanganan kasus korupsi di Indonesia masih sangat lambat dan belum
mampu membuat jera para koruptor.
Oleh karena itu sangatlah menarik untuk mengkaji lebih lanjut tentang strategi yang
dilakukan negara-negara tersebut dalam menangani korupsi, sehingga bias menjadi negara
yang rendah tingkat korupsinya. Sehubungan dengan hal tersebut, maka Pusat Kajian
Administrasi Internasional Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia memandang
perlu untuk melakukan kajian lebih jauh tentang strategi penanganan korupsi di negaranegara Asia Pasifik, sebagai bahan masukan untuk memperkuat (revitalize) penanganan
korupsi yang diterapkan di Indonesia.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaiamana konsep korupsi?
2. Bagaimana sejarah dan fungsi KPK?
3. Bagaimana sejarah dan fungsi ICAC?
4. Bagaimana sejarah dan fungsi MACC?

C. TUJUAN
Mahasiswa dan pembaca paham dan mengerti tentang bagaiman konsep korupsi dan
sejarah dan fungsi dari lembaga pemeberantas korupsi KPK, ICAC dan MACC?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.

PENGERTIAN KORUPSI
Korupsi berasal dari bahasa Latin: corruption dari kata kerja corrumpere berarti busuk,
rusak, menggoyahkan, memutar balik, menyogok. Menurut Transparency International
adalah perilaku pejabat publik, baik politikus/ politisi maupun pegawai negeri, yang secara
tidak wajar dan tidak legal memperkaya diri atau memperkaya mereka yang dekat
dengannya, dengan menyalahgunakan kekuasaan publik yang dipercayakan kepada mereka.
Dalam Kamus Al-Munawwir, term korupsi bisa diartikan meliputi: risywah, khiynat,
fasd, ghull, suht, bthil. Sedangkan dalam Kamus Al-Bisri kata korupsi diartikan ke dalam
bahasa arab: risywah, ihtils, dan fasd.
Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, korupsi secara harfiah berarti: buruk,
rusak, suka memakai barang (uang) yang dipercayakan padanya, dapat disogok (melalui
kekuasaannya untuk kepentingan pribadi). Adapun arti terminologinya, korupsi adalah
penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan) untuk kepentingan pribadi
atau orang lain.
Sementara, disisi lain, korupsi (corrupt, corruptie, corruption) juga bisa bermakna
kebusukan, keburukan, dan kebejatan. Definisi ini didukung oleh Acham yang mengartikan
korupsi sebagai suatu tindakan yang menyimpang dari norma masyarakat dengan cara
memperoleh keuntungan untuk diri sendiri serta merugikan kepentingan umum. Intinya,
korupsi adalah menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan publik atau pemilik untuk
kepentingan pribadi. Sehingga, korupsi menunjukkan fungsi ganda yang kontradiktif, yaitu
memiliki kewenangan yang diberikan publik yang seharusnya untuk kesejahteraan publik,
namun digunakan untuk keuntungan diri sendiri.
Korupsi merupakan kejahatan yang dilakukan dengan penuh perhitungan oleh mereka
yang justru merasa sebagai kaum terdidik dan terpelajar. Korupsi juga bisa dimungkinkan
terjadi pada situasi dimana seseorang memegang suatu jabatan yang melibatkan pembagian
sumber-sumber dana dan memiliki kesempatan untuk menyalahgunakannya guna
kepentingan pribadi. Nye mendefinisikan korupsi sebagai perilaku yang menyimpang dari
tugas formal sebagai pegawai publik untuk mendapatkan keuntungan finansial atau
meningkatkan status. Selain itu, juga bisa diperoleh keuntungan secara material, emosional,
atau pun simbol.
Kata korupsi telah dikenal luas oleh masyarakat, tetapi definisinya belum tuntas
dibukukan. Pengertian korupsi berevolusi pada tiap zaman, peradaban, dan teritorial.
Rumusannya bisa berbeda tergantung pada titik tekan dan pendekatannya, baik dari
perspektif politik, sosiologi, ekonomi dan hukum. Korupsi sebagai fenomena penyimpangan
dalam kehidupan sosial, budaya, kemasyarakatan, dan kenegaraan sudah dikaji dan ditelaah
secara kritis oleh banyak ilmuwan dan filosof. Aristoteles misalnya, yang diikuti oleh
Machiavelli, telah merumuskan sesuatu yang disebutnya sebagai korupsi moral (moral
corruption).
4

Sebetulnya pengertian korupsi sangat bervariasi. Namun demikian, secara umum korupsi
itu berkaitan dengan perbuatan yang merugikan kepentingan publik atau masyarakat luas
untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Agar bisa mendapatkan pemahaman secara
gamblang, berikut ini adalah pandangan dan pengertian korupsi menurut berbagai sumber:
1.
Syed Husein Alatas
Menurut pemakaian umum, istilah korupsi pejabat, kita menyebut korup apabila
seorang pegawai negeri menerima pemberian yang disodorkan oleh seorang swasta
dengan maksud mempengaruhinya agar memberikan perhatian istimewa pada
kepentingan-kepentingan si pemberi. Terkadang perbuatan menawarkan pemberian
seperti itu atau hadiah lain yang menggoda juga tercakup dalam konsep itu. Pemerasan,
yakni permintaan pemberian-pemberian atau hadiah seperti itu dalam pelaksanaan tugastugas publik, juga bisa dipandang sebagai korupsi. Sesungguhnyalah, istilah itu
terkadang juga dikenakan pada pejabat-pejabat yang menggunakan dana publik yang
mereka urus bagi keuntungan mereka sendiri; dengan kata lain, mereka yang bersalah
melakukan penggelapan di atas harga yang harus dibayar publik.
2.
David H. Bayley
Korupsi sebagai perangsang (seorang pejabat pemerintah) berdasarkan itikad
buruk (seperti misalnya, suapan) agar ia melakukan pelanggaran kewajibannya. Lalu
suapan (sogokan) diberi definisi sebagai hadiah, penghargaan, pemberian atau
keistimewaan yang dianugerahkan atau dijanjikan, dengan tujuan merusak pertimbangan
atau tingkah laku, terutama seorang dari dalam kedudukan terpercaya (sebagai pejabat
pemerintah).
Jadi korupsi sekalipun khusus terkait dengan penyuapan atau penyogokan, adalah
istilah umum yang mencakup penyalahgunaan wewenang sebagai hasil pertimbangan
demi mengejar keuntungan pribadi. Dan tidak usah hanya dalam bentuk uang. Hal ini
secara baik sekali dikemukakan oleh sebuah laporan pemerintah India tentang korupsi:
dalam arti yang seluas-luasnya, korupsi mencakup penyalahgunaan kekuasaan serta
pengaruh jabatan atau kedudukan istimewa dalam masyarakat untuk maksud-maksud
pribadi.
3.

4.

Sudomo
Sebenarnya pengertian korupsi ada tiga, pertama menguasai atau mendapatkan
uang dari negara dengan berbagai cara secara tidak sah dan dipakai untuk kepentingan
sendiri, kedua, menyalahgunakan wewenang, abuse of power. Wewenang itu
disalahgunakan untuk memberikan fasilitas dan keuntungan yang lain. Yang ketiga adalah
pungutan liar. Pungli ini interaksi antara dua orang, biasanya pejabat dengan warga
setempat, yang maksudnya si-oknum pejabat memberikan suatu fasilitas dan sebagainya,
dan oknum warga masyarakat tertentu memberi imbalan atas apa yang dilakukan oleh
oknum pejabat yang bersangkutan.
Blaks Law Dictionary
Pandangan masyarakat hukum Amerika Serikat tentang pengertian korupsi dapat
dilihat dari pengertian korupsi menurut kamus hukum yang paling popular di Amerika
5

Serikat: An act done with an intent to give some advantage inconsistent with official duty
and the rights of others. The act of an official or fiduciary person who unlawfully and
wrongfully uses his station or character to procure some benefit for himself or for
another person, contrary to duty and the rights of others.
(suatu perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk memberikan suatu
keuntungan yang tidak sesuai dengan kewajiban resmi dan hak-hak dari pihak-pihak lain.
Perbuatan dari seorang pejabat atau kepercayaan yang secara melanggar hukum dan
secara salah menggunakan jabatannya atau karakternya untuk mendapatkan suatu
keuntungan untuk dirinya sendiri atau untuk orang lain, berlawanan dengan
kewajibannya dan hak-hak dari pihak lain).
5. Transparency International
Corruption involves behavior on the part of officials in the public sector, whether
politicians or civil servants, in which they improperly and unlawfully enrich themselves,
or those close to them, by the misuse of the public power entrusted them.
(korupsi mencakup perilaku dari pejabat-pejabat di sektor publik, apakah politikus
atau pegawai negeri, di mana mereka secara tidak benar dan secara melanggar hukum
memperkaya diri sendiri atau pihak lain yang dekat dengan mereka, dengan cara
menyalahgunakan kewenangan publik yang dipercayakan kepada mereka).
6. Korupsi menurut negara-negara lain:
a. Malaysia
Any member of the administration or any member of parliament or the state
legislative assembly or any public officer who while being such a member of officer
commits any corrupt practice shall be guilty of an offence and shall be liable on
conviction to imprisonment for a term not exceeding fourteen yearsor to a fine not
exceeding twenty thousand ringgit or to both such imprisonment and fine.
Corrupt practice includes any act done by any member of officer referred to in
subsection (1) in his capacity as such member or officer where by he has used his
public position or office for his pecuniary or other advantage, and without prejudice
to the foregoing in relation to a member of a state legislative assembly includes any
act which contrary to the provision of sub-section (8) of section 2 of the eight
schedule to the federal constitution or the equivalent provision in the constitution of
a state.
(seseorang anggota administrasi atau seorang anggota parlemen atau Badan
Legislatif Negara Bagian atau seseorang pejabat publik yang pada saat menjadi
anggota atau pejabat melakukan segala bentuk praktek korupsi dinyatakan bersalah
melakukan tindak pidana dan dinyatakan bertanggung jawab untuk dijatuhi hukuman
penjara setinggi-tingginya empat belas tahun atau denda setinggi-tingginya dua belas
ribu ringgit atau kedua-duanya sekaligus.
Praktek korupsi termasuk setiap perbuatan yang dilakukan oleh anggota atau
pejabat seperti dimaksud dalam sub-seksi (1) dalam kapasitasnya sebagai anggota
6

atau pejabat dimana ia telah menggunakan posisi publik atau jabatannya untuk
memperkaya diri atau mendapatkan keuntungan lainnya, dan tanpa berprasangka
dalam kaitannya dengan seorang anggota badan legislatif negara bagian termasuk
setiap perbuatan yang melawan dengan ketentuan pada sub-seksi (8) dari seksi 2 dari
lampiran kedelapan konstitusi federal atau ketentuan yang sejenis dalam konstitusi
negara bagian).
b. Meksiko
Corruption is acts of dishonesty such as bribery, graft, conflict of interest,
negligence and lack of efficiency that require the planning of specific strategies it is
an illegal inter change of favors.
(korupsi diartikan sebagai bentuk penyimpangan ketidakjujuran berupa pemberian
sogokan, upeti, terjadinya pertentangan kepentingan, kelalaian dan pemborosan yang
memerlukan rencana dan strategi yang akan memberikan keuntungan kepada
pelakunya).
c. Cameroon
Corruption as the soliciting, accepting, or receiving by a public servant or agent,
for himself or for another person of offers, promises, gifts or present for performing,
postponing, or retraining from any act of his office.
(korupsi diartikan sebagai permintaan, persetujuan, atau penerimaan yang
dilakukan oleh seorang pegawai negeri atau pejabat untuk dirinya sendiri atau orang
lain atas suatu tawaran janji, hadiah, atau pemberian untuk melakukan, menunda,
atau tidak melakukan suatu pekerjaan pada jabatannya).
d. Nigeria
Corruption is an act done with an intent to give some advantage inconsistent with
official duty and the rights to other. The act of official or judiciary person who
unlawfully and wrongfully use his station or character to procure some benefit for
himself or for other persons contrary to duty and the right or others.
(korupsi adalah suatu perbuatan yang dilakukan dengan tujuan untuk memberi
keuntungan yang tidak sesuai dengan tugasnya dan hak-hak pribadi yang lain.
Perbuatan seorang pejabat atau petugas hukum yang secara melanggar hukum dan
secara salah menggunakan jabatannya atau kewenangannya untuk mendapatkan
keuntungan untuk dirinya sendiri atau untuk pihak lain secara berlawanan dengan
tugasnya dan hak-hak pihak lain).
e. India
Behaviour of unscrupulous element to indulge in makin quick money buy misuse
of official position or authority or by resisting to intentional delay and dilatory
tactics with a view to cause harassments and thereby putting pressure on some
members of the public to part with money in clandestine manner.
(perbuatan dari oknum-oknum yang tidak terpuji yang ingin memperoleh uang
secara cepat dengan menyalahgunakan jabatan dan kewenangan resmi atau dengan
7

taktik sengaja memperlambat penyelesaian suatu pekerjaan dengan maksud untuk


menyebabkan gangguan dan karena itu memberikan tekanan kepada sejumlah
masyarakat yang berkepentingan untuk melampirinya dengan uang di bawah meja).
f. Thailand
Corruption as behaviour of public servant that are condemned by law. (korupsi
diartikan sebagai perilaku yang dilarang oleh hukum bagi pegawai negeri). setingkat,
bawahannya, atau dari pihak luar yang dilayani.
B. SEBAB-SEBAB TERJADINYA KORUPSI
Penyebab terjadinya korupsi diantaranya adalah:
1. Aspek Individu Pelaku korupsi
Apabila dilihat dari segi si pelaku korupsi, sebab-sebab dia melakukan korupsi
dapat berupa dorongan dari dalam dirinya, yang dapat pula dikatakan sebagai keinginan,
niat, atau kesadarannya untuk melakukan. Sebab-sebab seseorang terdorong untuk
melakukan korupsi antara lain sebagai berikut:
a. Sifat Tamak Manusia
Kemungkinan orang yang melakukan korupsi adalah orang yang penghasilannya
sudah cukup tinggi, bahkan sudah berlebih bila dibandingkan dengan kebutuhan
hidupnya. Dalam hal seperti ini, berapapun kekayaan dan penghasilan sudah
diperoleh oleh seseorang tersebut, apabila ada kesempatan untuk melakukan korupsi,
maka akan dilakukan juga.
b. Moral Yang Kurang Kuat Menghadapi Godaan Seseorang yang moralnya tidak kuat
cenderung lebih mudah untuk terdorong berbuat korupsi karena adanya godaan.
Godaan terhadap seorang pegawai untuk melakukan korupsi berasal dari atasannya,
teman
c. Penghasilan Kurang Mencukupi Kebutuhan Hidup Yang Wajar
Apabila ternyata penghasilannya tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya
yang wajar, maka mau tidak mau harus mencari tambahan penghasilan untuk
memenuhi kebutuhan hidupnya. Usaha untuk mencari tambahan penghasilan tersebut
sudah merupakan bentuk korupsi, misalnya korupsi waktu, korupsi pikiran, tenaga,
dalam arti bahwa seharusnya pada jam kerja, waktu, pikiran, dan tenaganya
dicurahkan untuk keperluan dinas ternyata dipergunakan untuk keperluan lain.
d. Kebutuhan Hidup Yang Mendesak
Kebutuhan yang mendesak seperti kebutuhan keluarga, kebutuhan untuk
membayar hutang, kebutuhan untuk membayar pengobatan yang mahal, kebutuhan
untuk membiayai sekolah anaknya, merupakan bentuk-bentuk dorongan seseorang
yang berpenghasilan kecil untuk berbuat korupsi.
e. Gaya Hidup Konsumtif
Gaya hidup yang konsumtif di kota-kota besar, mendorong seseorang untuk dapat
memiliki mobil mewah, rumah mewah, pakaian yang mahal, hiburan yang mahal, dan
sebagainya. Gaya hidup yang konsumtif tersebut akan menjadikan penghasilan yang
8

sedikit semakin tidak mencukupi. Hal tersebut juga akan mendorong seseorang untuk
melakukan korupsi bilamana kesempatan untuk melakukannya ada.
f. Malas Atau Tidak Mau Bekerja Keras
Kemungkinan lain, orang yang melakukan korupsi adalah orang yang ingin segera
mendapatkan sesuatu yang banyak, tetapi malas untuk bekerja keras guna
meningkatkan penghasilannya.
g. Ajaran-Ajaran Agama Kurang Diterapkan Secara Benar Para pelaku korupsi secara
umum adalah orang-orang yang beragama. Mereka memahami ajaran-ajaran agama
yang dianutnya, yang melarang korupsi. Akan tetapi pada kenyataannya mereka juga
melakukan korupsi. Ini menunjukkan bahwa banyak ajaran-ajaran agama yang tidak
diterapkan secara benar oleh pemeluknya.
2. Aspek Organisasi
Organisasi dalam hal ini adalah organisasi dalam arti yang luas, termasuk sistem
pengorganisasian lingkungan masyarakat. Organisasi yang menjadi korban korupsi atau
dimana korupsi terjadi biasanya memberi andil terjadinya korupsi karena membuka
peluang atau kesempatan untuk terjadinya korupsi. Diantara penyebabnya adalah:
a. Kurang Adanya Teladan Dari Pemimpin
Dalam organisasi, pimpinannya baik yang formal maupun yang tidak
formal (sesepuhnya) akan menjadi panutan dari setiap anggota atau orang yang
berafiliasi pada organisasi tersebut. Apabila pimpinannya mencontohkan gaya
hidup yang bersih dengan tingkat kehidupan ekonomi yang wajar, maka anggotaanggota organisasi tersebut akan cenderung untuk bergaya hidup yang sama.
b. Tidak Adanya Kultur Organisasi Yang Benar
Kultur atau budaya organisasi biasanya akan mempunyai pengaruh yang sangat
kuat kepada anggota-anggota organisasi tersebut terutama pada kebiasaannya, cara
pandangnya, dan sikap dalam menghadapi suatu keadaan. Kebiasaan tersebut akan
menular ke anggota lain dan kemudian perbuatan tersebut akan dianggap sebagai
kultur di lingkungan yang bersangkutan Misalnya, di suatu bagian dari suatu
organisasi akan dapat muncul budaya uang pelicin, amplop, hadiah, dan lain-lain
yang mengarah ke akibat yang tidak baik bagi organisasi.
c. Sistem Akuntabilitas di Instansi Pemerintah Kurang Memadai
Pada organisasi dimana setiap unit organisasinya mempunyai sasaran yang telah
ditetapkan untuk dicapai yang kemudian setiap penggunaan sumber dayanya selalu
dikaitkan dengan sasaran yang harus dicapai tersebut, maka setiap unsur kuantitas dan
kualitas sumber daya yang tersedia akan selalu dimonitor dengan baik. Pada instansi
pemerintah, pada umumnya instansi belum merumuskan dengan jelas visi dan misi
yang diembannya dan juga belum merumuskan dengan tepat tujuan dan sasaran yang
harus dicapai dalam periode tertentu guna mencapai misi tersebut. Demikian pula
dalam memonitor prestasi kerja unit-unit organisasinya, pada umumnya hanya
melihat tingkat penggunaan sumber daya (input factor), tanpa melihat tingkat
pencapaian sasaran yang seharusnya dirumuskan dengan tepat dan seharusnya dicapai
9

(faktor out-put). Akibatnya, terhadap instansi pemerintah sulit dilakukan penilaian


apakah instansi tersebut berhasil mencapai sasarannya atau tidak. Keadaan ini
memunculkan situasi organisasi yang kondusif untuk terjadi korupsi.
d. Kelemahan Sistem Pengendalian Manajemen
Pada organisasi di mana pengendalian manajemennya lemah akan lebih banyak
pegawai yang melakukan korupsi dibandingkan pada organisasi yang pengendalian
manajemennya kuat. Seorang pegawai yang mengetahui bahwa sistem pengendalian
manajemen pada organisasi di mana dia bekerja lemah, maka akan timbul kesempatan
atau peluang baginya untuk melakukan korupsi.
e. Manajemen Cenderung Menutupi Korupsi Di Dalam Organisasinya
Pada umumnya jajaran manajemen organisasi di mana terjadi korupsi enggan
membantu mengungkapkan korupsi tersebut walaupun korupsi tersebut sama sekali
tidak melibatkan dirinya. Kemungkinan keengganan tersebut timbul karena
terungkapnya praktek korupsi di dalam organisasinya. Akibatnya, jajaran manajemen
cenderung untuk menutup-nutupi korupsi yang ada, dan berusaha menyelesaikannya
dengan cara-cara sendiri yang kemudian dapat menimbulkan praktek korupsi yang
lain.
3. Aspek Masyarakat Tempat Individu dan Organisasi Berada
a. Nilai-Nilai Yang berlaku Di Masyarakat Ternyata Kondusif Untuk Terjadinya Korupsi
Korupsi mudah timbul karena nilai-nilai yang berlaku di masyarakat kondusif
untuk terjadinya hal itu. Misalnya, banyak anggota masyarakat yang dalam pergaulan
sehari-harinya ternyata dalam menghargai seseorang lebih didasarkan pada kekayaan
yang dimiliki orang yang bersangkutan.
b. Masyarakat Kurang Menyadari Bahwa Yang Paling Dirugikan Oleh Setiap Praktik
Korupsi Adalah Masyarakat Sendiri
Masyarakat pada umumnya beranggapan bahwa apabila terjadi perbuatan korupsi,
maka pihak yang akan paling dirugikan adalah negara atau pemerintah. Masyarakat
kurang menyadari bahwa apabila negara atau pemerintah yang dirugikan, maka secara
pasti hal itu juga merugikan masyarakat sendiri.
c. Masyarakat Kurang Menyadari Bahwa Masyarakat Sendiri Terlibat Dalam Setiap
Praktik Korupsi
Pada umumnya masyarakat beranggapan bahwa apabila terjadi perbuatan korupsi,
yang terlibat dan yang harus bertanggung jawab adalah aparat pemerintahnya.
Masyarakat kurang menyadari bahwa pada hampir setiap perbuatan korupsi, yang
terlibat dan mendapatkan keuntungan adalah termasuk anggota masyarakat tertentu.
Jadi tidak hanya aparat pemerintah saja.
d. Masyarakat Kurang Menyadari Bahwa Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi
Hanya Akan Berhasil Kalau Masyarakat Ikut Aktif Melakukannya
Pada umumnya masyarakat beranggapan bahwa pihak yang bertanggung jawab
untuk melakukan pemberantasan korupsi adalah pemerintah. Pandangan seperti itu
adalah keliru, dan ini terbukti bahwa selama ini pemberantasan korupsi masih belum

10

berhasil karena upaya pemberantasan korupsi tersebut masih lebih banyak


mengandalkan pemerintah.
Masyarakat secara nasional mempunyai berbagai potensi dan kemampuan
diberbagai bidang, yang apabila dipergunakan secara terencana dan terkoordinasi
maka akan lebih memberikan hasil pada upaya pemberantasan korupsi. Sebagai
contoh, peran-serta secara aktif dari kalangan pemuka agama memiliki kemungkinan
yang lebih besar untuk berhasil mengurangi ketamakan manusia. Demikian peranserta secara aktif dari para pendidik.
Alatas menjelaskan beberapa hal yang menjadi penyebab korupsi, antara lain,
yaitu:
a) Lemahnya/ tidak adanya kepemimpinan yang berpengaruh dalam menjinakkan
korupsi
b) Kurangnya pendidikan agama dan etika
c) Konsumerisme dan globalisasi
d) Kurangnya pendidikan
e) Kemiskinan
f) Tidak adanya tindak hukuman yang keras
g) Kelangkaan lingkungan yang subur untuk perilaku anti korupsi
h) Struktur pemerintahan
i) Perubahan radikal/ transisi demokrasi
Sementara, berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan oleh bagian Litbang
Harian Kompas menunjukkan bahwa penyebab perilaku korupsi, yaitu:
a) Didorong oleh motif-motif ekonomi, yakni ingin memiliki banyak uang dengan
cara cepat meski memiliki etos kerja yang rendah
b) Rendahnya moral
c) Penegakan hukum yang lemah.
C. JENIS-JENIS KORUPSI
Menurut Alatas (1987) dari segi tipologi, membagi korupsi ke dalam tujuh jenis yang
berlainan, yaitu:
1. Korupsi transaktif (transactive corruption), menunjuk kepada adanya kesepakatan
timbal balik antara pemberi dan penerima, demi keuntungan kedua belah pihak.
2. Korupsi yang memeras (extortive corruption), menunjuk adanya pemaksaan kepada
pihak pemberi untuk menyuap guna mencegah kerugian yang sedang mengancam
dirinya, kepentingannya atau hal-hal yang dihargainya.
3. Korupsi investif (investive corruption), adalah pemberian barang atau jasa tanpa ada
pertalian langsung dengan keuntungan tertentu, selain keuntungan yang dibayangkan
akan diperoleh dimasa yang akan datang.
4. Korupsi perkerabatan (nepotistic corruption), adalah penunjukan yang tidak sah
terhadap teman atau sanak saudara untuk memegang jabatan dalam pemerintahan, atau
tindakan yang memberikan perlakuan istimewa secara bertentangan dengan norma dan
peraturan yang berlaku.
11

5. Korupsi defensive (defensive corruption), adalah korban korupsi dengan pemerasan.


Korupsinya adalah dalam rangka mempertahankan diri.
6. Korupsi otogenik (autogenic corruption), adalah korupsi yang dilakukan oleh seseorang
seorang diri.
7. Korupsi dukungan (supportive corruption), adalah korupsi yang dilakukan untuk
memperkuat korupsi yang sudah ada.
Korupsi dilihat dari proses terjadinya perilaku korupsi dapat dibedakan dalam tiga
bentuk:
1. Graft, yaitu korupsi yang bersifat internal. Korupsi ini terjadi karena mereka
mempunyai kedudukan dan jabatan di kantor tersebut. Dengan wewenangnya para
bawahan tidak dapat menolak permintaan atasannya.
2. Bribery (penyogokan, penyuapan), yaitu tindakan korupsi yang melibatkan orang lain di
luar dirinya (instansinya). Tindakan ini dilakukan dengan maksud agar dapat
mempengaruhi objektivitas dalam membuat keputusan atau membuat keputusan yang
dibuat akan menguntungkan pemberi, penyuap atau penyogok.
3. Nepotism, yaitu tindakan korupsi berupa kecenderungan pengambilan keputusan yang
tidak berdasar pada pertimbangan objektif, rasional, tapi didasarkan atas pertimbangan
nepotis dan kekerabatan.
Sedangkan korupsi bila dilihat dari sifat korupsinya dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Korupsi individualis, yaitu penyimpangan yang dilakukan oleh salah satu atau beberapa
orang dalam suatu organisasi dan berkembang suatu mekanisme muncul, hilang dan jika
ketahuan pelaku korupsi akan terkena hukuman yang bisa disudutkan, dijauhi, dicela,
dan bahkan diakhiri nasib karirnya.
2. Korupsi sistemik, yaitu korupsi yang dilakukan oleh sebagian besar (kebanyakan) orang
dalam suatu organisasi (melibatkan banyak orang).
D. DAMPAK DARI TINDAKAN KORUPSI
Korupsi berdampak sangat buruk bagi kehidupan berbangsa dan bernegara karena telah
terjadi kebusukan, ketidakjujuran, dan melukai rasa keadilan masyarakat. Penyimpangan
anggaran yang terjadi akibat korupsi telah menurunkan kualitas pelayanan negara kepada
masyarakat. Pada tingkat makro, penyimpangan dana masyarakat ke dalam kantong pribadi
telah menurunkan kemampuan negara untuk memberikan hal-hal yang bermanfaat untuk
masyarakat, seperti: pendidikan, perlindungan lingkungan, penelitian, dan pembangunan.
Pada tingkat mikro, korupsi telah meningkatkan ketidakpastian adanya pelayanan yang baik
dari pemerintah kepada masyarakat.
Dampak korupsi yang lain bisa berupa:
1. Runtuhnya akhlak, moral, integritas, dan religiusitas bangsa.
2. Adanya efek buruk bagi perekonomian negara.
3. Korupsi memberi kontribusi bagi matinya etos kerja masyarakat.
4. Terjadinya eksploitasi sumberdaya alam oleh segelintir orang.
12

5. Memiliki dampak sosial dengan merosotnya human capital.


Korupsi selalu membawa konsekuensi negatif terhadap proses demokratisasi dan
pembangunan, sebab korupsi telah mendelegetimasi dan mengurangi kepercayaan publik
terhadap proses politik melalui money-politik. Korupsi juga telah mendistorsi pengambilan
keputusan pada kebijakan publik, tiadanya akuntabilitas publik serta menafikan the rule of
law. Di sisi lain, korupsi menyebabkan berbagai proyek pembangunan dan fasilitas umum
bermutu rendah serta tidak sesuai dengan kebutuhan yang semestinya, sehingga menghambat
pembangunan jangka panjang yang berkelanjutan.

13

BAB III
PEMBAHASAN
A. KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibentuk pada tahun 2002 dengan dasar hukum
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. KPK
berdasarkan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan
Korupsi dibentuk untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya
pemberantasan tindak pidana korupsi. Sebagai suatu organisasi, KPK memiliki visi
Penggerak Perubahan untuk Mewujudkan Bangsa yang Anti-korupsi dan misinya
Mewujudkan Indonesia yang Bebas Korupsi.
Selain itu, secara filosofi pembentukan KPK tertuang dalam konsideran Menimbang
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Huruf a
dan huruf b konsideran Menimbang Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Korupsi menegaskan filosofi pembentukan KPK sebagai berikut.
a. bahwa dalam rangka mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945, pemberantasan tindak pidana korupsi yang terjadi sampai sekarang belum dapat
dilaksanakan secara optimal. Oleh karena itu, pemberantasan tindak pidana korupsi
perlu ditingkatkan secara profesional, intensif, dan berkesinambungan karena korupsi
telah merugikan keuangan negara, perekonomian negara, dan menghambat
pembangunan nasional;
b. bahwa lembaga pemerintah yang menangani perkara tindak pidana korupsi belum
berfungsi secara efektif dan efisien dalam memberantas tindak pidana korupsi.
Konsideran Menimbang di atas memberi isyarat betapa pentingnya membentuk suatu
lembaga lain (KPK) karena lembaga pemerintah yang ada belum melaksanakan secara
optimal dan juga belum berfungsi secara efektif dan efisien dalam pemberantasan korupsi.
Pemberantasan tindak pidana korupsi harus dilakukan secara profesional, intensif, dan
berkesinambungan karena tindak pidana korupsi telah merugikan keuangan negara,
perekonomian negara, bahkan secara nyata menghambat pembangunan nasional.
KPK merupakan lembaga negara, sebagaimana diatur Pasal 3 Undang-Undang
Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan sebagai berikut.
Komisi Pemberantasan Korupsi adalah lembaga negara yang dalam melaksanakan tugas
dan wewenangnya bersifat independen dan bebas dari pengaruh kekuasaan mana pun (cetak
tebal penulis).
Dari pasal tersebut terkandung pula pengertian bahwa KPK dalam melaksanakan tugas
dan wewenangnya bersifat independen dan bebas dari kekuasaan mana pun. Makna
kekuasaan mana pun adalah bebas dari pengaruh kekuasaan eksekutif, yudikatif,
legislatif, dan pihak lain yang terkait dengan perkara tindak pidana korupsi, sebagaimana
14

dijelaskan dalam penjelasan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang


Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai berikut.
Dalam ketentuan ini yang dimaksud dengan kekuasaan manapun adalah kekuatan yang
dapat mempengaruhi tugas dan wewenang Komisi Pemberantasan Korupsi atau anggota
komisi secara individu dari pihak eksekutif, yudikatif, legislatif, pihak-pihak lain yang
berkaitan dengan perkara tindak pidana korupsi atau keadaan dan situasi dengan alasan apa
pun.
Pimpinan KPK terdiri atas lima orang dimana 1 satu orang sebagai ketua dan empat
orang sebagai wakil ketua, seluruh pimpinan KPK merangkap sebagai anggota dan
bekerja secara kolektif. Berdasakan Pasal 21 ayat (3) Undang-Undang Nomor
30
Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi, pimpinan KPK merupakan pejabat
negara. Selanjutnya, berdasarkan Pasal 21 Undang-Undang Nomor 30 tahun 2002 yang
ditindaklanjuti dengan diterbitkannya Surat Keputusan Pimpinan KPK Nomor 7 Tahun
2004 tentang Organisasi dan Tata Kerja Komis Pemberantasan Korupsi.
Berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan KPK struktur organisasi KPK adalah sebagai
berikut.
a. Pimpinan yang terdiri atas seorang ketua merangkap anggota, dan empat wakil ketua
merangkap anggota
b. Penasehat terdiri dari empat orang,
c. Deputi Bidang Pencegahan yang terdiri atas Direktorat Pendaftaran
dan Pemeriksaan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggaraan Negara (PP-LHKPN);
Direktorat Gratifikasi; Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Mayarakat, serta Direktorat
Penelitian dan Pengembangan
d. Deputi Bidang Penindakan yang terdiri atas Direktorat Penyelidikan, Direktorat
Penyidikan, dan Direktorat Penuntutan
e. Deputi Bidang Informasi dan Data terdiri atas Direktorat Pengolahan Informasi dan data;
Direktorat Pembinaan Jaringan Kerja Antar Komisi dan instansi; Direktorat Monitoring
f. Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat, terdiri atas Direktorat
Pengawasan Internal dan Direktorat Pengaduan
Masyarakat
g. Sekretariat jenderal terdiri atas Biro Perencanaan dan Keuangan, Biro
Umum, serta Biro Sumberdaya Manusia.

15

Bagan 5.1

16

Struktur Organisasi KPK


Mekanisme pemilihan dan penentuan pimpinan KPK diatur
dalam Pasal 30 Undang-Undang
Nomor 30
Tahun 2002 tentang
Komisi
PIMPINAN
Pemberantasan Korupsi. Pemilihan dan penentuan calon pimpinan KPK 303 dilakukan
Commissioners
oleh sebuah panitia seleksi yang dibentuk oleh pemerintah. Keanggotaan panitia
seleksi terdiri atas unsur pemerintah dan masyarakat, hal tersebut untuk menjamin
dalam pemilihan.
Calon pimpinan
Deputinetralitas dan obyektivitas
Deputi
Deputi KPK yang terpilih, harusSekretariat
Deputi
bidang
diumumkan kepada
masyarakat untuk
mendapatkan tanggapan
sebelum calon tersebutJenderal
bidang
bidang
bidang
Pencegaha
Pnindakan
Informasi
disampaikan kepada
presiden. Dalam
waktu paling pengawasa
lambat 14 hari sejak nama calon
n
Intema
dan
Data
diterima oleh presiden,
nama calon harus diserahkan kepada
DPR.
Sekretariat
Sekretariat
Biro
dan
Setelah
menerima
nama
calon
pimpinan
KPK,
DPR wajib Perancanga
memilih dan
Deputi
Deputi
Sekretariat
menetapkan lima calon yang dibutuhkan,
atas satu orang ketua
dan empat
n dan
Deputi yang terdiriSekretariat
Deputi
anggota sebagai
wakil ketua. Calon terpilih disampaikan oleh pimpinan Keuangan
DPR kepada
Direktorat
Direktorat
Presiden Republik
Indonesia paling
lambat 7 hari kerja terhitung sejak
Biro umum
tanggal
Pendaftara
Penyelidika
Direktorat
n danberakhirnya pemilihan
n
Pengolahan
untuk disahkan
oleh Presiden. Direktorat
Presiden wajib menetapkan calon
Pengawasa
Pemeriksaa
Informasi
terpilih paling Direktorat
lambat 30 hari kerja
terhitung sejak tanggal diterimanya surat
Biro pimpinan
n Internal
n LHKPN
dan Data
DPR.
Penyidikan
Sumber
Daya Dalam
Dalam hal pemberhentian pimpinan KPK, juga ditetapkan oleh Presiden.
Direktorat
Pasal 32 Undang-Undang
Direktorat Nomor 30
Direktorat
Tahun 2002 tentang
Direktorat
Komisi Pemberantasan Korupsi,
Gratifikasi
Penuntutan
Pembinaan
Pengaduan
Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi dapat berhenti atau diberhentikan karena
Jaringan menjadi terdakwa
Masyarakat
meninggal dunia, berakhir masa jabatannya,
karena melakukan tindak
Kerja Antar
Direktorat
pidana kejahatan, berhalangan tetap
atau secara terus-menerus selama lebih dari 3 bulan
Komisi dan
Pendidikan
tidak dapat melaksanakan tugasnya,Instansi
mengundurkan diri atau dikenai sanksi.
dan
KPK
memiliki
beberapa
tugas
dan wewenang yang diatur dalam Pasal 6 UndangPelayanan
Direktorat
Undang
Nomor 30
Tahun 2002 tentangKomisi Pemberantasan Korupsi,
Masyarakat
Monitor
sebagai berikut.
a. berkoordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana
Direktorat
korupsi;
Penelitian
dan b. melakukan supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan
Pengemban
tindak pidana korupsi;
gan c. melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi;
d. melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi; dan
e. melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.
Fungsi koordinasi yang dimiliki oleh KPK juga dipunyai oleh lembaga lain dalam
menangani korupsi. Ada tiga kriteria kasus korupsi yang menjadi kewenangan KPK.
Menurut Pasal 11 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Korupsi, tiga kewenangan tersebut adalah (1) melibatkan aparat penegak
hukum, penyelenggara negara, dan orang lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana
korupsi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum atau penyelenggara negara; (2)
mendapat perhatian yang meresahkan masyarakat; (3) menyangkut kerugian negara
paling sedikit satu miliar rupiah.
17

Fungsi supervisi yang dimiliki KPK menjadikan lembaga ini memiliki legitimasi
dalam melakukan pengawasan, penelitian, atau penelaahan terhadap instansi yang
menjalankan tugas dan wewenangnya yang berkaitan dengan pemberantasan tindak
pidana korupsi. Hal tersebut diatur dalam Pasal
8 Undang-Undang
Nomor
30
Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi.
Dengan adanya kewenangan supervisi ini, KPK dapat mengambilalih penyidikan
atau penuntutan suatu perkara korupsi yang sedang ditangani oleh kepolisian atau
kejaksaan sebagaimana diatur dalam Pasal 8 ayat (2) Undang-Undang Nomor 30 Tahun
2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. Pengambilalihan dilakukan bila ada
laporan dari warga masyarakat mengenai tindak pidana korupsi yang tidak
ditindaklanjuti, proses penanganannya berlarut-larut tanpa alasan yang dapat
dipertanggungjawabkan, penanganannya terkesan melindungi pelaku korupsi yang
sesungguhnya, penanganannya mengandung unsur korupsi karena ada campur tangan
dari eksekutif, yudikatif, atau legislatif atau karena keadaan lain yang sulit diatasi dan
dilaksanakan oleh kepolisian atau kejaksaan.
Fungsi pencegahan yang dimiliki KPK merupakan kewenangan yang penting. Hal
ini karena pencegahan dapat membentuk karakter budaya anti-korupsi. Banyak negara
menekankan bahwa penindakan tanpa adanya pencegahan tidak dapat berjalan dengan
baik. Bahkan, fungsi pencegahan ini dianggap paling penting dalam keberhasilan
pemberantasan korupsi. Kewenangan KPK dalam hal pencegahan sebagaimana diatur
dalam Pasal 13 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan
Korupsi berupa.
a. melakukan pendaftaran dan pemeriksaan terhadap laporan harta kekayaan penyelenggara
negara;
b. menerima laporan dan menetapkan status gratifikasi;
c. menyelenggarakan program pendidikan antikorupsi pada setiap jenjang pendidikan;
d. merancang dan mendorong terlaksananya program sosialisasi pemberantasan tindak
pidana korupsi;
e. melakukan kampanye antikorupsi kepada masyarakat umum;
f. melakukan kerja sama bilateral atau multilateral dalam pemberantasan tindak pidana
korupsi.
Independensi KPK juga diwujudkan melalui tugas monitoring terhadap
penyelenggara pemerintahan negara. Wewenang KPK dalam melakukan monitoring
tersebut diatur dalam Pasal 14 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Korupsi sebagai berikut.
a. melakukan pengkajian terhadap sistem pengelolaan administrasi di semua lembaga
negara dan pemerintah;

18

b. memberi saran kepada pimpinan lembaga negara dan pemerintah untuk melakukan
perubahan jika berdasarkan hasil pengkajian, sistem pengelolaan administrasi tersebut
berpotensi korupsi;
c. melaporkan kepada Presiden Republik Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat
Republik Indonesia, dan Badan Pemeriksa Keuangan, jika saran Komisi
Pemberantasan Korupsi mengenai usulan perubahan tersebut tidak diindahkan.
Dalam mewujudkan tugas dan wewenang tersebut, KPK dibagi menjadi
empat bidang strategi.
1. Strategi Pembangunan Kelembagaan meliputi penyusunan struktur organisasi, kode
etik, rencana strategi rencana kerja, anggaran, prosedur operasi standart, dan
penyusunan sistem manajemen SDM, rekrutmen penasehat dan pegawai serta
pengembangan pegawai, penyusunan sistem manajemen keuangan, penyusunan
tehnologi Informasi pendukung, penyediaan peralatan dan fasilitas, dan penyusunan
mekanisme pengawasan internal.
2. Strategi Pencegahan
a. Peningkatan efektivitas sistem pelaporan harta kekayaan penyelenggara negara,
b. Penyusunan sistem pelaporan gratifikasi dan sosialisasinya,
c. Penyusunan sistem pelaporan pengaduan masyarakat dan sosialisasinya,
d. Pengkajian dan penyampaian saran perbaikan atas sistem administrasi pemerintahan
dan pelayanan masyarakat yang berindikasi korupsi,
e. Penelitian dan pengembangan teknik dan metode yang mendukung
pemberantasan korupsi.
3. Strategi Penindakan
a. Pengembangan sistem dan prosedur peradilan pidana korupsi yang ditangani
langsung oleh KPK,
b. Pelaksanaan penyelidikan penyidik dan penuntutan perkara TPK dan KPK,
c. Pengembangan mekanisme, sistem dan prosedur supervisi oleh KPK atas
penyelesaian perkara TPK yang dilaksanakan oleh Kepolisian dan Kejaksaan,
d. Identifikasi kelemahan undang-undang dan konflik antar undang-undang yang
berkaitan dengan pemberantasan korupsi,
e. Pemetaan aktivitas-aktivitas yang berindikasi TPK.
4. Strategi Penggalangan Partisipasi Masyarakat
a. Kerjasama dengan lembaga publik dan perumusan peran masing-masing dalam
upaya pemberantasan korupsi,
b. Kerja sama dengan lembaga kemasyarakatan di bidang sosial, keagamaan, profesi,
dunia usaha, swadaya masyarakat (LSM), dan lembaga lainnya, serta perumusan
peran serta masing-masing dalam upaya pemberantasan korupsi,
19

c. Kerjasama dengan mitra pemberantasan korupsi di luar negeri, baik secara bilateral
maupun multilateral,
d. Kampanye antikorupsi yang terintegrasi dengan diarahkan untuk membentuk budaya
antikorupsi,
e. Pengembangan basis data (database) profil korupsi,
f. Pengembangan penyediaan akses informasi korupsi kepada publik.
Sebagai lembaga negara dalam melaksanakan kewenangannya, KPK juga
berkewajiban melakukan pertanggungjawaban. Komisi Pemberantasan Korupsi
bertanggung jawab kepada publik atas pelaksanaan tugasnya dan menyampaikan
laporannya secara terbuka dan berkala kepada Presiden, DPR, dan BPK.
Pertanggungjawaban publik tersebut dilaksanakan melalui mekanisme menerbitkan
laporan tahunan dan membuka akses informasi. KPK memiliki tempat kedudukan di
Ibukota negara Republik Indonesia dan wilayah kerjanya meliputi seluruh wilayah
negara Republik Indonesia. KPK juga dapat membentuk perwakilan di daerah provinsi.

20

B. ICAC (Independent Commission Against Corruption)


1. Hongkong
Latar belakang utama dibentuknya suatu badan yang secara khusus menangani
korupsi di Hongkong adalah permasalahan korupsi di tubuh kepolisian yang diakibatkan
perdagangan obat, perjudian dan pelacuran, serta penyuapan di bidang lalu lintas.
Masalah narkotika terus berlanjut dari tahun 1960 sampai dengan tahun 1970, bahkan
Hongkong telah menjadi tempat transit para pengedar narkotika yang berkolusi dengan
polisi Hongkong.
Setiap harinya polisi menerima setoran sebesar 1000 dolar Hongkong yang
diterima dari sindikat, kemudian dibagi secara berhierarkis. Selain itu, terdapat pula
setoran dari kasino, pelacuran, dan penyuapan terhadap kepolisian di bidang lalu lintas.
Dengan kejadian-kejadian tersebut, pada tahun 1948 Hongkong membentuk suatu
badan antikorupsi dengan nama Anti Corruption Office yang merupakan bagian dari
Kepolisian Hongkong. Pada bulan Mei 1971 badan ini diberi kewenangan yang lebih
kuat, yakni dalam hal investigasi.
Banyak rakyat yang berpendapat bahwa badan anti korupsi di Kepolisian
Hongkong tidak lagi mampu melaksanakan tugasnya. Keadaan memuncak pada bulan
Juni 1973 ketika seorang perwira Polisi dengan pangkat Chief Superintendant bernama
Peter Fitzroy Godber melakukan korupsi dan berhasil meloloskan diri ke Inggris.
Berdasarkan hasil penyidikan tim yang dipimpin oleh hakim Sir Alastair Blairler
mengenai lolosnya Godber, Gubernur Hongkong mengumumkan akan mengalihkan
tanggung jawab dari tangan kepolisian kepada suatu badan yang independen.
Akhirnya, pada tanggal 15 Februari 1974 disahkan undang-undang tentang
Independent Comission Against Corruption Hongkong (Chapter 204). Hongkong
membentuk Independent Commision Against Corruption dalam keadaan para hakim
masih sangat bersih dari korupsi, dan korupsi hanya merajalela di kalangan kepolisian,
sedangkan di negara lain membentuk komisi antikorupsi karena korupsi sudah meluas di
negara itu.
ICAC (Independent Commision Against Corruption) dibentuk berdasarkan
undang-undang tentang Independent Commision Against Corruption (ICAC) Ordinance
(Cap. 204). Selain itu, perbuatan lainnya yang tergolong tindak pidana korupsi diatur
dalam The Prevention of Bribery Ordinance (POBO) (Cap 201).
Ada tiga kewenangan yang diberikan kepada ICAC, yakni menyelidiki adanya
dugaan korupsi (Investigations), mencegah terjadinya korupsi dengan memperbaiki
sistem dan prosedur dalam sektor publik (preventions), dan memberikan pendidikan
kepada masyarakat mengenai korupsi serta menggalang dukungan dari masyarakat dalam
usaha mencegah korupsi (public educations). Selain di sektor publik, ICAC juga
berwenang menyelidiki dugaan korupsi di sektor privat. Namun, ICAC tidak dapat
memberikan sanksi hukum kepada tersangka, karena hal ini menjadi kewenangan dari
badan peradilan. Tugas ICAC adalah memberikan bukti-bukti yang cukup bahwa telah
terjadi korupsi sehingga tersangka dapat diadili.
21

Dalam melaksanakan ICAC ordinance, wewenang ICAC tidak berlaku surut,


ICAC tidak dapat menyidik perkara-perkara yang ada sebelum 17 Oktober 1974. Namun,
terdapat pengecualian, yakni perkara-perkara korupsi yang terjadi sebelum tahun 1974
dapat pula disidik apabila ada persetujuan gubernur atau sekarang kepala Eksekutif SAR.
Berdasarkan Section 5 ICAC Ordinance organisasi ICAC dipimpin oleh seorang
commisioner yang diangkat oleh gubernur:
Section 5
a. The Commissioner, subject to the orders and control of the Chief Executive, shall be
responsible for the direction and administration of the Commission.
b. The Commissioner shall not be subject to the direction or control of any person
other than the Chief Executive.
c. The Commissioner shall hold office on such terms and conditions as the Chief
Executive may think fit.
d. The Commissioner shall not, while he holds the office of the Commissioner,
discharge the duties of any other prescribed officer.
a. Komisaris, atas wewenang dan kontrol dari Chief Executive, bertanggung jawab
untuk memimpin dan mengatur komisi;
b. Komisaris langsung berada di bawah Chief Executive;
c. Komisaris akan menjabat untuk jangka waktu tertentu berdasarkan penilaian dari
Chief Executive;
d. Selama masa jabatan, Komisaris tidak diperkenankan untuk memegang posisi
pemerintahan lainnya
Dalam menjalankan tugas, Commisioner dibantu oleh Deputy Commisioner.
Berdasarkan Section 6 The Chief Executive may appoint a Deputy Commissioner on
such terms and conditions as he may think fit Deputy Commisioner juga diangkat oleh
gubernur. Organisasi ICAC terdiri atas tiga divisi (Functional Department) yaitu:

20

a. Operation Prevention Department


Divisi ini memiliki kewenangan utama peyidikan. Kewenangan peyidikan
tersebut meliputi sektor publik, perbankan, dan sektor swasta. Bahkan, berdasarkan
Section 10 ICAC ordinance kepala divisi operasi dapat menyelidiki rekening bank
dan deposito tersangka korupsi. Divisi ini juga diberikan kewenangan untuk
melakukan penahanan.
22

b. Corruption Prevention Department


Departemen ini merupakan departemen terkecil di ICAC. Kewenangan
depertemen ini adalah menguji kinerja dan prosedur departemen pemerintah dan
badan publik, mengidentifikasi adanya kelemahan sistem yang memungkinkan
timbulnya korupsi dan memberikan rekomendasi perbaikan metode kerja yang lebih
baik untuk mengurangi potensi terjadinya korupsi. Di dalam prevention termasuk
memberikan rekomendasi terhadap pelaksanaan bisnis yang baik untuk mengurangi
gangguan dan resiko. Rekomendasi ini dapat diberikan kepada sektor publik dan
sektor bisnis privat.
c. Community Relations Department
Departemen ini terdiri atas dua divisi yang memiliki hubungan langsung dengan
informasi melalui media massa dan pendidikan publik. Departemen ini memiliki
tanggung jawab terhadap pendidikan publik tentang bahaya korupsi. Dalam tanggung
jawab melakukan pendidikan publik dilakukan secara berkesinambungan. Setiap
tahun para pegawai dari departemen ini mengadakan pertemuan untuk memberikan
penyuluhan tentang bahaya korupsi kepada pelaku sektor bisnis, kepala sekolah, guru,
staf pendidikan, dan pelajar.

(Struktur organisasi ICAC di Hongkong Bagan 4.4)


Commissioner

Operations

Corruption
Prevention

Community
Relations

2. Australia (New South Wales)


Selama 200 tahun pemerintahan Australia didominasi oleh militer. Australia
menjadi tempat pembuangan penjahat kakap dan pemerintahannya berjalan sangat
1

korup. Sebelum tahun 1980, korupsi menjadi hal yang luar biasa di New South Wales,
Australia. Hal ini disebabkan oleh maraknya perdagangan narkotika yang terjadi di
sepanjang negara-negara Asia Tenggara yang memberikan banyak keuntungan bagi para
penyelundup dengan menyuap jajaran kepolisian dan hakim di negara-negara kawasan
23

tersebut. Keadaan ini pada akhirnya terungkap karena hakim, anggota parlemen, dan
beberapa pejabat publik menerima uang suap dari hasil perdagangan obat tersebut.
Pada tahun 1987, para pemimpin politik di New South Wales memutuskan untuk
membentuk lembaga antikorupsi . Pada tahun 1988, pemerintahan yang baru terpilih
merealisasikan pembentukan lembaga antikorupsi untuk menangani korupsi. Kebijakan
ini juga didukung oleh oposisi. Sebagai langkah awal, lembaga legislatif membentuk
norma hukum sebagai dasar pembentukan lembaga anti korupsi. Pada akhirnya disahkan
Independent Commission Against Corruption Act dan pada bulan Maret 1989,
Independent Commission Against Corruption NSW (ICAC) mulai beroperasi.
Independent Commission Against Corruption Act telah 4 empat kali
diamendemen. Pada tahun 1990, ruang lingkup dan metode penyelidikan ICAC
diperjelas. Pada tahun 1994, definisi korupsi diperluas yakni meliputi anggota Parlemen
dan menyisipkan kode etik untuk anggota Parlemen. Pada tahun 1996, terjadi lagi
perubahan yakni adanya pengaturan tentang perlindungan saksi.
ICAC memiliki fungsi penyidikan (investigation), pencegahan (prevention)
dan pendidikan (education). Hal ini dapat dilihat dalam Section 13 ICAC, sebagai
berikut:
a. Penyidikan (investigation)
(Subsection 1[a-c]):

1) To investigate any allegation or complaint or any circumstance which, in the


Commissions opinion, imply that any of the following may have occurred,may be
occurring or may be about to occur:
a) corrupt conduct; or
b) conduct liable to allow, encourage or cause the occurrence of corrupt
conduct; or
c) conduct connected with corrupt conduct;
2) To investigate any matter referred to the Commission by both
Houses of Parliament; and
3) To communicate to the appropriate authorities the results of the investigation.
1) menyelidiki setiap dugaan atau pengaduan atau setiap situasi/keadaan yang,
menurut penilaian komisi, termasuk dalam hal-hal seperti di bawah ini:
a) tindakan korupsi; atau
b) tindakan yang permisif terhadap korupsi atau dapat menimbulkan terjadinya
korupsi; atau
c) tindakan yang berkaitan dengan korupsi
24

2) menyelidiki setiap permasalahan yang dirujuk oleh badan legislatif kepada


komisi; dan
3) berkoordinasi dengan pihak berwenang berkaitan dengan hasil dari penyidikan.
b. Pencegahan (prevention)
(Subsection 1[d-g]):
1) To examine the laws governing, and the practices and procedures of, public
authorities and public officials, in order to facilitate the discovery of corrupt
conduct and to secure the revision of methods of work or procedures, which in the
opinion of the Commission,may be conducive to corrupt conduct;
2) To instruct, advise and assist any public authority, public official or other person
(on the request of the authority, official or person) on ways in which corrupt
conduct may be eliminated;
3) To advise public authorities or public officials of changes in practices or
procedures compatible with the effective exercise of their functions which the
Commission thinks necessary to reduce the likelihood of the occurrence of
corrupt conduct; and
4) To cooperate with public authorities and public officials in reviewing laws,
practices and procedures with a view to reducing the likelihood of the occurrence
of corrupt conduct.
1) melakukan penilaian terhadap ketentuan hukum, praktek dan kinerja dari pihak
yang berwenang dan aparat pemerintah, untuk menindaklanjuti temuan korupsi
dan memperbaiki cara kerja atau kinerja, yang menurut komisi rentan terhadap
kemungkinan terjadinya korupsi;
2) memberikan masukan dan mendampingi pihak berwenang dan aparat pemerintah
atau pihak lain (atas rekomendasi dari aparat terkait) dalam rangka pemberantasan
tindakan korupsi;
3) memberi masukan kepada pihak yang berwenang dan aparat pemerintah untuk
lebih mengefektifkan fungsi kerja masing-masing dimana komisi menilai perlu
agar mereka lebih efektif dalam melaksanakan fungsi masing-masing sehingga
dapat mengurangi terjadinya korupsi;
4) melakukan koordinasi dengan pihak berwenang dan aparat pemerintah untuk
meninjau ulang peraturan hukum, pelaksanaannya serta kinerja dari masingmasing aparat dengan tujuan mengurangi kondisi terjadinya korupsi
c. Pendidikan (education)
(Subsection 1[h-k]):
25

1) To educate and advise public authorities, public officials and the community on
strategies to combat corrupt conduct;
2) To educate and disseminate information to the public on the detrimental effects of
corrupt conduct and on the importance of maintaining the integrity of public
administration;
3) To enlist and foster public support in combating corrupt conduct; and
4) To develop, arrange, supervise, participate in or conduct such educational or
advisory programmes as may be described in a reference made to the Commission
by both Houses of Parliament.
1) memberikan pendidikan dan saran mengenai upaya memberantas korupsi kepada
pihak yang berwenang, aparat pemerintah dan masyarakat;
2) memberikan pendidikan dan menyebarkan informasi kepada masyarakat
mengenai akibat dari korupsi dan pentingnya meningkatkan integritas dari sektor
publik;
3) mengumpulkan dukungan masyarakat dalam pemberantasan korupsi;
4) mengadakan atau berpatisipasi dalam program pendidikan pemberantasan korupsi
sebagaimana yang telah ditentukan dalam rekomendasi dari parlemen kepada
komisi.
Berdasarkan ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa ICAC tidak mempunyai
wewenang untuk menyidik pegawai swasta atau perusahaan swasta kecuali jika hal itu
berkaitan dengan sektor publik. ICAC juga tidak mempunyai wewenang di bidang
penuntutan. ICAC hanya meliputi negara bagian NSW, hanya menyangkut sektor publik,
dan mempunyai wewenang untuk menyidik hakim, magistrate, atau pejabat peradilan.
Struktur hierarki organisasi ICAC terdiri atas Commissioner sebagai pimpinan,
Assistant Commissioner sebagai wakil pimpinan, dan empat Executive Director yang
membawahi unit operasional. Adapun empat unit tersebut adalah:
a. Unit Penyidikan yang tugasnya adalah penyidikan, intelijen dan analisis, penilaian,
bantuan penyidikan dan pelayanan teknis.
b. Solicitor (pengacara) yang tugasnya di bidang hukum, sekretariat komite peninjauan
operasi dan penghubung dengan komite bersama parlemen.
c. Pencegahan dan Pendidikan Korupsi yang tugasnya adalah pencegahan korupsi,
pendidikan dan media.
d. Pelayanan Komisi yang tugasnya adalah teknologi informasi, pelayanan informasi,
perekaman dan properti, SDM, keuangan, pelayanan kantor, dan keamanan.
(Struktur Organisasi ICAC di Australia (New South Wales) Bagan 4.1)

Commissione
r
26

Deputy
Commissione
r
Media

Executive
Director,
Investigations

Assessm
ents
Executive
Director,
Investigations

Executive
Director,
Investigations

Executive
Director,
Investigations

Berdasarkan Section 5 ICAC Act, Commissioner diangkat oleh gubernur, masa


jabatan Commissioner lima tahun untuk satu kali masa jabatan dan tidak dapat dipilih
kembali. Commissioner hanya dapat diberhentikan atas persetujuan parlemen. Seluruh
anggota ICAC berada di bawah kontrol Commissioner.
Akuntabilitas ICAC dilakukan dengan adanya laporan tahunan serta audit internal dan
eksternal. ICAC dalam melaksanakan fungsinya, adalah independen. ICAC tidak dapat
diintervensi oleh kekuasaan politik, birokrat, partai politik, dan pemerintah. ICAC tidak
bertanggung jawab kepada pemerintah (Government Minister), ICAC bertanggung jawab
dan bekerja di bawah dua komite pengawasan Parliamentary Join Commission (PJC) dan
Operasional Review Committee (ORC). Anggota PJC terdiri atas anggota anggota partai
yang diseleksi dari parlemen. PJC melakukan laporan berkala terhadap permasalahan
yang spesifik atau pertanyaan kepada parlemen,
akuntabilitas ICAC atas kinerjanya.

sedangkan ORC mengawasi

C. MACC/SPRM (Malaysian Anti-Corruption Corporate/ Suruhanjaya Pencegahan Rasuah


Malaysia) dulu BPR (Badan Pencegah Rasuah)
1. Malaysia
Pada tahun 1957, Tuanku Abdul Rahman sebagai Perdana Menteri
memproklamasikan federasi Malaya sebagai negara merdeka. Persekutuan yang baru
diwujudkan di bawah nama Malaysia pada 16 September 1963 melalui penyatuan
Persekutuan Malaya, Singapura, Borneo Utara (kemudian dinamakan Sabah), dan
Sarawak. Kesultanan Brunei yang pada mulanya menyatakan hasrat untuk mengikuti
Malaysia menarik diri akibat penolakan sebagian masyarakat Brunei. Pada saat
diproklamasikan federasi Malaysia dengan empat belas anggota negara bagian termasuk
Singapura, Serawak, dan Sabah ke dalamnya. Pada tahun 1965, Singapore keluar dari
federasi dan tinggal tiga belas negara bagian.
Sebagai perserikatan kesultanan yang secara bergiliran para sultan menjadi kepala
negara federasi, sistem feodal agraris berkembang menjadi perserikatan, dengan
27

demokrasi modern model Inggris. Akan tetapi, bagaimanapun juga sisa-sisa sistem feodal
pasti masih ada, seperti kebiasaan adanya upeti yang menjadi salah satu faktor
tumbuhnya korupsi.
Badan Pencegah Rasuah (BPR) Malaysia mulai beroperasi pada 1 Oktober 1967.
Pada awalnya, BPR hanyalah sebuah unit kecil yang diletakkan di bawah Jabatan
Perdana Menteri (PM) yang memiliki kewenangan pencegahan khususnya penyuluhan.
Pada masa itu, kasus-kasus korupsi menjadi kewenangan sebuah badan yang bernama
Special Crime yang diletakkan di bawah kepolisian, sedangkan untuk penuntutannya
dilakukan oleh Bahagian Pendakwaan Kementerian Undang-Undang.
Pada 1 Juli 1973, Undang-Undang Biro Siasatan Negara (BSN) disetujui oleh
parlemen. Dengan diundangkannya undang-undang tersebut, maka BPR diubah menjadi
BSN. Mengubah nama ini bertujuan untuk memberi tugas yang lebih besar kepada biro ini.
Akan tetapi, pada 13 Mei 1982 berdasarkan Anti Corruption Agency Act, nama lembaga
ini kemudian diubah kembali kepada nama asal, yaitu BPR. Adapun, hal penting
penggantian nama tersebut adalah untuk lebih mencerminkan secara tepat, peranan
lembaga ini sebagai sebuah institusi yang dipertanggungjawabkan secara khusus untuk
mencegah perbuatan korupsi. Sekarang berlaku Anti Corruption Act tahun 1997,
selanjutnya disingkat ACA.
Fungsi BPR ialah:
a. mengetahui dan mengenal pasti perlakuan rasuah serta penyalahgunaan kuasa.
b. memperoleh dan mengumpul bukti-bukti yang kukuh dan lengkap untuk tindakan
punitif.
c. memastikan kepentingan awam dan keadilan serta terjamin dalam urusan
pendakwaan.
d. membantu ketua-ketua organisasi sektor awam dan swasta dalam mengambil tindakan
tatatertib.
e. menyekat punca dan peluang perlakuan rasuah serta penyalahgunaan kuasa akibat
kelemahan dalam sistem pengurusan.
f. membantu dalam menentukan hanya calon-calon yang tidak terlibat dalam perlakuan
rasuah dan penyalahgunaan kuasa diperlakukan untuk kenaikan pangkat, persyaraan
awal, penganugerahan bintang dan darjah kebesaran serta pengisian jawatan-jawatan
penting.
g. memastikan tindakan tertentu BPR dilaksanakan dengan berhemah melalui
perhubungan dan kerjasama agensi-agensi berkaitan dalam Negara dan di peringkat
antara bangsa.
h. mewujudkan nilai-nilai unggul, meningkatkan kepakaran dan profesionalisme serta
memupuk semangat kerja yang kental di kalangan pegawai-pegawai BPR.
Badan antikorupsi Malaysia yang bernama Badan Pencegah Rusuah diletakkan di
bawah Perdana Menteri Malaysia. BPR diketuai oleh seorang ketua pengarah dalam
melaksanakan tugasnya dibantu oleh dua orang Timbalan Ketua Pengarah. BPR

28

mempunyai sembilan bagian di tingkat Pusat serta lima belas pejabat negara bagian
diketuai oleh seorang pengarah negeri.
Sembilan bagian tersebut
adalah Bahagian
Siasatan, Bahagian Perisika,
Bahagian Keselamatan, Bahagian Pendidikan Masyarakat, Bahagian Pemeriksaan dan
Perundingan, Bahagian Pengurusan Sumber Manusia dan Pentadbiran Am, Bahagian
Penyelidikan dan
Perancangan, Bahagian
Perundangan dan Pendakwaan dan
Akademi Pencegahan Rasuah Malaysia.

29

(Struktur organisasi BPR di Malaysia Bagan 4.7)

KETUA

PENGARAH

TIMBALAN
KETUA

TIMBALAN KETUA

PENGARAH I

PENGARAH II

BAGIAN

BAGIAN

BAGIAN

AKADEMI

BAGIAN

PENDIDIKAN

PEMERIKSAAN

KESELAMATAN

PENCEGAHAN

PENGURUSAN

MASYARAKAT

DAN

RUSUAH

SDM

PER.UNDINGAN

BAGIAN

BAGIAN

BAGIAN

BAGIAN

PERUNDINGAN DAN

SIASATAN

PERISIKAN

PEYELIDIKAN DAN

PENDAKWAAN

PERANCANGAN

D.

30

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Korupsi merupakan kejahatan yang dilakukan dengan penuh perhitungan oleh mereka
yang justru merasa sebagai kaum terdidik dan terpelajar. Korupsi juga bisa dimungkinkan
terjadi pada situasi dimana seseorang memegang suatu jabatan yang melibatkan pembagian
sumber-sumber dana dan memiliki kesempatan untuk menyalahgunakannya guna
kepentingan pribadi.
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibentuk pada tahun 2002 dengan dasar hukum
Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. KPK
berdasarkan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Pemberantasan
Korupsi dibentuk untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya
pemberantasan tindak pidana korupsi. Sebagai suatu organisasi, KPK memiliki visi
Penggerak Perubahan untuk Mewujudkan Bangsa yang Anti-korupsi dan misinya
Mewujudkan Indonesia yang Bebas Korupsi.
Berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan KPK struktur organisasi KPK adalah sebagai
4

berikut.
d. Pimpinan yang terdiri atas seorang ketua merangkap anggota, dan empat wakil ketua
merangkap anggota
e. Penasehat terdiri dari empat orang,
f. Deputi Bidang Pencegahan yang terdiri atas Direktorat Pendaftaran
dan Pemeriksaan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggaraan Negara (PP-LHKPN);
Direktorat Gratifikasi; Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Mayarakat, serta Direktorat
Penelitian dan Pengembangan
h. Deputi Bidang Penindakan yang terdiri atas Direktorat Penyelidikan, Direktorat
5

Penyidikan, dan Direktorat Penuntutan


i. Deputi Bidang Informasi dan Data terdiri atas Direktorat Pengolahan Informasi dan data;
Direktorat Pembinaan Jaringan Kerja Antar Komisi dan instansi; Direktorat Monitoring
j. Deputi Bidang Pengawasan Internal dan Pengaduan Masyarakat, terdiri atas Direktorat
Pengawasan Internal dan Direktorat Pengaduan
Masyarakat
k. Sekretariat jenderal terdiri atas Biro Perencanaan dan Keuangan, Biro
Umum, serta Biro Sumberdaya Manusia.
KPK memiliki beberapa tugas dan wewenang yang diatur dalam Pasal 6 UndangUndang
Nomor 30
Tahun 2002 tentangKomisi Pemberantasan Korupsi,
sebagai berikut.

f. berkoordinasi dengan instansi yang berwenang melakukan pemberantasan tindak pidana


korupsi;

31

g. melakukan supervisi terhadap instansi yang berwenang melakukan pemberantasan


tindak pidana korupsi;
h. melakukan penyelidikan, penyidikan, dan penuntutan terhadap tindak pidana korupsi;
i. melakukan tindakan-tindakan pencegahan tindak pidana korupsi; dan
j. melakukan monitor terhadap penyelenggaraan pemerintahan negara.
ICAC (Independent Commision Against Corruption) dibentuk berdasarkan undangundang tentang Independent Commision Against Corruption (ICAC) Ordinance (Cap.
204). Selain itu, perbuatan lainnya yang tergolong tindak pidana korupsi diatur dalam
The Prevention of Bribery Ordinance (POBO) (Cap 201).
Ada tiga kewenangan yang diberikan kepada ICAC, yakni menyelidiki adanya
dugaan korupsi (Investigations), mencegah terjadinya korupsi dengan memperbaiki
sistem dan prosedur dalam sektor publik (preventions), dan memberikan pendidikan
kepada masyarakat mengenai korupsi serta menggalang dukungan dari masyarakat dalam
19

usaha mencegah korupsi (public educations). Selain di sektor publik, ICAC juga
berwenang menyelidiki dugaan korupsi di sektor privat. Namun, ICAC tidak dapat
memberikan sanksi hukum kepada tersangka, karena hal ini menjadi kewenangan dari
badan peradilan. Tugas ICAC adalah memberikan bukti-bukti yang cukup bahwa telah
terjadi korupsi sehingga tersangka dapat diadili.

32

DAFTAR PUSTAKA
Atmasasmita, Romli. Globalisasi dan Kejahatan Bisnis. Jakarta: Kencana, 2010
Djaja, Ermansjah. Memberantas Korupsi Bersama KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi).
Jakarta: Sinar Grafika, 2008
Davidsen, S, Vishnu Juwono, and David G. T. Curbing Corruption in Indonesia 2004-2006.
Yogyakarta: Kanisius Printing House, 2006
Hamzah, Fahri. Demokrasi, Transisi, Korupsi: Orkestra Pemberantasan Korupsi
https://ms.wikipedia.org/wiki/Suruhanjaya_Pencegahan_Rasuah_Malaysia
Sistemik.

Jakarta: Yayasan Faham Indonesia, 2012

-----------------.Kemana Ujung Century?: Penelusuran dan Catatan Mantan Anggota


Pansus Hak Angket Bank Century DPR-RI. Jakarta: Yayasan Faham Indonesia,
2011
Parwadi, Redatin. Koruptologi.Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2010
Mochtar, Akil. Memberantas Korupsi: Efektivitas Sistem Pembalikan Beban Pembuktian
dalam Gratifikasi. Jakarta: Penerbit Q-Communication, 2006
Soedarso, Boesono. Latar Belakang Sejarah dan Kultural Korupsi di Indonesia. Jakarta:
Penerbit Universitas Indonesia, 2009
Soekardi, Sugriwadi. Dibawah Cengkeraman KPK: Pergulatan Para Korban Penyalahgunaan
Kewenangan KPK. Jakarta: Penerbit CV Ricardo, 2009

33