Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN PRAKTIKUM

MANAGEMEN TERNAK POTONG


MANAGEMEN PEMELIHARAAN SAPI POTONG

NAMA

: AGUS SISWOYO

NIM

: I111 14 316

KEL/ GEL

: XI/ III

ASISTEN

: SUPRAPTO

LABORATORIUM TERNAK POTONG DAN KERJA


FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2016

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Ternak sapi potong merupakan jenis ternak penghasil daging yang
memiliki fungsi beragam dengan nilai gizi dan nilai ekonomis yang cukup tinggi.
Peningkatnya jumlah penduduk Indonesia yang begitu signifikan menyebabkan
pemenuhan kebutuhan akan konsumsi protein hewani terus meningkat setiap
tahunnya, fakta ini menunjukkan peluang usaha beternak sapi potong sangat
menjanjikan karena dengan beternak sapi potong akan mampu meningkatnnya
ketersediaan produk bahan pangan asal hewani sebagai sumber protein khususnya
daging.
Pemeliharaan

ternak

potong

perlu

memperhatikan

tingkatan

pertumbuhannya. Pertumbuhan ternak potong meliputi pertumbuhan pre natal dan


post natal. Pertumbuhan pre natal merupakan pertumbuhan yang terjadi atau
berlangsung di dalam kandungan induk dan pertumbuhan post natal adalah
pertumbuhan yang terjadi atau berlangsung mulai ternak setelah dilahirkan sampai
pada akhir hayat ternak.
Pemeliharaan merupakan upaya untuk memfungsikan fungsi anatomis dan
fisiologis ternak sapi dengan menjaga ketercukupan suplay nutrisinya serta
memperhatikan sistem penggembalaannya. Sistem pemeliharaan sapi potong
dapat dilakukan secara intensif, ektensif dan semi intensif. Agar usaha ternak sapi
potong menghasilkan sapi berkualitas, peternak harus meningkatkan keterampilan
dan pengetahuan mereka dalam beternak sapi potong, antara lain memilih
bibit/bakalan yang baik, sistem pemeliharaan, pemberian pakan yang baik, dan
pengawasan terhadap kesehatan ternak. Hal inilah yang melatarbelakangi

dilakukannya praktikum manajemen ternak potong


Pemeliharaan Sapi Potong.

Tujuan dan Kegunaan

mengenai Manajemen

Tujuan dari praktikum Manajemen Pemeliharaan Sapi Potong adalah


untuk mengetahui sanitasi kandang, pencampuran dan pemberian pakan,
pemberian obat serta dapat mengetahui cara pemeliharaan sapi potong yang baik.
Kegunaan dari praktikum mengenai Pemeliharaan Sapi Potong yaitu
adalah agar praktikan dapat mengetahui bagaimana cara membersihkan atau
sanitasi kandang, pencampuran dan pemberian pakan, pemberian obat serta cara
pemeliharaan sapi potong yang baik.

TINJAUAN PUSTAKA
Sistem Pemeliharaan Ternak Sapi Potong

Potensi sapi potong lokal sebagai penghasil daging belum dimanfaatkan


secara optimal melalui perbaikan manajemen pemeliharaan. Sapi lokal memiliki
beberapa kelebihan, yaitu daya adaptasinya tinggi terhadap lingkungan setempat,
mampu memanfaatkan pakan berkualitas rendah, dan mempunyai daya reproduksi
yang baik. Sistem pemeliharaan sapi potong di Indonesia dibedakan menjadi tiga,
yaitu: intensif, ekstensif, dan usaha campuran (mixed farming) (Suryana, 2009).
Sistem pemeliharaan sapi potong dikategorikan dalam tiga yaitu sistem
pemeliharaan intensif yaitu ternak dikandangkan, sistem pemeliharaan semi
intensif yaitu ternak dikandangkan pada malam hari dan dilepas di padang
penggembalaan pada pagi hari dan sistem pemeliharaan ekstensif yaitu ternak
dilepas di padang penggembalaan (Hernowo, 2006).
Menurut Suryana (2009) tiga cara pemeliharaan sapi potong antara lain
sebagai berikut :
1.

Pemeliharaan Secara Ekstensif


Pemeliharaan sapi secara ekstensif biasanya terdapat di daerah-daerah

yang mempunyai padang rumput yang luas, seperti di Nusa tenggara, Sulawesi
selatan, dan Aceh. Sepanjang hari sapi digembalakan di padang penggembalaan,
sedangkan pada malam hari sapi hanya dikumpulkan di tempat-tempat tertentu
yang diberi pagar, disebut kandang terbuka.
2.

Pemeliharaan Secara Intensif


Pemeliharaan secara intensif yaitu ternak dipelihara secara terus menerus

di dalam kandang sampai saat dipanen sehingga kandang mutlak harus ada.
Seluruh kebutuhan sapi disuplai oleh peternak, termasuk pakan dan minum.

Aktivitas lain seperti memandikan sapi juga dilakukan serta sanitasi dalam
kandang.
3.

Pemeliharaan Secara Semi Intensif


Pemeliharaan sapi secara semi intensif merupakan perpaduan antara kedua

cara pemeliharaan secara ekstensif. Jadi, pada pemeliharaan sapi secara semi
intensif ini harus ada kandang dan tempat penggembalaan dimana sapi
digembalakan pada siang hari dan dikandangkan pada malam hari.
Sistem Pencampuran dan Pemberian Pakan
Pencampuran pakan dapat dilakukan secara manual yaitu menggunakan
alat sederhana berupa skop yang dilakukan di atas lantai atau menggunakan mesin
(feedmill). Pencampuran secara manual dilakukan oleh tenaga kerja manusia,
dengan cara bahan pakan disusun sesuai formula mulai dari yang jumlahnya
paling banyak hingga yang paling sedikit dan kemudian dilakukan pencampuran.
Pencampuran pakan menggunakan mesin dilakukan oleh serangkaian mesinmesin yang biasanya dioperasikan oleh pabrik-pabrik pakan ternak yang
memproduksi pakan dalam jumlah puluhan ton setiap hari. Mesin pembuat pakan
terdiri atas mesin-mesin penggiling (hammer mill), mesin penimbang (weigher),
mesin pemutar (cyclone), mesin pemindah bahan (elevator), mesin penghembus
(blower) dan mesin pencampur (mixer). Diagram dari penyampuran menggunakan
mesin (feedmill) dengan kapasitas 1 ton/jam. Proses pakan menggunakan mesin
lebih efisien dalam penggunaan tenaga kerja dan menghasilkan campuran pakan
lebih homogen (Gunawan, 2003).
Ransum ternak ruminansia pada umumnya terdiri dari hijauan dan
konsentrat. Pemberian ransum berupa kombinasi kedua bahan itu akan memberi

peluang terpenuhinya nutrien dan biayanya relatif murah. Namun bisa juga
ransum terdiri dari hijauan ataupun konsentrat saja. Apabila ransum terdiri dari
hijauan saja maka biayanya relatif murah dan lebih ekonomis, tetapi produksi
yang tinggi sulit tercapai, sedangkan pemberian ransum hanya terdiri dari
konsentrat saja akan memungkinkan tercapainya produksi yang tinggi, tetapi
biaya ransumnya relatif mahal dan kemungkinan bisa terjadi gangguan
pencernaan (Siregar, 1996).
Teknik pemberian pakan yang baik untuk mencapai pertambahan bobot
badan yang lebih tinggi pada penggemukan sapi potong adalah dengan mengatur
jarak waktu antara pemberian konsentrat dengan hijauan. Hijauan diberikan
sekitar dua jam setelah pemberian konsentrat pada pagi hari dan dilakukan secara
bertahap minimal empat kali dalam sehari semalam. Frekuensi pemberian hijauan
yang lebih sering dilakukan dapat meningkatkan kemampuan sapi untuk
mengkonsumsi ransum dan juga meningkatkan kecernaan bahan kering hijauan
itu sendiri (Cullough, 1973). Setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan
seperti sapi dalam masa pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh
memerlukan pakan yang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu penggembalaan (Pasture
fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua
(Retno, 2002).
Sistem dikandangkan dry lot fattening yaitu pakan dapat diberikan dengan
cara disunguhkan yang dikenal dengan istilah keseman. Setiap pagi sapi
memerlukan pakan kira-kira 10% dari berat tubuhnya dan pakan tambahan 1-2%
dari berat badannya. Ransum tambahan berupa dedak halusatau bekatul, bungkil

kelapa, gaplak dan ampas tahu, selain itu dapat ditambah mineral sebagai penguat
berupa garam dapur dan kapur. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi menjadi 3
katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah
rumput-rumputan, kacang-kacangan (leguminosa) dan tanaman hijau lainnya.
Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, daun turi, daun lamtoro.
Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan
agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi,
jerami kacang tanah, jerami jagung dan lainnya, yang biasa digunakan pada musim
kemarau (Martadi, 2009).
Teknik pemberian pakan yang baik untuk mencapai pertambahan bobot
badan yang lebih tinggi pada penggemukan sapi potong adalah dengan mengatur
jarak waktu antara pemberian konsentrat dengan hijauan. Pemberian konsentrat
dapat dilakukan dua atau tiga kali dalam sehari semalam. Hijauan diberikan
sekitar dua jam setelah pemberian konsentrat pada pagi hari dan dilakukan secara
bertahap minimal empat kali dalam sehari semalam (Siregar, 1996).
Dalam pemberian konsentrat sebaiknya dalam bentuk kering (tidak
dicampur air), namun pemberian bentuk basah juga bisa dilakukan. Yang perlu
diperhatikan bila pemberian bentuk basah adalah konsentrat tersebut harus habis
dalam sekali pemberian sehingga tidak terbuang. Perubahan jenis pakan, yang
secara mendadak dapat berakibat ternak stress, sehingga tidak mau makan. Oleh
karena itu cara pemberiannya dilakukan sedikit demi sedikit agar ternak
beradaptasi dahulu, selanjutnya pemberian ditambah sampai jumlah pakan yang
sesuai kebutuhannya, sedangkan air minum diberikan secara ad libitum
(Sulaiman, 2009).

Sistem Perkandangan dalam Penggemukan Ternak Sapi Potong


Kandang merupakan suatu bangunan yang digunakan untuk tempat tinggal
ternak atas sebagian atau sepanjang hidupnya. Suatu peternakan yang dikelola
dengan tata laksana pemeliharaan yang baik memerlukan sarana fisik sebagai
penunjang atau kelengkapannya, selain bangunan kandang.Kompleks kandang
dan bangunan-bangunan pendukung tersebut disebut sebagai perkandangan.
Dengan demikian, perkandangan adalah segala aspek fisik yang berkaitan dengan
kandang dan sarana maupun prasarana yang bersifat sebagai penunjang
kelengkapan dalam suatu peternakan (Wello, 2011).
Menurut Prayudi (2007) menyatakan bahwa dalam sistem penggemukan
sapi dikenal beberapa bentuk kandang antara lain tipe kandang tunggal
(individual) dan tipe kandang ganda :
1. Tipe Tunggal : terdiri dari satu baris sapi dengan posisi kepala satu arah
yang cocok digunakan untuk menggemukan sapi sebanyak 1 5 ekor.
2. Tipe Ganda : terdiri dari dua baris sapi yang saling berhadapan atau
bertolak belakang, diantara kedua barisan sapi dibatasi atau dibuat gang
selebar 1,5 meter sebagai jalan untuk memberi makanan/air minum dan
membersihkan kandang. Kandang tipe ini cocok untuk menggemukkan
sapi dengan jumlah besar (lebih 5 ekor).
Kandang individu atau kandang tunggal, merupakan model kandang satu
ternak satu kandang. Pada bagian depan ternak merupakan tempat palungan
(tempat pakan dan air minum), sedangkan bagian belakang adalah selokan
pembuangan kotoran. Sekat pemisah pada kandang tipe ini lebih diutamakan pada
bagian depan ternak mulai palungan sampai bagian badan ternak atau mulai

palungan sampai batas pinggul ternak. Tinggi sekat pemisah sekat sekitar 1 m atau
setinggi badan sapi. Sapi di kandang individu diikat dengan tali tampar pada lantai
depan guna menghindari perkelahian sesamanya. Luas kandang individu
disesuaikan dengan ukuran tubuh sapi yaitu sekitar panjang 2,5 meter dan lebar
1,5. Kelebihan kandang individu yaitu sapi lebih tenang dan tidak mudah stress,
pemberian pakan dapat terkontrol sesuai dengan kebutuhan ternak, menghindari
persaingan pakan dan keributan dalam kandang (Rasyid dan Hartati, 2007).
Menurut Sansoucy (1981) ada beberapa jenis kandang yaitu sebagai
berikut :
1. Kandang penggemukan
Kandang penggemukan untuk pemeliharaan sapi jantan dewasa beberapa
bulan sampai mencapai bobot tertentu. Lama pemeliharaan ternak pada kandang
penggemukan berkisar antara 4 12 bulan, tergantung pada kondisi awal ternak
(umur dan bobot badan) dan ransum yang diberikan. Tipe kandang untuk
penggemukan ternak jantan dewasa adalah tipe kandang individu, untuk
menghindari perkelahian sesamanya Beberapa model kandang penggemukan
dengan system kereman dibuat lebih tertutup rapat dan sedikit gerak untuk
mengurangi kehilangan energi dan mempercepat proses penggemukan.

2. Kandang beranak ( Induk dan Anak )


Kandang beranak atau kandang menyusui adalah kandang untuk
pemeliharaan khusus induk atau calon induk yang telah bunting tua (7-8 bulan)
sampai

menyapih

pedetnya,

dengan

tujuan

menjaga

keselamatan

dan

keberlangsungan hidup pedet. Kenyamanan dan keleluasaan bagi induk dan pedet

selama menyusui. Kandang beranak termasuk individu yang dilengkapi dengan


palungan pada bagian depan, dan selokan pada bagian dibelakang ternak, serta di
belakang kandang dilengkapi dengan halaman pelumbaran. Lantai kandang selalu
bersih, kering dan tidak licin. Kontruksi pagar pelumbaran adalah lebih rapat yang
menjamin pedet tidak keluar kandang. Luas kandang beranak mempunyai ukuran
3 X 3 meter termasuk palungan didalamnya.
3. Kandang pejantan
Kandang pejantan untuk pemeliharan sapi jantan yang kusus digunakan
sebagai pemacek. Tipe kandang pejantan adala individu yang dilengkapi dengan
palungan (sisi depan) dan saluran pembuangan kotoran pada sisi belakang.
Kontruksi kandang pejantan harus kuat serta mampu menahan benturan dan
dorongan serta memberikan kenyamanan dan keleluasaan bagi ternak. Luas
kandang pejantan adalah panjang (sisi samping) sebesar 270 cm dan lebar (sisi
depan) sebesar 200 cm.
Menurut Ako (2012) tipe-tipe kandang yaitu sebagai berikut :
1. Kandang individu/ Kandang tunggal
Kandang individu atau kandang tunggal, merupakan model kandang satu
ternak satu kandang. Pada bagian depan ternak merupakan tempat palungan
(tempat pakan dan air minum), sedangkan bagian belakang adalah selokan
pembuangan kotoran. Sekat pemisah pada kandang tipe ini lebih diutamakan pada
bagian depan ternak mulai palungan sampai bagian badan ternak atau mulai
palungan sampai batas pinggul ternak, tinggi sekat pemisah sekat sekitar 1 m atau
setinggi badan sapi. Sapi di kandang individu diikat dengan tali tampar pada lantai
depan guna menghindari perkelahian sesamanya. Luas kandang individu

disesuaikan dengan ukuran tubuh sapi yaitu sekitar panjang 2,5 meter dan lebar
1,5 meter.
2. Kandang Kelompok
Kadang koloni atau kandang komunal merupakan model kandang dalam
suatu ruangan kandang ditempatkan beberapa ekor ternak, secara bebas tanpa
diikat. Penggunaan tenaga kerja untuk kandang koloni lebih efisien dibanding
kandang model individu, karena pekerjaan rutin harian adalah membersihkan
tempat pakan, minum dan memberikan pakan. Dalam hal ini satu orang tenaga
kandang mampu menangani sekitar 50 ekor sedangkan untuk kandang individu
sekitar 15 20 ekor.
Beberapa faktor yang sangat mempengaruhi sistem penggemukan pada
ternak sapi adalah teknik pemberian pakan/ransum, luas lahan yang tersedia,
umur dan kondisi sapi yang akan digemukkan, serta lama penggemukan. Di luar
negeri, penggemukan sapi dikenal dengan sistem pasture fattening, dry lot
fattening, dan kombinasi keduanya, sedangkan di Indonesia dikenal dengan sistem
keremanatau sistem paron (Syafria, dkk., 2007).
Cara penggemukan sapi yang paling efisien adalah penggemukan sapi
yang dikurung di dalam kandang atau lazim disebut sistem kereman.
Penggemukan dengan cara ini disamping dapat meningkatkan nilai jual sapi juga
akan memberikan nilai tambah terhadap kotoran ternak atau pupuk kandang
yang dihasilkan. Usaha pemeliharaan sapi sistem kereman telah banyak dilakukan
oleh para petani di Provinsi Jambi terutama pada daerah-daerah yang mempunyai
ketersediaan hijauan yang cukup dan dekat dengan pasar (Syafria, dkk., 2007).

Menurut Rianto dan Purbowati (2009) menyatakan bahwa dalam


pembangunan kandang atau perkandangan diperlukan perencanaan yang seksama.
Perencanaan tersebut perlu dipertimbangkan persyaratan-persyaratan yang harus
dipenuhi dari sebuah bangunan perkandangan :
1. Letak kandang terpisah dari rumah dengan jarak lebih dari 10 meter.
2. Kandang harus berada di lokasi yang lebih tinggi dari tanah sekitarnya,
3.
4.
5.
6.

untuk menghindari genangan air pada saat musim penghujan.


Dibelakang kandang dibuatkan lobang untuk menampung kotoran ternak.
Ventilasi kandang cukup baik.
Usahakan lokasi kandang dekat dengan sumber air.
Bahan bangunan kandang terbuat dari kayu, bambu atau bahan lain yang
kuat.
Bahan Bangunan Kandang terdiri dari atap dapat terbuat dari ijuk,

genteng, rumbia, dan lain-lain, Tiang dari kayu atau bamboo, Dinding dari papan
atau anyaman bambu, setinggi 1,5 meter, Tempat pakan dari papan atau semen,
dibuat rapat setinggi bahu sapi dengan ketinggian dari permukaan tanah sekitar
0,5 meter. Alas kandang yaitu untuk lantai dari tanah yang dipadatkan, beri alas
jerami kering atau daunan kering lainnya. Kegunaan alas ini agar sapi tidak kotor,
untuk menyerap air kencing dan kotoran, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai
pupuk. Peralatan Kandang yaitu Kandang dilengkapi dengan tempat pakan dan
tempat minum. Peralatan lain seperti sapu, cangkul dan sekop untuk
membersihkan kandang. Ukuran Kandang yaitu Untuk seekor ternak sapi
diperlukan kandang dengan ukuran 2 x 1,25 meter, Jumlah ruangan kandang
dapat diperbanyak dan diperluas sesuai dengan jumlah ternak yang dipelihara,
Dinding kandang dibuat setinggi bahu (kaki depan) dari lantai kandang, kecuali
sisi depan dibuat lebih rendah agar memudahkan dalam pemberian makanan/air
minum, lantai kandang pada bagian depan setinggi 30 cm dan bagian belakang 20

cm, sehingga sedikit miring agar air kencing dan kotoran sapi mudah dibersihkan,
tinggi atap kandang bagian depan 4 meter dan bagian belakang 3 meter, tempat
makanan berukuran 60 cm x 80 cm x 40 cm, sedangkan tempat minum berukuran
60 cm x 40 cm x 40 cm tiap ekor ternak (Prayudi, 2007).
Sistem Sanitasi Kandang dan Sanitasi Ternak
Sanitasi dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kebersihan lingkungan,
agar ternak terbebas dari serangan penyakit. Sanitasi lingkungan dilakukan untuk
menciptakan rasa aman dan nyaman, bagi peternak maupun ternak yang
dipelihara, serta bebas dari gangguan infeksi penyakit yang dapat merugikan
ternak (Sugeng, 2003).
Sugeng (2003) lebih lanjut menjelaskan pengendalian penyakit sapi yang
paling baik menjaga kesehatan sapi dengan tindakan pencegahan guna mencegah
timbulnya penyakit yang dapat mengakibatkan kerugian. Tindakan pencegahan
untuk menjaga kesehatan sapi adalah:
1. Menjaga kebersihan kandang beserta peralatannya, termasuk memandikan
sapi.
2. Sapi yang sakit dipisahkan dengan sapi sehat dan segera dilakukan
pengobatan.
3. Mengusahakan lantai kandang selalu kering.
4. Memeriksa kesehatan sapi secara teratur dan dilakukan vaksinasi sesuai
petunjuk.
Dalam kondisi normal, sapi mendapatkan obat parasit saluran pencernaan
dan vitamin pada awal pemeliharaan. Penanganan kesehatan ternak diarahkan
juga pada kesehatan reproduksi, dan kesehatan secara umum. Ternak sapi perlu
diberi obat cacing dan vitamin B kompleks serta kebersihan lingkungan. Sanitasi

merupakan tindakan untuk membunuh patogen atau bibit penyakit. Sanitasi yang
paling sering dilakukan peternak adalah dengan desinfeksi/ penyemprotan
kandang menggunakan desinfektan. Dengan asumsi desinfektan tersebut akan
membunuh bibit penyakit di kandang atau lingkungan kandang (Prayudi, 2007).
Menurtu Rrayudi (2007) menyatakan fungsi dari sanitasi yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Hemat biaya pengo-batan ternak


Menjaga kesehatan sapi
Meningkatkan nafsu makan ternak
Susu tidak mudah rusak
Susu terjaga kualitasnya
Kandang dan lingkungan kerja nyaman
Manfaat dari sanitasi yaitu dilakukan secara menyeluruh, yakni terhadap

lingkungan sekitar dan terhadap peralatan yang berhubungan dengan ternak.


Lingkungan yang kotor dan tidak terurus merupakan media yang baik bagi
berbagai jenis serangga penyebar penyakit. Kutu dan caplak penghisap darah
dapat bersarang dicelah-celah kandang sehingga merupakan sasaran utama dalam
melakukan sanitasi. (Myzha, 2010).
Rudi (2012) menyatakan bahwa, jenis-jenis sanitasi dapat dibagi menjadi
tiga yaitu
1. Sanitasi kandang adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh peternak
untuk kebersihan kandang dan lingkungannya.
2. Sanitasi ternak adalah menjaga kebersihan badan sapi, salah satunya
dengan cara memandikan sapi. Badan sapi terutama pada bagian kulit,
seringkali kotor akibat kulit ari yang mengelupas atau debu/ lumpur yang
melekat bersama dengan keringat dan lemak sapi.
3. Sanitasi peternak adalah menjaga kebersihan petugas/ pekerja kandang,
untuk

menghindari

penyebarluasan

kuman

dengan

cara

selalu

membersihkan anggota badan dengan air hangat dan sabun ataupun


disinfektan
Effriansyah (2012) menyatakan bahwa beberapa tindakan yang wajib
dilakukan peternak dalam aktivitas sanitasi kandang yaitu
1. Selalu membersihkan alat yang telah digunakan dengan desinfektan dan
menjemur dibawah sinar matahari.
2. Menjaga kebersihan kandang dengan cara:
a. Merancang ventilasi kandang agar sirkulasi udara lancar.
b. Merancang bangunan kandang agar cahaya matahari dapat masuk ke
kandang.
c. Tidak membiarkan kotoran sapi menumpuk di kandang.
d. Segera membersihkan sisa pakan yang berceceran pada lantai
kandang.
3. Menjaga kebersihan areal luar kandang, seperti membersihkan semaksemak atau sampah peternakan.
4. Menjaga kebersihan sapi, salah satunya dengan cara memandikan sapi.
Kulit yang kotor dapat menyebabkan:
a. Radang kulit.
b. Menggangu kenyamanan sapi sehingga pertumbuhannya tidak
maksimal.
c. Sapi kesulitan mengatur suhu tubuh.
5. Menjaga kebersihan petugas kamdang/pekerja kandang.
6. Menjaga kebersihan pakan, dengan cara menghindari pemberian pakan
yang tercemaroleh bahan-bahan yang membahayakan ternak, seperti:
a. Terkontaminasi logam, besi, seng,dan lainnya.
b. Racun alami seperti pada pakan hijauan daun koro, daun ketela pohon
serta bunga turi merah.
Petugas kandang pada pagi dan sore hari. Pertama, membersihkan sisa
kotoran/feses yang menempel pada tubuh ternak dengan cara menyemprot dan
menyikat tubuh ternak mulai dari badan hingga kaki/kuku ternak. Tujuannya yaitu
agar pada saat akan dilakukan program kondisi ternak dalam keadaan bersih.

Pekerjaan memandikan dilakukan 2 kali setiap harinya, sedangkan pembersihan


lantai kandang juga minimal 2 kali setiap harinya. Namun demikian apabila
terdapat kotoran sapi maupun rumput sisa yang berserakan di lantai kandang di
luar pembersihan rutin, maka perlu dilakukan pembersihan secepatnya. Kotoran
tersebut dimasukan ke dalam selokan atau tempat penampungan kotoran (drum
plastik) yang disediakan (Rudi, 2012).
Secara umum sanitasi kandang dilakukan dengan permbersihan lantai
kandang, pembersihan bak makanan dan bak minum, memandikan sapi,
pemotongan kuku dan pelepasan sapi di lapangan untuk exercise. Sanitasi
kandang dilakukan 2 kali setiap hari oleh petugas kandang yaitu pada pagi dan
sore hari. Pertama, membersihkan kotoran/feces yang kemudian di tampung di
dalam drum untuk kemudian dijadikan pupuk organik. Kedua, membersihkan sisa
pakan ternak kemudian dibuang. Ketiga, menyemprot dan menyikat lantai
kandang sampai bersih dengan menggunakan sikat dan air. Keempat, melakukan
pembersihan bak pakan dan air minum dengan menggunakan sikat sampai bersih
kemudian membersihkan dan mengganti air desinfektan di sekitar kandang.
Kelima, membersihkan langit-langit dan tembok di sekitar lingkungan kandang.

METODOLOGI PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Praktikum Pemeliharaan Ternak Potong dilaksanakan pada hari Senin
sampai hari Rabu, 24 - 26 Oktober dan hari Minggu 6 November 2016, pada pagi
hari pukul 06.30 WITA dan sore hari pukul 16.00 WITA. Bertempat di Kandang
Sapi Potong Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.
B. Materi Praktikum
Alat yang digunakan dalam praktikum Pemeliharaan Sapi Potong adalah
sapu lidi, skop, gerobak, timbangan pakan, karung, ember, parang, copper, tempat
sampah dan kendaraan pengangkut hijauan viar.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ternak sapi potong
sebanyak 3 ekor, dedak, hijauan, air, mineral mix dan iodin.
C. Metode Praktikum
1. Sanitasi
Pembersihan atau sanitasi dilakukan selama 4 hari setiap pagi dan sore
hari, yaitu pagi pada pukul 06.30 WITA dan sore pukul 16.00 WITA. Setiap pagi
dan sore hari, kegiatan sanitasi yaitu meliputi membersihkan tempat pakan sapi
sebelum diisi kembali dengan pakan yang baru, membersihkan kandang dari
kotoran yang umumnya sisa bahan pakan yang bercampur dengan kotoran sapi itu
sendiri, memandikan sapi pada sore hari, 2 hari sekali.
2. Pemberian Pakan

Pemberian pakan dilakukan tiap pagi dan sore hari, pada pagi hari sapi
diberi pakan konsentrat dan hijauan dengan perbandingan 30% konsentrat dan
70% hijauan. Waktu pemberian yaitu konsentrat yang dicampur mineral mix yang
diberikan pada jam 07.30 pagi dan kemudian diberi pakan hijauan pada jam 10.00
pagi. Kemudian pada sore hari sapi hanya diberi pakan hijauan pada pukul 16.00
sore.
3. Pemberian Obat
Pemberian obat dilakukan karena ternak mengalami luka pada kulit,
metode pemberian obat yaitu dengan mengoleskan kapas yang terlebih dahulu
diberi iodin pada kulit ternak yang mengalami luka.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Keadaan Ternak Sapi di Kandang Sapi Potong Fakultas Peternakan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil bahwa


keadaan ternak potong yang ada di kandang dalam kondisi yang sehat. Kandang
dari ternak potong ditempati oleh ternak dalam keadaan individu. Jumlah sapi
yang dipelihara berjumlah 4 ekor, terdiri atas sapi dara 1 ekor berumur 18 bulan
dan sapi pejantan 3 ekor berumur 4, 3 dan 2 tahun dengan nomor identitas SB-75
j, SB-61 j dan I-89 j. Tipe kandang yang ditempati oleh ternak potong yaitu tipe
kandang tunggal karena ternak dengan menghadap arah yang sama, sebaris dan
terdapat pemisah antara ternak berupa skat. Hal ini sesuai dengan pendapat
Prayudi (2007) menyatakan bahwa dalam sistem penggemukan sapi dikenal
beberapa bentuk kandang antara lain tipe kandang tunggal (individual) dan tipe
kandang ganda. Tipe Tunggal terdiri dari satu baris sapi dengan posisi kepala satu
arah yang cocok digunakan untuk menggemukan sapi sebanyak 1 5 ekor.
Kebutuhan nutrisi dari masing-masing ternak berbeda-beda dengan
pemberian ternak sapi bali jantan satu ember dedak dan satu sendok mineral,
sedangkan pada sapi bali betina dara sebanyak setengah ember dedak, serta
masing-masing pemberian rumput gajah satu ember karena kebutuhan hidup dan
produksi dari masing-masing ternak juga berbeda-beda. Pada umumnya, setiap
sapi membutuhkan makanan berupa hijauan, pakan tambahan lainnya berupa
dedak dan mineral. Hal ini sesuai dengan pendapat Rudi (2012) yang menyatakan
bahwa setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan seperti sapi dalam masa
pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang
memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Pemberian pakan dapat
dilakukan dengan 3 cara yaitu penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry
lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua. Martadi (2009)

menambahkan bahwa pakan tambahan 1-2% dari berat badannya. Pakan


tambahan berupa dedak, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam
dapur atau kapur.
Fase Pertumbuhan Ternak Sapi di Kandang Sapi Potong Fakultas
Peternakan
Berdasarkan praktikum diperoleh bahwa fase pertumbuhan ternak sapi di
kandang sapi potong fakultas peternakan mengalami pertumbuhan dan
perkembangan pada ternak sapi bali. Hal ini sesuai dengan pendapat Rudi (2012)
menyatakan bahwa ternak sapi potong akan mengalami pertumbuhan dan
perkembangan, sejak dari pembuahan hingga menjadi dewasa, yang dimaksud
dengan pertumbuhan adalah pertambahan berat badan atau pertambahan ukuran
tubuh sapi sesuai dengan umur. Kecepatan perumbuhan sapi tidak selalu sama.
Pada saat pembuahan, pertumbuhan berlangsung lambat, kemudian menjadi cepat
saat menjelang kelahiran. Sesudah lahir, pertumbuhan semakin cepat hingga usia
penyapihan. Pertumbuhan secara cepat ini akan bertahan dari usia penyapihan
hingga usia pubertas, dan mulai menurun pada saat usia dewasa, hingga akhirnya
berhenti. Jadi fase hidup ternak sapi yang pertumbuhannya paling cepat adalah
pada saat sapi dilahirkan hingga mencapai usia pubertas.
Sistem Pemeliharaan Ternak Sapi di Kandang Sapi Potong Fakultas
Peternakan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil bahwa
sistem pemeliharaan ternak sapi di kandang sapi potong Fakultas Peternakan
dilakukan dengan sistem pemeliharaan intensif yaitu ternak dikandangkan
sepanajang hari, dilakukan pemberian pakan dikandang dan segala aktivitas yang
dilakukan ternak dilakukan dikandang. Hal ini sesuai pendapat Suryana (2009)

menyatakan bahwa pemeliharaan secara intensif yaitu ternak dipelihara secara


terus menerus di dalam kandang sampai saat dipanen sehingga kandang mutlak
harus ada. Seluruh kebutuhan sapi disuplai oleh peternak, termasuk pakan dan
minum. Aktivitas lain seperti memandikan sapi juga dilakukan serta sanitasi
dalam kandang.
Sistem Pemberian Pakan Ternak Sapi di Kandang Sapi Potong Fakultas
Peternakan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil bahwa
pemberian pakan dilakukan setiap hari yaitu dengan sistem dikandangkan (Dry
Lot Fattening) merupaka pakan dapat diberikan dengan cara disuguhkan yang
biasa disebut keseman, sapi diberikan makan dikandang dari padang rumput yang
telah diambil. Di pagi hari dan hanya diberikan berupa dedak, dan mineral.
Pemberian dedak tersebut bertujuan untuk meningkatkan pH rumen dan sebagai
penambah energi dan diberikan makanan pada siang hari berupa rumput gajah.
Hal ini sesuai dengan pendapat Martadi (2009) yang menyatakan bahawa sistem
dikandangkan Dry Lot Fattening) yaitu pakan dapat diberikan dengan cara
disunguhkan yang dikenal dengan istilah keseman. Setiap pagi sapi memerlukan
pakan kira-kira 10% dari berat tubuhnya dan pakan tambahan 1-2% dari berat
badannya. Ransum tambahan berupa dedak halusatau bekatul, bungkil kelapa,
gaplak dan ampas tahu, selain itu dapat ditambah mineralsebagai penguat berupa
garam dapur dan kapur. Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi menjadi 3
katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah
rumput-rumputan, kacang-kacangan (leguminosa) dan tanaman hijau lainnya.
Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, daun turi, daun lamtoro.

Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan
agar tahan disimpan lebih lama. Termasuk dalam hijauan kering adalah jerami padi,
jerami kacang tanah, jerami jagung dan lainnya, yang biasa digunakan pada musim
kemarau.
Sistem Perkandangan Ternak Sapi di Kandang Sapi Potong Fakultas
Peternakan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil bahwa
Sistem perkandangan ternak sapi di kandang sapi potong Fakultas Peternakan
mengunakan jenis kandang individu, yaitu terdiri satu baris, yang terdapat skat
dan setiap skat menempati satu ternak. Kandang individu memiliki kelebihan
yaitu ternak lebih tenang. Hal ini sesuai dengan pendapat Rasyid dan Hartati
(2007) menyatakan bahwa kandang individu atau kandang tunggal, merupakan
model kandang satu ternak satu kandang. Pada bagian depan ternak merupakan
tempat palungan (tempat pakan dan air minum), sedangkan bagian belakang
adalah selokan pembuangan kotoran. Sekat pemisah pada kandang tipe ini lebih
diutamakan pada bagian depan ternak mulai palungan sampai bagian badan ternak
atau mulai palungan sampai batas pinggul ternak. Tinggi sekat pemisah sekat
sekitar 1 m atau setinggi badan sapi. Sapi di kandang individu diikat dengan tali
tampar pada lantai depan guna menghindari perkelahian sesamanya. Luas
kandang individu disesuaikan dengan ukuran tubuh sapi yaitu sekitar panjang 2,5
meter dan lebar 1,5. Kelebihan kandang individu yaitu sapi lebih tenang dan tidak
mudah stress, pemberian pakan dapat terkontrol sesuai dengan kebutuhan ternak,
menghindari persaingan pakan dan keributan dalam kandang.
Sanitasi Ternak Sapi Potong dan Sanitasi Kandang Sapi Potong Fakultas
Peternakan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil bahwa


sanitasi ternak sapi potong dan sanitasi kandang sapi potong. Fakultas Peternakan
dilakukan 2 kali sehari yaitu setiap pagi dan sore. Dimana sanitasi ternak
dilakukan dengan membersihkan sisa kotoran atau feses yang menempel pada
tubuh ternak dengan cara memandikan dan menyikat tubuh ternak mulai dari
badan hingga kaki/kuku ternak. Hal ini sesuai pendapat Rudi (2012) yang
menyatakan bahwa petugas kandang pada pagi dan sore hari. Pertama,
membersihkan sisa kotoran/feses yang menempel pada tubuh ternak dengan cara
menyemprot dan menyikat tubuh ternak mulai dari badan hingga kaki/kuku
ternak. Tujuannya yaitu agar pada saat akan dilakukan program kondisi ternak
dalam keadaan bersih. Pekerjaan memandikan dilakukan 2 kali setiap harinya,
sedangkan pembersihan lantai kandang juga minimal 2 kali setiap harinya. Namun
demikian apabila terdapat kotoran sapi maupun rumput sisa yang berserakan di
lantai kandang di luar pembersihan rutin, maka perlu dilakukan pembersihan
secepatnya. Kotoran tersebut dimasukan ke dalam selokan atau tempat
penampungan kotoran (drum plastik) yang disediakan.
Sanitasi kandang dilakukan dengan kandang dibersihkan dari kotoran yang
umumnya sisa bahan pakan yang bercampur dengan kotoran sapi itu sendiri,
selokan, palungan (tempat makan dan air minum), gang tengah dan lantai. Hal ini
sesuai pendapat Rudi (2012) yang menyatakan bahwa secara umum sanitasi
kandang dilakukan dengan permbersihan lantai kandang, pembersihan bak
makanan dan bak minum, memandikan sapi, pemotongan kuku dan pelepasan sapi
di lapangan untuk exercise. Sanitasi kandang dilakukan 2 kali setiap hari oleh

petugas kandang yaitu pada pagi dan sore hari. Pertama, membersihkan
kotoran/feces yang kemudian di tampung di dalam drum untuk kemudian
dijadikan pupuk organik. Kedua, membersihkan sisa pakan ternak kemudian
dibuang. Ketiga, menyemprot dan menyikat lantai kandang sampai bersih dengan
menggunakan sikat dan air. Keempat, melakukan pembersihan bak pakan dan air
minum dengan menggunakan sikat sampai bersih kemudian membersihkan dan
mengganti air desinfektan di sekitar kandang. Kelima, membersihkan langit-langit
dan tembok di sekitar lingkungan kandang.

PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan praktikum Manajemen Pemeliharaan Sapi Potong maka dapat
disimpulkan bahwa jenis sapi potong yang dipelihara yaitu sapi bali, sistem
pemeliharaan yang dilakukan yaitu sistem pemeliharaan intensif dengan sistem
pemberian pakan dry lot fattening, tipe kandang yang digunakan yaitu tipe

kandang tunggal, serta sanitasi yang dilakukan yaitu berupa sanitasi kandang dan
sanitasi ternak.
Saran
Sebaiknya dalam managemen pemeliharaan yang dilakukan ternak betulbetul di pelihara dengan baik seperti mengoptimalkan pemberian pakan dan
sanitasi ternak agar tingkat pertumbuhan sapi potong lebih optimal, serta
penyedian alat pada laboratorium di lengkapi.

DAFTAR PUSTAKA
Ako, Ambo. 2012. Ilmu Ternak Perah Daerah Tropis. IPB Press, Bogor.
Cullough, M. 1973. Rekayasa Mesin Pencampur Makanan Ternak (Komboran
Kering) Sapi dengan Memanfaatkan Tong Bekas untuk Kalangan Peternak
Menengah ke Bawah. Vucer Dikti. Jakarta.
Effriansyah, Y. 2012. Sanitasi Kandang Ternak. IPB press. Bogor.
Gunawan, K. 2003. Prospek pengemangan usaha peternakan sapi potong di
Kecamatan Surade Kabupaten Sukabumi. Fakultas Peternakan Institut
Pertanian Bogor. Bogor.

Hernowo, B. 2006. Prospek pengemangan usaha peternakan sapi potong di


Kecematan Surade Kabupaten Sukabumi. Fakultas Peternakan Institut
Pertanian Bogor.
Martadi. 2009. Peremajaan Peluang Penggembalaan. Fakultas Pertanian. Haluleo.
Kediri.
Mhyzha. 2010. Peremajaan Padang Penggembalaan. IPB Pres. Bogor.
Prayudi. 2007. Budidaya Sapi Potong. Kanisus. Bandung.
Rasyid, A dan Hartati. 2009. Petunjuk Teknik Perkandangan Sapi Potong. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Pasuruan.
Retno, S. 2002. Teknologi alternatif pemberian pakan sapi potong untuk wilayah
Indonesia bagian Timur. Prosiding Seminar Nasional Sapi Potong, Palu
Rianto, E. dan Purbowati, E. 2009. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.
Rudi, A. P. 2012. System Pemeliharaan Sapi Potong. Kanisius. Bandung.
Sansoucy. R and Hall, J.M. 1981. Open yard housing for young cattle. Food and
Agriculture Organization of The United. Nation. Rome.
Siregar. 1996. Budidaya Ternak Sapi Potong dengan Nutrisi. Fakultas peternakan
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Sugeng, Y. B. 2003. Ternak Potong dan Kerja. Edisi I. CV. Swadaya. Jakarta.
Sulaiman. 2009. Pemeliharaan Sapi Potong. IPB press. Bogor.
Suryana. 2009. Open Yard Housing for Young Cattle Food and Agriculture
Organization of The United. Nation. Rome.
Syafria, Endang S. Bustami. 2007. Manajemen Pengelolaan Penggemukan Sapi
Potong. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian, Jambi.
Wello, B. 2011. Ilmu Makanan Ternak Umum. PT. Gramedia. Jakarta.