Anda di halaman 1dari 21

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah
memberikan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga kami dapat merampungkan makalah ini dengan
judul Pewarisan dengan Wasiat dengan tepat waktu.
Pada kesempatan ini izinkan kami untuk mengucapkan terimakasih yang setinggitingginya kepada :
1. Yayasan Universitas Prima Indonesia
2. Bapak Dekan F.H Unpri
3. Ibu Wakil Dekan Unpri
4. Bapak Kaprodi Unpri
5. Dosen Hukum Waris BW, Ibu Aisyah, S.SOS., M.H.
6. Orang Tua
Kami menyadari bahwa makalah ini tidak sempurna dan masih banyak
kekurangannya. Hal ini di sebabkan keterbatasan ilmu, wawasan, dan pengetahuan
yang kami miliki. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang
membangun kepada semua pihak agar makalah ini kedepannya menjadi suatu
bacaan yang sempurna.
Akhir kata semoga hasil makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para
pembaca dan bagi kami sendiri.

Medan, 05 November 2015

Tim Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR........................................................................................................ i
DAFTAR ISI.................................................................................................................. ii
BAB 1. PENDAHULUAN................................................................................................ 1
1.

Latar Belakang.................................................................................................. 1

2.

Rumusan Masalah............................................................................................. 2

3.

Tujuan Makalah................................................................................................. 2

4.

Manfaat Makalah............................................................................................ 2

BAB II. PEMBAHASAN.................................................................................................. 3


A.

PEWARISAN....................................................................................................... 3
1.

PENGERTIAN HUKUM WARIS...........................................................................3

2.

UNSUR UNSUR PEWARISAN.........................................................................3

3.

HAK DAN KEWAJIBAN PEWARIS......................................................................5

4.

HAK DAN KEWAJIBAN AHLI WARIS..................................................................6

5.

PEMBAGIAN WARIS MENURUT BW..................................................................7

B.

WARIS WASIAT ( TESTAMENT )........................................................................12


1.

PENGERTIAN WASIAT....................................................................................12

2.

SYARAT SYARAT WASIAT............................................................................. 12

3.

JENIS JENIS WASIAT.................................................................................... 13

4.

PENCABUTAN DAN WASIAT...........................................................................14

BAB III. PENUTUP...................................................................................................... 16


a.

Kesimpulan..................................................................................................... 16

b.

kritik dan saran............................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................... 18

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Hukum merupakan kumpulan dari aturan-aturan yang dibuat untuk mengatur
tingkah laku dan tindak tanduk manusia selaku subjek hukum dalam kehidupan
barmasyarakat, berbangsa dan bernegara, dan dengan adanya hukum diharapkan dapat
memberikan dan menciptakan tujuannya yang terlebih dahulu ada sebelum dibuatnya.
Dan hukum ternyata tidak hanya mengatur tindakan manusia dalam kehidupan
saja, manusia selaku subjek hukum ternyata juga masih diataur oleh hukum pada waktu
meninggalnya dan pada hal ini hukum dikhususkan kepada barang (harta) yang telah
ditinggalkannya atau pemusakaan barang kepada orang - orang yang berhak
mendapatkannya yang dinamakan Hukum Waris.
Mengenai hukum waris yang ada dalam kehidupan kita, kita sering mendengar
adanya Hukum waris merupakan bagian dari hukum perdata. Dalam undang-undang
hukum perdata ketentuan pewarisan ini selain karena adanya hubungan kekeluargaan
juga merupakan adanya wasiat dari orang yang meninggal kepada selain ahli waris.
Pembagian harta warisan berdasarkan undang-undang maupun menurut wasiat
sering menimbulkan perselisihan antar keluarga karena masing-masing mereka merasa
haknyalah yang lebih besar.
Dalam pemecahan masalah hukum kewarisan ini selain bisa diselesaikan melalui
undang-undang hukum perdata juga bisa diselesaikan menurut hukum Islam dan hukum
adat. Ketiga macam pembagian waris tersebut berbeda, hal ini tidak lain kerena
berbedanya pula penyusun atau sumber hukum yang digunakan serta asal usul yang
berbeda pula. Jika hukum waris berdasarkan hukum perdata (BW) berasal dari Portugis
yang kemudian dibawah oleh Belanda saat penjajahan di Indonesia.
Dan pada kesempatan kali ini makalah ini akan memberikan sedikit penjelasan
tentang Hukum Waris menurut Kitab Undang-undang negara kita sendiri yang juga harus
kita katahui dan kita pahami keberadaannya, dan berikut penjelasannya.

2. Rumusan Masalah
a. Apa Pengertian Hukum pewarisan dan wasiat ?
b. Apa saja Unsur Unsur Pewarisan ?
c. Apa saja Hak dan Kewajiban Pewarisan dan Ahli Waris ?
d. Bagaimana cara Pembagian Waris menurut BW ?
e. Apa saja Syarat Syarat dan jenis-jenis Wasiat ?
f. Bagaimana cara Pencabutan dan Gugurnya Wasiat ?

3. Tujuan Makalah
a. Untuk mengetahui tentang pengertian hukum pewarisan dan wasiat.
b. Untuk mengetahui unsur-unsur pewarisan.
c. Untuk mengetahui hak dan kewajiban pewarisan dan ahli waris.
d. Untuk mengetahui tentang pembagian waris menurut BW.
e. Untuk mengetahui tentang syarat dan jenis wasiat.
f. Untuk mengetahui tentang cara pencabutan dan gugurnya wasiat.

4. Manfaat Makalah
a. Agar pembaca mengetahui tentang pengertian hukum pewarisan dan wasiat.
b. Agar pembaca mengetahui unsur-unsur pewarisan.
c. Agar pembaca mengetahui hak dan kewajiban pewarisan dan ahli waris.
d. Agar pembaca mengetahui tentang pembagian waris menurut BW.
e. Agar pembaca mengetahui tentang syarat dan jenis wasiat.
f. Agar pembaca mengetahui tentang cara pencabutan dan gugurnya wasiat.

BAB II
PEMBAHASAN
A. PEWARISAN
1. PENGERTIAN HUKUM WARIS
Hukum waris ( erfrecht ) yaitu seperangkat norma atau aturan yang mengatur
mengenai berpindahnya atau beralihnya hak dan kewajiban ( harta kekayaan ) dari orang
yang meninggal dunia ( pewaris ) kepada orang yang masih hidup ( ahli waris) yang
berhak menerimanya. Atau dengan kata lain, hukum waris yaitu peraturan yang mengatur
perpindahan harta kekayaan orang yang meninggal dunia kepada satu atau beberapa
orang lain.
Menurut Mr. A. Pitlo, hukum waris yaitu suatu rangkaian ketentuan ketentuan,
di mana, berhubung dengan meninggalnya seorang, akibat- akibatnya di dalam bidang
kebendaan, diatur, yaitu : akibat dari beralihnya harta peninggalan dari seorang yang
meninggal, kepada ahli waris, baik di dalam hubungannya antara mereka sendiri, maupun
dengan pihak ketiga.1

2. UNSUR UNSUR PEWARISAN


Di dalam membicarakan hukum waris maka ada 3 hal yang perlu mendapat
perhatian, di mana ketiga hal ini merupakan unsur unsur pewarisan :2

a. Orang yang meninggal dunia


Pewaris ialah orang yang meninggal dunia dengan meningalkan hak dan
kewajiban kepada orang lain yang berhak menerimanya. Menurut pasal 830 BW,
pewarisan hanya berlangsung karena kematian. Menurut ketentuan pasal 874 BW,
segala harta peninggalan seorang yang meninggal dunia adalah kepunyaan sekalian
1 Afandi, Ali. 2004. Hukum Waris, Hukum Keluarga, Hukum Pembuktian menurut
Kitab Undang Undang Hukum Perdata. Rineka Cipta : Jakarta, hal 7

2 Amanat, Anisitus. 2001. Membagi Warisan Berdasarkan Pasal Pasal Hukum


Perdata Bw ( Edisi Revisi ). Semarang.
3

ahli warisnya menurut undang undang sekedar terhadap itu dengan surat wasiat
tidak telah diambil setelah ketetapan yang sah.
Dengan demikian, menurut BW ada dua macam waris :
Hukum Waris ab intestato (tanpa wasiat).
Hukum Waris Wasiat atau testamentair erfrecht.

b. Ahli waris yang berhak menerima harta kekayaan


Ahli waris yaitu orang yang masih hidup yang oleh hukum diberi hak untuk
menerima hak dan kewajiban yang ditinggal oleh pewaris. Ahli waris terdiri dari :

Ahli waris menurut undang undang ( abintestato )


Ahli waris ini didasarkan atas hubungan darah dengan si pewaris
atau para keluarga sedarah. Ahli waris ini terdiri atas 4 golongan:
Golongan I, terdiri dari anak anak, suami ( duda ) dan istri ( janda ) si
pewaris; Golongan II, terdiri dari bapak, ibu ( orang tua ), saudara
saudara si pewaris; Golongan III, terdiri dari keluarga sedarah bapak atau
ibu lurus ke atas ( seperti, kakek, nenek baik garis atau pancer bapak atau
ibu ) si pewaris; Golongan IV, terdiri dari sanak keluarga dari pancer
samping ( seperti, paman , bibi ).

Ahli waris menurut wasiat ( testamentair erfrecht )


Ahli waris ini didasarkan atas wasiat yaitu dalam pasal 874 BW,
setiap orang yang diberi wasiat secara sah oleh pewaris wasiat, terdiri
atas, testamentair erfgenaam yaitu ahli waris yang mendapat wasiat yang
berisi suatu erfstelling ( penunjukkan satu atau beberapa ahli waris untuk
mendapat seluruh atau sebagian harta peninggalan ); legataris yaitu ahli
waris karena mendapat wasiat yang isinya menunjuk seseorang untuk
mendapat berapa hak atas satu atau beberapa macam harta waris, hak atas
seluruh dari satu macam benda tertentu, hak untuk memungut hasil dari
seluruh atau sebagian dari harta waris.

Jadi, dengan demikian ada tiga dasar untuk menjadi ahli waris,
yaitu, ahli waris atas dasar hubungan darah dengan si pewaris, ahli waris
hubungan perkawianan dengan si pewaris, ahli waris atas dasar wasiat.

c. Harta Waris
Hal hal yang dapat diwarisi dari si pewaris, pada prinsipnya yang dapat
diwarisi hanyalah hak hak dan kewajiban dalam lapangan harta kekayaan.
Hak dan kewajiban tersebut berupa :
Aktiva ( sejumlah benda yang nyata ada dan atau berupa tagihan atau
piutang kepada pihak ketiga, selain itu juga dapat berupa hak imateriil,
seperti, hak cipta );
Passiva ( sejumlah hutang pewaris yang harus dilunasi pada pihak ketiga
maupun kewajiban lainnya ).
Dengan demikian, hak dan kewajiban yang timbul dari hukum keluarga
tidak dapat diwariskan.

3. HAK DAN KEWAJIBAN PEWARIS

a. Hak Pewaris
Pewaris sebelum meninggal dunia berhak menyatakan kehendaknya dalam
testament atau wasiat yang isinya dapat berupa:
erfstelling / wasiat pengangkatan ahli waris ( suatu penunjukkan satu atau
beberapa orang menjadi ahli waris untuk mendapatkan seluruh atau sebagian
harta peninggalan ( menurut pasal 954 BW ), wasiat pengangkatan ahli waris
ini terjadi apabila pewaris tidak mempunyai keturunanatau ahli waris
( menurut pasal 917 BW ));
legaat / hibah wasiat ( pemberian hak kepada seseorang atas dasar wasiat
yang khusus berupa hak atas satu atau beberapa benda tertentu, hak atas
seluruh benda bergerak tertentu, hak pakai atau memungut hasil dari seluruh
atau sebagian harta warisan ( menurut pasal 957 BW )).

b. Kewajiban Pewaris
5

Pewaris wajib mengindahkan atau memperhatikan legitime portie, yaitu


suatu bagian tertentu dari harta peningalan yang tidak dapat dihapuskan atau
dikurangi dengan wasiat atau pemberian lainnya oleh orang yang meninggalkan
warisan ( menurut pasal 913 BW ).
Jadi, pada dasarnya pewaris tidak dapat mewasiatkan seluruh hartanya,
karena pewaris wajib memperhatikan legitieme portie, akan tetapi apabila pewaris
tidak mempunyai keturunan , maka warisan dapat diberikan seluruhnya pada
penerima wasiat.

4. HAK DAN KEWAJIBAN AHLI WARIS

a. Hak Ahli Waris


Setelah terbukanya warisan ahli waris mempunyai hak atau diberi hak untuk
menentukan sikapnya, antara lain, menerima warisan secara penuh, menerima
dengan hak untuk mengadakan pendaftaran harta peninggalan atau menerima
dengan bersyarat, dan hak untuk menolak warisan.

b. Kewajiban Ahli Waris


Adapun kewajiban dari seorang ahli waris, antara lain, memelihara keutuhan harta
peninggalan sebelum harta peninggalan itu dibagi, mencari cara pembagian sesuai
ketentuan, melunasi hutang hutang pewaris jika pewaris meninggalkan hutang,
dan melaksanakan wasiat jika pewaris meninggalkan wasiat

5. PEMBAGIAN WARIS MENURUT BW


a. Golongan I
Merupakan ahli waris dalam garis lurus ke bawah dari pewaris, yaitu anak,
suami / duda, istri / janda dari si pewaris. Ahli waris golongan pertama
mendapatkan hak mewaris menyampingkan ahli waris golongan kedua, maksudnya,
sepanjang ahli waris golongan pertama masih ada, maka, ahli waris golongan kedua
tidak bisa tampil.
Terdapat dalam pasal pasal 852 : Seorang anak biarpun dari perkawinan yang
berlain-lainan atau waktu kelahiran , laki atau perempuan, mendapat bagian yang
sama ( mewaris kepala demi kepala ). Anak adopsi memiliki kedudukan yang sama
seperti anak yang lahir di dalam perkawinannya sendiri .
Berbicara mengenai anak, maka

kita dapat menggolongkannya sebagai

berikut:
1.

Anak sah, yaitu anak yang dibenihkan / dibuahkan sepanjang


perkawinan sah dengan tidak mempermasalahkan kapan anak itu
dilahirkan oleh orang tuanya. Anak sah mewaris secara bersama
sama dengan tidak mempermasalahkan apakah ia lahir lebih dahulu
atau kemudian atau apakah ia laki laki atau perempuan.

2. Anak luar perkawinan, yaitu anak yang telah dilahirkan sebelum kedua
suami istri itu menikah atau anak yang diperoleh salah seorang dari
suami atau istri dengan orang lain sebelum mereka menikah. Anak luar
perkawinan ini terbagi atas :
a. Anak yang disahkan, yaitu anak yang dibuahkan atau
dibenihkan di luar perkawinan, dengan kemudian menikahnya
bapak dan ibunya akan menjadi sah, dengan pengakuan
menurut undang undang oleh kedua orang tuanya itu sebelum
7

pernikahan atau dengan pengakuan dalam akte perkawinannya


sendiri.
b. Anak yang diakui, yaitu dengan pengakuan terhadap seorang
anak di luar kawin, timbullah hubungan perdata antara si anak
dan bapak atau ibunya tau dengan kata lain, yaitu anak yang
diakui baik ibunya saja atau bapaknya saja atau kedua duanya
akan memperoleh hubungan kekeluargaan dengan bapak atau
ibu yang mengakuinya. Pengakuan terhadap anak luar kawin
dapat dilakukan dalam akte kelahiran anak atau pada saat
perkawinan berlangsung atau dengan akta autentik atau dengan
akta yang dibuat oleh catatan sipil.
Menurut pasal 693, hak waris anak yang diakui; 1/3 bagian
sekiranya ia sebagai anak sah, jika ia mewaris bersama sama
dengan ahli waris golongan pertama, dari harta waris jika ia
mewaris bersama sama dengan golongan kedua, dari harta
waris jika ia mewaris bersama dengan sanak saudara dalam
yang lebih jauh atau jika mewaris dengan ahli waris golongan
ketiga dan keempat, mendapat seluruh harta waris jika si
pewaris tidak meninggalkan ahli waris yang sah. Jika anak
diakui ini meninggal terlebih dahulu, maka anak dan
keturunannya yang sah berhak menuntut bagian yang diberikan
pada mereka menurut pasal 863, 865.
c. Anak yang tidak dapat diakui, terdiri atas; anak zina (anak yang
lahir dari orang laki laki dan perempuan, sedangkan salah
satu dari mereka itu atau kedua-duanya berada dalam ikatan
perkawinan dengan orang lain ), anak sumbang ( anak yang
lahir dari orang laki laki dan perempuan, sedangkan diantara
mereka terdapat larangan kawin atau tidak boleh kawin karena
masih ada hubungan kekerabatan yang dekat. Untuk kedua anak
ini tidak mendapatkan hak waris, mereka hanya mendapatkan
nafkah seperlunya.

b. Golongan II
Merupakan, ahli waris dalam garis lurus ke atas dari pewaris, yaitu, bapak,
ibu dan saudara saudara si pewaris. Ahli waris ini baru tampil mewaris jika ahli
waris golongan pertama tidak ada sama sekali dengan menyampingkan ahli waris
golongan ketiga dan keempat.
Dalam hal ini tidak ada saudara tiri menurut pasal KUHPerdata yaitu :

854 : Jika golongan I tidak ada, maka yang berhak mewaris ialah :
bapak, ibu, dan saudara. Ayah dan ibu dapat : 1/3 bagian, kalau hanya
ada 1 saudara; bagian, kalau ada lebih dari saudara. Bagian dari
saudara adalah apa yang terdapat setelah dikurangi dengan bagian dari
orang tua.

855 : Jika yang masih hidup hanya seorang bapak atau seorang ibu,
maka bagiannya ialah : kalau ada 1 saudara; 1/3 kalau ada 2 saudara;
kalau ada lebih dari 2 orang saudara. Sisa dari warisan, menjadi
bagiannya saudara ( saudara saudara )

856 : Kalau bapak dan ibu telah tidak ada, maka diseluruh warisan
menjadi bagian saudara saudara.

857 : Pembagian antara saudara saudara adalah sama, kalau mereka


itu mempunyai bapak dan ibu yang sama.

Dalam hal ada saudara tiri : Sebelum harta waris dibagikan kepada saudara
saudaranya, maka harus dikeluarkan lebih dulu untuk orang tua si pewaris, jika
masih hidup. Kemudian sisanya baru dibagi menjadi dua bagian yang sama. Bagian
yang ke satu adalah bagian bagi garis bapak dan bagian yang kedua adalah sebagai
9

bagian bagi garis ibu. Saudara saudara yang mempunyai bapak dan ibu yang sama
mendapat bagian dari bagian bagi gariss bapak dan bagian bagi garis ibu. Saudara
saudara yang hanya sebapak atau seibu dapat bagian dari bagian bagi garis bapak
atau bagi garis ibu saja.

c. Golongan III
Merupakan, keluarga sedarah si bapak atau ibu pewaris, yaitu kakek, nenek
baik pancer bapak atau ibu dari si pewaris. Dalam hal ini, ahli waris golongan ketiga
baru mempunyai hak mewaris, jika ahli waris golongan pertama dan kedua tidak ada
sama sekali dengan menyampingkan ahli waris golongan keempat.
853 : 858 ayat 1. Jika waris golongan 1 dan garis golongan 2 tidak ada, maka
warisan dibelah menjadi dua bagian yang sama. Yang satu bagian diperuntukkan
bagi keluarga sedarah dalam garis bapak lurus ke atas; yang lain bagian bagi
keluarga sedarah dalam garis ibu lurus ke atas. Waris yang terdekat derajatnya dalam
garis lurus ke atas mendapat setengah warisan yang jatuh pada garisnya. Kalau
derajatnya sama, maka waris itu pada tiap garis pancer mendapat bagian yang sama
( kepala demi kepala ). Kalau di dalam satu garis ( pancer ) ada keluarga yang
terdekat derajatnya, maka orang itu menyampingkan keluarga dengan derajat yang
lebih jauh.
Pasal ini menguraikan keadaan jika anak ( dan keturunannya ), isteri orang
tua, dan saudara tidak ada. Maka di dalam hal ini warisan jatuh pada kakek dan
nenek. Karena tiap orang itu mempunyai bapak dan ibu, dan bapak dan ibu itu
mempunyai bapak dan ibu juga, maka tiap orang mempunyai 2 kakek dan 2 nenek.
1 kakek dan 1 nenek dari pancer bapak dan 1 kakek dan 1 nenek dari pancer ibu.
Dengan telah meninggalnya bapak dan ibu maka adalah wajar jika warisan
itu jatuh pada orang orang yang menurunkan bapak dan ibu. Di dalam hal ini maka
warisan dibelah menjadi dua. Satu bagian diberikan kepada kakek dan nenek yang
menurunkan bapak dan bagian lain kepada kakek dan nenek yang menurunkan ibu.
Jika kakek dan nenek tidak ada maka warisan jatuh kepada orang tuanya
kakek dan nenek. Jika yang tidak ada itu hanya kakek atau nenek maka bagian jatuh
pada garisnya, menjadi bagian yang masih hidup.

10

d. Golongan IV
Merupakan, sanak keluarga dalam garis ke samping dari si pewaris, yaitu
paman, bibi.
858 ayat 2. Kalau waris golongan 3 tidak ada maka bagian yang jatuh pada
tiap garis sebagai tersebut dalam pasal 853 dan pasal 858 ayat 2, warisan jatuh pada
seorang waris yang terdekat pada tiap garis. Kalau ada beberapa orang yang
derajatnya sama maka warisan ini dibagi bagi berdasarkan bagian yang sama.
861 berbunyi Di dalam garis menyimpang keluarga yang pertalian
kekeluargaannya berada dalam suatu derajat yang lebih tinggi dari derajat ke 6
tidak mewaris. Kalau hal ini terjadi pada salah satu garis, maka bagian yang jatuh
pada garis itu,menjadi haknya keluarga yang ada di dalam garis yang lain, kalau
orang ini mempunyai hak kekeluargaan dalam derajat yang tidak melebihi derajat
ke 6.
873 berbunyi Kalau semua orang yang berhak mewaris tidak ada lagi maka
seluruh warisan dapat dituntut oleh anak di luar kawin yang diakui.
832. Kalau semua waris seperti disebut di atas tidak ada lagi, maka seluruh
warisan jatuh pada Negara.

e. Ahli Waris berdasarkan Penggantian Tempat / Ahli Waris Pengganti


Adapun syarat syarat untuk menjadi ahli waris pengganti adalah sebagai
berikut:
Orang yang digantikan tempatnya itu harus telah meninggal dunia terlebih
dahulu dari si pewaris.
Orang yang sudah meninggal dunia itu meninggalkan keturunan
Orang yang digantikan tempat itu tidak menolak warisan.

11

B. WARIS WASIAT ( TESTAMENT )


Dalam pemberian wasiat, tidak serta merta perintah pewaris dalam testament dapat
dilaksanakan. Banyak faktor yang menyebabkan hal tersebut. Apabila ternyata tidak ada
satupun faktor penghalang, berarti testament tersebut dapat dipenuhi isinya. Bagian dari harta
peninggalan pewaris yang dapat digunakan untuk memenuhi isi testamen hanya terbatas pada
bagian yang tersedia saja. Dengan demikian, persentasi harta kekayaan peninggalan pewaris
untuk pemenuhan testamen tidak tergantung pada bunyi testamen, tetapi sangat tergantung
pada jumlah harta peninggalan pewaris yang oleh hukum atau undang undang tersedia
untuk pewaris.

1. PENGERTIAN WASIAT
Suatu wasiat atau testament ialah suatu pernyataan dari seseorang tentang apa
yang dikehendaki setelahnya ia meninggal.
Pasal 875, surat wasiat atau testament adalah suatu akta yang berisi pernyataan
sesorang tentang apa yang akan terjadi setelah ia meninggal, dan yang olehnya dapat
ditarik kembali.

2. SYARAT SYARAT WASIAT


a. Syarat Syarat wasiat

Pasal 895 : Pembuat testament harus mempunyai budi akalnya, artinya


tidak boleh membuat testament ialah orang sakit ingatan dan orang yang
sakitnya begitu berat, sehingga ia tidak dapat berpikir secara teratur.

Pasal 897 : Orang yang belum dewasa dan yang belum berusia 18 tahun tidak
dapat membuat testament

b. Syarat Syarat Isi Wasiat


12

Pasal 888 : Jika testament memuat syarat syarat yang tidak dapat dimengerti
atau tak mungkin dapat dilaksanakan atau bertentangan dengan kesusilaan,
maka hal yang demikian itu harus dianggap tak tertulis.

Pasal 890 : Jika di dalam testament disebut sebab yang palsu, dan isi dari
testament itu menunjukkan bahwa pewaris tidak akan membuat ketentuan itu
jika ia tahu akan kepalsuannya maka testament tidaklah syah.

Pasal 893 : Suatu testament adalah batal, jika dibuat karena paksa, tipu atau
muslihat.
Selain larangan larangan tersebut di atas yang bersifat umum di dalam

hukum waris terdapat banyak sekali larangan larangan yang tidak boleh dimuat
dalam testament. Di antara larangan itu, yang paling penting ialah larangan
membuat suatu ketentuan sehingga legitieme portie ( bagian mutlak para ahli
waris ) menjadi kurang dari semestinya.3

3. JENIS JENIS WASIAT


a. Jenis Wasiat menurut Isinya:
Menurut isinya, maka ada 2 jenis wasiat :4
Wasiat yang berisi erfstelling atau wasiat pengangkatan waris. Seperti
disebut dalam pasal 954 wasiat pengangkatan waris, adalah wasiat dengan
mana orang yang mewasiatkan, memberikan kepada seorang atau lebih
dari seorang, seluruh atau sebagian ( setengah, sepertiga ) dari harta
kekayaannya, kalau ia meninggal dunia.

Wasiat yang berisi hibah ( hibah wasiat ) atau legaat. Pasal 957 memberi
keterangan seperti berikut : Hibah wasiat adalah suatu penetapan yang
3 Afandi, Ali. 2004. Hukum Waris, Hukum Keluarga, Hukum Pembuktian menurut
Kitab Undang Undang Hukum Perdata. Rineka Cipta : Jakarta, hal 15

4 Afandi, Ali. 2004. Hukum Waris, Hukum Keluarga, Hukum Pembuktian menurut
Kitab Undang Undang Hukum Perdata. Rineka Cipta : Jakarta, hal 16
13

khusus di dalam suatu testament, dengan mana yang mewasiatkan


memberikan kepada seorang atau beberapa orang; beberapa barang
tertentu, barang barang dari satu jenis tertentu, hak pakai hasil dari
seluruh atau sebagian dari harta peninggalannya.

b. Jenis Wasiat menurut Bentuknya


Selain pembagian menurut isi, masih ada lagi beberapa jenis wasiat dibagi
menurut bentuknya :5
Menurut pasal 931 ada 3 rupa wasiat menurut bentuk :

Wasiat ologafis, atau wasiat yang ditulis sendiri.


Wasiat ini harus ditulis dengan tangan orang yang akan
meninggalkan warisan itu sendiri, harus diserahkan sendiri kepada seorang
notaris untuk disimpan, penyerahan harus dihadiri oleh dua orang saksi.

Wasiat umum ( openbaar testament )


Dibuat oleh seorang notaris, orang yang akan meninggalkan
warisan menghadap para notaris dan menyatakan kehendaknya. Notaris ini
membuat suatu akta dengan dihadiri oleh 2 orang saksi.

Wasiat rahasia atau wasiat tertutup


Dibuat sendiri oleh orang yang akan meninggalkan warisan, tetapi
tidak diharuskan menuliskan dengan tangannya sendiri, testament ini
harus selalu tertutup dan disegel. Penyerahannya kepada notaris harus
disaksikan 4 orang saksi.

5 Subekti. 1987. Pokok Pokok Hukum Perdata. PT. Intermasa : Jakarta, hal 110
14

4. PENCABUTAN DAN WASIAT


Di antara pencabutan dan gugurnya wasiat ada perbedaan; pencabutan ialah di
dalam hal ini ada suatu tindakan dari pewaris yang meniadakan suatu testament,
sedangkan, gugur ialah tidak ada tindakan dari pewaris tapi wasiat tidak dapat
dilaksanakan, karena ada hal hal di luar kemauan pewaris. 6

a. Tentang Pencabutan Suatu Wasiat


Mengenai pencabutan wasiat secara tegas ada ketentuan ketentuan
seperti berikut :
992 : Suatu surat wasiat dapat dicabut dengan ; surat wasiat baru dan
akta notaris khusus. Arti kata khusus di dalam hal ini ialah bahwa
isi dari akta itu harus hanya penarikan kembali itu saja.

b. Tentang Gugurnya Suatu Wasiat


997 : Jika suatu wasiat memuat suatu ketetapan yang bergantung
kepada suatu peristiwa yang tak tentu : maka jika si waris atau legataris
meninggal dunia, sebelum peristiwa itu terjadi, wasiat itu gugur.
998 : Jika yang ditangguhkan itu hanya pelaksanaannya saja, maka
wasiat itu tetap berlaku, kecuali ahli waris yang menerima keuntungan
dari wasiat itu.

6 Afandi, Ali. 2004. Hukum Waris, Hukum Keluarga, Hukum Pembuktian menurut
Kitab Undang Undang Hukum Perdata. Rineka Cipta : Jakarta, hal 31- 33
15

BAB III
PENUTUP

a. Kesimpulan
Salah satu seseorang mendapat warisan itu di antaranya adanya hubungan
pernikahan,hubungan sedarah,orang tua atau adanya hubungan saudara dekat atau karena
testament. A.Pitlo mendefinisikan hukum waris sebagai berikut:hukum waris adalah
kumpulan peraturan yang mengatur hukum mengenai harta kekayaan karena wafatnya
seseorang, yaitu mengenai perpindahan kekayaan yang di tinggalkan seseorang yang
meninggal serta akibat dari perpindahan ini bagi orang-orang yang memperolehnya,baik
dalam hubungan antara mereka dengan mereka, ataupun hubungan antara mereka dengan
pihak ketiga.
Untuk terjadinya pewarisan, diperlukan adanya unsur-unsur sebagai berikut:
Adanya orang yang meninggal dunia yaitu orang yang meninggalkan harta
warisan dan disebut: pewaris.
Adanya orang yang masih hidup yaitu orang yang menurut undang-undang
atau testamen berhak mendapatkan warisan dari orang yang meninggal
dunia.mereka di sebut: Ahli Waris.
16

Adanya benda yang di tinggalkan yaitu sesuatu yang di tinggalkan oleh


pewaris pada saat ia meninggal dunia,yang disebut harta warisan, wujud
harta warisan ini bisa berbentuk Activa (piutang,tagihan) atau Pasiva
(hutang).
Cara mendapatkan warisan menurut KUH perdata (BW) adalah:
Menjadi ahli waris (menerima warisan) karena ketentuan undangundang.cara ini di sebutAb Intestato
Menjadi ahli waris (menerima warisan) karena di tunjuk dalam surat
wasiat. cara ini di sebut testamenter.

b. kritik dan saran


Dalam penyusunan makalah ini kami menyadari bahwa masih banyak kesalahan
baik dari penyusunan tulisan, maupun yang lainya. oleh karena itu saran dan kritik
pembaca sangat kami harapkan untuk mencapai kesempurnaan dalam penyusunan
makalah ini

17

DAFTAR PUSTAKA
Afandi, Ali. 2004. Hukum Waris, Hukum Keluarga, Hukum Pembuktian menurut Kitab
Undang Undang Hukum Perdata. Rineka Cipta : Jakarta.
Amanat, Anisitus. 2001. Membagi Warisan Berdasarkan Pasal Pasal Hukum Perdata Bw
( Edisi Revisi ). Semarang.
Subekti. 1987. Pokok Pokok Hukum Perdata. PT. Intermasa : Jakarta.

18

19