Anda di halaman 1dari 8

A.

Pengertian Jaminan Perorangan


Pengertian jaminan perorangan dapat kita temui pada Kitab Undang-Undang Hukum
perdata maupun pendapat para ahli, diantaranya:
1.) Menurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata pasal 1820, Jaminan Perorangan biasa
dikenal Penanggungan, yaitu suatu persetujuan dimana pihak ketiga, demi kepentingan
kreditur, mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan debitur, bila debitur itu tidak memenuhi
perikatannya.
2.) Menurut Sri Soedewi M.S., mengartikan jaminan immateriil (perorangan) adalah:
jaminan yang menimbulkan hubungan langsung pada perorangan tertentu, hanya dapat
dipertahankan terhadap debitur tertentu, terhadap harta kekayaan debitur umumnya.
3.) Menurut Soebekti, Jaminan Perseorangan adalah: Suatu perjanjian antara seorang
kreditur dengan orang ketiga, yang menjamin dipenuhinya kewajiban si debitur. Ia bahkan
dapat diadakan di luar (tanpa) si berhutang (debitur) tersebut.
B. Dasar Hukum Jaminan Perorangan
Dasar hukum tentang Jaminan Perorangan hanya dapat kita temui dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata yakni pada Pasal 1820-1863 karena suatu jaminan
perorangan adalah jaminan khusus antara para pihak yakni debitur dan kreditur.
C. Unsur-Unsur dalam Jaminan Perorangan
Unsur jaminan perorangan, yaitu:
1.) mempunyai hubungan langsung pada orang tertentu;
2.) hanya dapat dipertahankan terhadap debitur tertentu; dan
3.) terhadap harta kekayaan deitur umumnya.
D. Ciri-Ciri/Sifat Jaminan Perseorangan
Ciri-Ciri/Sifat Perjanjian Penanggungan ada beberapa, yaitu:
1.) Merupakan jaminan yang bersifat perorangan, yaitu adanya pihak ketiga (badan hukum)
yang menjamin pemenuhan prestasi manakala debiturnya wanprestasi. Pada jaminan yg
bersifat perorangan dmk pemenuhan prestasi hanya dapat dipertahankan terhadap orangorang tertentu, yaitu Debitur atau penanggungnya.
2.) Bersifat accesoir, yakni perjanjian yang mengikuti perjanjian pokoknya. Perjanjian
penanggungan akan batal demi hukum atau hapus jika perjanjian pokok juga batal demi
hukum atau hapus.
3.) Untuk perjanjian yang dapat dibatalkan, perjanjian accesoirnya tidak ikut batal meskipun
perjanjian pokoknya dibatalkan. misalnya Perjanjian Pokok dibuat oleh orang yang tidak
cakap, sehingga dapat dibatalkan dan bila hal ini terjadi mk perjanjian penanggungannya
dianggap tetap sah.

4.) Bersifat sepihak dimana hanya penanggung yg hrs melaksanakan kewajiban. Tetapi
adakalanya kreditur menawarkan suatu prestasi sehingga pihak ketiga mau menjadi
penanggung dan dlm keadaan demikian perjanjian bersifat timbal balik.
5.) Besarnya penanggungan tidak akan melebihi besarnya prestasi/perutangan pokoknya
tetapi boleh lebih kecil. Jika penanggung lebih besar maka yang dianggap sah hanya yang
sebesar utang pokok (Psl 1822 BW).
6.) Bersifat subsidiair, jika ditinjau dr sudut cara pemenuhan prestasi. Hal ini berdasarkan
Ps.1820 BW bahwa penanggung mengikatkan diri untuk memenuhi perutangan debitur
manakala debitur sendiri tidak memenuhinya. Ini berarti penanggung hanya terikat secara
subsidiair karena hanya akan melaksanakan prestasi jika debitur tdk memenuhinya sedang
debitur yg harus tetap bertanggung jawab atas pelaksanaan prestasi tsb dan stlh penanggung
melaksanakan prestasi maka ia mempunyai hak regres terhadap debitur.
7.) Beban pembuktian yang ditujukan ke si berutang dalam batas-batas tertentu juga mengikat
si penanggung.
8.) Penanggungan diberikan untuk menjamin pemenuhan perutangan yang timbul dari segala
macam hubungan hukum baik yang bersifat perdata maupun yang bersifat hukum publik,
asalkan prestasi tersebut dapat dinilai dalam bentuk uang.
E. Jenis-Jenis Jaminan Perorangan
Jaminan yang bersifat perorangan, dapat berupa borgtoch (personal guarantee) yang pemberi
jaminannya adalah pihak ketiga secara perorangan, dan jaminan perusahaan, yang pemberi
jaminannya adalah suatu badan usaha yang berbadan hukum.
Dalam perkembangannya, pihak yang bertindak sebagai penjamin tidak hanya perorangan
saja, melainkan bisa juga:
1.) Perusahaan, yang dikenal dengan istilah Corporate Guarantee,
Contohnya: PT Priyatama memberikan Corporate Guarantee (Jaminan Perusahaan) atas
pengembalian hutang Arief sebesar Rp. 1 Milyar kepada Bank ABC. Total kekayaan PT
Priyatama adalah sebesar Rp. 3Milyar. Kemudian PT. Priyatama juga menjamin hutang dari
Budi sebesar Rp. 3 Milyar kepada Bank XYZ. Suatu saat hutang dari Arief pada Bank ABC
macet. Kemudian hutang Budi kepada bank XYZ juga macet. Hal ini mengakibatkan PT
Priyatama harus memenuhi kewajibannya kepada 2 pihak. Padahal total kekayaannya yang
hanya sebesar Rp. 3Milyar tidak mencukupi untuk memenuhi kedua kewajiban tersebut yang
berjumlah Rp. 4 Milyar.
Dalam hal demikian, maka baik Bank ABC maupun Bank XYZ harus menanggung resiko
berupa kegagalan PT. Priyatama untuk memenuhi komitmennya. Karena harta bendanya
tidak mencukupi.
2.) Bank, dengan cara menerbitkan Bank Garansi, yang bisa berupa:
1)
2)
3)
4)

Jaminan Penawaran (bid bond)


Jaminan Pelaksanaan (performance bond)
Jaminan Uang muka
Penerbitan Letter of Credit (L/C) atau Surat Berdokumen Dalam Negeri (SKBDN).
2

F. Hak-Hak Istimewa yang Dimiliki Oleh Penjamin


Sebagai penjamin, kreditur punya hak-hak istimewa yang dijamin oleh UndangUndang. Hak-hak istimewa penjamin adalah:
1.) Hak meminta agar pemenuhan utang debitur dilakukan dengan cara menyita dan
selanjutnya menjual harta debitur terlebih dahulu.
Jika setelah dihitung ternyata harta debitur masih kurang, kreditur baru meminta kepada
penjamin untuk membayar kekurangan utang yang belum terpenuhi (pasal 1831
KUHPerdata).
2.) Melakukan perjumpaan utang sebagaimana dimaksud dalam pasal 1430 KUHPerdata.
Penjamin berhak melakukan perjumpaan utang antara kreditur dan debitur. Dengan demikian,
bisa menyebabkan utang debitur kepada kreditur lunas karena debitur punya piutang yang
besarnya sama dengan utangnya kepada kreditur.
3.) Atas permintaan penjamin, kreditur tidak diwajibkan menjual ataupun menyita harta
debitur (pasal 1833 KUHPerdata).
4.) Dalam hal yang bertindak sebagai penjamin terdiri dari beberapa orang atau beberapa
perusahaan, para penjamin tersebut berhak meminta pemecahaan terhadap utang yang
ditanggung secara bersama-sama, sesuai dengan proporsinya masing-masing.
Pemecahan kewajiban pemenuhan utang oleh penjamin tersebut dapat dilakukan atas inisiatif
dari kreditur (Pasal 1837-1838 KUHPerdata).
5.) Penjamin berhak meminta ganti rugi kepada debitur atau dibebaskan dari kewajibannya
untuk memberikan jaminan perseorangan/perusahaan kepada kreditur atas utang debitur yang
bersangkutan.
Hal tersebut berlaku jika:

Penjamin digugat di muka hakim untuk memenuhi pembayaran utang debitur.


Terdapat perjanjian antara debitur dan penjamin bahwa setelah lewat jangka waktu
tertentu, penjamin akan dibebaskan dari kewajibannya menjamin utang debitur.
Dalam perjanjian kredit tidak ditetapkan lamanya penjamin harus menanggung utang
debitur kepada kreditur sehingga penjamin dapat meminta untuk berhenti bertindak
sebagai penjamin setelah lewat dari 10 tahun, kecuali untuk penjaminan yang
berhubungan dengan perwalian.

6.) Penjamin berhak mengajukan segala bantahandapat digunakan oleh debitur kepada
kreditur.
Bantahan tersebut tidak boleh hanya berkaitan dengan pribadi debitur (pasal 1847
KUHPerdata).
7.) Penjamin berhak menuntut debitur agar memenuhi kewajibannya kepada kreditur atau
menuntut debitur agar melepaskan penjamin dari kewajiban membayar utang debitur kepada
kreditur (pasal 1850 KUHPerdata).

G. Siapakah yang Bertindak Sebagai Penjamin


Pada prinsipnya, semua orang perseorangan maupun badan hukum yang dianggap
sebagai subjek hukum dapat bertindak sebagai penjamin. Namun, dalam praktiknya, hanya
badan hukum yang berbentuk Perseroan Terbatas yang dapat diterima oleh Bank/lembaga
keuangan lainnya selaku penjamin.
Dalam praktik, secara umum biasanya yang diminta sebagai penjamin adalah:

Personal guarantee dari pemegang saham untuk debitur bersangkutan, jika yang
bertindak selaku debitur adalah suatu perusahaan.
Company guarantee dari perusahaan lain yang masih merupakan afiliasi debitur.
Personal guarantee dari para komisaris atau para direksi debitur.
Personal guarantee dari orangtua debitur, dengan kemampuan finansial yang
dianggap lebih baik daripada debitur bersangkutan.

H. Eksekusi terhadap Jaminan Perseorangan


Seperti yang sudah saya jelaskan bahwa jaminan perseorangan dalam praktik
perbankan di Indonesia hanyalah bersifat jaminan tambahan dan lebih mengacu pada
Kewajiban Moral (obligatoir overeenkomst). Ini karena pada praktiknya, eksekusi terhadap
jaminan perseorangan masih sangat sulit dan mengambang serta masih terdapat berbagai
macam persepsi berbeda mengenai masalah eksekusi personal guarantee ataucompany
guarantee tersebut dari para praktisi hukum. Berbeda dengan jaminan kebendaan yang
menetapkan suatu benda tertentu sebagai jaminan (tanah, rumah, mobil, dan lain-lain) yang
memberikan hak preference kepada kreditor pemegang jaminan kebendaan tersebut. Jika
debitur wanprestasi (macet), kreditor dapat menjalankan haknya dengan cara mengeksekusi
benda tersebut terlebih dahulu daripada kreditor lainnya.
Dalam jaminan perseorangan tidak demikian karena tidak ada satu bagian tertentu
dari harta kekayaan penjamin yang ditetapkan sebagai jaminan. Hal inilah yang menyebabkan
kreditor berada dalam kedudukan konkuren. Artinya, dalam hal debitur punya kewajiban
terhadap beberapa kreditor, maka para kreditor tersebut punya kedudukan yang setara.
Dengan demikian, pemenuhan kewajiban dari penjamin dilakukan dalam jumlah yang
proporsional sesuai dengan utang debitur kepada setiap kreditor tersebut.
Dalam kasus kepailitan, seorang penjamin tidak dapat dipaksakan untuk memenuhi
utang debitur (yang dijaminnya); walaupun debitur tersebut sudah dinyatakan pailit. Kecuali,
penjamin tersebut juga dipailitkan atau ada aset penjamin yang secara khusus dibebani
dengan Hak Tanggungan untuk menjamin pembayaran utang debitur kepada kreditor.
I. Penanggungan Utang
Perjanjian penanggungan utang diatur di dalam Pasal 1820-1850 KUHPerdata. Yang diartikan
dengan penanggungan adalah:
Suatu perjanjian di mana pihak ketiga, demi kepentingan kreditur, mengikatkan dirinya
untuk memenuhi perikatan debitur, bila debitur itu tidak memenuhi perikatannya (Pasal
1820 KUHPerdata)
4

Alasan adanya perjanjian penanggungan utang ini antara lain karena si penanggung
mempunyai persamaankepentingan ekonomi dalam usaha dari peminjam (ada hubungan
kepentingan antara penjamin dan peminjam), misalnya sipenjamin sebagai direktur
perusahaan selaku pemegang saham terbanyak secara pribadi ikut menjamin hutang-hutang
perusahaan tersebut secara pribadi ikut menjamin hutang-hutang perusahaan itu dan kedua
perusahaan induk ikut menjamin hutang perusahaan cabang.
a.) Akibat-akibat penanggungan antara kreditur dan penanggungnya
Pada prinsipnya, penganggung utang tidak wajib membayar utang debitur pada kreditur,
kecualidebitur lalaimembayar utangnya.
Untuk membayar utang debitur tersebut, maka barang kepunyaan debitur harus disita dan
dijual terlebih dahulu untuk melunasi hutangnya (pasal 1831 KUHPerdata)
Penanggungan tidak dapat menuntut supaya barang milik debitur lebih dahulu disita
dan dijual untuk melunasi hutangnya, jika:
a) Dia (penanggung utang) telah melepaskan hak istimewanya untuk menuntut barangbarang debitur lebihdahulu disita dan dijual;
b) Ia telah mengikatkan dirinya bersama-sama dengan debitur utama secara tanggung
menanggung, dalam hal itu akibat-akibat perikatannya diatur menurut asas asas utangutang tanggung-menanggung;
c) Debitur dapat mengajukan suatu eksepsi yang hanya mengenai dirinya sendiri secara
pribadi;
d) Debitur dalam keadaan pailit; dan
e) Dalam hal penanggungan yang diperintahkan hakim (pasal 1832KUHPerdata)
b.) Akibat-akibat penanggungan antara debtur dan penanggung dan antara para
penanggung
Hubungan hukum antara penanggung dengan debitur utama adalah erat kaitannya dengan
telah dilakukannya pembayaran debitur kepada kreditur. Untuk itu, pihakpenanggung
menuntut kepada debitur supaya membayar apayang telah dilakukan oleh penanggung kepada
kreditur. Disamping penanggung utang juga berhak menuntut:
a) Pokok dan bunga
b) Penggantian biaya,kerugian,dan bunga.
Disamping itu, penanggung juga dapat menuntut debitur untuk diberikan ganti rugi atau
untuk dibebaskan dari suatu perikatannya bahkan sebelum ia membayar utangnya:
a) Bila ia digugat dimuka hakim untuk membayar
b) Bila debitur berjanjiuntuk membebaskannya dari penanggungannya pada suatu waktu
tertentu
c) Bila utangnya sudah dapat ditagih karena lewatnya jangka waktu yang telah
ditetapkan untukpembayarannnya
d) Setelah lewat waktu 10 tahun, jika perikatan pokoktidak mengandung suatu jangka
waktutertentu untuk pengakhirannya, kecuali bila perikatan pokok sedemikian
sifatnya, sehingga tidak dapat diakhiri sebelumlewat waktu tertentu.

Hubungan antara penanggung dengan debitur disajikan berikut ini.jika berbagai orang telah
mengikatkan dirinya sebagai penanggung untuk seorang debitur dan untuk utang yang sama,
maka penanggung yang melunasi hutangnya berhak untuk menuntut kepada penanggung
yang lainnya, masing-masing untuk bagiannya.
c.) Hapusnya penanggungan utang
Hapusnya penanggungan hutang diatur dalam pasal 1845-1850 KUHPerdata. Di dalam pasal
1845 KUHPerdata disebutkan bahwa perikatan yang timbul karena penanggungan, hapus
karena sebab-sebab yang sama dengan yang menyebabkan berakhirnya perikatan lainnya,
pasal ini menunjuk kepada pasal 1381,1408, 1424, 1420, 1437, 1442, 1574, 1846, 1938, dan
1984 KUHPerdata.
Didalam pasal 1381,ditentukan 10 cara berakhirnya perjanjian penanggungan utang yaitu
pembayaran; penawaran pembayaran tunai, diikuti dengan penyimpangan atau penitipan;
pembaruan hutang; kompensasi hutang; pencampuran hutang; pembebasan utang; musnahnya
barang terutang; kebatalan atau pembatalan; dan berlakunya syarat pembatalan.
J. Contoh Sederhana Dari Jaminan Perorangan

Bu Aminah seorang dosen Fakultas Hukum meminjam uang sebesar Rp. 30 juta
dengan jaminan Rektornya

Ani seorang buruh pabrik meminjam uang pada Bank Mandiri sebesar 5 juta yg
menjamin adalah Direkturnya.

Jadi dalam hukum jamianan perorangan harus ada hubungan antara si peminjam dengan si
penjamin yaitu hubungan antara atasan dan bawahan dan hubungan antara buruh dan
majikan.
Contoh lain: Rani mempunyai hutang sebesar Rp 10jt kepada Maya, untuk pembiayaan
renovasi rumah. Untuk menjamin Rani akan membayar hutangnya kepada Maya, maka Dewi
(tante Rani) yang akan menjamin pelunasan hutang Rani bilamana Rani tidak membayar.
Jadi intinya bila Rani nanti tidak bisa membayar hutang sebesar Rp. 10jt tersebut, maka Dewi
yang akan melunasi kewajiban Rani ke Maya.
Bentuk penjaminan yang diberikan oleh Dewi tersebut dalam istilah hukumnya disebut juga
Jaminan Perorangan (persoonlijke zekerheid) atau borgtocht atau dalam istilah bisnis seharihari disebut juga personnal guarantee sebagaimana diatur dalam pasal 1820 KUHPerdata.
Rani (dalam praktik disebut sebagai debitur), sebagai pihak yang dijamin pengembalian
hutangnya oleh Dewi (dalam praktik disebut sebagai Penjamin), tidak selalu harus
mengetahui bahwa hutang dia telah dijamin pengembaliannya oleh Dewi. Karena jaminan
yang diberikan oleh Dewi tersebut bisa juga dilakukan secara diam-diam tanpa
sepengetahuan Rani.
Pemberian jaminan tersebut di dalam praktek hukum perbankan sehari-hari digunakan
sebagai jaminan pelengkap, yang sifatnya melengkapi pemberian jaminan yang sudah ada.
Karena berbeda dengan Jaminan Kebendaan sebagaimana yang telah diuraikan pada bab
sebelumnya, dalam Jaminan perorangan tersebut tidak disebutkan mengenai suatu harta
6

tertentu milik Penjamin yang dijadikan sebagai jaminan pelunasan kewajiban debitur kepada
Bank/Lembaga Pembiayaan.
Sebagai contoh, pada saat Dewi memberikan jaminan pelunasan hutang Rani kepada Maya,
Dewi tidak menetapkan suatu harta tertentu miliknya sebagai jaminan kepada Maya. Namun
demikian, berdasarkan pasal 1131 KUH Perdata dan Pasal 1132 KUHPerdata, maka seluruh
harta benda milik Dewi dijadikan jaminan atas pelunasan jaminan yang diberikan oleh Dewi
tersebut. Dalam hal terjadi eksekusi, dimana Dewi harus membayar hutang Rani kepada
Maya, maka pemenuhan hutang oleh Dewi kepada Maya tersebut dapat diambilkan dari harta
benda Dewi apa saja, kecuali yang sudah dibebani dengan jaminan lainnya seperti halnya
Hak Tanggungan, Gadai ataupun Hipotik.

Daftar Pustaka

Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Psl 1820.


Sumber: http://kuliahade.wordpress.com/2010/06/25/hukum-jaminan-jaminan-perorangan/.
Diunduh: 15 Desember 2014. Penulis: Kuliahades.
Sumber: http://radityowisnu.blogspot.com/2011/09/jaminan-perorangan.html. diunduh: 11
Desember 2014.
Sumber: http://kuliahade.wordpress.com/2010/06/25/hukum-jaminan-jaminan-perorangan/.
Diunduh: 15 Desember 2014. Penulis: Kuliahades.
Sumber: http://apakabarakta.blogspot.com/2012/08/penanggungan-bortoch-lembagajaminan.html. diunduh: 15 Desember 2014. Penulis: Citra Putri.
Sumber: http://kuliahade.wordpress.com/2010/06/25/hukum-jaminan-jaminan-perorangan/.
Diunduh: 15 Desember 2014. Penulis: Kuliahades.
Irma Devita Purnamasari, S.H., M.Kn, Kiat-Kiat Cerdas, Mudah, dan Bijak Memahami
Masalah HUKUM JAMINAN PERBANKAN. Bandung:Kaifa, 2011.
Irma Devita Purnamasari, S.H., M.Kn, Kiat-Kiat Cerdas, Mudah, dan Bijak Memahami
Masalah HUKUM JAMINAN PERBANKAN. Bandung:Kaifa, 2011.
Irma Devita Purnamasari, S.H., M.Kn, Kiat-Kiat Cerdas, Mudah, dan Bijak Memahami
Masalah HUKUM JAMINAN PERBANKAN. Bandung:Kaifa, 2011
Sri Soedewi, Hukum Perdata, Hukum Perutangan, Bagian A. Yogyakarta: Seksi Hukum
Perdata Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada. 1980
Diposkan oleh Mohammad Azhari di 08.35

Anda mungkin juga menyukai