Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
`
1.1 Latar Belakang
Era Globalisasi saat ini, persaingan dalam dunia bisnis semakin
meningkat, banyak perusahaan perusahaan yang membutuhkan dana besar untuk
pengembangan usahanya. Dalam mengembangkan usahanya tersebut, perusahaan
dapat melakukan ekspansi usaha yang bertujuan agar tetap bertahan dalam
menghadapi persaingan bisnis yang tinggi, serta menjaga kelangsungan hidup
perusahaannya (going concern). Kegitatan untuk memenuhi ekspansinya tersebut
tidak lepas dari unsur modal yang menyertainya, dalam rangka mendanai kegiatan
operasional perusahaannya. Kebutuhan dana suatu perusahaan akan semakin
tinggi apabila diikuti dengan pertumbuhan perusahaan yang semakin tinggi pula,
sehingga dalam hal ini menjadi suatu tuntutan bagi perusahaan untuk
mendapatkan tambahan dana baru.
Dalam memenuhi kebutuhan dananya tersebut, seringkali perusahaan
menggunakan dana yang berasal dari dalam perusahaan namun dalam hal ini
manajemen merasa bahwa dana yang digunakan di dalam perusahaan tersebut
masih kurang. Hal ini perlu diperhatikan oleh perusahaan untuk mencari solusi
dalam menyelesaikan permasalahan tersebut. Dana yang di dapatkan perusahaan
diperoleh dari dalam maupun luar perusahaan. Pendanaan dari dalam umumnya di
dapat dari laba yang ditahan perusahaan, sedangkan pendanaan dari luar pada
umumnya berasal dari kreditur berupa hutang serta penanaman modal oleh
investor. Usaha yang dilakukan oleh manajemen untuk memperoleh dana yang
1

besar salah satunya adalah mencari sumber dana dari luar perusahaan dengan
melakukan penawaran kepada masyarakat luas, dengan cara menerbitkan saham
di pasar modal.
Pasar Modal merupakan sarana pendanaan bagi perusahaan maupun
institusi lain (misalnya pemerintah), dan sebagai sarana berinvestasi. Dengan
demikian, pasar modal memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana kegiatan jualbeli dan kegiatan terkait lainnya (Martalena dan Malinda, 2011:2). Menurut UU
No.21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan, Pasar modal adalah kegiatan
yang bersangkutan dengan penawaran umum dan perdagangan efek. Perusahaan
publik yang berkaitan dengan efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi
yang berkaitan dengan efek. Proses melakukan penawaran saham perdana di pasar
modal tersebut dikenal dengan istilah go public. Hal ini menunjukan bahwa
perusahaan tersebut berubah dari perusahaan pribadi (private) menjadi perusahaan
go public.
Bagi suatu perusahaan yang melakukan IPO (Initial Public Offering),
secara

finansial

merupakan

sarana

untuk

mendapatkan

modal

dalam

pengembangan bisnis perusahaan, sebagai tolak ukur perusahaan dalam


menunjukan profesionalisme perusahaan dan sebagai wujud keterbukaan dalam
pengelolaan perusahaan yang dampaknya akan meningkatkan citra perusahaan.
Undang-Undang yang mengatur tentang IPO adalah Undang-undang No. 25 tahun
2007 (sebagai pengganti Undang-Undang No.8 Tahun 1995) tentang penanaman
modal.
Melihat persaingan dunia bisnis yang begitu ketat dewasa ini, dengan
bertambahnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, go public
merupakan salah satu cara alternatif bagi perusahaan untuk menjaga kelangsungan

hidup perusahaannya tersebut. Hal utama yang perlu dilakukan dalam proses go
public yaitu dengan melakukan penawaran umum penjualan saham di pasar
perdana (Primary Market) yang disebut dengan IPO (Initial Public Offering).
Kemudian saham dapat diperjual belikan di bursa efek atau disebut pasar sekunder
(Secondary Market).
Dalam hal lainnya, perusahaan perlu melakukan persiapan internal dan
penyiapan dokumentasi sesuai dengan persyaratan untuk go public atau
penawaran umum, serta memenuhi semua persyaratan yang ditetapkan

OJK

(Otoritas Jasa Keuangan). OJK mempunyai fungsi menyelenggarakan sistem


pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di
sektor jasa keuangan (www.ojk.go.id).
Langkah selanjutnya dalam

proses

go

public

yaitu

dengan

mempersiapkan prospektus perusahaan. Prospektus adalah informasi atau


dokumen penting dalam proses penawaran umum, baik saham maupun obligasi.
Isi prospektus tersebut memuat tentang informasi keuangan dan non keuangan.
Informasi keuangan mengenai laporan posisi keuangan, laporan laba/rugi
komperehensif, laporan arus kas dll. Sedangkan informasi non keuangan berisi
mengenai underwriter, auditor, konsultan hukum, nilai penawaran saham,
persentase saham yang ditawarkan, umur perusahaan, dll.
Harga saham yang ditawarkan perusahaan di pasar perdana ditentukan
oleh kesepakatan antara perusahaan penerbit (emiten) dengan penjamin emisi
(underwriter), sedangkan harga saham sekunder ditentukan atas mekasnisme
pasar (permintaan dan penawaran). Penentuan harga saham perdana biasanya
menjadi salah satu masalah antara emiten dengan underwriter. Satu sisi emiten

menginginkan perolehan dana maksimal dari harga saham yang dijual, namun sisi
lain underwriter sebagai pihak penjamin emisi menginginkan harga saham
perdana tidak terlalu tinggi, disebabkan karena ketidak inginan underwriter
menanggung resiko kerugian yang tinggi pula akibat dari tidak terjualnya saham
yang ditawarkan di pasar perdana.
Harga saham yang diperdagangkan pada saat IPO (Initial Public
Offering) cenderung seringkali mengalami perbedaan, dimana harga saham pada
saat IPO (Initial Public Offering) lebih tinggi dibanding dengan harga penutupan
hari pertama di pasar sekunder, maka hal tersebut akan mengalami overpricing.
Sedangkan harga saham pada saat IPO (Initial Public Offering) lebih rendah
dibanding dengan harga penutupan hari pertama di pasar sekunder, maka hal
tersebut akan mengalami underpricing.
Kondisi underpricing merugikan untuk perusahaan yang melakukan go
public, karena dana yang diperoleh dari publik tidak maksimum. Sebaliknya jika
terjadi overpricing, maka investor akan merugi, karena mereka tidak menerima
initial return (Retnowati, 2013). Initial Return adalah keuntungan yang didapat
pemegang saham karena perbedaan harga saham yang dibeli di pasar perdana
dengan harga jual saham yang bersangkutan di pasar sekunder. Para pemilik
perusahaan menginginkan agar meminimalisasikan situasi underpricing akan
menyebabkan transfer kemakmuran dari pemilik kepada para investor (Beatty,
1989).
Melalui penawaran umum perdana inilah para investor atau pemodal
melakukan penilaian terhadap perusahaan yang melaksanakan IPO tersebut.
Apabila kinerja perusahaan yang tertuang dalam prospektus baik serta proses
penjaminan dari underwriter juga bagus dan laporan hasil auditor menunjukan

hasil wajar tanpa pengeceualian, maka para investor cenderung akan merespon
dengan baik saham yang ditawarkan oleh emiten. Fenomena ini akan terlihat
ketika pemesanan saham akan melebihi jatah yang akan diterbitkan atau dijual,
sehingga fenomena underpricing cenderung akan sering ditemui.
Fenomena underpricing sering juga ditemui di pasar modal seluruh
dunia

akibat

adanya

asymmetric

information,

sehingga

menimbulkan

ketidakpastian ex-ante (Risqi dan Harto, 2013:1). Asymetric information ini sering
terjadi antara emiten, underwriter, bahkan investor.

Asymetric information

terjadi jika salah satu pihak dari suatu transaksi memiliki informasi lebih banyak
dibandingkan dengan pihak lainnya (Prastica, 2012). Seperti penelitian yang
dilakukan Sasongko (2014) dikatakan bahwa dari mulai tahun 1997 sampai
dengan 2010, dari 226 IPO tercatat sebanyak 186 IPO atau sebesar 82,30%
memberikan return awal (intial return) yang positif, sedangkan penelitian yang
mengindikasikan adanya undepricing di Indonesia oleh Aini (2013) dalam
Sasongko (2014) yaitu mencatat bahwa tingkat underpricing IPO perusahaan
selalu di atas 60% selama tahun 2007-2011. Berikut merupakan beberepa ilustrasi
fenomena underpricing yang terjadi di BEI tahun 2010-2014.
Tabel 1.1
Fenomena Underpricing di BEI Tahun 2010-2014

No
1

Tanggal
Listing
11-Nov-2010

26- Nov-2010

3
4
5
6

12-Jul-2011
13-Jul-2011
9-Jul-2012
8-Okt-2012

Nama Perusahaan
Agung Podomoro Land
Tbk
Boreno Lumbung Energi
& Metal Tbk
Indo Straits Tbk
Star Petrochem Tbk
MNC Sky Vision Tbk
Provident Agro Tbk

Offerin
g Price

Closin
g Price

Initial
Return

365

410

12,32%

1170

1280

9,40%

950
102
1520
450

1000
138
1540
470

5,26%
35,29%
1,31%
4,44%

Saraswati Griya Lestari


185
200
8,10%
Tbk
11-Jul-2013
Bank Maspion Indonesia
8
320
325
1,56%
Tbk
11-Jul-2014
Bank Dinar Indonesia
9
110
187
70,00%
Tbk
10 5-Nov-2014
Blue Bird Tbk
6500
7450
14,61%
Sumber: www.idx.co.id & www.e-bursa.com (diolah)
Terjadinya Underpricing karena beberapa hal yang mempengaruhinya,
7

10-Jan-2013

bisa dipengaruhi dari segi keuangan maupun non keuangan diantaranya yaitu
Return on Equity (ROE), Debt to Equity Ratio (DER), Earning Per Share (EPS),
reputasi underwriter, dan reputasi auditor. Menurut (Balvers dkk,1998) dalam
Johnson (2011)

ketika suatu auditor memiliki reputasi tinggi maka akan

memberikan tingkat kepercayaan yang lebih besar terhadap kebenaran informasi


dalam

laporan

keuangan.

Pemakaian

auditor

yang

berkualitas

akan

diinterpretasikan oleh investor, bahwa emiten mempunyai informasi yang tidak


menyesatkan mengenai prospeknya dimasa mendatang. Hal ini akan mengurangi
ketidakpastian sehingga akan berpengaruh pada tingkat underpricing saham.
Hal yang selanjutnya mempengaruhi tingkat underpricing adalah
reputasi underwriter. Underwriter yang memiliki reputasi tinggi biasanya
memiliki informasi lebih mengenai pasar modal. Dalam IPO, underwriter
bertanggung jawab terhadap terjualnya seluruh saham yang dikeluarkan oleh
emiten. Ketika underwriter memiliki reputasi yang tinggi dan berpengalaman,
maka yang diharapkan oleh emiten adalah memberikan pelayanan terbaik bagi
para investor. Semakin banyaknya perusahaan go public yang memakai jasa
penjaminan emisi dari suatu perusahaan underwriter yang dipilih menunjukan
bahwa mereka puas akan jasa yang diberikan (Prastica, 2012). Hasil penelitian
Rosyanti dan Sabeni (2002) mengemukakan bahwa reputasi underwriter

mempengaruhi underpricing pada level signifikansi 5% dengan arah korelasi


negatif. Menurut Yolana dan Dwi Martani (2005) bahwa tidak tedapat yang
signifikan antara variabel reputasi penjamin emisi dengan underpricing.
Kemudian faktor dari informasi keuangan yang mempengaruhi
underpricing yaitu ROE (Return On Equity) yang merupakan rasio profitabilitas
digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian atas ekuitas saham biasa.
Profitablititas

yang

tinggi

menunjukan

bahwa

kemampuan

perusahaan

menghasilkan laba di masa yang akan datang. Laba merupakan informasi yang
penting bagi investor untuk mengetahui kinerja perusahaan sebagai pertimbangan
untuk berinvestasi di perusahaan tersebut. Menurut Yolana dan Martani (2005)
dengan adanya ROE perusahaan dapat memberikan informasi mengenai
efektifitas operasional perusahaan kepada pihak luar. Pengujian ROE ini pernah
dilakukan oleh peneliti sebelumnya yaitu menurut Yustisia dan Roza (2012)
mengemukakan bahwa ROE secara parsial signifikan tidak mempengaruhi tingkat
underpricing. Menurut (Purwanto dkk, 2015)

hasil dari penelitian yang

dilakukannya disimpulkan bahwa ada pengaruh negatif

ROE terhadap

underpricing tetapi tidak signifikan. Penelitian yang dilakukan oleh Risqi dan
Harto (2013) menunjukan bahwa variabel Return On Equity (ROE) tidak
signifikan pada tingkat kepercayaan 0,05. Hasil ini juga konsisten dengan Yolana
dan Martani (2005) yang menunjukan bahwa ROE berpengaruh signifikan positif
terhadap underpricing.
Faktor keuangan yang lain yang mempengaruhi tingkat underpricing
yaitu Debt to Equity Ratio (DER) yang merupakan rasio hutang terhadap equity
yang dimiliki oleh perusahaan. Faktor ini pernah diteliti oleh Razafindrambinina

dan Kwan (2013) yang menunjukan bahwa pengaruh DER tidak menunjukan
pengaruh yang signifikan terhadap tingkat underpricing. Kemudian penelitian
yang dilakukan oleh Indriyanti dkk (2013) menandakan bahwa DER berpengaruh
pada hot market berpengaruh pada tingkat underpricing. Penelitian yang
dilakukan oleh Retnowati (2013) menunjukan bahwa DER tidak berpengaruh
terhadap underpricing. Kemudian penelitian tentang leverage yang diproksikan
dengan menggunakan DER oleh Cahyanda (2013) menunjukan bahwa hasil tidak
berpengaruh terhadap underpricing.
Terakhir merupakan faktor keuangan yang mempengaruhi tingkat
underpricing yaitu Earning Per Shares (EPS) yang merupakan informasi
mengenai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan pendapatan, membantu
investor untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas yang
baik dimasa mendatang. EPS ini pernah diteliti oleh Hasanah dan Akbar (2014)
menunjukan bahwa EPS tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat
underpricing. Hal ini sejalan dengan penemuan pada penelitian yang dilakukan
oleh Mukhlis (2011) membuktikan bahwa Earning Per Share (EPS) tidak
berpengaruh terhadap underpricing, sedangkan penelitian yang diteliti oleh
Retnowati (2013) menunjukan bahwa EPS berpengaruh signifikan terhadap
underpricing. Penelitian yang dilakukan oleh Wijayanto (2010) bahwa EPS
berpengaruh negatif dan signifikan terhadap initial return, hal ini ditunjukan
dengan nilai koefisien EPS yaitu sebesar -0,147 dengan tingkat signifikasi sebesar
0,047, artinya setiap kenaikan EPS sebesar satu persen, maka initial return akan
mengalami penurunan sebesar 0,147 persen dengan asumsi faktor lain dianggap
konstan (citeris paribus).

Seperti yang telah diuraikan dari permasalahan diatas bahwa Return On


Equity (ROE), Debt to Equity Ratio (DER), Earning Per Share (EPS), Reputasi
underwriter, Reputasi Auditor merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi
tingkat underpricing pada perusahan yang melakukan Initial Public Offering
(IPO). Akhirnya hal tersebut mendorong peneliti untuk memutuskan meneliti
tentang masalah tersebut. Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang yang sudah
dijelasakan peneliti tertarik untuk melakukan sebuah penelitian yang berjudul
PENGARUH ROE, DER, EPS, REPUTASI UNDERWRITER, DAN
REPUTASI AUDITOR TERHADAP TINGKAT UNDERPRICING PADA
PERUSAHAAN YANG MELAKUKAN INITIAL PUBLIC OFFERING DI
BEI TAHUN 2010-2014.
1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian masalah diatas bahwa beberapa penyebab yang
mengakibatkan tingkat underpricing dapat karena beberapa faktor yaitu dapat
dipengaruhi oleh informasi keuangan maupun non keuangan. Maka dalam hal ini
peneliti mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
1. Bagaimana pengaruh ROE secara parsial terhadap tingkat underpricing pada
perusahaan yang melakukan IPO di BEI tahun 2010-2014?
2. Bagaimana pengaruh DER secara parsial terhadap tingkat underpricing pada
perusahaan yang melakukan IPO di BEI tahun 2010-2014?
3. Bagaimana pengaruh EPS secara parsial terhadap tingkat underpricing pada
perusahaan yang melakukan IPO di BEI tahun 2010-2014?

10

4. Bagaimana pengaruh reputasi underwriter secara parsial terhadap tingkat


underpricing pada perusahaan yang melakukan IPO di BEI tahun 20102014?
5. Bagaimana pengaruh reputasi auditor secara parsial terhadap tingkat
underpricing pada perusahaan yang melakukan IPO di BEI tahun 20102014?
6. Bagaimana pengaruh ROE, DER, EPS, reputasi underwiter, dan reputasi
auditor secara simultan terhadap tingkat underpricing pada perusahaan yang
melakukan IPO di BEI tahun 2010-2014?

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian


Berdasarkan uraian masalah diatas, maksud dan tujuan melakukan
penelitian ini sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Menganalisis hubungan antara ROE terhadap tingkat underpricing.


Menganalisis hubungan antara DER terhadap tingkat underpricing.
Menganalisis hubungan antara EPS terhadap tingkat underpricing.
Menganalisis hubungan antara reputasi underwriter terhadap tingkat

underpricing.
5. Menganalisis

hubungan

antara

reputasi

auditor

terhadap

tingkat

underpricing.
1.4 Kegunaan Penelitian
Harapan peneliti adalah hasil dari penelitian ini dapat memberikan
informasi yang bermanfaat bagi pihak yang berkepentingan, seperti:
1. Bagi Peneliti

11

Dapat memahami bagaimana pengaruh ROE, DER, EPS, Reputasi


Underwriter, Reputasi Auditor terhadap tingkat underpricing pada
perusahaan yang melakukan IPO di BEI pada tahun 2010-2014, sehingga
menambah pengetahuan baru untuk menjadi seorang investor muda. Sebagai
prasayarat untuk menempuh ujian kelulusan sarjana Universitas Widyatama.
2. Bagi Emiten
Harapan bagi emiten yaitu agar berguna sebagai dasar pertimbangan dalam
pengambilan keputusan pada saat menentukan harga saham yang optimal
ketika melakukan IPO (Initial Public Offering) sehingga saham yang
diterbitkan terjual dengan optimal .
3. Bagi Investor dan Calon Investor
Memberikan informasi bagaimana melakukan strategi investasi yang tepat
sebagai dasar pertimbangan dalam mengambil keputusan berinvestasi di
pasar modal.
4. Bagi Kalangan Akademis
Diharapkan agar penelitian ini berguna bagi para peneliti selanjutnya
sebagai

tambahan

pengetahuan

baru

terhadap

faktor-faktor

yang

mempengaruhi terhadap tingkat underpricing dan bahan sebagai referensi


untuk melakukan penelitian yang sejenis.
1.5 Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian yang dilakukan oleh peneliti yaitu berlokasi di Universitas
Widyatama yang berlokasi di Jl. Cikutra No. 204A Kota Bandung, khususnya di
Pojok BEI Universitas Widyatama untuk memperoleh data dari penelitian ini.
Waktu penelitian yang dilaksanakan pada bulan Juli 2015 sampai dengan selesai.

12

1.6 Kerangka Pemikiran


1.6.1

Underpricing
Pertama kali ketika perusahaan akan melakukan go public dengan cara

melakukan IPO (Initial Public Offering). Hal utama perusahaan adalah melakukan
diskusi dengan underwriter untuk melakukan kesepakatan harga saham perdana
yang akan dijual di pasar perdana (primary market). Menurut Jogiyanto (2000:14)
dalam Junaeni dan Agustian (2013) ada dua metode dalam melakukan IPO yaitu:
1. Full Commitment atau firm commitment underwritering adalah suatu
perjanjian emisi efek dimana penjamin emisi mengigatkan diri untuk
menawarkan efek kepada masyarakat dan membeli sisa efek yang tidak laku
terjual.
2. Best Efforts, dalam komitmen ini, underwriter akan berusaha semaksimal
mungkin menjual efek-efek emiten. Apabila ada efek yang belum habis
terjual, underwriter tidak wajib membelinya. Oleh karena itu mereka hanya
membayar semua efek yang berhasil terjual dan mengembalikan sisanya
kepada emiten.
Fenomena yang sering terjadi pada saat perusahaan melakukan IPO
adalah underpricing, yang berarti penentuan harga saham pasar perdana lebih
rendah dibanding dengan harga saham di pasar sekunder pada saham yang sama
(Junaeni dan Agustian, 2013). Adanya asymetric information terjadi jika salah
satu pihak dari suatu transaksi memiliki informasi lebih banyak dibandingkan
dengan pihak lainnya (Prastica, 2012). Asymetric information ini sering terjadi
antara emiten, underwriter, dan investor. Dalam hal ini, emiten perlu membuat

13

prospektus. prospektus merupakan dokumen yang berisikan tentang informasi


keuangan maunpun non keuangan perusahaan. Informasi yang dimuat dalam
prospektus akan membantu investor dalam membuat keputusan yang rasional
mengenai resiko nilai saham yang sesungguhnya yang ditawarkan emiten (Kim,
Krinsky dan Lee, 1995) dalam Retnowati (2013).
Setelah mempelajari dari teori dan penelitian terdahulu maka ROE,
DER, EPS, reputasi underwriter, dan reputasi auditor merupakan informasi
keuangan dan non keuangan yang diperkirakan dapat mempengaruhi tingkat
underpricing. Hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.6.2

Pengaruh ROE Terhadap Tingkat Underpricing


Return on Equity (ROE) merupakan ukuran profitabilitas dimana

informasi yang diberikan kepada investor mengenai seberapa besar tingkat


pengembalian modal investor dari perusahaan yang berasal dari kinerja
perusahaan dan menghasilkan laba (Risqi dan Harto, 2013). Semakin tinggi
tingkat ROE perusahaan maka cenderung investor akan membeli saham dengan
harga yang tinggi

karena perusahaan tersebut berhasil menunjukan kinerja

perusahaannya dengan baik. Hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh
Johnson (2011) bahwa semakin tinggi ROE maka semakin rendah tingkat
underpricing.
H1: Return on Equity (ROE)

berpengaruh negatif terhadap tingkat

underpricing

1.6.3

Pengaruh DER Terhadap Tingkat Underpricing

14

Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio hutang terhadap equity


yang dimiliki oleh perusahaan. Investor mempertimbangkan faktor ini karena
semakin besar DER maka semakin besar hutang perusahaan terhadap ekuitas nya.
Faktor ini pernah diteliti oleh Razafindrambinina dan Kwan (2013) yang
menunjukan bahwa pengaruh DER tidak menunjukan pengaruh yang signifikan
terhadap tingkat underpricing. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh
Indriyanti dkk (2013) menandakan bahwa DER berpengaruh pada hot market
berpengaruh pada tingkat underpricing. Penelitian yang dilakukan oleh Retnowati
(2013) menunjukan bahwa DER tidak berpengaruh terhadap underpricing.
Kemudian penelitian tentang leverage yang diproksikan dengan menggunakan
DER oleh Cahyanda (2013) menunjukan bahwa hasil tidak berpengaruh terhadap
underpricing. Oleh karena itu dikembangkan hipotesis sebagai berikut:
H2: Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh positif terhadap tingkat
underpricing
1.6.4

Pengaruh EPS Terhadap Tingkat Underpricing


Earning Per Shares (EPS) merupakan informasi mengenai kemampuan

perusahaan dalam menghasilkan pendapatan, membantu investor untuk menilai


kemampuan perusahaan dalam menghasilkan arus kas yang baik dimasa
mendatang. EPS ini pernah diteliti oleh Hasanah dan Akbar (2014) menunjukan
bahwa EPS tidak berpengaruh secara parsial terhadap tingkat underpricing. Hal
ini sejalan dengan penemuan pada penelitian yang dilakukan oleh Mukhlis (2011)
membuktikan bahwa Earning Per Share (EPS) tidak berpengaruh terhadap
underpricing, sedangkan penelitian yang diteliti oleh Retnowati (2013)

15

menunjukan bahwa EPS berpengaruh signifikan terhadap underpricing. Penelitian


yang dilakukan oleh Wijayanto (2010) bahwa EPS berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap initial return, hal ini ditunjukan dengan nilai koefisien EPS
yaitu sebesar -0,147 dengan tingkat signifikasi sebesar 0,047, artinya setiap
kenaikan EPS sebesar satu persen, maka initial return akan mengalami penurunan
sebesar 0,147 persen dengan asumsi faktor lain dianggap konstan (citeris
paribus).
H3: Earning Per Shares (EPS) berpengaruh negatif terhadap tingkat
underpricing
1.6.5

Pengaruh Reputasi Underwriter Terhadap Tingkat Underpricing


Underwriter yang memiliki reputasi tinggi biasanya memiliki informasi

lebih mengenai pasar modal. Dalam IPO, underwriter bertanggung jawab


terhadap terjualnya seluruh saham yang dikeluarkan oleh emiten. Underwriter
yang memiliki reputasi tinggi diharapkan akan lebih bisa memberikan
penggantian kerugian kepada investor di masa yang akan datang (Booth, James R
et.all,

2010).

Ketika

underwriter

memiliki

reputasi

yang

tinggi

dan

berpengalaman, maka yang diharapkan oleh emiten adalah memberikan pelayanan


terbaik bagi para investor. Semakin banyaknya perusahaan go public yang
memakai jasa penjaminan emisi dari suatu perusahaan underwriter yang dipilih
menunjukan bahwa mereka puas akan jasa yang diberikan (Prastica, 2012).
Menurut Yolana dan Dwi Martani (2005) bahwa tidak tedapat yang signifikan
antara variabel reputasi penjamin emisi dengan underpricing.

16

H4:

Reputasi

Underwriter

berpengaruh

negatif

terhadap

tingkat

underpricing
1.6.6

Pengaruh Reputasi Auditor Terhadap Tingkat Underpricing


Menurut (Balvers dkk,1998) dalam Johnson (2011) ketika suatu auditor

memiliki reputasi tinggi maka akan memberikan tingkat kepercayaan yang lebih
besar terhadap kebenaran informasi dalam laporan keuangan. Pemakaian auditor
yang berkualitas akan diinterpretasikan oleh investor, bahwa emiten mempunyai
informasi yang tidak menyesatkan mengenai prospeknya dimasa mendatang.
Auditor yang bereputasi tinggi mempunyai komitmen yang lebih besar dalam
mempertahankan kualitas auditnya sehingga laporan perusahaan yang telah
diperiksa oleh auditor bereputasi tinggi akan memnerikan keyakinan yang lebih
besar kepada investor akan kualitas informasi yang disajikan (Prastica, 2012)
Maka dalam hal ini dikembangkan hipotesis sebagai berikut:
H5: Reputasi Auditor berpengaruh negatif terhadap tingkat underpricing
1.6.7

Hipotesis Pemikiran
Berdasarkan kerangka pemikiran yang diuraikan diatas, maka peniliti

mengambil hipotesis sebagai berikut:

ROE
DER
EPS
Reputasi
Underwriter
Reputasi
Auditor

Underpricing

17

Gambar 1.1
Kerangka Pemikiran
1. H1: Return On Equity (ROE) berpengaruh negatif

terhadap

tingkat underpricing.
2. H2: Debt to Equity Ratio (DER) berpengaruh positif terhadap
tingkat underpricing
3. H3: Earning Per Share (EPS) berpengaruh negatif terhadap
tingkat underpricing.
4. H4: Reputasi Underwriter berpengaruh negatif terhadap tingkat
underpricing.
5. H5: Reputasi Auditor berpengaruh negatif terhadap tingkat
6.

underpricing.
H6: Return on Equity (ROE), Debt to Equity Ratio (DER), Earning Per
Share (EPS), Reputasi Underwriter, Reputasi Auditor berpengaruh secara

simultan terhadap tingkat underpricing.


1.7 Metode Penelitian
Metode yang dilakukan peneliti merupakan peneletian explanatory,
penelitian explanatory adalah suatu fenomena yang terjadi secara empiris dan
berusaha untuk mendapatkan kejelasan fenomena yang terjadi secara empiris dan
berusaha untuk mendapatkan jawaban hubungan kausal antar variabel melalui
pengujian hipotesis. Adapun explanatory sebagai berikut:
Menurut Sugiyono (2011:10), bahwa:
Penelitian explanatory adalah suatu
metode penelitian yang
bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubungan
kausal antara variabel satu dengan yang lain melalui pengujian hipotesis.
Sedangkan metode survey menurut Hermawan (2009:20) adalah:

18

Penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara variabel-variabel


melalui pengujian hipotesis.

Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa metode


penelitian explanatory, analisis dengan pendekatan survey adalah suatu prosedur
penelitian yang dilakukan dengan cara mengumpulkan, menyusun, menganalisa
dan menginterpretasikan data sehingga dapat memberikan gambaran keadaan
yang terjadi secara nyata untuk kemudian ditarik kesimpulan yang dapat dijadikan
dasar untuk memberikan sasaran.

DAFTAR PUSTAKA
Referensi :
Jurnal dan Skripsi:
Beatty, Randolph P, 1989, Auditor Reputatiom and The Pricing of
Initial Public Offering. Journal of Financial Economic, Vol.15.
Booth, James R. et. all (2010). Choice of Underwriters in Initial
Public Offerings. Journal of Business and Policy Research, Vol. 5 No. 2,
December:131-158
Cahyanda, Andina Dwi (2013).Pengaruh Informasi Akuntansi Dan
Non Akuntansi Terhadap Underpricing Saham. Artikel Dipublikasikan.
Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Padang: Padang.
Hasanah dan Dinnul Alfian Akbar (2014). Analisis Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Tingkat Underpricing Saham Perdana di Bursa Efek
Indonesia. Jurnal Manajemen, Hal. 1-10.
Hermawan, Asep. (2009). Penelitian Bisnis. Jakarta: PT.Grasindo.

19

Indriyanti, Isti dkk (2013).Pengaruh DER, ROI, Current Ratio, Dan


Rata-Rata Kurs Terhadap Underpricing Initial Public Offering. Jurnal Riset
Manajemen Sains Indonesia, Vol. 4, No. 2.
Junaeni, Irawati dan Rendi Agustian (2013). Analisis Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Tingkat Underpricing Saham Pada Perusahaan Yang
Melakukan Initial Public Offering Di BEI. Jurnal Ilmiah WIDYA, Vol. 1, No. 1,
Mei-Juni:52-59.
Johnson, 2011, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Underpricing, Jurnal Manajemen dan Bisnis, Vol. 1, Hal. 2.
Martalena, dan Malinda. 2011. Pengantar Pasar Modal. Edisi
Pertama. Yogyakarta : Andi.
Mukhlis, M. Zainul

(2011).

Pengaruh

Underpricing

Pada

Penawaran Saham Perdana di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Ekonomi, Vol. 1,


No. 1, Agustus: 1-10.
Prastica, Y., 2012, Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tingkat
Underpricing Pada Saat Penawaran Umum Saham Perdana, Jurnal Ilmiah
Mahasiswa Akuntansi, Vol. 1, No. 2, Maret: 99-105.
Purwanto, dkk (2015). Pengaruh Struktur Corporate Governance
Terhadap Initial Public Offering (IPO) Underpricing Di Indonesia. Ekonomi
Bisnis Dan Kewirausahaan, Vol.IV No.1, Januari: 86-114.
Razafindrambinina, Dominique and Tiffany Kwan (2013). The
Influence of Underwiter and Auditor Reputations on IPO Underpricing.
European Journal of Business and Management, Vol. 5, No. 2.
Retnowati, Eka (2013). Penyebab Underpricing Pada Penawaran
Saham Perdana Di Indonesia. Accounting Analysis Journal, Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri: Semarang.
Risqi, Indtia Azisia dan Puji Harto. 2013. Analisis Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi Underpricing Ketika Initial Public Offering (IPO) Di

20

Bursa Efek Indonesia. Diponegoro Journal Of Accounting. Vol. 2, No. 3 Hal 17.
Rosyanti, dan Arifin Sabeni (2002). Analisis Faktor-Faktor Yang
Mempengaruhi Underpricing Saham Pada Perusahaan Go Public di Bursa
Efek

Jakarta

Tahun

1997-2000.

V:Semarang.pp.286-297.
Sasongko, Bangkit (2014).

Simposium
Analisis

Nasional

Akuntansi

Pengaruh Tata Kelola

Perusahaan Terhadap Tingkat Underpricing Penawaran Perdana Saham


(Studi Empiris Terhadap Perusahaan Non Finansial di Bursa Efek
Indonesia). Skripsi Dipublikasikan, Fakultas Ekonimika dan Bisnis/Akuntansi
Universitas Diponegoro: Semarang.
Sugiyono (2011). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, Dan R
& D. Bandung: Alfabeta.
Wijayanto, Andhi (2010). Analisis Pengaruh ROA, EPS, Financial
Leverage, Proceed Terhadap Initial Return. Jurnal Dinamika Manaejemen,
Vol. 1, No.1, pp: 68-78.
Yolana, Chastina dan Dwi Martini (2005). Variabel-Variabel Yang
Mempengaruhi Fenomena Undepricing Pada Penawaran Saham Perdana di
BEJ Tahun 1994-2001. Simposium Nasional Akuntansi VIII: Solo. pp 538-553.
Yustisia, Natali dan Mailana Roza (2012). Faktor-Faktor Yang
Memengaruhi Tingkat Underpricing Saham Perdana Pada Perusahaan Non
Keuangan Go Public. Media Riset Akuntansi, Vol. 2 No. 2, Agustus:157-169.
Web Site:
www.ojk.go.id
www.e-bursa.com
www.idx.co.id
Dasar-Dasar Hukum Pasar Modal :
UU RI No.21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan.
UU RI No. 25 Tahun 2007 Tentang Penanaman Modal.