Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dampak kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi terutama di bidang kedokteran,
termasuk penemuan obat-obatan seperti antibiotika yang mampu mengobati berbagai penyakit
infeksi berhasil mengurangi angka kematian bayi dan anak dan mampu memperlambat kematian,
memperbaiki gizi dan sanitasi sehingga kualitas dan umur harapan hidup meningkat. Akibatnya
jumlah penduduk lanjut usia bertambah banyak dan cenderung berlangsung lebih cepat dan pesat
(Nugroho, 2008 dalam Wijiat , 2009).
Pada saat ini jumlah penduduk lanjut usia di seluruh dunia diperkirakan lebih dari 629
juta jiwa dan pada tahun 2025 diperkirakan akan mencapai 1,2 milyar. Berdasarkan sensus di
Indonesia sejak tahun 1971 diketahui penduduk lanjut usia mencapai 5,3 juta jiwa (4,5%), tahun
1980 meningkat menjadi 8 juta jiwa (5,5%), tahun 1990 meningkat menjadi 11,3 juta jiwa
(6,4%), tahun 2005 meningkat menjadi 18,3 juta jiwa (8,5%) dan tahun berikutnya lagi menjadi
19,3% juta jiwa (9%). Tahun 2020-2025 diperkirakan jumlah penduduk lanjut usia Indonesia
menempati peringkat ke empat setelah RRC, India dan Amerika Serikat (Nugroho, 2008 dalam
Wijiat, 2009).
Proses penuaan yang terjadi secara alami pada kehidupan manusia tidak hanya
menyebabkan penurunan fungsi tubuh, tetapi juga berdampak pada aspek mental dan sosialnya.
Pada usia lanjut akan timbul masalah seperti meningkatnya prevalensi penyakit degeneratif dan
kardiovaskuler, gangguan mental serta masalah yang menyangkut sosial. Berdasarkan pola

penyakit rawat jalan di Puskesmas tahun 2006, penyakit pada sistem otot dan jaringan pengikat
(penyakit tulang, radang sendi termasuk reumatik) dan penyakit tekanan darah tinggi merupakan
penyakit yang banyak diderita pada kelompok usia lebih dari 60 tahun (Badan Informasi Daerah,
2007 dalam Wijiat, 2009).
Dalam Undang-Undang No.23 tahun 1992 tentang Kesehatan pada pasal 19, bahwa
kesehatan manusia usia lanjut diarahkan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan dan
kemampuannya agar tetap produktif, serta pemerintah membantu penyelenggaraan upaya
kesehatan usia lanjut untuk meningkatkan kualitas hidupnya secara optimal. Oleh karena itu,
berbagai upaya dilaksanakan untuk mewujudkan masa tua yang sehat, bahagia, berdaya guna dan
produktif untuk usia lanjut. Diantaranya dengan meningkatkan cakupan, keterjangkauan dan
mutu pelayanan kesehatan, khususnya untuk penduduk usia lanjut. Posbindu lansia merupakan
bentuk peran serta masyarakat lansia dalam upaya dibidang kesehatan untuk mencapai derajat
kesehatan yang optimal serta kondisi menua yang sehat dan mandiri. Hal ini menunjukkan
adanya kebutuhan masyarakat khususnya para usia lanjut terhadap pelayanan kesehatan yang
terjangkau, berkelanjutan dan bermutu. Adapun kegiatan para lansia untuk meningkatkan
kesejahteraan usia lanjut melalui kelompok usila yang mandiri (Badan Informasi Daerah, 2007
dalam Wijiat, 2009).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah diatas maka ruusan masalah dalam makalah ini adalah belum
diketahuinya konsep Pos Pembinaan Terpadu (POSBINDU).

C. Tujuan Penulisan Makalah

Tujuan penyusunan makalah ini adalah agar mendapatkan informasi dan pemahaman
mengenai konsep Pos Pembinaan Terpadu (POSBINDU).

D. Metode
Metode yang kami gunakan dalam penulisan makalah ini diantaranya melalui media
literatur perpustakaan dan elektronik.
E. Sistematika
Secara umum makalah ini terbagi menjadi tiga bagian diantaranya; BAB I tentang
Pendahuluan, BAB II yang berisi Pembahasan dan BAB III tentang penutup.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Definisi Posbindu
Posbindu lansia adalah suatu forum komunikasi alih teknologi dan pelayanan bimbingan
kesehatan masyarakat oleh dan untuk masyarakat yang mempunyai nilai strategis dalam
mengembangkan sumberdaya manusia sejak dini (Effendy, 2001 dalam Rahayu, 2012).
Posbindu menurut Depkes RI (2002) dalam Handayani (2008) adalah pusat bimbingan
pelayanan kesehatan yang dikelola dan diselenggarakan untuk dan oleh masyarakat dengan
dukungan teknis dari petugas kesehatan dalam rangka pencapai masyarakat yang sehat dan
sejahtera
Posbindu adalah suatu bentuk keterpaduan pelayanan kesehatan terhadap Lansiadi tingkat
desa dalam masing-masing di wilayah kerja Puskesmas ( Departemen Kesehatan RI ,2005 dalam
Rahayu, 2012).
Posbindu juga merupakan wdah kegiatan berbasis masyarakat untuk bersama-sama
masyarakat menghimpun seluruh kekuatan dan kemampuan masyarakat untuk melaksanakan,
memberikan serta memperoleh informasi dan pelayanan sesuai kebutuhan dalam upaya
peningkatan status gizi masyarakat secara umum (Rahayu, 2012).

B. Tujuan Pokok Posbindu


Tujuan pokok dari pelayanan Posbindu adalah :
1. Memperlambat angka kematian kelompok masyarakat lansia
2. Meningkatkan pelayanan kesehatan kelompok masyarakat lansia
3. Meningkatkan kemampuan kelompok masyarakat lansia untuk mengembangkan kegiatan
kesehatan dari kegiatan-kegiatan lain yang menunjang kemampuan hidup sehat.
4. Pendekatan dan pemerataan pelayan kesehatan pada kelompok masyarakat lansia dalam usa
meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan pada penduduk berdasarkan letak geografis.
5. Meningkatkan pembinaan dan bimbingan peran serta kelompok masyarakat lansia dalam rangka
alih teknologi untuk swakelola usaha-usaha kesehatan masyarakat (Effendy, 1998 dalam Rahayu,
2012).
Ketaatan lansia untuk menggunakan sarana kesehatan atau mengikuti program kesehatan
dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : pengetahuan, sikap, persepsi, perilaku dalam bentuk
praktik yang sudah nyata berupa perbuatan terhadap situasi atau rangsangan dari luar
(kepercayaan) dan keterjangkauan sarana pelayanan kesehatan. Secara umum perilaku kesehatan
seseorang mencakup perilaku terhadap sakit dan penyakit, perilaku terhadap sistem pelayanan
kesehatan, maupun perilaku terhadap program kesehatan. Faktor lain yang mempengruhi
perilaku ketaatan seseorang pada kesehatan adalah sebagai berikut :
1. kebutuhan,
2. jumlah, dan
3. struktur keluarga, faktor sosial budaya, etnik, jenis kelamin, pendidikan, pendapatan, harga/biaya
pelayanan, jarak, persepsi terhadap sarana kesehatan, dan kekuatan pengambilan keputusan
(Notoatmodjo, 2003).

C. Sasaran Posbindu
Sasaran Posbindu dapat dibagi menjadi dua kelompok, Yaitu :
1. Sasaran langsung meliputi kelompok virilitas/pra senilis adalah usia 45-59 tahun dan kelompok
Lansia yaitu berusia 60-69 tahun dan kelompok Lansia resiko tinggi yaitu usia lebih dari 70
tahun.
4. Sasaran kelompok tidak langsung adalah, keluarga yang mempunyai Lansia, masyarakat di
lingkungan Lansia berada, organisasi sosial yang bergerak dalam pembinaan Lansia, petugas
kesehatan usialanjut, dan masyarakat luas (Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut Bagi
Kesehatan, 2001 dalam Handayani, 2008).

D. Manfaat Posbindu
Posbindu ini merupakan bentuk pendekatan pelayanan proaktif bagi usia lanjut untuk
mendukung peningkatan kualitas hidup dan kemandirian usia lanjut, yang mengutamakan aspek
promotif dan preventif, di samping aspek kuratif dan rehabilitatif. Posbindu mempunyai manfaat
sebagai berikut :
a) Memberikan semangat hidup kepada usia lanjut,
b) Memberikan kemudahan dalam pelayanan kepada usia lanjut,
c) Memberikan keringanan biaya pelayanan kesehatan bagi usia lanjut dari keluarga miskin atau
tidak mampu,
d) Memberikan dukungan atau bimbingan pada usia lanjut dalam memelihara dan meningkatkan
kesehatannya agar tetap sehat dan mandiri (Depkes, 2007 dalam Handayani, 2008).

E. Proses Pembentukan Posbindu

Pada prinsipnya pembentukan Posbindu didasarkan atas kebutuhan masyarakat usia


lanjut. Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam pembentukan posbindu dimasyarakat
sesuai dengan kondisi dan situasi masing-masing daerah,misalnya mengembangkan kelompokkelompok yang sudah ada seperti kelompok pengajian, kelompok jemaat gereja, kelompok arisan
usia lanjut dan lain-lain. Pembentukan Posbindu dapat pula menggunakan pendekatan
Pembangunan Kesehatan Masyarakat Desa (PKMD) (Depkes, 2007 dalam Hidayanti, 2008).
Posbindu merupakan suatu wadah kelompok usia lanjut di masyarakat dimana dalam
proses pembentukannya dilakukan oleh masyarakat bekerjasama dengan lembaga sosial,
pemerintah (PKM, desa) swasta sebagai wujud peran serta masyarakat dalam pembangunan
kesehatan yang menitik beratkan pada upaya peningkatan dan pencegahan (kuratif dan
rehabilitatif) terhadap masalah-masalah kesehatan lansia (Sumiasih, 2010).
Pendekatan PKM merupakan suatu pendekatan yang sudah umum dilaksanakan dan
merupkan pendekatan pilihan yang dianjurkan untuk pembentukan Posbindu baru. Langkahlangkahnya meliputi:
1.

Pertemuan tingkat desa

2.

Survey mawas diri

3.

Musyawarah Masyarakat Desa

4.

Pelatihan kader

5.

Pelaksanaan upaya kesehatan oleh masyarakat

6.

Pembinaan dan pelestarian kegiatan (Depkes, 2007 dalam Itachi, 2013).

F. Bentuk Pelayanan Kesehatan Di Posbindu

Pelayanan kesehatan di Posbindu meliputi pemeriksaan kesehatan fisik dan mental


emosional. Kartu Menuju Sehat (KMS) Usia Lanjut sebagai alat pencatat dan pemantau untuk
mengetahui lebih awal penyakit yang diderita (deteksi dini) atau ancaman masalah kesehatan
yang dihadapi dan mencatat perkembangannya dalam Buku Pedoman Pemeliharaan Kesehatan
(BPPK) Usia Lanjut atau catatan kondisi kesehatan yang lazim digunakan di Puskesmas. Jenis
pelayanan kesehatan yang dapat diberikan kepada usia lanjut dikelompok sebagai berikut:
a) Pemeriksaan aktivitas kegiatan sehari-hari (activity of daily living) melipui kegiatan dasar dalam
kehidupan seperti makan/minum, berjalan, mandi, berpakaian, naik turun tempat tidur, buang air
besar/kecil dan sebagainya.
b) Pemeriksaan status mental. Pemeriksaan ini berhubungan dengan mental emosional dengan
menggunakan pedoman 2 menit.
c) Pemeriksaan status gizi melalui penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan dan
dicatat pada grafik Indeks Masa Tubuh (IMT),
d) Pengukuran tekanan darah dengan tensimeter dan stetoskop serta penghitungan denyut nadi
selama 1 menit.
e) Pemeriksaan hemoglobin menggunakan Talquist atau Sahli,
f) Pemeriksaan adanya gula dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit gula (diabetes
mellitus),
g) Pemeriksaan adanya protein dalam air seni sebagai deteksi awal adanya penyakit ginjal,
h) Pelaksanaan rujukan ke Puskesmas bilamana ada keluhan dan atau ditemukan kelainan,
i) Penyuluhan bisa dilakukan di dalam maupun di luar kelompok dalam rangka kunjungan rumah
dan konseling kesehatan dan gizi sesuai dengan masalah kesehatan yang dihadapi oleh individu
j)

dan atau kelompok usia lanjut;


Kunjungan rumah oleh kader disertai petugas bagi anggota kelompok usia lanjut yang tidak

datang, dalam rangka kegiatan perawatan kesehatan masyarakat (public health nursing),
k) Pemberian Pemberian Makanan Tambahan (PMT), penyuluhan contoh menu makanan dengan
memperhatikan aspek kesehatan dan gizi usia lanjut serta menggunakan bahan makanan yang
berasal dari daerah tersebut;

l)

Kegiatan olah raga seperti senam lansia, gerak jalan santai dan lain sebagainya untuk
meningkatkan kebugaran (Depkes, 2007 dalam Handayani, 2008).

G. Komponen Posbindu
Posbindu sebagai tempat sebagai pemberdayaan masyarakat, yang akan berjalan dengan
baik dan optimal apabila memenuhi beberapa komponen pokok, yaitu :
1. Proses Kepemimpinan
Kepemimpinan Posbindu merupakan kegiatan dari oleh dan untuk masyarakat. Untuk
pelaksanaanya memerlukan orang yang mampu mengurus dan memimpin penyelenggaraan
kegiatan tersebut sehingga kegiatan yang dilaksanakan mencapai hasil yang optimal. Pemimpin
Posbindu bisanya berasal dari anggota Posbindu itu sendiri.
2. Proses pengorganisasian
Ciri dari suatu proses pengorganisasian dapat dilihat dari adanya pembagian tugas,
penunjukan kader, jadwal kegiatan yang teratur dan sebagainya. Struktur organisasi Posbindu
sedikitnya terdiri dari Ketua, Sekretaris, Bendahara dan beberapa seksi dan kader
3. Anggota dan kader
Jumlah anggota kelompok Posbindu berkisar antara 50-100 orang. Perlu diperhatikan
juga jarak antara sasaran dengan lokasi kegiatan dalam penentuan jumlah anggota, sehingga
apabila terpaksa tidak tertutup kemungkinan anggota Posbindu kurang dari 50 orang atau lebih
dari 100 orang. Kader Jumlah kader di setiap kelompok tergantung pada jumlah anggota
kelompok, volume dan jenis kegiatannya, yaitu sedikitnya 3 orang.
4. Pendanaan
Pendanaan bisa bersumber dari anggota kelompok Posbindu, berupa iuran atau
sumbangan anggota atau sumber lain seperti donatur atau sumber lain yang tidak mengikat
(Depkes, 2007 dalam Handayani, 2008).

H. Sarana dan Prasarana

Untuk kelancaran pelaksanaan Posbindu, dibutuhkan sarana dan prasarana penunjang


antara lain:
a)
b)
c)
d)
e)

Tempat kegiatan (gedung, ruangan atau tempat terbuka)


Meja dan kursi
Alat tulis,
Buku pencatatan kegiatan (buku register buntu),
Kit usia lanjut yang berisi: Timbangan dewasa, meteran pengukur tinggi badan, stetoskop,

tensimeter, peralatan laboratorium sederhana termometer.


f) Kartu Menuju Sehat (KMS) usia lanjut (Depkes, 2007 dalam Handayani, 2008)..

I. Mekanisme Pelaksanaan Kegiatan


Untuk memberikan pelayanan kesehatan yang prima terhadap usia lanjut dikelompok,
mekanisme pelaksanaan kegiatan yang sebaiknya digunakan adalah sistem 5 tahapan atau 5 meja
sebagai berikut::
a. Tahap pertama : Pendaftaran, dilakukan sebelum pelaksanaan pelayanan
b. Tahap kedua: Pencatatan kegiatan sehari-hari yang dilakukan usila, serta penimbangan berat
badan dan pengukuran tinggi badan.
c. Tahap ketiga: Pengukuran tekanan darah, pemeriksaan kesehatan dan pemeriksaan status mental.
d. Tahap keempat: Pemeriksaan air seni dan kadar darah (laboratorium sederhana).
e. Tahap Kelima: Pemberian penyuluhan dan konseling (Depkes, 2007 dalam Handayani, 2008).

J. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam upaya pembinaan Lansia melalui kegiatan pelayanan
kesehatan di Posbindu dilakukan dengan menggunakan data pencatatan dan pelaporan,
pengamatan khusus dan penilitian, dengan menggunakan patokan yaitu :

a.

Meningkatnya jumlah organisasi masyarakat kelompok usia lanjut yang berperan serta secara

aktif dalam pelayanan kesehatan usia lanjut.


b. berkembangnya jenis pelayanan kesehatan usia lanjut di masyarakat.
c. meningkatnya jangkauan pelayanan kesehatan usia lanjut yang dilaksanakan oleh 50%
puskesmas dan menjangkau 100% panti werda.
d. menurunnya angka kesakitan akibat penyakit degeneratif, dengan jangkauan pelayanan yang
mencakup 40% usia lanjut (Depkes, 2007 dalam Handayani, 2008).

K. Rekrutmen Dan Pelatihan Kader Posbindu


Kader sebaiknya berasal dari anggota kelompok Posbindu sendiri atau dapat saja diambil
dari anggota masyarakat lainnya yang bersedia menjadi kader. Adapun persyaratan untuk
menjadi kader Posbindu adalah:
1. Dipilih dari masyarakat dengan prosedur yang disesuaikan dengan kondisi setempat;
2. Mau dan mampu bekerja secara sukarela;
3. Bisa membaca dan menulis huruf latin;
4. Sabar dan memahamil usia lanjut (Depkes, 2007 dalam Itachi, 2013).
Setelah melakukan Musyawarah Masyarakat Desa dan Musyawarah di tingkat RW, maka
panitia mengumumkan secara terbuka tentang rekrutmen kader Posbindu sesuai dengan
persyaratan di atas. Jika sampai pada waktu yang ditetapkan masih sedikit, maka panitia bersama
pengurus RW melakukan musyawarah kembali untuk menentukan kader Posbindu berdasarkan
pertimbangan tokoh masyarakat setempat (Depkes, 2007 dalam Itachi, 2013).
Setelah rekrutmen kader Posbindu selesai, maka dilanjutkan dengan penyelenggaraan
pelatihan kader Posbindu dengan materi pelatihan meliputi:
1.

Pengelolaan dan Pengorganisasian Posbindu

2.

Surveilans hipertensi (survey mawas diri)

3.

Prosedur deteksi dini hipertensi dan komplikasinya

4.

Penatalaksanaan hipertensi dan komplikasinya

5.

Pencegahan hipertensi

6.

Pertolongan pertama kedaruratan penyakit kardiovaskuler dan serebrovaskuler.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dasar pembentukan Posbindu yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
terutama lansia. Tujuan diadakannya Posbindu adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan dan
mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia dan berguna dalam kehidupan keluarga
dan masyarakat sesuai dengan eksistensinya dalam strata kemasyarakatan. Jadi dengan adanya
Posbindu diharapkan adanya kesadaran dari usia lanjut untuk membina kesehatannya serta
meningkatkan peran serta masyarakat termasuk keluarganya dalam mengatasi kesehatan usia
lanjut. Fungsi dan tugas pokok Posbindu yaitu membina lansia supaya tetap bisa beraktivitas,
namun sesuai kondisi usianya agar tetap sehat, produktif dan mandiri selama mungkin serta
melakukanupaya rujukan bagi yang membutuhkan.

B. Saran
Setelah menyusun makalah ini maka kami selaku penulis menyarankan kepada pembaca
agar senangtiasa membimbing dan mengajak lansia agar rutin mengikuti kegiatan posbindu
mengingat manfaat dari program dan kegiatan yang dilakukan posbindu sangat penting untuk
meningkatkan derajat kesehatan dan mutu kehidupan untuk mencapai masa tua yang bahagia dan
berguna dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sesuai dengan eksistensinya dalam strata
kemasyarakatan.

Selain itu, Pemahaman dan keahlian dalam aplikasi Pos Pembinaan Terpadu
(POSBINDU) merupakan salah satu cabang ilmu keperawatan yang harus dimiliki oleh tenaga
kesehatan khususnya perawat agar dapat mengaplikasikannya serta berinovasi dalam pemberian
asuhan keperawatan pada pasien. Ini akan mendukung profesionalisme dalam wewenang dan
tanggung jawab perawat sebagai bagian dari tenaga medis yang memberikan pelayanan Asuhan
Keperawatan secara komprehensif.

DAFTAR PUSTAKA

Handayani, Eka. 2008. Hubungan Antara Pengetahuan Lansia Tentang Posbindu Dengan
Motivasi
Pada Lansia Berkunjung Ke Posbindu Di Wilayah RW 03 Kelurahan Utama Kecamatan Cimahi
Selatan. Skripsi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia. Sumber : http://Lontar.ui.ac.id.
Diakses Tanggal 3 April 2013.

Itachi, Uciha. 2013. Posbindu. Sumber : http://macrofag.blogspot.com. Diakses Tanggal 3 April


2013.

Notoadmodjo, Soekidjo. 2003, Prinsip-prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta:


Rineka
Cipta

Rahayu, Y.,P., 2012. Posbindu Lansia. Sumber : http://duniapintardancemerlang.blogspot.com.


Diakses Tanggal 3 April 2013.

Sumiasih, Dkk. 2010. Pengetahuan Kader Tentang Proses Menua Dengan Keaktifan Kader
Pada
Pelaksanaan Posbindu Di Kelurah Sendangmulyo Kecamatan Tembalang Semarang.
Jurnal Kesehatan, Vol 6 no 1 Th 2010.: Fakultas Ilmu Keperawatan dan Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Semarang. Sumber : http://jurnal.unimus.ac.id. Diakses Tanggal 3 April
2013.

Wijiat, Siti. 2009. Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Lansia Dengan Perilaku Mengikuti
Posbindu
Lansia Di Karanganyar Gunung Candi Lama Semarang. Skripsi Fakultas Ilmu
Kesehatan Universitas Muhamadiyah Semarang. Sumber: http://digilib.unimus.ac.id. Diakses
Tanggal 3 April 2013.