Anda di halaman 1dari 36

Referensi Artikel

COPING STRATEGI DALAM MENGATASI KENALAN ANAK DAN REMAJA

Oleh :
Yohanes Cakrapradipta

G99142100

Dea Fiesta

G99142102

Nur Hidayah

G99142111

Arga Scorpianus

G99142112

Niluh Ayu

G99161066

Prima Canina

G99161076

Rr. Miranda Mutia

G99161086

Pembimbing :
Istar Yuliadi, dr., M.Si, FIAS

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU JIWA


SMF JIWA FK UNS/ RSUD DR.MOEWARDI
SURAKARTA
2016
0

KATA PENGANTAR
Puji syukur senantiasa penulis panjatkan kepada Allah SWT. yang telah
melimpahkan rahmat dan karunia sehingga penulis dapat menyelesaikan refrat yang
berjudul : Coping Strategi dalam Mengatasi Kenakalan Anak dan Remaja. Penulis
menyadari bahwa penulisan dan penyusunan referensi artikel ini tidak lepas dari bantuan
berbagai pihak, baik berupa bimbingan dan nasihat, oleh karena itu penulis mengucapkan
terima kasih kepada :
1. Prof. Em. Ibrahim Nuhriawangsa, dr., Sp.KJ (K)
2. Prof. Dr. Much. Syamsulhadi, dr., Sp.KJ (K)
3. Prof. Dr. Aris Sudiyanto, dr., Sp.KJ (K)
4. Prof. Dr. Moh. Fanani, dr., Sp.KJ (K)
5. Mardiatmi Susilohati, dr., Sp.KJ (K)
6. Yusvick M. Hadin, dr., Sp.KJ
7. Djoko Suwito, dr., SP.KJ
8. I.G.B. Indro Nugroho dr., Sp.KJ
9. Gst. Ayu Maharatih, dr., Sp.KJ
10. Makhmuroch, dr., Dra., MS
11. Debree Septiawan, dr., Sp.KJ, M.Kes
12. Istar Yuliardi, dr., M.Si
13. Rohmaningtyas HS, dr., Sp.KJ, M.Kes
Penulis menyadari bahwa referensi artikel ini masih belum sempurna, oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak untuk perbaikan refrat
ini. Semoga refrat ini bermanfaat bagi kita semua.
September 2016
Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar......................................................................................................... 1
Daftar Isi.................................................................................................................. 2
BAB I : Pendahuluan............................................................................................. 3
BAB II : Pembahasan.............................................................................................. 6
A. Anak, Remaja, dan Perkembangannya................................................. 6
B. Kenakalan Anak dan Remaja................................................................ 16
C. Coping..................................................................................................

22

D. Coping pada Remaja Nakal.................................................................... 30


D. Strategi Coping dalam Mengatasi Kenakalan Anak dan Remaja ......... 31
BAB III : Penutup.................................................................................................. 59
Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Setiap manusia pasti mempunyai masalah dari hal yang kecil sampai
hal yang besar. Semuanya tergantung akan indvidu yang menjalani. Ada
berbagai metode dalam menyelesaikan, menghadapi, menghindari, ataupun
meminimalisir suatu masalah, akan tetapi tidak jarang kita menemui
seseorang yang takut menghadapi suatu permasalahan dan tidak mencari jalan
keluar yang bijak (Destyarini, 2013).
Strategi coping adalah suatu cara yang dilakukan individu untuk
menghadapi dan mengantisipasi situasi dan kondisi yang bersifat menekan
atau mengancam baik fisik maupun psikis sedangkan Nursalam (2007) dalam
Destyarini (2013) menjelaskan strategi coping merupakan suatu cara yang
digunakan individu secara sadar dan terarah dalam mengatasi sakit atau
stressor yang sedang dihadapinya. Jika seorang indivdu salah atau kurang
tepat dalam mengcoping suatu permasalahan, maka hasilnyapun akan kurang
memuaskan, bahkan dapat menimbulkan gangguan dalam pikiran dan
kejiwaannya, seperti depresi, stres dan gila.
Remaja merupakan periode seseorang bertransformasi dari anakanak menuju dewasa. Periode ini dianggap sebagai masa penting karena
memiliki dampak langsung dan dampak jangka panjang dari apa yang terjadi
pada masa remaja ini. Pada periode ini, terjadi perubahan biologis, kognitif
dan sosio-emosional yang dialami remaja mulai dari perkembangan fungsi
seksual hingga proses berpikir abstrak dan kemandirian (Mursafitri dkk,
2015).
Tindakan atau perbuatan pelanggaran norma, baik norma hukum
maupun norma sosial, yang dilakukan oleh anak di usia muda, memang tidak
dikatakan sebagai sebuah kejahatan anak, karena penyebutan kejahatan anak
akan terlalu ekstrim bagi seorang anak yang melakukan tindak pidana
dikatakan sebagai penjahat. Sementara kejadiannya adalah proses alami yang
3

tidak boleh tidak setiap manusia pernah mengalami fase kegoncangan semasa
menjelang kedewasaannya. Dari sisi hukum, berdasarkan Pasal 1 Butir 2
Undang-Undang

Nomor

Tahun

1997

tentang

Pengadilan Anak,

mengkualifikasikan kenakalan anak (anak nakal) sebagai anak yang


melakukan tindak pidana dan anak yang melakukan perbuatan yang terlarang
bagi anak, baik menurut peraturan perundang-undangan maupun menurut
peraturan hukum lain yang hidup dan berlaku dalam masyarakat yang
bersangkutan (Sarwirini, 2011).
Kartono (2013) dalam Mursafitri dkk (2015) menyebutkan bahwa
kenakalan remaja (juvenile delinquency) merupakan gejala patologis sosial
pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial, akibatnya
remaja mengembangkan perilaku yang menyimpang. Kenakalan remaja
dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu keluyuran, membolos sekolah, berkelahi
dengan teman sebaya, membaca, melihat dan menonton buku porno, kebutkebutan, minum-minuman keras, berhubungan seks di luar nikah, aborsi,
memerkosa, berjudi, menyalahgunakan narkoba dan lain sebagainya
(Mubarak, 2009 dalam dalam Mursafitri dkk, 2015).
Masa remaja sering dikenal dengan istilah masa pemberontakan.
Pada masa-masa ini, seorang anak yang baru mengalami pubertas seringkali
menampilkan beragam gejolak emosi, menarik diri dari keluarga, serta
mengalami banyak masalah, baik di rumah, sekolah, atau di lingkungan
rumah maupun di lingkungan pertemanannya. Kenakalan remaja pada saat
ini, seperti yang banyak diberitakan di berbagai media, sudah dikatakan
melebihi batas yang sewajarnya (Unayah dan Sabarisman, 2015). Oleh karena
itu, para anak remaja diharapkan dapat menggunakan teknik coping yang
tepat untuk menghadapi era masa kini agar terhindar dari perilaku-perilaku
menyimpang.

B. Tujuan
1. Mengetahui tahapan perkembangan anak dan remaja.
2. Mengetahui pengertian dan macam-macam strategi coping pada anak dan
remaja
3. Mengetahui cara-cara menangani kenakalan pada anak dan remaja dengan
strategi coping
C. Manfaat
1. Bagi mahasiswa
Dapat memperkaya informasi dan pengetahuan pentingnya
mekanisme coping dalam mengatasi kenalan pada anak dan remaja
sehingga dapat menjadi ancuan untuk memberikan pelayanan kesehatan
masyarakat terutama konseling masalah anak dan remaja pada saat praktik
di lapangan.
2. Bagi instusi
Dapat mengukur pengetahuan dan pengalaman mahasiswa dalam
menyusun suatu makalah dengan mengmbil dari berbagai literatur serta
dijadikan sebagai refrensi pengetahuan tambahan yang diharapkan dapat
dikembangkan di kemudian hari.
D. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah proses perkembangan anak dan remaja ?
2. Apakah pengertian dan macam-macam strategi coping ada anak dan
remaja ?
3. Bagaimanakan cara menangani kenakalan pada anak dan remaja dengans
strategi coping ?

BAB II
PEMBAHASAN

A. ANAK, REMAJA, DAN PERKEMBANGANNYA


1.

Psikiatri Anak
Anak bukan orang dewasa ukuran mini. Perbedaan mendasar yakni
anak bersifat egosentris, segala sesuatu ditinjau anak berdasarkan
kepentingan diri. Apparatus seksual anak belum lagi terbentuk dengan
sempurna,

sehingga

peristiwa

yang

bersifat

seksual

akan

diinterpretasikan anak sebagai sesuatu yang bersifat pregenital. Sebelum


berusia 7 tahun, anak belum lagi berfikir berdasarkan sebab akibat.
Bahkan pada bayi belum lagi dapat membedakan antara dirinya dengan
hal-hal yang berasal dari luar dirinya. Anak belum lagi mempunyai
konsep mengenai waktu, tingkah laku anak terutama dipengaruhi
dorongan instinktual. Dalam hal ini manakah yang lebih dominan, bila id
yang lebih dominan, berarti waktu bagi anak ditentukan oleh
terpenuhinya dengan segera kepuasannya (dipenuhi tuntutan dari
dorongan instinktual). Persaman psikiatri anak dan dewasa diantaranya :
a. Tujuan umum sama
Psikiatri anak berusaha untuk mengerti tingkah laku dan etiologinya,
menyusun rencana terapi untuk menghilangkan, menurunkan atau
mengendalikan berbagai kekuatan negatif dan menggunakan secara
optimal kekuatan-kekuatan positif yang terdapat pada diri pasien serta
lingkungan.
b. Bidang-bidang pemeriksaan sama
Meneliti riwayat problem tingkah laku: medik, sosial dan data
psikologik yang bermakna, yang dapat menerangkan perkembangan
kelainan/problema tingkah laku tersebut.
c. Garis besar proses diagnostiknya sama
mengumpulkan, mengintegrasikan dan mengevaluasi data penderita
yang selanjutnya membentuk formulasi diagnosa dan menyusun
rencana terapi.
Perbedaan antara psikiatri anak dan dewasa :

a. Anak belum sanggup menyatakan persoalan atau gangguan yang


dideritanya dan belum sanggup memberikan informasi yang terarah
dan berguna sehubungan dengan masa lalunya.
b. Anak menyatakan kesulitan emosionalnya melalui tingkah laku. Pada
anak yang masih kecil dapat berupa kesukaran dalam memberikan
makanan, tidur atau pembuangan kotoran. Pada anak yang lebih besar
dapat berupa dalam bentuk gangguan tingkah laku, emosional atau
berupa sistem somatik.
c. Kepribadian anak masih sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan,
adanya

perubahan

dalam

keluarga

atau

lingkungan

akan

mengakibatkan anak mengalami perubahan yang lebih besar lagi


dalam dirinya.
d. Anak menyatakan perasaan dan fantasinya melalui permainan atau
dengan bermain-main. Terutama pada anak yg masih kecil, yang
belum dapat menyatakan kesulitannya secara verbal.
e. Pengobatan yang diberikan pada anak, bila simtom yang diperoleh
berasal dari lingkungan, atau keluarga, maka anggota keluarga yang
terlibat sebaiknya diikutsertakan dalam pengobatan, jadi berupa terapi
keluarga atau manipulasi lingkungan.
2.

Perkembangan Anak dan Remaja


Pengetahuan mengenai perkembangan anak merupakan hal yang
sentral dalam psikiatri anak. Tanpa pengetahuan mengenai hal ini
sesorang tidak mungkin bekerja dan menangani masalah-masalah anak.
Seorang bayi tumbuh dan berkembang hingga akhir menjadi manusia
dewasa. Perkembangan anak merupakan hasil interaksi antara nature
dan muture atau antara biologi(aspek fisik, genetik dan lingkungan)
dan lingkungan(psikoedukatif, sosiokultural). Walaupun secara teoritik
nature dan muture itu dapat dipisahkan, tetapi dalam kenyataannya
keduanya saling berada bersama, saling berinteraksi dan tumpang tindih.
Faktor lingkungan dapat mencetuskan atau merangsang berkembangnya
fungsi-fungsi tertentu, mengatur dan memberikan arah, percepatan dan
sebaliknya, menghambat perkembangan fungsi-fungsi itu. Di pihak lain,
7

sifat-sifat tertentu dari organisme itu sendiri dapat merangsang respon


lingkungan yang mendukung atau mengahambat, atau menimbulkan
reaksi-reaksi idiosinkratik dalam perkembangan fungsi-fungsinya. Proses
perkembangan merupakan proses yang kompleks. (Kaplan & Sadock,
2010)
a. Teori perkembangan
Teori perkembangan dapat dilihat dari beberapa sudut pandang,
diantaranya :
1) Teori perkembangan psikoseksual (Freud)
Teori ini menerangkan bagaimana libido yang tadinya
berbentuk diffuse dan tidak terdiferensiasi, berkembang
mencapai bentuknya yang dewasa yaitu seks genital; dari fase
pragenital mencapai fase genital primacy. Menurut teori ini
insting seksual dibawa individu sejak ia dilahirkan. Namun
manifestasinya tidak dalam bentuk seksualitas yang umunya
diartikan oleh orang dewasa (seks genital), melainkan dalam
bentuk pragenital. Insting seksual ini dianggap sebagai insting
apling penting diantara insting-insting manusia (insting vital,
insting agresi, insting kematian) karena ia berada di dalam tabu
umat manusia kedalam nirsadar sehingga ia cendering
direpresi, disangkal, dan karenanya sering menjadi sumber
konflik neurotik. Secara garis besar, perkembangan ini akan
melalui fase-fase sebgai berikut :
a) Fase oral
: 0 2 tahun
b) Fase anal-uretral : 2 4 tahun
c) Fase phallus
: 4 6 tahun
d) Fase laten
: 6 11 tahun
e) Fase genital
: 12 tahun remaja
2) Teori perkembangan psiko-sosial (Erik Erikson)
Teori ini menggunakan prinsip epigenetik dalam usaha
menerangkan perkembangan pribadi manusia, yaitu bahwa
semua yang berkembang mempunyai rencana ataupun pola
dasar yang sudah ada sebelumnya, dan dari rancangan dasar itu
akan berkembang berbagai fungsi menurut waktunya sendirisendiri sebagai hasil interaksi antara manusia dengan
8

lingkungannya, hingga mencapai suatu kesatuan fungsional


yang

menyeluruh.

Selagi

individu

melalui

proses

perkembangannya, ia akan mengahadapi dan mengalami titiktitik kritis, karena perkembangan itu menurut adanya
perubahan-perubahan dalam kualitas fungsi sesuai dengan
tuntutan dan kebutuhan perekembangan yang semakin
kompleks.
Seorang anak dalam perkembangan menghadapi konflik
dengan lingkungan. Anak berusaha mengatasi konflik, anak
dapat

berhasil

dan

dapat

gagal

dalam

setiap

fase

perkembangan. Bila anak berhasil mengatasi konflik tersebut,


anak akan lebih mudah dalam mengatasi konflik di fase
berikutnya. Fase-fase dalam perkembangan ini adalah sebagai
berikut :
a) Oral sensory stage : lahir-1- 1 1/2 tahun, basic trust vs
basic mistrust
b) Muscular anal stage : 2-3 tahun, autonomy vs shame
and doubt
c) Locomotor genital stage : 3-6 tahun initiative vs guilt
d) Stage of latency : 6-11 tahun, industry vs inferiority
e) Stage of puberty and adolescence: 11-18 tahun ego
identity vs role confusion.
f) Stage of young adulthood :18-30 tahun, intimacy vs
isolation
g) Stage of adulthood : 30-45 tahun, generativity vs
stagnation
h) Stage of maturity : 45 thn keatas, Integrity vs despair.
3) Teori perkembangan psikokognitif (Jean Piaget)
Perkembangan intelegensia anak berdasarkan atas rangkaian
yang progresif dari suatu pola dimana dasarnya adalah proses
asimilasi dan proses akomodasi Ada 4 faktor utama menurut
Piaget, terjadinya perkembangan mental yaitu :
a) Adanya pertumbuhan dan maturasi organik dari
persyarafan dan sistem endokrin.

b) Pengaruh dan peranan dari latihan dan pengalaman


yang diperoleh dari tindakan-tindakan yg dilakukan
terhadap objek fisik
c) Adanya interaksi sosial dan transmisi sosial
d) Adanya daya upaya yang saling taut bertautan untuk
mempertahankan ekuilibrium.
Dalam setiap tingkatan perkembangan, persoalan dalam
pembentukan ekuilibrium, dimana konsep terdahulu akan
merupakan

dasar

dalam

pembentukan

kesanggupan

selanjutnya, dan akan berakumulasi dalam pikiran logis pada


saat

dewasa. Anak

berada

dalam

suatu

ekuilibrium

konseptual, dan bila ia memperoleh pengalaman yang tidak


sesuai dengan ekuilibrium yang dimilikinya, anak akan
berada dalam unpleasant state, yaitu suatu keadaan
disekuilibrium dan anak akan mengadakan perubahan dalam
kerangka konseptual yang dimilikinya, sehingga ia berada
dalam tingkatan yang lebih maju dalam menghadapi masalah
tersebut. Dan ini berarti anak kembali dalam state
equilibrium, dan berarti anak telah dapat menyesuaikan diri
terhadap persoalan tersebut. Perkembangan mental anak
bergerak dari suatu tingkatan/dataran/plateau ke tingkat yang
lebih tinggi, dan anak mengadakan perubahan terhadap
kerangka. Konseptual yg dimilikinya, dengan melakukan
proses akodasi dalam menghadapi masalah/pengalaman
dan kesulitan baru. Bila anak menerima persoalan atau
pengalaman, akan tetapi masih dalam tingkatan atau plateau
yg sama, maka anak melakukan proses asimilasi. Proses
perkembangan Psikokognitif dari Jean Piaget melalaui empat
peride sebagai berikut :
a) Periode sensori-motor : lahir 2 tahun
b) Periode pikiran pra - operasional, terdiri dari :
i. fase pra - operasional : 2-4 tahun
ii. fase intuitif : 4-7 tahun
c) Periode operasional konkrit : 7 - 12 tahun
10

d) Periode operasional abstrak atau operasional formal : 12 15 tahun


b. Perkembangan moral menurut Kohlberg
Secara sederhana, moralitas dapat diartikan sebagai kemampuan untuk
membedakan yang benar atau baik dan yang salah atau buruk. Namun
dalam kenyataan, tidaklah sesederhana itu karena konsep tersebut
mencakup tiga aspek kemampuan seseorang, yaitu : aspek kognitif,
aspek efektif, dan aspek perilaku. Kematangan moral akan tercapai
pada akhir masa remaja, dan seringkali proses maturasi masih
berlanjut sampai

usia dewasa. Panutan pada model

sangat

mempengaruhi, karena itu figur-figur percontohan dalam lingkup


keluarga dan masyarakat sangat penting dalam proses perkembangan
moral anak. Menurut kohlberg, perkembangan moral itu terjadi secara
gradual melalui 6 fase, menurut orientasi maralitas yang digunakan:
(Desmita, 2006)
1) Pra-Konvensional
a) Orientasi kepatuhan dan hukuman
b) Orientasi perhatian diri
2) Konvensional
a) Kesesuaian interpersonal
b) Otoritas dan mempertahankan perintah sosial
3) Post-Konvensional
a) Orientasi kontak sosial
b) Prinsip etik universal
c. Tahapan perkembangan anak hingga remaja
Tahap-tahap perkembangan anak: (Hurlock, E. B., 2005)
1. Masa Bayi 0-1,5 tahun
Tuntutan perkembangan : Mendapatkan rasa percaya diri dan rasa
aman.
Sarana
Ciri-ciri
Kebutuhan

: Proses penyusunan
: Tidak berdaya, ketergantungan.
: rasa kasih sayang secara konsisten dan

berkesinambungan.
Tercapai

: rasa aman dan kepercayaan terhadap

sesama manusia.
Gagal
:
a) Tidak percaya terhadap lingkungan
b) Pesimis terhadap masa yang akan datang
c) Ketergantungan yang kuat
11

d) Menuntut kekuatan secara pasif


e) Goyah terhadap perkembangan selanjutnya.
2. Masa Asuhan 1,5-3 tahun
Tuntutan perkembangan
: Mendapatkan rasa kemampuan diri
Sarana
:
a)Rasa percaya diri dan aman yang kuat
b)Belajar mengguanakan anggota badan atas kemauannya sendiri.
c)Menentang
d)Bandel
e)Egois
f)Sadis
g)Belum dapat berbagi
h)Senang main kotor
i)Mau mencoba semua
Kebutuhan :
a)Pujian
b)Penghargaan
c)Dukungan
d)Dorongan
e)Pengertian
Tercapai :
a)Kemandirian
b)Kepercayaan diri
Gagal
:
a)Rasa malu
b)Sikap ragu-ragu
c)Pengekangan diri secara berlebihan
d)Kekaburan antara cinta dan benci
3. Masa Prasekolah 3-6 tahun
Tuntutan perkembangan : Memperoleh rasa inisiatif
Sarana :
a)Rasa percaya diri dan aman
b)Rasa kemampuan diri
c)Ruang gerak yang meluas
d)Dinamika kehidupan keluarga
e)Proses belajar berperan
Ciri-ciri :
a)Ingin tahu
b)Banyak bertanya
c)Berkhayal
d)Aktif
e)Senang main bersama
f)Senang meniru
g)Iri atau cemburu terhadap jenis kelamin yang sama
Kebutuhan
:
a)Pengertian
12

b)persahabatan
c)Penerangan
Tercapai
:
a)Kemampuan bermasyarakat
b)Identifikasi seksual
c)Inisiatif
Gagal :
a)Rasa bersalah
b)Takut berbuat sesuatu
c)Takut mengemukakan sesuatu
4. Masa Sekolah 6-12 tahun
Tuntutan perkembangan : Memperoleh rasa mampu menyelesaikan
sesuatu dengan sempurna dan mampu menghasilkan sesuatu
Sarana :
a)Rasa percaya diri dan aman
b)Rasa kemampuan diri
c)Modal inisiatif
d)Lingkungan lebih luas (sekolah, dll)
Ciri-ciri :
a)Belajar
b)Bertanggung jawab
c)Berkarya
d)Bersahabat
e)Keadilan
f)Kejujuran
Kebutuhan
:
a)Contoh yang baik
b)Keadilan
c)Kejujuran
Tercapai
: Produktivitas
Gagal :
a)Rasa tidak mampu berprestasi/bersaing dalam masyarakat.
b)Rendah diri
c)Kurang bertanggung jawab
d)Kurang bergairah
5. Masa Remaja 12-18 tahun
Tuntutan perkembangan : mencapai identitas diri
Sarana
:
a) Modal : rasa percaya diri dan aman, rasa kemampuan diri,
inisiatif, mampu menghasilkan sesuatu.
b) Lingkungan : lebih luas
Ciri-ciri
:
a)Pencarian identitas diri :
1) Butuh bereksperimentasi
2) Butuh bertean kelompok
13

3) Krisis terhadap orang dewasa


4) Tak suka dikritik
5) Merasa dewasa dan ingin bebas
b)Pencarian identitas seksual:
1) Merasa tertarik pada lawan jenis
2) Mulai jatuh cionta/pacaran
c) Pencarian identitas sosial:
1) Mulai memikirkan masa depan
2) Mulai mencari sekolah yang cocok
3) Mulai membangun cita-cita
Kebutuhan
: pengertian
Tercapai
: Identitas diri
Gagal
: Kekacauan dalam peran.
B. KENAKALAN ANAK DAN REMAJA
1. Definisi

Masa remaja adalah suatu periode antara masa anak-anak dan masa
dewasa. Masa ini ditandai dengan perubahan perkembangan biologis,
psikologis, dan sosial yang menonjol. Onset biologis dari masa remaja
ditandai dengan percepatan pertumbuhan skeletal yang cepat dan
permulaan perkembangan seks fisik; onset psikologis ditandai dengan
suatu percepatan perkembangan perkembangan kognitif dan konsolidasi
pembentukan kepribadian; secara sosial masa remaja adalah suatu periode
peningkatan persiapan untuk datangnya peranan masa dewasa muda.
(Kaplan, 2010). Sedangkan kenakalan sendiri mengacu pada perbuatan
tidak baik yang bersifat mengganggu ketenangan orang lain, dengan
tingkah laku yang melanggar norma kehidupan masyarakat.
Kenakalan remaja biasa disebut dengan istilah juvenile berasal dari
bahasa latin. Juvenilis,yang artinya anak-anak, anak muda, sifat khas pada
periode remaja, sedangkan delinquency berasal dari bahasa latin
delinquere yang berarti terabaikan, mengabaikan, yang kemudian
diperluas artinya menjadi jahat, nakal, anti sosial, kriminal, pelanggar
aturan, pembuat ribut, dan lain sebagainya. Juvenile delinquency atau
kenakalan remaja adalah perilaku jahat atau kenakalan anak-anak muda,
merupakan gejala sakit (patologis) secara sosial pada remaja. Istilah
14

kenakalan remaja mengacu pada suatu rentang yang luas, dari tingkah
laku yang tidak dapat diterima sosial sampai pelanggaran status hingga
tindak kriminal (Kartono, 2006).
Menurut ahli psikologi Drs. Bimo Walgito, merumuskan arti
selengkapnya dari juvenile delinquency yakni tiap perbuatan, jika
perbuatan tersebut dilakukan oleh orang dewasa, maka perbuatan itu
merupakan kejahatan, jadi merupakan perbuatan melawan hukum jika
dilakukan oleh anak, khususnya anak remaja (Sudarsono, 1995).
Sedangkan menurut Paul Moedikdo, SH mengatakan bahwa definisi
kenakalan remaja adalah suatu perbuatan yang melanggar norma, aturan
atau hukum dalam masyarakat yang dilakukan pada usia remaja atau
transisi masa anak-anak dan dewasa (Sarwono,2007).
Dari definisi yang dipaparkan oleh para tokoh diatas dapat
disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kenakalan remaja atau anak
(juvenile delinquency) adalah perbuatan atau tingkah laku melawan
norma-norma yang ada di lingkungan kehidupan remaja atau anak yang
berusia 10 sampai 18 tahun dan jika perbuatannya itu sempat diketahui
oleh petugas hukum ia bisa dikenai hukuman.
2. Jenis Kenakalan Remaja

Kenakalan (delinquent) seorang remaja ataupun siswa dapat dibagi


menjadi beberapa jenis. Menurut Wright yang kutip oleh Drs. Hasan Bisri
dalam bukunya Remaja Berkualitas, membagi jenis-jenis kenakalan
remaja ataupun siswa dalam beberapa keadaan:
a. Neurotic delinquency
Neurotic delinquency merupakan kenakalan seorang remaja ataupun
siswa sifatnya pemalu, terlalu perasa, suka menyendiri, gelisah dan
mengalami perasaan rendah diri. Mereka mempunyai dorongan yang
kuat untuk berbuat suatu kenakalan, seperti: mencuri sendirian dan
melakukan tindakan agresif secara tiba-tiba tanpa alasan karena
dikuasai oleh khayalan dan fantasinya sendiri.
b. Unsocialized delinquent
15

Unsocialized delinquent merupakan suatu sikap kenakalan seorang


remaja ataupun siswa yang suka melawan kekuasaan seseorang, rasa
permusuhan dan pendendam.hukuman dan pujian tidak berguna bagi
mereka tidak pernah merasa bersalah dan tidak pula menyesali
perbuatan yang telah dilakukannya. Sering melempar kesalahan dan
tanggung jawab kepada orang lain. Untuk mendapatkan keseganan
dan ketakutan dari orang lain sering kali melakukan tindakan-tindakan
yang penuh keberanian, kehebatan dan diluar dugaan.
3. Bentuk Kenakalan Remaja

Jensen (dalam Sarwono, 2010) mengatakan bahwa ada empat aspek


kenakalan remaja:
a. Perilaku yang melanggar hukum : melanggar lalu lintas, mencuri,
merampok, memperkosa, dan lain lain
b. Perilaku yang membahayakan diri sendiri dan orang lain : kebut
kebutan di jalan, menerobos lalu lintas, merokok, narkoba, dll
c. Perilaku yang menimbulkan korban materi : memalak, merusak
fasilitas umum, dll
d. Perilaku yang menimbulkan korban fisik : tawuran, berkelahi, dll
Sedangkan menurut Singgih D, Gunarso, bahwa dari segi hukum
kenakalan remaja digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu :
a. Kenakalan yang bersifat amoral dan sosial serta tidak diatur dalam
undang undang, sehingga tidak dapat atau sulit digolongkan sebagai
pelanggaran hukum
b. Kenakalan yang bersifat melanggar hukum dengan penyelesaian
sesuai dengan undang undang dan hukum yang berlaku.
Remaja yang melakukan kenakalan pada umumnya kurang memiliki
kontrol diri, atau menyalahgunakan kontrol diri tersebut. Mereka
memiliki standar tingkah laku sendri serta meremehkan orang lain untuk
mencapai suatu objek atau tujuan tertentu. Pada umumnya anak anak
tersebut memiliki rasa egois yang tinggi dan melebih lebihkan harga
dirinya. Selain itu, fase remaja akan lebih mudah tersulut emosinya
16

sehingga mudah melakukan tindakan agresi. Perilaku berbohong, pergi


keluar rumah tanpa pamit, membolos, keluyuran, minum-minuman keras,
menyalahgunakan narkotika, mengendarai kendaraan tanpa SIM, kebutkebutan berkelahi dengan teman atau antar sekolah, serta depresi, menurut
Grieger & Boyd (dalam Prout dan Brown, 1983) termasuk kategori
gangguan emosional pada masa anak dan remaja. Sedangkan menurut
Morris, Silk, Steinberg, Myers & Robinson (2007) bahwa kasus-kasus
tersebut merupakan gambaran dari kurang tepatnya pengelolaan emosi
dalam diri seseorang. Hal itu dapat dijelaskan bahwa ketika seseorang
gagal mencapai tujuannya, maka ia akan mengalami tekanan psikologis
dan akan memilih reaksi emosi yang sesuai dengan kondisi tersebut antara
lain dengan melakukan tindakan agresi internal maupun eksternal. Agresi
internal, misalnya melakukan perusakan terhadap diri sendiri sampai
dengan percobaan bunuh diri. Agresi eksternal, misalnya melakukan
perusakan pada lingkungan fisik atau sosial di sekitarnya.
4. Faktor yang Mempengaruhi Kenakalan Remaja

Kenakalan remaja terjadi karena beberapa faktor, bisa dari remaja itu
sendiri (internal) maupun dari luar (eksternal).
a. Faktor internal terdiri atas :
1) Krisi identitas
2) Konflik diri
Adanya ketidaksesuaian antara dua pandangan yang berpengaruh
sehingga akan memberikan pengaruh yang negatif pada diri remaja
yang masih mengalami krisis pada identitasnya.
3) Kontrol diri yang lemah
Lemahnya kontrol diri pada remaja menyebabkan mereka tidak bisa
mempelajari atau membedakan tingkah laku yang dapat diterima
dengan yang tidak dapat diterima.
b. Faktor eksternal terdiri atas :
1) Keluarga

17

Keluarga merupakan tempat pengalaman pertama pada anak anak.


Pendidikan di lingkungan keluarga yang tepat dapat menjamin
kehidupan emosional anak terebut.
2) Teman sebaya
Bergaul dengan teman sebaya yang nakal akan mempengaruhi
seorang remaja untuk ikut melakukan kenakalan.
3) Komunitas / lingkungan
Selain faktor-faktor diatas, menurut Santrock (1996) faktor-faktor yang
mempengaruhi kenakalan remaja, yaitu:
a. Identitas
Menurut teori perkembangan yang dikemukakan oleh Erikson (dalam
Santrock, 1996), masa remaja ada pada tahap dimana krisis identitas
versus difusi identitas harus diatasi. Perubahan biologis dan sosial
memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi terjadi pada kepribadian
remaja: (1) terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya
dan (2) tercapainya identitas peran, kurang lebih dengan cara
menggabungkan motivasi, nilai nilai, kemampuan dan gaya yang dimiliki
remaja dengan peran yang dituntut dari remaja.
b. Kontrol diri
Kenakalan remaja juga dapat digambarkan sebagai kegagalan untuk
mengembangkan kontrol diri yang cukup dalam hal tingkah laku.
Beberapa anak gagal dalam mengembangkan kontrol diri yang esensial
yang sudah dimiliki orang lain selama proses pertumbuhan. Hasil
penelitian yang dilakukan Santrock , menunjukan bahwa ternyata kontrol
diri mempunyai peranan penting dalam kenakalan remaja. Pola asuh
orang tua yang efektif dimasa kanak-kanak (peranan strategi yang
konsisten, berpusat pada anak dan tidak aversif) berhubungan dengan
dicapainya pengaturan diri oleh anak. Selanjutnya, dengan memiliki
ketrampilan ini sebagai atribut internal akan berpengaruh pada
menurunnya tingkat kenakalan remaja.
c. Usia
18

Munculnya tingkah laku anti sosial di usia dini berhubungan dengan


penyerangan serius nantinya dimasa remaja, namun demikian tidak
semua anak yang bertingkah laku seperti ini nantinya akan menjadi
pelaku kenakalan.
d. Jenis kelamin
Remaja laki-laki lebih banyak melakukan tingkah laku anti sosial
daripada perempuan. Menurut catatan kepolisian Kartono (2006) pada
umumnya jumlah remaja laki-laki yang melakukan kejahatan dalam
kelompok gang diperkirakan 50 kali lipat daripada gang remaja
perempuan.
e. Harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai di sekolah
Remaja yang menjadi pelaku kenakalan seringkali memiliki harapan
yang rendah terhadap pendidikan di sekolah. Mereka merasa bahwa
sekolah tidak begitu bermanfaat untuk kehidupannya sehingga biasanya
nilai-nilai mereka terhadap sekolah cenderung rendah dan mereka tidak
mempunyai motivasi untuk sekolah.
f. Proses keluarga
Faktor keluarga sangat berpengaruh terhadap timbulnya kenakalan
remaja. Kurangnya dukungan keluarga seperti kurangnya perhatian orang
tua terhadap aktivitas anak, kurangnya penerapan disiplin yang efektif,
kurangnya kasih sayang orang tua dapat menjadi pemicu timbulnya
kenakalan remaja.
g. Pengaruh teman sebaya
Memiliki teman-teman sebaya yang melakukan kenakalan meningkatkan
remaja untuk menjadi nakal.
h. Kelas sosial ekonomi
Ada kecenderungan bahwa pelaku kenakalan lebih banyak berasal dari
kelas sosial ekonomi yang lebih rendah dengan perbandingan dengan
jumlah remaja nakal di antara daerah perkampungan miskin yang rawan
dengan daerah yang memiliki banyak privilege diperkirakan 50 : 1.
i. Kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal
19

Komunitas juga dapat berperan serta dalam memunculkan kenakalan


remaja. Masyarakat dengan tingkat kriminalitas tinggi memungkinkan
remaja mengamati berbagai model yang melakukan aktivitas kriminal
dan memperoleh hasil atau penghargaan atas aktivitas kriminal mereka
(Kartono, 2006).
C. COPING
1.

Definisi
Pada umumnya setiap manusia memiliki banyak kebutuhan yang ingin
selalu dipenuhinya dalam hidup. Kebutuhan itu dapat berapa kebutuhan
fisik, psikis dan sosial. Sayangnya, dalam kehidupan nyata kebutuhankebutuhan tersebut tidak selalu dapat dipenuhi. Keadaan itulah yang sering
kali membuat manusia merasa tertekan secara psikologis (psychological
stress). Respon dari perasaan tertekan itu dimanifestasikan manusia dalam
bentuk prilaku yang bermacam-macam tergantung sejauh mana manusia
itu memandang masalah yang sedang dihadapi. Jika masalah yang
dihadapinya itu dipandang negatif oleh manusia, maka respon prilakunya
pun negatif, seperti yang diperlihatkan dalam bentuk-bentuk prilaku
neurotis dan patologis. Sebaliknya, jika persoalan yang dihadapi itu
dipandang positif oleh mereka yang mengalami, maka respon prilaku yang
ditampilkan pun bisa dalam bentuk penyesuaian diri yang sehat dan caracara mengatasi masalah yang konstruktif (Lazarus, 1976).
Menurut Lazaras pemilihan cara mengatasi masalah ini disebut dengan
istilah proses coping. Menurut Lazarus dan Folkman (Persitarini, 1988),
coping dipandang sebagai faktor yang menentukan kemampuan manusia
untuk melakukan penyesuaian terhadap situasi yang menekan (stressful
life events). Koping berasal dari kata coping yang bermakna harafiah
pengatasan

penanggulangan

(to

cope

with

berarti

mengatasi,

menanggulangi). Namun karena istilah coping merupakan istilah yang


sudah jamak dalam psikologi maka penggunaan istilah tersebut
dipertahankan dan langsung diserap ke dalam bahasa Indonesia untuk

20

membantu memahami bahwa coping (koping) tidak sesedehana makna


harafiahnya saja (Siswanto, 2007).
Sedangkan Rasmun mengatakan bahwa coping adalah dimana seseorang
yang mengalami stres atau ketegangan psikologik dalam menghadapi
masalah kehidupan sehari-hari yang memerlukan kemampuan pribadi
maupun dukungan dari lingkungan, agar dapat mengurangi stres yang
dihadapinya. Dengan kata lain, coping adalah proses yang dilalui oleh
individu dalam menyelesaikan situasi stressful. Coping tersebut adalah
merupakan respon individu terhadap situasi yang mengancam dirinya baik
fisik maupun psikologik (Rasmun, 2004). Pada dasarnya coping
menggambarkan proses aktivitas kognitif, yang disertai dengan aktivitas
perilaku (Folkman, 1984).
Ada banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui bentukbentuk tingkah laku coping dalam situasi yang berbeda. McCrae (1984)
dalam penelitiannya tentang hubungan antara situasi dengan tingkah laku
coping, menemukan ada 19 tingkah laku coping yang signifikan yaitu
reaksi permusuhan, aksi rasional, mencari pertolongan, tabah, percaya
pada takdir, mengekspresikan perasaan-perasaan, berpikir positif, lari ke
angan-angan, penolakan secara intelektual, menyalahkan diri sendiri,
tenang, bertahan, menarik kekuatan dari kemalangan, menyesuaikan diri,
berharap, aktif melupakan, lelucon, menilai kesalahan dan iman atau
kepercayaan. Stone dan Neale (1984) meneliti tentang pengukuran tingkah
laku coping sehari-hari. Ditemukan delapan tingkah laku, antara lain
perusakan, membatasi situasi, aksi langsung, katarsis, menerima, mencari
dukungan sosial, relaksasi dan religi
2.

Strategi coping
Strategi koping sendiri didefinisikan sebagai suatu proses tertentu yang
disertai dengan suatu usaha dalam rangka merubah domain kognitif dan
atau perilaku secara konstan untuk mengatur dan mengendalikan tuntutan
dan tekanan eksternal maupun internal yang diprediksi akan dapat
membebani dan melampaui kemampuan dan ketahanan individu yang
21

bersangkutan (Lazarus & Folkman dalam Kertamuda & Herdiansyah,


2009). Menurut Aldwin dan Revenson, strategi coping merupakan suatu
cara atau metode yang dilakukan tiap individu untuk mengatasi dan
mengendalikan situasi atau masalah yang dialami dan dipandang sebagai
hambatan, tantangan yang bersifat menyakitka, serta ancaman yang
bersifat merugikan (Kertamuda dan Herdiansyah, 2009).
Pareek (Pestonjee, 1992) mengemukakan delapan strategi coping yang
biasa digunakan, yaitu impunitive (menganggap tidak ada lagi yang dapat
dilakukan dalam menghadapi tekanan dari luar), Intropunitive (tindakan
menyalahkan diri sendiri saat menghadapi masalah), Extrapunitive
(melakukan tindakan agresi saat bermasalah), Defensiveness (melakukan
pengingkaran atau rasionalisasi), Impersistive (merasa optimis bahwa
waktu akan menyelesaikan masalah dan keadaan akan membaik kembali),
Intropersistive (mengharapkan orang lain akan membantu menyelesaikan
masalahnya), dan Interpersistive (percaya bahwa kerjasama antara dirinya
dengan orang lain akan dapat mengatasi masalah).
Sehubungan dengan banyaknya penelitian mengenai perilaku coping,
maka banyak ahli yang berusaha mengklasifikasikan bentuk-bentuk
tingkah laku tersebut. Carver dkk (1989) membagi koping dua dimensi
yakni adaptif dan maladaptif. Tan dkk (2011) menyatakan koping adaptif
berarti menangani atau mengatasi stresor secara efektif atau positif,
sedangkan koping maladaptif berarti mengatasi stressor secara negatif atau
tidak efektif. Koping adaptif berkontribusi dalam penyelesaian stres,
sedangkan maladaptif dapat menyebabkan masalah lebih lanjut. Rogers &
Rippetor (1987 dalam Kertamuda & Herdiansyah, 2009) menambahkan
koping adaptif mendukung fungsi integrasi, pertumbuhan, belajar dan
mencapai tujuan. Koping maladaptif menghambat fungsi integrasi,
memecah pertumbuhan, menurunkan otonomi dan cenderung menguasai
lingkungan.
Berikut strategi koping berdasarkan Carver dkk (1989):

22

a. Adaptive strategies; active coping, planning,suppression of competing


activities, restraint coping, seeking social support for instrumental
reasons, seeking social support for emotional reasons, positive
reinterpretation and growth, acceptance, dan turning to religion.
b. Maladaptive strategies; focus and venting emotion, behavioral
disengagement, mental disengagement, alcohol and/or other drugs.
Flokman & Lazarus (dalam Sarafino, 2006) secara umum membedakan
bentuk dan fungsi coping dalam dua klasifikasi yaitu :
a. Problem Focused Coping (PFC) atau dikenal Approach-coping adalah
merupakan bentuk coping yang lebih diarahkan kepada upaya untuk
mengurangi tuntutan dari situasi yang penuh tekanan, artinya coping
yang muncul terfokus pada masalah individu yang akan mengatasi
stres dengan mempelajari cara-cara keterampilan yang baru. Individu
cenderung menggunakan strategi ini ketika mereka percaya bahwa
tuntutan dari situasi dapat diubah (Lazarus & Folkman dalam
Sarafino, 2006). Strategi ini melibatkan usaha untuk melakukan
sesuatu hal terhadap kondisi stres yang mengancam individu (Taylor,
2009).
b. Emotion Focused Coping (EFC) merupakan bentuk coping yang
diarahkan untuk mengatur respon emosional terhadap situasi yang
menekan. Individu dapat mengatur respon emosionalnya dengan
pendekatan behavioral dan kognitif. Contoh dari pendekatan
behavioral adalah penggunaan alkohol, narkoba, mencari dukungan
emosional dari teman teman dan mengikuti berbagai aktivitas seperti
berolahraga atau menonton televisi yang dapat mengalihkan perhatian
individu dari masalahnya. Sementara pendekatan kognitif melibatkan
bagaimana individu berfikir tentang situasi yang menekan. Dalam
pendekatan kognitif, individu melakukan redefine terhadap situasi
yang menekan seperti membuat perbandingan dengan individu lain
yang mengalami situasi lebih buruk, dan melihat sesuatu yang baik
diluar dari masalah. Individu cenderung untuk menggunakan strategi
23

ini ketika mereka percaya mereka dapat melakukan sedikit perubahan


untuk mengubah kondisi yang menekan (Lazarus & Folkman dalam
Sarafino, 2006).
Aldwin dan Revenson (Bukit, 1999) membagi Approach-coping
menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Cautiousness

(kehati-hatian)

yaitu

individu

berpikir

dan

mempertimbangkan beberapa alternatif pemecahan masalah yang


tersedia, meminta pendapat orang lain,
memutuskan masalah

berhati-hati dalam

serta mengevaluasi strategi yang pernah

dilakukan sebelumnya.
b. Instrumental Action (tindakan instrumental) adalah tindakan individu
yang diarahkan pada penyelesaian masalah secara langsung, serta
menyusun langkah yang akan dilakukannya.
c. Negotiation (Negosiasi) merupakan beberapa usaha oleh seseorang
yang ditujukan kepada orang lain yang terlibat atau merupakan
penyebab masalahnya untuk ikut menyelesaikan masalah.
Untuk Avoidance Coping atau Emotion-Focused-Coping menurut
Aldwin dan Revenson (Bukit, 1999) terbagi menjadi:
a. Escapism (melarikan diri dari masalah) ialah perilaku menghindari
masalah dengan cara membayangkan seandainya berada dalam suatu
situasi lain yang lebih menyenangkan; menghindari masalah dengan
makan ataupun tidur; bisa juga dengan merokok ataupun meneguk
minuman keras.
b. Minimization (menganggap masalah seringan mungkin) ialah tindakan
menghindari masalah dengan menganggap seakan-akan masalah yang
tengah dihadapi itu jauh lebih ringan daripada yang sebenarnya.
c. Self Blame (menyalahkan diri sendiri) merupakan cara seseorang saat
menghadapi masalah dengan menyalahkan serta menghukum diri
secara berlebihan sambil menyesali tentang apa yang telah terjadi.
d. Seeking Meaning (mencari hikmah yang tersirat) adalah suatu proses
di mana individu mencari arti kegagalan yang dialami bagi dirinya
24

sendiri dan mencoba mencari segi-segi yang menurutnya penting


dalam hidupnya. Dalam hal ini individu coba mencari hikmah atau
pelajaran yang bisa dipetik dari masalah yang telah dan sedang
dihadapinya.
Sedangkan menurut pendapat Skinner (dalam Sarafino, 2006) yang
mengemukakan pengklasifikasian bentuk coping sebagai berikut :
a. Perilaku coping yang berorientasi pada masalah (Problem-focused
coping)
1) Planfull problem solving
Individu memikirkan dan mempertimbangkan secara matang
beberapa alternatif pemecahan masalah yang mungkin dilakukan,
meminta pendapat dan pandangan dari orang lain tentang masalah
yang dihadapi, bersikap hati-hati sebelum memutuskan sesuatu
dan mengevaluasi strategi yang pernah dilakukan.
2) Direct action
Meliputi tindakan yang ditujukan untuk menyelesaikan masalah
secara langsung serta menyusun secara lengkap apa yang
diperlukan.
3) Assistance seeking
Individu mencari dukungan dan menggunakan bantuan dari orang
lain berupa nasehat maupun tindakan didalam menghadapi
masalahnya.
4) Information seeking
Individu mencari informasi dari orang lain yang dapat digunakan
untuk mengatasi permasalahan individu tersebut.
b. Perilaku coping yang berorientasi pada emosi (Emotional Focused
Coping)
1) Avoidance
Individu menghindari masalah yang ada dengan cara berkhayal
atau membayangkan seandainya ia berada pada situasi yang
menyenangkan.
25

2) Denial
Individu menolak masalah yang ada dengan menganggap seolaholah masalah individu tidak ada, artinya individu tersebut
mengabaikan masalah yang dihadapinya.
3) Self-criticism
Keadaan individu yang larut dalam permasalahan dan menyalahkan
diri sendiri atas kejadian atau masalah yang dialaminya.
4) Possitive reappraisal
Individu melihat sisi positif dari masalah yang dialami dalam
kehidupannya

dengan

mencari

arti

atau

keuntungan

dari

pengalaman tersebut.
Individu cenderung untuk menggunakan problem-focused coping
dalam menghadapi masalah-masalah yang menurut mereka dapat
dikontrol olehnya.

Sebaliknya,

individu cenderung menggunakan

emotional-focused coping dalam masalah-masalah yang menurut mereka


sulit dikontrol. Terkadang individu dapat menggunakan kedua strategi
tersebut secara bersamaan, namun tidak semua strategi coping pasti
digunakan oleh individu (Taylor, 1991 dalam Nasir dan Muhith, 2011).
3. Faktor yang mempengaruhi strategi coping
Faktor faktor yang mempengaruhi strategi coping; menurut Mutadin
(2002) cara individu menangani situasi yang mengandung tekanan
ditentukan oleh sumber daya individu yang meliputi :
a. Kesehatan Fisik
Kesehatan merupakan hal yang penting, karena selama dalam usaha
mengatasi stres individu dituntut untuk mengerahkan tenaga yang
cukup besar.
b. Keyakinan atau pandangan positif
Keyakinan menjadi sumber daya psikologis yang sangat penting,
seperti keyakinan akan nasib (external locus of control) yang
mengerahkan individu pada penilaian ketidakberdayaan (helplessness)
yang akan menurunkan kemampuan strategi coping.
26

c. Keterampilan memecahkan masalah


Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk mencari informasi,
menganalisa situasi, mengidentifikasi masalah dengan tujuan untuk
menghasilkan alternatif tindakan, kemudian mempertimbangkan
alternatif tersebut sehubungan dengan hasil yang ingin dicapai, dan
pada akhirnya melaksanakan rencana dengan melakukan suatu
tindakan yang tepat.
d. Keterampilan sosial
Keterampilan ini meliputi kemampuan untuk berkomunikasi dan
bertingkah laku dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai-nilai sosial
yang berlaku di masyarakat.
e. Dukungan sosial
Dukungan ini meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan
emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota
keluarga lain, saudara, teman, dan lingkungan masyarakat sekitarnya.
f. Materi
Dukungan ini meliputi sumber daya berupa uang, barang-barang atau
layanan yang biasanya dapat dibeli.
Salah satu faktor yang mempengaruhi strategi coping adalah dukungan
sosial yang meliputi dukungan pemenuhan kebutuhan informasi dan
emosional pada diri individu yang diberikan oleh orang tua, anggota keluarga
lain, saudara, teman, rekan kerja dan lingkungan masyarakat sekitarnya
Individu yang saling mendukung satu sama lain akan terdapat rasa hubungan
kemasyarakatan serta hubungan antara perseorangan. Dalam lingkungan
kerja, individu yang mampu membina hubungan baik dengan atasan, sesama
rekan kerja dan bawahan dapat saling memberi dukungan sehingga dapat
tercipta rasa memiliki dan integrasi sosial dalam lingkungan kerja. Dengan
adanya dukungan sosial dalam lingkungan kerja maka dapat membuat
individu merasa bagian dari suatu tim dan tidak diisolasi dari kelompok. Hal
ini merupakan salah satu dari kriteria yang membentuk kualitas kehidupan
bekerja dalam organisasi (Mutadin, 2002).
27

D. COPING PADA REMAJA NAKAL


Penggunaan metode coping pada remaja sangat bervariasi. Hal ini dapat berbeda
tergantung kecenderungan sikap, latar belakang remaja tersebut, setting lokasi dan
sebagainya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Markova dan Nikitskaya
tahun 2013, remaja dengan perilaku menyimpang, yang merupakan awal kenakalan
remaja, cenderung memilih Escape-Avoidance Coping di banding dengan kontrol.
Dalam penelitian ini dapat dilihat bahwa remaja dengan perilaku menyimpang lebih
memilih untuk menghindari atau menjaga jarak dari stressor yang dialaminya. Secara
umum pada kelompok remaja ini memiliki latar belakang permasalahan dalam
keluarga seperti perceraian orang tua.
Pada kelompok remaja ini pula, metode Problem- Solved coping seperti cara-cara
yang lebih moderate untuk menyelesaikan masalah, lebih tidak populer. Sedangkan
pada kelompok kontrol, remaja lebih memilih Problem-Solved Coping seperti
dengan belajar dan memahami masalah yang dihadapi secara positif. Sedangkan
remaja dengan perilaku menyimpang lebih memilih menghindari masalah dengan
merokok, bermain video games, ataupun menonton TV.
Temuan ini juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Newhard tahun
2014. Pada penelitiannya, Newhard menggunakan sampel remaja yang sedang
menjalani massa kurungan di penjara karena tindakan kenakalan remaja yang serius.
Pada penelitian ini didapatkan bahwa remaja pada setting lokasi ini juga cenderung
memilih Avoidance Coping. Terdapat temuan menarik pada penelitian ini di mana
kelompok remaja ini yang memilik Avoidance Coping memiliki korelasi negatif,
meskipun tidak signifikan, dengan konsep diri seperti pernghargaan pada diri sendiri.
Hal ini mengindikasikan bahwa remaja yang memilih metode coping lain memiliki
penghargaan diri yang lebih baik di banding remaja dengan Avoidance Coping pada
setting penjara ini.
Hofstein dalam penelitiannya tahun 2009 mengemukakan terdapat beberapa
variasi pemilihan coping

berdasarkan gender dan latar belakang keluarga pada

kelompok remaja yang melakukan kenakalan dan terlibat dalam proses pengadilan.
Kelompok remaja laki-laki lebih memilih Active Coping dibanding kelompok remaja
perempuan Sedangkan kelompok remaja perempuan lebih dominan memilih Self
Blame Coping.
Kelompok remaja dengan latar belakang kesulitan finansial dalam keluarganya
cenderung memilih Denial Coping. Selain itu remaja yang di asuh oleh orang tua
28

tunggal lebih memilih Seeking Emotional Support coping dalam menghadapi


masalah. Partisipan yang pernah mengalami kekerasan fisik secara umum lebih
memilih Denial Coping. Lebih detail lagi, remaja dengan riwayat kekerasan fisik
yang didapat dari orang tua lebih memilih Seeking Instrumental Support coping.

E. STRATEGI COPING MENGATASI KENALAKAN ANAK DAN REMAJA


1. Peran keluarga
Faktor risiko untuk mencegah masalah kenakalan pada remaja dapat
diaplikasikan pada tingkat masyarakat, keluarga, dan individu itu sendiri.
Dalam hal ini akan lebih dikonsentrasikan pada intervensi yang
ditargetkan

pada

remaja

serta

keluarga

mereka.

Pentingnya

mengembangkan strategi untuk mengatasi faktor-faktor penentu sosial dari


kesehatan yang buruk. Kebijakan dan tindakan pemerintah harus secara
efektif mengatasi kesenjangan kesehatan mental remaja serta memberikan
perhatian terhadap masalah sosial pada remaja.
Gross & Thompson (2006) yang didukung oleh Kalat & Shiota (2007)
menyatakan bahwa regulasi emosi dapat berperan sebagai strategi koping
dalam menghadapi tekanan psikologis. Regulasi emosi dipengaruhi oleh
lingkungan sosial di sekeliling individu, misalnya keluarga (Morris, et.al.,
2007).

Studi

metaanalisis

yang

dilakukan

oleh

Pratisti

(2011)

menunjukkan bahwa regulasi emosi dipengaruhi oleh kehidupan


emosional ibu. Kehidupan emosional ibu adalah kondisi emosional ketika
menghadapi anaknya. Kehidupan emosional di sini secara garis besar
dibagi dalam dua hal, yaitu kehidupan emosional positif dan kehidupan
emosional negative. Kehidupan emosional negative meliputi tekanan dan
depresi yang dirasakan, penolakan terhadap anak, perlakuan yang kurang
sesuai, atau sikap negative. Sedangkan kehidupan emosional positif
meliputi kehangatan dan kontrol, dukungan yang bersifat suportif,
sensitive terhadap reaksi emosi anak, serta gaya pengasuhan yang lekat.
Kehidupan emosional ibu dapat dilihat dari ekspresi emosi ketika
menghadapi anak atau melalui gaya pengasuhan pada anak regulasi emosi
yang lebih kompleks didefinisikan sebagai suatu proses untuk mengenali,
29

menghindari, menghambat, mempertahankan atau mengelola kemunculan,


bentuk, intensitas maupun masa berlangsungnya perasaan internal, emosi
psikologis, proses perhatian, status motivasional dan atau perilaku yang
berhubungan dengan emosi dalam rangka memenuhi afek biologis atau
adaptasi social atau meraih tujuan individual (Eisenberg & Spinrad, 2004,
p. 134; Eisenberg, 2006).
Keluarga juga dapat menerapkan hal-hal dibawah ini untuk mengatasi
kenakalan pada remaja.
a. Kegagalan mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa
dicegah menggunakan prinsip keteladanan. Berikan contoh yang baik
kepada seorang remaja bahwa mereka mampu untuk memperbaiki
masa remajanya.
b. Diperlukan motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk
mendukung perubahan si anak.
c. Memberikan arahan pada anak untuk memilih teman yang baik serta
memilih komunitas yang memberikan efek baik kepada anak.
d. Sediakan lingkungan yang baik sejak dini, disertai dengan
pemahaman tentang perkembangan anak dengan baik.
2. Peran lingkungan sekolah
Ada beberapa hal yang dapat diterapkan sekolah dalam mendukung
kesehatan mental pada remaja, yaitu:
a. siswa senior akan berkomitmen yang menetapkan budaya dalam
sekolah yang menghargai semua siswa; memungkinkan mereka untuk
merasakan rasa memiliki;
b. etos menetapkan harapan yang tinggi dari pencapaian untuk semua
murid dengan secara konsisten diterapkan dukungan. Ini termasuk
kebijakan yang jelas pada perilaku dan intimidasi yang menetapkan
tanggung jawab dari semua orang di sekolah dan berbagai perilaku
yang dapat diterima dan tidak dapat diterima untuk anak-anak. Ini
harus tersedia dan dipahami dengan jelas oleh semua
30

c. bekerja dengan orang tua dan wali serta dengan murid sendiri,
memastikan pendapat dan keinginan mereka diperhitungkan dan
bahwa mereka terus sepenuhnya informasi sehingga mereka dapat
berpartisipasi dalam keputusan yang diambil tentang mereka;
d. pengembangan profesional berkelanjutan bagi staf yang jelas bahwa
mempromosikan kesehatan mental yang baik adalah tanggung jawab
semua anggota staf sekolah dan masyarakat, memberitahu mereka
tentang tanda-tanda awal masalah kesehatan mental, apa yang bisa dan
tidak menjadi perhatian, dan apa yang harus dilakukan jika mereka
berpikir mereka telah melihat perkembangan masalah
e. sistem dan proses untuk membantu staf yang mengidentifikasi anakanak dan remaja dengan kemungkinan masalah kesehatan mental yang
jelas; menyediakan rute untuk menyelesaikan masalah dengan jelas.
Sekolah harus bekerja sama dengan profesional lain untuk memiliki
berbagai layanan dukungan yang dapat diletakkan di tempat
tergantung pada kebutuhan yang teridentifikasi (baik di dalam dan di
luar sekolah).

31

BAB III
PENUTUP
A. SIMPULAN
1. Masa remaja ditandai dengan adanya banyak perubahan pada anak, dari
mulai perubahan fisik yang menunjukkan kematangan organ reproduksi
serta optimalnya fungsional organ organ tertentu, perubahan kognitif
yang menunjukkan kemajuan cara berpikir remaja serta perubahan
sosio-emosi yang berpengaruh besar terhadap kondisi kejiwaan remaja
tersebut. Ada banyak faktor yang harus diperhatikan selama
pertumbuhan remaja.
2. Strategi coping merupakan suatu proses yang disertai dengan suatu
usaha dalam rangka merubah domain kognitif dan atau perilaku secara
konstan untuk mengatur dan mengendalikan tuntutan dan tekanan
eksternal maupun internal yang diprediksi akan dapat membebani dan
melampaui kemampuan dan ketahanan individu yang bersangkutan.
Strategi coping secara garis besar di bagi menjadi Problem Focused
Coping yang berfokus pada upaya mengurangi tuntutan dari situasi
penuth tekanan dan Emotion Focused Coping yang diarahkan untuk
mengatur respon emosional terhadap situasi yang menekan.
3. Cara menangani masalah kenakalan remaja melalui strategi coping
didapat melalui peran keluarga melalui peran intervensi misalnya
melalui pengaturan emosi dengan dukungan keluarga. Selain itu peran
sekolah juga berkontribusi dalam implementasi trategi coping.
B. SARAN
1. Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa remaja menimbulkan
berbagai konflik batin maupun psikis. Peran keluarga dan sekolah
sangat berpengaruh pada masa perkembangan ini sehingga diperlukan
kerjasama yang baik dalam mengawasi perkembangan remaja ini.
32

2. Di perlukannya penelitian lebih lanjut dalam strategi coping untuk


mengatasi kenakalan remaja oleh karena sangat banyaknya variasi
coping pada remaja yang melakukan kenakalan pada penelitian
sebelumnya yang bergantung baik pada kecenderungan sikap, latar
belakang remaja tersebut, setting lokasi dan sebagainya.

33

DAFTAR PUSTAKA
Desmita. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Destyarini M. 2013. Strategi Coping dan Kelelahan Emosional. Journal Psikologi, 2013,
1 (2): 123-135.
Eva Imania Elisa, Kenakalan Remaja : Penyebab dan Solusinya
Hofstein Y. 2009. Coping in court-involved adolescents and therelationship with
stressors, delinquency, and psychopathology. Dissertation, (PhD). University of
Massachushett Amherst.
Hurlock, E. B. 2005. Perkembangan Anak Jilid 1 (Alih Bahasa : Meitasari Tjandrasa dan
Muslichah Zarkasih). Jakarta : Erlangga.
Kartono, K. 2011. Patologi sosial 2 kenakalan remaja. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Kaplan H.I, Sadock B.J, Grebb J.A. 2010. Sinopsis Psikiatri Jilid 1.Terjemahan Widjaja
Kusuma. Jakarta: Binarupa Aksara . p:91-93
Kaplan HI, Sadock BJ, Grebb JA. 2010. Sinopsis psikiatri ilmu pengetahuan perilaku
psikiatri klinis: jilid satu. Tanggerang: Binarupa Aksara Publisher
Kenakalan Remaja. JOM Vol 2 No 2, Oktober 2015.
Markova S dan Nikitskaya E. 2014. Coping strategies of adolescents with deviant
behaviour.

International

Journal

of

Adolescence

and

Youth,

DOI:

10.1080/02673843.2013.868363
Mursafitri E, Herlina, Safri. 2015. Hubungan Fungsi Afektif Keluarga dengan Perilaku.
Newhard JR. 2014. Coping responses and mental health symptoms in incarcerated
juvenile males. Dissertation, (PhD). Antioch University Santa Barbara.
Pestonjee, D.M. 1992. Stress And Coping. The Indian Experience. New Delhi: Sage
Publication Rasmun. Stres, Coping, dan Adaptasi, Teori dan Pohon Masalah
Kepereawatan. Jakarta: Sagung Seto. Hal 29
Santrock, JW. 2007. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga
Santrock, JW. 1995. Perkembangan masa hidup jilid 2. Terjemahan Juda Damanika &
Ach. Chusairi. Jakarta: Erlangga.
Sarafino, E. P. 1997. Health Psychology: Biopsychosocial Interactions. USA: The College
of New York

34

Sarano, E. P. 2006. Health Psychology: Biopsychosocial Interaction. NewYork: John


Willey & Sons, Inc.
Sarwono, SW. 2010. Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali Pers
Sarwono S.W. 2007. Psikologi Remaja. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. p: 205
Sarwirini. 2011. Kenakalan Anak (Juvenile Deliquency): Kausalitas Dan Upaya
Penanggulangannya. Perspektif Volume XVI No. 4 Tahun 2011 Edisi September.
Stone, A. A. and Neale, J. M. 1984. New Measure of Daily Coping: Development and
Preliminary Result. Journal of Personality and Social Psychology. Vol. 46 (4), hal. 892
- 906.
Sudarsono. 1995. Kenakalan remaja. Jakarta: Rineka Cipta. p: 11
Unayah N dan Sabarisman M. 2015. Fenomena Kenakalan Remaja dan Kriminalitas.
Sosio Informa Vol. 1, No. 02.
Tan, Gabriel. 2011. Adaptive versus Maladaptive Coping and Belief and their Relation to
Cronic Pain Adjustment. The Clinical Journal of Pain
Taylor, S., Pepleu, L., & Sears, D. 1991. Social Psychology (tenth edition), USA :
Prentice Hall Internasional, Inc.
Taylor, 2003. Strategi Coping. Bandung : Remaja Rosdakarya.
WHO/EHA, July 1998. Emergency Health Training Programme For Africa. Panafrican
Emergency Training Centre, Addis Ababa.

35