Anda di halaman 1dari 4

Multimedia untuk anak berkebutuhan khusus

Arum Khasanah

1102414009

Rizki Dinda Safitri

1102414013

Sulkhan

1102414053

Yuliana Eka Saputri

1102414058

Fariz Hibathul Hakim

1102414078

Pengertian Anak berkebutuhan khusus? dinda


Pengertian Multimedia ? eka
Metode pembelajaran anak berkebutuhan khusus? arum
Media Pembelajaran yang cocok untuk ABK? dinda
Multimedia untuk Anak Tuna Grahita
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata
Anak Luar Biasa (ALB) yang menandakan adanya kelainan khusus yang memiliki
karakteristik berbeda antara satu dengan yang lainnya. ABK terdiri atas beberapa kategori.
Kategori cacat A (tunanetra) ialah anak dengan gangguan penglihatan, kategori cacat B
(tunawicara dan tunarungu) ialah anak dengan gangguan bicara dan gangguan pendengaran.
Kategori ini dijadikan satu karena biasanya antara gangguan bicara dan gangguan
pendengaran terjadi dalam satu keadaan, kategori cacat C (tunagrahita) ialah anak dengan
gangguan intelegensi rendah atau perkembangan kecerdasan yang terganggu (Fitriana, 2013).
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini mendorong adanya inovasi
terhadap proses pembelajaran. Salah satu upaya inovasi dalam bidang media pembelajaran
yaitu penggunaan multimedia. Banyak hal abstrak yang menjadi lebih mudah untuk dipahami
apabila menggunakan multimedia yang sesuai.
Menurut Robin dan Linda, multimedia adalah alat yang dapat menciptakan presentasi
yang dinamis dan interaktif yang mengkombinasikan teks, grafik, animasi, audio, dan video
(Darmawan, 2011). Model multimedia dalam konteks pembelajaran, terdiri dari: media
presentasi, pembelajaran berbasis komputer, televisi dan video, 3D dan animasi, e-learning
dan mobile learning. Ada beberapa manfaat multimedia pembelajaran, diantaranya adalah: (a)
Multimedia Pembelajaran menyediakan tampilan yang menarik, (b) Menyediakan pilihan isi
pembelajaran yang banyak dan beragam, (c) membangkitkan motivasi siswa dalam belajar,
(d) Meningkatkan pengembangan pemahaman siswa terhadap materi yang disajikan, (e)
Merangsang siswa dalam proses pembelajaran, (f) Mengakomodasi siswa yang memiliki
gaya belajar visual-auditori-kinestetik, (g) Membantu siswa yang memiliki kemampuan
kognitif yang rendah dengan menyediakan proses pembelajaran sesuai dengan kontekstual,
dan masih banyak lagi manfaat yang lain. Dengan demikian, maka penggunaan multimedia

sangat cocok bila diterapkan pada proses pembelajaran terutama pembelajaran bagi anak
berkebutuhan khusus.
Anak berkebutuhan khusus yang kami bahas disini, merupakan ABK dengan kategori
C, yaitu tunagrahita. Menurut tes Stanford Binet (dalam Somantri, 2007, hal. 106)
mengemukakan bahwa anak tunagrahita ringan memiliki tingkat kecerdasan berkisar 52 - 68.
Berdasarkan angka kecerdasan tersebut, maka kapasitas belajar anak tunagrahita ringan
sangat terbatas. Anak tunagrahita ringan memiliki kemampuan berpikir yang cenderung
konkret, memiliki daya ingat yang sangat terbatas, konsentrasi mudah beralih, sering lupa,
minim penguasaan kata, dan memerlukan waktu belajar yang relatif lama. Dale (dalam
Arsyad, 2011 hlm. 10) menyatakan bahwa pemerolehan hasil belajar seseorang melalui
indera pandang berkisar 75%, melalui indera dengar sekitar 13 % dan indera lainnya sekitar
12%. Hal ini yang menjadi penguat bagi anak tunagrahita dalam menerima informasi
matematika khususnya mengenal bilangan sampai sepuluh. Dengan multimedia pembelajaran
maka, proses pembelajaran mengenal angka sampai 10 akan lebih mudah dan lebih menarik.
Sebagaimana dikemukakan oleh Mulyani (2008) bahwa apa yang didengar siswa dari
multimedia dikuatkan oleh visual (penglihatan), dan apa yang dilihat siswa dikuatkan oleh
audio (pendengaran). Hal ini akan memberi kesan yang kuat pada anak tunagrahita,
sehingga mereka akan mampu mempertahankan respons tersebut dalam memorinya.
Pemilihan media oleh guru sangatlah penting. Didukung oleh pendapat Tim Pengawas
Mutu Siswa (dalam Kompas.com, 2011) yakni penyusunan program yang komprehensif dan
berkelanjutan mengenai media pembelajaran sangat penting untuk mendukung proses
pembelajaran.
Seorang guru dapat mengunakan berbagai alternatif media pembelajaran yang
diperkirakan dapat membantu siswa belajar. Salah satu media yang dapat diterapkan adalah
multimedia pembelajaran yang di dalamnya terdapat gambar, suara dan animasi. Hal ini
berdasarkan anggapan bahwa aspek visual lebih bisa memberi informasi yang jelas dari
sekedar kata-kata. Sejalan dengan pendapat Levie(dalam Arsyad, 2011, hlm. 9) tentang
belajar melalui stimulus gambar dan stimulus kata atau visual dan verbal yang menyatakan
bahwa belajar melalui stimulus visual membuahkan hasil belajar yang lebih baik untuk tugas
-tugas seperti mengingat, mengenali, mengingat kembali, dan menghubungkan fakta dan
konsep.
Animasi dapat membantu anak tunagrahita ringan belajar berhitung pada tingkat
abstraksi yang berbeda, karena gambar pada komputer berperan sebagai mediator antara
masalah pada alam nyata dengan dunia abstrak pengetahuan. Hal ini akan memberi kesan
yang kuat pada anak tunagrahita, sehingga mereka akan mampu mempertahankan respon
tersebut dalam memorinya dan mereka akan mudah mengingat nya. Penelitian tentang
multimedia pembelajaran interaktif telah ada sebelumnya, salah satunya adalah penelitian
yang dilakukan oleh Sultan dkk (2006) dengan judul Develoved Of A Computer Aided
Instruction (CAI) Package In Remote Sensing Educational. Penelitian ini mengembangkan
multimedia pembelajaran interaktif menggunakan aplikasi Macromedia Flash dan Swishmax
dengan outputnya berupa multimedia pembelajaran interaktif. Dengan multimedia

pembelajaran interaktif siswa akan lebih termotivasi dalam belajar serta dapat memperoleh
kesempatan untuk berpikir secara terbuka dan dapat mempelajari serta mengkaji sendiri
materi matematika. Sehingga dengan mudah mereka memahami dengan jelas materi
matematika yang sedang dipelajarinya. Selain itu juga dengan memberi kesempatan terbuka
kepada siswa untuk berpikir dapat membantu meningkatkan kemampuan bernalarnya.
Kelebihan dari multimedia pembelajaran interaktif ini, disamping dapat menumbuhkan
motivasi siswa dalam belajar juga dapat membantu kemandirian bagi siswa dalam belajar.
Hal ini dikarenakan multimedia pembelajaran interaktif berbentuk software pembelajaran
yang praktis dapat digunakan kapan saja dan dimana saja oleh siswa yang ingin belajar.

Referensi:
Fitriana, Sayang Sulistiya. 2013. Media Pembelajaran Interaktif Ketrampilan Membatik untuk Anak
Tunagrahita Ringan pada SLB N Semarang. Semarang: Universitas Dian Nuswantoro

Rahmadhani. 2014. Pengembangan Multimedia Pembelajaran untuk Tunagrahita Ringan


dalam Bidang Berhitung. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia. Diunduh dari
http://repository.upi.edu/15170/4/S_KOM_1005117_chapter1.pdf pada 25 September
2016
Tiara, C. Wildhahayu Trias. 2009. Multimedia bagi Anak Berkebutuhan Khusus. Diunduh dari
https://marksuhud.wordpress.com/2009/03/30/multimedia-bagi-anak-berkebutuhankhusus/ pada 25 September 2016
Yuniati, Yetti. 2011. Pengembangan Perangkat Lunak Pembelajaran Bahasa Isyarat Bagi
Penderita Tunarungu Wicara. Universitas Lampung: Jurnal Generic (Vol.6 No.1)
_____. (2015). Konsep Dasar Peserta Didik Berkebutuhan Khusus. Diunduh dari
118.97.88.92/.../BB%201-Konsep%20Dasar%20Peserta%20Didik%20Berkebutuhan
%20Khusus pada 25 September 2016.

Agustina, Dinda Ayu Dwi. (2013).

LKP : Media Pembelajaran Aritmatika Untuk Anak Tunagrahita


Ringan Pada SLB AL-AZHAR Waru. Diunduh dari http://sir.stikom.edu/197/6/BAB%20III.pdf pada 25
Semptember 2016.